Kembangkan Wisata Baru, JTP Group Gandeng FPP UMM

Satu tempat wisata baru akan berdiri di Kota Batu, Jawa Timur Park (JTP) Group akan mendirikan Jatim Park 4 yang diberi nama Batu Love Garden di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Terkait pendirian obyek wisata ini, Jatim Park Group menggandeng Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Founder and Owner Jawa Timur Park (JTP) Group, Paul Sastro Sendjojo sudah melakukan pertemuan awal dengan Dekan FPP UMM, Dr. Ir. David Hermawan M.P. IPM untuk membicarakan rencana pembangunan obyek wisata baru ini. David ketika dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Ia mengaku kaget ketika dimintai oleh JTP Group untuk memberikan koreksi Master Plan terhadap pembangunan Batu Love Garden yang saat ini sedang berlangsung. “Kita dimintai JTP Group untuk memberikan koreksi master plan, Batu Love Garden mulai dari nama obyek wisata itu sendiri, hingga kontennya,” ujar David. FPP UMM diajak bekerja sama untuk bersama-sama merancang bangun, konten hingga teknologi dari wahana yang akan dibangun di obyek wisata ini. Mulai dari Taman Bunga, Pasar Bunga, Rangkai Bunga dan Buah,Exhibition, Love Garden, Taman 1000 Air Mancur, Taman Dunia, Holtikultura, Nursery hingga Flower Parade. “Ada taman buah-buah tropical yang unik, taman sayur organik, taman bunga lainnya, hingga taman insecta yang mencerminkan subtansi etalase kultur Malang Raya sebagai Kota Bunga dan terkenal dengan buah-buahan dan sayuran,” kata David. Jatim Park Group memilih menggandeng FPP UMM karena membutuhkan pengembangan wisata yang bisa memenuhi kebutuhan edukasi wisatawan. Selain di desain adanya taman bunga, buah, sayur, juga di dalamnya akan ada pasar ikan, ternak bahkan burung. Bahkan akan didesain juga tipe rumah percontohan untuk para pensiunan dengan luas tanah sekitar 150-200 M. Namun, sebelumnya sudah didesain rumah ketahanan pangan yang menggunakan model OHOP (One House One Pond), plus tanaman aquaponic lainnya, seperti yang sudah dikembangkan oleh Jurusan Perikanan FPP UMM dalam program penanggulangan stanting dan penyediaan protein tinggi bagi masyarakat urban maupun di pedasaan. Bahkan jika memungkinkan, selain akan didirikan green house modern, juga akan ada area percont ohan close house untuk Ayam Petelur yang dirancang secara digital. Diharapkan wahana ini akan menjadi tempat edukasi bagi petani dan peternak serta masyarakat yang peduli akan pangan nasional. Di dalamnya juga akan di bangun tempat pembejaran berupa training center sebagai etalase edukasi pendidikannya. Pertimbangan lain alasan dipilihnya UMM sebagai mitra JTP Group, selain fokus dalam dunia pendidikan juga berpengalaman mengembangkan sayap bisnisnya. “Sudah ada saling memahami tentang rencana kerja sama ini, menjadi tantangan bagi kami karena kita tidak hanya mengeluarkan scopus, tapi kini kita ditantang mengimplikasikan didunia riil, semoga bisa memenuhi ekspektasi pengusaha,” ujar David. Menurutnya, FPP UMM memiliki sumber daya manusia yang bisa diterjunkan untuk pengembangan obyek wisata ini. Mulai dari dosen yang ahli di bidang konstruksi, bidang teknologi dan inovasi seperti landscape, pertamanan, pertanian modern, hingga peternakan, dan perikanan. (*can)

