Dosen UMM Soroti Efek QRIS, Pengeluaran Kecil Bisa Jadi Masalah Besar

Berbekal kemudahan dalam satu genggaman, sistem pembayaran nontunai QRIS kini menjadi primadona di kalangan mahasiswa Gen Z. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang sering kali tidak kasat mata bagi para penggunanya. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., menyoroti fenomena ini sebagai pemicu utama terkikisnya kesadaran finansial anak muda. Rifqi sapaan akrabnya menjelaskan, bahwa secara psikologis, bertransaksi dengan QRIS terasa sangat berbeda dibandingkan dengan mengeluarkan lembaran uang fisik dari dompet. Saat menggunakan uang tunai, seseorang akan merasakan sensasi “kehilangan” yang nyata karena fisik uang benar-benar berpindah tangan dan terlihat berkurang. Sebaliknya, pembayaran digital membuat hambatan psikologis untuk belanja menjadi sangat rendah karena prosesnya yang terlalu instan. Kondisi inilah yang memicu munculnya latte factor, yaitu pengeluaran kecil rutin seperti kopi atau jajanan yang sering dianggap remeh namun berdampak signifikan pada tabungan di akhir bulan. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ungkapnya pada tim humas UMM pada 19 Januari lalu. Sistem QRIS sejatinya memiliki keuntungan besar, seperti kemudahan transaksi tanpa perlu repot membawa uang kembalian dan pencatatan otomatis di aplikasi. Namun, kekurangannya terletak pada kontrol diri yang sering kali melemah akibat iming-iming promo cashback. Ia menjelaskan bahwa promo tersebut merupakan strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja yang berkelanjutan (repeat order). Konsumen yang semula tidak butuh, akhirnya terdorong membeli hanya karena merasa mendapatkan diskon, padahal secara jangka panjang justru perusahaanlah yang paling diuntungkan. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif naik karena terbentuk kebiasaan baru, yang semula bukan kebutuhan menjadi keinginan karena adanya promo, sehingga akhirnya terjadi repeat order secara terus-menerus,” jelasnya. Bahaya jangka panjang dari ilusi saldo digital ini adalah mentalitas keuangan yang menjadi tidak disiplin karena nilai uang terasa lebih abstrak. Tanpa adanya evaluasi berkala, terkhusus Gen Z berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldonya masih mencukupi padahal pengeluaran harian sudah melampaui batas yang ditentukan. Sebagai langkah antisipasi hal itu, Rifqi menyarankan penggunaan satu aplikasi khusus untuk pembayaran harian. Supaya mempermudah rekapitulasi dan evaluasi pengeluaran bulanan. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS, lalu biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya. Strategi ini diharapkan mampu membantu mahasiswa tetap menikmati kemudahan teknologi tanpa harus kehilangan kendali atas kondisi finansial mereka. Dengan perencanaan yang matang, Gen Z tetap bisa menjalani gaya hidup cashless yang bijak sekaligus aman dari jebakan konsumerisme berlebih. (ali) Penilis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bukan Hanya di Indonesia, UMM Beri Kontribusi Nyata Melalui KKN di Malaysia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas pengabdian masyarakat ke ranah internasional melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. Program ini menjadi langkah strategis UMM dalam memperluas kontribusi akademik dan sosial ke ranah global. Pelepasan mahasiswa KKN Internasional ke Penang, Malaysia dilaksanakan pada Selasa, (20/01/2026) bertempat di ruang inovasi bidang 4 UMM. Sebanyak empat mahasiswa terpilih secara resmi dilepas dan dijadwalkan berangkat pada Rabu, (21/01/2026). Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa KKN Internasional bukan sekadar kegiatan pengabdian lintas negara, melainkan bagian dari strategi internasionalisasi UMM yang berbasis nilai dan kebermanfaatan nyata. Menurutnya, mahasiswa yang diberangkatkan membawa tanggung jawab besar sebagai representasi institusi di ruang global. “KKN Internasional ini menjadi pintu awal bagi UMM untuk menghadirkan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga relevan secara internasional. Mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan keunggulan akademik, kepekaan sosial, serta nilai-nilai kemuhammadiyahan dalam konteks lintas budaya,” ungkapnya. Salis sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan KKN Internasional ini, kampus putih menggandeng PERMAI Malaysia (Persatuan Masyarakat Indonesia di Malaysia) sebagai mitranya. Menurutnya, kerja sama dengan PERMAI Malaysia dipilih karena adanya karakter komunitas yang unik. Ia menilai, meskipun secara kewarganegaraan mereka telah berasimilasi sebagai warga Malaysia. Namun ikatan kultural dan emosional dengan Indonesia masih sangat kuat, sehingga menjadi ruang yang tepat bagi mahasiswa UMM untuk menjalankan pengabdian berbasis lintas budaya. Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP., menuturkan bahwa program KKN Internasional ini pertama kali yang diinisiasi oleh LPPM sebagai bentuk pengembangan skema pengabdian berbasis internasional. Kemudian difasilitasi oleh Bidang Kerja Sama di bawah koordinasi Wakil Rektor IV. Pada periode 2025–2026, UMM akan secara khusus memfokuskan penguatan jejaring pengabdian di kawasan ASEAN, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. “Kami memulai dari kawasan terdekat agar model pengabdian ini matang dan terukur. Jika program perdana ini berjalan dengan baik dan memberikan dampak nyata, maka ke depan jejaring pengabdian UMM akan diperluas hingga ke luar kawasan ASEAN,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian LPPM UMM, Dr. Arina Restian, M.Pd., menyampaikan bahwa mahasiswa KKN Internasional tidak hanya menjalankan kegiatan sosial, tetapi juga dituntut menghasilkan luaran akademik yang konkret dan berkelanjutan. Luaran tersebut mencakup penyusunan buku sejarah diplomasi Malaysia berbasis komunitas, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual dari riset fenomena sosial, serta publikasi artikel. “Kami mendorong mahasiswa untuk menjadikan KKN Internasional sebagai ruang integrasi antara pengabdian, riset, dan publikasi. Dengan begitu, pengalaman lintas budaya yang mereka peroleh dapat memberikan kontribusi akademik yang nyata bagi universitas dan masyarakat,” tuturnya. Ke depannya, UMM berharap jumlah peserta KKN Internasional dapat terus meningkat seiring dengan meluasnya jejaring mitra luar negeri. Program ini diharapkan menjadi salah satu program unggulan pengabdian internasional UMM yang berkelanjutan dan berorientasi pada solusi nyata.(ali) Penulis; Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Wujudkan Masjid Yang Ramah Anak, RBC Institute AMF Beri Sentuhan Edukatif

Di tengah derasnya arus gawai yang kian menjauhkan anak-anak dari ruang ibadah, Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) bersama Masjid Baiturrahmah Sawojajar, Kota Malang dan santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) justru menghadirkan wajah berbeda. Masjid tak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga ruang belajar yang ramah anak melalui kegiatan literasi dan pembinaan akhlak yang digelar pada 18 Januari 2026. Fokus utama kegiatan tersebut diarahkan pada pembentukan akhlak dan adab anak sebagai fondasi pendidikan sejak dini. Seluruh rangkaian aktivitas dikemas secara sederhana dan menyenangkan agar mudah diterima anak-anak, dengan metode yang meliputi kegiatan berkisah, bermain, permainan edukatif, serta berbagai aktivitas kreatif yang disesuaikan dengan usia dan karakter peserta. Pemilihan lokasi Masjid sebagai pusat peradaban dan ruang pendidikan yang ramah anak, mengingat fenomena anak-anak yang rajin datang ke masjid saat kecil namun cenderung menjauh ketika beranjak dewasa. Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang untuk menjaga kedekatan anak dengan masjid sejak usia dini. Koordinator Program RBC Institute Abdul Malik Fadjar, Manda Danastri, menegaskan bahwa kehadiran literasi di masjid menjadi ikhtiar penting untuk menyeimbangkan perkembangan anak di tengah arus digital. “Anak-anak hari ini sangat dekat dengan gawai. Karena itu, masjid perlu dihadirkan sebagai ruang alternatif yang menyenangkan, aman, dan mendidik. Melalui literasi dan pembinaan akhlak, kami ingin anak-anak merasa bahwa masjid adalah rumah belajar yang ramah bagi mereka,” ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi antara ibu-ibu masjid dan pelajar IPM menjadi kekuatan utama dalam program ini. “Gerakan literasi akan lebih berdampak jika dilakukan bersama. Ketika masjid, komunitas, dan pelajar bergerak bersama, pembinaan akhlak dan budaya baca anak dapat tumbuh secara berkelanjutan,” katanya. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) PPI-AMF, Azhar Izzudin, mengatakan keterlibatan IPM merupakan bentuk kontribusi pelajar dalam kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat. “Kami datang ke sini sebagai relawan untuk membantu kegiatan rutin di masjid. Kami bekerja sama dengan RBC melalui mobil baca, mendampingi adik-adik membaca buku, mengenalkan gambar, dan bermain bersama,” ujar Azhar Izzudin. Ia menambahkan, momen yang paling berkesan bagi relawan adalah saat mendampingi anak-anak membaca buku. “Ada adik-adik yang meminta dibacakan buku dan bertanya tentang gambarnya. Dari situ kami belajar mengenali karakter anak-anak,” katanya. Melalui kolaborasi ibu-ibu Masjid Baiturrahmah, RBC Institute Abdul Malik Fadjar, dan IPM PPI-AMF tingkat ranting, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif, minat literasi, serta kedekatan anak-anak dengan masjid secara berkelanjutan. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
PBIO UMM Dipercaya Industri Migas Tingkatkan Kompetensi Guru

Kepercayaan dunia industri terhadap perguruan tinggi kembali ditunjukkan melalui kolaborasi strategis antara Tim Dosen Program Studi Pendidikan Biologi (PBIO) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan perusahaan migas nasional di bawah koordinasi SKK Migas dan Kangean Energy Indonesia (KEI). Untuk tahun kedua berturut-turut, Tim Dosen PBIO UMM dipercaya terlibat aktif dalam pembinaan guru di wilayah kerja perusahaan migas, khususnya kawasan kepulauan. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru untuk Mendukung Implementasi Deep Learning Berbantuan Kecerdasan Buatan (AI) yang berlangsung selama empat hari, 17–20 Januari 2026. Pelatihan ini menyasar guru-guru di area operasional Kangean Energy Indonesia dan menjadi bagian dari program Community Development (COMDEV) perusahaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal, terutama di sektor pendidikan. Koordinator COMDEV Kangean Energy Indonesia, H. Ahmad Baidowi, menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan di wilayah kepulauan. Menurutnya, penguatan kapasitas guru menjadi kunci dalam mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan. “Kami tidak hanya fokus pada aspek ekonomi dan energi, tetapi juga pada pengembangan kualitas masyarakat. Kolaborasi dengan UMM menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan pendidikan di daerah kepulauan,” ujarnya. Ia menambahkan, pelibatan dosen perguruan tinggi dengan pengalaman pengabdian masyarakat yang kuat menjadi faktor penting keberhasilan program. Tim Dosen PBIO UMM dinilai mampu menghadirkan pendekatan akademik yang aplikatif dan relevan dengan konteks lokal. “Ini sudah tahun kedua kami bekerja sama dan dampaknya terasa nyata bagi para guru,” tambahnya. Tim Dosen PBIO UMM yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., Dr. Husamah, M.Pd., dan Fuad Jaya Miharja, M.Pd. Ketiganya dikenal aktif dalam pengembangan pendidikan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Ketua tim, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., menyampaikan bahwa kepercayaan dari industri merupakan pengakuan atas peran strategis perguruan tinggi dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan riil masyarakat. Pelatihan dirancang secara partisipatif dan kontekstual. Pada hari pertama, peserta diajak memahami tantangan khas pendidikan di wilayah kepulauan, mulai dari keterbatasan sarana hingga akses teknologi. Diskusi terbuka menjadi ruang bagi guru untuk berbagi pengalaman sekaligus memetakan persoalan pembelajaran di kelas. “Kami hadir tidak sekadar memberi pelatihan, tetapi membangun kesadaran baru tentang pembelajaran bermakna yang relevan dengan konteks kepulauan,” ungkapnya. Selain fokus pada peningkatan kompetensi guru, kolaborasi antara Tim Dosen PBIO UMM dan Kangean Energy Indonesia juga tidak terlepas dari rekam jejak pengabdian masyarakat berbasis rumput laut yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Program tersebut menyasar masyarakat pesisir dengan mengembangkan potensi lokal rumput laut sebagai sumber ekonomi sekaligus media edukasi lingkungan. Terakhir, Tim Dosen PBIO UMM dan Kangean Energy Indonesia berencana melanjutkan kerja sama dalam berbagai program pengabdian dan pengembangan masyarakat. Tidak hanya pada aspek pendidikan formal, tetapi juga penguatan literasi lingkungan dan ekonomi berbasis potensi lokal. “Kami optimistis, kolaborasi ini akan terus berkembang dan memberi dampak yang lebih luas,” pungkasnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
