UMM Jadi Satu-satunya Kampus Produsen Kentang Varietas Unggul

Kentang menjadi komoditi yang strategis di Indonesia karena sayuran ini dapat diolah menjadi beragam variasi makanan. Sayangnya, Indonesia masih belum bisa memenuhi produksi bibit kentang nasional. Melihat hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembangkan benih kentang unggulan. Produk ini telah diproduksi dan dipasarkan UMM secara mandiri sejak Rabu (23/06) lalu. Menariknya, UMM menjadi satu-satunya kampus yang memiliki delegasi legalitas untuk memproduksi kentang varietas unggul, yakni Granola Lembang dan Granola Kembang. Pengembang bibit kentang, Dr. Ir. Syarif Husen, MP., berkata bahwa sejak Rabu kemarin UMM telah menandatangai Memorandum Of Understanding (MOU) dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur. Dengan adanya MoU ini UMM dapat mengelola, memproduksi, serta memasarkan sendiri hasil bibit kentangnya kepada masyarakat. “Riset mengenai bibit kentang ini telah saya mulai sejak tahun 2015. Memasuki tahun ke 2018 benih kentang hasil riset akhirnya dapat diproduksi dan dipasarkan secara luas dengan bantuan Program Pengembangan Usaha Produk Inteektual Kampus (PPUPIK) dari Kemenristek. Adapun pada tahun 2021, UMM dapat memasarkan dua varietas bibit yaitu Granola Lembang, delegasi dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang dan varietas Granola kembang dari BPTP Jawa Timur,” ujar Syarif. Lebih lanjut, Dosen Fakultas Petarnian dan Perternakan tersebut menjelaskan bahwa bibit kentang yang UMM produksi ini memiliki beberapa keunggulan, salah satunya adalah bebas dari virus. Hal ini mengingat pengembangan bibit dengan menggunakan teknologi kultur in vitro. Proses ini menghasilkan benih dalam bentuk planlet dan teknologi aeroponik untuk mendaptkan benih kentang dalam bentuk umbi generasi nol (G0). “Varietas Granola ini juga memiliki potensi produksi 30-50 ton/hektar bila dilakukan dengan teknik budidaya yang baik dan benar,” kata Syarif. Saat ini UMM mampu memproduksi sebanyak 20.000 botol planlet melalui sistem pre-order. Untuk pemasarannya, kampus putih bekerjasama dengan jaringan alumni dan para petani bibit kentang di Jawa Timur. Syarif berkata dengan berbagai kemajuan yang diperoleh UMM dalam mengembangkan bibit kentang, membuktikan bahwa bibit-bibit yang UMM produksi memiliki kompetensi yang unggul. “Saya tentu berharap kesadaran konsumen dalam menggunakan benih berkualitas semakin meningkat. Hal ini juga akan berdampak pada perkembangan industri benih, khususnya kentang. Selain itu saya juga berharap adanya produksi benih unggulan ini akan membantu pemerintah dalam memenuhi kebutuhan bibit nasional,” pungkas Syarif. (syi/wil)
Dubes Indonesia untuk Jepang Dorong Wisudawan UMM Jadi Manusia Unggul

Menghadirkan Duta Besar Indonesia untuk Jepang merangkap Federasi Mikronesia, Heri Akhmadi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar wisuda yang ke 100 pada Sabtu (26/6) lalu. Agenda yang berlokasi di Dome UMM ini dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Mulai dari tes antigen, cek suhu hingga penggunaan masker. Adapun wisuda tersebut digelar secara kombinasi daring dan luring. Mengawali wisuda, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan UMM yang kembali mendapatkan rekognisi internasional. Setelah awal tahun ini ditetapkan sebagai perguruan tinggi Islam terbaik dunia versi UniRank, UMM juga dinobatkan sebagai kampus bintang tiga oleh QS Stars, lembaga yang berpusat di London, Inggris pada Kamis (24/6). “Ada dua variabel yang kita raih dengan nilai sempurna lima bintang, yakni employability dan fasilitas. Artinya, kompetensi yang dimiliki oleh alumni-alumni UMM sudah layak bersaing tidak hanya di level nasional, tapi juga di tingkat internasional,” tegasnya. Fauzan juga tidak lupa memberi selamat kepada para wisudawan yang telah berjuang menyelesaikan pendidikannya hingga akhirnya hari ini bisa dikukuhkan. Ia juga berharap berbagai ilmu yang didapat bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kebaikan bersama. “Tidak ada istilah tidak percaya diri karena saudara dilahirkan dari almamater yang memiliki reputasi internasional. Saya mendoakan para wisudawan agar bisa menjadi kebanggan keluarga dan bangsa dalam waktu dekat,” ungkap Fauzan. Sementara itu, Heri Akhmadi mengawali orasi ilmiahnya dengan memberi selamat kepada UMM. Menurutnya, raihan anugerah kampus Islam terbaik dunia dan rekognisi internasional lain yang dicapai merupakan hasil kinerja dan komitmen dari seluruh pimpinan dan civitas akademika yang ada. Di samping itu, ia mengatakan bahwa para wisudawan t idak hanya dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan saja, tapi juga harus melakukan penelitian. Tidak lain tidak bukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan itu pula. “Tidak cukup sampai di situ, saudara juga harus mengabdi kepada masyarakat. Ketiga poin inilah yang biasa kita sebut dengan Tridharma perguruan tinggi,” tutur Heri. Ia juga sempat menyinggung terkait Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Menurutnya, program tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar bagi dunia pendidikan. Satu di antaranya adalah memerdekakan kampus dari berbagai sekat yang selama ini membuat proses pendidikan terkesan lembam dan tidak inovatif. Selain itu, MBKM ini juga memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk menetapkan mata kuliahnya sendiri dengan pilihan yang luas. Tidak hanya di lingkup Prodinya saja, tapi juga berkesempatan untuk memperoleh mata kuliah dari Prodi lain. “Bahkan, mereka juga didorong untuk bisa mengambil mata kuliah di perguruan tinggi lain. Tidak terbatas pada perguruan tinggi level Indonesia saja, tapi juga bisa memperoleh suasana pembelajaran di luar negeri. Begitupun dengan pemberian kesempatan bagi peserta didik untuk merasakan atmosfer dunia kerja dengan sertifikat yang diakui,” lanjutnya menerangkan. Lebih lanjut, Heri juga menuturkan bahwa tujuan dari pembelajaran model ini adalah untuk membangun manusia yang unggul. Tidak hanya menjadi manusia yang merdeka, beriman, bertaqwa, berilmu dan berbudaya saja. Namun juga menjadi pribadi yang selalu berusaha mengabdi pada masyarakat dengan ide-ide terbaik dan inovatif. Terakhir, ia berharap kebijakan MBKM tidak hanya dipraktekkan ketika berkuliah, tapi juga bisa dilanjutkan setelah para wisudawan dikukuhkan. Sehingga akan terwujud manusia yang selalu belajar dan memperbaiki diri secara merdeka. “Pada 2045, Indonesia akan memasuki era emas. Tentu kita berharap akan ada manusia-manusia unggul yang muncul dengan kualifikasi yang sudah saya sampaikan tadi,” pungkas Heri pada orasinya. (wil)
UMM Raih Predikat Kampus Bintang Tiga Dunia

Dalam upaya memantapkan langkah internasionalisasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih predikat kampus bintang tiga dari lembaga QS Stars. Predikat tersebut berhasil diraih UMM pada Kamis (24/6) lalu. Raihan ini melengkapi rekognisi internasional yang sudah UMM dapatkan sebelumnya, seperti UniRank dan AUN-QA. Asisten Khusus Rektor Bidang Akreditasi Internasional UMM, Drs. Suparto M.Pd. menerangkan bahwa QS Stars merupakan publikasi tahunan peringkat universitas yang dilakukan oleh Quacquarelli Symonds (QS). Sistem penilaian QS terdiri dari keseluruhan aspek dan subyek peringkat global, bersama liga regional independen (Asia, Amerika Latin, Eropa dan Asia Tengah, Wilayah Arab, dan BRICS). Pemeringkatan ini adalah satu-satunya peringkat internasional yang telah menerima persetujuan dari lembaga ranking internasional dan berada dalam satu level dengan Academic Ranking of World Universities and Times Higher Education World University Rankings. Suparto menjelaskan, ada dua model penilaian QS Stars yakni rating dan ranking. Adapun bintang tiga yang diraih UMM kali ini merupakan hasil dari penilaian rating berdasarkan beberapa aspek. “Ada delapan aspek yang dilihat oleh lembaga ini. Mulai dari fasilitas, internasionalisasi, pengajaran, employability, teaching, academic development, program strength, social responsibility serta inclusiveness,” terang Suparto. Menurutnya, predikat bintang tiga ini memiliki banyak manfaat bagi perguruan tinggi, utamanya UMM. Salah satunya sebagai standing academic UMM serta pengakuan di tingkat dunia. Di samping itu juga untuk memudahkan jalan kerjasama dengan universitas dan lembaga internasional lainnya.Pun dengan kemudahan untuk menggaet mahasiswa internasional. Suparto menilai, langkah ini sejalan dengan program internasional yang sudah UMM canangkan. Misalnya saja usaha UMM dalam meningkatkan akreditasi dan sertifikasi internasional, membangun kerja sama, pengabdian serta publikasi internasional. “Kini UMM kan berada di fase ketiga, yakni obtaining international recognition. Maka dari itu, kami akan terus bekerja keras agar bisa mencapai predikat world class university,” terang Suparto. Senada dengan Suparto, Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengungkapkan bahwa salah satu kerangka besar capaian UMM adalah internasionalisasi. Utamanya rekognisi yang diperoleh baik dari lembaga pemerintah, non-pemerintah, maupun kampus di level internasional. Begitupun dengan lembaga sertifikasi, pemeringkatan serta akreditasi. Syamsul menilai bahwa UMM memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan. Terhitung sudah hampir 60 tahun Kampus Putih berkecimpung untuk mencerdaskan bangsa. Menurut Syamsul, sudah waktunya UMM mendapat rekognisi di berbagai level, baik nasional maupun internasional. Menanggapi raihan bintang lima untuk sub kategori employability dan facilities, Syamsul menegaskan bahwa hal itu merupakan hasil dari proses panjang yang sudah dirancang sejak lama. Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Mendikbud juga turut mempercepat proses tersebut. “Sebagai universitas dengan predikat kampus Islam nomor satu dunia versi UniRank, UMM tentu memiliki ikhtiar kuat dalam menjalankan MBKM agar mampu mengantarkan lulusannya ke dunia kerja yang baik,” ungkapnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. bersyukur atas predikat bintang tiga yang diperoleh. Menurutnya, predikat ini sudah cukup bagus dan dapat menjadi rekognisi internasional yang strategis. Meski begitu, UMM masih akan terus memperbaiki berbagai aspek untuk bisa mendapat predikat bintang lima dalam waktu dekat. Fauzan juga mengungkapkan bahwa hasil ini merupakan bukti apresiasi QS Stars (lembaga yang berkantor di London, Inggris) atas berbagai perbaikan yang UMM lakukan di beberapa lini. Meski telah meraih bintang lima pada aspek fasilitas, UMM masih bertekad untuk terus membangun berbagai sarana pendukung lain yang berlandaskan pada asas fungsional. Sedangkan raihan predikat bintang lima pada aspek employability UMM, menurut Fauzan, hal ini tidak lepas dari iklim pembelajaran di UMM yang terus dikembangkan demi meningkatkan keterserapan. Sehingga para lulusan siap bersaing dalam dunia kerja yang lebih luas. “Keterserapan yang bagus akan semakin baik jika dibarengi dengan kecepatan yang baik pula,” pungkasnya. (wil)
Kesos UMM Ingatkan Pentingnya Pola Asuh Anak di Panti Asuhan

Tingkatkan pengetahuan pegawai panti asuhan, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar acara sosialisasi pola asuh anak dan standar pengelolaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Acara ini bertempat di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Kota Malang pada Sabtu (12/06). Adapun pelatihan tersebut memberikan pengetahuan terkait pola asuh dan pengelolaan panti asuhan agar bisa maksimal dalam implementasinya. Lebih lanjut, pada dasarnya gelaran ini merupakan rangkaian kegiatan dari Program Pengabdian oleh Mahasiswa (PMM) Prodi Kesejateraan Sosial. Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa juga menggaet beberapa dosen yang tergabung dalam Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) untuk membantu kelancaran salah satu proses Tri Dharma tersebut. Ketua tim pengabdian dosen, Dr. Oman Sukmana, M.Si., menyatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini penting untuk dilaksanakan. Hal itu tidak lepas dari fungsi utama panti asuhan, yakni melaksanakan pola pengasuhan yang baik dalam upaya meningkatkan kesejahteraan anak. “Pengelola panti hakikatnya menjadi pengganti orang tua bagi anak asuh. Maka sudah barang tentu mereka harus melakukan pengasuhan secara baik, sesuai dengan standar pengasuhan anak,” ujar Oman. Disisi lain, dalam materinya, Nandy Agustin, S.Psi., M.Si. menerangkan bahwa kesejahteraan anak bisa dilihat dari perilakunya. Mereka akan menunjukan perilaku yang positif, kondisi psikologis, fisik dan mental yang baik pula. Ketiganya merupakan tanda bahwa mereka berada di kondisi makmur serta sejahtera. “Pola asuh yang dilakukan dengan baik dan tepat akan memberikan pengaruh signifikan terhadap terbentuknya perilaku positif pada anak,” Nandy. Lebih lanjut, Nandy menjelaskan bahwa tak jarang anak asuh panti memiliki perilaku yang sulit dikendalikan. Dalam menghadapi fenomena itu, Nandy berkata bahwa LKSA dapat melakukan beberapa tips. “Cara yang dapat dilakukan LKSA adalah dengan bekerjasama dengan orang tua anak asuh, menghindari tindakan fisik, pemberian reward dan punishment pada anak,” ujarnya menjelaskan. Dalam kesempatan yang sama, Zaenal Abidin, S.Sos., M.Si. menyampaikan bahwa LKSA harus selalu meningkatkan dan mempertahankan akreditasinya sesuai standar nasional. Dalam mengembangkan kinerjanya, diharapkan setiap LKSA mampu mencapai taraf yang lebih baik. “Ada lima aspek yang perlu dipersiapkan yaitu legalitas, fasilitas fisik, pendanaan, jaringan kerja, SDM. Kinerja mereka dapat dikatakan memenuhi standar apabila sudah berjalan beriringan dengan pola asuh yang diterapkan setiap panti,” ungkapnya diakhir materi. (haq/wil)
Peduli Lingkungan, Dosen FEB UMM Gelar Pelatihan Eco-enzym

Peduli kelestarian lingkungan, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pengetahuan tentang pengolahan sampah rumah tangga. Melalui Program Pengabdian Fakultas, tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM melangsungkan pelatihan dengan tema “Gerakan Produktif Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga Melalui Eco-Enzym”. Adapun agenda ini dilaksanakan di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pada Jumat (18/6) lalu. Aktivitas pengabdian masyarakat itu diinisiasi oleh Dra. Dwi Susilowati, M.Si., Venus Kusuawardhana, SE., MM., dan Dhurotus Sangadah, SE., MM. Mereka bertiga tergabung dalam satu tim yang juga menggandeng kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai mitra. “Kami berusaha sebaik mungkin untuk berusaha meningkatkan produktifitas masyarakat setempat,” terang Dwi Susilowati. Dwi, panggilan akrabnya menjelaskan bahwa pelatihan itu dihadiri puluhan peserta dari kalangan ibu-ibu. Adapun narasumber yang disiapkan adalah mereka yang sudah ahli dan berpengalaman dalam bidang pengembangan eco-enzym. “Kami sengaja mengangkat eco-enzym karena berawal dari keprihatinan akan semakin rusaknya lingkungan,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan juga pengalaman baru, utamanya ibu-ibu PKK Desa Mulyoagung. Ia juga berharap agar apa yang didapat di agenda ini bisa disebarluaskan ke masyarakat lain sehingga manfaatnya bisa dirasakan di seluruh lapisan. Dhurotus Sangadah, salah satu pemateri memaparkan bahwa limbah rumah tangga bisa dimanfaatkan dengan baik melalui eco-enzym. Jika dilihat dari aspek ekonomi, bahan ini dapat menekan dan menghemat pengeluaran rumah tangga. Hal itu tidak lepas dari kegunaannya sebagai pengganti handsanitizer, sabun mandi, sabun cuci piring, bahkan juga pupuk alami. Sementara itu, pemateri lainnya, Gung Endah menerangkan bagaimana cara membuat eco-enzym dengan bahan-bahan yang mudah didapat. Beberapa di antaranya adalah sayur-sayuran, buah-buahan, air gula merah dan tetes tebu atau molase. Adapun persentase bahan itu terdiri dari tiga liter sayur dan buah, satu liter gula merah dan tetes tebu, dan yang terakhir adalah sepuluh liter air. Menariknya, pada pelatihan itu para peserta tidak hanya menerima gambaran teori saja. Mereka juga langsung mempraktekkan pembuatan eco-enzym dengan bimbingan para pemateri. “Proses yang digunakan dari bahan mentah menjadi eco-enzym memakan waktu sekitar tiga bulan. Setelah itu, bahan ini sudah bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Gung Endah. (haq/wil)
Tampilkan Tari Menjeng, UMM Sukses Menangi Kompetisi Tari Nasional

Tak hanya meningkatkan prestasi internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga terus melestarikan budaya-budaya tradisional. Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sansekarta, UMM berhasil sabet juara tiga dalam perlombaan tari yang dilaksanaan oleh Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI). Perlombaan tersebut dilakukan secara daring pada Sabtu (05/06). Tim yang beranggotakan lima orang ini memilih tarian Menjeng asal Bayuwangi dalam kesempatan tersebut. Salah satu anggota tim, Karinadya Debi Fatika Azzarah berkata bahwa pemilihan tari Menjeng untuk lomba didasarkan pada gerak tari yang lincah dan rencak. Tari Menjeng juga memiliki banyak variasi tarian, sehingga tim ini dapat memilih banyak koreografi.“Musik pada tarian tersebut juga sangat meriah dan bersemangat. Di samping itu, kami ingin mencoba tari dari daerah lain selain Malang,” ungkap mahasiswa jurusan Ilmu Keperawatan tersebut. Debi, sapaan akrabnya berkata bahwa perlombaan itu berlangsung secara virtual. Latihan untuk perlombaan dilakukan dalam waktu yang cukup singkat, yaitu hanya satu minggu. Adapun proses latihan dilakukan secara terus menerus setiap hari selama satu minggu penuh. “Dengan waktu yang singkat, kami berusaha dengan sangat keras untuk menghafal koreografi. Kami juga harus mengambil video untuk keperluan lomba. Untungnya tim kami sangat kompak dan memiliki tekad yang kuat untuk meraih juara,” ujar mahasiswa kelahiran Malang itu. Di sisi lain, ketua UKM Sansekerta, Ikko Rahmatya mengungkapkan bahwa pemilihan penari untuk lomba ini cukup sulit. Hal itu karena harus menemukan anggota UKM yang bisa pergi ke Malang untuk latihan setiap hari. Dalam perlombaan ini, UKM Sansekerta juga memberika pendampingan pada para penari melalui tiga orang Liaison Officer (LO). “Ketiga LO ini yang akan mengurus keperluan serta jadwal penari. Mulai dari latihan hingga pengiriman video perlombaan,” kata Ikko. Selain Debi, empat orang penari lainnya yang tergabung dalam tim ini adalah Kalki Sonia Paksi, Lya Novitasari, Salsabiila Ghinantika, dan Shofa Julyta Normasari. Di akhir sesi wawancara Ikko mengaku senang pihak kampus memberikan informasi-informasi bermanfaat terkait perlombaan tari. “Setelah memenangkan kejuaraan ini, ke depannya saya ingin UKM Sansekerta dapat meningkatkan kualitas lagi. Tidak hanya di perlombaan level nasional saja, tapi juga internasional,” pungkasnya. (syi/wil)
Tingkatkan Kualitas, UMM Laksanakan Audit Mutu Internal

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai universitas Islam terbaik dunia terus menjaga kualitasnya. Salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan melaksanakan audit mutu internal bagi seluruh prodi dan Unit Pengelola Program Studi (UPPS). Adapun kegiatan itu dilaksanakan sejak tanggal 7 hingga 26 Mei 2021, bergantian di tiap UPPS. Dr. Muslimin Machmud, M.Si. selaku Kepala Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI) UMM menerangkan bahwa penjaminan mutu menjadi komponen yang menentukan pengelolaan Perguruan Tinggi (PT). Maka BPMI memiliki tugas untuk memastikan bahwa UMM sudah memenuhi seluruh standar yang ditentukan oleh negara, yakni Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN DIKTI). “Audit ini dilaksanakan di lingkungan prodi setahun sekali, sementara untuk tingkat perguruan tinggi kami langsungkan dua tahun sekali,” tegas Muslimin. Maka dari itu, menurut Muslimin, seluruh Prodi dan UPPS perlu untuk menyusun dokumen yang disebut dengan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Adapun dokumen tersebut terdiri dari dokumen kebijakan mutu, manual mutu, standar mutu serta prosedur mutu. Keempatnya menjadi satu kesatuan yang harus disiapkan dan dilaksanakan agar pengelolaan perguruan tinggi bisa berlangsung dengan lancar. Muslimin kembali menerangkan bahwa audit mutu internal ini juga bisa digunakan untuk kepentingan akreditasi, baik Prodi maupun perguruan tinggi. Di samping itu juga bermanfaat untuk melancarkan proses perubahan dalam instrumen suplemen konversi. “Yakni mengubah format akreditasi yang lama seperti A, B dan C menjadi format yang baru. Sebut saja akreditasi unggul, baik sekali maupun yang lainnya,” ujar Dosen Komunikasi tersebut. Lebih lanjut, demi menjadikan UMM sebagai kampus unggul maka BPMI melakukan audit dengan sungguh sungguh meski berada di level internal. Hal itu dilakukan agar pelaksanaan tridharma bahkan caturdharma bisa diimplementasikan sesuai dengan standar. “Standar yang kami gunakan yakni standar nasional SN DIKTI. Adapula standar pelampauan yang sudah ditetapkan oleh universitas mencakup tujuh hal. Dua di antaranya yakni Al-Islam dan Kemuhammadiyaan dan kerja sama serta sumber daya manusia,” ungkapnya. Dosen yang sempat menjadi General Manager Sengkaling mengatakan bahwa budaya mutu yang baik bisa terlaksana jika ada komitmen yang sama dari berbagai pihak. Kerja sama pimpinan, pelaksana, serta penjamin mutu menjadi unsur penting dalam pelaksanaan mutu di perguruan tinggi. “Tentu kami tidak hanya ingin mencapai hal yang bersifat kuantitas saja, tapi juga terus meningkatkan dari segi kualitas. Sehingga para stake holder dapat merasa puas, karena ukuran mutu itu kan kepuasan,” pungkasnya di akhir. (wil)
Gita Surya UMM Menangi Lomba Paduan Suara POSSE 2021

Kembali berprestasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menerus cetak mahasiswa bermental pemenang. Kali ini Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gita Surya UMM berhasil meraih juara satu lomba paduan suara kategori Group Pop tingkat Nasional. Perlombaan ini merupakan bagian dari Pekan Olahraga, Sains, dan Seni (POSSE) 2021 yang di adakan oleh Univeristas Muhammadiyah Riau (UMRI). Adapun kompetisi tersebut berlangsung sejak 5 Mei hingga 17 Juni 2021 dan berlangsung secara daring melalui platform Zoom. Muhammad Ichlasul Amal Haque, Ketua UKM Gita Surya menjelaskan bahwa informasi lomba paduan suara tersebut ia peroleh dari Kemahasiswaan UMM. Adapun mereka telah berlatih selama sebulan sebelum terjun dan memenangi kompetisi itu. “Kami memutuskan untuk mengirim 13 anggota yang kami miliki. Mereka didorong untuk terus berlatih dan memberikan yang terbaik saat lomba berlangsung,” tegasnya. Ichlas, panggilan akrabnya mengaku salah satu tantangan yang dihadapi adalah waktu berlatih. Mereka hanya memiliki waktu satu bulan untuk saling belajar dan menyatukan suara. Apalagi mereka harus melakukan latihan secara daring. “Biasanya kami menyiapkan diri tiga hingga empat bulan sebelum kompetisi. Jadi persiapan kali ini cukup menantang, ditambah lagi porsi latihan yang dilaksanakan secara online. Ini menjadi pengalaman baru yang menarik,” ungkap Ichlas. Ia mengungkapkan porsi latihan daring PSM Gita Surya UMM dibagi menjadi tiga sesi tiap harinya. ketika sudah selesai, mereka juga menyiapkan alat-alat audio untuk merekam. Di samping itu juga alat-alat video agar bisa menghasilkan video dengan gambar dan suara yang terbaik. Terakhir, mahasiswa kelahiran Malang ini berharap raihan yang sudah dicapai tidak membuat PSM Gita Surya besar kepala dan cepat puas. Menurutnya, capaian ini seharusnya menjadi motivasi besar untuk bisa memenangkan kompetisi lainnya. Dengan begitu, para anggota dapat terdorong untuk terus mengasah skill dan kemampuan. “ Saya juga ingin mengajak seluruh mahasiswa untuk mencetak berprestasi. Bukan hanya untuk mengharumkan nama UMM saja, tapi juga menjadi ukiran sejarah bagi diri sendiri,” pungkasnya. (haq/wil)
Psikologi UMM Gelar Webinar Pengembangan Individu Berkebutuhan Khusus

Melihat kurangnya kesempatan kerja bagi individu berkebutuhan khusus, LPT Pengembangan Individu Berkebutuhan Khusus (PIBK) Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar seminar nasional. Agenda ini dilaksanakan dalam rangka menyikapi fenomena individu berkebutuhan khusus yang perlu mendapatkan perhatian agar lebih mandiri, sehingga memperoleh akses untuk bekerja dan hidup yang layak. Adapun seminar ini dilaksanakan pada Sabtu (12/6) lalu. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Psikologi UMM, Muhammad Salis Yuniardi, Ph.D mengawali acara dengan memberikan pengantar seputar kisah anak romawi. Anak itu selalu berusaha membantu mereka yang mengalami kegagalan, terlantar dan yatim piatu. “Dari kisah tersebut, mari bersama-sama memberikan kontribusi dan bekerjasama untuk membantu individu berkebutuhan khusus agar mampu mendapatkan pekerjaan yang layak,” ajak Salis. Kemudian, pemaparan pertama diberikan oleh Dr. Tulus Winarsunu M.Si. Ia menjelaskan lebih lanjut terkait persiapan masa transisi untuk menghadapi kehidupan setelah sekolah dan dunia kerja bagi siswa berkebutuhan khusus. Ia memaparkan sebuah riset tentang gejolak individu berkebutuhan khusus di masa pandemi. Hasilnya, ia menemukan bahwa pandemi memunculkan kerugian bagi individu berkebutuhan khusus yang semakin mengalami gangguan double disadvantage. Meski sedikit, masih ada keuntungan dari masa pandemi yang dirasakan oleh mereka, yakni mudahnya pemantauan. Tetapi sejauh ini masalah yang terjadi jauh lebih besar daripada keuntungan. Selain itu, adapula masalah lain yang mengintai yakni perubahan mood serta kesejahteraan pada individu berkebutuhan khusus. Gejala ini dinamakan dengan gangguan worse mental well-being. “Banyak rutinitas yang sekarang tidak biasa dilakukan atau disebut dengan lose of progress and skills. Selain itu, berkurangnya teman mengakibatkan munculnya increased social isolation serta terjadinya physical deterioration and ucertain futures,” terangnya. Selanjutnya, Mike Ragnar, pemilik Burger Buto menerangkan terkait bagaimana pengalamannya menyediakan pekerjaan bagi individu berkebutuhan khusus di Malang. Beberapa di antaranya yakni tuna grahita berat dan ringan, tuli, dan individu berkebutuhan khusus lainnya. Menurutnya, mereka sebenarnya bisa bekerja namun dengan perhatian ekstra. Banyak peluang untuk mereka tetapi kita harus telaten. Sejak 2015, Kedai Buto sudah mulai membuka lowongan untuk disabilitas. Dimulai dengan memberikan pengertian sealam 3-6 bulan, kemudian baru bisa ditempatkan di berbagai bagian. “Sebelum pandemi, kami sempat menerima training untuk anak disabilitas, tetapi semenjak ada pembatasan semua terhenti dan beberapa pekerja diberhentikan. Saat ini yang terpenting adalah kualitas bukan kuantitasnya. Cita-cita saya adalah mempekerjakan para individu berkebutuhan khusus di garda terdepan. Saya mempersiapkan mereka untuk belajar menulis dan segala hal yang dibutuhkan,” jelas Mike. Narasumber lainnya, Dra. Dewanti Rumpoko, M.Si selaku Walikota Batu turut andil menyampaikan materi mengenai