UMM Kembangkan Polysyncronous Learning

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan(Mendikbud)Nadiem Makarim mengungkapkan, pembelajaran jarak jauh bisa diterapkan permanen setelah pandemi Covid-19 selesai. Berdasarkan penilaian Kemendikbud, kegiatan belajar-mengakar dengan memanfaatkan teknologi akan menjadi hal yang mendasar.Merespon hal itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan model Pembelajaran Bauran (Blended Learning) Polysynchronous Learning. Dijelaskan Tim Gugus Tugas Pengembangan Pembelajaran Bauran UMM, Galih Wasis Wicaksono, S.Kom, M.Cs., Polysynchronous Learning adalah model pembelajaran bauran yang dikembangkan UMM yang menggabungkan konsep Student Centered Learning (SCL) dan Personalized Learning (PL) dengan pola interaksi polysynchronous learning, sehingga diharapkan lebih efektif dalam penerapan kegiatan belajar mengajar pada masa dan setelah pandemi Covid-19. Desain pembelajaran ini, oleh tim UMM dinamakan desain “Pembelajaran Bauran Siklus Pe5 (Perencanaan, Pemahaman, Pendalaman, Penerapan, & Penilaian)”. Siklus Pe5 ini diterapkan pada setiap pertemuan kegiatan pembelajaran. “Dalam desain pembelajaran siklus Pe5 ini, dosen harus membuat perencanaan terlebih dahulu terkait konten materi, bahan diskusi, bahan penugasan, dan quiz yang akan diberikan,” ungkap Galih di hadapan para instruktur Polysynchronous Learning. Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Al Islam-Kemuhammadiyahan, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyatakan terkait dengan pembelajaran, di masa pandemi Covid-19, UMM mengalihkan kegiatan pembelajaran luar jaringan (luring) ke dalam jaringan (daring). “Pandemi mengakselerasi kita untuk segera beradaptasi dalam penggunaan teknologi pembelajaran. Kita mesti bergegas menyesuaikan diri dalam dunia yang serba butuh penyesuaian cepat ini,” ungkap Syamsul (7/7). Berkaca pada pengalaman tersebut, Kampus Putih mencoba menseriusi model pembelajaran ini dengan yang disebut pembelajaran bauran Polysyncronous Learning. Yakni, sebuah pengkombinasian model pembelajaran antara daring dan luring dan metode pembelajaran. “Sehingga, mahasiswa mendapatkan materi sesuai capaian pembelajaran yang sudah ditetapkan. Jadi kuliahnya betul-betul serius. UMM sendiri akan memulai perkuliahan pada 7 September 2020,” kata Syamsul. Bimtek kali ini juga menghadirkan para pakar pembelajaran untuk memberikan perspektif terkait pedagogi yang akan dikuatkan dalam pelaksanaan Polysyncronous Learning. Pemateri yang hadir yakni Dosen Program Studi Pendidikan Profesi Guru UMM  Dr. Trisakti Handayani, MM. terkait Konsep dan Kerangka Dasar Pembelajaran Bauran,  serta Drs. Suparto. M.Pd, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM dengan materi Metodologi & Evaluasi Polysynchronous Learning. (can)

UMM Bagikan Masker Gratis ke Peserta UTBK PTN

Meski diguyur hujan siang hari, hari kedua (6/7) pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2020 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berjalan lancar dan sudah menerapkan disiplin sesuai protokol kesehatan. Bahkan, UMM membagikan masker keseluruh peserta. Di agenda yang berlangsung hingga Jumat (10/7), UTBK PTN di UMM menampung 1800 peserta. Berkaitan dengan Covid-19, peserta masuk kampus dan tidak boleh turun di sepanjang jalan, hanya turun di area parkir, serta akan di tes suhu oleh Tim Kesehatan. Pengantar juga tidak diperkenankan masuk di area kampus, hanya boleh di hotspot area. Lokasi Parkir hanya di Parkiran Masjid UMM. Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, Wakil Rektor I UMM menerangkan, kesiapan Kampus Putih untuk menyambut peserta UTBK SBMPTN telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Selain itu, para petugas protokol UMM senantiasa disiagakan untuk menanggulangi penyebaran Covid-19. UMM menyiagakan petugas protokol kesehatan di empat pintu masuk. “Pelaksanaan di UMM bagus. Ujian tertib dan berjalan lancar. Protokol kesehatan juga dijalankan dengan baik. Liftnya juga sudah tanpa sentuh, pakai kaki. Aman. Kita akan teruskan kerjasama penyelenggaraan UTBK dengan UMM tahun-tahun ke depan,” kata Wakil Rektor II Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Hery Suwignyo, M.Pd. saat sidak. Tak hanya menyiapkan protokol kesehatan, UMM juga menyiapkan sarana pendukung lainnya. Di antaranya menyediakan 351 titik handsanitizer dan 55 titik wastafel berikut sabun cair dengan teknologi pedal dan sensor. Sepatu dan tas juga disediakan tempat penyimpanan khusus agar tidak saling bercampur satu sama lainnya. (can)

Lewat Sepakbola UMM dan Bank Jatim Perkuat Silaturrahmi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pertandingan persahabatan dengan Bank Jatim dari wilayah Malang Raya yakni meliputi cabang Malang, Batu serta Kepanjen, dan berlangsung di Stadion UMM. Sabtu (27/6). Fajar selaku Koodinator Bank Jatim Wilayah Malang Raya untuk urusan sepakbola dan futsal menjelaskan bahwa tim dari wilayah Malang Raya turut mengundang tim dari Surabaya untuk bersilaturrahmi dengan tim dari UMM. “Pertandingan persahabatan ini selain untuk berolahraga, juga untuk mempererat tali silaturahmi, sehingga bisa mempererat tali persaudaraan diantara keduanya. Namun dalam pertandingan ini kita tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti menyediakan alat cuci tangan, dan menjaga jarak,” jelasnya. Pertandingan persahabatan kali ini diikuti oleh Wakil Rektor 1 UMM dan karyawan UMM melawan tim gabungan dari Bank Jatim. “Jadi pertandingan ini bukan untuk mencari menang atau kalah, karena yang main kan juga sudah berumur. Selain itu juga lebih kepada untuk menjalin tali silaturahmi,” ungkap Fauzan selaku Rektor UMM saat ditemui di pertandingan persahabatan. (riz/can)

Dosen UMM Terima Pendanaan Prioritas Riset Nasional

KEMENTERIAN Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI) melalui Sekretariat Jenderal Lembaga Pengelola Dana Pendidikan menggelontorkan pendanaan bagi Riset Inovatif dan Produktif (Rispro) Mandatori bertema Prioritas Riset Nasional (PRN) bidang pangan. PRN ini merupakan program di bawah koordinasi Kementerian Pertanian dan Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional. Sejumlah dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui berbagai inovasi dan temuannya juga masuk dalam daftar penerima dana tersebut. Misalnya riset yang dilakukan Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P. yang berjudul Perakitan Teknologi Pupuk Hayati Plus untuk Padi Super dan Ekostis. Tujuannya untuk menghasilkan produk pupuk hayati spesifik untuk padi produksi tinggi, tahan penyakit dan ramah lingkungan. “Luarannya adalah produk komersial pupuk hayati spesifik untuk padi yang tersertifikasi organik dan terdaftar di Kementrian Pertanian serta E-Catalog Indonesia sehingga bisa diedarkan secara nasional,” ungkap Guru Besar bidang Nutrisi dan Ternak Organik Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM ini, Jumat (3/7). Dilanjutkan Indah, kegiatan riset tersebut rencananya dilakukan selama lima tahun.  Dan dalam kegiatan riset ini juga akan bekerjasama dengan industri untuk produksi skala industri dan distributor untuk pemasaran, baik lokal regional maupun nasional. “Produk yang akan dikembangkan adalah prototype yang sudah dihasilkan dari penelitian saya sendiri sejak 20 tahun terakhir dan sudah dimanfaatkan secara lapang oleh petani padi di beberapa wilayah di Indonesia,” ujar Indah. Keunggulan produk Indah adalah mempunyai 5 fungsi dalam 1 produk yaitu sebagai pembenah tanah, sebagai pupuk hayati, sebagai nutrisi organik, sebagai bioproteksi dan biosavety. Karena membersihkan residu kimia pada produk diharapkan produktifitas tanaman tinggi dan tahan penyakit. Produksi gabah menjadi rendemen dan kualitas baik serta bebas residu kimia,” tukas Indah. Riset dosen UMM lainnya yakni yang dilakukan Dr. Ir. Ali Ikhwan, M.P. dengan judul riset Produk dan Teknologi Pupuk Hayati Plus untuk Poduk Jagung Tinggi dan Tahan Penyakit pada Lahan Kering. Ada juga riset dari Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, M.P. dengan judul Perakitan Pakan Fungsional Sapi Potong POGASI sesuai Status Reproduksi. Serta Dr. Abdul Malik dengan risetnya Bibit Unggul Ayam Lokal dengan Keunggulan Produksi Tinggi dan Tahan Penyakit. Diterangkan Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si., ada 7 perguruan tinggi yang diamanahi mengerjakan program PRN ini. Di antaranya IPB University, Universitas Brawijaya, dan Universitas Airlangga. “UMM merupakan satu-satunya Perguruan Tinggi Swasta,” ungkap Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Matematika ini. “Alhamdulillah, UMM saat ini menjadi salah satu kiblat pertanian, peternakan, dan perikanan di Indonesia. Berkat kerja tim di FPP raihan ini dapat tercapai. Di sisi lain, FPP UMM juga tengah mengembangkan model Integrated Farming dan fokus pada upaya mengajak generasi muda untuk cinta pertanian melalui konsep Petani Milenial,” ungkap Dekan Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) UMM menanggapi raihan sejumlah dosennya. (can)

UMM Lakukan Pertemuan Orang Tua Maba secara Daring

TRADISI silaturahmi yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Malang, antara orang tua/ wali calon mahasiswa baru (Maba) dengan pimpinan di tingkat universitas dan di tingkat fakultas yang merupakan tradisi turun temurun, kembali dilaksanakan Sabtu (4/7) pagi. Berbeda dengen sebelumnya, pertemuan yang dihadiri orang tua/ wali Maba untuk jalur Prestasi 1, 2, 3 dan Gelombang 1 ini dilakukan secara daring. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan dalam sambutannya, pertemuan ini dimaksudkan untuk membagi tanggungjawab dengan menggunakan peran masing-masing. Agenda ini dihadiri oleh seluruh wakil rektor I, II, III, IV serta jajaran asisten rektor. Fauzan lantas memperkenalkan satu persatu seluruh jajarannya di agenda yang juga dapat disaksikan secara langsung melalui akun Youtube resmi UMM. Fauzan melanjutkan pemaparannya dengan mengucapkan selamat kepada para orang tua yang anak-anaknya diterima di UMM, salah satu perguruan tinggi yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Timur. “Hal ini ditandai dengan diraihnya Anugerah Kampus Unggul atau AKU sebanyak 12 kali berturut-turut. Artinya selama 12 tahun, UMM menjadi perguruan tinggi terbaik di Jawa Timur,” kata Fauzan. Kembali dijelaskan Fauzan, salah satu tujuan agenda ini adalah untuk memberikan kepastian tentang bagaimana kesiapan UMM dalam rangka menerima, menggembleng, serta mengantarkan mahasiswanya untuk menyelesaikan studinya. “Kami berharap, setelah pandemi Covid-19, bapak-ibu sekalian dapat berkunjung secara langsung untuk merasakan fasilitas Kampus Putih,” sambung Fauzan. Salah satu program unggulan yang ditawarkan UMM untuk mahasiswanya yakni program UMM PASTI, yakni Pasti Lulus Empat Tahun, Pasti Mandiri, dan Pasti Bekerja. Program ini, kata Fauzan, agar mahasiswa memiliki bekal lebih setelah lulus. “Setiap lulusan UMM juga mendapatkan sertifikasi kompetensi dari BNSP lewat LSP di UMM yang menyediakan lebih dari 55 skema sertifikasi,” tandasnya Sementara, Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. yang membidangi Akademik dan Pengembangan al Islam-Kemuhammadiyahan menyatakan, UMM tetap berkomitmen untuk memberikan pelayanan dalam berbagai aspek, salah satunya adalah pelayanan di bidang akademik. Di tengah pandemi, UMM melakukan penyesuaian kegiatan pengajaran agar terus berlangsung efektif dan kondusif. “Sejak Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi, UMM sudah melakukan penyelenggaraan kegiatan perkuliahan secara dalam jaringan. Pada perkuliahan yang akan datang, kegiatan perkuliahan Kampus Putih pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2020/2021 akan dimulai sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dalam kalender akademik UMM yaitu pada 7 September 2020,” kata Syamsul. Beberapa ketentuan yang berlaku di antaranya, pemberlakukan moda pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran bauran (Blended Learning) yang telah disiapkan oleh Tim Pengembang Blended Learning UMM. “Dengan mempertimbangkan tren perkembangan pandemi Covid-19 dan ketentuan Pemerintah, maka perkuliahan menggunakan moda pembelajaran daring,” ujarnya. Tak sampai di sini, agenda pertemuan orang tua/ wali calon maba dilanjutkan dengan pengenalan pimpinan fakultas dan program studi. Orang tua/ wali dapat menanyakan segala hal yang berkaitan seputar kegitan akademik maupun kegiatan lain yang menunjang perkuliahan selama di UMM. Orang tua juga dapat memantau perkembangan akademik anaknya melalui aplikasi Android: UMM My Parent. (*)