FH UMM Bedah Relasi Konstitusi, Kekuasaan, dan Teknologi Digital

Musuh utama konstitusi sejatinya adalah kekuasaan itu sendiri, karena pada akhirnya kekuasaan selalu ingin menerobos batas yang membatasinya. Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) Jawa Timur, Dr. Himawan Estu Bagijo, S.H., M.H., dalam Seminar Nasional Call for Paper 2026 bertajuk Konstitusi di Era Digital: Peluang dan Tantangan yang digelar di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat, 17 Januari lalu. Seminar nasional oleh Fakultas Hukum (FH) ini menjadi ruang diskusi akademik untuk membedah relasi antara konstitusi, kekuasaan, dan perkembangan teknologi digital yang kian pesat. Lebih lanjut, Himawan sapaan akrabnya menjelaskan bahwa konsep negara hukum tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap hukum tertulis semata. Ia menekankan pentingnya asas kepatutan, rasionalitas, serta prinsip pemerintahan yang baik sebagai dasar dalam setiap kebijakan negara. Menurutnya, tanpa kesadaran konstitusional yang kuat, digitalisasi justru berpotensi memperluas ruang dominasi kekuasaan. “Kecenderungan konstitusi konservatif dalam UUD 1945 memberi ruang yang sangat luas bagi pembentuk undang-undang. Ruang tersebut kerap dimanfaatkan oleh kekuasaan politik untuk mengisi kekosongan konstitusi tanpa pengawasan publik yang memadai, terlebih di era digital yang serba cepat. Undang-undang bisa saja sah secara prosedural, tetapi tetap inkonstitusional apabila proses pembentukannya tidak rasional dan mengabaikan partisipasi publik,” ujarnya. Pandangan tersebut menegaskan bahwa proses legislasi yang tidak rasional dan minim partisipasi publik berpotensi melahirkan produk hukum yang cacat secara konstitusional. Kondisi ini menunjukkan bahwa konstitusi seharusnya berfungsi sebagai instrumen pengendali kekuasaan. Dengan demikian, konstitusi tidak boleh direduksi sekadar sebagai legitimasi formal atas kebijakan negara. Sejalan dengan hal tersebut, Dr. Catur Wido Haruni, S.H., M.Hum., Dosen FH UMM menilai bahwa teknologi digital saat ini tidak lagi berfungsi sekadar sebagai alat bantu administrasi negara. Ia menjelaskan bahwa teknologi telah berkembang menjadi kekuatan yang mampu memengaruhi arah demokrasi dan praktik kekuasaan. Kecepatan perkembangan digital, menurutnya, sering kali melampaui kesiapan regulasi yang dimiliki negara. “Konstitusi harus mampu mengendalikan arah digitalisasi, bukan justru tertinggal oleh teknologi. Pengaturan ruang digital harus menjamin kebebasan berekspresi sekaligus perlindungan data pribadi warga negara. Tanpa keseimbangan konstitusional yang jelas, kebijakan digital berpotensi bergeser menjadi alat pengawasan yang berlebihan,” ujarnya. Terakhir, Dekan FH UMM Prof. Dr. Tongat, M.Hum., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam mengembangkan tradisi akademik yang kritis dan kontekstual. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam merespons dinamika hukum dan ketatanegaraan yang terus berkembang. Melalui forum akademik semacam ini, fakultas berupaya menghadirkan ruang dialog yang reflektif dan berbasis kajian ilmiah. Menurutnya, sinergi antara akademisi dan praktisi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan konstitusi di era digital. “Seminar nasional dan call for paper ini kami harapkan mampu melahirkan gagasan akademik yang tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi penguatan demokrasi dan negara hukum,” ujar Tongat. Seminar nasional ini menunjukkan bahwa tantangan konstitusi di era digital tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi. Lebih dari itu, persoalan utama terletak pada bagaimana kekuasaan dijalankan, dibatasi, dan diawasi secara konstitusional. Pendekatan akademik yang kritis menjadi penting untuk memastikan konstitusi tetap berfungsi sebagai pelindung hak-hak warga negara di tengah arus digitalisasi yang terus berkembang.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Erasmus + Jadi Pintu Globalisasi Kampus, Mahasiswa Dan Dosen UMM Siap Berlaga Di Kancah Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui International Relations Office(IRO) menggelar kegiatan Pre-Departure Orientation bagi mahasiswa dan dosen penerima program Erasmus+ di GKB 4 Lantai 1 pada Kamis (15/1/2026), sebagai bagian dari persiapan mobilitas internasional. Kegiatan ini diikuti oleh lima mahasiswa UMM penerima student mobility serta empat dosen penerima teaching mobility yang akan menjalani aktivitas akademik di sejumlah perguruan tinggi mitra di Eropa. Program Erasmus+ (Erasmus Plus) merupakan program mobilitas internasional yang didanai penuh oleh Uni Eropa (UE) dan berfokus pada bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan, serta olahraga. Melalui program ini, mahasiswa dan dosen memperoleh kesempatan memperluas wawasan akademik, membangun jejaring global, serta meningkatkan kapasitas diri dalam lingkungan internasional. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, menjelaskan bahwa proses seleksi peserta Erasmus+ dilaksanakan secara bertahap dan ketat. Ia menyampaikan bahwa tahapan dimulai dari kerja sama resmi dengan universitas mitra, pembukaan open call, seleksi administrasi dan wawancara, hingga persetujuan akhir dari institusi atau perusahaan tujuan. Menurutnya, setiap peserta juga wajib memperoleh rekomendasi resmi dari program studi sebagai bentuk penyaringan akademik awal. “Kami ingin memastikan mahasiswa dan dosen yang berangkat benar-benar siap, baik secara akademik maupun kultural, sehingga mampu beradaptasi dengan baik dan membawa nama baik Universitas Muhammadiyah Malang di kampus tujuan,” ujar Dr. Listiari. Lebih lanjut, Lilis apaan akrabnya menerangkan bahwa saat ini UMM memiliki 14 mitra aktif Erasmus yang mencakup skema outbound dan inbound, dengan pendanaan sepenuhnya berada di bawah kewenangan Uni Eropa. Dibandingkan tahun sebelumnya, program Erasmus di UMM terus berkembang melalui penambahan mitra baru serta penegasan kriteria mahasiswa yang dapat mengikuti mobilitas, yakni minimal semester tiga dan maksimal semester lima. Kebijakan ini diterapkan agar mahasiswa masih memiliki ruang akademik untuk konversi mata kuliah setelah kembali ke UMM. Dalam hal dukungan institusi, UMM memberikan pembebasan biaya SPP selama satu semester bagi mahasiswa outbound, memfasilitasi proses konversi nilai, serta mengusulkan apresiasi tambahan melalui unit kemahasiswaan. Dukungan tersebut menjadi bentuk komitmen kampus dalam memastikan mahasiswa dapat fokus menjalani pengalaman akademik internasional tanpa terbebani secara administratif maupun finansial. Kampus putih juga terus mengembangkan strategi internasionalisasi melalui penguatan kelas internasional, mikro kredensial, dan pembelajaran daring lintas negara, sebagai upaya memperluas akses mahasiswa asing untuk belajar di Indonesia. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat posisi UMM sebagai kampus yang terbuka, inklusif, dan adaptif terhadap dinamika pendidikan global. Sementara itu, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. dalam sambutannya menekankan bahwa mobilitas internasional merupakan bagian dari strategi besar UMM dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing global. Ia menilai bahwa mahasiswa dan dosen penerima Erasmus+ merupakan representasi sivitas akademika UMM yang diharapkan mampu menunjukkan integritas, etika, dan prestasi di tingkat internasional. “Kami berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, tidak hanya untuk belajar dan mengajar, tetapi juga untuk membangun jejaring internasional serta membawa pulang praktik-praktik baik yang dapat dikembangkan di UMM,” ungkapnya. Menutup rangkaian kegiatan, Wakil Rektor I UMM itu menyampaikan bahwa kampus putih akan terus mendorong dan memperluas kerja sama internasional sebagai bagian dari komitmen UMM dalam mencetak lulusan berwawasan global, berdaya saing tinggi, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.(*alg/faq) Penulis: Musthofa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dosen HI UMM Ungkap Akar Ketegangan AS-Venezuela dan Dampak Bagi Indonesia

Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelasnya. Hasil nasionalisasi minyak tersebut kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik, terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkuat, kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyampaikan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya(*bim/faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman | Editor: Bima Chusnul Triwibowo
Agribisnis UMM Siap Cetak Eksportir Muda Handal Hingga Tembus Pasar Mancanegara

Merespons tingginya permintaan pasar global yang kerap terkendala minimnya SDM andal, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat ‘pabrik’ pencetak eksportir mudanya. Memasuki persiapan tahun 2026, UMM memastikan Kelas Center of Excellence (CoE) Profesional Ekspor Agribisnis akan diisi dengan kurikulum yang langsung menghadirkan para praktisi ekspor dunia. Inisiatif ini hadir sebagai respons strategis atas besarnya potensi agribisnis Indonesia. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir utama di Asia Tenggara untuk komoditas unggulan seperti kopi, rempah, minyak nabati, hingga pangan olahan. Sayangnya, besarnya peluang ini kerap terbentur kendala teknis. Banyak pelaku usaha kesulitan dalam dokumentasi perdagangan, pemenuhan standar mutu, logistik, hingga segmentasi pasar. Di sisi lain, ketersediaan tenaga kerja terampil yang benar-benar memahami ekosistem ekspor agrokompleks masih sangat minim. Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, M.Sc., menegaskan bahwa pembukaan CoE pada 2026 adalah bukti konsistensi kampus dalam menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan realitas industri ekspor. “Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran semata, tetapi menempatkan mahasiswa langsung pada konteks rantai nilai global (global value chain). Di sini, mereka belajar langsung dari grantor industri yang sehari-hari berhadapan dengan buyer luar negeri,” ujar Zul CoE Ekspor edisi 2026 ini akan menawarkan kurikulum komprehensif yang memadukan tiga elemen vital: pembelajaran akademik berbasis analisis, pelatihan praktis oleh pelaku ekspor, dan analisis penetrasi pasar internasional. Melalui skema ini, mahasiswa ditargetkan menguasai seluruh alur ekspor, mulai dari memetakan potensi komoditas, standardisasi produk, aspek legalitas, hingga teknis pengiriman. Untuk menjamin kualitas lulusan, Agribisnis UMM menggandeng mitra dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang telah memiliki jam terbang tinggi di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Para praktisi dari sektor pangan olahan, kopi, hortikultura, dan turunan komoditas agro lainnya dijadwalkan hadir sebagai pengajar tamu sepanjang semester. Zul menambahkan, era agribisnis masa depan menuntut SDM yang peka terhadap isu-isu global modern. “Generasi eksportir muda ini tidak boleh hanya mengandalkan intuisi bisnis. Mereka harus menguasai riset pasar, strategi negosiasi, sertifikasi, hingga manajemen risiko global. Lebih jauh lagi, mereka harus paham tren ketertelusuran produk (traceability), keberlanjutan (sustainability), isu karbon, serta preferensi konsumen di tiap kawasan,” tambahnya. Kini, CoE Agribisnis UMM menjadi salah satu program primadona karena menawarkan output karier yang jelas. Program ini diproyeksikan mampu membantu perusahaan agro berekspansi ke pasar internasional melalui tenaga kerja andal, atau mendorong mahasiswa menjadi eksportir mandiri lewat inkubasi bisnis kampus. Dengan persiapan yang matang, tahun 2026 diprediksi menjadi momentum penting bagi angkatan keempat CoE ini untuk berperan aktif dalam transformasi ekspor agribisnis Indonesia. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Maknai Isra’ Mi’raj, Dosen PAI UMM Ungkap Shalat Adalah Kompas Kesadaran

Peringatan Isra Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan kembali arah hidup mahasiswa di tengah tekanan akademik. Namun sering kali tersimpan pesan penting yang jarang dibahas, yaitu bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme hidup manusia, termasuk bagi mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan kuat tentang bagaimana manusia menguatkan diri di tengah krisis. “Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana 14 Januari lalu saat diwawancara tim humas UMM. Ia menilai kondisi tersebut sangat relevan dengan realitas mahasiswa hari ini. Tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan mental sering kali tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang kerap diabaikan. Lebih lanjut, I’ana sapaan akrabnya melanjutkan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada satu ibadah yang ditetapkan di dalamnya, yaitu shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Itu menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelasnya. Lebih dari sekadar ritual, dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) itu memandang shalat sebagai sistem pengelolaan waktu yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat, katanya, membentuk pola hidup yang teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya. Dalam konteks mahasiswa yang sering terjebak pada kesibukan tanpa henti, shalat justru menjadi penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, tetapi membantu menjaga fokus dan ketenangan. Ia menambahkan, Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup. Dzuhur menjadi jeda untuk evaluasi aktivitas. Ashar menumbuhkan kesadaran bahwa waktu terbatas. Maghrib menjadi ruang refleksi. Dan Isya adalah saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Pola ini, menurutnya, membuat hidup menjadi lebih terarah meskipun ditengah kesibukan yang padat. Bagi mahasiswa, I’ana menganggap bahwa nilai Isra Mi’raj dan shalat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter. Isra Mi’raj memberi orientasi hidup, bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya. Terakhir, Ia berpesan kepada mahasiswa bahwa sholat harus menjadi kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, hal itu menjadi pengingat penting. Bahwa shalat, sebagaimana diajarkan melalui Isra Mi’raj, bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sistem yang membantu mahasiswa mengelola waktu, menjaga integritas, dan tetap berjalan pada arah yang benar. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah. Tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah,” pungkasnya.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kompetensi Halal Jadi Nilai Tambah Lulusan, UMM Cetak Garda Depan Ekosistem Halal

Membangun industri halal di Indonesia membutuhkan sinergi besar lintas sektor, mengingat indeks literasi ekonomi syariah nasional yang masih di bawah 50 persen. Merespons tantangan ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) melakukan terobosan strategis dengan menjadikan mahasiswa sebagai aktor utama dalam ekosistem halal. Ketua PS P3 Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, menegaskan bahwa industri halal mencakup empat elemen vital yakni barang dan jasa, infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), serta dukungan pemerintah. Oleh karena itu, UMM secara serius mengintegrasikan kurikulum halal ke dalam mata kuliah di berbagai prodi, mulai dari Teknologi Pangan, Agribisnis, Ekonomi Syari’ah, hingga Fakultas Hukum. Menurut Elfi, kompetensi halal kini membuka peluang karier yang sangat luas bagi lulusan UMM, termasuk dalam mendukung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Dapur-dapur MBG di seluruh Indonesia tidak hanya membutuhkan ahli gizi untuk menyusun menu, tetapi juga kompetensi penjaminan kehalalan proses produksi. “Kompetensi ini menjadi nilai tambah yang luar biasa. Alumni kami dari Teknologi Pangan kini banyak dicari karena memiliki keahlian ganda. Contohnya Iffi Amalia, S.T.P., alumni yang setelah hampir dua tahun magang di tim halal UMM, kini sukses diterima sebagai Ahli Gizi dapur MBG di Banyuwangi karena kemampuan sertifikasi halalnya,” ungkapnya 12 Janauri lalu pada tim humas UMM. Lebih lanjut, Prof. Elfi menjelaskan bahwa PS P3 Halal UMM yang merupakan pusat kajian pangan aman halal pertama di Indonesia sejak 2008 telah merancang skema integrasi yang menguntungkan mahasiswa. Melalui pelatihan Pendamping Proses Produk Halal (P3H), mahasiswa diterjunkan langsung membantu UMKM. “Mahasiswa kami mendapatkan empat manfaat sekaligus dari program ini. Pertama, kompetensi teknis halal. Kedua, konversi nilai A tanpa perlu ikut UAS jika berhasil meloloskan sertifikat halal UKM. Ketiga, lulus tepat waktu karena laporan pendampingan bisa dijadikan skripsi tanpa riset ulang yang memakan biaya. Dan keempat, ini menjadi amal jariyah karena membantu UMK mendapatkan sertifikasi gratis,” jelasnya Dampak program ini sangat nyata di lapangan. Dalam tempo empat minggu, dari 90 mahasiswa yang terlibat, 14 orang telah menuntaskan tugas terstruktur dan sukses mengawal penerbitan sertifikat halal bagi berbagai produk, seperti Minuman Bu Neneng (Sengkaling), Bumbu Pecel Bu Romlah (Singosari), hingga Dimsum Littlebite. “Mahasiswa adalah agent of change. Dengan bekal ini, mereka tidak hanya siap kerja, tetapi juga menjadi penggerak gaya hidup halal yang inklusif di masyarakat,” pungkasnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman