Tambah Guru Besar Baru Bidang Pangan dan Logistik

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) punya dua Guru Besar baru di Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian-Peternakan. Hal itu diumumkan saat penyerahan Surat Keputusan Guru Besar oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Jawa Timur di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (16/7). Keduanya yakni Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. dan Prof. Dr. Prof. Ilyas Masudin, ST., MLogSCM.Ph.D. Elfi sendiri mendapat Surat Keputusan Mendikbud menjadi Profesor atau Guru Besar di bidang Teknologi Hasil Pangan (THP). Sementara Ilyas sendiri menjadi Profesor atau Guru Besar di Bidang Logistik dan Rantai Pasok. Kepala LLDikti Wilayah VII Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA. yang menyerahkan langsung Surat Keputusan tersebut kepada keduanya. Disaksikan seluruh pejabat stuktural dan dosen masing-masing fakultas. Penyerahan juga dapat disaksikan oleh sivitas akademika Fakultas Teknik dan Fakultas Peternakan-Pertanian lewat Zoom. Baca juga: Dosen Ilmu Komunikasi Terbitkan Buku ke-21 Beberapa karya Elfi banyak berhubungan dengan pewarna makanan alami yang berasal dari pigmen bunga. Tak tunggung-tanggung hasil penelitian Ketua Halal Center tersebut pernah menembus The Five Best Poster Product Halal Excelent at World Halal Research Kuala Lumpur serta menjadi reviewer jurnal internasional. Sementara, Ilyas merupakan dosen Teknik Industri yang menjadi dosen pertama yang mendapat status sebagai ASEAN Engineer. Lisensi itu diterima dosen yang menyelesaikan pendidikan doktoral di RMIT University, Melbourne, Australia ini saat menghadiri konferensi ke-36 The ASEAN Federation of Engineering Organisations. Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. sendiri menyatakan, UMM sudah mencanangkan program Guru Besar Asuh, dimana Guru Besar yang telah ada diminta untuk mendampingi para dosen untuk segera mengurus jabatan fungsional tertinggi dosen ini. Program ini dalam rangka mengakselerasi jumlah Guru Besar yang ada. Suprapto dalam sambutannya menyatakan, prosentase jumlah Guru Besar di Jawa Timur tiga persen dari jumlah nasional sebanyak 6 ribu orang. Tahun ini, secara pribadi Suprapto menargetkan 4 persen dari keseluruhan nasional. “Ini sangat memungkinkan. Target ini memicu saya untuk bekerja lebih giat lagi,” ungkapnya. (can)
Buku Tulisan Bersama Dosen UMM Diapresiasi Wapres RI

WAKIL Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin melaunching buku Pandemi Corona: Virus Deglobalisasi (13/7). Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. turut berkontribusi di dalamnya. Buku yang diinisiasi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini merupakan pesan dari para ahli cendekia di berbagai bidang baik ekonomi, sosial, budaya, agama, bahkan juga kesehatan yang menceritakan kegelisahan terkait Covid-19. “Pertama saya ingin mengucapkan terimakasih, karena saya tidak menduga artikel saya yang dimuat di harian cetak Republika, yang sebenarnya artikel ringan yang biasa saya tulis habis subuh, bisa ditulis di buku bergengsi ini.Terimakasih kepada INDEF dan kita semua,” ungkap Syamsul yang merupakan Wakil Rektor I yang membidangi Akademik dan Pengembangan al-Islam-Kemuhammadiyahan ini. Dalam tulisannya, Syamsul menyoroti perbedaan sikap terhadap krisis di masa pandemi Covid-19. “Tulisan saya di buku ini tentang sikap ke pengingkaran (denial) masyarakat pada awalnya, kemudian kemarahan (anger) yang memunculkan depresi (depression). Karena pandemi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, lebih-lebih juga kepada dampak ekonomi. sekarang ini banyak orang yang depresi mengahadpi pandemi tetapi juga mau tidak mau kita harus maju ke tahapan acceptance (harus menerima) dan sudah muncul suatu konsep yang disebut New Normal,” demikian dijelaskan Syamsul. Disebutkan Syamsul yang merupakan pakar di bidang Sosiologi Agama tersebut, krisis ini sebagai krisis dimensional yang mungkin lebih mengerikan dibandingkan krisis tahun 1998 atau 2008. “Kami yang di perguruan tinggi swasta merasakan sekarang dampaknya. “Ada persoalan yang kami hadapi akhir-akhir ini, yang pertama adalah menswitch pembelajaran yang semula itu luar jaringan, face to face, menjadi dalam jaringan karena kita ingin mengurangi penyebaran Covid 19 ini,” pungkas Syamsul. Wapres RI Ma’ruf Amin dalam penyampaiannya menyatakan bahwa pandemi Covid 19 ini, tidak mungkin ditangani sendiri oleh pemerintah. Ia mengaku sangat menghargai inisiatif INDEF dalam menerbitkan buku ini. Dinilai Ma’ruf, buku ini sangat lengkap sebagai panduan untuk pemerintah dan masyarakat, karena merupakan kumpulan pemikrian banyak pakar ekonomi, sosial dan budaya yang secara bersama-sama menyampaikan gagasan dari proses bersama penanganan pandemi Covid 19. “Saya juga menilai berbagai rekomendasi yang dibawakan buku ini sejalan dengan apa yang dilakukan pemerintah saat ini. Artinya saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Saya meyakini buku ini bermanfaat bagi banyak pihak, terutama bagi para pengambil kebijakan yang sedang bergulat dalam mengakhiri pandemi. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah menjadi kontributor buku ini, semoga semua ikhtiar yang dilakukan mendapat ridho Allah SWT,” ungkapnya. (riz/can)
Dosen Ilmu Komunikasi Terbitkan Buku ke-21

DOSEN Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurudin, M.Si. baru saja menerbitkan bukunya yang ke-21. Buku setebal 214 halaman ini diberi judul Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus. Buku yang dibandrol penerbit Prenada seharga Rp 60.000 ini bisa dibeli di toko buku terkemuka di seluruh Indonesia dan dapat juga dibeli secara online. Menurut Nurudin, buku ini berbeda karena banyak menyoroti kebijakan pemerintah. “Saya itu konsisten sejak menulis tahun 1991. Konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah. Sejak dahulu. Saya yakin pasti ada kekurangannya. Saya kadang tak peduli dianggap haters. Tetapi saya tetap konsisten. Ini bukan soal kubu-kubuan. Tidak ada hubungannya. Boleh dilihat tulisan-tulisan saya dahulu. Sebab dimanapun dan kapanpun pemerintah membutuhkan kritik,” ungkapnya. Kritik ini menurut Nurudin adalah sebuah masukan, karena tanpa menilai kritik sebagai masukan, kritik selamanya akan dianggap sebagai rongrongan. “Kritik tetaplah kritik yang punya takdirnya sendiri,” imbuhnya. Tak hanya menulis buku, ia juga kerap ‘memprovokasi’ mahasiswa untuk semangat menuliskan karyanya. Pada Kamis (16/7) nanti, ia bahkan akan melaunching 10 buku karya mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi hasil “provokasi’’-nya. Judul bukunya yang unik ini, Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus, punya latar belakang tersendiri. Buku ini sebenarnya adalah hasil pengamatan Nurudin atas fenomena komunikasi politik yang selama ini terjadi. Ia menilai, seperti ada ketidaktulusan dalam berkomunikasi. Tidak tulus ini tidak hanya terjadi di masyarakat, tetapi juga pemerintah. Misal, masyarakat saling caci, kubu-kubuan. Seolah kelompok dirinyalah yang paling benar. Buntutnya saling menyalahkan. Menurutnya, itu adalah bentuk komunikasi tidak tulus. Lalu ia juga menilai, pemerintah juga tidak tulus. Misalnya membuat kebijakan tidak tegas. “Lihat kasus covid-19. Betapa karut-marutnya komunikasi pemerintah sejak awal muncul. Tak ada sinkroniasi antar lembaga. Ini kan tidak baik bagi proses kebijakan. Hasilnya? Saat negara lain sudah turun yang terkena wabah, kita masuk melaju,” kritiknya. Dikenal sebagai dosen yang sangat produktif menulis, bukan berarti ia tak menemukan kebosanan dalam membuat karya. Sebab diakuinya menulis itu capek dan membutuhkan konsentrasi tinggi, juga monoton. Dia membagi tips bagaimana melawan kebosanan tersebut. Ia menyarankan untuk menulis dengan cara mencicil, tidak perlu sekaligus. Saat sibuk, ia biasakan untuk menulis satu halaman. Biasanya ia menuliskannya di handphone. Penting baginya untuk tetap menulis. Pokoknya menulis, begitu prinsipnya. Sebab ia meyakini bahwa setiap tulisan punya pasar pembaca sendiri-sendiri. Ia juga meyakini bahwa dengan menulis adalah cara untuk menebar kemanfaatan. “Karena saya mampunya menulis, jadi saya berusaha konsisten untuk menulis. Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa dengan menulis saya bisa membantu mengenalkan tak hanya keilmuan komunikasi namun juga mempromosikan kampus ke khalayak luas,” tuturnya. (wnd/can)
UMM Tholabul Ilmi ke Pondok Gus Baha

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) punya tradisi tholabul ‘ilmi ke sejumlah tokoh, cendekiawan, negawaran hingga ulama di Indonesia. Kali ini (14/7), rombongan Kampus Putih bertandang ke salah satu ulama kharismatik, KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha yang merupakan pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah. UMM mengirimkan dosen dan karyawan untuk mengikuti pengajian di pesantren yang diasuh Gus Baha di Narukan, Kragan, Rembang ini. Kedatangan rombongan Kampus Putih ini selain untuk tholabul ilmi juga untuk mengadakan pengajian dalam jaringan (daring/online) yang dapat disaksikan di akun resmi YouTube UMM, UMMTube. Beberapa jam siaran pengajian ini diunggah, sudah ditonton lebih dari 20 ribu kali. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memimpin langsung rombongan. “Silaturahmi ini merupakan cara kami untuk tholabul ‘ilmi. Biasanya kami mengundang, tapi juga biasanya bersilaturahmi. Alhamdulillah, pagi ini kita bisa bersilaturahmi. Kehadiran kita bersama dalam rangka untuk menambah wawasan keilmuan kita, khususnya adalah memperbaiki cara beragama kita. Mudah-mudahan menjadi kaffah,” ungkap Fauzan. Pengajian Gus Baha selama ini sangat digemari. Karena semua materi disampaikan secara jelas dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Selain itu melalui uraian Gus Baha, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyampaikan materi Gus Baha juga banyak humor-humor cerdasnya. Tak heran Gus Baha dikagumi oleh banyak masyarakat Islam dari lintas organisasi. Selain itu melalui uraian di setiap pengajian Gus Baha, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyampaikan materi ulama nusantara ini juga banyak diselipkan humor-humor cerdasnya. Tak heran Ia dikagumi oleh masyarakat Islam dari lintas organisasi. Kehadiran Gus Baha menjawab kebutuhan umat di tengah banyaknya da’i atau pendakwah yang kering dalam menyampaikan ajaran Islam. Rektor Dr. Fauzan, M.Pd. lantas menyebut pentingnya untuk mengkaji Islam dari banyak tokoh. Mengkaji dalam rangka belajar untuk tidak hanya memahami satu sisi dari ajaran agama Islam. Satu versi dari ajaran agama. “Akan tetapi agama ini diturunkan untuk semua, maka terjadinya perbedaan ijtihad-ijtihad para ulama itu pada dasarnya menjadi rahmat bagi semester alam. Rahmatan lil’alamin,” ungkapnya. Dalam pengajiannya, Gus Baha menyebut belakangan ini banyak dai yang mengklaim, dirinya mengajak ke Allah dan Rasul. Tetapi sesungguhnya hakikatnya mengajak ke kelompoknya sendiri. “Saya ini termasuk kiayi yang masih orisinil. Artinya, suatu saat saya tidak laku lagi sebagai kiayi, asal Islam jalan saya senang. Karena nggak penting yang popular saya itu nggak penting. Yang penting agama Islam jalan,” katanya. Gus Baha dalam inti pengajiannya juga mengajak para jamaah pengajian yang hadir untuk berkaca dari kemahsyuran ulama-ulama Nusantara terdahulu. Banyak fatwa ulama Nusantara yang dipakai oleh kelompok yang justru dianggap berseberangan. Sebutlah Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Nawawi Banten, atau Syaikh Bagir Nur Jogja. Mereka, berhasil menampilkan wajah agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan menyitir cerita gurunya KH. Maimun Zubair, yang menafsir Al Quran surat al-Anbiya ayat 107: Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin. Yang artinya, “Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. Disebutkan, dalam ajaran Agama Islam, perbedaan manusia berdasarkan agama, suku, etnis dan ras tidak berlaku bagi risalah kerasulan Nabi. “Allah itu pasti bikin ulama yang tidak produk arab. Itu pasti ada. Kalau orang arab jadi ulama itu wajar. Bahasanya Arab, domisilinya di arab. Tapi Allah akan selalu bikin ulama yang tidak bangsa Arab. Kenapa, kata Mbah Mun, manusia ini semua kena khitabnya Islam. Kalau tidak ada ulama yang dari berbagai negara, kesannya agama Islam ini hanya milik orang Arab. Itulah kenapa Allah bikin ulama non-arab,” ceritanya. Karena, sambung Gus Baha, Allah ingin memaklumatkan bahwa orang yang bukan Arab pun bisa belajar Islam yang alimnya tidak kalah dengan orang Arab. “Ini pekerjaan rumah kita bersama. Bagaimana agar orang Arab juga bisa belajar Islam di Indonesia. Bahkan saat ini liga umat Islam dunia juga orang Indonesia masuk di dalamnya. Saya berharap ulama ini bisa lahir dari Malang, terkhusus dari UMM,” harapan Gus Baha. (can)
Buat Alat Siram Cerdas untuk Kampung Tangguh Pasuruan

MAHASISWA program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Bhaktimu Negeri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat Alat Penyiraman Otomatis di Kampung Tangguh Sekar Asri, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Alat penyiraman otomatis ini menggunakan sistem Piranti Cerdas (Artificial Intelligence) dengan menghubungkan sensor kelembapan tanah sebagai pendukung keputusan untuk menghidupkan pompa air untuk menyirami tanaman warga. “Kami bekerja sama dengan program Kampung Tangguh yang ada di daerah Sekar Asri. program kampung tangguh sendiri merupakan gagasan oleh pemerintah bersama dengan Polri untuk menanggulangi bencana (Covid-19) yang kegiatannya berupa penegakan disiplin protokol kesehatan, membentuk ketahanan pangan, dan mengurangi angka kriminalitas,” ujar Kharisma Muzaki Ghufron, koordinator Kelompok. Latar belakang dibuat alat ini yaitu keprihatinan melihat tanaman di taman umum, yang sering kali pada siang hari tidak ada yang menyiram. Senada dengan tujuan dibentuknya Kampung Tangguh, sehingga kelompok ini membuat solusi penyiraman otomatis agar tanaman ini tetap terjaga dan terawat dengan baik. Tanaman yang di tanam sendiri ada berbagai macam, umumnya sebagai bahan dapur seperti kangkung, bayam merah, dan tomat yang bisa dinikmati oleh warga. Untuk membuat alat penyiraman otomatis, kelompok ini menggunakan alat-alat pendukung piranti cerdas seperti Arduino Uno. Piranti ini diprogram untuk mengambil keputusan apakah pompa air perlu dihidupkan atau dimatikan. Ada juga piranti relay sebagai pemutus dan penyambung arus listrik yang terhubung dengan pompa air, dan soil capacitive moisture censor sebagai pengukur nilai kelembapan tanah. “Arduino Uno kami program dengan pendekatan kecerdasan buatan menggunakan logika Fuzzy, sehingga bisa mengenali ukuran kelembapan tanah menjadi tiga variabel yaitu kering, sedang, dan basah,” ungkap Muzaki, mahasiswa Program Studi Informatika ini. Mereka berharap dengan adanya alat ini dapat membantu proses pertumbuhan tanaman sehingga tanaman dapat dipanen dengan baik dan dinikmati warga. Dengan begitu bisa dibentuk ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19. “Kelebihan alat ini daripada yang lain adalah alat melakukan penyiraman ke tanaman berdasarkan data real nilai kelembapan yang ada pada tanah, sehingga alat bisa segera mengambil keputusan untuk segera melakukan penyiraman atau tidak,” ujar Muzaki. Muzaki tidak sendirian, ia membuat alat siram cerdas ini bersama anggota kelompok 48 PMM UMM lainnya, yakni Nadia Dwi Pratiwi, Program Studi Farmasi; Ilyasa Swasdika, Program Studi Teknik Mesin; Ilham Ramadhan, Program Studi Teknik Mesin dan; Sasi Fitria Asmaningrum, Program Studi Ilmu Pemerintahan. Selain itu, kelompok yang didampingi Sendi Lia Yunita, S.Farm., Apt., M.Sc dosen Program Studi Farmasi UMM ini juga berpartisipasi dalam kegiatan Kampung Tangguh lainnya seperti: penegakan protokol kesehatan dengan melakukan kegiatan bagi-bagi masker gratis, melakukan penanaman hidroponik pada fasilitas taman umum, sosialisasi tata cara beraktivitas di tengah masa peralihan (new normal), dan melakukan kegiatan pembagian sembako dan masker gratis kepada warga masyarakat. (*/can)
Dosen UMM Terbitkan Buku di Amsterdam, Belanda

MELALUI kerjasama Program Studi Hukum Keluarga Islam dan Laboratorium Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dihelat diskusi mengenai buku karangan Pradana Boy ZTF, PhD, yang bertajuk “Fatwa in Indonesia: An Analysis of Dominant Legal Ideas and Mode of Thought of Fatwa-Making Agencies and Their Implications in the Post-New Order Period.” Diskusi ini dipandu oleh Hasnan Bachtiar, M. Arif Zuhri dan Yana S. Hijri. Buku ini diterbitkan oleh Amsterdam University Press pada 2018, yang berbasis disertasi doktoral penulisnya. Pradana Boy ZTF, PhD, selaku penulis, menamatkan pendidikan terakhirnya di National University of Singapore (NUS). Sementara itu, gelar sarjana dan magisternya berturut-turut diselesaikan di Jurusan Syariah UMM dan The Australian National University (ANU). Secara substansial, buku ini menyatakan bahwa sesungguhnya dalam produksi fatwa di Indonesia, sangat dipengaruhi oleh tiga institusi pembuat fatwa: Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Sementara itu, dalam dinamika pembuatan fatwa, pemikiran keagamaan konservatif dan tradisional mewarnai secara dominan. Sedangkan pemikiran progresif, kendati ada, namun perannya cenderung marginal. Sang penulis memanfaatkan analisis sosiologi hukum dan sosiologi pengetahuan (Karl Mannheim) dalam meramu konsep-konsep ilmiah mengenai praktik fatwa. Ia menyatakan, “Sebenarnya pengetahuan individual berbeda dengan pengetahuan komunal, terutama dalam institusi pembuat fatwa yang secara sosial dipengaruhi oleh situasi politik tertentu.” Yang menarik, fakta mengenai perbedaan jenis pengetahuan (perorangan dan institusi), bisa memproduksi pengetahuan yang tidak selamanya berjalan beriringan. Misalnya di dalam MUI, ada banyak Mufti yang progresif, namun fatwa institusional yang dihasilkan cenderung konservatif. Lebih dari itu, bedah karya kali ini tidak hanya mengupas secara singkat tentang tesis dan argumentasi dari karya yang diajukan, namun juga proses kreatifnya. Pradana menjelaskan betapa studi doktoral yang memakan waktu lama, sangatlah berat. Ia mengungkapkan, “Saya harus bertapa tinggal di study room pascasarjana NUS berhari-hari bahkan di saat liburan, di mana jarang ada mahasiwa datang ke kampus.” Lalu selama mengerjakan tugas akhirnya itu, ia bercerita bahwa, “Proses supervisi yang dilalui dengan profesor pembimbing (Prof Aisha Abdulrahman), dilakukan dengan sangat ketat, bahkan baris demi baris kalimat, setebal lebih dari lima ratus halaman.” Setelah disertasi selesai dan dinyatakan lulus, ia mengerjakan proses publikasinya di Amerika. “Saat itu, saya sedang duduk di University of Massachusetts Amherst, sembari mengikuti kursus singkat tentang ilmu politik,” tuturnya. “Proses review yang berlangsung, berlipat-lipat lebih berat dari disertasi,” lanjutnya. Di akhir bedah buku, ia berpesan kepada para calon sarjana bahwa, “Studi yang kita tempuh, penting kiranya mengedepankan etos kerja ilmiah yang penuh kesungguhan dan integritas akademik yang kuat.” Karena itu, hal yang harus diperhatikan adalah mengenai orisinalitas (keaslian), kejujuran dan novelty (keistimewaan). Apa yang disebutkan terakhir itu, berkaitan erat dengan refleksi yang bersifat individual. Jadi, novelty, sebenarnya bisa lahir dari hasil “pertapaan” yang sungguh-sungguh. (has/can)
10 Paper Mahasiswa UMM Lolos di Jurnal Thailand

SEBANYAK 10 karya ilmiah mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tembus di beberapa jurnal di Thailand yang terindeks Tier 2 oleh TCI (Thai-Journal Citation Index Center). Untuk diketahui TCI adalah lembaga pengindeks karya ilmiah yang menentukan kualitas publikasi yang dihasilkan oleh sebuah lembaga. Di Indonesia, TCI ini seperti SINTA, hanya saja TCI ini lebih ‘senior’. Kesepuluh mahasiswa yang lolos di jurnal Tier 2 ini merupakan sebagian dari mahasiswa yang mengikuti Student Exchange Program di Khon Kaen University, Thailand. Hal ini merupakan wujud dari upaya internasionalisasi prodi IP yang telah diawali sejak tahun 2016 lalu. Kaprodi llmu Pemerintahan, Muhammad Kamil, M.A mengatakan ada 15 mahasiswa IP yang mengikuti program pertukaran pelajar ini. “Disana mereka tidak sekedar belajar, namun juga membuat riset dan melakukan KKN tematik internasional. Kami juga sedang menunggu kabar empat naskah lain yang sedang kami ajukan ke jurnal internasional terindeks Scopus, semoga ada kabar baik,” ungkap kaprodi termuda di FISIP UMM ini. Kesepuluh mahasiswa IP yang berhasil menembus jurnal terindeks Tier 2 ini diantaranya adalah Ardika Rizkian Nurrahmat, Vanni Tara Kartika, Riko Ratna Setiawan, Rezkita Bagas Prakasih, Imam Yusuf Abdulah dan Maulana Ilham Putra Resgi yang berhasil meloloskan karya ilmiahnya di Journal of Social Science for Local Rajabhat Mahasarakham University Vol. 4 No. 1. Ada juga Riyo Rachman Gushardana dan Amirah Zahidah berhasil menembus Journal of Local Governance and Innovation Vol.4 no.1 sedangkan Ibnu Zihab Amrullah dan Sandy Putra Ghozali berhasil lolos di Journal of Legal Entity Management and Local Innovation vol.6 no. 2. Semua jurnal tersebut terakreditasi dan terindeks Tier 2 oleh TCI. Sandy Putra Ghozali, mahasiswa IP angkatan 2017 mengkaji sebuah riset yang berbasis pada studi kasus di dua negara yaitu Indonesia dan Thailand. Risetnya ia beri judul Civil Society Participation in Efforts to Uphold Democracy Under Authoritarian Regimes: A Case Study of Thailand and Indonesia. Menariknya, paper yang dipublikasikan pada 29 April tersebut dibimbing oleh kolaborasi dosen UMM dan dosen Khon Kaen University. “Jadi saya dibimbing intensif selain oleh pak Kamil dan pak Saiman (dosen IP, red) juga oleh Siwach Sripokangkul, dosen di College of Local Administration, Khon Kaen University. Tantangannya selain harus menemukan isu yang menarik juga paper saya dan teman-teman ini semuanya harus ditulis dalam Bahasa Inggris,” ujar Sandy yang mengikuti program student exchange di Thailand selama empat bulan ini. Kamil juga mengakui bahwa tidak mudah untuk tembus jurnal di Thailand apalagi terindeks TCI. “Mereka jatuh bangun menulis itu (paper, red), banyak juga yang mau menyerah. Namun saya terus motivasi mereka agar tetap melanjutkan projectnya. Sebelum mereka berangkat ke Thailand, saya dampingi mereka untuk menyusun isu riset setiap hari Kamis secara kontinyu. Lalu saya mengarahkan arah penulisannya. Selanjutnya ketika mereka di Thailand, ada kolaborasi pendampingan oleh dosen Khon Kaen University,” jelasnya. Terkait prestasi mahasiswa-mahasiswa tersebut, Kamil berjanji akan memberikan apresiasi. Beberapa artikel yang memenuhi syarat akan diekuivalensi ke karya pengganti skripsi sesuai arahan rektor yang tertuang dalam Keputusan Rektor Nomor 32 Tahun 2017 Tentang Ekuivalensi Karya Kreatif dan Inovatif Mahasiswa ke Dalam Kegiatan Kurikuler. Hingga saat ini di Prodi Ilmu Pemerintah, sudah ada 29 karya ilmiah yang diekuivalensi sebagai tugas akhir karya pengganti skripsi. (*can)
Mahasiswa UMM Menangi Kejuaraan Bulu Tangkis Jawa Timur

MAHASISWA Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Lukman Inkgrit menjadi Juara 1 Tunggal Dewasa Putra dalam Kejuaraan Bulu Tangkis Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2020 yang digelar di GOR Sumekar Sumenep-Madura. Terkait kemenangannya, Lukman yang merupakan mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan ini mengaku cukup kaget. Ia tak menyangka bahwa keikutsertaanya dalam pertandingan ini berbuah manis. Lukman menyisihkan 384 peserta dari seluruh daerah yang ada di Provinsi Jawa Timur. “Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis ada lembaga semi otonom yang mewadahi minat bakat saya dalam dunia olahraga,” ujar Lukman. “Kemenangan ini didukung fasilitas olahraga dan lembaga mahasiswa yang membuat saya lebih semangat mengikuti pertandingan ini,” ungkap Lukman bersemangat. Lukman memang menyukai olahraga ini sejak dia masih di bangku sekolah pendidikan dasar, berawal dari hobbi kemudian dia asah sendiri sampai masuk perguruan tinggi. Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM, Lukman dibekali dengan fasilitas olahraga di bawah naungan lembaga semi otonom mahasiswa Student Sport Association of Economic Faculty (SPOTEC). “Dia adalah mahasiswa yang rajin dari sisi akademik dan non akademik,” ungkap Sri Wahyudi selaku pembina kemahasiswaan yang merupakan dosen prodi Ekonomi Pembangunan. “Harapan besar dari kemenangan Lukman ini semoga bisa menjadi panutan bagi mahasiswa untuk menyeimbangkan antara kemampuan di dalam bidang akademis dan non akademis,” tandas Sri. (*can)
Kaji Kontribusi Masyarakat Pedesaan Melawan Covid-19

su kontribusi pada pencegahan covid-19 masih menjadi fokus perhatian FISIP UMM dalam Webinar Sosiologi dalam Seminar Nasional yang digelar oleh FISIP Unsri pada hari ini, Selasa (7/7) melalui aplikasi zoom. Pakar gerakan sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Oman Sukmana, M.Si, didapuk menjadi salah satu pembicara utama dalam webinar tersebut. Kaprodi Kesejahteraan Sosial tersebut membawakan topik Gerakan Sosial Masyarakat Pedesaan dalam Melawan Covid-19. Diikuti oleh sekitar 110 peserta dari seluruh Indonesia, Oman memaparkan bagaimana gerakan sosial berkontribusi dalam melawan covid-19. Ada banyak jenis gerakan sosial. Tidak selamanya gerakan sosial itu berperspektif negatif, misalnya identik dengan perlawanan atau pemberontakan tentang suatu hal. Gerakan sosial berbasis kesadaran, peduli pada orang lain, adalah ciri khas new social movement. Sedangkan gerakan sosial yang cenderung dalam konteks melawan atau memberontak, adalah tipe gerakan sosial yang lama alias old social movement. Di sisi lain perilaku kolektif yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat tidak selalu merupakan sebuah gerakan sosial, faktor pembedanya adalah masalah durasi. Jika aksi tersebut bertahan lama itu adalah sebuah gerakan sosial, jika sementara bisa jadi itu hanya perilaku kolektif. Sebagai bagian dari masyarakat, masyarakat pedesaan ternyata juga memiliki peran penting dalam melawan penyebaran covid-19. Jamak kita ketahui, melalui pemberitaan media sosial, banyak desa yang kemudian membatasi akses masuk desa dan mengkarantina pendatang. Bahkan tingkat kewaspadaan terhadap orang lain menjadi meningkat selama masa pandemi ini. Dalam konteks melawan Covid-19, apakah masyarakat pedesaan tersebut melakukan gerakan sosial atau hanya sekedar perilaku kolektif? Menurut Oman, gerakan sosial masyarakat pedesaan sudah melebih perilaku kolektif karena diorganisir, ada pertimbangan masyarakat untuk melakukan sesuatu dan bertahan lama. Ini sesuai dengan ciri khas gerakan sosial. “Masyarakat pedesaan melakukan aksi bersama dalam melawan covid-19 sebenarnya bisa dipahami dalam berbagai perspektif teoritik, mobilisisasi sumber daya dan new social movement theory berbasis teori identitas. Jika kita ingin aksi kolektif masyarakat menjadi sebuah gerakan sosial yang berhasil, ada sejumlah faktor determinan yang harus dikuatkan,” ungkap Oman Sukmana. Ia menyebut harus ada tindakan pengorganisasian gerakan sosial, harus ada leader atau aktor, juga harus ada mobilisasi sumber daya misalnya finansial juga aspek pengetahuan dan hal-hal yang mendukung gerakan. Selain itu juga harus ada partisipasi dari partisipan gerakan. Selain faktor determinan tersebut juga perlu memperhatikan aspek identitas kolektif, solidaritas dan komitmen dari masyarakat pedesaan. Selama ini kan ada indikasi masyarakat yang merasa sehat itu tidak terlalu peduli dan cenderung merasa dirinya baik-baik saja. Ini menunjukkan solidaritas di kalangan masyarakat yang kurang maksimal, khususnya masyarakat yang merasa sehat untuk membangun solidaritas pada masyarakat lain,” imbuhnya. Namun Oman mengkritik, meski tindakan aksi masyarakat pedesaan ini sudah menjadi sebuah gerakan sosial, namun kesadaran kolektif masyarakat masih kurang sehingga perlu dimaksimalkan. (wnd/can)
UMM Fasilitasi Siswa SMA Trik Raih Skor Tinggi Tes Bahasa Inggris

Meraih skor tinggi dalam tes kemampuan bahasa Inggris merupakan kompetensi yang menjanjikan. Pasalnya, beberapa instansi pendidikan dan funding beasiswa mensyaratkan pelamar untuk memiliki skor setara 500 dalam tes TOEFL. Inilah yang menjadi perhatian Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM menyelenggarakan kelas virtual (virtual class) untuk memfasilitasi siswa SMA trik meraih skor tinggi tes Bahasa Inggris. Dimoderatori oleh Riski Lestiono, M.A, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang acara bertajuk ‘Powerful Ingredient to Score a Language Test’ ini diikuti oleh siswa SMA (7/7/2020). Memulai acara, Hastirin Widi Astuti, pemateri kunci pada virtual class ini menjelaskan materi tentang simple tense, modal verbs, expletive construction, dan gerund. Selain itu, Widi juga memaparkan penggunaan teori yang disampaikan ke dalam contoh konteks penggunaannya. Selanjutnya, Widi, begitu ia akrab disapa, menjelaskan bahwa tidak semua 16 tenses akan muncul pada soal TOEFL, melainkan hanya beberapa saja. Ada tiga tenses yang sering muncul pada tes TOEFL di antaranya simple present tense, yakni untuk mengetahui test takers berasal dari berbagai latar belakang keilmuan. Kedua, past tense, yaitu soal terkait dengan histori yang pernah terjadi di Amerika atau Canada. Ketiga, present perfect, yaitu kegiatan yang masih terjadi sampai sekarang. Widi, alumnus University of Queensland Australia itu menekankan bahwa untuk tenses seperti present continues jarang sekali dijumpai di tes ETS (lembaga resmi TOEFL). “Untuk itu peserta tes tidak perlu mengafal dan mempelajari semua tenses,” papar dosen Universitas Negeri Malang itu. Pada praktiknya, saat masa persiapan, peserta tes tidak perlu menghafal semua gramatika bahasa Inggris, cukup sering membaca saja. Menurutnya, dengan sering membaca, seseorang akan lebih mudah mengenal dan memahami teori. Ia pun menyarankan bagi peserta tes agar setidaknya melakukan persiapan sekitar tiga atau empat bulan sebelum mengambil test. Bagaimanapun, hal itu tergantung dengan nilai tes awal seorang peserta. Memotivasi peserta virtual class, Widi menggaris bawahi bahwa faktor suksesnya seseorang berhasil mendapatkan nilai tinggi pada tes TOEFL tak hanya karena faktor guru atau instruktur, melainkan motivasi seseorang untuk sukses meraih apa yang ingin ia capai. Acara ini disambut positif oleh salah satu peserta atas nama Pratiwi Bahar. “Kedepan saya berharap virtual class diikuti dengan latihan mengerjakan soal,” papar perempuan asal Mamuju, Sulawesi Barat itu. (*can)