Daffa, Wisudawan Terbaik UMM yang Kuasai Sepuluh Bahasa

Menjalani hal sesuai dengan passion selalu membuahkan hasil yang cemerlang. Itulah yang dialami Daffa Indra Arya Wardhana. Kecintaan terhadap bahasa asing menjadi semangat pantang menyerah dalam menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris hingga mengantarkannya meraih predikat lulusan terbaik pada wisuda (25/1) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menariknya, ia tak hanya menguasai bahasa Inggris, tetapi juga lima bahasa asing lainnya, yakni bahasa Jepang, Korea, Mandarin, Perancis, dan Jerman. Tak hanya bahasa asing, Daffa juga menguasai beberapa bahasa daerah. Ia fasih menggunakan bahasa Jawa, Banjar, serta Sunda. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Daffa memang sudah tertarik belajar bahasa. Pasalnya, ia sangat gemar mengobrol, khususnya  mendengarkan cerita orang. “Saya memang senang mendengar orang bercerita. Terutama beragam aksen yang dimiliki oleh orang-orang. Dari cerita-cerita itu, saya bisa lebih memahami orang lain dan juga memaknai hidup,” ujar anak sulung tersebut. Uniknya, hobi yang ia senangi saat berkuliah dulu adalah naik transportasi umum. Lewat hobinya, Daffa bisa mengenal berbagai macam orang, mulai dari dosen, pegawai, hingga mereka yang memiliki bisnis besar. Hal itu dirasa menginspirasinya untuk terus berkarya. Tentang teknik menguasai bahasa, Daffa mengatakan kuncinya adalah membiasakan diri dengan bahasa sasaran. Dibantu dengan kegiatan menonton film, tv-series serta mengikuti perkembangan musik mancanegara. Tak ketinggalan membaca buku-buku yang menggunakan bahasa sasaran dan menggunakannya untuk berkomunikasi. Hal-hal itulah yang menjadi kunci Daffa menguasai sederet bahasa. Meski begitu, belajar bahasa asing bukan tanpa hambatan. Tantangan terbesarnya adalah penulisan bahasa yang tidak menggunakan sistem alphabet seperti bahasa Jepang, Korea, dan Mandarin. Namun, hal itu tak mematahkan semangat Daffa untuk berusaha memahami dan menguasai bahasa asing. Menurutnya, keahlian ini bisa menjadi batu loncatan untuk mewujudkan tekadnya untuk studi di luar negeri. “Penguasaan bahasa asing sebetulnya memberikan kita privilege untuk bisa mendapat beasiswa luar negeri. Itu juga yang memacu semangat saya untuk terus belajar,” tegasnya. Meski fokus pada bidang akademik, Daffa tidak menafikkan bahwa keikutsertaan dalam organisasi adalah hal yang sangat penting. Jadi, ia pun bergabung di Lembaga Semi Otonom (LSO) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas. Tahun 2020 silam, ia juga menjadi awardee Program Kampus Mengajar Perintis dan bertugas menjadi asisten pengajar di SDN Tegalgondo 02 Kabupaten Malang. Selain itu juga berkesempatan magang di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), Balai Kota Among Tani Batu. (wil)