Mahasiswa UMM Ajak Tanam Apotek Hidup

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melakukan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) di Kelurahan Rongtengah, Kabupaten Sampang-Madura kembali melakukan inovasi baru terkait dengan pencegahan penularan virus corona (COVID-19) yaitu “Penanaman Apotek Hidup”. Kegiatan ini diawasi dan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan Setyo Wahyu S, SE., ME. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya pada warga kelurahan Rongtengah terkait bagaimana cara penanaman apotek hidup yang baik dan juga terkait khasiat yang didapatkan dari tanaman apotek hidup tersebut. Maghfiroh selaku Koordinator kelompok 11 PMM UMM Sampang menjelaskan penanaman apotek hidup merupakan salah satu alternatif untuk mengisi kekosongan waktu dikala pandemi COVID-19. Apotek hidup bisa diartikan sebagai taman atau kebun yang memiliki beragam jenis tanaman bermanfaat bagi kesehatan. Penanaman apotek hidup ini terdiri dari beberapa bibit tanaman yaitu berupa rimpang. Rimpang yang digunakan adalah jahe, temu kunci, kencur, dan kunyit. Alasan terbesar dipilihnya keempat tanaman tersebut adalah untuk membantu meningkatkan imunitas tubuh karena khasiat dari masing-masing tanaman. Baca juga: Pakar Tegaskan RUU HIP Tak Diperlukan Virus corona yang saat ini sedang mewabah dan masih mengalami perkembangan yang signifikan di Indonesia, dilaporkan bahwa akan dengan mudah menyerang tubuh seseorang yang memiliki imunitas rendah. “Gejala yang ditunjukkan ketika seseorang memiliki kekebalan tubuh yang rendah adalah mudah merasa lemas dan sering terkena penyakit ringan seperti demam dan pilek,” ujar Maghfiroh selaku Koordinator kelompok 11 PMM UMM Sampang, Selasa (30/06/2020) Seperti yang diketahui bahwa rimpang tanaman tersebut memiliki manfaat yang sangat beragam. Untuk tanaman jahe banyak mengandung vitamin C dan magnesium. Kandungan ini dapat membantu tubuh untuk memperkuat sistem imun. Selain kedua zat tersebut, jahe juga memiliki kandungan gingerols, shogaols, dan zingerones yang dapat berfungsi sebagai antioksidan bagi tubuh. Kemudian untuk tanaman temu kunci mengandung  vitamin B6 serta B12, vitamin C, serat dan dapat memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Selanjutnya, untuk tanaman kencur memiliki manfaat dapat menangkal radikal bebas. Radikal bebas merupakan salah satu penyebab banyaknya penyakit yang berkembang di dalam tubuh seperti kanker kulit dan beragam jenis penyakit berbahaya lainnya. Sedangkan kunyit memiliki khasiat untuk kesehatan juga meningkatkan imunitas sehingga tubuh tidak mudah diserang oleh penyakit. Edukasi penanaman bibit kepada 3 rumah warga kelurahan rongtengah pada tanggal 30 Juni 2020. Responden warga terdiri dari Bapak-bapak, Ibu-ibu, hingga anak milenial. Tujuan dari pembedaan responden tersebut adalah agar sasaran dari pengedukasian penanaman apotek hidup ini dapat tersebar secara luas dan menyeluruh. Baca juga: Ciptakan Alat Cuci Tangan dari Bambu Edukasi ini diawali dengan bagaimana cara menggemburkan tanah. Tentunya sebelum melakukan pengedukasian telah dilakukan riset terlebih dahulu terkait cara penanaman yang baik dan benar. Bahan dan alat yang digunakan cukup sederhana, yaitu terdiri dari polybag, tanah, pupuk kompos, dan bibit tanaman. Pengolahan pupuk kompos yang dicampur dengan tanah lalu diaduk hingga tercampur rata, kemudian dilakukan penanaman dari keempat bibit tanaman tersebut. Setelah semua prosedur selesai, anggota lainnya melakukan edukasi terkait dengan bagaimana cara merawat serta menyiram tanaman dengan baik dan benar seperti contohnya bahwa tanaman tersebut harus terkena cahaya matahari untuk membantu pertumbuhan menjadi lebih optimal dan dilakukan penyiraman sebanyak dua kali yaitu pagi hari sebelum matahari terbit dan sore hari. Penanaman apotek hidup ini akan dilakukan pemantauan (follow up) di setiap minggunya untuk melihat perkembangan dari tanaman tersebut. Kegiatan pemantauan ini akan terus dilakukan hingga 1 bulan kedepan. Kemudian tanaman tersebut dapat dipanen dan diolah oleh warga. Manfaat lainnya selain untuk pengobatan, apotek hidup juga dapat dibudidayakan untuk pemenuhan rempah masakan dan juga sebagai penghijauan pekarangan rumah. “Saya sangat senang menjadi salah satu target warga yang mendapatkan pengedukasian dari mahasiswa UMM ini, karena dapat saling bertukar informasi dan pengetahuan terkait penanaman apotek hidup ini,” ujar Heri salah satu warga yang sudah melalukan pengedukasian penanaman apotek hidup. Hasil dari penanaman apotek hidup ini juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan untuk pembuatan jamu tradisional agar mampu membantu menangkal radikal bebas dan juga meningkatkan imunitas tubuh. (*/can)

Pakar Tegaskan RUU HIP Tak Diperlukan

TAK KURANG dari 2.500 peserta mengikuti webinar bertema “RUU HIP: Pelemahan Ideologi Pancasila?” yang digelar Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (2/7/20). Antusiasme para peserta ini begitu tinggi lantaran tema yang diangkat sangat krusial dan sedang hangat-hangatnya, serta dibedah oleh tokoh-tokoh nasional yakni Yudi Latif, Ph.D dari Aliansi Kebangsaan, Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Dr. Nurul Zuriah, M.Si, dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UMM. Dalam paparannya, ketiga pemateri sepakat Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) sejatinya tak diperlukan, tidak urgen, dan sangat lemah metodologis-filosofis, sehingga tak perlu diteruskan lagi pembahasannya. Pemateri pertama, Dr. Abdul Mu’ti menyebutkan, PP Muhammadiyah secara khusus telah membentuk tim untuk mengkaji RUU HIP. Dalam pernyataan resminya, PP Muhammadiyah telah menegaskan menolak RUU ini. Pasalnya, kedudukan Pancasila sudah sangat kuat dan tidak perlu lagi diutak-atik. Baca juga: Buat Open Course Platform bagi Masyarakat Sampang “Muhammadiyah lewat pernyataannya menyampaikan bahwa UU HIP itu tidak urgen dan tidak diperlukan dalam situasi bangsa saat ini. Harusnya kita fokus menghadapi pandemi. Dan oleh karena itu, Muhammadiyah meminta proses pengesahan RUU itu dihentikan,” tutur tokoh yang juga menjabat Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini. Sejalan dengan itu, pada uraian awalnya Yudi Latif, Ph.D menyatakan bahwa ideologi Pancasila tidak boleh dipolitisasi. “Pelajaran terpenting yang dapat diambil dari Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila ini memberikan kita kesadaran bahwasanya ada sesuatu yang tidak boleh dipolitisasi dalam kehidupan politik di Indonesia. Apa lagi yang bersifat fundamental dalam keberlangsungan kehidupan suatu bangsa, seperti Pancasila,” tegas tokoh yang telah menulis banyak buku bertema Pancasila ini. Ia menilai, pasal-pasal yang muncul dalam RUU HIP mengindikasikan adanya ketidakseriusan dalam penyusunannya. Orang-orang yang menyusun dan mengusulkan terkesan tidak serius. Ada banyak miskonsepsi yang ditemukan. Hal-hal elementer tidak terkoneksi dengan baik dan antar pasal tidak sejalan. Pada akhir paparannya, pria yang pernah aktif di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini pun menegaskan bahwa RUU HIP justru menimbulkan masalah baru. “RUU ini bermasalah. Ketidakjernihan RUU ini justru melahirkan isu decline dan kontraproduktif terhadap usaha-usaha sosialisasi Pancasila,” pungkas penulis buku Negara Paripurna ini. Baca juga:  Ciptakan Alat Cuci Tangan dari Bambu Dari sudut pandang akademisi, Dr. Nurul Zuriah menguraikan telaah atau analisis terhadap pasal-pasal RUU HIP yang dinilainya melenceng dari nilai-nilai Pancasila, di antaranya Pasal 3 ayat 1, Pasal 3 ayat 2, Pasal 5, Pasal 6 ayat 1, Pasal 7, dan Pasal 8 huruf f. Atas telaah tersebut, Nurul Zuriah memberikan tiga kesimpulan. “Simpulannya, RUU HIP bermaksud menggeser ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ dengan paham materialism; RUU HIP bermaksud untuk mendukung Pancasila setara dengan negara; dan RUU HIP akan menjadi sumber konflik karena pasal-pasalnya tidak koheren dan memberi peluang terjadinya intervensi kekuasaan terhadap Pancasila,” pungkas dosen senior Prodi PPKn FKIP UMM yang juga menjabat sebagai Ketua AP3KnI (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) Jawa Timur. Sementara itu, sebagai penutup, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes., Dekan FKIP UMM yang langsung berperan selaku moderator mengimbau para peserta untuk tetap menyikapi isu dan RUU HIP ini dengan bijaksana. Protes-protes dan penolakan haruslah tetap dilakukan secara santun, beretika, dan melalui jalur yang semestinya. “Penolakan RUU HIP ini dilakukan oleh puluhan organisasi kemasyarakatan dengan argumentasi yang sangat rasional. Namun, penolakan ini tentu harus dilakukan dengan penuh kesantunan dan bijak. Jadi, bukan penggalangan suara atau kegiatan-kegiatan yang tidak beretika,” tutur Dr. Poncojari Wahyono mengakhiri diskusi. (fid/can)

Ciptakan Alat Cuci Tangan dari Bambu

KONDISI pandemi Covid-19 memacu kreativitas lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang(UMM)yang sedang melaksanakan program Pengabdian Masyarakatoleh Mahasiswa(PMM) untuk menciptakaninovasi. Mahasiswa PMM di Desa Pandulangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan ini berinovasi menciptakan alat pencuci tangan sistem injak guna membantu pemerintah daerah dan masyarakat setempat memutus rantai penyebaran wabah. Kelima mahasiswa dari berbagai program studi ini ialah Eddy Wibowo selaku koordinator kelompok, M. Iqbal Ashshiddiqie, Najla Syafiqa, Devy Aprilia dan Maulida Mahfudzah.“Supaya masyarakat tidak menyentuh apa pun kecuali sabun pada saat mencuci tangan, apalagi di tempat umum. Kitakan tidak tahu,tuh, siapa saja yg menyentuh keran air tersebut,” kata M. Iqbal Ashshiddiqie, salah satu anggota kelompok Bahan yang diperlukan cukup sederhana yaitu duabuah bambu, jerigenbekas, tali jemuran,dansatubuah kayu galam. Alat cuci tangan yang dibuat dari bahan dasar bambu ini selain mudah dibuat, juga dapat meminimalkan kontak sentuhan karena bisa digunakan hanya dengan menginjak pedal di bagian bawah. Pemasangan alat cuci tangan ini dipasang di depan Kantor Kepala Desa Pandulangan, ditempatkan strategis agar dilihat banyak orang. “Menjaga sterilisasi dan higienis penggunanya maka perlu dibuat alat pencuci tangan tersebut, selain mudah dan praktis juga aman saat menggunakannya tanpa harus menyentuh kran air,” kata M. Iqbal Ashshiddiqie. Kegiatan pembuatan alat tersebut berjalan dengan lancar dan sangat diapresiasi oleh Dosen Pembimbing LapanganPMM UMMDrs. Mohammad Jufri,  ST.,  MT. “Dengan program ini, warga Desa Pandulangan diharapkanterinspirasi untukdapat memanfaatkan bahan sederhana namun mempunyai nilai guna yang tinggi pada saat masa pandemi seperti sekarang ini,” ungkap Jufri. (*/can)

Buat Open Course Platform bagi Masyarakat Sampang

MAHASISWA program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat kegiatan Open Course Platform pengedukasian masyarakat Kabupaten Sampang tentang Covid-19. Open Course Platform ini menggunakan sistem pembelajaran online melalui Google Meet. Kegiatan ini dilaksanakan pada 29 Juni 2020, dan akan dilaksanakan sampai tiga minggu berikutnya. Nantinya akan ada Open Course Platform seri 1, 2 dan 3. Materi yang akan disampaikan yaitu tentang penyebab, gejala, dan cara pencegahan Covid-19, panic attack yang dialami oleh mayoritas masyarakat ketika menghadapi pandemi Covid-19, isu-isu pengobatan Covid-19, serta gizi apa saja yang dapat menambah imunitas tubuh manusia. “Kami telah menyiapkan 1 doorprize untuk setiap seri nya yang berisi 1 handsanitizer, 1 masker, 1 brosur. Kami memberikan tambahan suplemen vitamin C sebanyak 1 strip dan pulsa yang akan ditransfer ke masing-masing nomer handphone pemenang. Selain itu kami juga memberikan modul elektronik (e-modul) yang bebas diakses oleh masyarakat Sampang,” ungkap Maghfiroh selaku Koordinator kelompok 11 PMM UMM Sampang. Untuk pembuatan Open Course Platform ini hanya membutuhkan media seperti laptop ataupun handphone yang dapat mengakses sinyal internet, literatur pustaka seperti buku yang diterbitkan oleh kementerian kesehatan maupun WHO, serta aplikasi pengeditan foto untuk menunjang penampilan e-modul agar masyarakat lebih tertarik untuk membaca. “Open Course Platform atau belajar online serta e-modul bagi masyarakat Sampang ini berangkat dari minimnya pengetahuan masyarakat Sampang tentang gejala, cara pencegahan, cara mengendalikan rasa panik saat menghadapi pandemi, serta etika serta adab yang dilakukan selama pandemi Covid-19, isu-isu pengobatan Covid-19 serta gizi apa saja yang dapat menambah imunitas tubuh manusia,” sambung Maghfiroh. Selain itu tujuan e-modul ini dibuat untuk membekali masyarakat dengan informasi valid dan terkini terkait Covid-19 dan langkah tepat untuk memastikan keselamatan diri saat terlibat dalam pandemi Covid-19 sesuai dengan kewenangan atau protokol yang diberikan oleh pemerintah dan yang perlu dilakukan pasca masa pandemi COVID-19. Proses pembuatan Open Course Platform dan e-modul ini diawasi dan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan Setyo Wahyu S, SE., ME. Diharapkan, kata Setyo, melalui kontribusi Open Course Platform dan e-modul ini dapat membantu masyarakat Sampang dalam meminimalisir serta mengantisipasi bertambahnya pasien positif COVID-19 serta memutus rantai penularan di kabupaten Sampang-Madura. “Pembuatan Open Course Platform dan e-modul ini juga dilatarbelakangi oleh mahasiswa PMM UMM Sampang yang ingin membantu perjuangan tenaga medis serta relawan COVID-19 di Sampang-Madura dalam melawan virus corona, dengan cara menambah wawasan masyarakat, sehingga masyarakat Sampang dapat lebih waspada dan memperhatikan keadaan sekitar,” ujar Maghfiroh. (*/can)