Roadshow Malang Film Festival 2020 Gaet Penonton dari Desa

Malang Film Festival (MAFI Fest) besutan kelompok studi sinematografi Kine klub Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan kembali hadir dengan nuansa yang berbeda, awal April mendatang. Ajang unjuk kreativitas para sineas muda Indonesia ini dimulai dengan agenda roadshow ke sejumlah wilayah. Diawali pada 14 Maret 2020 di desa Tawangsari,kec. Pujon, Kabupaten Malang. Dipilihnya desa Tawangsari sebagai lokasi roadshow, menurut Programer Non Kompetisi MAFI Fest 2020, Tautin mengatakan ingin memberikan satu hiburan baru bagi masyarakat yang memiliki akses yang jauh dengan bioskop konvensional. Berbeda dengan tahun sebelumnya, roadshow kali ini menargetkan penonton dari desa untuk lebih mengenal apa itu MAFI Fest. Terkait dengan pemutaran film, penonton yang datang mayoritas anak-anak. Mereka sangat antusias walaupun sebelumnya lokasi roadshow diguyur hujan. Nur Intan, salah satu penonton yang datang mengatakan dirinya sangat senang dengan adanya roadshow ini. Ia berharap acara seperti ini terus dilakukan di desanya. Cuaca setelah hujan, tidak menyurutkan antusias warga desa Tawangsari. Terbukti bangku penonton dipenuhi oleh anak-anak, masyarakat dari desa lain lain datang dan menonton dengan duduk di motor mereka masing-masing. Film yang diputar pada saat roadshow sejumlah 4 film dengan judul: “WW Kodrat”, “Tuh Kan, Nek”, “Siti Madosi Gusti”, dan “Jilbabku Mundur”. Selaku kepala desa, Anwar mengatakan bahwa acara Roadshow ini tidak hanya sekedar datang lalu menonton film, namun anak-anak yang datang secara tidak langsung mendapat pelajaran dari film yang diputar. Harapan yang disampaikan Anwar sendiri terkait MAFI Fest 2020 agar tidak melupakan budaya Indonesia sendiri. Dan harapan tersebut selaras dengan konsep MAFI Fest yang akan diadakan tahun ini. Sejak pertamakali diselenggarakan pada tahun 2004, MAFI Fest telah mengalami beberapa perubahan. Namun, sejak tahun 2013 hingga 2020, program kompetisi MAFI Fest konsisten untuk mengompetisikan film pendek karya pelajar dan mahasiswa yang tergabung di sekolah, perguruan tinggi, maupun komunitas yang berbasis mahasiswa dan pelajar. Pada penyelenggaraannya yang ke-16 di April 2020 mendatang, penyelenggara berharap agar film-film yang masuk dalam program kompetisi MAFI Fest 2020 dapat memberikan penggambaran tentang perkembangan dan pertumbuhan film pendek pelajar dan mahasiswa di Indonesia. “Segala bentuk eksplorasi ide cerita dan eksekusi gambar kami harapkan akan muncul dari karya-karya pelajar dan mahasiswa tahun ini. Sehingga dapat menjadi stimulus dan referensi bagi penonton festival nantinya untuk dapat mengembangkan karyanya dengan lebih baik lagi,” terang Direktur Mafi Fest, Puspa Wangi Pertiwi. (can)

Ventriloquist, Cara Efektif Mobil KaCa UMM Berkomunikasi dengan Anak-Anak

Ada begitu banyak cara yang bisa digunakan oleh orang dewasa dalam berkomunikasi dengan dunia anak. Di antaranya melalui Games, Dongeng serta Ventriloquist atau seni berbicara tanpa menggerakkan bibir, salah satunya dengan media boneka. Hal ini pula yang dilakukan oleh tim mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kali ini. “Anak-anak kan biasanya malu-malu, tetapi bagaimana caranya agar anak-anak itu tidak malu dan lebih berekspresi serta berteman dengan dunia imajinasi yakni dengan mendongeng dan Ventriloquist. Cara ini merupakan salah satu bentuk komunikasi atau jembatan agar orang-orang dewasa itu mampu berbaur dengan anak-anak,” ujar Indah Rahayuning Tyas atau akrab disapa kak Tyas bersama tim mobil KaCa saat menyambangi anak-anak Pulosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Dilanjutkan pula oleh Tyas bahwa sejatinya anak-anak akan mampu melebur dengan orang dewasa, saat orang dewasa tersebut mampu membuat mereka nyaman. Lutfhi Badhilah juga turut mengajak anak-anak dengan bermain games Angin dan Cing Ciripit untuk menumbuhkan rasa percaya diri, melatih fokus dan kekompakan tim. Setelah itu anak-anak diajak untuk membaca buku-buku yang ada di mobil KaCa UMM untuk meningkatkan literasi mereka. Kali ini mobil KaCa UMM bersama Save Street Child Malang (SSCM) dan Swayanaka (Mahasiswa Penyayang Kanak-kanak) regional Malang, mampu menghibur sebanyak 27 anak-anak tersebut dengan berbagai kegiatan yang berguna dalam upaya meningkatkan literasi. “Dari SSCM sebenarnya sudah mengadakan kegiatan di sini setiap hari Sabtu, dan ini merupakan salah satu dari beberapa tempat yang diinisiasi oleh SSCM. Karena kita tidak ingin anak-anak yang ada di sini, terutama yang putus sekolah, yang turun kejalan seperti ngamen dan nyepe’ (yang membantu mengatur lalu lintas) tertinggal dengan anak-anak yang bersekolah,” jelas Yudhono Witanto selaku General Koordinator SSCM. Hal ini sejalan dengan semangat literasi yang usung Mobil KaCa UMM. “Melalui kegiatan ini, diharapkan anak-anak tersebut mampu mengembangkan diri dan melatih kepercayaan diri serta bisa meningkatkan literasi mereka,” tandas Lutfi Badhilah selaku koordinator Mobil KaCa UMM, Sabtu (14/3). (riz/can)

Kementerian PUPR: Profesi Insinyur UMM Punya Kesempatan Besar Bersaing Secara Global

Dalam rangka mewujudkan insinyur yang profesional demi meningkatkan daya saing menghadapi implementasi cetak biru masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) 2025, Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kuliah umum pada Sabtu pagi (14/3). Hadir dalam agenda tersebut yakni Dr. Ir. Putut Marhayudi, MM, Direktur Bina Penyelenggara Jasa Konstruksi, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, Kementerian Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Ir. Wahyu Hendrastomo, MM., IPU, Kepala Bagian Anggaran Umum, Pusat Pengembangan Kawasan Strategis, Badan Pengembangan Insfrastruktur Wilayah, Kementerian PUPR. Putut yang didaulat sebagai Keynote Speaker pertama memaparkan peluang dan strategi dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di dunia konstruksi. “Saat ini, kita perlu bisa menyetarakan kemampuan kita dengan para insinyur di luar negeri, utamanya yang ada di ASEAN,” katanya. Penyetaraan ini dapat dilakukan melalui program MRA atau Mutual Recognition Arrangement. Masing-masing kompetensi yang telah dimiliki oleh Insinyur pada akhirnya dapat digunakan untuk bersaing secara global di ASEAN. Putut juga menyoroti terkait Indonesia sebagai pasar besar dunia konstruksi. Setidaknya ada 286 badan usaha jasa konstruksi asing yang aktif di Indonesia. Tak dapat dipungkiri memang, jika Indonesia menjadi salah satu primadona pasar konstruksi setelah China, Korea Selatan dan India. Banyak penyedia jasa konstruksi yang memilih Indonesia karena bayaran tenaganya murah dan materialnya mudah didapat. “Insinyur asal Indonesia tentu saja harus bisa bersaing dengan mereka yang berasal dari luar,” tegasnya. Penyetaraan ini dapat dilakukan melalui program MRA atau Mutual Recognition Arrangement. Masing-masing kompetensi yang telah dimiliki oleh Insinyur pada akhirnya dapat digunakan untuk bersaing secara global di ASEAN. Selain strategi daya saing, ada hal penting yang harus disiapkan pula yakni administratif seperti Formulir Aplikasi Insinyur Profesional (FAIP) dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Misalnya, dalam FAIP, ada tiga hal yang menjadi syarat sertifikasi. Mempunyai dasar pengetahuan profesi, mempunyai pengalaman dan mempunyai kompetensi. Mahasiswa Prodi PPI periode 2019/2020 kali ini berjumlah 84 orang dan berasal dari berbagai kalangan. Peserta terdiri dari pengurus dan anggota Ikatan Konsultan Nasional Indonesia (Inkindo) serta Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur. Selain itu juga ada peserta yang berasal dari internal UMM, yakni para dosen yang berjumlah 17 mahasiswa. Ir. Annisa Kesy Garside, ST., MT., IPM., ASEAN Eng., Kaprodi PPI mengatakan, Mutual Recognition Arrrangements memiliki beberapa keuntungan dan kerugian. Di satu sisi, Mutual Recognition Arrangements dapat meningkatkan daya saing dari bidang-bidang layanan professional yang diaturnya. MRA juga, sambung Annisa, dapat meningkatkan skill dari layanan professional. “Karena adanya pertukaran di bidang jasa tersebut makan akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di suatu negara secara cepat,” ungkapnya. Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menaruh harapan besar pada PSPPI UMM agar dapat menjadi salah satu pintu kelahiran Insinyur-insinyur hebat Indonesia. “Hal yang juga penting bagi Indonesia bukan sekedar SDM, namun juga insfrastuktur,” katanya. (mir/can)

Civitas Akademika UMM Kompak Tepis Kekhawatiran Covid 19

Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) mengadakan Sosialisasi Penyebaran, Pencegahan, dan Penanganan Covid-19 di Aula lantai 9 GKB IV, Rabu (11/3) siang. Hadir sebagai pemateri Direktur RS UMM Prof. Dr. dr. Djoni Djunaedi, Sp.PD-KPTI dan dokter Spesialis Patologi Klinik RS UMM dr. Ungky Agus Setiawan, Sp.P(K). Wakil Rektor Bidang II Dr. Nazaruddin Malik, M.Si dalam sambutannya menyebut UMM sebenarnya telah lama mencanangkan konsep Management of Public Health yang diaplikasikan dalam jargon Green and Clean Campus. Sehingga, UMM terbilang telah keluar dari praktik manajemen yang terkesan latah. Sehingga siap dengan segala krisis. “Saya berbahagia, (di agenda sosialisasi ini) kita disadarkan tentang canangan yang telah lama teraplikasikan ke dalam konsep Green and Clean Campus yang sebenarnya multi dimensional. Di samping me-manage building dan lahan, tapi juga ditentukan oleh kesiapan para manusianya untuk menghadapi krisis, misal Covid-19,” sambungnya Nazaruddin. Nazaruddin lantas mengajak seluruh peserta untuk memahami Management Public health sebagai kajian interdisipliner. “Kami harap civitas akademika terus memperagakan gaya hidup sehat, mengantisipasi dan membangun institusi yang kuat dan tidak membuka peluang untuk terjadinya krisis, semisal saat penyebaran Covid-19,” tandas Nazaruddin. Dalam pemaparannya di hadapan civitas akademika UMM, penyebaran RS UMM Prof. Dr. dr. Djoni Djunaedi, Sp. PD-KPTI tentang asal terbentuknya Covid-19, cara penularan, pencegahan, serta penangan yang bisa dilakukan. dr. Djoni lebih jauh menekankan pentingnya Perilaku Hidup Sehat dan Bersih (PHBS) untuk civitas di lingkungan UMM. Mengutip ahli imunologi Amerika, Anthony Stephen Fauci, Ia menyebut wabah Covid-19 adalah pengingat nyata akan tantangan yang sedang muncul dari munculnya kembali patogen infeksi dan perlunya pengawasan terus-menerus, diagnosis yang cepat, dan penelitian yang kuat untuk memahami biologi dasar organisme baru dan pencegahannya. Sementara dr. Ungky Agus Setiawan, Sp.P(K) menyebut, belum ada vaksin untuk mencegah infeksi Covid-19. Penyebarannya bisa dikurangi di antaranya dengan mencuci tangan rutin memakai sabun dan air atau handsanitizer, menghindari menyentuh wajah, gunakan masker di keramaian, serta diet sehat, exercise cukup, dan tidur cukup. Tidak sebatas pemaparan materi, agenda juga berlangsung menarik dengan diselingi pembuatan video kampanye kreatif menggunakan jaringan sosial dan platform musik yang tengah nge-hits sekarang, Tiktok. Seluruh peserta memperagakan etika batuk yang baik dan benar, juga 6 langkah cuci tangan berdasarkan rekomendasi WHO. (*can)

Pilwarek UMM Kedepankan Musyawarah Mufakat

Pasca terpilihnya Dr. Fauzan, M.Pd sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk kedua kalinya, civitas akademika Kampus Putih juga bakal punya wakil rektor baru untuk masa jabatan 2020-2024. Dalam Sidang Senat UMM Pemilihan Wakil Rektor (Pilwarek) UMM yang digelar Selasa (10/3), sejumlah nama bakal calon telah terjaring sebagai calon wakil rektor. Mereka akan duduk sebagai wakil rektor bidang I, II, dan III. Proses pemilihan dilakukan dengan musyawarah mufakat. Musyawarah berjalan dengan penuh hikmat, demokratis, dan suasana kekeluargaan. Hal ini diamini salah satu anggota Senat UMM, Dr. Ahmad Juanda, M.M., Ak., CA. “Meskipun pemilihan dilangsungkan secara musyawarah mufakat, bukan berarti telah membunuh iklim demokrasi kita. Keputusan ini menunjukkan kedewasaan kita,” kata Juanda. Senada dengan Juanda, anggota senat lain Dr. Sulardi, SH., M.Si. juga menekankan pentingnya kerjasama. Kekompakan, disebut dosen Fakultas Hukum, sebagai modal utama membangun institusi bermartabat. “Sehingga, ketika keluar dari forum ini tidak ada yang merasa menang dan kalah. Kita sama-sama membangun Universitas Muhammadiyah Malang sebagai perguruan tinggi yang lebih disegani,” tandas Sulardi. Berdasarkan hasil kesepakatan bersama, seluruh anggota senat UMM memutuskan agar pemilihan dilakukan dengan cara musyawarah mufakat. Hal ini berkesuaian dengan pasal 7: Proses Pemilihan, Pertimbangan, dan Penetapan Calon Wakil Rektor angka 4 dalam Tata Tertib Pemilihan, Pertimbangan dan Penetapan Calon Wakil Rektor UMM Masa Jabatan 2020-2024 (Peraturan UMM No.1 tahun 2020). Sementara sesuai pasal 7 angka 9, dalam hal pemilihan calon wakil rektor dilakukan secara musyawarah mufakat, maka Senat UMM dapat menetapkan sedikitnya 1 (satu) nama calon wakil pada masing-masing Bidang I, II, III untuk diusulkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah. “Hasil pemilihan calon wakil rektor ditetapkan dalam surat keputusan senat UMM,” ungkap Pimpinan Sidang, Dr. Tongat, SH., M.Hum. Daftar 3 nama di masing-masing bidang yakni: Calon Wakil Rektor Bidang I Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes. Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Dr. Tulus Winarsunu, M.Si. Calon Wakil Rektor Bidang II Dr. Muslimin Machmud, M.Si. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Dr. Trisakti Handayani, MM. Calon Wakil Rektor Bidang III Dr. Nur Subeki, ST., MT. Dr. Sidik Sunaryo, SH., MH., M.Hum. Dr. Yoyok B. Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom. Dalam kesempatan ini juga, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. berpesan kepada suluruh anggota senat juga perwakilan dari Senat dan Badan Eksekutif Mahasiswa untuk senantiasa menjaga kekompakan membangun UMM untuk lebih baik lagi ke depan. Selain itu Malik juga berpesan untuk senantiasa membawa UMM menjadi kampus yang komitmen mengabdi kepada Bangsa. (can)