Owner Geprek Group Beberkan Resep Sukses Dunia Akhirat di Wisuda UMM

Salah satu kunci sukses yang harus dimiliki manusia adalah tiga hamzah, yakni amanah, uswah hasanah, serta amal. Ketiganya menjadi modal untuk mengarungi kerasnya zaman dan mendapatkan kesempatan. Hal itu disampaikan owner Geprek Group sekaligus alumnus UMM yang didapuk memberikan motivasi Ir. Kusnadi Ikhwani, owner Geprek Group. Paparan tersebut diberikan pada gelaran wisuda ke-102 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (25/1). Adapun acara rutin tersebut dilaksanakan dalam beberapa gelombang dengan mematuhi protokol kesehatan ketat. Kusnadi, panggilan akrabnya mengawali motivasinya dengan cerita perjalanan usaha. Mengawali karir sebagai konsultan di berbagai perusahaan, ia akhirnya berhenti dan memulai usaha di awal tahun 2000an. Berjualan nasi goreng, mie ayam, bakso hingga es rumput ia lakoni. Berharap bisa menemukan peluang mendapatkan rezeki lebih. “Saya percaya bahwa di setiap kesulitas pasti ada kemudahan. Hingga pada akhirnya di tahun 2010 saya pulang dan memulai berjualan ayam geprek serta menjadi ayam geprek pertama di Indonesia. Alhamdulillah sampai saat ini Geprek Group telah memiliki 38 cabang di berbagai kota serta lebih dari 400 karyawan,” ungkapnya. Pria yang juga menjadi Dewan Pengawas Lazismu Sragen ini juga memberikan resep untuk menjadi pribadi yang sukses. Diawali dengan sikap visioner yang akan memberikan langkah inovasi bagi masyarakat. Misalnya menjadi pengurus masjid Al-Falah bersama rekan-rekannya. Masjid yang berada di Sragen tersebut bahkan telah menjadi masjid percontohan nasional dengan berbagai fasilitasnya. Kemudian adapula sikap birul walidain dan senantiasa membaca al-Quran. Menurutnya, semua hal yang dilakukan harus diawali komunikasi dengan Tuhan. Dengan begitu, segala urusan bisa dimudahkan dan dilancarkan. Adapula sikap STW, yakni salat tepat waktu diiringi dengan inspiring. “Inspiring adalah kepanjangan dari infak pagi dan sering-sering. Ketika berinfak, para malaikat di waktu pagi akan mendoakan kita  agar dilimpahkan rezeki oleh Allah SWT. Terakhir yakni semua hal yang dikonsumsi harus halal. Karena dengan yang modal yang halal, jalan yang halal, dan konsumsi yang halal, akan memberikan hasil yang halal dan berkah pula,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengingatkan para wisudawan bahwa mereka bukan lagi seorang mahasiswa, namun sudah menjadi sarjana. Perubahan status ini sekaligus memberi wisudawan tanggung jawab sosial dan keagamaan. Menurutnya, tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali menunjukkan diri sebagai uswah khasanah di manapun dan kapanpun. Maka, rasa percaya diri, komitmen kuat dan bertanggung jawab adalah sikap yang harus senantiasa dipelihara. Fauzan mendorong para wisudawan untuk menyadari bahwa mereka adalahs arjana yang dilahirkan oleh universitas yang memiliki reputasi internasional. Tentu hal ini membuat mereka tidak hanya dilihat dari segi kompetensi tapi juga universitas yang telah meluluskannya. “Mulai saat ini saudara sudah tidak boleh lagi berpangku tangan dan menunggu. Namun harus menjadi inisiator untuk memulai dan mengeksekusi tindakan-tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tegasnya. Pada kesempatan tersebut pula, dilangsungkan penyerahan kepada salah satu wisudawan doktoral yang meninggal dan belum sempat mengikuti gelaran wisuda. Ia adalah Dr. Abdul Ghozin M.Pd.I, seorang pria kelahiran Mojokerto yang juga menjadi pengasuh Pondok Pesantren Hafidzin. Penyerahan ijazah diberikan langsung oleh rektor kepada perwakilan keluarga dari Abdul Ghozin. (wil)

Tiga Mahasiswa FEB UMM Lulus Tanpa Skripsi

Tugas Akhir atau Skripsi merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dengan dunia perkuliahan. Seringkali mahasiswa menganggap bahwa skripsi sebagai ketakutan untuk meraih gelar sarjana. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi tiga mahasiswa program studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sejak munculnya peraturan dekan FEB tahun 2018 yang memungkinkan mahasiswa untuk lulus dengan karya serta kontribusi membuat ketiganya bersemangat. Apalagi dengan adanya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang membuat Prodi merespon dan mengapresasi karya yang dihasilkan mahasiswa. Nata Wira Waskita, Dimas Febry Prasetyo, dan Nur Azizah adalah tiga mahasiswa FEB yang berhasil lulus tanpa skripsi. Dua nama pertama sukses menelurkan inovasi baru yang bersifat wirausaha. Dimas misalnya, yang berhasil mengubah barang rongsok dan limbah plastik menjadi perabotan rumah tangga yang bernilai. Ia yang sempat bekerja selama dua tahun sebelum berkuliah, mengatakan bahwa pengalaman saat bekerja membuatnya mendapatkan ide menarik ini. Memanfaatkan limbah plastik yang kemudian diubah menjadi biji plastik. Lalu diolah dan dijadikan perabot baru yang memiliki nilai lebih. “Ide ini terlintas ketika saya melihat banyaknya limbah plastik yang melimpah. Paling tidak ini bisa menjadi terobosan baru untuk berinovasi dan memberikan peluang tenaga kerja,” ungkapnya. Hal tak jauh berbeda juga dilakukan oleh Nata. Upayanya untuk mengurus usaha SPBUnya berbuah manis. Dibuka sejak 2011, ia mengembangkan SPBU sedikit demi sedikit. Mulai dari pengembangan, peluang kerja, kualitas pelayanan hingga program excellent. Melihat kesempatan equivalensi, ia akhirnya sukses mendapatkan gelar sarjana tanpa menulis skripsi. “Saya juga memuka café di dekat usaha saya sehingga bisa menjadi faktor kenaikan grade SPBU yang sekarang saya pegang,” tambahnya. Sementara itu, keberhasilan Nur Azizah mempublikasikan penelitiannya ke jurnal terakreditasi SINTA 2 berbuah manis. Ia sekarang bisa lulus kuliah tanpa bersusah payah menulis skripsi. Meski begitu, melakukan penelitian jurnal bukan perkara mudah dan membutuhkan waktu yang panjang. Setidaknya Nur Azizah harus menghabiskan enam bulan untuk menyelesaikannya. Terkait kelulusan tanpa skripsi tiga mahasiswa tersebut, Ketua Prodi Ekonomi Pembangunan UMM M. Sri Wahyudi, S.E., M.E. berharap makin banyak mahasiswa yang mampu mengikuti jejak mereka. Menciptakan inovasi yang tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga untuk masyarakat luas. “Teruslah belajar dan berinovasi sebagai bentuk pengabdian untuk negeri,” tegasnya. (wil)

Mahasiswa UMM Menangi Kejuaraan Olahraga Baru Roundnet Nasional

Roundnet, olahraga baru yang mungkin masih terdengar asing di telinga. Namun, kini sudah ada sederet turnamen yang bisa diikuti, khususnya untuk bagi komunitas yang mulai berkembang. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Defrian Dekimugti dan Ahmad Anang Ma’ruf, dua mahasiwa Pendidikan Guru dan Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka berhasil memenangkan juara dua dalam kejuaraan roundnet nasional dalam gelaran Piala Gubernur Jawa Barat pada Minggu (16/1) lalu di Sport Jabar Arcamanik, Bandung. Defrian, salah satu anggota tim menerangkan bahwa olahraga yang baru masuk di Indonesia ini cukup unik. Ada kemiripan dengan voli, badminton, basket, bahkan juga tenis meja. Ada gerakan smash seperti di voli, perhitungan poin juga mirip dengan badminton, pemantulan bola juga sama dengan basket serta tenis meja. Adapun dalam satu tim terdapat dua orang yang saling bekerja sama. “Meskipun saya baru mulai bermain September lalu, tapi saya sangat menikmati olahraga ini karena menyenangkan. Saya baru berlatih dengan serius sejak Desember tahun lalu bersama Anang dalam rangka mengikuti beragam turnamen,” ungkapnya. Mahasiswa asli Balikpapan ini mengatakan kompetisi tersebut diperuntukkan untuk umum, jadi tidak terbatas pada mahasiswa saja. Ada lebih dari 35 tim yang turut serta dan bersaing satu sama lain. Mulai peserta dari Sumatera, Jawa hingga Bali. Menurutnya, roundnet memang belum begitu populer. Namun seiring banyaknya kompetisi, ia percaya banyak orang yang penasaran dan ingin tahu lebih banyak. Apalagi semakin maraknya komunitas yang menjamur di berbagai kota seperti Bandung, Surabaya dan juga Malang. Meski sukses membawa pulang piala, namun ia dan Anag bukan tanpa kendala. Mereka kurang begitu tahu peraturan baku pertandingan roundnet sesungguhnya. Ditambah lagi, ini adalah kompetisi pertama mereka. Perasaan gugup tentu terus menghampiri meskipun sudah berlatih mati-matian. “Mental memang hal yang harus dipersiapkan dalam sebuah. Saya dan Anang seringkali deg-degan, terutama di babak final di mana kami harus menghadapi tuan rumah. Setiap mencetak angka sorai-sorai rama terus digaungkan para suporter,” terang Defrian. Terakhir, ia berharap roundnet bisa berkembang lebih baik lagi di Kampus Putih UMM dengan membangun Unit Kegiatan Mahasiswa. Dengan begitu, regenerasi bisa berjalan dengan baik dan menciptakan prestasi-prestasi baru. Begitupun dengan organisasi pusat roundnet yang diharapkan bisa memberikan lebih banyak sosialisasi agar olahraga ini bisa semakin terkenal di kalangan masyarakat. (wil)

