Menakar Arah Bangsa Kedepan, PSIB UMM ajak Refleksi Kritis untuk pembangunan Indonesia Emas

Di saat awal tahun sering kali dimaknai publik sebagai jeda singkat dari rutinitas dan hingar-bingar perayaan, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru memilih langkah berbeda. Awal tahun dijadikan momentum krusial untuk menakar arah bangsa melalui diskusi bertajuk “Refleksi Awal Tahun: Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Bertempat di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Senin (12/1/2026). Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., membuka forum dengan perspektif yang tajam. Ia menegaskan bahwa pemilihan waktu di awal tahun adalah strategi proaktif untuk menawarkan inovasi sejak dini. Baginya, narasi Indonesia Emas tidak boleh berhenti di podium politik, melainkan harus diuji secara akademis. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak. Visi besar ini membutuhkan fondasi ilmiah yang kuat dan keberanian melakukan koreksi. Diskusi ini kami arahkan agar tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi akan dirumuskan menjadi book chapter sebagai rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis,” tegas Gonda. Diskusi semakin menghangat ketika Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan memberikan peringatan keras atau alarm bahaya terkait bonus demografi. Ia menilai keberhasilan menuju 2045 sangat bergantung pada kemampuan negara membangun sumber daya manusia (SDM) dan kesehatan secara simultan. Tanpa prasyarat tersebut, impian menjadi negara maju hanyalah utopia. “Jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan serius, bonus demografi justru bisa berbalik menjadi ancaman atau bencana bagi pembangunan Indonesia Emas 2045. Kita butuh tata kelola pemerintahan yang bersih serta efektif untuk menopang ini, bukan sekadar memanen jumlah penduduk usia produktif tanpa skill yang memadai,” ujar Luthfi. Menyambung kekhawatiran tersebut, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam, M.Si., mengajak peserta menengok realitas di lapangan yang sering luput dari jargon pembangunan, yakni kemiskinan struktural. Ia membedah persoalan ini dari berbagai sisi yang lebih mikro dan menyentuh akar masalah. “Kita masih menemui wajah kemiskinan struktural yang nyata. Ada kemiskinan agraria di mana petani tak lagi punya lahan, hingga kemiskinan urban akibat lemahnya struktur industri yang memaksa masyarakat bergantung pada sektor informal. Ini adalah ‘pekerjaan rumah’ besar yang harus diselesaikan jika ingin bicara soal kemajuan,” kata Abdus Salam. Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai elemen, mulai dari aktivis mahasiswa hingga pegiat literasi ini, ditutup dengan komitmen bersama untuk mengawal isu-isu strategis bangsa. PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi peta jalan Indonesia masa depan. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Panggung Jadi Ruang Belajar, Mahasiswa BSI Modern UMM Pentaskan Dua Lakon Sarat Konflik

Tipu daya yang menyisakan luka dan kesetiaan yang diuji oleh waktu bertemu di atas satu panggung. Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghidupkan dua lakon kontras yang menggugah emosi penonton melalui pementasan teater selama dua hari, 11–12 Januari 2026, di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM. Pertunjukan ini merupakan luaran mata kuliah Penyutradaraan yang menampilkan dua naskah dalam dua hari berturut-turut. Hari pertama menghadirkan “Lakon Elegi Musim Panas” karya Chandra Kudapawarna, disusul hari kedua dengan “Orang Kasar” karya Anton Chekov saduran W.S. Rendra. Keduanya menjadi ruang eksplorasi penyutradaraan, keaktoran, dan pembacaan teks drama oleh mahasiswa. Pada hari pertama, “Lakon Elegi Musim Panas” mengisahkan Nikolas, seorang lelaki yang menjalin perselingkuhan dengan seorang perempuan demi menguasai hartanya. Perselingkuhan tersebut merupakan bagian dari rencana yang ia susun bersama istrinya. Tanpa disadari, perempuan yang menjadi