Mahasiswa UMM Hibur Lansia dan Anak-anak di Rumah Asuh

Sebagai upaya berbagi untuk bangsa, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) lakukan pengabdian kepada para lansia dan anak-anak di Rumah Asuh Anak dan Lansia (RAAL) Griya Asih, Lawang, Malang. Kegiatan yang tergabung dalam program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) itu telah berlangsung selama satu bulan dan berakhir pada Kamis (07/10). Di penutupan program PMM tersebut Wakil Rektor IV, Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si., M.Hum., mengatakan bahwa para mahasiswa telah melakukan kegiatan pengabdian dengan baik di panti Griya Asih. Menurutnya, keputusan para mahasiswa untuk melakukan pengabdian di panti Griya Asih bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban PMM saja. Namun lebih dari itu juga sebagai bentuk niat tulus untuk berbagi kepada sesama. “Pengabdian ini merupakan komitmen nyata yang para mahasiswa lakukan selama berkuliah di UMM. Apapun yang telah para mahasiswa kerjakan selama satu bulan di sini semoga dapat memberi manfaat yang baik bagi para penghuni Griya Asih,” ungkap Sidik melanjutkan. Di sisi lain, pengurus Panti Griya Asih Natalie Paula Poluan mengaku sangat berterimakasih atas kehadiran mahasiswa dan pihak-pihak yang terkait di Panti Griya Asih. Program yang telah dijalankan para mahasiswa selama satu bulan di panti berjalan dengan sukses. “Dengan batuan yang UMM berikan kepada kami, kami merasa masih diperdulikan dan dilihat oleh perguruan tinggi. Teman-teman mahasiswa juga sangat akrab dengan para oma dan anak-anak di rumah asuh ini. Semoga mereka bisa terus bermanfaat bagi masyarakat luas nantinya,” kata Natalie Sementara itu, pendamping kelompok PMM Dr. Ratih Juliati, M.Si., mengatakan bahwa kerja sama ini akan terus berlanjut di esok hari. Setelah penutupan PMM gelombang satu ini berakhir, program ini akan dilanjutkan oleh pengabdian PMM gelombang kedua dan gelombang-gelombang selanjutnya. “Meskipun tempatnya masih sama di panti Griya Asih,  namun kami sudah mentiapkan berbagai kegiatan yang berbeda. Tentunya aktivitas yang lebih bermanfaat dan baik lagi. Semoga dengan kerja sama ini akan memberi warna baru di panti Griya Asih,” ungkapnya menjelaskan. Di akhir sesi, para penghuni Griya Asih memberikan kesan pesan kepada para mahasiswa yang telah selesai melaksanakan PMM. Salah satu perwakilan oma-oma mengucapkan terima kasih kepada para mahasiswa yang telah berbagi pengetahuan kepada para penghuni panti. Selain oma-oma, anak-anak panti asuhan juga mengucapkan rasa terima kasihnya pada para mahasiswa. “Walaupun waktu pertemuan kita sangat singkat, tapi kakak-kakak akan tetap dihati. Semoga bisa bertemu kembali di lain hari,” ujar Gisel, salah satu anak panti. (syi/wil)

