Ramadan Berbagi, Markaz Dakwah Tebar Kebaikan di Malang Selatan

Kembali memberikan bantuan sekaligus menjalankan dakwah, Markaz Dakwah Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan agenda menebar kebaikan. Kali ini mereka memberikan bantuan ke beberapa daerah yang membutuhkan. Salah satunya berupa bahan sembako di Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Adapun distribusi bantuan ini telah dilakukan sejak awal Ramadhan lalu. Saat ditemui, Jamal, S.HI., M.Sy. selaku ketua Markaz Dakwah FAI UMM menjelaskan bahwa kegiatan itu diawali dengan pencarian lokasi yang mendapat dampak parah. Salah satunya adalah kecamatan Donomulyo yang mengalami kerusakan di berbagai aspek. Menurutnya, kecamatan yang terletak di Malang Selatan ini juga membutuhkan bahan pokok dalam beberapa minggu kedepan. Di samping itu, bantuan sembako juga disebarkan di tiga titik, yaitu kecamatan Donomulyo, Pantai Ngliyep dan Pantai Ngantep. Tentunya daerah yang dipilih merupakan lokasi yang terdampak gempa berskala 6,8 magnitudo beberapa minggu lalu. Terdata, ada sekitar 120 Kartu Keluarga (KK) yang harus mengungsi dan juga terdampak karena gempa tersebut. “Setelah kami cari tahu beberapa kali, kami menemukan 120 keluarga yang terdampak gempa. Penyebaran distribusi di beberapa titik juga dimaksudkan agar bisa memberi manfaat yang lebih luas lagi,” jelasnya. Dia juga menambahkan bahwa program ini menjadi salah satu bentuk beramal sekaligus menjadi fasilitas bagi donatur untuk menyalurkan sembako. Terlebih lagi suasana Ramadan yang mendorong mereka untuk memberi kebaikan lebih banyak. Membantu sesama membagi kebahagiaan bersama. Lebih lanjut, dituturkan oleh Jamal, protokol kesehatan tetap dipatuhi saat proses distribusi bantuan. Apalagi mengingat masih dalam situasi pandemi Covid-19. Selain itu ia menilai bahwa kamp pengungsian juga menjadi tempat yang rawan terkait penularan Covid, sehingga penting untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan. Terakhir, Jamal juga berharap bantuan ini bisa meringankan para masyarakat Donomulyo dan titik-titik distribusi bahan pokok. Paling tidak bisa menjadi persediaan makanan untuk beberapa hari ke depan. “Apalagi sebentar lagi kita akan sampai pada hari raya Idul Fitri,” pungkasnya menerangkan. (haq/wil)
Bakti Sosial UMM di Wilayah Korban Gempa Tirtoyudo

Sebagai salah satu lokasi yang paling terdampak gempa, Desa Sumbertangkil Kecamatan Tirtoyudo terus berbenah. Dalam rangka melaksanakan agenda Syiar Ramadan in Campus 1442 H, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir dalam agenda Bakti Sosial (Baksos) pada Kamis (06/05). Perjalanan menuju lokasi dimulai dengan pelepasan rombongan oleh Rektor UMM bertepat di Pelataran Dome UMM. Pada prosesi pelepasan, Dr. Fauzan, M.Pd. berpesan agar selalu menebar kebaikan di Desa Sumbertangkil. “Ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan tanggung jawab moral kita dalam rangka membatu masyarakat yang memerlukan bantuan. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan dapat memberikan kontribusi pada siapapun yang memerlukan,” ujar Fauzan. Diiringi Muhammadiyah University Rider (Murid), rombongan akhirnya berangkat menuju lokasi bakti sosial. Adapun rangkaian kegiatan baksos tersebut meliputi pembagian 200 paket sembako dan masker. Selain itu juga menyediakan pemeriksaan kesehatan serta konsultasi psikologis. Tidak ketinggalan pula sajian hiburan bagi anak-anak melalui Mobil KaCa dan Mobil Terbang UMM. “Terima kasih sebanyak-banyaknya atas kehadiran dan bantuan UMM kepada warga desa kami. Mudah-mudahan bantuan Bapak-Ibu dapat mengurangi beban warga yang mendapat musibah gempa bumi,” tutur Kepala Desa Sumbertangkil, Ari Joko Suyana. Di sisi lain, para orang tua juga mengikuti pemeriksaan kesehatan dan psikologis di posko yang didirikan UMM. Pemeriksaan kesehatan tersebut meliputi pemeriksaan tensi, denyut jantung, dan konsultasi kesehatan. Sementara itu, pemeriksaan psikologi meliputi asesmen awal mengenai keluhan pasca gempa. Salah satu warga desa, Siti Fatimah, mengatakan bahwa adanya pemeriksaan kesehatan ini memberikan edukasi dan informasi kepadanya dan warga desa mengenai pengetahuan kesehatan. “Saya jadi tahu bagaimana kondisi kesehatan saya. Kami juga mendapat pengetahuan mengenai makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi,” kata Siti. Di lokasi yang sama, bertempat di halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Sumbertangkil, anak-anak terlihat antusias ketika menyimak dongeng yang disampaikan oleh salah satu relawan. Dongen Jojo dan Momo berhasil membaut gelak tawa di antara mereka. Anak-anak pun nampak semangat dalam mengikuti alunan nada saat menyanyikan lagu Mitigasi Gempa Bumi. Tidak cukup sampai di situ, anak-anak juga diajak bermain permainan bisik membisik dan memindahkan hulahup. Mereka terlihat asyik berlomba untuk menjadi kelompok pemenang. Permainan tersebut diakhiri dengan pemberian hadiah dan bingkisan kepada anak-anak. Hadiah yang diberikan berhasil membuat senyum mereka merekah. Anik Winarti salah satu orang tua anak berkata bahwa kegiatan ini sangat menghibur anak-anak di masa pandemi dan pasca gempa seperti ini. “Anak saya sangat senang sekali saat diberitahu akan ada kegiatan ini. Dia langsung memberi tahu teman-temannya untuk ikut datang juga karena sudah lama tidak ada menyenangkan seperti ini,” pungkasnya. (syi/adr/wil)
UMM Peringkat Pertama PTS Penerima Pendanaan PKM se-Indonesia

Ajakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kepada mahasiswanya untuk berpikir kritis dan kreatif berbuah manis. UMM berhasil menduduki posisi pertama Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang memperoleh pendanaan tertinggi se-Indonesia. Selain itu juga menjadi satu-satunya PTS yang berada di peringkat sepuluh besar. Berdasarkan keterangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), ada sebanyak 102 proposal UMM yang mendapatkan pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2021. Jumlah itu dua kali lipat dibandingkan raihan mereka pada tahun lalu. Koordinator percepatan prestasi mahasiswa di bidang penalaran UMM, Ir. Henik Sukorini, M.P., Ph.D. menjelaskan raihan ini tidak lepas dari strategi dan persiapan yang matang. Salah satunya adalah menyeleksi judul sebelum penyusunan proposal yang dilakukan mahasiswa. “Jika judulnya kurang menarik dan tidak terkini, akan kami tolak. Namun tentu dengan memberikan motivasi agar mahasiswa mampu berpikir kritis dan kreatif,” jelasnya lebih lanjut. Dosen yang juga menjadi reviewer nasional itu juga mengatakan bahwa kunci utama keberhasilan UMM menempati sepuluh besar adalah sinergitas. Kerja sama berbagai pihak menjadi satu alasan utama keberhasilan menghasilkan proposal PKM yang berkualitas. Menurutnya, strategi apapun yang disiapkan akan sia-sia jika tidak ada sinergitas yang terlaksana dengan baik. Sementara itu, Dr. Nur Subeki, S.T., MT. selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UMM menuturkan bahwa usaha membangun atsmosfer akademik yang sudah dilakukan membuahkan hasil. Salah satu upaya yang telah dilakukan yakni dengan melaksanakan sharing bersama beberapa tenaga ahli yang kredibel untuk menambah wawasan. Di samping itu juga membentuk tim reviewer internal agar proposal yang diajukan mampu memberikan hasil maksimal. Ia melanjutkan, UMM selalu mendorong mahasiswanya untuk terus berinovasi dan berprestasi. Akan selalu ada apresiasi, baik dalam bentuk biaya pendidikan maupun konversi mata kuliah bagi mereka yang mampu mengharumkan nama kampus. “Tentu tidak hanya berhenti sampai di sini saja, namun juga berlanjut ke tahap publikasi maupun hak paten. Nantinya juga bisa dikembangkan menjadi produk entrepreneur serta pengabdian masyarakat,” tegasnya. Senada dengan Subeki, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM juga menyampaikan bahwa raihan yang didapat ini belum usai. Masih ada tahapan lain yang perlu disiapkan, salah satunya adalah meraih prestasi membanggakan di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). “Hasil positif ini merupakan kerja keras semua pihak, mulai dari mahasiswa hingga dosen pembimbing. Jadi proposal yang sudah lolos pendanaan memang perlu dipresiasi. Namun, meski begitu jangan sampai terlena karena perjalanan masih belum selesai,” ungkapnya. (wil)
LPT UMM Pulihkan Psikologis Penyintas Gempa

Gempa yang menerpa Malang Selatan beberapa minggu lalu masih menyisakan banyak duka. Tidak hanya berdampak pada kerugian materi, gempa tersebut juga berdampak pada psikologi para penyintas. Oleh karena itu Labolatorium Psikologi Terapan (LPT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terjunkan tim yang beranggota enam orang untuk memberikan bantuan psikososial bagi penyintas bencana. Turunnya Tim LPT UMM ini bertepatan dengan kunjungan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ke lokasi gempa pada Kamis (29/04). Salah satu relawan, Yogha Setiawan, berkata bahwa kegiatan psikososial di Tirtoyudo Desa Jogomulyan akan berlangsung selama satu minggu. Kegiatan ini akan berfokus pada psikososial untuk anak-anak penyintas gempa. “Selain kesehatan dan logistik yang terganggu, para penyintas juga mendapat guncangan psikologis pasca gempa. Agar tidak mempengaruhi aktivitas para penyintas kedepannya, kami dari tim LPT memberikan bantuan psikososial untuk mengurangi efek dari bencana gempa tersebut,” ujar mahasiswa Psikologi tersebut. Yogha bercerita bahwa rangkaian program psikososial ini meliputi Psychology First Aid (PFA), kegiatan menggambar dan bernyanyi. Ada juga kegiatan edukasi mitigasi bencana melalui lagu.“PFA merupakan rangkaian pertolongan pertama untuk menangani psikologi anak-anak. Sementara untuk kegiatan menggambar dan menyanyi dilakukan untuk mengalihkan perhatian anak-anak pada kegiatan yang menyenangkan,” kata Yogha. Di akhir wawancara Yogha berharap dengan adanya kegiatan ini dapat membantu meringankan beban psikologi para penyintas terutama anak-anak. Yogha berkata setidaknya dengan kegiatan-kegiatan yang tim ini lakukan dapat mengurangi rasa cemas, khawatir, dan takut yang para penyintas alami. “Saya berharap anak-anak tidak akan memiliki kenangan traumatis terkait bencana alam,” pungkasnya. (syi/wil)
Mengintip Ramadan di Taiwan bersama Adjar Yusrandi

Menjalankan ibadah puasa di negara lain, apalagi di tengah pandemi menjadi pengalaman tersendiri. Utamanya bagi minoritas di negara orang. Banyak hal yang biasanya mudah dijumpai di tanah air, namun berubah menjadi sangat sulit ditemukan. Hal itu juga yang dialami oleh mahasiswa Magister Asia University Taiwan, Adjar Yusrandi Akbar. Adjar menceritakan bahwa tahun ini salat tarawih sudah boleh dilaksanakan di Taiwan, mengingat tahun lalu pandemi masih melanda. Selain itu, ia patut bersyukur karena tak perlu lagi melakukan perjalanan sejauh sepuluh kilometer untuk menjumpai masjid. Pasalnya, komunitas mahasiswa muslim di Asia University berhasil melobi kebijakan kampus untuk menyediakan tempat ibadah khusus bagi umat muslim. “Akhirnya salat tarawih diperbolehkan lagi setelah tahun lalu benar-benar dilarang. Kami juga sudah punya tempat ibadah sendiri. Sayangnya, aku masih belum boleh ikut karena masih berada di masa isolasi,” cerita alumnus program studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Walaupun ia dan kawan-kawannya telah mendapatkan kemudahan dalam mengakses tempat beribadah, Adjar yang tergabung di perkumpulan mahasiswa Asia University Muslim menceritakan bahwa mereka tetap mengalami kendala. Salah satunya kesulitan mencari makanan halal. “Tempat kami kan berada di distrik pinggiran, bukan pusat. Jadi lebih sulit cari makanan yang sesuai untuk kami yang notabene warga muslim,” terangnya. Bagi Adjar, puasa pertamanya di Taiwan saat ini tidak begitu berat. Selain karena saat ini sedang musim semi, pemerintah Taiwan sudah memperbolehkan kegiatan berkumpul. “Puasa di sini rasanya tidak begitu berat, sama seperti di Indonesia. Sama-sama 13 jam. Terus, di sini juga sudah boleh berkumpul walaupun masih harus pakai masker,” kisah Adjar. Adjar mengaku tidak bisa menghindari homesick karena harus jauh dari keluarganya. Namun, keberadaan komunitas mahasiswa muslim di Asia University sedikit banyak dapat menjadi pelipurnya untuk tetap menjalani aktivitas perkuliahan. “Homesick pasti masih ada ya, walaupun saat di UMM juga merantau. Tapi teman-teman muslim di sini sangat baik dan ramah. Jadi tidak merasa terlalu kesepian,” pungkasnya. (adr/wil)
Lagi, Maharesigana UMM Mengabdi untuk Negeri di NTT

Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengabdikan diri pada negeri. Usai berjibaku dengan penanganan psikososial bencana banjir dan tanah longsor di Nganjuk serta gempa bumi di Malang Selatan, kini mereka terbang menuju ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu para penyintas bencana banjir. Sebelum berangkat, mereka diberi wejangan oleh Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. pada Jumat (30/04). Ia mengatakan bahwa agenda ini merupakan sebuah misi kemanusiaan. “Selamat jalan bagi para relawan yang berangkat ke NTT. Tetap jaga kesehatan dan terapkan protokol covid yang baik selama disana. Semoga dengan gerakan kecil ini dapat membantu meringankan beban para penyintas bencana yang ada di NTT,” ujar Fauzan. Di temui pada kesempatan yang berbeda, ketua Maharesigana Rindya Fery Indrawan berkata bahwa para relawan akan mengunjungi dua lokasi yaitu, Pulau Kera dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Indra mengatakan bahwa tim yang terdiri dari enam orang ini akan bekerjasama dengan relawan dari Universitas Muhammadiyah Kupang. “Relawan yang kami terjunkan akan membantu para penyintas selama satu minggu. Di sana, kami akan melakukan dukungan psikososial. Selain itu kami juga membangun layanan pendidikan. Di Pulau Kera, fasilitas umum yang dimiliki hanya berupa masjid. Jadi kami berencana membangun perpustakaan mini agar anak-anak bisa belajar,” kata Indra. Selain itu, Indra juga bercerita bahwa tim relawan ini akan membagikan hygiene kit berupa sabun, pasta gigi, sikat gigi, dan sampo. Uang untuk membeli hygiene kit ini berasal dari donasi yang dilakukan oleh maharesigana dan mahasiswa UMM. “Para relawan yang pergi ke NTT juga mengemban amanah untuk menyalurkan bantuan dari donasi yang telah terkumpul,” ujar relawan kelahiran Indramayu ini. Di sisi lain, Pembina Maharesigana UMM Zakarija Achmat berpesan kepada para relawan yang diberangkatkan kesana agar selalu berperilaku baik dan memberikan kesan positif. “Saya berharap para relawan akan banyak belajar dari pengalamannya ini. Saya juga berharap bahwa kehadiran mereka akan memberi manfaat kepada orang yang di sana,” pungkasnya. (syi/wil)
Hadir di Safari Ramadan UMM, Menko PMK Bahas Nuzulul Quran

Dalam rangka memperingati turunnya ayat suci Al-Quran atau Nuzulul Quran, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar syiar ramadan bertema Quran sebagai Inspirasi Membangun Masyarakat Literer. Acara ini diselenggarakan secara luring di Dome UMM. Selain itu juga disiarkan secara daring langsung memalui kanal Youtube UMM pada Jumat (30/04). Didapuk sebagai pemateri, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. menjelaskan dalam paparannya bahwa Islam sangat mementingkan pengetahuan dan literasi. Ayat yang pertama kali di turunkan Allah SWT memerintahkan manusia untuk membaca. Tidak hanya membaca huruf, tetapi juga membaca fenomena alam dan sosial yang merupakan tanda-tanda kehadiran Allah SWT. “Karena hal tersebut, membaca merupakan pintu awal untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang begitu banyak. Dengan membaca Al-Quran pula, manusia akan mengetahui apa yang tidak diketahuinya. Pun juga sebagai petunjuk dan pembeda hal mana saja yang baik serta apa saja yang buruk,” ujar Muhadjir. Muhadjir kembali menuturkan bahwa Al-Quran memiliki makna yang dalam. Selain itu kitab suci umat muslim ini juga kaya akan makna. Karena kaya akan makna, meski surat dan ayat yang dibaca sama, tidak jarang tafsirnya bisa berbeda tergantung pada kesiapan, kemampuan, dan bekal pengetahuan pembacanya. “Membaca Al-Quran secara berulang-ulang akan mengembangkan pengetahuan dan keimanan kita. Karena itu saya berpesan pada para dosen dan karyawan UMM agar membacanya setiap hari. Minimal para peserta bisa memahami dengan baik satu ayat satu hari. Sesekali bsia membaca terjemahan agar bisa menjadi pedoman, tidak hanya menjadi bacaan saja,” kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia tersebut. Sementara itu, pada akhir acara Dr. Fauzan, M.Pd mengatakan bahwa dinamika kehidupan agama selalu mengikuti bagaimana kehidupan sosial masyarakat berjalan. Jika kehidupan sosial berjalan hanya berdasar formalitas maka kehidupan agama juga akan seperti itu. “Untuk itu saya berharap kita dapat mengembangkan kemampuan internalisasi. Kemampuan ini berfungsi agar kehidupan agama tidak hanya sekadar formalitas saja, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas keimanan yang kita miliki,” tandasnya. (syi/wil)
RBC UMM Kaji Pendidikan Perdamaian

Aksi teror di Makassar dan Mabes Polri bulan lalu menambah deretan panjang aksi terorisme di Indonesia. Selama dua dekade terakhir, setidaknya terjadi 45 aksi teror. Aksi teror agaknya menjadi aksi tahunan, karena setidaknya ada dua hingga empat kasus teror yang terjadi tiap tahunnya. Melihat hal itu, Rumah Baca Cerdas (RBC) UMM menggelar kajian yang membahas pentingnya pendidikan perdamaian. Agenda yang menjadi bagian dari platform Ruang Gagasan itu dilangsungkan pada Senin, (3/5). Salah satu penyebab terjadinya kekerasan dan teror berbasis agama adalah ekstremisme yang mengakar kuat di sekitar masyarakat yang rentan. “Ajakan kepada ekstremisme sudah menyasar di forum-forum pengajian. Yang disasar adalah masyarakat yang secara agama masih belum utuh. Mereka diajarkan untuk berjihad dengan menggunakan potongan-potongan ayat atau teks keagamaan yang mengandung kebencian,” ujar Luluk Farida saat mengisi diskusi Ruang Gagasan. Berdasarkan data yang disadurkan oleh BNPT, kata Farida, yang paling banyak disasar oleh paham ekstremisme adalah perempuan, dengan presentase 12,3%. Jika dahulu perempuan berada di balik layar, sekarang perempuan sudah bisa menjadi aktor di balik terjadinya aksi teror. Misalnya saja, Zakiah Aini, aktor tunggal di balik penyerangan Mabes Polri yang menggunakan senapan angin. Selain itu, anggota Aliansi Jurnalis Indonesia, Eko Widianto, mengatakan bahwa media juga turut andil dalam menciptakan aksi teror. Setelah paham ekstremisme sudah mengakar kuat, segala informasi terkait aksi teror yang ada di media, baik cetak maupun elektronik juga turut membantu teroris untuk melancarkan aksinya. “Bagaimana cara merakit bom, bagaimana menghindar dari sergapan polisi atau cara-cara melancarkan aksi teror, dengan mudah didapatkan melalui media massa,” tutur Eko. Menurutnya, dengan segala kemudahan akses-akses menuju aksi teror ini, maka sudah semestinya ajaran dan ajakan mengenai perdamaian harus disemai kembali. Kunci utama dalam mereduksi paham ekstremisme adalah dengan menggalakkan pendidikan perdamaian. Literasi dan kesadaran tentang keberagaman harus dikampanyekan. Senada dengan itu, Direktur Program RBC Institute A. Malik Fadjar, Nafik Muthohirin mengungkapkan bahwa porsi pendidikan agama yang inklusif dan mengajarkan pluralisme harus ditambahkan dalam kurikulum. Hal itu mengingat kaum muda juga sangat rentan terpapar paham ektremisme. Dilanjutkan oleh Nafik, upaya-upaya dalam mencegah paham ekstrem tidak hanya disajikan secara teori, tapi juga diteladankan oleh para penganjur dan pengajar. Dialog antar agama juga sudah semestinya dijalin kembali. Sehingga, melalui dialog ini bisa tercipta ruang belajar antar satu dengan yang lain. (wil)
Ano Berbagi Kisah Ramadan di Negeri Kangguru

Memasuki bulan Ramadan, seluruh umat Islam di dunia diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh. Salah satu hal yang menarik dari ibadah puasa di bulan Ramadan adalah perbedaan durasinya. Setiap negara memiliki panjang puasa yang berbeda berdasarkan lokasi dan waktu salatnya, pun dengan Australia. Di tengah kesibukannya menyelesaikan pendidikan magister di bidang Islamic Studies, salah satu alumni Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM Septifa Leliano Ceria berbagi kisah tentang Ramadannya di Canberra. Dalam suasana perbedaan waktu tiga jam, Ano sangat bersemangat membagi kisah puasa di negara perantauannya itu. Di negeri kangguru, dituturkan oleh Ano bahwa durasi puasa yang harus dilewati adalah 11 hingga 12 jam. Durasi puasa akan semakin pendek jika sudah memasuki musim dingin. “Sebenarnya, di sini puasanya memang lebih pendek, tapi tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Lebih cepat Canberra satu sampai dua jam dan semakin cepat pula saat musim dingin,” terang mahasiswi Australia National University ini. Setelah hampir dua tahun di Canberra, Ano merasakan banyak hal yang berbeda saat menjalankan ibadah puasa. Tidak hanya dari segi ibadah, namun juga dalam hal menjaga kondisi kesehatan di tengah Ramadan. Lebih lanjut, Ano mengisahkan bahwa ia sangat terbantu dengan beberapa warga Indonesia yang tinggal di sana. Ia bisa menemui kegiatan pengajian dan buka bersama dengan cukup mudah. “Mengingat tidak banyak muslim di sini, maka suasana Ramadan harus diciptakan dengan berbagai kegiatan yang biasa ditemui di Indonesia. Kalau Sydney dan Melbourne sepertinya sudah banyak muslimnya,” ungkap Ano. Berbicara tentang beribadah, Ano menceritakan bahwa ia sangat kagum dengan tingkat toleransi di negara ini. Suatu ketika, Ia pernah kebingungan mencari tempat untuk salat karena lokasi yang biasanya digunakan saat itu sedang ramai. Untungnya, Ano dibantu oleh staf perpustakaan di ANU untuk menggunakan bilik kantornya sebagai tempat menjalankan ibadah salat. “Bicara soal kegiatan ibadah, di sini sebenarnya tak ada larangan. Hanya saja agak sulit mencari tempat yang memenuhi syarat untuk melaksanakan salat. Nah, waktu itu aku pernah bingung cari tempat salat, terus ketemu sama staf perpustakaan. Kemudian diajak ke kantornya dan diperbolehkan mendirikan salat di sana,” kenang Ano mengakhiri wawancara. (adr/wil)
Syiar Ramadan UMM Kaji Tema Muhammadiyah dan Perdamaian

Dalam rangka memeriahkan bulan suci Ramadhan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan Syiar Ramadan in Campus 1442 H. Salah satu rangkaian dalam Syiar Ramadhan tahun ini adalah kajian tematik berjudul Muhammadiyah dan Perdamaian yang disampaikan oleh Irfan Amalee. Ia merupakan founder dari Peace Generation Indonesia. Agenda ini dilaksanakan pada Selasa (27/04) secara luring di Dome UMM dan daring melalui kanal youtube UMM. Irfan, sapaan akrabnya, menjelaskan kaitan Muhammadiyah dengan perdamaian melalui kuis yang di berikan pada awal materi. Melalui berbagai pertanyaan tersebut, Irfan menuturkan bahwa sejak dulu Muhammadiyah telah aktif dalam misi perdamaian. Misalnya, pada tahun 2003 yang mana mereka mengirim dan membagi tim ke Indonesia timur dan barat untuk melerai konflik. “Muhammadiyah juga kerap mengundang berbagai tokoh yang berseberangan untuk memberikan pandangan baru. Mengutip perkataan Ahmad Dahlan, tokoh yang tidak percaya tuhan saja sangat menjunjung tinggi kemanusiaan, apalagi kita sebagai muslim seharusnya bisa lebih dari mereka,” katanya melanjutkan. Irfan bercerita bahwa paham perdamaian telah diserukan oleh islam sejak dulu kala. Saat Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, ia menyampaikan tiga perintah utama. Dimulai dari perdamaian, kepedulian, dan silaturahmi. Hal ini pula yang dilakukan Kiai Ahmad Dahlan dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Menurutnya, peace dan justice harus berjalan beriringan dan bersama. “Ada tiga jalan untuk menuju perdamaian tersebut. Pertama, kita harus berdamai dengan diri kita sendiri. Kedua, kita harus memiliki cara pandang yang benar kepada orang lain. Terakhir, kita harus belajar dan menguasai skill of conflict,” ujar Irfan. Ia kembali melanjutkan bahwa inti dari jalan menuju perdamaian adalah membangun empati dan pikirian kreatif. Jika individu tidak memiliki hal tersebut, maka dirinya akan mudah terprovokasi dan memicu konflik. Karena hal tersebut, Irfan memberikan tips dalam mengasah empati dan creative thinking. “Ada tiga kiat yang bisa diterapkan untuk mengasah empati dan creative thingking kita. Pertama adalah bertanya sebelum menghakimi. Kedua adalah aktif untuk mendengarkan pendapat orang lain. Terakhir, mau melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda,” jelasnya di akhir kajian. (syi/wil)