selingkuhannya mengalami kebangkrutan dan keterpurukan batin setelah mengetahui bahwa hubungan yang ia jalani hanyalah manipulasi. Lakon ini dibangun dengan suasana emosional yang intens, menonjolkan pengkhianatan, tipu daya, dan kehancuran perasaan. Hari kedua menampilkan “Orang Kasar” dengan nuansa yang lebih dinamis dan penuh ironi. Lakon ini berkisah tentang seorang nyonya yang setia pada mendiang suaminya dengan memilih hidup dalam balutan pakaian serba hitam. Konflik muncul ketika Bilal, sahabat mendiang suaminya, datang menagih utang lama dan menolak pergi sebelum utang tersebut dilunasi. Kehadiran Bilal justru menumbuhkan perasaan cinta, sementara sang nyonya berada dalam dilema antara perasaan baru dan kesetiaannya. Adegan-adegan komikal yang dibangun dari gengsi dan kecanggungan dua tokoh membuat penonton dibuat greget hingga akhir pertunjukan. Dr. Hari Sunaryo, M.Si., selaku pembina mata kuliah penyutradaraan menilai pementasan ini menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa dalam memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara. Ia menyebut bahwa kedua naskah memiliki tantangan tersendiri yang menuntut kepekaan dan kedewasaan dalam mengolah adegan. “Saya yang mendampingi adik-adik ini berproses sejak awal membatin bahwa naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan yang terlibat. Jika tidak seksama sebagai sutradara dan pelaku, ada banyak hal yang bisa masuk dalam wilayah sensor. Karena itu, penting untuk tetap mengusung nilai-nilai. Sutradara dan UMM memiliki filter yang lebih presisi. Semua ini menjadi pelajaran berharga ketika menyutradarai—sebagai pribadi yang memiliki kehidupan sekaligus penjaga kehidupan,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Prodi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd., mengapresiasi proses panjang yang dijalani mahasiswa selama produksi. Menurutnya, dinamika suka dan duka selama latihan justru memperkuat kualitas permainan aktor di atas panggung. Ia juga berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif, karena pertunjukan semacam ini sayang jika dilewatkan dan memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa ketika lulus, khususnya dalam dunia kerja yang berkaitan dengan akting dan keaktoran. “Banyak proses yang mereka jalani selama produksi, ada suka dan dukanya. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga imajinasi penonton dibuat sulit menebak alur ceritanya. Plot twist yang dihadirkan bahkan memancing reaksi jengkel penonton, dan itu artinya para aktor berhasil menyesuaikan diri dalam mendalami setiap perannya,” tuturnya. Melalui dua lakon dengan konflik yang kontras, pertunjukan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk kepekaan dan profesionalitas mahasiswa. Perbedaan pendekatan penyutradaraan dan keaktoran pada masing-masing lakon menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membaca konflik serta mengolah emosi di atas panggung. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi artistik dan profesional setelah lulus.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Ulas Klasterisasi Perguruan Tinggi, Wamendiktisaintek Dorong Penguatan Nilai Civitas Akademika UMM

Kesinambungan nilai dan budaya organisasi kampus menjadi fondasi utama dalam menghadapi dinamika. Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., selaku Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), saat memberikan pengarahan kepada jajaran UMM di Aula BAU, Sabtu (10/1). Fauzan menekankan bahwa kekuatan institusi pendidikan tinggi tidak semata bertumpu pada kebijakan formal, tetapi juga pada proses kesinambungan nilai lintas generasi. Proses tersebut menjaga spirit, etos kerja, dan cara beraktivitas sivitas akademika agar tetap selaras dengan cita-cita institusi. “Proses sambung cerita dan sambung nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan persaingan perguruan tinggi,” ujarnya. Ia juga menyinggung kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam kebijakan tersebut, UMM masuk dalam klaster mandiri. Ke depan, perguruan tinggi swasta pada klaster ini akan diarahkan menjadi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) unggul mandiri, dengan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan program studi serta akreditasi. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat transformasi dan meningkatkan daya saing PTS yang telah mapan secara tata kelola. “Program khusus untuk PTS klaster mandiri sedang kami desain agar ke depan memiliki kewenangan yang lebih luwes dan berdampak,” jelasnya. Selain itu, Fauzan mengapresiasi iklim akademik dan corporate culture UMM yang dinilainya kondusif, stabil, dan minim konflik. Menurutnya, budaya kampus yang nyaman dan kolaboratif justru menjadi pembeda utama dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter UMM yang lebih menekankan substansi dan keberlanjutan, bukan sekadar pencapaian simbolik. Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan bahwa program studi merupakan mesin utama perguruan tinggi. Ketua program studi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab atas keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta dampak keilmuan bagi masyarakat. Ia pun mendorong perubahan cara pandang kampus, dari sekadar tempat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi, sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak yang tengah digencarkan pemerintah. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa arahan yang disampaikan Sekretaris BPH sekaligus Wamendiktisaintek itu menjadi penguat langkah strategis UMM dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola kampus. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Arahan ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus bergerak maju dengan pijakan nilai yang kuat,” pungkasnya.(*alg/faq)   Penulis: Musthofa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Karate UMM Raih Enam Medali di Batu Karate Challenge Open Tournament

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang olahraga. Kali ini, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil meraih enam gelar juara dalam ajang Batu Karate Challenge Open Tournament yang digelar di GOR Gajah Mada, Kota Batu pada 26 – 28 Desember 2025. Kejuaraan ini diikuti oleh atlet karate dari berbagai daerah di Jawa Timur dan berada di bawah naungan Federasi Olahraga Karate Indonesia (FORKI) Kota Batu. Dari enam atlet yang diturunkan, lima di antaranya berhasil menyumbangkan medali bagi UMM. Capaian ini dinilai semakin istimewa karena diperoleh di tengah proses regenerasi atlet dan berkurangnya jumlah personel yang aktif bertanding. Meski demikian, Karate UMM tetap mampu menjaga reputasi sebagai salah satu UKM olahraga berprestasi di lingkungan kampus. Ketua Umum Karate UMM, Fadil Inayatullah menjelaskan bahwa timnya tampil di sejumlah kategori pertandingan dan berhasil membawa pulang enam juara. “Kemarin itu dapat juara tiga Kata Perorangan Senior Putri, Juara tiga Kumite Perorangan Senior Putra, Juara tiga Kumite Perorangan Senior Putri, dan Juara Tiga Kata Beregu Junior Putri. Salah satu atlet kami bahkan meraih dua medali dari dua kategori berbeda yakni kata beregu junior putri serta kata perorangan senior putri masing-masing juara tiga,” jelasnya. Untuk menghadapi Batu Karate Challenge, para atlet menjalani program latihan khusus yaitu training center (TC) intensif selama lebih dari satu bulan. Program ini dirancang khusus bagi atlet yang akan diturunkan di kejuaraan. “Kalau di TC, latihannya benar-benar dipush. Fokusnya bukan hanya fisik, tapi juga kesiapan tanding. Seminggu dua kali latihan khusus, minimal sebulan sebelum kejuaraan,” ujar Fadil. Disisi lain, pembina Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso, M.A., menilai capaian ini sebagai hasil dari proses adaptasi dan pembenahan internal yang cukup signifikan. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya Karate UMM sempat vakum dari berbagai kejuaraan karena adanya pergantian kepengurusan dan pelatih. “Kita fokus dulu pada internal, lalu kembali aktif latihan. Sebelum turun ke kejuaraan, kita juga mengadakan pelatihan khusus dengan pelatih baru,” jelasnya. Menurut Ageng, perubahan pelatih membawa pendekatan baru yang lebih sesuai dengan karakter atlet muda saat ini. “Pelatih yang sekarang pendekatannya lebih soft, lebih humanis. Tidak hanya fisik, tapi juga membangun feeling dan chemistry antara pelatih dan atlet. Ternyata itu sangat penting,” ungkapnya. Selain itu, Ageng juga mengaku bangga dengan keputusan para atlet dan pengurus Karate UMM yang berani melakukan perubahan demi kemajuan tim. “Saya puas dan bangga karena mereka berani menentukan arah sendiri dan bertanggung jawab atas pilihannya. Mereka memilih pelatih baru, dan sekarang bisa membuktikan dengan prestasi,” ungkapnya. Ke depan, Karate UMM menargetkan peningkatan prestasi di berbagai ajang, termasuk kejuaraan tingkat provinsi, nasional, hingga multievent seperti POMPROV dan SEA Games. Dengan dukungan kampus serta semangat baru dari para atlet dan pelatih, Karate UMM optimistis dapat terus melahirkan prestasi yang membanggakan, sekaligus mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang di tingkat yang lebih luas. (*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tampil Memukau, Marching Band UMM Borong Juara di Piala Bung Karno 2025

Marching Band Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukir prestasi gemilang di kancah nasional. Kali ini, unit kegiatan mahasiswa tersebut sukses memborong gelar juara dalam ajang bergengsi Piala Bung Karno 2025 yang dihelat di Blitar, Jawa Timur, pada 26 November 2025. Dominasi UMM terlihat jelas pada kategori Brass Ensemble yang berhasil menyabet Juara 1. Tak hanya unggul secara tim, talenta individu Marching Band UMM juga unjuk gigi pada kategori Pit Individual Contest. Nurika Fitri Zasri Abidin sukses meraih podium tertinggi sebagai Juara 1, disusul oleh rekannya, Faticha Berliani, yang menempati posisi Juara 3. Nurika Fitri Zasri Abidin, perwakilan tim sekaligus peraih juara, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan buah dari latihan intensif dan kerja kolektif yang solid. Ia mengakui bahwa persiapan menuju kompetisi dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, sehingga menuntut disiplin dan fokus ekstra. “Waktu persiapan yang pendek menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal itu justru mendorong kami untuk saling menguatkan, memaksimalkan potensi tiap lini, dan menjaga kekompakan tim,” ujar Nurika. Pada kategori Brass Ensemble, Marching Band UMM dinilai dewan juri memiliki konsep musikal yang matang. Kekuatan penampilan mereka terletak pada penguasaan teknik, kestabilan tempo, serta dinamika bunyi yang harmonis. Ika, selaku selaku steering committee Marching Band UMM, menambahkan bahwa selain teknik, manajemen latihan dan komunikasi internal menjadi kunci keberhasilan tim. Menurutnya, soliditas tim terbentuk dari rasa saling percaya yang terus dijaga selama proses latihan. “Kami berusaha menampilkan permainan yang solid dan ekspresif. Fokus kami bukan hanya mengejar teknik semata, tetapi juga rasa dan kekompakan tim agar pesan musikalnya sampai ke audiens,” jelas Ika. Prestasi ini juga tidak lepas dari dukungan penuh pihak universitas, mulai dari pendanaan, administrasi, hingga fasilitas ruang latihan. Pembina Marching Band UMM, Ima Wahyu Putri Utami, M.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi para mahasiswa. Ia menilai keberhasilan ini adalah bukti bahwa mahasiswa UMM mampu menyeimbangkan prestasi akademik dan non-akademik. “Prestasi ini bukan sekadar kemenangan, tetapi bukti bahwa mahasiswa UMM mampu berkembang pesat ketika diberi ruang, kepercayaan, dan pendampingan yang tepat. Saya berharap capaian ini menjadi motivasi untuk terus berproses, menjaga kekompakan, dan tetap rendah hati,” pungkas Ima. Capaian di Piala Bung Karno 2025 ini semakin menegaskan eksistensi UMM sebagai kampus yang berkomitmen mencetak mahasiswa berprestasi secara holistik, baik di ruang kuliah maupun panggung kompetisi. (*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dari Hygiene Kit hingga Bersih-Bersih Sekolah, Ini Aksi Nyata UMM Berbagi Pulihkan Aceh Tamiang