Footsanityzer Pembersih Kaki Praktis Karya Mahasiswa UMM

Handsanityzer kini sudah lumrah digunakan sebagai pembersih dan mensterilkan tangan dari kuman. Namun berbeda dengan inovasi yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka mengembangkan pembersih untuk kaki yang diberi nama foot sanityzer. Inovasi yang tertuang dalam Program Kreatifitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE) dengan judul “Foot Sanitizer Spray Ekstrak Daun Teh Hijau sebagai Antimikroba Staphylococcus Epidermidis” ini, telah lolos tahap pendanaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti). Muhammad Ilham Septiana selaku ketua kelompok menceritakan bahwa gagasan ini berawal dari masalah kaki berbau. Hal tersebut menjadi latar belakang untuk melakukan riset dan penelitian dalam mengembangkan foot sanityzer ini. Menariknya, bahan dasar dari foot sanitizer ini berasal dari ekstrak daun teh hijau. Ilham, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa teh hijau yang menjadi bahan dasar mengandung zat polysenol yang berfungsi sebagai anti bakteri. Sehingga zat tersebut dapat mencegah dan mensterilkan bakteri atau kuman yang ada di kaki. “Kandungan zat polysenol ini ternyata cukup ampuh dalam membersihkan bakteri yang ada di kaki,” imbuhnya. Adapun proses pembuatan foot sanitizer sendiri tidak memakan waktu yang lama. Pembuatannya hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit saja. Adapun bahan-bahannya meliputi daun teh, gliserin, asam askorbat, aquades, alkohol, dan pewangi. Dari racikan bahan tersebut terciptalah pembersih kaki yang siap dikemas dan digunakan. Selama riset dan penelitian, mereka sempat terkendala racikan yang tidak cocok untuk pembersih kaki. Beberapa racikan pertama dirasa kurang cocok denga napa yang diharapkan. Meski begitu, mereka tidak patah semangat dan terus mencari formula yang sesuai. “Sempat terkendala racikan awal yang menghasilkan cairan kental, berbeda dengan harapan kami yakni cairan yang lebih cair. Tetapi selama dua minggu meneliti, kami akhirnya menemukan racikan yang pas,” jelasnya melanjutkan. Proyek PKM menarik ini digarap oleh Muhammad Ilham Septiana Adicandra, Aswendo Nurizza Sasongko, Nadhira Izdihar Khairunissa, Nirmaya Amalia Putri dan Siti Alfiah, yang tergabung dalam satu kelompok, yang seluruhnya mahasiswa Kedokteran UMM. Adapun riset ini dilakukan selama tiga bulan yang mana nantinya mereka akan submit jurnal. Mahasiswa asli Jember ini berharap usaha mereka dalam menggarap PKM ini bisa lolos PIMNAS di kemudian hari. Selain itu ia juga ingin agar ke depan produk foot sanitizer ini bisa disempurnakan dan diedarkan. “Kami berharap Footsanitizer ini bisa disempurnakan agar kedepannya bisa diedarkan secara luas ke masyarakat” ungkapnya. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Teliti Gangguan Depresi Lewat Urine

Depresi merupakan gangguan kejiwaan yang seringkali dialami oleh sebagian masyarakat. Namun, di Indonesia belum ada diagnosis gangguan depresi yang cepat dan tepat dengan menggunakan laboratorium. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembangkan diagnosis labolatorium pasien depresi dengan menggunakan urine pasien. Salah satu anggota tim, Uswatun Hasanah, mengatakan bahwa proses diagnosis gangguan depresi saat ini masih menggunakan skala dan cluster gejala dari pasien saja. Hal ini memakan waktu lebih lama jika dibanding ketika uji labolatorium. Karena hal itu, Uswatun dan tim meneliti perubahan  urine dari orang normal ke pasien gangguan depresi untuk uji coba labolatorium. “Untuk mendeteksi gangguan depresi  pada pasien, kami menggunakan Biomarker N-Methylnicotinamid & Hippuric Acid. Setelah tiga bulan melakukan penelitian kami dapat menarik kesimpulan bahwa kadar biomarker n-methyl dan hippuric pada pasien ganguan depresi mengalami peningkatan daripada orang normal. Hal ini bisa menjadi acuan untuk mendiagnosis pasien gangguan depresi dengan menggunakan uji labolatorium,” ungkap mahasiswa Prodi Kedokteran tersebut. Uswatun menceritakan bahwa penelitian ini sempat terkendala oleh Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Uswatun melanjutkan bahwa dengan adanya PPKM, timnya tidak bisa melakukan penelitian di Rumah Sakit (RS) dan mendapatkan sampel urine pasien gangguan depresi. “Waktu penelitian kami terbatas dan PPKM menjadi kendala terbesar untuk melanjutkan penelitian. Untungnya, setelah tim kami mencari infomasi ke beberapa dokter, akhirnya kami bisa melakukan penelitian dan mendapat sampel urine di Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan,” ujar anak terakhir dari enam bersaudara itu. Menariknya, penelitian ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) dan mendapat pendanaan dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Dalam penelitian tersebut, Uswatun ditemani oleh keempat temannya yaitu Al-Bidarri Tsamira Annafila, Handini Risma Hani, dan Sekar Asih dari Prodi kedokteran serta Nadila Apriola Susanto dari Fakultas Psikologi. “Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umum, khususnya para psikiater dan psikolog dalam mendiagnosis pasien ganguan depresi. Ke depannya penelitian ini juga bisa ditindaklanjuti untuk pembuatan kit penunjang diagnosis. Sehingga para pasien gangguan depresi mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat,” pungkasnya. (syi/wil)

Tim Mahasiswa UMM Raih Juara Essay Nasional

Angkat ide museum edukasi Covid-19, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) raih penghargaan Best Essay kategori Pendidikan. Lomba nasional ini diselenggarakan oleh Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis (LSME) Universitas Brawijaya. Diadakan mulai tanggal satu September, pengumuman pemenang dari lomba tersebut dilaksanakan pada Minggu (03/10) lalu. Perwakilan tim, Sayla Salsabila, mengatakan bahwa inti dari essay yang dibuat timnya adalah gagasan mengenai peranan ekonomi digital dalam mempromosikan museum edukasi Covid-19. Dalam gagasan tersebut Sayla dan tim memproyeksikan penggunaan teknologi augmented reality di museum edukasi Covid-19. “Alasan mengapa kami mengambil gagasan ini karena di masa depan edukasi mengenai Covid-19 sangat diperlukan. Namun agar kemasannya lebih segar, kami menggunakan teknologi terkini yakni augmented reality. Hal ini dilakukan agar museum tidak monoton dan membosankan bagi masyarakat. Pengolahannya sendiri memanfaatkan ekonomi digital sebagai sarana pemasaran,” ungkan mahasiswa Fakultas Psikologi tersebut. Mahasiswa baru UMM itu bercerita bahwa pengerjaan essay-nya memakan waktu lima hari. Hal itu meliputi pencarian ide yang akan diangkat, pencarian data dan referensi, kepenulisan, hingga editing serta penyesuaian sistematika. Sayla mengaku bahwa timnya sedikit kesulitan dalam menentukan tema. Hal tersebut terjadi karena perbedaan bidang lomba dan latar belakang anggota tim dengan tema perlombaan. Oleh karenanya, persiapan diskusi kelompok terpumpun dan PowerPoint sedikit mengalami kendala. “Kami semua berasal dari latar belakang psikologi, sementara lomba ini berfokus pada bidang ekonomi. Dengan adanya perbedaan tersebut, kami harus banyak belajar mengenai isu-isu ekonomi. Kami memperbanyak referensi dan data dari artikel maupun berita internet,” ungkap mahasiswa kelahiran Nganjuk tersebut. Selain mendapat penghargaan Best Essay kategori Pendidikan, tim ini juga meraih penghargaan Best Speaker pada ajang yang sama. Dalam perlombaan tersebut, Sayla ditemani oleh dua mahasiswa lain yaitu Awalina Ridha Nabila dan Jabal Akbar Al-Hakam. Kedepannya, anak pertama dari dua bersaudara ini berharap dapat menorehkan lebih banyak karya lagi. Apalagi ia masih menginjak semester pertama di Kampus Putih. “Yang sebenarnya ingin kami lakukan adalah berkarya, bukan hanya mencari kemenangan di perlombaan. Jadi, semoga ke depannya kami tidak cepat puas untuk terus belajar karena jalan yang harus ditempuh masih sangat panjang,” pungkasnya. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Bikin Pengawet Alami dari Umbi Kucai

Pengawet makanan menjadi masalah serius bagi konsumsi pangan masyarakat Indonesia. Salah satunya yang berbahaya adalah boraks. Hingga saat ini, bahan ini masih marak digunakan untuk mengawetkan bakso. Melihat permasalahan tersebut menggerakkan tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menciptakan pengawet alami dari umbi kucai. Melalui Program Kreatifitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE), tim mahasiswa ini berhasil mengembangkan pengawet makanan alami pada bakso. PKM dengan judul “Aplikasi Penggunaan Edible Film Dari Alicin Umbi Lapis Kucai (Allium Tuberosum) Terhadap Kualitas Penyimpanan Bakso” ini telah lolos pada tahap pendanaan dari Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Dikti). Adapun kelompok tersebut terdiri dari Navi’atur Riza Al Khoirun Nisa, Edita Rizky Sahputri, Sulthona Nur Aisyah, dan Muslikhatul Muwakhidah. Navi’atur Riza selaku ketua kelompok menjelaskan bahwa pemilihan umbi kucai sebagai bahan dasar berdasarkan kandungannya yang baik untuk mengawetkan, yakni Allicin. Selain itu zat allicin pada umbi kucai menjadi antimikroba yang berfungsi melindungi bakso dari bakteri. Ia menambahkan bahwa zat yang ada di dalam kucai bisa dapat dimanfaatkan sebagi edible film sebagai pengawet untuk bakso yang lebih alami. “Umbi kucai tentu saja bisa digunakan sebagai zat antimikroba yang bagus untuk mengawetkan bakso secara alami. Tim kami percaya bahwa umbi kucai bisa jadi alternatif pengwaet yang bagus,” tegasnya. Navi, sapaan akrabnya juga memaparkan beberapa proses pembuatan edible film pengawet ini. Pertama, mereka membuat edible counting terlebih dahulu yang terbuat dari pati singkong. Kemudian menambahkan aquades dan gliserol yang dipanaskan hingga 70 derajat. Setelah itu edible counting didinginkan hingga 30 derajat dan dicampurkan dengan ekstrak kucai yang sudah melalui evaporasi. Total. Proses tersebut memakanw aktu dua hari. “Selama dua hari tersebut, kandungan zat alami dari bahan kucai dan singkong masih tetap terjaga sehingga aman untuk mengawetkan bakso. Edible film tersebut cukup diletakkan di bakso dan bisa mengwetkannya secara alami” imbuh Navi. Ia dan tim tentu mendapatkan berbagai kendala dan tantangan. Salah satunya pembatasan penggunaan laboratorium karena pandemi. Meski begitu, Navi dan kelompok tidak patah semangat. Berbagai alternatif ia lakukan dalam melaksanakan program kretivitas tersebut. Mahasiswa asli Ngawi ini berharap penelitian dapat diteruskan oleh teman teman lainnya agar bisa lebih sempurna. Ia ingin agar pengawet alami ini dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga tidak hanya bakso saja yang bisa diawetkan, tapi juga bahan-bahan makanan lainnya. Begitupun dengan proses pengemasan serta sosialisasi agar para warga berpindah dan menggunakan pengawet alami ini. “Kami berharap penelitian terkait edible film pengawet makanan ini bisa terus berlanjut. Selain itu juga bisa memberikan manfaat kepada masyarakat luas khususnya dalam aspek pangan” ungkapnya mengakhiri. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Ciptakan Minuman Prebiotik Pengganti Susu Sapi Author

Tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia sangat tinggi, terutama konsumsi susu sapi. Namun bagi beberapa orang susu sapi dapat menyebabkan permasalahan pada pencernaan seperti perut kembung ataupun diare. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) teliti dan kembangkan produk formulasi minuman prebiotik tinggi protein berbasis kacang merah dan kulit pisang. Salah satu anggota tim, Rezqia Achirul ‘Ainin, mengatakan bahwa susu sapi memiliki  kandungan laktosa di dalamnya. Laktosa merupakan disakarida gabungan glukosa dan galaktosa. Pada beberapa keadaan, tubuh tidak dapat mencerna laktosa di dalam usus. Akibatnya, mengonsumsi susu sapi dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare atau perut kembung. “Keadaan tersebut biasanya dikenal dengan nama laktosa intoleran. Dari semua kasus laktosa intoleran di Indonesia, 70% kasus di alami oleh anak-anak,” ujar mahasiswa Prodi Teknologi Pangan tersebut. Untuk mengatasi lakstosa intoleran tersebut, Rezqia dan tim menggabungkan sari kacang merah dan kulit pisang dalam minuman prebiotiknya. Kacang merah dipilih karena memiliki karateristik yang mirip dengan susu sapi. Selain itu, dibanding kacang-kacangan lain, kandungan gizi kacang merah lebih seimbang baik itu kandungan protein, lemak dan juga serat. Sementara itu, penambahan kulit pisang dalam minuman prebiotik ini bertujuan untuk menggantikan posisi laktosa yang bermasalah di produk susu sapi. “Kulit pisang juga mengandung inulin yang memiliki sifat prebiotik. Dengan adanya prebiotik pada kulit pisang tersebut dapat memberikan dampak baik bagi bakteri probiotik di dalam perut. Secara alamiah, probiotik tersebut dapat mengatasi permasalahan sakit perut seperti diare ataupun perut kembung. Pemilihan kulit pisang  ini juga berfungsi untuk mengurangi permasalahan limbah kulit pisang,” kata anak terakhir dari dua bersaudara itu. Penelitian ini diikutsertakan pada Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) dan mendapat pendanaan dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Penelitian yang dilakukan selama lima bulan ini menghasilkan kesimpulan bahwa selain untuk menangani masalah pencernaan akibat susu sapi, minuman prebiotik ini juga berguna untuk mengatasi masalah pencernaan lainnya. Tak sendiri dalam penelitian tersebut, Rezqia dibantu oleh tiga anggota lain yaitu Cindy Wiranti, Ilmi Nafia Saida, dan Wida Ayunindya dari Prodi Teknologi Pangan. “Kami berharap setelah PKM selesai, semoga soft skill dan hard skill bisa lebih terasah sehingga dapat berguna bagi tim kami di masa depan. Kami juga berharap penelitian ini berguna bagi masyarakat terutama di bidang laktosa intoleran,” pungkasnya. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Ubah Limbah Jagung Jadi Minuman

Limbah produksi yang berasal dari industri maupun pertanian selalu menjadi momok tersendiri bagi lingkungan. Di Desa Giripurno, Kabupaten Malang masih banyak rambut jagung yang pemanfaatannya kurang maksimal. Melihat hal tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Kreatifitas Mahasiswa – Pendampingan Masyarakat (PKM-PM) mengembangkan wirausaha desa dengan memanfaatkan rambut jagung tersebut (ragung). PKM dengan judul “Pemanfaatan Ragung Sebagai Produk Pangan Fungsional Melalui Pemberdayaan Kelompok PKK Desa Giripurno Malang” ini telah lolos pendanaan pada Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti). Tim tersebut telah melakukan pendampingan selama 15 kali pertemuan yang diselenggarakan bagi ibu-ibu PKK. Para peserta diberikan beragam materi dan wawasan mengenai bagaimana memanfaatkan limbah yang ada. Siti Rofiatul, salah satu anggota kelompok menjelaskan terkait proses pembuatan ragung menjadi minuman sari ragung. Pembuatan minuman ini membutuhkan beberapa proses. Proses awal adalah pemisahan dan pembersihan rambut dari jagungnya. Lalu ragung yang terkumpul direbus hingga kecoklatan, dilanjutkan dengan tambahan gula dan perasa minuman. Setelah melalui semua proses tersebut, minuman sari ragung baru bisa dikemas dengan botol. Selain mendampingi dalam pembuatannya, tim mahasiswa UMM juga memberikan materi terkait packing, pembuataan akun e-commerce serta digital marketing. DIjelaskan Siti Rofiatul, pelatihan tersebut bertujuan agar minuman sari jagung dapat mendapatkan pasar yang lebih luas. Adapun saat ini penjualan minuman sari ragung itu masih berjalan dengan sistem menerima pesanan. Beberapa kali minuman ini dipesan untuk acara-acara di desa. Per botolnya, sari ragung ini dibandrol dengan harga Rp5.000. “Melihat masih banyak masyarakat desa yang kurang begitu paham akan teknologi terkini membuat kami berinisiatif untuk mengenalkan dan mengajarkan alat-alat yang bisa digunakan. Begitupun dengan pemasaran digital yang secara masif kami sampaikan,” ujarnya. Adapun pendampingan kepada ibu-ibu PKK sendiri dilakukan selama tiga bulan penuh dengan pertemuan luring dan daring. Sempat terkendala PPKM, tim masih berinisiatif untuk melakukan pertemuan secara online, baik melalui grup WhatsApp ataupun  Zoom Meeting. Siti tidak sendiri, ia ditemani oleh Aggy Pramesti Wary (Biologi), Olivia Margareta (Bahasa Inggris), Siti Mariyatul Qibtiyah (Biologi) dan Eginuari Ilhani (Hukum). Rofi sapaan akrabnya berharap wirausaha yang dirintis bersama warga ini bisa berkembang dan mendapat partner lainnya. Begitu pula dengan pemasaran produk sari rambut jagung yang diharapkan bisa semakin dikenal oleh banyak kalangan. “Saya berharap wirausaha di desa Giripurno dapat berkembang dengan pesat, baik dalam aspek produksi maupun marketing,” ungkapnya. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Teliti Gangguan Depresi Lewat Urine

Depresi merupakan gangguan kejiwaan yang seringkali dialami oleh sebagian masyarakat. Namun, di Indonesia belum ada diagnosis gangguan depresi yang cepat dan tepat dengan menggunakan laboratorium. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembangkan diagnosis labolatorium pasien depresi dengan menggunakan urine pasien. Salah satu anggota tim, Uswatun Hasanah, mengatakan bahwa proses diagnosis gangguan depresi saat ini masih menggunakan skala dan cluster gejala dari pasien saja. Hal ini memakan waktu lebih lama jika dibanding ketika uji labolatorium. Karena hal itu, Uswatun dan tim meneliti perubahan  urine dari orang normal ke pasien gangguan depresi untuk uji coba labolatorium. “Untuk mendeteksi gangguan depresi  pada pasien, kami menggunakan Biomarker N-Methylnicotinamid & Hippuric Acid. Setelah tiga bulan melakukan penelitian kami dapat menarik kesimpulan bahwa kadar biomarker n-methyl dan hippuric pada pasien ganguan depresi mengalami peningkatan daripada orang normal. Hal ini bisa menjadi acuan untuk mendiagnosis pasien gangguan depresi dengan menggunakan uji labolatorium,” ungkap mahasiswa Prodi Kedokteran tersebut. Uswatun menceritakan bahwa penelitian ini sempat terkendala oleh Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Uswatun melanjutkan bahwa dengan adanya PPKM, timnya tidak bisa melakukan penelitian di Rumah Sakit (RS) dan mendapatkan sampel urine pasien gangguan depresi. “Waktu penelitian kami terbatas dan PPKM menjadi kendala terbesar untuk melanjutkan penelitian. Untungnya, setelah tim kami mencari infomasi ke beberapa dokter, akhirnya kami bisa melakukan penelitian dan mendapat sampel urine di Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan,” ujar anak terakhir dari enam bersaudara itu. Menariknya, penelitian ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) dan mendapat pendanaan dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Dalam penelitian tersebut, Uswatun ditemani oleh keempat temannya yaitu Al-Bidarri Tsamira Annafila, Handini Risma Hani, dan Sekar Asih dari Prodi kedokteran serta Nadila Apriola Susanto dari Fakultas Psikologi. “Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umum, khususnya para psikiater dan psikolog dalam mendiagnosis pasien ganguan depresi. Ke depannya penelitian ini juga bisa ditindaklanjuti untuk pembuatan kit penunjang diagnosis. Sehingga para pasien gangguan depresi mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat,” pungkasnya. (syi/wil)

Teknik Mesin UMM Pamerkan Karya Futuristik di Mexpo 2021

Dalam rangka Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM), program studi (prodi)Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan pameran karya. Gelaran yang diberi nama Mechanical Engineering Expo (Mexpo) ini memamerkan lebih dari seratus alat dan mesin yang sudah dirancang oleh mahasiswa maupun dosen UMM. Adapun expo ini dilaksanakan di pelataran prodi pada Senin (4/10) lalu dengan protokol Kesehatan yang ketat. Memberikan sambutan, Nur Hasanah, S.T., M.Sc., menuturkan bahwa selain mendukung PKKM, event ini juga menjadi ajang untuk memperlihatkan hasil penelitian dan rancangan alat. Tidak hanya oleh mahasiswa tapi juga oleh para dosen yang turut membantu. “Expo ini saya rasa menjadi kegiatan pertama dari Teknik Mesin untuk menunjukkan berbagai karya-karya, baik itu produk Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM), penelitian maupun lomba-lomba,” tegasnya. Lebih lanjut, Nur Hasanah juga mengatakan bahwa expo dilaksanakan sebagai pemenuhan IKU 5 yang ada di PKKM. Selain pameran, skema ini nantinya juga akan mendaftarkan beberapa produk terpilih untuk mendapatkan HaKI. “Kami yakin, di tengah pandemi seperti ini, para mahasiswa masih memiliki energi yang melimpah dan luar biasa. Maka dari itu, Mexpo hadir untuk menjadi wadah yang bagus,” tuturnya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si yang turut hadir menilai bahwa Mexpo merupakan tradisi akademik yang bagus. Hal itu tidak lepas dari adanya unsur kreatifitas di dalamnya. Meski begitu, ia juga mengatakan tidak hanya menciptakan saja tapi sivitas akademika UMM harus memberikan inovasi baru yang lebih baik. “Apalagi jika inovasi tersebut dapat menyerang dan menggoyahkan inovasi yang sudah ditemukan sebelumnya. Hal itu tentu menjadi capaian yang luar biasa,” ungkapnya. Syamsul, panggilan akrabnya berharap agar akivitas ini bisa dilanjutkan di kemudian hari. Sekalipun jika tidak ada program semacam PKKM. Menurutnya, program hanyalah stimulan agar tiap universitas dan prodi bisa semakin berinovasi dan melaksanakan kegiatan yang bermanfaat. Pada Mexpo tersebut panitia juga sudah menyiapkan berbagai penampilan untuk mengiringi. Ada band akustik dan penampilan-penampilan lainnya. Di samping itu, prodi Teknik Mesin juga menyiapkan berbagai apresiasi dana pembinaan untuk tim Mekatronik, Robotik serta pemenang-pemenang PKM. Adapun beberapa karya menarik yang patut dilihat adalah kapal cepat tak berawak, robot yang menjuarai kompetisi dunia, mobil hemat energi, robot pemadam api, produk project design team serta karya menarik lainnya. (wil)

Tim UMM Juara Kontes Robot SAR Indonesia

Kontes Robot SAR Indonesia (KRSRI) kembali digelar pada tahun 2021. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya di mana robot kontestan hanya meniup lilin, pada tahun ini robot yang dikompetisikan juga harus menyelamatkan calon korban ke tempat yang aman. Pada kontes tersebut, tim Dome dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih juara dua pada tahap regional dari 42 tim. Lomba yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemdikbudristek ini mengumumkan para pemenang pada Selasa (28/09). Salah satu anggota tim, Faizal Aditya, mengatakan bahwa kompetisi ini memuat beberapa spesifikasi yang harus dimiliki oleh robot yang diperlombakan. Pertama, robot tersebut adalah robot autonomous tanpa operator serta tanpa garis penuntun. Kedua, dapat mengatasi variasi rintangan sensor dan medan serta memadamkan api pada lilin. Ketiga, dapat menyelamatkan calon korban dan membawanya ke zona aman. “Pada kompetisi tahun ini, jalur lintasan diberikan rintangan yang lebih menantang. Hal ini dilakukan sebagai wujud lingkungan tak teratur yang biasa dihadapi robot SAR pada wilayah bencana,” ujar mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Elektro tersebut. Faizal menceritakan bahwa pada kompetisi tersebut tim Dome UMM mengikutsertakan robot SAR berkaki. Robot ini dilengkapi dengan spesifikasi-spesifikasi yang telah ditentukan oleh panitia lomba seperti terdapat gas untuk memadamkan api dan  gripper untuk menyelamatkan korban ke tempat aman. Anak pertama dari tiga barsaudara ini mengatakan bahwa proses pembuatan robot ini memakan waktu hampir satu tahun. “Kami mulai mengerjakan pembuatan robot ini setelah selesai mengikuti kontes KRSRI tahun kemarin. Dalam proses pengerjaan, kami menghadapi beberapa kendala seperti robot kesulitan untuk mendeteksi korban yang ingin diselamatkan. Karena tidak bisa mendeteksi, robot sempat error pada sesi kedua perlombaan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut kami memperbaiki kembali algoritma program pendeteksian korban untuk meminimalisir gagalnya proses pendeteksian,” kata mahasiswa asal Malang itu. Dalam perlombaan ini Faizal ditemani oleh Muhammad Indra Pratama, Muhammad Ardy Rahman, dan Aditya Nugraha Putra dari Prodi Teknik Elektro. Faizal berharap ke depannya ia dan tim mampu mempertahankan juara tersebut di tingkat nasional yang akan diadakan pada 12 Oktober mendatang. “Kami juga berharap dapat mempertahankan juara ini pada tahun berikutnya dengan rintangan maupun arena yang berbeda,” pungkasnya di akhir wawancara. (syi/wil)