Fitrah, Wisudawan Terbaik UMM yang Miliki Segudang Piala

Menyeimbangkan kehidupan akademis dan non-akademis merupakan hal yang cukup mustahil bagi sebagian mahasiswa. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Muhammad Fitrah Ashary Bangun. Mahasiswa yang meraih gelar wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah berhasil mencetak banyak prestasi. Mulai dari tingkat regional sampai level nasional. Fitrah, sapaan akrabnya mengaku ketika menjadi pelajar ia sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti perlombaan. Namun ketertarikannya berubah semenjak ia memenangkan lomba di acara Student Day UMM. Anak pertama tersebut mengatakan bahwa minatnya untuk mengikuti berbagai perlombaan meningkat dengan semakin banyak lomba yang ia ikuti. “Awalnya saya memfokuskan diri pada lomba essay, namun seiring berjalannya waktu saya mulai mencoba lomba-lomba yang lain seperti business plan dan lomba debat. Dari pihak dekanat UMM juga terus mendorong saya untuk mengikuti perlombaan di luar kampus. Total saya telah mengikuti kurang lebih 52 perlombaan dan memenangkan 33 kejuaraan mulai dari lomba tingkat kampus sampai tingkat nasional,” ungkap mahasiswa jurusan Manajemen itu. Fitrah mengaku cukup kesulitan dalam menyeimbangkan kegiatan akademis dan non-akademis. Pasalnya, beberapa kali ia meminta dispensasi untuk tidak mengikuti kegiatan pembelajaran di kampus demi mengikuti lomba. Kadang, ketika UTS maupun UAS, ia mengerjakannya di pesawat atau bahkan di hotel saat mengikuti perlombaan. “Beruntung, untuk masalah absensi pihak fakultas selalu mendukung saya dengan mengeluarkan surat dispensasi. Beberapa dosen juga memperbolehkan saya untuk menukarkan raihan juara lomba dengan nilai mata kuliah mereka. Hal yang lebih memacu semangat lagi adalah prestasi saya selalu dihargai oleh kampus dengan pemberian hadiah pasca kejuaraan,” ujar mahasiswa asal Medan tersebut. Raihan wisudawan terbaik Kampus Putih UMM ini merupakan hal yang tidak ia sangka-sangka. Pasalnya Fitrah tidak pernah memfokuskan diri secara menyeluruh di bidang akademik. “Dapat mewakili FEB sebagai wisudawan terbaik di wisuda kali ini merupakan momen yang tidak akan terlupakan. Saya berpesan bagi para mahasiswa yang masih berkuliah, jangan hanya mengejar sisi akademik saja tetapi juga manfaatkan momen perkuliahan untuk mengembangkan diri sesuai passion kalian masing-masing,” pungkasnya. (syi/wil)

Robert John Pope, Wisudawan Asal Australia yang Belajar Islam di UMM

Ada wajah warga asing yang menghiasi wisuda ke-102 Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia adalah Dr. Robert John Pope, M.Pd.I. yang berhasil menyelesaikan studi doktoral di bidang Pendidikan Agama Islam. Sebelumnya, Robert juga telah menyelesaikan pendidikan magister agama Islam-nya di kampus yang sama, yakni Kampus Putih. Robert yang merupakan warga Renmark, Australia juga berkesempatan memberikan sambutan mewakili para wisudawan yang hadir. Ia menjelaskan berbagai hal yang didapat semenjak ia berkuliah di Kampus Putih. Tidak sekadar ilmu saja, tapi juga perspektif dan pengalaman unik selama menimba ilmu di Malang. Dalam kesempatan wisuda Kamis (20/1) tersebut, Robert menyampaikan bahwa Kampus Putih telah memberikannya perspektif baru lewat program pendidikan agama Islam yang telah ia selesaikan. Adalah sebuah hal unik ketika seorang bule boleh dan bisa belajar Islam di universitas Islam. Menurutnya, ada dua hal yang ia pelajari dari UMM. Pertama, yakni mengenai perbedaan yang dianggap sebagai sesuatu yang positif. Setiap orang seyogyanya bisa memahami dan mengerti perbedaan dengan baik, bukan malah saling menyalahkan. Ia bahkan menyebutkan salah satu ayat dalam surat al-Hujurat yang menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia itu dengan banyak suku dan bangsa. Tidak lain tidak bukan untuk saling mengenal dan memahami. “Bukan saling menuduh apalagi mencurigai. Perbedaan menurut saya adalah sebuah keniscayaan yang harus dimengerti bersama. Saling bahu membahu dalam kebaikan sehingga mampu menjadi manusia seutuhnya,” tegas Robert. Kedua, ia menyebut bahwa Kampus Putih telah mengajarkan untuk tidak takut berpikir kritis. Tidak boleh berhenti pada pemikiran yang stagnan tapi harus bergerak ke pemikiran yang dinamis. Dengan begitu, manusia dapat menghasilkan banyak inovasi dan manfaat bagi sesama. Ia juga mengajak para wisudawan yang hadir untuk menjadi seorang global citizen. Yakni pribadi yang berani untuk ebrinteraksi dengan orang-orang berbeda. Tidak terbatas hanya dengan mereka yang memiliki kultur, agama dan bangsa yang sama. “Sekali lagi, selamat telah menyelesaikan salah satu bagian perjalanan akademis kita. Ini adalah satu dari beragam perjalanan akademis yang akan kita tempuh. Semoga sukses dan menjadi orang yang bermanfaat bagi semua,” ungkapnya mengakhiri. (wil)

ADAPT, Kunci Wisudawan UMM Jadi Future-Fit Leader

Menurut studi, supply future-fit leader yang dimiliki Indonesia hanya mencapai 15% saja. Sementara sisanya adalah future leader yang tidak fit dengan keadaan masa depan. Paparan itu disampaikan oleh Managing Director Consulting and Senior Client Partner Korn Ferry Indonesia Satya Radjasa dalam wisuda ke-102 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Kamis (20/1). Dihadiri pula oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP., wisuda ini dilangsungkan dalam beberapa gelombang dengan protokol kesehatan yang ketat. Lebih lanjut, Satya mengatakan bahwa kecepatan teknologi akan sangat berpengaruh pada muncul dan hilangnya sebuah posisi jabatan. Hal itu bisa dilihat dari berbagai perubahan yang terjadi banyak aspek, salah satunya dalam aspek perbankan. Jika dulu kompetitornya adalah sesama perbankan, kini mereka juga harus menghadapi persaingan dengan financial technology companies seperti OVO, Gopay, LinkAja, hingga Dana. Apalagi setelah datang pandemi Covid-19. Diungkapkan Satya, fenomena ini membuat semua hal harus bermindset teknologi serta adanya perubahan yang cepat. Begitupun yang terjadi dengan aktivitas perusahaan yang kini lebih menginvestasikan pada IoT, Artificial Intelegent, Blockchain dan lainnya. Hal ini memunculkan skill-skill dan jabatan baru. “Sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan kualitas manusia sehingga ada beberapa perusahaan yang menilai bahwa investasi di bidang digital transformation hanya buang-buang waktu dan biaya. Maka sudah sepatutnya kita memiliki skill-skill masa depan. Mulai dari kreativitas yang tinggi, complex problem solving, leraning agility, emotional intelegence dan berbagai skill lain yang menarik,” tegasnya. Menurut Satya, kini para investor tidak hanya fokus pada raihan masa lalu dari para leader. Tapi juga melihat seberapa visioner mereka sehingga bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan yang mungkin terjadi. Maka, wisudawan Kampus Putih UMM harus menjadi pemimpin yang fit dengan perubahan. Salah satu caranya adalah dengan memiliki dan melakukan ADAPT yakni anticipate, drive, accelerate, partnership dan trust. Kelima hal ini menjadi poin penting dalam menghadapi tantangan zaman. Dalam kesempatan wisuda tersebut, salah satu wisudawan doktoral internasional UMM Dr. Robert John Pope, M.Pd.I. menyampaikan bahwa Kampus Putih telah memberikannya perspektif baru lewat program pendidikan agama Islam yang telah ia selesaikan. Menurutnya, ada dua hal yang ia pelajari dari UMM. Pertama, yakni mengenai perbedaan yang dianggap sebagai sesuatu yang positif. Setiap orang seyogyanya bisa memahami dan mengerti perbedaan dengan baik, bukan malah saling menyalahkan. Kedua, Robert menyebut Kampus Putih telah mengajarkan untuk tidak takut berpikir kritis. Tidak boleh berhenti pada pemikiran yang stagnan tapi harus bergerak ke pemikiran yang dinamis. Dengan begitu, kita akan menghasilkan banyak inovasi dan manfaat. “Satu pesan saya untuk para wisudawan adalah jadilah seorang global ciitizen. Yakni bisa menjadi pribadi berani untuk berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda, tidak hanya pada mereka yang sama. Sekali lagi, selamat telah menyelesaikan salah satu bagian perjalanan akademi kita,” ungkapnya. Di lain sisi, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. berharap segala pengalaman dan ilmu yang didapat oleh wisudawan bisa diimplementasikan di masyarakat. Menjadi seorang problem solver atas pelbagai permasalahan. Tentu dengan bekal restu dan doa dari kedua orang tua para wisudawan. “Ini adalah salah satu bagian dari perjalanan hidup anda. Langkah-langkah terbaik bisa dipilih, begitupun sebaliknya. Semua kembali pada pilihan saudara-saudara. Kami tentu selalu mendoakan yang terbaik agar kelak saudara bisa menjadi manusia yang sukses dan bermanfaat bagi sesama,” tegas Fauzan. Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. Mengapresiasi beragam prestasi yang sudah diraih oleh Kampus Putih UMM. Mulai dari level regional, di mana UMM mampu membukukan diri sebagai kampus terbaik di Jawa Timur selama 14 tahun berturut-turut. Begitupun dengan level nasional hingga internasional yang mana UMM bisa masuk di sepuluh besar kampus Islam terbaik dunia. Raihan-raihan tersebut dirasa bisa menjadi bekal awal yang bagus bagi para wisudawan untuk menghadapi dunia nyata usai menyelesaikan studi. Menjadi salah satu alumni dari universitas top di Jawa Timur, memberikan manfaat tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi masyarakat luas, agama, nusa dan bangsa. (wil)

Ahda, Mahasiswa UMM yang Raih Beasiswa IISMA ke Negeri Gajah Putih

Siapa yang tak ingin merasakan studi di luar negeri? Hal serupa juga menjadi mimpi Ahda Mutiari Hifdhi, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Beruntung, berkat kerja keras dan dukungan kampus, ia berhasil menggapai menimba ilmu di negara orang, yakni Thailand. Kini, ia tengah menjalani perkuliahan selama satu semester di Prince of Songkla University, Kota Hat Yai, Provinsi Songkla berkat program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Meski sama-sama berada di wilayah ASEAN, Indonesia dan Thailand ternyata juga memiliki beberapa perbedaan. Beruntung, Ahda memiliki buddy, yakni teman yang membantu mengenalkan beragam budaya dan kultur di universitas, utamanya di mengambil Faculty of Management Science, Prodi Bachelor Business Administration (BBA). Berbekal pengalaman di Kampus Putih UMM, ia bisa dengan cepat beradaptasi di lingkungan Negeri Gajah Putih tersebut. Memiliki teman, bermain dan belajar bersama, bahkan juga berjalan-jalan mengunjungi beberapa tempat menarik. Hal itu tentu menambah networking yang Ahda miliki. Satu dari sederet kendala yang ia hadapi adalah sukarnya memahami bahasa inggris yang diucapkan oleh orang-orang Thailand. Apalagi jika logat yang dimiliki cukup kental. Alhasil ia harus berkali-kali meminta lawan bicaranya untuk mengulangi. “Alhamdulillah, setelah beberapa hari saya sudah mulai terbiasa mendengarkan bahasa Inggris yang kental dengan logat Thailand. Apalagi ternyata banyak yang bisa berbahasa melayu sehingga mempermudah komunikasi,” tuturnya. Perihal makanan, Ahda menilai bahwa mencari makanan halal tidak begitu sulit. Ia dapat mendapatkannya dengan mudah di toko-toko sekitar tempat tinggalnya. Namun ia sedikit kesulitan untuk menemukan masjid dan mushola. Ia biasanya beribadah di kediaman atau juga di ruangan-ruangan kosong. Namun, untuk mendapatkan beasiswa dan fasilitas yang dinikmati, Ahda harus bersusah payah untuk mempersiapkannya. Satu di antaranya adalah persiapan berkas administrasi yang bejibun. Ditambah lagi dengan proses wawancara yang bikin jantungnya deg-degan. “Beruntung, International Relation Office (IRO) UMM sangat membantu saya untuk mempersiapkannya. Beberapa kali memberikan masukan dan tips agar memperbesar kemungkinan saya diterima di IISMA ini,” jelas Ahda. Mahasiswa asal Purwokerto, Jawa Tengah ini berharap kedepannya pembelajaran di Thailand bisa berjalan luring karena sampai saat ini masih sangat dibatasi. Kebanyakan berjalan secara daring sehingga pengalaman interaksi secara langsung kurang dirasakan. “Karena kuliah masih online, jadi saya belum berinteraksi langsung dengan mahasiswa lainnya. Semoga bisa segera luring, jadinya saya bisa merasakan sensasi kuliah di luar negeri sebenarnya,” jelasnya. (haq/wil)

Kelas Unggas UMM Ajarkan Manajemen Krisis Bisnis Ayam Petelur

Dalam rangka menjawab permintaan dunia industri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siapkan berbagai skema pelatihan bersama dunia usaha. Salah satunya adalah Kelas Professional Unggas (KPU) yang mengadakan pelatihan manajemen krisis bisnis ayam ras petelur bersama Perseroan Terbatas (PT) Jatinom Indah Farm (JIF). Acara ini dilakukan di Rumah Makan Joglo Jatinom, Blitar, pada awal Januari ini. Salah satu perwakilan dari PT JIF, Sigit Prasetyo, SE., mengatakan bahwa pelatihan ini berupaya mendorong para lulusan sarjana peternakan agar semakin siap bekerja di dunia Industri. Sebanyak 20 peserta kelas unggas yang sebelumnya mendapatkan pelatihan, kini kembali diikutsertakan dalam program manajemen krisis ini. “Para peserta akan dididik langsung oleh pihak industri sehingga bisa membangun mental yang tangguh. Selain itu juga bisa terbiasa dengan ritme kerja yang ada di lapangan nantinya,” ungkap Instruktur pelatihan manajemen krisis tersebut. Sigit, sapaan akrabnya mengatakan bahwa program tersebut dilakukan dengan sistem student center learning. Peserta diberikan beberapa contoh kasus krisis yang pernah terjadi di Indonesia mulai tahun 1960-an hingga kasus yang terjadi pada tahun 2021. Hal itu akan membantu para peserta untuk memahami apa yang sedang terjadi pada saat krisis tersebut dan bagaimana cara untuk mengatasinya. “Dalam berbisnis, kita harus mampu mengukur nafas sendiri-sendiri. Jangan pernah gengsi dalam berbisnis. Untuk mendorong bisnis selalu berkembang, saya berharap para peserta dapat mengupayakan hal-hal baru dari waktu ke waktu,” ungkapnya di akhir pelatihan. Salah satu peserta pelatihan, Rizqi Baldan Thoyiban, mengatakan bahwa selama menjalani program magang di PT. JIF ia mendapat banyak pengalaman lapangan yang tidak akan ia dapatkan di kelas biasa. Magang ini turut serta memberinya berbagai ilmu baru mengenai manajemen krisis bisnis ayam seperti pengelolaan uang, waktu, dan pakan. Ketiganya harus disesuaikan agar bisnis yang berjalan bisa terus konsisten. “Meskipun tergolong singkat yakni hanya beberapa jam saja, namun pelatihan ini membuka mata saya mengenai berbagai kendala di bisnis ayam ras petelur dari tahun 60an. Semoga dalam membuka bisnis, kami mampu menerapkan ilmu-ilmu yang diterima dalam proses magang enam bulan ini,” kata mahasiswa jurusan Peternakan tersebut. (syi/wil)

Webinar Civic Hukum UMM Kaji Digital Citizenship dan Pancasila

Perkembangan dunia digital yang sangat pesat membuat masyarakat harus bisa beradaptasi dengan cepat pula. Maka sangat penting untuk memahami aspek digital citizenship. Hal itu disampaikan Drs. Moh. Mansur Ibrahim, M.H. dalam webinar bertema Pancasila di Era Digital Citizenship: Tantangan, Peluang, dan Prospeknya demi Indonesia Tangguh dan Tumbuh. Event yang dilaksanakan pada Sabtu (15/1) ini merupakan hasil kerja sama Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI). Menurut Mansur, dunia digital berkembang begitu cepat dan merambah ke berbagai sektor kehidupan manusia. Salah satunya dalam aspek ekonomi yang semakin ke sini semakin sedikit jumlah transaksi yang fisik. Semua bergeser ke uang digital. “Selain itu, penggunaaan sosial media menuntut kita untuk terlibat dan berhubungan dengan dunia digital,” ungkap Ketua Prodi PPKn UMM itu. Sementara itu, Prof. Dr. Kokom Kumalasari, M.Pd., menuturkan konsep kewarganegaraan digital merujuk pada kualitas perilaku individu dalam berinteraksi di dunia maya. Khususnya dalam jejaring sosial dengan menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab sesuai dengan norma dan etika yang berlaku. Dalam kewarganegaraan digital, ada prinsip yang harus dibangun yakni menghormati diri dan menghormati orang lain, mendidik diri dan mendidik orang lain, serta melindungi diri dan melindungi orang lain. “Jadi, di sini ada saling hubungan antara kita dengan orang lain. Untuk mencapai prinsip tersebut, ada sembilan elemen kewarganegaraan digital yang perlu dimiliki. Di antaranya digital access, digital commerce, digital communication, digital literacy, digital law, digital right & responsibilities, digital health & wellness, digital securiy, dan digital etiquette,” ungkap dosen PPKn Universitas Pendidikan Indonesia. Kokom, panggilan akrabnya kembali menjelaskan bahwa membangun warga negara digital yang baik harus dimulai dari budaya sekolah. Hal ini juga bisa diintegrasikan dalam pembelajaran PPKn. “Guru harus menerapkan kerangka Technological Pedagogical Kontent Knowledge (TPACK) dalam pembelajaran PPKn dengan strategi pembelajaran yang berfokus pada Contextual Teaching and Learning & Scientific Learning, Self Regulated Learning, value-based education, dan blended learning,” kata Kokom. Di sisi lain, Sugeng Winarno, M.A. menjabarkan bahwa dalam data digital civility index yang dirilis Microsoft Februari tahun lalu, menyatakan bahwa netizen Indonesia paling tidak punya adab di internet. Oleh sebab itu, hal paling krusial adalah etika masyarakat dalam bermedia sosial. “Urgensi dari etika bermedia sosial bahkan mendorong Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan panduan bagaimana warga Muhammadiyah menggunakan media sosial. Prinsipnya, warganet Muhammadiyah diharapkan menjadikan media sosial sebagai wahana silaturahmi, bermuamalah tukar informasi,dan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar,” terang kepala Humas UMM itu. Lebih lanjut, Sugeng juga membagikan tips bermedsos yang beradab, yaitu menggunakan nama asli, batasi informasi pribadi yang ada dan tidak sembarangan menerima undangan pertemanan. Selain itu juga tidak mudah percaya dengan teman, cek kebenaran informasi pemilik akun, tidak berkata kasar, tidak memposting foto pribadi, hingga menghindari ‘nyampah’ di timeline. Ia juga menilai bahwa pemahaman akan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tak kalah krusial dalam menciptakan warga digital yang beradab. “Interaksi di media sosial tidak lepas dari Undang-undang ITE. Orang Indonesia banyak yang belum memahami hal itu sehingga mudah terjerat hukum. Jadi, melek hukum digital juga sangat penting,” kata dosen Ilmu Komunikasi tersebut. Sementara itu, Dr. Nurul Zuriah, M.Si., memaparkan bahwa konsep kewarganegaraan digital tidak bisa dipisahkan dari konsep pelajar Pancasila. “Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Ketika profil pelajar pancasila ini sudah tertanam, maka secara otomatis mereka akan menjadi a good digital citizenship,” terangnya. Pada prakteknya, pengguna media sosial diharapkan selalu memegang etika bermedia sosial yang baik dan benar dengan selalu memperhatikan konsep THINK. Artinya, sebelum berkomunikasi di dunia digital, pengguna harus mempertanyakan tentang True, Hurtful, Illegal, Necessary, dan Kind. Ada berbagai tantangan dalam penguatan profil pelajar Pancasila di era digital citizenship yang harus dicermati. “Belum lagi permasalahan keamanan data, etika berkomunikasi, kenyamanan, ancaman atau bulliying, hoax-hate speech, serta jaminan dan kepastian hukum. Itu adalah hal-hal yang harus kita pecahkan bersama,” tandasnya. (*/wil)