Komitmen kemanusiaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program “UMM Berbagi untuk Negeri” terus bergulir secara masif di wilayah terdampak bencana Sumatera. Memasuki tahap ketiga, Kampus Putih tidak sekadar mengirimkan bantuan logistik, melainkan menerjunkan tim ahli yang terdiri dari dosen dan teknisi untuk memimpin percepatan pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang sejak awal Januari 2026. Fokus utama tim kali ini adalah menghidupkan kembali denyut nadi pendidikan yang sempat lumpuh total akibat banjir bandang. Langkah konkret terlihat di Kecamatan Bandar Pusaka, di mana tim UMM Berbagi berjibaku membersihkan endapan lumpur tebal yang menimbun ruang-ruang kelas di Madrasah Aliyah (MA) Al Hikmah dan Raudhatul Athfal (RA) Darul Muta’allimin, Desa Sunting. Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., Koordinator UMM Berbagi untuk Negeri, menegaskan bahwa normalisasi fasilitas pendidikan menjadi prioritas utama timnya. Ia menggambarkan kondisi lapangan yang cukup berat, di mana material sisa banjir membuat aktivitas belajar mengajar mustahil dilakukan tanpa intervensi alat dan tenaga yang memadai. “Tim kami langsung bergerak cepat membersihkan lumpur pekat yang memenuhi ruang kelas di MA Al Hikmah dan RA Darul Muta’allimin. Target kami jelas, agar anak-anak bisa segera kembali bersekolah dengan aman dan nyaman. Selain pembersihan fisik, kami juga mendistribusikan paket hygiene kit kepada para guru dan siswa di Dusun Anggrek. Ini adalah pendekatan komprehensif; kami perbaiki fisiknya, sekaligus kami jaga kesehatan warga sekolahnya,” jelas Ary. Berbeda dengan gelombang sebelumnya yang didominasi oleh semangat juang mahasiswa dalam fase tanggap darurat, penerjunan tahap ketiga ini membawa misi spesifik rehabilitasi dan rekonstruksi. Eka Kadarpa Utama Dewayani, MM., salah satu relawan sekaligus dosen UMM dalam tim tersebut, menjelaskan perubahan strategi ini. Menurutnya, komposisi tim yang diisi oleh jajaran dosen dan tenaga ahli disesuaikan dengan kebutuhan lapangan yang kini bergeser ke arah pemulihan infrastruktur vital dan manajemen posko. “Berdasarkan hasil asesmen lapangan terakhir, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah sektor WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) serta pendampingan psikososial. Oleh karena itu, tim tahap ketiga ini memiliki tugas spesifik untuk pengelolaan logistik, perbaikan sarana air bersih, hingga trauma healing. Kami ingin memastikan sistem pendukung kehidupan di sini kembali berfungsi,” ungkap Eka. Pergeseran fokus wilayah operasi ini juga merupakan respons cepat atas mandat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur. Sumber daya yang sebelumnya terkonsentrasi di Langkat, Sumatera Utara, kini digeser penuh ke Aceh Tamiang mengingat eskalasi kebutuhan penanganan yang lebih intensif di wilayah tersebut. Aksi nyata ini mempertegas posisi UMM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya hadir saat sorotan kamera tertuju pada bencana, namun tetap setia mengawal hingga fase pemulihan. Melalui sinergi antara pembersihan sarana pendidikan, bantuan kesehatan, dan dukungan psikososial, UMM Berbagi berupaya memastikan masyarakat Aceh Tamiang, khususnya generasi mudanya, dapat segera bangkit dan menatap masa depan kembali. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kuliah Tamu IP UMM Ungkap Gen Z Lebih Percaya Medsos, Alarm Baru bagi Pemilu 2029

Era kampanye baliho perlahan mulai ditinggalkan, Fakta mengejutkan terungkap di mana 100 persen Generasi Z di Jawa Timur kini menggantungkan informasi politiknya pada media sosial, dengan TikTok sebagai raja utamanya. Fenomena pergeseran ‘Demokrasi Digital’ inilah yang dikupas tuntas oleh Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Perludem dan RC-POL pada 7 Januari lalu kuliah tamu dengan tema Arah Demokrasi Masa Depan Menyongsong Pemilu 2029. Ardi Firdiansyah, M.IP. Direktur Riset and Consulting Policy (RC-POL) menjelaskan bahwa ruang digital saat ini menjadi sumber utama informasi politik sekaligus arena pertukaran gagasan dan debat publik, khususnya bagi generasi Z. Demokrasi digital dinilai mampu meningkatkan partisipasi politik, namun juga menghadirkan tantangan baru dalam pembentukan preferensi politik. Ardi memaparkan hasil survei RC-POL pasca Pemilu Serentak Agustus 2024 yang menunjukkan bahwa 100 persen pemilih Gen Z di Jawa Timur memperoleh informasi politik dari media sosial. Platform TikTok menjadi sumber utama dengan persentase 48 persen, disusul Instagram 25 persen, X sebesar 21 persen, YouTube 4 persen, serta Facebook dan WhatsApp masing-masing 1 persen. “Kondisi ini menandakan bahwa kampanye pemilu ke depan tidak lagi bergantung pada baliho atau poster fisik, melainkan membutuhkan regulasi yang jelas terhadap kampanye di media sosial,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa karakter politik generasi Z yang cenderung responsif terhadap isu-isu yang sedang ramai, namun belum sepenuhnya berorientasi pada partisipasi politik jangka panjang. Generasi ini dinilai memilih secara rasional sekaligus emosional, dengan mempertimbangkan program kerja dan dampak kebijakan, namun juga dipengaruhi oleh kedekatan perasaan terhadap figur tertentu. Oleh karena itu, literasi politik dan penguatan kesadaran demokrasi menjadi hal penting agar partisipasi politik Gen Z tidak hanya bersifat sesaat. Sementara itu, Heroik Mutaqin Pratama, M.IP. Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menjelaskan bahwa pemilu merupakan elemen fundamental dalam negara demokrasi. Ia juga menyoroti masih adanya sejumlah persoalan dalam sistem pemilu, seperti instabilitas politik yang sering muncul dalam sistem parlementer serta praktik politik uang yang dipicu oleh tingginya persaingan antar calon. “Sebuah negara tidak dapat disebut demokratis tanpa adanya pemilu yang berintegritas,” ujarnya. Heroik sapaan akrabnya juga menekankan pentingnya perbaikan sistem pemilu tanpa menghilangkan mekanisme pemilihan langsung, khususnya pemilihan kepala daerah. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pemisahan antara pemilu nasional dan pemilu daerah. “Selama ini perhatian publik terlalu terpusat pada pemilihan presiden, sementara pemilihan legislatif kurang mendapat perhatian,” tuturnya. Dengan pemisahan tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih fokus menilai calon legislatif dan kualitas kebijakan yang ditawarkan. Selain itu, ia juga memaparkan usulan penyederhanaan tahapan pemilu, seperti percepatan penetapan partai politik peserta pemilu, penyederhanaan pendaftaran pemilih, hingga efisiensi waktu pemungutan dan penghitungan suara. Melalui kuliah tamu ini, UMM berharap mahasiswa semakin kritis dan melek politik dalam menghadapi dinamika demokrasi ke depan, sekaligus mampu berperan aktif dalam mengawal proses pemilu yang lebih berintegritas menuju Pemilu 2029.(*bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dukung Capaian SDGs, RBC Institute AMF Ajak Anak Desa Cintai Buku Sejak Dini

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan literasi masyarakat. Kali ini, berkolaborasi dengan komunitas Republik Gubuk menggelar kegiatan literasi menggunakan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) di Pondok Anyam, Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Sabtu (4/1) lalu. Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, M. Subhan Setowara, M.A., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya konkret untuk menghadirkan akses bacaan yang inklusif. Pihaknya ingin memastikan budaya membaca tidak hanya eksklusif di ruang formal, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat komunitas. “Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperluas jangkauan gerakan literasi. Kegiatan serupa akan terus kami inisiasi agar upaya pelestarian budaya baca dapat menjangkau setiap lapisan masyarakat, sekaligus memperkuat literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia,” ungkap Subhan. Kegiatan ini disambut antusias oleh puluhan peserta yang terdiri dari anak-anak dan warga setempat. Kehadiran Mobil Terbang yang membawa beragam koleksi buku anak menjadi daya tarik utama. Kepala Dusun Paras, Hani Masudi, mengapresiasi langkah UMM ini. Menurutnya, kehadiran perpustakaan keliling sangat relevan di tengah tantangan era digital saat ini. “Kami sangat antusias dengan kehadiran Mobil Pustaka dari RBC Institute AMF. Program ini sangat membantu kampung kami untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Di saat gawai mendominasi, mobil ini menjadi inovasi baru yang mampu menarik kembali perhatian anak-anak terhadap buku,” ujar Hani. Sebagai informasi, lokasi kegiatan ini bertempat di Pondok Anyam, salah satu ruang belajar di bawah naungan komunitas literasi Republik Gubuk yang dipimpin oleh Fachrul Alamsyah (Cak Irul). Sinergi antara RBC Institute AMF dan Pondok Anyam ini dinilai mampu memperkuat ekosistem literasi yang telah dibangun, khususnya dalam menumbuhkan kreativitas dan kebiasaan belajar anak sejak dini. Acara ini juga melibatkan mahasiswa UMM yang turut mendampingi anak-anak selama proses membaca dan belajar. Keterlibatan mahasiswa ini mempertegas komitmen Kampus Putih terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Isu SDGs telah diarusutamakan melalui kurikulum perkuliahan UMM, khususnya dalam mendorong pendidikan berkualitas dan pemberdayaan masyarakat berbasis dampak. Melalui program ini, UMM berharap dapat terus menghadirkan literasi yang kontekstual dan menyenangkan, sebagai bagian dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa dan merawat budaya literasi hingga ke pelosok desa. (*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Profesor Penggerak UMM Sulap Lahan Desa di Pasuruan Jadi Sentra Smart Farming

Demi mendongkrak kemandirian ekonomi desa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), mengubah wajah Desa Sumbergedang, Pasuruan. Melalui pendampingan intensif, lahan desa disulap menjadi sentra agrowisata produktif yang mengintegrasikan peternakan, pertanian modern, dan wisata edukasi. Adapun aktivitas ini sudah berjalan sejak empat bulan lalu hingga sekarang. Desa yang terletak di Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan ini memiliki lahan kas desa strategis seluas enam hektare. Pemanfaatan lahan ini menjadi strategi kunci pemerintah desa dan UMM untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian bernilai tambah yang terintegrasi. Program pendampingan ini dijalankan melalui skema P3M. Tim yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., IPU bersama Fakultas Pertanian UMM merancang sistem ekonomi desa yang berkelanjutan. “Pada tahap awal, kami memperkuat ekonomi dasar masyarakat melalui pengembangan peternakan, perikanan, serta UMKM berbasis hasil pertanian seperti keripik pisang dan minuman tradisional,” ujar Sujono. Langkah ini dinilai krusial agar masyarakat memiliki pengalaman usaha dan kesiapan sebelum mengelola agrowisata yang lebih kompleks. Setelah ekosistem dasar terbentuk, barulah fokus dialihkan pada pengembangan atraksi utama agrowisata. Daya tarik utama agrowisata Sumbergedang saat ini adalah budidaya melon lavender yang menerapkan teknologi smart farming. Budidaya dilakukan di dalam greenhouse berukuran 11×40 meter yang menampung sekitar 1.450 tanaman. Sistem hidroponik yang diterapkan dilengkapi dengan pengendalian irigasi dan nutrisi digital. “Penerapan teknologi digital memungkinkan pengelolaan tanaman dilakukan secara presisi. Kebutuhan nutrisi dan pengairan dapat dikontrol melalui ponsel, sehingga risiko kesalahan perawatan dapat diminimalkan. Ini sekaligus menjadi sarana edukasi pertanian modern bagi warga,” jelas Sujono. Selain melon, tim UMM juga mengembangkan perkebunan pisang di lahan seluas 1,5 hektare. Sebanyak 1.500 pohon pisang dari varietas unggul seperti raja nangka, raja bulu, dan cavendish telah ditanam. Kebun ini diproyeksikan memperkuat identitas Sumbergedang sebagai sentra pertanian sekaligus pendukung wisata edukasi. Secara ekonomi, hasil budidaya ini menunjukkan potensi besar. Sujono memaparkan, pada usia tanaman 65 hari, berat melon rata-rata sudah mencapai 1,5 kilogram dengan target 2 kilogram saat panen. “Dengan estimasi produksi lebih dari dua ton per siklus tanam, agrowisata ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan desa,” tambahnya. Ke depan, greenhouse dirancang untuk berproduksi secara berkelanjutan dengan empat kali siklus tanam dalam setahun. Sujono berharap pengembangan agrowisata ini terus meluas dengan penambahan wahana edukasi lainnya, menjadikan Desa Sumbergedang tidak hanya sekadar desa wisata, tetapi pusat rujukan agrowisata melon dan pisang di Kabupaten Pasuruan.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Pertegas Visi Kampus Berdampak, UMM Dorong Mahasiswa Ciptakan Solusi Nyata Lewat PPK Ormawa 2026

Tak sekadar mengejar prestasi akademik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menantang mahasiswanya untuk turun tangan menjadi solusi konkret di tengah masyarakat. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026, UMM membidik lahirnya inovasi sosial yang berdampak nyata, sekaligus menawarkan rekognisi akademik istimewa bagi mahasiswa yang terlibat. Keseriusan ini terlihat dalam gelaran Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) PPK Ormawa 2026 yang berlangsung di Auditorium GKB V UMM, Rabu (7/1/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan perwakilan organisasi mahasiswa (Ormawa) dari berbagai tingkatan, mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Semi Otonom (LSO), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., dalam sambutannya menegaskan bahwa peran mahasiswa saat ini harus melampaui sekadar diskusi di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa UMM harus mampu menerjemahkan gagasan intelektual menjadi jawaban atas permasalahan riil masyarakat. “PPK Ormawa adalah instrumen strategis untuk mewujudkan Kampus Berdampak. Di sini, mahasiswa tidak hanya mengasah kepemimpinan dan kolaborasi lintas disiplin, tetapi juga terlibat langsung memberdayakan masyarakat,” tegas Subeki. Ia optimistis, dengan ekosistem kemahasiswaan UMM yang telah mapan dan konsisten meraih peringkat nasional, mahasiswa Kampus Putih memiliki modal kuat untuk berinovasi dan menjaga reputasi institusi di kancah nasional. Sementara itu, Kepala bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM sekaligus Ketua Penyelenggara, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si,. IPM,. ASEAN Eng., menjelaskan bahwa Bimtek ini bertujuan menyamakan persepsi dan strategi agar proposal yang diajukan benar-benar berkualitas. Ary menekankan daya tarik utama program ini bukan hanya pada pendanaan, melainkan pengakuan akademik yang prestisius. “Bagi tim yang berhasil lolos pendanaan hingga tahap Abdidaya, UMM memberikan rekognisi berupa konversi SKS, KKN, bahkan hingga pembebasan tugas akhir atau skripsi. Ini adalah bukti bahwa pengabdian diakui setara dengan kerja akademik,” jelas Ary. Untuk tahun 2026, UMM memasang target ambisius: meloloskan sekitar 30 proposal pendanaan dan mengantarkan 10 hingga 15 tim menuju ajang Abdidaya. Ary juga mendorong integrasi teknologi dalam setiap program pengabdian, mencontohkan kesuksesan HMPS Agribisnis UMM sebelumnya yang menciptakan alat berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk pembasmi hama sebuah inovasi yang telah dipatenkan. “Segera lakukan konsolidasi internal. Susun program yang berangkat dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar keinginan. Dengan begitu, kita bisa melahirkan pengabdian berkelanjutan yang memperkuat jati diri UMM sebagai Kampus Berdampak,” pungkasnya.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman