Rektor UMM Lantik Sepuluh Dekan Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru saja melantik sepuluh dekan baru yang akan memimpin nakhoda di masing-masing fakultas. Turut hadir Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, Ph.D dan Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM Drs. Wakidi. Adapun pelantikan tersebut dilaksanakan secara daring dan luring di Aula BAU pada Jumat (1/10) lalu. Pada gelaran tersebut, Lincolin Arsyad merasa senang karena meski masih berada di situasi pandemi, namun regenerasi UMM masih bisa terus terlaksana. Ia berpesan agar para dekan yang lama bisa memberikan masukan dan input meski Sudha tidak menjabat lagi. “Saling bahu membahu dan membantu agar bisa menciptakan kemajuan bersama. Saya rasa bukan hal mudah untuk memimpin fakultas di universitas besar seperti UMM,” ungkapnya. Ia juga menegaskan bahwa tantangan di depan semakin banyak. Salah satunya yakni pandemi covid yang sudah mengubah kehidupan manusia. Hal ini menjadi tantangan yang harus segera mendapatkan solusi tepat seperti aspek penguasaan teknologi. “Saya yakin kerjasama antara dekan dan rektorat serta seluruh sivitas akademika bisa menjawab segala tantangan yang ada di masa depan,” tuturnya. Sementara itu, Wakidi mengingatkan agar para dekan baru dapat merenungkan terkait pakta integritas yang sudah diikrarkan. Hal itu agar mereka dapat menghayati dan mengimplementasikan tanggung jawabnya dengan baik. Ia juga mendorong para dekan untuk segera memikirkan dan melakukan konsolidasi di fakultas masing-masing. Wakidi juga mengajak para dekan untuk melepas identitas prodinya agar dapat memimpin dengan adil. “Yang kemarin berbeda pendapat dan pilihan kini agar segera bersatu kembali. Mengembangkan potensi yang dimiliki agar mampu memajukan UMM di tingkat nasional maupun internasional,” imbuhnya. Dr. Fauzan, M.Pd selaku Rektor UMM menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para dekan periode sebelumnya yang telah mengabdi dengan baik. Begitupun dengan kerja kerasnya dalam rangka memajukan fakultas serta universitas. “Mudah-mudahan perjuangan bapak ibu selama menjabat dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT,” harapnya. Fauzan menilai bahwa pelantikan ini adalah satu ritual penting di organisasi manapun. Ia juga merasa senang bahwa proses pemilihan dosen periode ini telah membawa angin segar dengan tidak adanya gesekan. Menurutnya, hal tersebut memerlukan kedewasaan dari berbagai pihak. Kesejukan dan keteduhan suasana tersebut diharapkan bisa memperkuat rasa kebersamaan yang selama ini dibangun. Ia juga sempat menyinggung mengenai tanggungjawab pimpinan untuk memberikan kepastian bagi para mahasiswa. Pertama yakni memastikan bahwa mereka bisa lulus tepat waktu dan memastikan tanggung jawabnya usai lulus dari UMM. “Maka perlu adanya improvisasi yang inovatif. Tanpa mengusahakannya, jangan harap kita bisa tetap menjadi yang terbaik,” tegasnya. (wil)
Mahasiswa UMM Ciptakan Antibakteri dari Daun Belimbing Wuluh

Univeritas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong mahasiswanya untuk melakukan riset dan penelitian. Hal serupa juga dilaksanakan oleh salah satu tim Program Kreatifitas Mahasiswa-Riset (PKM-RE). Mereka berhasil meneliti dan menciptakan antibakterial yang cukup ampuh untuk daging ayam. Adapun PKM dengan judul “Ekstrak Daun Belimbing Wuluh Sebagi Antibakteri Terhadap Salmonella Typhi Pada Daging Ayam” ini telah lolos tahap pendanaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti). Hanifa Adani selaku ketua kelompok menjelaskan, ide tersebut muncul dari kegiatannya membaca jurnal-jurnal sebelumnya yang meneliti terkait antibaktei. Selain itu, menurutnya sebagian besar ayam yang ada di pasar dan rumah potong masih mengandung zat Salmonella. Padahal zat tersebut memiliki dampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi. Kedua hal tersebut akhirnya menggerakkan tim tersebut dalam melaksanakan PKM yang berbasis riset. “Sebelumnya, kami telah membaca berbagai jurnal yang membahas terkait antibakteri. Kami menemukan fakta bahwa banyak beredar daging yang masih mengandung zat berbahaya jika dimakan oleh manusia. Salah satu zat berbahaya itu adalah salmonella,” ucapnya Hanifa, sapaan akrabnya memaparkan selama proses riset penelitian, mereka menemukan adanya zat flavonoid pada daun belimbing wuluh. Adapun zat ini memiliki fungsi untuk menjaga kesehatan pada kandungan makanan dan mencegah berkembangnya zat buruk salmonella pada daging ayam. Hal tersebut menjadikan daun belimbing wuluh sebagai sumber antibakteri. “Daun belimbing wuluh yang mengandung flavonoid menjadikannya sebagai sumber antibakteri yang berfungsi menagkal zat salmonella pada daging ayam” imbuhnya. Proses pembuatan antibakteri sendiri memakan waktu tiga hingga empat minggu. Dimana pembuatannya harus melalui proses ekstrasi. Pada proses ini daun belimbing wuluh dipotong-potong, dikeringkan, kemudian dihancurkan hingga halus. Setelah itu, ditambahkan pelarut dan diuapkan hingga mendapat ekstrak kental. Ekstrak kental itulah yang bisa digunakan menjadi antibakteri. “Kita cukup memasukkan daging ayam dan merendamnya bersama dengan antibakteri tersebut,” tuturnya. Adapun penelitian ini telah dilangsungkan sejak sejak bulan Mei hingga Juli lalu. Meskipun penelitian sempat terkendala PPKM, kelompok mencari alternatif dengan melakukan pertemuan secara online. Adapun tim tersebut beranggotakan Hanifa Adina, Keiko Maryati Putri, Nadhifatul Reina, dan Nadya Sinta. Akhir dari projek PKM ini adalah submit jurnal dan mematenkannya di Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Mahasiswa kelahiran Tulungagung ini berharap hasil dari riset dan penelitian terkait antibakteri ini bisa memberikan wawasan baru bagi masyarakat. Selain itu, kedepannya bisa menjadi produk untuk menjaga kandungan daging ayam serta dapat dipasarkan secara komersil. “Kami tentu berharap penelitian ini mampu memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat terkait antibakteri. Semoga bisa segera diproduksi dan dipasarkan kepada masyarakat luas agar manfaatnya bisa segera dirasakan oleh orang lain,” pungkasnya. (haq/wil)
UMM Raih Akreditasi Unggul

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih predikat sebagai kampus terakreditasi Unggul. Predikat itu tertuang dalam Surat Keputusan No. 858/SK/BAN-PT/AK-ISK/PT/IX/2021 yang turun pada Kamis (30/9) lalu. Surat Keputusan itu menyatakan bahwa UMM telah memenuhi syarat untuk menyandang akreditasi Unggul. Predikat ini merupakan puncak tertinggi dari sistem akreditasi perguruan tinggi. Hal tersebut tercantum dalam Permendikbud Nomor 5 Tahun 2020 tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi yang mengubah format A/B/C menjadi format Unggul/Baik Sekali/Baik. Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM mengatakan bahwa perguruan tinggi merupakan institusi formal yang harus mengikuti aturan yang ada. Salah satu di antaranya adalah mengajukan akreditasi. Tidak hanya bagi program studi saja tapi juga institusi kampus. “Akreditasi ini menjadi bentuk keseriusan kami dalam menjalankan perguruan tinggi. Kita tidak bisa hanya mengatakan bahwa kita kuat dan hebat, tapi harus dibuktikan melalui akreditasi,” ungkapnya. Fauzan kembali menuturkan, akreditasi juga menggambarkan kredibilitas perguruan tinggi sebagai instansi yang menyelenggarakan Tri Dharma. Ia bersyukur bahwa UMM dipercaya untuk mengemban predikat kampus akreditasi Unggul. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari kerjasama seluruh elemen dan pihak yang ada di Kampus Putih. Ia mengaku bahwa akreditasi ini belum cukup. Beragam tanggungjawab turunan juga muncul dan harus segera dilaksanakan. Satu di antaranya yakni harus bisa meyakinkan pada masyarakat bahwa UMM memang pantas menyandang akreditasi Unggul. Tidak hanya melalui jalur verbal dan audiovisual, tetapi juga harus memastikan output dan alumni UMM mampu menjadi pribadi yang mandiri. “Kampus Putih senantiasa berusaha untuk melahirkan alumni-alumni yang mandiri sekaligus diperhitungkan di tengah masyarakat. Kami tidak hanya ingin diakui unggul secara formal saja, tapi juga diakui unggul oleh masyarakat luas. Jadi, tidak hanya casing-nya saja yang unggul, tapi juga konten yang ada di dalamnya,” tegasnya. Fauzan menilai prestasi ini tidak lepas dari berbagai usaha dan perjuangan Kampus Putih selama ini hingga mampu mendapatkan kepercayaan dari pemerintah. Ia juga menuturkan bahwa akreditasi ini tentu memberikan banyak manfaat. Salah satunya dapat dijadikan sebagai capital strategis untuk memperkuat hubungan dengan para pihak baik dalam maupun luar negeri. Sementara itu, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. selaku Wakil Rektor I UMM menjelaskan bahwa prestasi ini diperoleh Kampus Putih berkat keberhasilannya dalam memenuhi tiga unsur yang ditetapkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Pertama, UMM dinilai sudah memiliki sumber daya manusia (SDM) dan dosen tetap yang cukup untuk menyelenggarakan proses pendidikan. Kemudian, BAN-PT juga menilai bahwa sistem penjaminan mutu Kampus Putih sudah mencapai standar. Begitupun dengan kualitas dan kuantitas publikasi yang dimiliki. Lebih lanjut, Syamsul mengatakan bahwa Kampus Putih yakin bisa mempertahankan akreditasi Unggul ini. Hal itu tidak lepas dari diperolehnya pengakuan dari pemerintah. Utamanya dalam aspek SDM dan dosen, sistem penjaminan mutu serta publikasi. Ia juga menegaskan bahwa UMM merupakan kampus yang excellent. Maka perlu adanya upaya dalam mengapresiasi, merawat serta menjaganya. Hal tersebut tidak lain tidak bukan untuk mendapatkan pengakuan pemerintah dan masyarakat. Salah satu harapannya yakni adanya peningkatan minat masyarakat akan penyelenggaraan pendidikan di Kampus Putih. Begitupun dengan bertambahnya jumlah kerjasama yang diusahakan. Bentuk dari upaya lain UMM yang bisa dilihat adalah beragam sertifikasi internasional dan usaha dalam membangun centre of excellent (CoE) berbasis prodi. Menurutnya, hadirnya CoE yang bekerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) ini akan memberikan kesempatan, kepastian dan pengalaman bagi para mahasiswa. Selain itu, CoE ini juga akan semakin memperkuat capaian-capaian UMM untuk memperoleh akreditasi Unggul baik berbasis prodi maupun institusi. “Akreditasi Unggul ini adalah salah satu tahap yang harus UMM lalui. Kampus Putih akan terus bergerak dan melakukan langkah-langkah sistematis dan strategis untuk mendapatkan pengakuan di level lebih tinggi yakni internasional. Sehingga mampu menjadi kampus yang internationally recognized dan menjadi bagian dari world class university,” pungkasnya. (wil)
Maharesigana UMM Sukses Raih Penghargaan Pahlawan Warga Terpilih

Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah berkiprah selama enam tahun lamanya. Di tahun yang keenam ini, Maharesigana sukses mendapatkan penghargaan Pahlawan Warga Terpilih dari event kolaborasi Narasi.tv dan Grabid. Diwakili oleh Rindya Fery Indrawan, penghargaan tersebut diumumkan pada Minggu (26/09) secara daring melalui channel Narasi.tv. Fery, sapaan akrabnya mengatakan bahwa syarat untuk mengikuti kompetisi tersebut adalah mengirimkan foto-foto kegiatan sukarelawan. Terhitung ada lebih dari 300 orang dan organisasi yang mengirimkan foto terbaiknya. Kemudian dipilih 25 kontestan untuk masuk dan bersaing di babak final. Pada babak itulah, para peserta harus menghadapi tahap kurasi melalui proses wawancara. “Setelah melalui sesi wawancara mengenai keaslian data foto dan latar belakangnya, terpilih 17 peserta yang akan menempati tiga kategori pemenang. Alhamdulillah, Maharesigana UMM terpilih menjadi Pahlawan Warga Terpilih kategori penggerak,” ungkap lulusan Magister Agribisnis tersebut. Relawan kelahiran Indramayu ini mengatakan bahwa pada kompetisi tersebut, tim publikasi Maharesigana mengirimkan foto-foto kegiatan sukarelawan yang dilakukan selama setahun terakhir. Salah satu publikasi yang dikirimkan adalah ketika membagikan hand sanitizer dan face shield di beberapa rumah sakit (RS) serta warga sekitar UMM. “Kegiatan lain yang kami kirimkan adalah saat tim Maharesigana membantu proses pemulasaraan jenazah Covid-19 dan juga saat pengadaan program Maharesigana Peduli Pendidikan (MPP). Program MPP ini merupakan bantuan pendidikan dan kesehatan yang menyasar ke daerah-daerah terpencil pasca bencana di beberapa wilayah Indonesia,” ungkap Fery. Selain membantu penanganan pandemi di Indonesia, saat ini maharesigana UMM berfokus pada edukasi bencana alam serta memberikan bantuan saat bencana terjadi. Di samping itu juga memberikan dukungan psikososial pasca terjadinya bencana alam. Fery berharap, kedepannya tim Maharesigana mampu menebarkan manfaat di berbagai wilayah, tidak terbatas di Malang saja. “Selain itu saya ingin nantinya Maharesigana dapat diterima oleh masyarakat dengan baik sehingga mampu melakukan aksi-aksi kemanusiaan ataupun respon becana dengan baik. Saya juga berharap Maharesigana UMM dapat bekerjasama dengan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia sehingga dapat membantu lebih banyak masyarakat lagi,” pungkasnya. (syi/wil)
Konferensi Internasional FK-Fikes UMM Kaji Pandemi dan Pembangunan Berkelanjutan

Event internasional dan bergengsi kembali dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kolaborasi antara Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) diwujudkan melalui International Conference on Medical and Health Science (ICMedH). Menariknya, konferensi yang dilaksanakan pada Sabtu (25/9) ini mengkaji tema “Community Health: Addresing the Impact of Covid-19 on the Sustainable Development Goals”. Agenda ini turut mengundang berbagai peneliti dari beragam negara untuk memperkaya kajian. dr. Yoyok Subagyo selaku Ketua Pelaksana menuturkan bahwa konferensi internasional ini merupakan gelaran kolaborasi pertama yang FK dan Fikes UMM langsungkan. Menurutnya, dua tahun belakangan menjadi masa-masa yang sulit. Termasuk bagi dunia kedokteran dan medis dalam menghadapi Covid-19. Banyak warga dan tenaga kesehatan yang menjadi korban dari virus mematikan tersebut. Ia juga menilai bahwa pandemi telah mengubah sejumlah kebiasaan manusia. Namun tidak mengubah usaha untuk terus melakukan penelitian dan menyusun paper berkualitas yang bermanfaat secara luas. “Konferensi Internasional ini akan menghadirkan banyak peneliti yang telah menghasilkan berbagai artikel menarik dan terbaik. Mereka akan membahas banyak aspek baik dari segi preventif, kuratif serta rehabilitasi terkait Covid-19,” jelasnya. Membuka konferensi, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. selaku Wakil Rektor I UMM mengapresiasi kolaborasi yang dilakukan oleh FK dan Fikes dalam pelaksanaan gelaran ini. Tak lupa, ia juga menyambut hangat para pembicara dan presenter yang akan membahas berbagai hal di bidang kesehatan. Menurutnya, tanpa kehadiran mereka, konferensi ini tidak akan bisa berjalan dengan baik dan menarik. Syamsul berharap ICMedH dapat menjadi event tahunan serta membentuk forum menarik untuk berdiskusi. Utamanya dalam aspek kedokteran dan kesehatan. Ia juga ingin agar konferensi ini dapat menghasilkan publikasi yang lebih luas dan mampu memberikan dampak baik bagi sekitar. “Lebih luas lagi yakni bisa diimplementasikan dan diterapkan di kediaman dan negara para peserta masing-masing. Saya yakin bahwa agenda ini merupakan langkah nyata yang kita ambil dalam upaya mengembangkan penelitian di bidang kedokteran dan kesehatan,” katanya. Salah satu pembicara, Ryuichi Sawa, Ph.D dari Juntendo University Jepang menjelaskan mengenai Jepang sebagai negara dengan usia tua yang besar dan Covid-19. Ryuichi mengatakan bahwa per September 2021 persentase orang yang berusia lebih dari 65 tahun telah mencapai 29,1% di Jepang. Menurutnya, keadaan itu juga menjadi tantangan tersendiri, apalagi di tengah pandemi. Ryuichi kembali menjelaskan ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi disabilitas dan usia lemah di tengah pandemi, khusunya di Jepang. Peningkatan partisipasi sosial menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Kegiatan fisik juga perlu digalakkan dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat. Meski begitu, ia masih menekankan akan pentingnya menjaga jarak satu sama lain agar penularan covid-19 bisa tetap ditekan. “Ditambah dengan meminimalisir kegiatan di luar dan tetap berada di dalam rumah,” tegasnya. Di samping itu, pemanfaatan teknologi digital harus dimaksimalkan. Ia memberi contoh aplikasi online KAYOINOBA yang dikeluarkan oleh kementerian kesehatan Jepang. Dalam platform tersebut, masyarakat dapat menemukan fitur cek kesehatan, program olahraga, dan latihan kognitif. Bahkan juga menyediakan rekomendasi rute untuk jalan kaki agar tetap aman. Selain Ryuichi, ICMedH juga menghadirkan pembicara ahli lainnya. Di antaranya Dr. Nazrila Haiziran Nashir dari Kementerian Kesehatan Malaysia dan Prof. Yi Hua Chen, Ph.D dari TMU Taiwan. UMM juga meramaikan diskusi dengan hadirnya dua pembicara lain yakni Dr. Febri Endra Budi dan Dr. Tri Lestari Handayani. (wil)
Berbagi Kasih, UMM Hadir di Tengah Griya Asih

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa memberikan kontribusi dan perhatiannya bagi masyarakat luas. Kampus Putih juga terus memberikan manfaat bagi siapapun yang membutuhkan. Satu di antaranya adalah membantu para lansia dan anak-anak yang berada di Rumah Asuh Anak dan Lansia (RAAL) Griya Asih, Lawang, Malang melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM). Agenda yang dilaksanakan pada Senin (27/9) lalu ini turut dihadiri oleh Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. Pada kesempatan tersebut, Fauzan mengapresiasi para mahasiswa yang sedang melangsungkan pengabdian di sana. Menurutnya, kegiatan ini merupakan pilihan yang sangat mulia karena pada dasarnya manusia diciptakan untuk saling membantu. “Saya sangat terenyuh ketika mengetahui bahwa teman-teman mahasiswa ternyata memilih sendiri untuk membantu di RAAL Griya Asih. Ini adalah bentuk pengorbanan yang mulia,” tambahnya. Fauzan melanjutkan bahwa membantu sesama tidak perlu melihat latar belakang. Pada dasarnya semua manusia ingin tetap dihargai dan dijunjung tinggi martabatnya. Maka sudah kodratnya bagi manusia untuk saling bahu membahu dan membantu dalam kebaikan. “Ini adalah salah satu cara UMM untuk mewujudkan misi utamanya yakni Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. Tidak hanya terbatas pada agama saja,” tegasnya. Ia berharap nantinya akan ada kegiatan UMM lain yang bisa menghibur para lansia. Pun dengan aktivitas edukasi bagi anak-anak yang ada di RAAL Griya Asih. Terakhir, Fauzan juga berharap para oma yang tinggal di sana dapat terus berbahagia dan sehat. Menurutnya, jika mereka bersedih maka penyakit akan mudah menjangkiti. Sementara itu, Natalie Paula Poluan, Kepala Griya Asih berterimakasih atas sumbangsih UMM bagi Griya Asih serta kesediaan Rektor untuk hadir. Menurutnya, ini adalah hadiah yang luar biasa bagi para penghuni rumah asuh. “Tak lupa pula kami sangat mengapresiasi kontribusi dari mahasiswa-mahasiswa UMM yang membantu merawat para oma dan belajar bersama anak-anak kami,” ungkapnya. Natalie, panggilan akrabnya menjelaskan bahwa para mahasiswa juga sempat membangun kandang ayam yang bisa dimanfaatkan di kemudian hari. Selain itu juga pemanfaatkan lahan untuk menanam sayur dan buah di lahan kosong yang Griya Asih miliki. “Kami sangat bersyukur karena UMM membantu sama sekali tidak memandang golongan dan agama. Masih mau memperhatikan dan peduli terhadap sesama meskipun memiliki perbedaan. Semoga kegiatan-kegiatan ini tidak berhenti di sini saja, tapi bisa berkelanjutan dalam bentuk program-program lainnya,” terang Natalie. Menanggapi hal tersebut, Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si selaku Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM mengatakan bahwa program ini memang didesain secara berkelanjutan. Ada lebih dari 50 mahasiswa yang mendaftar untuk mengabdi pada program ini. Menariknya, mereka memilih sendiri untuk membantu RAAL Griya Asih yang berlokasi di Lawang tersebut. “DPPM memang membuat skema khusus untuk program ini. Kami mengirim segelintir mahasiswa saja dalam sekali waktu namun akan terus berkelanjutan. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Natalie yang diperbolehkan untuk hadir dan menjadi tempat mahasiswa untuk melihat realita kehidupan sesungguhnya. Kami juga berharap sinergisitas antara Kampus Putih dan RAAL Griya Asih bisa terus terjaga dan berlanjut,” pungkasnya. (wil)
Menko PMK Dorong Maba Berprestasi di Penutupan Pesmaba UMM

Tidak hanya pembukaannya saja yang meriah, penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga dipenuhi dengan penampilan yang atraktif. Mulai dari tari hingga menyanyi bersama membuat istimewa penutupan yang dilaksanakan di Hall Dome pada Sabtu (25/9) lalu ini. Turut hadir Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM sekaligus Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Prof. Dr. Muhadjir Effendy M.A.P. Ia berkesempatan untuk menutup gelaran tahunan penyambutan mahasiswa baru UMM tersebut. Penutupan Pesmaba dimulai dengan beragam highlight aktivitas mahasiswa baru, baik di tingkat universitas maupun fakultas. Ada flashmob joget yang menarik perhatian. Bersama dengan para tamu yang hadir, seluruh mahasiswa baru bersama-sama berjoget dengan asyik untuk memeriahkan penutupan ini. Suguhan tari-tarian kembali memberikan keunikan tersendiri. Mengkreasikan berbagai tarian nusantara, para penari yang tergabung di UKM Sangsekerta UMM ini tidak jarang mengundang decak kagum. Semangat para maba juga ditampilkan melalui atraksi-atraksi menarik. Bahkan, hashtag UMMCampus sempat menjadi trending topic di Twitter. Pada kesempatan tersebut, Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. tak lupa memberikan selamat kepada para maba yang sudah menyelesaikan prosesi Pesmaba dengan baik. Menurutnya, berbagai hak dan kewajiban tentu menyertai seiring predikat mahasiswa diperoleh. “UMM senantiasa berusaha agar para maba nantinya bisa kembali duduk di sini bersama orang tua dalam rentang waktu tiga setengah hingga empat tahun untuk diwisuda,” tegasnya. Fauzan, panggilan akrabnya ingin agar nantinya para maba bisa menjadi mahasiswa yang diperhitungkan melalui berbagai aktivitas. Pun ia ingin mereka mampu menjadi alumni yang juga diperhitungkan di masyarakat. Memberikan berbagai terobosan dan solusi untuk beragam masalah. Ia menyampaikan bahwa UMM telah menyiapkan bermacam-macam fasilitas dan ekosistem yang sesuai dengan passion mahasiswa. Hal itu dilakukan dalam rangka membentuk jiwa berprestasi dan melahirkan lulusan yang bermanfaat bagi keluarga, agama, nusa dan bangsa. “Berusahalah untuk menjadi orang-orang sukses baik dalam menempuh studi maupun kehidupan. Namun jangan pernah lupakan komitmen yang harus selalu dipegang teguh yakni senantiasa menghormati kedua orang tua. Selalu minta doa restu kepada mereka berdua agar perjalanan hidup kita selalu diberi kelancaran,” terangnya. Sementara itu, Muhadjir menuturkan bahwa para maba patut berbangga. Hal itu karena UMM merupakan salah satu universitas terbesar. Tidak hanya dilihat dari jumlah mahasiswa maupun besarnya gedung, tapi juga reputasi akademik yang luar biasa. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa para maba kini telah resmi menjadi bagian keluarga besar Kampus Putih. “UMM sekarang sudah menjadi almamater saudara. Berarti sudah menjadi rahim dan ibu kedua saudara setelah ibu kandung tercinta,” ungkapnya. Muhadjir menilai bahwa kini para peserta Pesmaba sudah bertransformasi dari anak sekolah menjadi seorang mahasiswa Universitaa Muhammadiyah Malang. Tidak hanya berubah dari segi fisik, tapi juga mental dan spiritual. Ia mengajak mereka untuk menanggalkan identitas lama dan segera mengenakan identitas, seragam dan pakaian baru yakni Jas Merah UMM. “Jadikan Kampus Putih UMM sebagai rumah kedua saudara. Sering-sering habiskan waktu di kampus dengan berdiskusi bersama teman, membaca buku, dan aktif di organisasi. Jangan lupa juga untuk senantiasa berkonsultasi dengan para dosen. Sekali lagi, saya ucapkan selamat belajar dan semoga bisa mencapai cita-cita diharapkan,” harap Muhadjir di akhir. (wil)
RSDC UMM Lahirkan Mekanik Handal dan Religius

Kontribusi nyata Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meliputi berbagai aspek. Salah satunya melalui pendidikan dan pelatihan otomotif Rinjani Skill Development Center (RSDC) yang telah mencapai angkatan XIV pada tahun ini. Adapun pelatihan ini dibuka pada Sabtu (18/9) lalu berlokasi di Bengkel Rinjani UMM dengan protokol kesehatan ketat. Eka Kadharpa Utama, S.E., M.M. selaku Direktur Bengkel Rinjani mengatakan bahwa RSDC ini telah berlangsung selama empat belas tahun. Ini adalah bentuk usaha dalam memberikan program dan inovasi bagi dunia otomotif. “Pada angkatan kali ini, kami menerima 16 peserta yang sudah dipilih dari puluhan pendaftar yang ada. Mereka tidak hanya berasal dari Jawa Timur saja, adapula yang berasal dari Aceh, Bima dan daerah lainnya,” tuturnya. Eka, panggilan akrabnya mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki sistem perekrutan dan kompetensi yang berbeda. Begitupun dengan kurikulum yang disiapkan. Dijelaskan olehnya, kurikulum tahun ini akan lebih fleksibel yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia otomotif yang ada. Satu hal yang akan lebih diperhatikan adalah aspek body repair yang banyak diperlukan. Ia juga menuturkan bahwa Bengkel Rinjani juga telah melebarkan sayap kerja samanya. Mitra dan kolega Bengkel Rinjani juga terus bertambah seperti Doktor Mobil, Bengkel Nasional, Toyota Makassar dan lainnya. “Bengkel Rinjani juga berusaha lebih mandiri lagi dengan membuat unit bisnis baru yang nantinya akan dikelola oleh para peserta,” tambahnya. Pada kesempatan yang sama, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. selaku Kepala Biro Administrasi Umum UMM menuturkan bahwa Kampus Putih telah melakukan berbagai macam kepedulian untuk memberdayakan para generasi dan umat di Indonesia. Hal itu sesuai dengan komitmen UMM yakni Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. “Kolega saya sekali waktu menelepon saya dan mengatakan bahwa salah satu lulusan RSDC kini telah membuka bengkel bersama teman-teman lainnya di Mojokerto. Harapan kami tidak muluk-muluk, yakni memberikan bekal keterampilan dan bekal untuk kehidupan,” ujarnya. Juanda menambahkan RSDC ini tidak hanya memberikan ilmu dan keterampilan otomotif saja. Lebih dalam yakni menyediakan pendidikan dan bekal untuk kehidupan para peserta nantinya. RSDC ini juga dikemas dengan menginapkan para peserta di tempat yang UMM sediakan. Kampus Putih telah menyediakan dan akan memberikan berbagai fasilitas serta logistik. “Jadikan kesempatan selama setahun ini dengan sebaik-baiknya. Semua pendidikan dan pelatihan memang seringkali tidak menyenangkan. Tapi saya yakin akan memberikan hasil yang luar biasa jika saudara benar-benar menjalankannya dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya mengakhiri. (wil)
Konferensi Internasional FH UMM Kaji Keadilan dan HAM

Kegiatan internasional senantiasa dilangsungkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kini giliran Fakultas Hukum (FH) yang menggelar 2nd International Conference on Law Reform (2nd INCLAR) dengan bertajuk “Narrating Law Reform in Asia: Between Fulfilling Human Rights and Restorative Justice”. Gelaran yang dilangsungkan secara daring dan luring pada Kamis (23/9) lalu ini, mengundang pemateri tidak hanya dari Indonesia saja tapi juga dari berbagai negara. Membuka gelaran konferensi, Asisten Rektor (Asrek) UMM bidang akreditasi internasional Drs. Soeparto, M.Pd. mengatakan bahwa keadilan menjadi dasar kehidupan bagi manusia. Maka perlu adanya regulasi jelas bagi semua pihak, tidak hanya dalam hal personal tapi juga sosial. “Justice atau keadilan itu berasal dari bahasa latin yang secara umum diterjemahkan dengan kata mengikat bersama. Pun juga dipahami sebagai sistem yang mengikat dan menggabungkan serta mengharmonisasikan nilai-nilai dan kebutuhan yang berbeda,” jelasnya. Soeparto menilai bahwa pengertian ini seakan-akan simpel dan mudah. Padahal, dalam kenyataannya konsep keadilan ini sukar untuk diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Ia mengatakan bahwa konferensi ini akan sangat bermanfaat tatkala bisa dilaksanakan dalam kehidupan, tidak hanya mengawang di wilayah teori. “Akan lebih baik pula jika bisa melibatkan berbagai pihak, tidak hanya dari akademisi saja,” tegasnya. Fitria Esfandiari, SH., M.H. selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa konferensi ini akan berkontribusi dalam pengembangan hukum. Utamanya melalui penegakan dan penguatan Hak Asasi Manusia (HAM). Di samping itu juga berusaha menyediakan ide-ide yang bisa digunakan untuk memformulasi hukum nasional serta internasional baik di tingkat Asia maupun global. “Konferensi ini tentu mencoba memberikan alternatif yang solutif untuk pelbagai permasalahan yang terjadi di penjuru wilayah dunia. Khusunya hal-hal yang berkaitan dengan hukum,” ungkapnya melanjutkan. Fitri, panggilan akrabnya menerangkan bahwa untuk menunjang konferensi tersebut, FH telah mengundang berbagai pemateri dari universitas beberapa negara. Ia berharap, gelaran internasional yang dilaksanakan ini akan memberikan manfaat serta dapat menelurkan gagasan-gagasan. Sehingga bisa melakukan penelitian-penelitian bagus lainnya di kemudian hari. Sementara itu, Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., LL.M., Ph.D yang didapuk menjadi salah satu pemateri menilai bahwa Indonesia kini telah berubah. Ada empat hal mendasar yang harus dipenuhi saat ini yakni pemenuhan Hak Asasi Manusia serta hukum. Di samping itu, perlu adanya usaha untuk memenuhi kebutuhan demokrasi serta suara-suara masyarakat. Meski begitu, ada berbagai tantangan yang perlu di hadapi oleh Indonesia saat ini. Satu diantaranya adalah sulitnya menyusun hukum mengingat Indonesia adalah negara yang besar. Menurutnya, hukum yang sesuai dengan Jakarta belum tentu cocok dengan wilayah lainnya karena perbedaan banyak hal. “Jika kita ingin menjalankan demokrasi dan kebebasan berpendapat maka perlu ada penegakan hukum yang tepat. Hal itu dilakukan agar masyarakat merasa nyaman saat menyuarakan pendapat dan menjalankan demokrasi,” tegasnya. Pada kesempatan yang sama, Dr. Petra Mahy dari Department of Business Law and Taxation, Monash University menjelaskan mengenai omnibus law dalam pemberian pekerjaan. Ia juga membahas terkait hierarki hukum dan respon akan yudisial review amandemen tenaga kerja. Menurutnya, pergeseran hierarki hukum menimbulkan beberapa kekhawatiran, khususnya tentang keseimbangan kekuasaan legislatif dan eksekutif. Ia juga menilai bahwa sebagian besar putusan Mahkamah Konstitusi ditanggapi oleh badan legislatif. Namun adapula beberapa anomali yang ia temukan. “Saya juga menemukan bahwa berbagai perkara konstitusi yang menggugat undang-undang Cipta Kerja masih dalam proses. Baik itu dalam tinjauan prosedural maupun substantif,” jelas Petra menuturkan. Terakhir, Dekan FH UMM Dr. Tongat, S.H., M.Hum. berharap seluruh partisipan bisa mendapatkan solusi untuk menghadapi masalah di masing-masing negara. Menurutnya, keaktifan yang diperlihatka oleh para peserta membuat tujuan utama konferensi ini bisa terpenuhi dengan baik. “Saya juga berharap semua hal yang didapatkan dari agenda ini bisa bermanfaat bagi masa depan dan karir peserta yang hadir,” tuturnya. Tongat juga ingin agar kebersamaan yang ditemukan di 2nd INCLAIR Conference tidak berhenti setelah acara usai. Namun bisa terus tersambung melalui agenda-agenda lain. “Saya juga mengapresiasi kepada semua peserta yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berkontribusi dalam agenda ini,” pungkasnya sekaligus menutup konferensi internasional tersebut. (wil)
Susu Panggang, Ide Unik Mahasiswa UMM Ajak Masyarakat Mandiri

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kreasikan susu sapi perah menjadi produk camilan bernama susu sapi panggang. Bermitra dengan warga Desa Ngroto Pujon, inovasi ini diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM-PM) dan meraih pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Salah satu anggota tim, Cynthia Angelina, mengatakan bahwa Desa Ngroto Pujon merupakan desa yang terkenal akan produk susu sapi perah. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduknya bekerja sebagai peternak sapi. Sayangnya, ketika panen tiba selalu ada sisa susu yang tidak terjual. Meskipun mengalami kerugian, masyarakat tidak berupaya untuk mengolah sisa susu tersebut menjadi produk lain yang bernilai ekonomis. “Untuk memanfaatkan susu sisa tersebut kami membuat kreasi camilan baru nan unik yaitu susu sapi panggang. Dalam proses pembuatannya, kami bekerja sama dengan ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Produk camilan ini dapat bertahan selama satu minggu setelah proses pengolahan,” ungkap mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial tersebut. Dalam pembuatannya, ia menjelaskan bahwa camilan ini diawali demham memasak susu hingga setengah matang. Kemudian memasukkan bahan-bahan tambahan yang diaduk hingga tercampur dengan baik. Jika sudah mengental, adonan didiamkan lalu menyimpannya hingga bisa dibentuk dengan mudah. “Terakhir, kami tinggal memotong sesuai seleran dan memanggangnya,” tutur Angel. Tak hanya terbatas pada proses pembuatan camilan susu sapi panggang, dalam waktu tiga bulan masa PKM Angel dan tim juga mendampingi warga dalam pemasaran produk tersebut. Selain itu, tim PKM ini juga membantu pihak desa untuk mengurus perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). “Dengan diurusnya PIRT ini akan meningkatkan jaminan mutu dan nilai jual dari produk camilan ini,” ujar anak tunggal tersebut. Angel menceritakan bahwa di pertengahan masa PKM, program tersebut mengalami kendala karena adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Oleh karena itu ia dan tim mengubah sistem yang awalnya offline menjadi online dengan menggunakan Zoom. Dalam program ini, Angel ditemani oleh empat orang anggota yaitu Khairunnisa dan Nanda Fatika Ningrum dari Prodi Kesejahteraan Sosial, Desy Tania Fitriani dari Prodi Teknologi Pangan, serta Hima Ilda Imrotul Fauziyah dari Prodi Peternakan. “Kami berharap dengan adanya PKM ini dapat membantu perekonomian masyarakat. Tidak hanya itu kami juga berharap program ini bisa terus menjadi kegiatan berkelanjutan serta mampu menjadikan camilan ini sebagai suatu produk unggulan bagi Desa Ngroto,” pungkasnya. (syi/wil)