Jawab Isu Inklusivitas, Mahasiswa UMM Hadirkan Wearable Device Sensor untuk Tunanetra

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kebutuhan akan inovasi yang inklusif semakin mendesak. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi berbasis sensor ultrasonik untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra. Inovasi ini menjadi bukti nyata komitmen UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri yang mendorong karya mahasiswa tak berhenti di ruang kelas, tetapi berdampak langsung bagi masyarakat. Upaya menghadirkan teknologi yang lebih inklusif terus tumbuh dari ruang-ruang eksperimen mahasiswa. Salah satunya datang dari Naufal Adrien Atalla, mahasiswa Teknik Industri UMM angkatan 2023, yang bersama timnya mengembangkan alat sensor getar berbasis ultrasonik untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra. Inovasi ini berawal dari proyek perkuliahan yang kemudian diarahkan menjadi solusi aplikatif dengan nilai sosial yang kuat. Gagasan awalnya tidak secara khusus ditujukan bagi penyandang disabilitas. Ide tersebut muncul dari proses diskusi kelompok dalam menyelesaikan tugas mata kuliah. Dari berbagai gagasan yang berkembang, tim kemudian memperdalam riset pada teknologi yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Pilihan akhirnya jatuh pada pengembangan alat bantu tunanetra setelah melihat kebutuhan akan sistem pendeteksi jarak yang lebih praktis dan responsif. “Proses pengembangan dilakukan secara kolaboratif oleh lima anggota kelompok, yakni saya sendiri, Dyandini Faradiba Putri, Mirza Zaky, Farrel Adrien, dan Chandra Adi. Setiap anggota berperan dalam merancang konsep, visualisasi produk, hingga menentukan komponen teknologi yang diperlukan. Kami juga memanfaatkan referensi dari internet serta berdiskusi dengan pihak yang lebih berpengalaman untuk memastikan sistem dapat berfungsi sesuai rencana,” ujar Naufal 10 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Secara teknis, alat ini bekerja menggunakan sensor ultrasonik yang mampu mendeteksi objek di sekitar pengguna. Sensor tersebut menghasilkan umpan balik berupa getaran dengan intensitas berbeda sesuai jarak objek yang terdeteksi. Semakin dekat objek, semakin kuat getaran yang dihasilkan, sehingga pengguna dapat mengantisipasi rintangan tanpa harus menghentikan aktivitas. Konsep hands-free menjadi keunggulan utama karena memungkinkan pengguna menerima informasi jarak secara cepat tanpa kontak langsung, dengan biaya produksi yang relatif terjangkau. “Tantangan terbesar dalam pembuatannya ada pada bagian pemrograman. Sistem sensor dan getaran harus dirancang sedemikian rupa agar bekerja presisi sesuai harapan,” tambahnya. Prototipe alat tersebut telah dipresentasikan dalam IE EXPO 2026 yang diselenggarakan Jurusan Teknik Industri UMM. Respons para juri menunjukkan produk ini memiliki potensi untuk terus dikembangkan, terutama pada aspek fungsi tambahan dan penyempurnaan desain. Meski belum diuji langsung oleh penyandang tunanetra, alat ini telah melalui uji internal untuk menilai kenyamanan penggunaan, termasuk evaluasi ukuran komponen yang masih relatif besar. “Menurut saya, alat ini tidak untuk menggantikan tongkat konvensional, melainkan melengkapinya. Keunggulannya ada pada fitur hands-free dan peringatan dini, sehingga pengguna dapat mengetahui adanya halangan dari jarak tertentu sebelum terjadi benturan,” jelas Naufal. Ke depan, pengembangan difokuskan pada perancangan ulang bentuk fisik agar lebih ringkas, estetis, dan nyaman digunakan dalam jangka panjang. Salah satu prioritas utama adalah memperkecil komponen utama yang masih berbentuk kotak besar agar perangkat dapat dikembangkan menjadi wearable device yang lebih praktis. Dengan penyempurnaan tersebut, inovasi ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai proyek akademik, tetapi berkembang menjadi teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi penyandang tunanetra. Sementara itu, Dosen pembimbing, Dian Palupi Restuputri, S.T., M.T., menilai inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di masyarakat dan memiliki potensi penggunaan yang lebih luas. Menurutnya, produk serupa masih jarang ditemukan, terutama yang menyasar kebutuhan spesifik tunanetra dan lansia, sehingga perlu didorong agar tidak berhenti pada tahap prototipe. “Saya berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk universitas dan pemerintah, terutama dalam hal pembiayaan dan pengembangan lanjutan. Ke depan, produk ini berpotensi dikembangkan untuk berbagai kalangan, tidak hanya tunanetra dan lansia, tetapi juga anak-anak, tergantung kebutuhan pasar. Jika respons masyarakat tinggi, saya optimistis produk ini bisa diproduksi secara massal,” ujarnya. Melalui inovasi seperti ini, UMM menegaskan komitmennya sebagai kampus inovasi dan mandiri yang mendorong kolaborasi riset, kewirausahaan berbasis teknologi, serta kebermanfaatan sosial. Dari ruang kelas menuju solusi nyata, karya mahasiswa UMM terus bergerak menjawab tantangan zaman.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Strategi Firefighter Lawan Hoaks, Temuan Doktor UMM untuk Komunikasi Pemerintah

Bayangkan jika informasi bohong (hoaks) bisa lebih mematikan daripada virus itu sendiri. Di era digital, “infodemik” ledakan informasi yang tidak akurat dan menyesatkan kembali menjadi perhatian di tengah meningkatnya arus disinformasi di media sosial, terutama terkait isu kesehatan, kebijakan publik, dan teknologi. Situasi ini mengingatkan pada masa pandemi Covid-19, ketika banjir hoaks memicu resistensi publik terhadap program pemerintah. Fenomena tersebut menjadi fokus riset Nasrullah, M.Si., Ph.D. dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang mengantarkannya meraih gelar doktor di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia. Melalui disertasinya, Nasrullah sapaan akrabnya meneliti model komunikasi publik pemerintah melalui media sosial atau Government Social Media (GSM) dalam memitigasi infodemik. Penelitiannya menyoroti bagaimana hoaks seputar vaksinasi mampu membentuk persepsi keliru, memicu penolakan, serta melemahkan efektivitas program kesehatan nasional. “Riset saya berfokus pada resistensi publik terhadap program vaksinasi akibat hoaks di media sosial. Di era media sosial, infodemik sama bahayanya dengan pandemi itu sendiri,” kata Nasrullah kepada Tim Humas UMM, 9 Februari. Ia menegaskan bahwa pengendalian arus disinformasi tidak bisa dilakukan secara sporadis, melainkan harus dipimpin oleh otoritas yang memiliki legitimasi komunikasi publik. Dalam temuannya, ia mengidentifikasi lebih dari 8.000 hoaks terkait vaksin yang beredar dengan pola dan sumber yang beragam. Narasi yang muncul tidak hanya berupa klaim medis palsu, tetapi juga teori konspirasi dan potongan informasi yang dipelintir sehingga tampak meyakinkan. “Hoaks vaksin diproduksi dengan berbagai pola. Ada yang memakai bahasa ilmiah semu, ada yang memanfaatkan emosi dan ketakutan publik,” ujarnya. Ia juga menemukan bahwa polarisasi politik mempercepat penyebaran disinformasi. Pada periode pandemi, perbedaan afiliasi membuat pesan kesehatan publik kerap ditafsirkan secara partisan dan memicu penolakan berbasis identitas kelompok. “Kala itu stigma ‘cebong’ dan ‘kampret’ masih sangat kuat. Kelompok pro dan kontra kebijakan membaca isu vaksin bukan lagi sebagai isu kesehatan, tapi isu politik,” ungkapnya. Menurutnya, kondisi tersebut membuat komunikasi pemerintah sempat tidak optimal karena harus menghadapi banjir hoaks dan narasi tandingan yang masif. Selain faktor politik, Nasrullah menilai rendahnya tingkat literasi informasi masyarakat menjadi tantangan utama. Kemampuan memilah dan memverifikasi informasi yang belum merata membuat publik rentan terpapar konten menyesatkan, termasuk pada berbagai isu viral terkini di ruang digital. Sebagai rekomendasi, ia merumuskan standar mitigasi komunikasi krisis bagi pemerintah, baik secara preventif maupun reaktif. Pendekatan preventif dilakukan dengan membangun ekosistem informasi positif, sementara pendekatan reaktif dijalankan melalui respons cepat saat hoaks muncul. “Saya menyebutnya model kultivasi ekosistem positif dan strategi pemadam kebakaran (firefighter strategy). Pemerintah harus punya sistem deteksi dini dan respons cepat agar hoaks tidak terlanjur dipercaya publik,” jelasnya. Meski pandemi telah mereda, ia menilai kesiapan Government Social Media tetap mendesak karena gelombang disinformasi dapat muncul sewaktu-waktu, termasuk pada isu kebijakan baru, kesehatan, dan teknologi. “Infodemik tidak pernah benar-benar selesai. Bentuknya saja yang berubah. Karena itu, kesiapan komunikasi digital pemerintah harus berkelanjutan,” tegasnya. Nasrullah juga menyoroti pentingnya kolaborasi multipihak, termasuk dengan lembaga pemeriksa fakta seperti Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), untuk memperkuat literasi digital publik. Menurutnya, pengelolaan informasi harus ditempatkan setara pentingnya dengan penanganan medis dalam menghadapi krisis global. “Keberhasilan kebijakan publik sangat ditentukan oleh kepercayaan dan pemahaman masyarakat. Tanpa komunikasi yang kuat, kebijakan terbaik pun bisa ditolak,” pungkasnya.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Rektor UMM Resmikan Sarana Air Bersih Berbasis Masyarakat di Tliu NTT

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. meresmikan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PASIMAS) Fetomone di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, 10 Februari ini. Program ini menjadi langkah strategis dalam menghadirkan akses air bersih berkelanjutan di wilayah yang selama ini dikenal memiliki tantangan serius dalam ketersediaan sumber air. Adapun program ini merupakan hasil kerja sama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Danone Indonesia, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTT, serta UMM dan Universitas Muhammadiyah Kupang. Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa persoalan dasar masyarakat hanya dapat diselesaikan melalui sinergi lintas sektor. Peresmian berlangsung khidmat dan sarat nilai kearifan lokal. Rombongan disambut langsung oleh ketua adat Desa Tliu, diiringi tarian dan sambutan khas suku setempat sebagai simbol penerimaan dan penghormatan masyarakat kepada para tamu. Suasana tersebut menggambarkan keterbukaan masyarakat desa terhadap program pembangunan yang berangkat dari kebutuhan riil warga. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang, UM Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Manado menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pembangunan fisik. “Air adalah sumber kehidupan. Di daerah seperti NTT, menghadirkan air bersih berarti membuka peluang hidup yang lebih layak, lebih sehat, dan lebih bermartabat bagi masyarakat,” ujarnya. Sarana air bersih yang diresmikan merupakan hasil kerja panjang dan kolaboratif, mulai dari proses penemuan titik mata air hingga pengembangannya menjadi sarana penunjang utama kebutuhan pengairan dan konsumsi masyarakat desa. Hal ini memiliki makna penting, mengingat wilayah NTT tidak mudah menemukan sumber air yang layak dan berkelanjutan. Desa Tliu sendiri merupakan wilayah yang tergolong terpencil dengan keterbatasan akses infrastruktur. Meski demikian, semangat pendidikan terus tumbuh. Di desa tersebut telah berdiri SD Muhammadiyah yang menjadi pusat pembelajaran bagi anak-anak setempat. Secara pribadi, Nazar juga memberikan bantuan dana pengembangan untuk SD Muhammadiyah Desa Tliu, beasiswa pendidikan sarjana kepada Kepala Desa setempat, serta dukungan sarana perpustakaan. “Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kami ingin anak-anak Desa Tliu memiliki mimpi besar dan akses yang sama untuk meraihnya,” tegasnya. Kepala Desa Tliu menyambut baik kehadiran program PASIMAS Fetomone dan dukungan yang diberikan. “Bagi kami, air bersih bukan sekadar fasilitas, tetapi harapan baru. Program ini sangat berarti bagi kehidupan masyarakat Desa Tliu,” ujarnya. Melalui pengembangan sarana air bersih berbasis masyarakat ini, UMM berharap PASIMAS Fetomone mampu menjadi model pemberdayaan desa yang berkelanjutan, memperkuat kualitas hidup masyarakat, serta mendorong pembangunan pendidikan dan sosial di wilayah Nusa Tenggara Timur. (*wil) Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain
Rajin Meneliti dan Publikasi, Mahasiswa UMM Ini Terbang ke Portugal

Pengalaman menarik dirasakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini datang dari Marco Trisna Omar Farrasy, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 asal Tulungagung, yang berhasil lolos program beasiswa Erasmus dan merasakan studi di University of Minho, Portugal. Capaian tersebut diraih setelah melalui proses panjang, perjuangan, dan penuh tantangan. Sejak awal masa perkuliahan, Marco telah menaruh minat besar pada aktivitas berskala internasional. Ia aktif mencari berbagai peluang untuk memperoleh pengalaman yang memiliki exposure global, mulai dari mengikuti konferensi internasional hingga terlibat dalam kegiatan organisasi akademik dengan relasi internasional. Baginya, interaksi lintas budaya menjadi bekal penting untuk membentuk karakter, wawasan, serta daya saing di tingkat global. Keinginan untuk menempuh studi di luar negeri tidak berhenti sebatas mimpi. Marco mempersiapkan diri secara serius dengan membangun portofolio akademik dan non-akademik. Ia melengkapi curriculum vitae (CV) dengan berbagai pengalaman, mulai dari kegiatan organisasi, praktikum, hingga keterlibatan dalam forum ilmiah internasional. Seluruh pengalaman tersebut dijadikan sebagai modal untuk menunjukkan kapasitas, kredibilitas, serta komitmennya dalam dunia akademik. Proses pendaftaran program Erasmus yang dijalani Marco cukup kompleks. Selain memenuhi persyaratan dari UMM, ia juga harus mengikuti prosedur dari pihak universitas mitra. Tahapan yang dilalui meliputi pengajuan dokumen secara daring, seleksi wawancara, penyusunan learning agreement bersama program studi, hingga pembuatan motivation letter. Menurut Marco, motivation letter menjadi salah satu aspek paling krusial dalam proses seleksi. Ia menyusunnya dengan pendekatan naratif dan emosional, mengangkat latar belakangnya sebagai mahasiswa dari kota kecil di Jawa Timur. “Saya ingin menunjukkan bahwa meskipun berasal dari daerah kecil, saya punya semangat besar untuk berkembang dan memberi dampak,” tuturnya. Selain menyusun dokumen, Marco juga menerapkan strategi dengan mengenali karakter kampus tujuan. Ia mempelajari profil University of Minho, komunitas riset, serta kesesuaiannya dengan minat dan pengalamannya yang juga ia tuangkan dalam motivation letter. Ia juga menambahkan ketertarikannya pada komunitas penelitian di kampus tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk memilih Minho sebagai destinasi studi. Selama menempuh pendidikan di Portugal, Marco mengambil sejumlah mata kuliah yang relevan dengan bidang Public Relations, seperti media literacy, marketing, dan specialized practice in public relations. Sistem pembelajaran yang diterapkan relatif serupa dengan UMM, yakni mengombinasikan teori dan praktik berbasis studi kasus. Menurut Marco perbedaannya terletak pada sistem evaluasi yang hanya diujikan pada Ujian Akhir Semester tanpa adanya Ujian Tengah Semester. Dalam proses adaptasi, Marco menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya adalah kendala bahasa. Perkuliahan di Program Studi Komunikasi sebagian besar menggunakan bahasa Portugis. Meski demikian, ia bersyukur bahwa dosen pengajarnya sangat terbuka untuk dirinya dan selalu memberi kesempatan untuk diskusi lebih lanjut. Marco juga menambahkan bahwa keberadaan komunitas Erasmus Volunteer disana sangat membantunya dalam memahami materi perkuliahan. Sebagai mahasiswa yang aktif dan produktif, Marco telah mengikuti berbagai konferensi internasional. Ia kerap mempresentasikan hasil penelitiannya dalam forum diskusi akademik lintas kampus. Pengalaman tersebut tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis, analitis, dan komunikasi ilmiah. Tak hanya itu, prestasi lain yang tak kalah membanggakan adalah keberhasilannya dalam menembus publikasi internasional melalui Springer Book Chapter. Sebuah bab buku yang diterbitkan oleh penerbit internasional terkemuka. Melalui penelitian bibliometrik dan bibliografi analisis berbasis data Scopus, Marco memetakan tren penelitian sebelumnya untuk membantu para peneliti menemukan referensi yang relevan. Karyanya menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penguatan budaya riset di kalangan mahasiswa. Bagi Marco, kesempatan belajar di luar negeri merupakan batu loncatan penting dalam membangun masa depan akademik dan profesional. Ia berharap pengalaman ini dapat membuka peluang karier sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani mencoba hal baru. “Saya ingin pengalaman ini menjadi stepping stone yang kuat untuk masa depan, sekaligus memotivasi teman-teman agar tidak takut mencari peluang internasional,” ujarnya. Menutup kisahnya, Marco berpesan kepada mahasiswa dan anak muda agar tidak minder dengan keterbatasan yang dimiliki. Ia mengajak generasi muda untuk mengenali potensi diri, memaksimalkan kemampuan, serta selalu menjadi versi terbaik dengan tidak membandingkan diri dengan orang lain. (rik/wil) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Aris, Alumnus UMM Di Balik Sistem Pengujian Bermotor Indonesia

Keselamatan kendaraan bukan sekadar urusan teknologi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab besar terhadap nyawa manusia. Di balik sistem pengujian kendaraan bermotor berstandar internasional yang kini dimiliki Indonesia, ada peran penting alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang ikut memastikan setiap kendaraan layak melaju di jalan raya. Wahana Aris Munandar namanya, lulusan Teknik Mesin UMM tahun 2016 yang kini dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Passive Safety BPLJSKB Kementerian Perhubungan. Aris, sapaannya, menjelaskan bahwa BPLJSKB merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Lembaga ini memiliki mandat strategis dalam pengujian tipe kendaraan bermotor di Indonesia. Pada 2025, BPLJSKB resmi mengoperasikan fasilitas Proving Ground berstandar internasional. Fasilitas ini menjadi tonggak peningkatan sistem pengujian kendaraan nasional. Salah satu fasilitas kuncinya adalah Laboratorium Passive Safety. Laboratorium ini berfokus pada pengujian keselamatan kendaraan. Pengujian meliputi kursi, sabuk pengaman, hingga uji tabrak mobil. Laboratorium Passive Safety menjadi satu-satunya di Indonesia yang mampu melakukan uji tabrak kendaraan secara komprehensif. “Peran utama laboratorium ini adalah memastikan kendaraan yang digunakan di Indonesia, baik produksi dalam negeri maupun impor, benar-benar memenuhi standar keselamatan yang tinggi,” ujar Aris. Kepercayaan memimpin laboratorium tersebut tidak lepas dari latar belakang akademiknya di Teknik Mesin UMM. Selama kuliah, Aris ditempa dengan mata kuliah dasar seperti mekanika kekuatan material, struktur, dan material teknik yang membentuk pola pikir analitis. Kompetensi tersebut kini menjadi fondasi penting dalam menganalisis hasil pengujian serta menentukan metode uji yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain akademik, pengalaman praktikum desain dan pemodelan tiga dimensi juga memberikan kontribusi nyata. Kemampuan membaca dan mengevaluasi desain kendaraan sebelum pengujian menjadi bagian penting dalam proses kerja di laboratorium. Di sisi lain, keterlibatannya dalam Unit Kegiatan Mahasiswa, seperti International Language Forum (ILF) dan Forum Diskusi Ilmiah (FDI) UMM, memperkuat keterampilan komunikasi dan penulisan laporan teknis yang kini sangat dibutuhkan dalam kerja sama internasional. “UMM tidak hanya mengajarkan ilmu teknik, tetapi juga membiasakan kami berpikir sistematis, berani berdiskusi, dan mampu menyampaikan gagasan secara profesional,” terang Aris. Aris menilai nilai-nilai khas UMM, khususnya integrasi keilmuan dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, turut membentuk etos kerja yang jujur, bertanggung jawab, dan mandiri, serta menjadi kompas moral dalam kariernya sebagai ASN. Prinsip bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa harus diawasi menjadi bekal penting saat ia memasuki dunia kerja yang sarat regulasi dan hierarki. Pengalaman lintas sektor, dari industri manufaktur hingga pemerintahan, semakin menguatkan pandangannya bahwa lulusan teknik UMM memiliki ruang karier yang luas. Menurutnya, kementerian dan lembaga negara membutuhkan insan teknik yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berkarakter. “UMM membentuk kami untuk siap bekerja dan terus belajar di mana saja, sehingga bekal yang saya peroleh sejak kuliah membuat saya mampu memanfaatkan berbagai kesempatan pengembangan sumber daya manusia di pemerintahan. Mulai dari pelatihan hingga beasiswa double degree di UGM dan University of Leeds,” pungkasnya. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa Universitas Muhammadiyah Malang terus melahirkan lulusan yang adaptif, kompeten, dan siap berkontribusi di berbagai sektor strategis, baik nasional maupun global. (ali/wil) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Pro Kontra Indonesia Gabung Board of Peace, Begini Kata Dosen HI UMM

Di tengah dinamika politik global yang terus berkembang, keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) memunculkan perbincangan luas di ruang publik. Kebijakan ini dinilai menghadirkan peluang bagi Indonesia untuk berperan aktif secara langsung dalam mendukung program perdamaian dunia, sekaligus membawa tantangan yang memunculkan beragam respons di tengah masyarakat. BoP merupakan forum internasional yang dibentuk untuk mendorong dialog dan kerja sama dalam upaya menciptakan perdamaian, khususnya di wilayah konflik. Namun, dalam perkembangannya, keberadaan BoP turut memantik diskusi terkait efektivitas, peran negara anggota, serta dampaknya terhadap isu kemanusiaan global, termasuk Palestina dan Gaza. Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.), menjelaskan bahwa jika merujuk pada piagam resmi BOP, terdapat sejumlah aspek yang masih menjadi perhatian, salah satunya terkait tidak disebutkannya secara eksplisit Palestina dan Gaza. Menurutnya, hal ini menjadi bahan kajian dalam perspektif akademis, terutama terkait posisi masyarakat yang terdampak dalam proses pengambilan keputusan internasional. Dion juga menilai bahwa keikutsertaan Indonesia sebagai strategi untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina dari dalam forum, sah secara politis. Namun, secara akademis, ia menilai klaim tersebut sulit dibuktikan selama piagam BoP tidak mengakui secara jelas Palestina dan Gaza sebagai subjek utama dalam upaya perdamaian. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tidak adanya keterlibaran Palestina dalam forum tersebut berpotensi memunculkan persepsi bahwa nasib negara Palestina ditentukan oleh negara-negara luar. Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi hak Palestina dalam menentukan masa depannya sendiri. Sehingga menurutnya, hal ini perlu dikritisi agar upaya perdamaian benar-benar berjalan atas dasar keadilan dan kedaulatan. Di sisi lain, Dion menilai ada dua sisi risiko maupun dampak dari bergabungnya Indonesia ke BoP. Hal ini dapat dilihat dari dua perspektif, yakni internasional dan domestik. Secara internasional, kredibilitas Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina, atau lebih umum dalam mempertahankan politik luar negeri bebas aktif, akan semakin dipertanyakan. Hal itu karena BoP merupakan inisiatif Trump secara pribadi, tidak melalui persetujuan DPR AS, maupun melalui mekanisme PBB. Sementara secara domestik, isu Palestina memiliki sensitivitas yang tinggi di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan isu tersebut berpotensi memunculkan beragam pandangan di masyarakat Indonesia. Pemerintah dinilai perlu terus memperkuat komunikasi publik secara terbuka dan informatif agar masyarakat dapat memahami tujuan, mekanisme, serta dampak dari kebijakan yang diambil. Sementara itu dari sisi keuntungan, keikutsertaan Indonesia dalam BOP membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan aktif dalam mendukung program kemanusiaan dan pembangunan di wilayah terdampak konflik. Selain itu, langkah ini juga dinilai mampu memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang konsisten dan berkomitmen aktif dalam isu perdamaian dunia. Meski demikian, keikutsertaan Indonesia dalam BOP juga dapat dipahami sebagai bagian dari strategi diplomasi aktif di tingkat global. Dalam konteks kebijakan luar negeri, Indonesia selama ini dikenal memiliki komitmen terhadap perdamaian dunia, sebagaimana tertuang dalam konstitusi dan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Keikutsertaan Indonesia dalam BOP juga membuka ruang dialog yang lebih luas dengan berbagai negara, baik dari kawasan Timur Tengah maupun negara-negara lain. Hal ini dapat memperluas jaringan kerja sama serta memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan global. Meski demikian, timbul berbagai pandangan dan respons masyarakat yang beragam. Hal ini dinilai oleh Dion sebagai bagian dari dinamika demokrasi. “Pro dan kontra terhadap kebijakan luar negeri merupakan hal yang wajar, selama disampaikan secara rasional dan bertanggung jawab. Keberagaman pendapat justru dapat menjadi penyeimbang dalam proses pengambilan kebijakan publik,” katanya. Sebagai penutup, ia mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk menyikapi isu internasional secara rasional dan bijak. Kepedulian terhadap isu global juga perlu dibarengi dengan pemahaman yang komprehensif, agar tidak terjebak pada informasi yang belum jelas kebenarannya. (vin/wil) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Kuliah di Bahasa Arab Bikin Umar ke Luar Negeri Tiap Minggu

Membekali diri dengan kompetensi bahasa dan pengalaman organisasi menjadi kunci utama bagi para lulusan perguruan tinggi dalam menembus pasar kerja global. Hal inilah yang dibuktikan oleh Umar Faruq, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini sukses meniti karier sebagai tour leader profesional untuk perjalanan haji, umrah dan halal tour ke berbagai negara. Bahkan hampir tiap minggu ia ke luar negeri, mulai dari Arab Saudi, Tiongkok, Tailan, Turki, dan sederet negara lainnya. Umar, sapaannya, Umar merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam (FAI) UMM angkatan 2016. Saat ini, ia memegang tanggung jawab besar dalam menemani serta melayani para tamu Allah untuk beribadah di Tanah Suci sekaligus memandu wisatawan yang ingin berlibur ke luar negeri. Kesuksesannya saat ini tidak datang begitu saja, melainkan berakar dari pilihannya memperdalam ilmu agama dan bahasa di Universitas Muhammadiyah Malang. Ia mengungkapkan, alasannya memilih Pendidikan Bahasa Arab di UMM adalah untuk menambah wawasan terkait kependidikan dan memperdalam bahasa Arab agar lebih memahami agama Islam. “Alasan saya dulu memilih Fakultas Agama Islam karena saya ingin menambah wawasan terkait dengan pendidikan, khususnya di pendidikan bahasa Arab, sehingga saya tertarik dengan agama Islam,” ujar Umar. Selama masa studinya, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang yang berasal dari Bekasi ini, dikenal sebagai mahasiswa yang aktif menyeimbangkan antara akademik dan organisasi. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Eksternal Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab. Tak hanya aktif di organisasi mahasiswa, Umar Faruq juga sempat mengasah keterampilan profesionalnya sebelum lulus dengan bergabung di biro administrasi kampus. Ia pernah bekerja di Humas UMM sebagai penerjemah berita dan translator untuk konten-konten yang dimuat di situs resmi universitas. Pengalaman di Humas UMM dan keterlibatannya di HMPS diakuinya sangat membentuk karakter serta kesiapannya dalam menghadapi dunia kerja. Umar menilai lingkungan kampus UMM, baik dari segi fasilitas maupun dosen, sangat mendukung perkembangan mahasiswanya. Menariknya, transisi karier Umar yang saat ini menjadi seorang pemandu wisata internasional punya cerita tersendiri. Apalagi saat pertama kali terjun dan menjalankan amanah. Meskipun baru pertama kali, Umar Faruq mengaku tidak mengalami kendala berarti karena latar belakang pendidikan yang ia tempuh sangat relevan dengan pekerjaannya. Kemampuan bahasa yang ia pelajari di bangku kuliah menjadi modal utama dalam berkomunikasi di luar negeri. “Alhamdulillah, karena ada basic bahasa Arab, jadi semua bisa terkendali dan dijalankan dengan lancar saat pertama kali saya membawa tamu-tamu Allah untuk umrah,” katanya. Ia menyoroti secara khusus salah satu mata kuliah yang paling berkesan baginya selama di UMM, yakni Bahasa Arab Amiyah atau bahasa sehari-hari. Ilmu ini menjadi senjata utamanya saat berinteraksi langsung dengan warga lokal terutama di Arab Saudi. “Mata kuliah yang mempelajari bahasa hari-hari atau bahasa Arab Amiyah itu sangat berkesan dan sangat bermanfaat sampai saat ini untuk diri saya pribadi sebagai tour leader,” ujarnya. Saat ini, ia juga tengah merintis bisnis biro perjalanan haji dna umrah miliknya sendiri. Menjalani pekerjaan dan menata impian yang bermamfaat untuk masyarakat, baik bagi mereka yang ingin beribadah dan berwisata dengan aman. Sebagai penutup, ia memberikan pesan motivasi untuk para mahasiswa UMM yang masih berjuang di bangku kuliah untuk terus mengejar impian tanpa menyerah. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara usaha keras dan ketawakalan kepada Tuhan. “Prinsip hidup saya adalah selalu libatkan Allah di setiap ikhtiar kita. Karena setiap usaha tanpa doa itu adalah sombong dan setiap doa tanpa usaha itu adalah bohong,” pungkasnya. (*nab/wil) Penulis: Nabila Makarim Nur Zaky | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Berjaya, Karate UMM Borong Enam Medali di Kejuaraan Nasional

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil memborong enam medali dalam ajang Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora. Kompetisi itu digelar di Bandung dan diikuti lebih dari 1.200 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kejuaraan tingkat nasional tersebut, kontingen UMM sukses membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu. Capaian ini diraih oleh enam atlet dari lintas program studi yang menunjukkan bahwa prestasi olahraga di UMM tumbuh seiring dengan keberagaman latar akademik mahasiswa. Adapun para peraih medali kontingen UMM antara lain Arif Tri Dermawan (Manajemen) yang berhasil meraih Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Prestasi berlanjut melalui nomor Kata Beregu Senior Putri yang sukses mengantarkan Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan) meraih Juara 2. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menyumbang medali dengan meraih Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri, serta Ilma Mazida (Teknologi Pangan) yang mengamankan Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. Miranti, salah satu peraih medali, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas hasil yang diraih tim UKM Karate UMM. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya tentang medali. Namun juga tentang proses panjang yang dilalui bersama tim. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ujarnya. Menurut Mira, tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah menjaga fokus dan kekompakan, terutama bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas. Tekanan mental dan fisik menjadi ujian tersendiri mengingat ketatnya persaingan antar atlet dari berbagai daerah. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa kunci keberhasilan tim terletak pada disiplin latihan dan kebersamaan yang terus dijaga sejak masa persiapan. Intensitas latihan yang tinggi, termasuk latihan penuh menjelang keberangkatan, menjadi bagian dari komitmen seluruh atlet meskipun harus berbagi waktu dengan aktivitas akademik. Dukungan kampus turut berperan besar dalam pencapaian ini. UMM memberikan kemudahan izin akademik dan motivasi. Dukungan fasilitas pun disiapkan secara optimal, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kejuaraan berlangsung. Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat bertanding dengan aman, nyaman, dan fokus memberikan performa terbaik. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas prestasi UKM Karate UMM. Ia menilai capaian ini sebagai wujud nyata pembinaan kemahasiswaan yang berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran pelatih dan semangat konsisten para atlet dalam berlatih dan bertanding. Dengan capaian tersebut, UKM Karate UMM diharapkan dapat terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama kampus di level nasional hingga internasional. (*ali/wil) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Cuaca Tak Menentu, Mahasiswa UMM Kembangkan Bed Dryer Pengering Gabah

Ketergantungan petani pada sinar matahari kerap berujung pada turunnya kualitas panen, terutama saat musim hujan ketika proses penjemuran tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, sebuah teknologi pengeringan gabah yang dirancang lebih efektif dan stabil untuk menjaga mutu hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Bed dryer tersebut digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Melalui penelitian lapangan, Malikul melihat langsung kesulitan petani dalam mengeringkan gabah saat musim hujan. Cuaca yang tidak stabil membuat proses penjemuran tradisional menjadi kurang optimal dan berisiko menurunkan kualitas hasil panen. “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar Malikul kepada Tim Humas UMM, 1 Februari lalu. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tak hanya untuk gabah padi, bed dryer ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lainnya. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” jelas Malikul. Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Mereka harus memastikan bahan yang digunakan tepat agar hasil pengelasan optimal. “Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkapnya. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, prototipe tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga berada pada kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Ke depan, bed dryer ini dirancang untuk direalisasikan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam, menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi atas capaian mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi bed dryer merupakan wujud nyata kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi teknik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Saya mengapresiasi mahasiswa Capstone Design yang berhasil merancang bed dryer sebagai solusi nyata bagi permasalahan UMKM. Karya ini menunjukkan kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia juga menilai karya ini mencerminkan peran seorang engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Ke depan, ia berharap alat tersebut dapat terus dikembangkan dari berbagai aspek, mulai dari efisiensi energi, ergonomi, hingga kesiapan implementasi di lapangan. “Harapannya, karya ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap digunakan secara luas,” tambahnya. Melalui inovasi bed dryer ini, mahasiswa Teknik Industri UMM tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan semangat berkarya mampu melahirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat.(rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dari Bangku Keperawatan ke Barak Militer, Ini Kisah Alumnus UMM Jadi Perwira TNI

Perjalanan karier lulusan tenaga kesehatan tidak selalu berakhir di ruang klinis atau fasilitas pelayanan medis. Bagi sebagian alumni, ilmu dan nilai yang diperoleh selama masa perkuliahan justru membuka ruang pengabdian yang lebih luas. Hal itu tercermin dari perjalanan Letda Ckm Rizki Hasan Hafizdin, S.Kep., Ns., alumnus Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang menuntaskan studi profesi pada 2024 dan langsung mengawali pengabdian sebagai Perwira TNI. Dalam menjalankan tugas sebagai perwira, Rizki merasakan bahwa soft skill seperti komunikasi dan kepemimpinan memiliki peran yang sama pentingnya dengan kompetensi teknis keperawatan. Kemampuan public speaking yang diasah sejak masa kuliah melalui presentasi akademik dan forum organisasi menjadi salah satu keterampilan yang paling terasa manfaatnya di lapangan. Ia juga menekankan bahwa kesiapan mental, fisik, serta niat yang kuat merupakan modal utama bagi mahasiswa yang bercita-cita berkarier di TNI. Menurutnya, kemampuan teknis dapat terus diasah, tetapi karakter dasar harus dibangun melalui proses panjang sejak masa perkuliahan. “Kuncinya ada di niat, mental, dan fisik. Kalau itu sudah kuat, hal-hal lain bisa dipelajari. Kampus memberi ruang untuk proses itu, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menilai UMM bukan sekadar tempat menimba ilmu akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter yang menyiapkannya menghadapi dunia pengabdian dengan tuntutan disiplin dan ketahanan mental tinggi. Menurut Rizki, sistem pembelajaran di Program Studi Keperawatan UMM mampu menyeimbangkan penguasaan akademik dengan pembentukan sikap profesional. Dukungan dosen, lingkungan fakultas yang kondusif, serta kultur akademik yang terjaga menjadi fondasi penting dalam proses belajarnya. Ia juga menilai komitmen UMM dalam menjaga mutu pendidikan tercermin dari akreditasi program studi serta pendekatan pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja. “Selama kuliah, kami tidak hanya dituntut memahami teori keperawatan, tetapi juga dibiasakan disiplin, bertanggung jawab, dan tepat waktu. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini ternyata sangat terasa manfaatnya ketika saya masuk ke lingkungan TNI,” ujarnya. Selain aspek akademik, keterlibatan aktif dalam organisasi kemahasiswaan turut membentuk kematangan dirinya. Rizki tercatat pernah mengemban amanah sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA). Pengalaman tersebut, menurutnya, berperan besar dalam melatih kepemimpinan, komunikasi, serta kemampuan mengelola dinamika tim yang beragam. Ia menuturkan, aktivitas organisasi mengajarkannya berkomunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari sesama mahasiswa hingga pimpinan fakultas. Proses berdiskusi, menyelesaikan konflik, membangun kerja sama, hingga menjaga etika komunikasi menjadi bekal berharga yang kini relevan dengan tugasnya sebagai perwira kesehatan di lingkungan militer. “Organisasi itu mendewasakan. Kita belajar problem solving, public speaking, dan mengelola emosi. Hal-hal ini sangat terpakai, terutama ketika bekerja dalam sistem yang hierarkis dan penuh tanggung jawab seperti di TNI,” jelasnya. Terakhir, ia berpesan khususnya kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu aktif di luar kelas dan berproses secara sungguh-sungguh. Ia menilai kombinasi antara prestasi akademik dan pengalaman organisasi menjadi nilai tambah yang membentuk kesiapan lulusan menghadapi tantangan nyata di dunia kerja dan pengabdian. “UMM selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya. Itu yang membuat lulusannya siap bersaing dan berkontribusi di berbagai bidang,” tutupnya.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman