Mahasiswa Psikologi UMM Sabet Juara Berkat Video Edukasi Kesehatan Mental

Pemahaman masyarakat Indonesia tentang kesehatan mental masih belum maksimal. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya orang yang menyepelekan gangguan mental dan enggan untuk pergi ke psikiater ketika mengalaminya. Untuk menghapus stigma negatif tersebut, Shafira Firdausa Brilliani, mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat video edukasi kesehatan mental berjudul Terbunuh Stigma. Adapun video itu diikutsertakan pada perlombaan nasional Promosi Video Kesehatan Mental dan berhasil meraih juara tiga. Perlombaan itu diselenggarakan oleh Asosiasi Psikologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (APSI PTM) pada Rabu (09/06) lalu. Sebagai seorang yang berkecimpung di bidang kesehatan mental, Brilliani mengaku prihatin dengan stigma negatif yang ada di masyarakat. Banyak orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Mereka hanya memendamnya sendiri dan tidak ingin mendapat bantuan profesional. Bahkan ada yang tidak sadar bahwa mereka tengah berada di kondisi mental yang tidak baik. “Stigma negatif masyarakat terhadap pengidap gangguan mental nyata adanya. Orang-orang tidak ingin pergi ke psikolog maupun psikiater untuk berobat karena alasan malu diolok-olok sebagai orang gila. Lebih parah lagi takut dianggap sebagai aib keluarga. Kalau hal ini terus berlanjut, bisa-bisa orang yang mentalnya tidak sehat malah ‘terbunuh’ karena stigma tersebut,” ungkap mahasiswa kelahiran Bangkalan tersebut. Mahasiswa Psikologi semester dua ini bercerita bahwa untuk membuat satu video ini, ia memerlukan waktu hampir tiga minggu. Proses tersebut meliputi kesiapan materi, konsep video, properti, proses syuting, sampai editing. Hebatnya, Brilliani melakukan semuanya sendiri. “Dari semua proses produksi, kendala terberat yang saya alami adalah waktu. Saya harus pintar-pintar membagi waktu untuk kuliah, menjadi parttimer, dan membuat video. Saya juga tidak memiliki kamera profesional, untungnya ada teman yang bersedia meminjamkan kamera kepada saya untuk berkarya dan memenangi lomba ini. Untuk kendala editing, untungnya tidak ada karena saya sudah ada bekal editing sejak SMA,” ujar Brilliani melanjutkan. “Pada awalnya, saya sempat minder karena hampir semua peserta tergabung dalam berkelompok, sementara saya sendiri. Videonya juga keren-keren. Namun, Alhamdulillah saya berhasil memperoleh juara tiga. Saya juga tidak berencana berhenti sampai di sini saja, tapi akan mengembangkan kreativitas sehingga bisa mengikuti dan memenangi kompetisi lainnya,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)

Tim Mahasiswa UMM Sabet Juara di Pilketannas 2021

Prestasi demi prestasi kembali diraih para Mahasiswa Fakultas Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah. Kali ini kabar baik datang dari Syafira Aulia Rahma, M. Dodik Prastiyo, dan Lailatul Azizah. Mereka yang tergabung dalam satu kelompok berhasil meraih predikat runner-up 2 pada event Pekan Ilmiah Keperawatan Nasional (Pilketannas) 2021, yakni di cabang Karya Tulis Ilmiah (KTI). Kompetisi yang dilangsungkan secara daring tersebut diadakan oleh Prodi Keperawatan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak. Adapun pengumuman juara diumumkan pada 13 Juni lalu. Syafira Aulia, salah satu anggota dari tim Hipotalamus mengatakan bahwa mereka mengambil judul “Si Adek Hebat: Satuan Aksi Deteksi & Rehabilitasi Kekerasan Anak Terintegrasi Aplikasi Dengan Pendekatan Home Based Intervention Masa Pandemi Covid-19”. Melalui KTI ini, mereka ingin membahas tentang kekerasan terhadap anak selama pandemi karena melihat banyaknya kesehatan mental pada anak yang semakin memburuk. Ia kembali menjelaskan bahwa Si Adek Hebat ini menjadi gagasan program yang mampu mendeteksi rehabilitasi dan kekerasan dini, yang terintegrasikan dengan aplikasi. Program Si Adek Hebat sendiri didukung dengan home based intervention yang dapat memudahkan pengawasan serta melibatkan keluarga dalam pemberian pendidikan. “Gagasan Si Adek Hebat ini menjadi gagasan program KTI kami yang harapannya bisa menurunkan angka kekerasan pada anak,” jelasnya. Adapun selama perancangan KTI, Fira menjelaskan tidak ada halangan berarti. Hal itu tidak lepas dari pembagian job desk yang disusun pada awal perancangan KTI. Di samping itu juga adanya briefing tiap minggu serta persiapan maksimal sejak jauh-jauh hari. “Alhamdulillah semua hal sudah kami siapkan dengan rapi sehingga tidak ada rintangan dan kendala besar yang kami temui. Apalagi kami juga terus berkomunikasi demi memenangkan kompetisi ini,” ujarnya. Ia bersyukur bisa ikut serta dalam perkombaan tersebut. Selain meraih juara, ia juga bisa mendapat teman, pengalaman serta pengetahuan baru. Mahasiswa kelahiran Gresik ini berharap agar capaian ini menjadi pemantik mahasiswa lain untuk berani mencoba mengikuti berbagai kompetisi. “Semoga karya kami yang tertuang dalam KTI ini bisa diimplementasikan di masyarakat agar angka kekerasan pada anak bisa menurun,” ungkapnya di akhir. (haq/wil)

Diskusi Publik FISIP UMM Kaji Isu Gonjang-Ganjing KPK

Gonjang-ganjing isu yang menggoyang KPK beberapa waktu terakhir memantik keprihatinan civitas akademika FISIP UMM. Kamis lalu (10/6) FISIP UMM menggelar Diskusi Publik yang bertajuk Gonjang-Ganjing KPK: Analisis Kritis KPK dari Perspektif Politik dan Hukum. FISIP menghadirkan sejumlah pembicara di bidang hukum dan politik. Tokoh hukum Indonesia yang juga mantan wakil ketua KPK, Dr Busyiro Muqoddas, menjadi salah satu dari empat pembicara dalam webinar kali ini. Selain Dr.Busyiro Muqoddas, FISIP juga menghadirkan Prof. Azyumardi Azra, M.A, cendekiawan muslim Indonesia dan Feri Amsari, S.H,M.H.LLM, aktivis hukum Indonesia yang juga merupakan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Universitas Andalas. Dari FISIP, Dr. Rinikso Kartono, M.Si berkesempatan untuk menjadi pembicara sekaligus keynote speaker pada diskusi publik ini. Rinikso Kartono, Dekan FISIP UMM ketika memberi pengantar mengatakan tindakan labelling pada calon anggota KPK yang tidak lolos TWK adalah perilaku yang tidak adil. Terjadi labelling terhadap pemberantas korupsi sebagai orang-orang tidak Pancasilais, namun para koruptor tidak diberi labelling negatif. “Serangan balik dari koruptor yang terjadi juga mempengaruhi semua elemen di masyarakat. Instrumen kebaikan menjadi pudar dan instrument yang kuat belakangan ini adalah uang. Kita tidak usah heran jika lebih 300 orang termasuk kepala daerah masuk dalam bursa kepemimpinan,” ujar Rinikso. Busyro Muqoddas, mantan wakil ketua KPK, mengatakan ada hubungan timbal balik antara demokrasi dan korupsi. Di era presiden Jokowi, ada faktor determinan oligarki politik dan oligarki taipan terhadap produk politik. Terjadi penurunan indeks persepsi demokrasi pararel dengan turunnya tiga digit indeks prestasi korupsi di era Jokowi. Hal ini menjadi indikasi pembusukan demokrasi sekaligus makin naiknya tingkat korupsi. Demokrasi yang terjadi di Indonesia juga merupakan transaksi nasional yang memerlukan prasyarat. Yang pertama adalah floating mass, yakni masyarakat diambangkan, dibuat terombang-ambing dalam ketidakjelasan terkait isu-isu korupsi, bisnis narkoba dan isu lainnya. Pembunuhan KPK dan SDM menuju Pemilu 2024 adalah prasyarat berikutnya bagi demokrasi transaksional ini. Selain itu intensitas represivitas keamanan seperti teror, hoaks radikalisme, isu intoleran dan gerilya buzzer adalah indikasi berikutnya. Sementara itu, Feri Amsari menjelaskan setiap tahun KPK diserang oleh koruptor. Hal ini merupakan indikasi sederhana yang positif karena berarti KPK masih berada di jalurnya. Ia juga membahas ketidakjelasan posisi KPK, mengingat Indonesia hanya ada tiga jenis lembaga. Di antaranya eksekutif, yudikatif dan legislatif. Menurut Feri Amsari, upaya pengubahan Undang-Undang (UU) KPK baru terjadi di era Jokowi. “Dalam perspektif Hukum Tata Negara, jika ada perubahan UU KPK berlangsung dengan cepat, maka bisa dipastikan adanya keterlibatan presiden dalam perubahan tersebut secara serius,” tambahnya. Dalam kesempatan yang sama, Azumardi Azra menuturkan gonjang-ganing KPK menjadi salah satu pertanda buruk atau negative legacy dalam pemerintahan Jokowi. Seharusnya pada periode kedua, Jokowi bisa menguatkan positive legacy. Menurutnya, kebebasan berekspresi semakin hilang belakangan ini. Selain itu terjadi sejumlah penangkapan beberapa tokoh yang vocal. Ia mengatakan jika presiden Jokowi ingin menguatkan demokrasi, salah satu jalannya yakni membebaskan orang-orang yang mengkiritik. Dijelaskan guru besar peraih gelar commander of The Order of British Empire ini, Indonesia harus dibangun oleh kebebasan berekspresi, bebas menyampaikan kritik, bukan saja oleh orang-orang yang selalu setuju dengan pemerintah. “Yang bisa kita lakukan adalah menyalakan harapan, walaupun saya melihat tidak ada perubahan atau perbaikan pada KPK ini. Presiden Jokowi juga tidak merespon suara dari 75 guru besar yang mengkritisi kasus KPK. Saya juga tidak melihat KPK akan dipulihkan kekuatannya. Walaupun kondisinya pahit, ya biarkan saja. Sembari menunggu harapan baru pada tahun 2024,” tuturnya. (wil)

Halal Bihalal IKA UMM Hadirkan Drama Kolosal 5 Kepala Daerah Alumni

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mempererat jalinan tali silaturahmi. Lewat Ikatan Alumni Mahasiswa (IKA), UMM mengundang para lulusan untuk temu kangen di acara Halal Bihalal, pada Sabtu (12/06) lalu. Gelaran yang menerapkan protokol kesehatan ketat ini dilaksanakan secara luring di Dome UMM dan daring melalui kanal Zoom serta Youtube UMM. Untuk memanggil kembali jiwa muda para alumni, acara ini juga menghadirkan tema UMM tahun 90an. Tak hanya pada dekorasi panggung dan dresscode para peserta, adapula jejeran foto aktivitas mahasiswa pada tahun 1990-2000 yang dipamerkan di belakang tempat duduk. Hadir pada kesempatan itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Muhadjir Effendy, MAP. Gelaran ini juga turut mengundang para alumni yang telah sukses di dunia entertainment seperti juara tiga KDI 2020 Mochammad Abdul Wahid dan komedian Abdurrahim Arsyad. Bahkan, Abdur yang merupakan alumni UMM angkatan 2006 tidak hanya hadir, tapi juga sekaligus menjadi MC hingga akhir acara. Untuk menambah kemeriahan, UMM turut mengundang Paduan Suara Mahasiswa Gitasurya, Band Terima Kos Putri (TKP), dan iringan biola dari Sugianto. Adapula penampilan kecapi dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Selain itu, ada hal unik yang sudah disiapkan dalam agenda halal bihalal tersebut, yaitu penampilan drama perkuliahan lima tokoh alumni yang sukses menjadi kepala daerah. Kisah kelimanya dipadukan dengan apik oleh para pemeran. Tidak jarang penampilan ini mengundang tawa para alumni yang hadir. Menariknya, tidak hanya menampilkan drama saja, tapi juga langsung menanyakan momen tersebut sembari bercanda tawa ke para Bupati dan Wakil Bupati yang bersangkutan. Salah satu kisah yang ditampilkan adalah kisah Wakil Bupati Kaimana, Papua Barat, Hasbulla Furuada, S.P. Dulunya, ia merupakan salah anggota Resimen Mahasiswa ketika berkuliah di UMM. Di zaman yang serba kekurangan, Hasbulla kadang mengambil jambu di dekat kosnya. “Dulu paling cepat dapat uang bulanan itu sekitar tiga bulan. Jadi saya sering kelaparan, kadang mengambil jambu di dekat kos saya. Pernah suatu ketika, saya mengambil jambu. Ternyata pemilik pohon jambu tepat berada di depan saya. Untung saya diperbolehkan mengambil jambu tersebut,” kenang Hasbulla. Kisah lain yang didramakan adalah cerita Wakil Bupati Malang Drs. H. Didik Gatot Subroto, SH. MH. Pada zaman kuliah, Didik dikenal sebagai mahasiswa yang rajin dan mempunyai catatan yang paling rapi. Karena hal tersebut, catatan perkuliahannya sering dipinjam kawan-kawannya. “Saya sampai sering sekali mendapat komisi di tempat fotocopy karena saking banyaknya teman yang memfotocopy catatan perkuliahan saya,” kata Didik. Selain dua kisah tersebut, terdapat tiga kisah lainnya yang tak kalah unik. Pertama, datang dari Bupati Pasuruan H. M. Irsyad Yusuf, S.E, MMA. Para lakon sukses memerankan Gus Irsyad saat menjadi mahasiswa dulu. Ia seringkali diminta untuk menjemput para pemateri dan undangan karena hanya dia yang memiliki SIM. Kisah Bupati Pamekasan H. Baddrut Tamam, S.Psi. juga tidak kalah menarik. Mulai dari kesuksesannya berjualan kerupuk ketika mahasiswa, memiliki telepon genggam, hingga rela berusaha menyukai basket. Terakhir, ada cerita dari Wakil Bupati Pacitan, Gagarin, S.Sos. yang ketika menjadi mahasiswa, sering sekali mengamati aktivitas yang ada di pasar karena menyukainya. Pada kesempatan yang sama, Muhadjir berkata bahwa banyak sekali alumni UMM yang berprestasi, baik di bidang pemerintahan maupun lainnya. Karena hal itu, UMM harus segera membangun kekuatan dan jaringan alumni dalam rangka membangun dharma bakti demi mewujudkan slogan dari UMM untuk bangsa. “Jangan berpuas diri dengan capaian UMM sekarang. Kita harus terus berpacu ke depan, dan alumni sebagai pendukungnya. Ingat kita akan memasuki dunia 4.0. Tanpa memiliki bekal yang baik, kita tidak bisa menyiapkan alumni untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan drastis. Terimakasih kepada para alumni yang telah datang, baik daring maupun luring. Selamat telah meniti karir dengan baik, semoga UMM tetap jaya,” ucap Menteri Koordinator PMK tersebut. Senada dengan Muhadjir, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga menekankan pada pembentukan jaringan alumni yang teratur dan baik. “Terimakasih kepada para alumni yang telah menyempatkan diri hadir di acara ini. Semoga rintisan yang luar biasa ini dapat dikembangkan dalam bentuk jaringan produktif, dalam rangka membawa UMM untuk bangsa,” pungkasnya. (syi/wil)

Vokasi UMM Gelar Pelatihan Mikrotik Bersertifikat Internasional

Melihat jaringan internet Indonesia yang masih kurang maksimal, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berusaha memberi kontribusi. Salah satunya dengan menggelar Pelatihan Mikrotik yang bersertifikat internasional, MikroTik Certified Network Associate (MTCNA). Gelaran yang dilangsungkan di Kapal Garden Hotel itu, mengundang pemateri dan instruktur dari Spectrum. Adapun pelatihan ini dilaksanakan secara luring pada 7-10 Juni lalu. Iskandar Iman Soeriyanto, salah satu pemateri menjelaskan bahwa kemampuan seperti ini sangat penting, utamanya di zaman serba digital. Terlebih lagi situasi pandemi yang memaksa sebagian masyarakat untuk bekerja dari rumah. “Banyak hal yang bergeser ke digital. Era kolaborasi seperti saat ini juga menjadikan jaringan sebagai kebutuhan yang tak terelakkan,” tegasnya. Menurutnya, para peserta begitu antusias dalam memahami dan mencoba berbagai hal. Seringkali mereka saling berbagi masalah-masalah yang pernah dialami, sehingga memperkaya pengalaman dan pengetahuan. “Usai memahami dengan baik, tentu saya berharap mereka bisa mengembangkan potensi dan mengimplementasikannya di masyarakat luas,” tambah Iskandar. Sementara itu, Ferry Pratama, salah satu peserta mengaku banyak pengetahuan baru yang ia peroleh di pelatihan ini. Ia juga mengaku ada beberapa materi dasar yang kembali diingatkan lewat paparan materi. “Menyenangkan bisa bertemu instruktur dan para peserta lain. Jadi ada teman sharing yang bisa saling membagi pengalaman dalam menangani jaringan. Tentu kami juga ingin agar bisa lulus ujian dan mendapatkan sertifikat,” harap Ferry. Dr. Tulus Winarsunu, M.Si. selaku Direktur Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM mengungkapkan bahwa pelatihan ini adalah salah satu langkah menyiapkan Program Studi Diploma Cyber Security and Digital Forensic di UMM. Menjalin kerja sama strategis dengan berbagai partner, salah satunya dengan Spectrum, perusahaan yang bergerak dalam bidang cyber security. “Sebelum berdiri, kami memang sudah harus memiliki jalinan kerja sama yang baik, utamanya dengan perusahaan-perusahaan yang relevan dengan prodi terkait,” terangnya. Tulus, penggilan akrabnya menuturkan bahwa mereka sudah melakukan beberapa skema kerja sama. Sebut saja penyelenggaraan sertifikasi internasional. Begitupun dengan Spectrum kali ini, sudah ada empat skema sertifikat yang disiapkan. “Sertifikat pelatihan Mikrotik ini dikeluarkan oleh lembaga yang ada di Latvia. Jadi sudah diakui oleh dunia internasional,” terangnya melanjutkan. Terakhir, ia juga mengatakan jika nanti para mahasiswa Vokasi UMM lulus sertifikasi, kemungkinan besar akan ditarik menjadi instruktur di project yang sama di tempat berbeda. Menurutnya, mahasiswa vokasi tidak hanya berkuliah, saja tapi bekerja sambil kuliah. “Industri tidak hanya menjadi tempat magang, namun mereka juga memiliki komitmen untuk menerima lulusan Vokasi terkait,” pungkasnya. (wil)

Alumni UMM Ceritakan Keunikan Destinasi Wisata Tokyo

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah berdiri lebih dari setengah abad lamanya. Dalam waktu yang tidak singkat tersebut UMM telah melahirkan berbagai alumni yang handal, salah satunya Eka Satria Saputra. Sejak duduk di bangku perkuliahan, alumni Prodi Hubungan Internasional (HI) ini telah melanglang buana ke berbagai negara melalui beasiswa luar negeri. Setelah lulus, Ikki sapaan akrabnya, masih berkesempatan untuk berkarya di luar negeri. Terhitung telah dua tahun dirinya bekerja sebagai brand development di perusahaan Entry Japan. Selama dua tahun tersebut, ia telah mengunjungi tempat-tempat unik di kota Tokyo. “Sebenarnya saya jarang jalan-jalan jauh. Namun kota Tokyo sendiri pun telah menawarkan berbagai tempat menarik kepada saya,” ujar Ikki. Tempat pertama yang menarik minat Ikki adalah pulau Enoshima. Pulau kecil nan indah ini terletak di seberang Teluk Fujisawa, Prefektur Kanagawa. Pulau Enoshima dan daratan dihubungkan oleh jembatan kecil. Ketika berkunjung ke sana, wisatawan bisa mengunjungi berbagai tempat wisata seperti pantai, gua, kuil, dan mercusuar. “Pulau Enoshima dapat dengan mudah di jangkau dari kota Tokyo. Jika sedang jenuh dengan perkotaan, Enoshima bisa jadi destinasi wisata pilihan,” kata Ikki. Tempat menarik kedua adalah Asakusa dan Kawagoe. Kedua tempat tersebut menghadirkan suasana daerah Tokyo tempo dulu. Ikki mengungkapkan bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana Jepang kuno tanpa harus susah-susah pergi ke Kyoto, kedua tempat tersebut merupakan pilihan yang tepat. “Selain menawarkan suasana tempo dulu, kedua tempat tersebut juga menawarkan makanan dan penyewaan pakaian tradisional Jepang bagi para wisatawan. Jadi suasananya sungguh terasa dan menjadi pengalaman yang tidak biasa,” ungkap Ikki. Terakhir, ia juga sempat menemukan destinasi wisata yang unik yaitu sebuah masjid kecil di tengah red distrik Kabukicho. Masjid merupakan sesuatu yang jarang di kota minoritas muslim seperti Tokyo. Karena hal tersebut, penemuan masjid ini sangat membantu Ikki dalam melewati bulan ramadhan tahun keduanya di Jepang beberapa bulan lalu. “Masjid ini merupakan tempat favorit saya ketika ramadhan kemarin. Karena tahun pertama pandemi covid meningkat di Jepang jadi saya menghabiskan ramadhan di rumah saja. Namun pada Ramadan tahun kedua ini, saya berkesempatan untuk bertemu saudara muslim lainnya di Jepang dan merasakan suasana ramadhan bersama orang lain,” pungkasnya menerangkan. (syi/wil)

Bupati Pamekasan Kenang Saat Jadi Mahasiswa UMM

Lebih dari setengah abad berdiri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di penjuru nusantara, bahkan juga Dunia. Salah satu di antaranya adalah Bupati Pamekasan saat ini, Baddrut Tamam. Ditemui di kantornya, ia sempat menceritakan dan mengenang bagaimana ia berkuliah di UMM dulu. Baddrut, panggilan akrabnya memulai kisah dengan menceritakan awal pendaftaran di UMM. Saat itu, ia mendaftarkan diri tepat satu jam sebelum pendaftaran ditutup. Ditambah lagi dengan hilangnya beberapa pesyaratan yang tertinggal di bus. “Kebetulan saat itu saya dari Yogyakarta langsung ke Malang. Alhamdulillah berkat nilai rapor yang cukup bagus, saya akhirnya diterima di UMM tanpa melalui tahapan tes,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, ia juga bercerita bahwa perpustakaan UMM dulu sudah menjadi basecamp baginya. Ia seringkali mengisi waktu kosong dengan membaca buku dan berdiskusi bersama teman-teman lain. Bahkan sempat membentuk lembaga kajian islam dan psikologi bagi mahasiswa bernama Phenomenon. Baddrut juga mengaku bahwa ia kurang bisa memanajemen uang saat menjadi mahasiswa dulu. Uang saku yang diberi ibunya seringkali habis di tengah jalan, baik untuk makan maupun membeli buku. Maka dari itu ia berinisiatif untuk berjualan kerupuk demi mendapatkan uang jajan tambahan. Tidak disangka, usahanya berjalan dengan lancar. Tiap minggu ia bisa meraup keuntungan sebesar 2 juta. “Jumlah tersebut bisa dibilang cukup banyak di masanya. Akhirnya teman-teman sering saya ajak ke rumah makan Pak Soleh,” ujarnya berkelakar. Pria yang bercita-cita menjadi pengusaha tersebut menjelaskan bahwa menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) serta Bupati merupakan jalan tersesat yang benar. Menurutnya, jabatan bukanlah sebuah tujuan, melainkan alat perjuangan. Tidak peduli apapun merk dan tipe kendaraannya, hal terpenting adalah tujuannya. Baddrut juga sempat memberikan pesan bahwa kalau ingin jadi orang hebat harus belajar pada orang hebat pula. Kala menjadi mahasiswa, ia seringkali datang ke Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP Menko PMK RI yang pernah menjabat sebagai Rektor UMM. “Saya suka berkunjung ke beliau meski tidak dipanggil. Mengobrol, kemudian mendapatkan rekomendasi buku serta meresumenya. Hal itu sungguh memberi saya manfaat yang luar biasa,” tegasnya. Selain itu juga harus menjaga sikap kepada orang lain. Saat menjadi mahasiswa Psikologi UMM dulu, Ia mengaku belajar bahwa orang itu tidak suka dihina. Sebaliknya, mereka lebih suka diperlakukan dengan baik. “Mungkin karena hal itulah saya bisa terpilih menjadi DPRD termuda pada 2009 dan kini menjadi Bupati Pamekasan,” pungkasnya menerangkan. (wil)

Berkat Hafalan Quran, Mahasiswa UMM ini Raih Beasiswa ke Turki

Memperoleh beasiswa belajar di luar negeri tidak terbatas pada jalur akademik saja. Ada beberapa jalur unik yang disediakan oleh lembaga pendidikan luar negeri, salah satunya adalah yang diraih Nisrina Nur Husna. Ia memperoleh beasiswa dari lembaga Aziz Mahmud Hüdayi Vakfi lewat hafalan Al-Quran. Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini bercerita bahwa dirinya telah mulai menghafal Al-Quran sejak kecil. kebiasaannya menghafal Al-Quran terus berlanjut sampai dirinya masuk pesantren tatkala masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Pada saat kelas dua Sekolah Dasar (SD), saya mulai menghafal Al-Quran  karena almarhumah ibu saya membuat jadwal setiap habis maghrib untuk menghafal. Tak terasa, menghafal menjadi sebagian rutinitas saya. Waktu SD saya mulai menghafal juz 30 dan 29. Kemudian saya menekuninya kembali saat memasuki pesantren dan menghafal dari surah Al-Baqarah. Hafalan tersebut berlanjut sampai sekarang ketika berkuliah di UMM,” ujar Nisrina. Nisrina kembali bercerita bahwa program belajarnya di Turki akan berjalan selama satu tahun. Para mahasiswa akan membenarkan bacaan Al-Quran dan belajar bahasa Turki terlebih dahulu. Setelah itu para mahasiswa baru didorong untuk menghafal Al-Quran. “Pembelajaran di Turki menggunakan teknik pomodoro yakni belajar dari jam 10.00 sampai 14.00 lalu akan ada istirahat 15 menit setiap 30 menit sekali. Untuk proses menghafal Al-Quran, terdapat seleksi terlebih dahulu. Seleksi tersebut berupa ujian dengan para guru yakni hafalan surat pilihan, kemudian disetorkan. Dari ujian tersebut akan dilihat berapa lama mahasiswa mampu menghafal 10 surat tersebut,” kata Nisrina. Anak bungsu dari empat bersaudara ini mengaku adaptasi di Turki sangat susah. Ia harus beradaptasi di berbagai aspek seperti budaya, kebiasaan, iklim, makanan, dan bahasa. Nisrina mengaku aspek bahasa sangat menyulitkannya. Hanya ada segelintir orang di asramanya yang bisa berbahasa Inggris. Satu-satunya bahasa pemersatu adalah bahasa Turki. “Dalam waktu singkat saya dituntut untuk belajar bahasa Turki. Meskipun di setiap mata kuliah ada seorang translator yang menerjemahkan, namun untuk berbicara dengan teman Internasional yang lain harus menggunakan bahasa Arab atau Turki,” terang Nisrina. Meskipun sulit untuk beradaptasi, namun Nisrina senang dengan keputusaannya untuk mengambil beasiswa Hafiz tersebut. Nisrina sangat terkejut dan kagum dengan semangat mahasiswa Internasional lain dalam menghafal Al-Quran dan belajar Islam. “Hal itulah yang memacu saya untuk terus belajar di Turki. Saya harap dengan belajar di sini, saya bisa memberikan manfaat bagi orang-orang sekitar ketika nanti kembali ke Indonesia,” tandasnya. (syi/wil)

Theng Chanboramey, Mahasiswa Internasional UMM yang Jadi Konsultan di KBRI

Bahasa dan kebudayaan Indonesia belakangan makin digemari orang luar negeri, salah satunya oleh Theng Chanboramey. Alumni Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mulai tertarik dengan budaya Indonesia sejak dirinya iseng mengikuti kelas gratis bahasa Indonesia di KBRI Kamboja. “Awalnya diajak seorang teman hingga akhirnya saya tahu berbagai program yang ada di KBRI Kamboja. Saya dikenalkan dengan kebudayaan Indonesia yang begitu menarik seperti pentas seni budaya Indonesia serta mencicipi makanan-makanan khasnya. Selain itu, KBRI juga sering memberitahu tentang beasiswa-beasiswa yang tersedia,” ujar Boramey. Boramey mengungkapkan usai mengetahui informasi tersebut, dirinya memutuskan untuk mendaftar beasiswa ke UMM. Ia mendaftar diri dalam program belajar bahasa dan budaya Indonesia selama satu tahun di BIPA UMM. Setelah pengumuman lolos, Boramey semakin giat untuk mempelajari lebih dalam terkait Bahasa Indonesia. Ia juga mengaku keputusannya untuk mendaftar ke UMM bukan tanpa alasan, ia memang berniat mencari tempat tenang dan dingin untuk proses belajarnya di Indonesia. “Selain tempatnya yang stategis, pihak kampus juga sangat memperhatikan mahasiswa asing yang belajar di UMM. Saya ditemani untuk mencari kos yang murah dan nyaman serta diajak berkeliling kota Malang untuk lebih mengetahui tentang budaya Indonesia,” kata wanita asal Kamboja tersebut. Staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kamboja ini kembali bercerita bahwa pengalaman satu tahunnya di Indonesia, khususnya UMM sangat berarti. Dirinya bertemu dengan orang-orang baru, kebudayaan baru, dan kebiasaan baru. Pada akhirnya, pengalamannya tersebut membantunya untuk bekerja di KBRI Kamboja sekarang. “Di KBRI, saya sering membantu Warga Negara Indonesia (WNI)  terkait permasalahan mereka di Kamboja. Karena hal tersebut, pengalaman saya di Indonesia sangat membantu saya memahami mereka. Saya berharap kedepannya BIPA UMM bisa terus mencetak para penutur bahasa Indonesia yang handal seperti saya untuk lebih memahami Indonesia,” pungkasnya. (syi/wil)

Kaji Pendidikan Masa Krisis, Mahasiswa UMM Sabet Juara Kompetisi Opini

Ingin rawat literasi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengharumkan nama kampus di lomba penulisan opini. Perlombaan tingkat nasional ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasisiwa (BEM) UMM dalam event University Opinion Writing Competition, yang diselenggarakan secara daring pada Mei 2021 lalu. Aldi Bintang Hanafiah Mahasiswa Prodi Ekonomi Syari’ah UMM ini berhasil meraih juara 2 pada komptisi tersebut. Adapun juara satu dan tiga masing-masing diraih mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya dan UIN Syarif Hidayatullah. Pada gelaran ini, Aldi mengikutsertakan opini karangannya yang berjudul “Pendidikan Era Pandemi: Melangkah di Tengah Krisis”. Tulisannya membahas tentang gambaran pendidikan Indonesia dan dunia yang umumnya berdampak pada anak-anak. Dilansir dari UNESCO, terdapat 1,5 miliar anak-anak yang harus mengikuti pendidikan secara daring. Sedangkan di Indonesia ada sekitar 60 juta anak yang terdampak. Ia juga memberikan kritik atas kurangnya pemerataan fasilitas pendidikan di nusantara. Lebih lanjut, Aldi menuturkan bahwa pendidikan daring menghasilkan lulusan atau pendidikan yang berbeda dengan pendidikan luring sebelum pandemi. Maka perlu adanya evaluasi efektivitas pembelajaran daring yang telah dan sedang dilakukan. Dia juga mengajak masyarakat serta pemerintah bersama-sama memenuhi kebutuhan akses media dan juga jaringan yang dibutuhkan untuk memperoleh pendidikan. Dalam opininya, mahasiswa kelahiran Lampung ini memberikan tiga solusi. Pertama, pembangunan akses media yang merata mengingat situasi pandemi masih belum ada jalan terang. Kedua, peran guru harus memiliki kompetensi literasi. khususnya dalam dunia digital. Terakhir, lembaga pendidikan juga dituntut untuk  membuat kurikulum yang interaktif dan inovatif serta dapat menumbuhkan perkembangan peserta didik. “Tiga solusi tersebut saya tawarkan agar pendidikan Indonesia tidak stuck dan berhenti pada kebijakan pendidikan online saja,” ujarnya. Dia mengaku sempat mengalami hambatan terkait dengan data pendukung, menentukan sudut pandang yang menarik, hingga menyempatkan waktu menulis. Meski mendapat segelintir kendala, namun ia sanggup menyelesaikan opini ini dalam waktu satu minggu. Tentunya dukungan dari kawan-kawan dan para guru membuatnya bersemangat menggarap opini ini. Terakhir, Aldi berharap setelah menjuarai lomba opini ini, ia bisa lebih meningkatkan skill menulis dan juga analisis. Menurutnya, secara umum opini ini bisa memberikan alternatif bagi lembaga pendidikan Indonesia. “Semoga teman-teman lain bisa termotivasi dan akhirnya memberikan karya serta kontribusi. Saya tentu ingin terus memberikan yang terbaik agar bisa mengharumkan nama baik UMM ke depannya,” ungkapnya. (haq/wil)