Perkuat Ketahanan Pangan di Masa Pandemi dengan Hidroponik

ANGKA statistik kasus Covid-19 yang semakin hari semakin meningkat membawa kekhawatiran dalam banyak hal, terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan. Kita sebagai masyarakat konsumen harus lebih berhati-hati dalam memilih bahan pangan yang akan kita konsumsi setiap harinya. Dosen dari Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ary Bakhtiar melaksanakan pengabdian bersama dengan dua mahasiswanya yakni, Arifiyan dan Fidela mengenalkan bertanam sayur dengan media hidroponik sederhana kepada anak-anak Panti Asuhan Ulil Absor, Kecamatan Dau, Malang, Senin (12/10). Hidroponik adalah sistem bertanam dengan menggunakan media air dan tambahan nutrisi. “Dengan bahan-bahan yang mudah di dapat kita dapat bertanam sayur sendiri yang kemudian nanti akan menghasilkan hasil panen sayur kita sendiri,” ungkap Ary Bakhtiar, selaku Dosen UMM sekaligus sebagai pengisi acara. Bahan seperti wadah bak air kecil, net pot, rockwool, kain flanel, penutup plastik impraboard, benih sayur, air dan nutrisi hanya sebagai contoh dari pemasangan hidroponik sederhana. Bahan tersebut dapat digantikan dengan bahan-bahan lain seperti bekas bungkus air mineral gelas, kain bekas atau ember dan lainnya. Selain mudah penerapannya hasil panennya pun aman untuk dikonsumsi. Antusias anak-anak Panti Asuhan UlilAsordalam belajar hidroponik sangat tinggi. Bahkan mereka berebutan pada saat sesi prakteknya. Muhammad Fajar Hiidayat selaku perwakilan Yayasan Panti Asuhan Ulil Absor menyampaikan rasa terimakasih kepada dosen dan mahasiswa Agribisnis UMM atas ilmunya.“Bermanfaat sekali,bisa buat kegiatan anak anak diwaktu senggang, juga hasilnya bisa untuk dikonsumsi sendiri atau bisa kami jual,” kata Fajar. Acara pengabdian ini bertujuan untuk mempertahankan ketahanan pangan rumah tangga mandiri.Dengan begitu harapannya dapat dilakukan dan dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari khususnya kebutuhan pangan.(*/can)
Lagi, UMM Jadi Tuan Rumah Kontes Kapal Cepat Nasional

PELAKSANAAN Kontes Kapal Cepat Tak Berawak (KKCTBN) merupakan salah satu agenda penting Pusat Prestasi Nasional pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia, dalam kondisi era baru Covid-19 ini. Kompetisi ini untuk mendukung pengembangan inovasi bidang perkapalan yang melibatkan mahasiswa dan dosen dari bidang-bidang ilmu terkait. Setelah melewati beberapa kali penyelenggaraan, maka pada KKKCTBN tahun 2020 ini, penyelenggaraannya kembali dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 5-7 November 2020. Pada tahun 2020 ini kegiatan lomba diikuti oleh tim 44 Perguruan Tinggi dari seluruh Indonesia dengan rincian 46 tim pada Kategori I, 49 tim pada Kategori II, dan 82 tim masing-masing jenis poster pada Kategori III. Berdasarkan hasil evaluasi tahap I dan tahap II akhirnya diperoleh finalis untuk masing-masing kategori. Untuk gelaran final dilaksanakan secara daring dan luring. Final daring dilakukan untuk Kategori I (Desain Inovasi Kapal Kesehatan) dan Kategori III (Poster Kapal Kesehatan-pengumuman). Sedangkan final luring dilakukan khusus pada Kategori II yaitu Lomba Pembuatan dan Performa Prototype, yang meliputi Autonomous Survace Vehicle (ASV), Electric Remote Control (ERC), dan Fuel Engine Remote Control (FERC). Pada tahap final luring ini dikuti oleh 15 Tim terseleksi yang terdiri dari 8 Institusi Perguruan Tinggi dengan rincin 5 Tim ASV, 5 Tim ERC, dan 5 Tim FERC. Penyelenggaraan KKCTBN 2020 ini adalah merupakan penyelenggaraan dengan kondisi dan situasi yang mengharuskan menyertakan protokol kesehatan sesuai kondisi COVID 19. “Oleh karena itu, even yang besar dan berkualitas ini harus dilaksanakan secara disiplin dan tetap berkualitas. Salah satu kebutuhan yang menunjang disiplin dan kualitas penyelenggaraan even ini adalah adanya protokol kesehatan dan panduan teknis lomba, yang secara detail menjelaskan seluruh tahapan lomba, dengan segala ketentuan-ketentuannya,” ungkap ketua pelaksana KKCTBN 2020 lokal UMM, Zulfatman, M.Eng., Ph.D. Harapannya adalah dengan adanya protokol kesehatan dan panduan teknis lomba ini, kata dosen Teknik Elektronika ini, akan membantu semua pihak yang terlihat dapat memahami standar kesehatan dan tahapan serta tata laksana lomba dengan sebaik mungkin, sehingga perlombaan dapat dilaksanakan secara aman, fair dan terbuka. Sebelumnya, pada tahun 2019, UMM berhasil mendominasi kemenangan dengan menyabet 3 gelar sekaligus. Pertama, peringkat 2 di 2 kategori sekaligus, yakni kategori ERC dan FERC. Kedua, nominasi tim favorit di kategori FERC yang dimenangkan oleh Team UMM I, UMM. Ketika itu, UMM tampil dengan performa terbaiknya. Team UMM 2 di kategori ERC mendapat raihan terbaik dengan skor akhir 120,678. Sedangkan Team UMM 1 di kategori FERC dengan skor akhir 121,379. Sementara di kategori ASV, UMM harus puas di posisi ke-14 dengan skor 10,8252. (can)
Hadirkan Ketua MK, PKPA FH UMM Lahirkan Advokat Humanis

PENDIDIKAN Khusus Profesi Advokat (PKPA) hasil kerjasama antara Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) dan DPC PERADI Malang Raya telah memasuki sesi akhir, Sabtu (24/10). Bertempat di Aula GKB IV Lantai 9 UMM, agenda penutupan PKPA Angkatan Ke 4 tersebut dihadiri oleh Ketua DPC PERADI Malang Raya dan juga Dekan FH UMM, dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Dalam agenda penutupan PKPA yang telah berlangsung selama 2 bulan tersebut, Dr. Tongat, SH., M.Hum selaku Dekan FH UMM memberikan pesan kepada para peserta PKPA agar bisa menjadi advokat yang humanis. “Hukum itu harus hadir untuk manusia, bukan untuk dirinya sendiri. Maka jadilah advokat yang humanis, yang membela manusia,” ungkap Dr. Tongat dalam sambutan sekaligus menutup kegiatan PKPA. Lebih lanjut, Dr. Tongat berpesan agar visi humanis selalu menjadi nilai yang melekat dalam diri para peserta PKPA. Hal ini sejalan pula dengan visi FH UMM, yakni profesional, humanis dan religius. Agenda PKPA resmi ditutup sekira pukul 11.30 WIB. Sebanyak 50 peserta PKPA angkatan ke 4 tersebut kemudian melanjutkan dengan agenda try out pada pukul 13.00 WIB di tempat yang sama. Try out bertujuan untuk menyiapkan mereka guna menghadapi ujian profesi advokat yang akan datang. Sebelumnya, pada Jumat (23/10) kemarin, hadir sebagai salah satu pemateri Ketua Mahkamah Konstitusi RI Dr. H. Anwar Usman, SH., MH. Sebagai pemateri utama, Anwar menyampaikan materi tentang Hukum Acara Mahkamah Konstitusi. Dalam paparannya, Anwar tak hanya menyampaikan teori, namun juga memberikan contoh-contoh penerapannya. Termasuk beberapa kasus yang sedang ramai dibicarakan di tanah air. Anwar menegaskan, pengadilan tertinggi adalah pengadilan yang melibatkan hati nurani. “Sebagai seorang advokat, fakta yang kita sampaikan akan memengaruhi keputusan hakim. Jika fakta yang kita sajikan jujur, namun hakim tetap salah memutuskan, itu tetap dikembalikan ke hati nurani si hakim,” ujar pejabat kelahiran Bima tersebut. Di sisi lain, Ketua DPC Peradi Malang Raya Iwan Kuswardi, SH., MH., mengatakan, pihaknya sengaja menghadirkan Ketua MK agar peserta PKPA bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman secara langsung dari pakarnya. “Kredibilitas beliau, kan, tidak diragukan lagi. Dengan ilmu yang diberikan, kami sangat berharap peserta PKPA ini menjadi advokat yang kredibel,” ujar Iwan. (*/can)
Duta Besar RI untuk Inggris Raya di Wisuda UMM Beri Modal Penting untuk Membangun Karir

DUTA Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya merangkap Republik Irlandia dan Organisasi Maritim Internasional Periode 2015-2020, Dr. Rizal Sukma, didapuk memberikan orasi ilmiah dalam gelaran Wisuda ke-97 Periode III tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (24/10). Rizal secara khusus membagikan sejumlah modal penting kepada para wisudawan yang memulai karir di era pandemi agar bisa menghadapi ketatnya persaingan dan juga beratnya kondisi pada saat pandemi Covid-19 ini dalam upaya membangun karir. Sebelumnya, Rizal yang pernah menjadi salah satu dari 100 Pemikir Dunia pada tahun 2009 oleh majalah Foreign Policy ini menyebutkan tantangan Covid-19 di Indonesia. Pertama, disebutnya, Indonesia selalu ingin menjadi negara mandiri. Tidak salah dengan cita-cita itu. Namun, kemandirian itu tentunya tidak bisa dicapai dengan tanpa kerjasama internasional. “Tidak ada negara yang bisa maju dan mandiri karena dia mengisolasi dan bekerja sendiri. Dalam dunia sekarang ini, kemandirian itu justru didapat dari kerjasama internasional,” ungkap Rizal di orasi yang dilakukan virtual ini. Kita, sambungnya, tetap harus berprinsip bahwa kepentingan nasional itu nomor satu. Namun, ditegaskan Rizak yang sempat aktif Aktif di Muhammadiyah sebagai Ketua Lembaga Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 2005-2015 ini, upaya untuk memperjuangkan kepentingan nasional tidak harus disertai dengan sikap yang xenophobia atau merasa takut, terancam, atau benci kepada pihak-pihak asing. “Dan ini sikap-sikap yang tidak relevan lagi,” ujar Rizal di hadapan wisudawan yang lulus di jenjang Sarjana, Magister, dan Doktoral ini. “Kita sering mendengar, misalnya, Indonesia ingin bisa bikin pesawat dan mobil sendiri. Tidak ada yang salah dengan cita-cita itu. Tapi untuk bisa ke sana, saya kira, yang sangat penting adalah bagaimana menjadikan Indonesia menjadi bagian dari regional dan global supply chance. Kita lihat misalnya, banyak industri sekarang itu tidak pernah dibuat penuh oleh satu negara. Tetapi beberapa negara berpartisipasi di dalam regional dan global supply chance yang ada. Sehingga geliat industrinya juga bisa turut berkembang,” terangnya di wisuda yang diselenggarakan secara bergelombang ini. Ekonomi dunia ini sedang banyak bergerak ke services, sehingga Indonesia juga harus bergerak ke arah sana. Namun, bagi Indonesia, untuk tetap penting menghidupkan kembali sektor manufaktur dan pertanian. Karena di situ justru pentingnya pembukaan lapangan kerja bisa terjawab. “Terlepas dari dampak-dampak negatif maupun peluang-peluang baru, tantangan utama yang sekarang tentunya bagi adik-adik wisudawan adalah bagaimana mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Ini, saya kira, menjadi persoalan banyak lulusan perguruan tinggi di banyak negara,” kara Rizal. Dengan demikian, untuk menghadapi tantangan yang ada, Rizal membocorkan modal yang selayaknya dimiliki oleh para lulusan sehingga nanti bisa menghadapi ketatnya persaingan dan juga beratnya kondisi pada saat pandemi ini dalam upaya membangun karir. Di antaranya semangat dan optimisme. “Jangan berkecil hati kalau misalnya yang ber-IPK rendah. Saat kuliah S1, dengan segala keterbatasan IPK saya hanya 2,60. Akhirnya saya lebih banyak menulis untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semuanya bisa dilewati berkat semangat dan optimism yang tinggi,” kata Rizal. Berikutnya, Fokus pada apa yang ingin dikerjakan. Akan sulit mengerjakan banyak hal sekaligus, tetapi tidak ada hal yang fokus. Karena profesionalisme itu perlu dibangun dari awal. Rizal menekankan pentingnya fokus untuk mengembangkan karir di bidang tertentu. Selain itu, Rizal berharap meskipun sudah lulus, wisudawan tetap memperkuat penguasaan bahasa asing. Karena kompetensi ini sangat penting. “Jendela pengetahuan dan pengalaman itu terbuka lebar apabila kita bisa menguasai bahasa asing. Terutama bahasa Inggris. Atau bahasa lainnya untuk menunjang karir,” ujarnya. Selain itu, perlu juga memanfaatkan jejaring yang ada. Selama kuliah, secara tidak sadar kita membangun jejaring (network) sesama teman mahasiswa. “Perjalanan karir saya sendiri, saya sangat terbantu dengan jejaring yang ada. Apabila sanggup, ciptakan pekerjaan sendiri. Jangan tergantung Pemerintah. Presiden Amerika Serikat Ronald Reagen pernah mengatakan, the government is not the solution, the government sometimes is the problem. Maksudnya, Pemerintah itu kadang tidak menjadi solusi, kadang-kadang Pemerintah malah si pembuat masalah,” katanya. Lebih jauh, dalam membangun karir ke depan, penting adanya antisipasi kira-kira pasca covid-19 ini peluang apa saja yang akan ada. Khususnya dalam konteks membangun lapangan pekerjaan sendiri. Antisipasi aktivitas ekonomi pasca covid dan aktivitas pasca Covid itu akan mempermudah untuk memunculkan ide-ide yang berbeda. Terakhir, kita harus tetap memberi kontribusi dan membantu peran nasional dan internasional Muhammadiyah. Muhammadiyah sangat terbuka bagi kontribusi kita semua. Jadi, jangan lupakan Muhammadiyah,” pungkas Rizal menutup orasinya. (*/can)
Bangga Jadi Qoriah UMM, Egalia Lulus dengan Predikat Summa Cum Laude

BAGI Egalia Novika Hidayat, menjadi qoriah untuk berbagai hajat besar kampusnya sudah menjadi pencapaian tersendiri. Apalagi bisa perform kemampuan melantunkan Al Quran di hadapan para pejabat tinggi negara. Pengalaman berharga inilah yang Egalia, sapaan akrabnya, dapatkan selama menjadi mahasiswa aktif di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Perempuan asal Meliau, Kalimantan Barat ini baru saja diwisuda, Selasa (20/10) pekan lalu, dengan predikat summa cum laude yakni IPK 3,86. Egalia lulus sebagai sarjana Fisioterapi (S.Kes.). Puteri dari bapak Ilham Hidayat dan Ibu Lenny Rizawati ini menjadi lulusan terbaik Fakultas Ilmu Kesehatan. Tak sekadar lulus, penyuka kegiatan kerelawanan ini telah menorehkan banyak prestasi yang sangat membanggakan. Tak hanya di bidang Al Quran, melainkan di Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional. Di bidang Al Quran, Egalia pernah Juara