peluang berkarir bagi peserta didik berkebutuhan khusus. selain itu juga membahas kompetensi yang perlu dikembangkan. Sebagai Walikota, Ia mengaku seringkali memberikan kesempatan bekerja bagi disabilitas dalam sektor pemerintahan. Menurutnya, salah satu yang bisa membuka pintu peluang bagi mereka adalah adalah orang tua. Orang tua harus terus mendorong anak untuk percaya diri. “Yang dibutuhkan penyandang disabilitas bukan hanya belas kasih atau fasilitas yang mengkhususkan saja, melainkan dukungan pemerintah dengan memberi kesempatan yang sama di berbagai aspek,” tegasnya. Dijelaskan Dewanti, sebenarnya orang-orang di sekitar memiliki empati yang sangat besar terhadap disabilitas. Demi meningkatkannya, perlu adanya dorongan menjalin kerja sama antar pengusaha, pemerintah, dan instansi untuk memberikan lapangan usaha. Selain itu juga menyediakan fasilitas tempat yang layak bagi individu berkebutuhan khusus sehingga mereka bisa berdikari. (syi/wil)
Tekuni Dunia Film Sejak Kuliah, Alumni UMM ini Sukses Jadi Publisis

Kegemaran Novi Hanabi menonton film membawanya ke dalam lika liku panjang industri film Indonesia. Bekerja sebagai seorang publisis film, alumni Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah terjun ke dunia perfilman sejak duduk di bangku kuliah. Novi sapaan akrabnya, bercerita bahwa awalnya ia ingin terjun ke jurusan desain ataupun ilmu eksak. Namun karena sang ibu tidak ingin anaknya menekuni di bidang yang berat, akhirnya alumni UMM tahun 2015 ini banting setir ke jurusan Ilmu Komunikasi. “Sebenernya aku sudah diterima di Universitas lain jurusan eksak. Namun karena ibu takut kuliahnya terlalu berat, akhirnya aku daftar lagi ke Ikom UMM. kebetulan juga akreditasi Ikom UMM tahun itu sudah A. Selain itu ada Unit Kegiatan Mahasiswa bidang film yang ingin aku ikuti yaitu Kine Klub UMM. Disisi lain, UMM sebagai universitas Islam juga menerima mahasiswa non-Islam sepertiku, jadi ya udah sehati aja sama UMM,” ungkap Novi. Publisis kelahiran Malang ini bercerita bahwa dirinya tidak sengaja belajar mengenai promosi film ketika sedang mengalami kecelakaan data skripsi. Novi berkata pada saat itu data skripsinya hilang dan harus mengerjakan dari awal. Untuk menghibur diri, ia pergi ke jogja dan iseng-iseng melamar pekerjaan. Dari situ jaringan Novi meluas dan ia mengenal pekerjaan sebagai publisis film. “Karena tidak mau di suruh cepat-cepat balik ke Malang, akhirnya aku iseng daftar kerja di Dagadu Yogyakarta dan diterima di bidang marketing komunikasi. Bagiku, bekerja di bidang ini merupakan hal baru karena sebelumnya aku lebih fokus di bidang produksi film lewat praktikum kuliah maupun Kine Klub UMM. Jadi ketika awal menjadi publisis film, aku bisa menggabungkan pengetahuan audio visual dan marketing yang aku dapat dari Dagadu,” ungkap Novi. Film pertama yang digarap oleh Novi adalah seris dari Garuda di Dadaku. Novi berkata dari situ ia berkenalan dengan Angga Dwimas Sasongko dan mulai menggarap film-film Visinema seperti Filosofi Kopi 1 dan 2, Eggnoid, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), dan Melankolia. “Makin lama relasiku makan berkembang. Aku tidak hanya mengerjakan konten promosi dari film bioskop saja, tapi juga festival film, promosi konser, dan konten promosi bioskop online. Pada tahun 2017 akhirnya aku berkesempatan untuk mendirikan Goodwork Indonesia,” kata Novi. Untuk menjadi seperti sekarang ini, Novi berkata peran dari kampus dan Kine Klub UMM sangat besar. Saya berharap Ikom UMM akan semakin meningkat dan mengikuti perkembangan zaman. “Saya juga ingin perfilman Indonesia semakin berkembang. Selain itu juga mendorong edukasi untuk para penonton agar menonton film secara legal. Dengan menonton film secara legal, kita turut membantu untuk memutar perekonomian negara serta meningkatkan branding di sektor pariwisata,” pungkasnya. (syi/wil)