II di ajang Musabaqah Syarhil Qur’an Nasional yang diselenggarakan Universitas Djuanda Bogor 2020. Bahkan, untuk tingkat universitas sekalipun Egalia kerap menjadi juara pertama untuk cabang lomba Syarhil Quran. Dari situlah dirinya ditunjuk untuk mewakili Kampus Putih UMM dalam setiap ajang kejuaraan lomba Al Quran. Kemampuan melantunkan ayat Al Quran yang telah Ia miliki sejak SMP itu terus Ia asah hingga di perguruan tinggi. Dara kelahiran November 1998 ini bahkan bergabung ke unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang fokus pada pembinaan Al Quran, yakni UKM Musabaqah Tilawatil Quran UMM. Beberapa lomba yang Egalia raih di bidang LKTI di antaranya Juara I LKTI-A Nasional Universitas Negeri Jakarta 2018, Juara II Olimpiade Nasional FISIOKER bidang SPORT PHYSIO 2018, Juara II LKTI Nasional Pena Pemuda Indonesia UNY 2018 serta Juara III LKTI-A Nasional IfoPH UNAIR Surabaya 2018. Tak hanya berupa karya tulis ilmiah, kemampuannya menulis juga Egalia aplikasikan dalam buku yang ia tulis bersama dosen dan kawannya berjudul Buku Ilmu Dakwah: Praktis Dakwah Milenial. Meskipun notabene bukan anak pondok pesantren, kemampuan tilawah Al Qurannya tak kalah baiknya. Segala raihannya itu tak lain dalam rangka membanggakan kedua orang tuanya, sekaligus ajang mengasah diri. “Sebetulanya orang tua saya itu dari dulu mengarahkannya ke akademik. Saya dilatihnya lewat rewad dan punishment. Jadi cara saya membuktikan kepada orang tua saya kalau saya punya kemampuan lain adalah dengan aktif di luar, baik di kegiatan kerelawanan maupun Al Quran,” kata Egalia. Tak sedikit juga kegiatan kerelawan yang diikutinya. Misalnya Egalia sempat terdaftar sebagai Volunteer Indonesia Medika Bersih Pantai Teluk Asmara Malang 2019, Volunteer Fisioterapis Runners Mantra Summit Challange (MSC116) Arjuno-Welirang 2019, Baksos Gabungan Besama Tim Bantuan Medis Mahasiswa Malang 2017, Volunteer Parthner of Physiotherapist Nusantarun Chapter 7 2019, terakhir Egalia terdaftar sebagai bagian dari Physiotherapist dan Medis Campus League 2019. Kegandrungannya mengikuti banyak kompetisi, baik Al Quran maupun lomba karya tulis ilmiah didukung oleh apresiasi yang diberikan UMM. Bahkan kampus ini punya tagline khusus, “Tiada hari tanpa prestasi, tiada prestasi yang tak dihargai”. Diakui Egalia, tak hanya uang pembinaan yang diperolehnya dari panitia penyelenggara lomba. UMM juga secara khusus memberikan apresiasi uang pembinaan, yang dinilainya, sangat cukup membantu pembiayaan selama kuliah di Fisioterapi UMM. (*/can)
Tim PPUPIK Prodi Peternakan UMM Kembangkan Jamu Herbal untuk Ternak

USAHA Pemerintah untuk dapat mencapai swasembada produk ternak (daging, susu dan telur) perlu didukung dengan melakukan usaha ketahanan pakan ternak di Indonesia. Sehingga, pakan untuk ternak dapat tersedia secara kontinu dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta dengan harga yang murah. Kualitas pakan ternak menentukan kesehatan ternak yang pada gilirannya mempengaruhi kesehatan manusia sebagai konsumen. Selanjutnya guna meningkatkan produktifitas ternak, penggunaan feed additive menjadi salah satu alternatif pilihan untuk ditambahkan pada pakan ternak, salah satunya adalah antibiotik. Antibiotik banyak digunakan sebagai growth promotor (AGP) dalam pakan ternak di seluruh dunia untuk memacu pertumbuhan ternak agar dapat tumbuh lebih besar dan dalam waktu yang lebih cepat serta untuk mencegah terjadinya infeksi. Namun, penggunaan AGP dalam pakan memberikan dampak negatif dan sangat merugikan, baik dari segi ekonomis maupun kesehatan masyarakat. Beberapa dampak negatif penggunaan antibiotik sintetis, antara lain membatasi pertumbuhan dan kolonisasi sejumlah bakteri usus yang menguntungkan, termasuk Lactobacillus (pensilin), Bifidobacteria (Ampicillin), Boeteroides (Clindamycin) dan Enterococci (Kanamycin). Selain menyebabkan resistensi, AGP juga sering menyebabkan residu antibiotik dalam daging dan organ-organ visceral, yang sangat mungkin bisa mengganggu keamanan pangan asal daging khususnya daging unggas. Jamu sangat memungkinkan sebagai pengganti AGP dalam pakan ternak, yang bersifat alami, tanpa efek samping, karena dalam herbal terkandung berbagai zat aktif (fitobiotik), antara lain : terpenoid, phenolic (Tanin), glikosida dan alkaloid (alkohol, aldehida, keton, ester, eter, lakton). Fitobiotik tersebut secara sinergi bisa merangsang enzim pencernaan endogen, bertindak sebagai antioksidan, agen antimikroba atau imunomodulator. Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya akan flora, ditemukan beberapa ribu jenis tanaman obat di Indonesia yang sangat potensial digunakan sebagai bahan pakan tambahan (“feed suplement”) maupun sebagai “feed additive”. Tim PPUPIK (Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus) Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah berhasil mengembangkan jamu herbal untuk ternak melalui perolehan Hibah Kementerian RISTEK/BRIN tahun 2020. Kegiatan ini dikemas dalam unit usaha dan dikembangkan di lingkungan Technopark Prodi Peternakan UMM, dengan tujuan meningkatkan peran Laboratorium Peternakan sebagai sarana penting mendukung tercapainya visi, misi dan tujuan institusi. Program ini diketuai Dr. Ir. Adi Sutanto. MM dengan latar belakang keilmuan bidang Agribisnis Peternakan. Program ini juga dikuatkan oleh tim ahli bidang Pakan Prof. Dr. Wahyu Widodo. MS., bidang Kesehatan Ternak Dr. Drh. Imbang Dri Rahayu. M.Kes., bidang Pengembangan Sumber Daya Dr. Tri Sakti Handayani. MM. dan Ahli Teknologi Pangan Apriliana Devi Anggraini. MSc. Jamu ternak PPUPIK yang dikembangkan dengan merek SIYUNA merupakan produk jamu ternak yang saat ini diformulasikan khususnya untuk ternak ayam dan sedang dikembangkan pula untuk ternak non-unggas. Tim PPUPIK Prodi Peternakan UMM juga saat ini sedang membangun kerjasama dengan pelaku usaha dan kelompok peternak yang berorientasi pada pengembangan ternak berbasis herbal. Produk jamu herbal Siyuna berbahan baku: jahe, kencur, kunyit, laos, le,puyang dan kunyit, yang ditujukan untuk peningkatan produktivitas (Siyuna Jaga Produktif), guna peningkatan nafsu makan (Siyuna Jaga Rakus) dan menjaga sehat (Siyuna Jaga Sehat). Produk jamu herbal tersebut saat ini sudah dikembangkan dan dapat dengan mudah didapatkan pada media online baik tokopedia maupun shopee. “Melalui unit usaha jamu ini juga diharapkan bisa meningkatkan ketrampilan dan pengalaman kerja bagi mahasiswa jurusan Peternakan khususnya terkait dengan program PUP di jurusan Peternakan UMM, menumbuhkan budaya komersialisasi hasil penelitian dosen maupun mahasiswa di jurusan Peternakan UMM dan membangun kerjasama dengan pelaku usaha yang bergerak dalam pemasaran produk pangan organik,” ungkap Adi, ketua program. Program Unit Usaha Jamu herbal untuk ternak ini secara umum adalah terbentuknya unit usaha di Laboratorium Peternakan berbasis produk intelektual dosen, produk jamu ternak komersial yang terjual dan menghasilkan pendapatan bagi Laboratorium Peternakan, paten, wirausaha-wirausaha baru berbasis Ipteks sehingga diharapkan dapat memberi dampak berkembang dan meluasnya budaya kewirausahaan dan pemanfaatan hasil riset maupun pendidikan di Laboratorium Peternakan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat. “Selain itu, tujuan dari program unit usaha jamu herbal untuk ternak ini adalah updating ilmu pengetahuan dan teknologi di perguruan tinggi ini pendanaannya oleh Kemenristek/BRIN dan hasil program pengembangan usaha produk intelektual kampus (PPUPIK). selain dalam bentuk kinerja yang berbasis ekonomi, capaian akademik yang dihasilkan disebarluaskan dalam bentuk artikel ilmiah dalam Jurnal/Majalah Internasional,” pungkas Adi. (*/can)
UMM-JTP Group Teken Kerjasama Pengembangan Batu Love Garden

BERTEPATAN dengan pelaksanaan Wisuda ke-97 Periode III-2020, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendandatanganan nota kesepahaman dengan tiga pihak sekaligus. Yakni yang dilakukan dengan PT Garin Agro Sejahtera untuk mengembangkan potensi bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Serta kerjasama dengan PT. Bunga Wangsa Sedjati dan PT. Bunga Cinta Sedjati dalam kaitannya dengan pengembangan bidang Eco Park dan Edu Park. Lebih khusus kerjasama yang dilakukan antara UMM dengan PT. Bunga Wangsa Sedjati ini meliputi bidang Eco Park yakni berupa community tourism dan community entrepreneur. Sementara di bidang Edu Park, yakni berupa student needs activities, student interest activities, dan bidang-bidang lainnya dalam rangka pengembangan Catur Darma UMM dan potensi PT. Jawa Timur Park Group untuk menunjang sejumlah program-program kegiatan PT. Bunga Wangsa Sedjati dan Kampus Putih UMM. Sementara itu, ruang lingkup kerjasama secara khusus antara UMM dan PT. Bunga Cinta Sedjati dalam bentuk Batu Love Garden yang berada di Jalan Raya Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Berupa garden and park development, garden and park tourism dan bidang-bidang lainnya yang tentunya juga dalam rangka pengembangan Catur Darma UMM dan potensi PT. Bunga Cinta Sedjati untuk meunjang program kegiatan UMM dan PT. Bunga Cinta Sedjati yang telah disepakati kedua belah pihak. Kerjasama di bidang Eco Park dan Edu Park ini akan ditindaklanjuti langsung oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan, Dr. Ir. David Hermawan, M.P., IPM. telah melakukan pertemuan dengan Founder and Owner Jawa Timur Park (JTP) Group, Paul Sastro Sendjojo. Mereka membicarakan pembangunan obyek wisata baru, yakni Jatim Park 4 dengan sebutan Batu Love Garden di Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Kerjasama itu dikonkritkan Jumat (23/10). David mengaku telah dimintai JTP Group untuk memberikan koreksi Master Plan terhadap pembangunan Batu Love Garden yang saat ini sedang berlangsung. Lebih jauh, FPP UMM diajak bekerja sama untuk bersama-sama merancang bangunan, konten dan teknologi dari wahana yang akan dibangun di obyek wisata. Dalam hal ini seperti taman bunga, pasar bunga, rangkai bunga dan buah, exhibition, love garden, taman 1000 air mancur, taman dunia, holtikultura, nursery serta parade bunga. Secara terpisah, Founder and Owner Jawa Timur Park (JTP) Group, Paul Sastro Sendjojo mengatakan, Jatim Park Group memilih menggandeng UMM karena membutuhkan pihak yang bisa membantu pengembangan wisata yang bisa memenuhi kebutuhan edukasi wisatawan. Selain taman bunga, buah, sayur, di dalamnya juga akan tersedia pasar ikan, ternak dan burung. Bahkan, akan didesain juga tipe rumah percontohan untuk para pensiunan dengan luas tanah sekitar 150-200 meter. Jika memungkinkan, kata David, akan didirikan green house modern. Kemudian mendirikan area percontohan close house untuk ayam petelur yang dirancang secara digital. David berharap, wahana ini akan menjadi tempat edukasi bagi petani dan peternak serta masyarakat yang peduli akan pangan nasional. “Di dalamnya juga akan di bangun tempat pembejaran berupa training center sebagai etalase edukasi pendidikannya,” jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima Republika. David menilai, terpilihnya UMM sebagai mitra JTP Group karena UMM telah dikenal berpengalaman mengembangkan sayap bisnisnya (hotel, tempat wisata, otomotif, rumah sakit, perbankan, energi. FPP UMM memiliki banyak sumber daya manusia yang bisa diterjunkan untuk pengembangan obyek wisata. Dalam hal ini seperti dosen yang ahli di bidang konstruksi, teknologi dan informasi, pertamanan, pertanian modern, peternakan, dan perikanan. Terlebih, berpengalaman mengembangkan desa wisata. (*/can)
Ami Jadi Dokter yang Juga Paham Hukum Kesehatan

MENJADI dokter Instalasi Gawat Darurat (IGD) bukannya tanpa resiko. Selain harus siap di bawah tekanan atmosfer kegawat daruratan, dokter IGD juga harus siap dibayang-bayangi oleh ancaman diperkarakan pasien atau keluarga pasien karena dugaan salah penanganan. Hal inilah yang melatari Rezky Ami Cahyaharnita, dokter IGD RSU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mantap melanjutkan jenjang pendidikan magisternya di Program Studi Magister Ilmu Hukum UMM. “Yang membuat saya tertarik mengambil magister Ilmu Hukum di UMM karena menyediakan konsentrasi kesehatan. Setau saya baru pertama yang ada di Malang. Nah, terus saya sendiri sebagai dokter IGD juga mikirnya, di IGD itu banyak banget potensi komplain dari pasien. Entah penanganan yang lama atau mungkin pasien itu tidak mengerti bahwa dokter harus menangani sesuai dengan level kegawatannya,” terang alumni Prodi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UMM tahun 2010 ini. Kedua, jika dokter sudah melakukan tindakan dan hasilnya tidak sesuai dengan harapan pasien, seringkali pasien komplain lantas memunculkan gugatan. Diakui perempuan asal Kabupaten Malang, Jawa Timur ini, Ia menyadari pentingnya seorang tenaga kesehatan untuk memahami Ilmu Hukum. Meski mengaku agak kesulitan untuk bisa menyesuaikan ritme dan materi perkuliahan Ilmu Hukum yang notabene jauh dari disiplin ilmu Kedokteran. Namun, Ami dipermudah dengan adanya matrikulasi. “Saya juga nggak mengerti sama sekali masalah hukum, benar-benar murni anak IPA terus langsung belajar IPS (Hukum, red.). Anak IPA, kan, banyak belajar ilmu pasti. Sedangkan di Hukum, kan, banyak kemungkinan-kemungkinan. Jadi belajar itu dari semester awal memang berat sekali rasanya. Matrikulasi, terus diajarin tentang dasar-dasarnya hukum. Berat sekali memang dan gak semua buku juga saya baca,” kata wisudawan terbaik UMM jenjang magister di Wisuda ke-97 Periode III tahun 2020. Bukan cuma Ami, tenaga kesehatan yang memutuskan melanjutkan Magister Ilmu Hukum di UMM. Ada 3 dokter spesialis, 2 dokter umum dan 1 perawat. Mereka merupakan angkatan pertama di Magister Ilmu Hukum UMM yang mengambil peminatan Hukum Kesehatan. Ami menjadi satu-satunya tenaga kesehatan termuda yang mengambil peminatan Hukum Kesehatan. Namun, melihat koleganya sesama tenaga kesehatan semangat, Ami terpacu menuntaskan studinya dengan serius. Sebelum mantap memutuskan untuk mengambil magister Hukum, Ami banyak belajar dari pengalaman kerja para dokter di Amerika. Lewat itu, dia mengenal istilah Defensive Medicine, di mana defensive medicine adalah suatu bentuk praktik kedokteran di mana seorang dokter akan sangat berhati-hati dan sangat memperhitungkan langkah-langkah aman bagi dirinya agar tidak gampang dipersalahkan atau dituntut pasien. Hal itulah yang membuatnya semakin yakin mengambil studi Hukum peminatan kesehatan. Pasca lulus, Ami tak ingin keilmuannya itu dikonsumsi sendirian. Ia ingin literasi seputar Hukum Kesehatan yang dimilikinya juga bisa ia tularkan kepada para koleganya di rumah sakit. Ami bahkan berminat, jika ada kesempatan untuk melanjutkan jenjang doktoral di bidang studi yang sama. Lebih jauh, pengetahuannya seputar Hukum Kesehatan ini dapat membentengi dirinya dari segala bentuk gugatan hukum yang dilayangkan kepadanya dan membantu kawannya sesama profesi tenaga kesehatan. “Saya banyak mendengar tentang para dokter yang mengabdi di luar kota atau yang di daerah 3T. Seringkali mereka disalah-salahkan karena penanganan terhadap pasien yang tidak maksimal. Keterbatasan sarana-prasarana. Jadi pelaksanaan seperti pemeriksaan penunjang nggak bisa dilakukan. Kemudian mereka kalau mungkin melakukan operasi, alatnya juga kurang sesuai dengan standard. Sementara mereka juga mungkin sudah berupaya dengan optimal,” pungkas Ami, Jumat (23/10). Ami berhasil lulus dengan predikat summa cum laude dengan IPK hampir sempurna, yakni 3,97. Dalam tesisnya, Ami melakukan Analisis Subtantif PERMENKES No. 47 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Kegawatdaruratan dalam Jaminan Kesehatan Nasional. Lebih khusus, dalam tesisnya Ami hendak menjawab pertanyaan bagaimana peraturan tersebut ditinjau dari perspektif peraturan perundang-undangan terkait kesehatan, kendali mutu kendali biaya, dan asas-asas umum good governance. (riz/can)
Dirjen Dikti: Kemajuan Dunia Ditentukan oleh Inovasi

INDONESIA sebagai negara dengan penghasilan menengah menuju kepada menengah ke atas, sangat membutuhkan sarjana-sarjana dan lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya membawa gelar kesarjanaannya, tetapi memiliki kompetensi yang kuat, memiliki jiwa profesionalisme yang unggul, sekaligus memiliki akhlak yang mulia. Hal itu disampikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. saat memberi orasi ilmiah pada Wisuda Ke-97 Periode III Tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (22/10). “Kalau kita melihat angkatan kerja di Indonesia saat ini sebagian besar lebih dari 50% baru tamatan SD dan SMP, sementara yang tamatan pendidikan tinggi masih di bawah 10%. Ingat, itu satu tantangan yang besar bagi kita semua. Jadi anda sekalian para sarjana ini merupakan bagian kecil dari angkatan kerja di Indonesia yang diharapkan menjadi penggerak utama dari kemajuan perekonomian, kemajuan sosial, budaya, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Nizam di wisuda yang digelar di Hall Dome UMM. Kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga, sambung Nizam, di negara-negara tersebut rata-rata angkatan kerjanya sudah di atas 35% yang berpendidikan tinggi. Pada saat ini, Indonesia sedang memasuki apa yang dikenal dengan bonus demografi, di mana angkatan kerja jumlahnya lebih banyak daripada anak-anak dan usia manula. “Tetapi, bonus demografi tidak serta merta menghasilkan kemajuan, meskipun kita juga sudah melihat dalam sejarahnya. Mulai dari kita lihat yang nyata sekali Jepang. Tahun 70-an dengan bonus demografinya itu berhasil membawa Jepang menjadi macannya Asia. Tetapi kemudian di tahun 90-an hingga sekarang Jepang mulai mengalami atau memasuki masyarakat yang menua atau Aging Society,” ujar Nizam secara virtual. Diikuti kemudian oleh Korea Selatan, yang di tahun 90-an memasuki bonus demografinya dan menjadi kekuatan baru ekonomi di Asia. Itu terjadi bersamaan dengan bonus demografi yang dialami oleh Korea Selatan pada tahun 1990-2000an. Sehingga tidak heran tahun-tahun tersebut Korea tumbuh dengan sangat pesat dan bahkan dalam banyak kompetisi bisa mengalahkan Jepang. Samsung misalnya, mengungguli Sony dalam produk handphone dan produk alat-alat elektronik yang lain. Demikian pula China tahun 2000-an akhir mulai memasuki bonus demografinya. Dan jika dilihat China sekarang menjadi raksasa dunia di dalam ekonomi. Itu bersamaan dengan bonus demografi yang dialami oleh China di tahun 2010-an hingga sekarang. Tapi, saat ini China pun juga mengalami Aging Society, sementara Indonesia sedang memasuki bonus demografi tersebut. “Tentu peluang ini tidak boleh kita sia-siakan. Dan anda sekalian para sarjana baru bagian dari bonus demografi tersebut, yang tentu dengan segala potensi, dengan segala kreativitas, anda sekalian akan menjadi bagian dari membangun ekonomi Indonesia yang lebih maju, membangun kesejahteraan masyarakat yang lebih makmur, serta berkeadilan. Dan tentunya mewujudkan Indonesia Raya yang kita cita-citakan bersama,” ujar Nizam. Lebih jauh Nizam menyebut, kemajuan dunia saat ini sangat ditentukan oleh inovasi. Dasar dari inovasi adalah kreatifitas. Kreatifitas dan inovasi akan lahir dari perguruan tinggi ketika para sarjananya memiliki jiwa merdeka. Mempunyai semangat untuk terus berkreasi dan semangat untuk mengembangkan ilmu teknologinya, serta mendharma bhaktikan ilmu teknologinya itu untuk kemajuan bangsa dan negaranya. “Saya yakin anda sekalian dengan bekal dari Universitas Muhammadiyah Malang, Anda sekalian sudah mendapat bekal yang cukup dari segi kompetensi dan dari sisi akhlak. Tinggal bagaimana anda sekalian memanfaatkan bekal tadi untuk membangun masa depan anda sekalian,” pungkas Nizam. (mid/can)
Kemenko PMK: Inovasi Pertanian UMM Layak Dimanfaatkan secara Nasional

DEPUTI 2 Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah dan Penanggulangan Bencana Kemenko PMK Mayjen TNI (Purn.) Dody Usodo Hargo S., S.IP., MM. melakukan kunjungan lapang terkait peluang pemanfaatan inovasi pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (21/10) kemarin. Lebih jauh, kunjungan lapang tersebut dalam rangka penjajakan dan melihat berbagai inovasi pertanian yang tengah dikembangkan oleh sivitas akademika UMM. Dody didampingi langsung Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., diajak berkeliling ke berbagai tempat yang digunakan untuk pengembangan inovasi pertanian. Di antaranya ke Smart Farming dan Edupark yang dikelola Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM. Tak hanya diajak ke berbagai tempat pengembangan inovasi pertanian, UMM sebagai kampus pelopor Energi Baru Terbarukan (EBT), Dody juga diajak melihat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling. Ketika berada di UMM Dody, Rektor UMM serta rombongan diajak untuk mengunjungi beberapa tempat seperti Smart Farming, Edupark FPP Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) serta Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling. Di lokasi Smart Farming, Dody langsung ditunjukkan pesawat tanpa awak atau drone hasil pengembangan dosen FPP UMM, Dr. Wahono, yakni Motodoro SRI yang terbang melenggang menyirami tanaman pada lahan yang dilintasi. Setelah itu, rombongan menuju ke Edupark FPP dan meninjau ke beberapa laboratorium seperti Fish Edupark, tempat Produksi Riset Nasional (PRN)-UMM, tempat Produksi Ayam Kampung Super, Experimental Farm, dan Akuaponik. Agenda kunjungan lapang ini berlangsung gayeng dengan diakhiri makan bersama berbagai hasil produk inovasi pertanian yang dikembangkan FPP di Edupark. Sebagai penutup agenda kunjungan lapang, rombongan berangkat dan meninjau PLTMH. Setelah melihat berbagai inovasi pertanian yang ada di UMM, Dody secara khusus mengapresiasi banyak hal yang tengah dikembangkan UMM. Bahkan Dody menilai layak melaku ke nasional. “Saya sangat mengapresisi hal-hal yang ada di sini. Secara jujur, saya rasa, saya belum pernah melihat inovasi-inovasi seperti ini sekalipun itu di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Berbagai inovasi yang ada di sini layak untuk melaju (untuk dimanfaatkan) ke nasional,” ungkap Dody Usodo. Ditemui di sela kunjungan lapang, Dekan FPP UMM menyambut positif kunjungan Dody untuk melihat peluang pemanfaatan inovasi pertanian milik UMM. “Setelah meninjau beberapa tempat yang ada di UMM, mereka cukup kaget karena kita memiki semua yang diperlukan untuk kebutuhan pangan dan teknologi di Indonesia. Dan tentunya ini akan menjadi referensi dalam pembangunan mereka bahwa inovasi pertanian kita bisa diaplikasikan secara nasional,” ungkap David. (riz/can)