UMM Segera Buka Prodi Nutrasetikal

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Direktorat Pendidikan Vokasi dan Pelatihan segera membuka program studi (Prodi) baru, yakni Nutrasetikal. Di program studi ini, mahasiswa akan dilengkapi dengan keterampilan metodologis dan komputasi juga laboratorium praktis untuk bekerja secara efektif dan efisien melalui keterlibatan langsung dalam penyelesaian masalah yang diperlukan dalam penelitian dan industri makanan dan obat-obatan. “Kurikulum Prodi Nutrasetikal dirancang khusus untuk memecahkan masalah kontemporer dan untuk menghasilkan inovasi dalam bidang Nutrasetikal dengan dukungan teknologi informasi, serta sistem manajemen keamanan pangan,” demikia disampaikan Dr. Tulus Winarsunu, M.Si., Direktur Direktorat Pendidikan Vokasi dan Pelatihan UMM dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) untuk pembukaan Prodi Nutrasetikal di Rayz Hotel UMM, Sabtu (7/3). Prodi Nutrasetikal adalah fondasi yang kuat dari pengetahuan dan pemahaman serta penerapan keilmuan untuk berkontribusi dalam industri makanan dan obat-obatan multinasional. “Kompetensi lulusannya ditargetkan, di antaranya mampu merancang proses produksi pangan dan obat-obatan berdasarkan penerapan prinsip-prinsip pengolahan makanan berbasis teknologi secara efektif, efisien, dan presisi untuk menghasilkan produk dengan standar yang tepat,” sambung Tulus. Selain itu, mampu mendesain pengembangan produk makanan dan obat-obatan yang berkualitas, aman, bergizi dan bermanfaat bagi kesehatan, dan berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pangan dan nutrasetikal; Mampu melakukan penelitian tentang operasi pengolahan makanan fusi yang sesuai dengan karakteristik bahan makanan, sehingga menghasilkan makanan yang aman dan berkualitas bersama dengan rantai produksi makanan dan dapat memberikan tambahan nilai makanan. Rektor UMM Dr. Fauzan, M,Pd dalam sambutannya menyebut bahwa tanggung jawab UMM bukan hanya sekedar mengembangkan pendidikan, melainkan juga mengembangkan dimensi kehidupan yang bermanfaat bagi masyarakat. “Oleh karena itu apa yang kami lakukan ini (mendirikan program studi baru) merupakan bagian tak terpisahkan dari misi yang kami lakukan. Maka harapan kami, program ini akan sukses dijalankan. Jika ini terwujud akan menjadi manfaat bagi semua orang,” tandas Fauzan. Indonesia sendiri memiliki potensi sumber daya alam yang disebut kekayaan hayati. Terdapat setidaknya 30.000 spesies tanaman yang bermanfaat. Yang harus kita lakukan ialah approach skill, dimana jamu yang kita konsumsi menjadi suatu yg bernilai. Dari sinilah, diberharap mahasiswa dari Prodi Nutrasetikal UMM nantinya dapat membuat output yang bernilai jual. Sesuai kebutuhan stakeholder, penyusunan kurikulum Prodi Nutrasetikal UMM diharapkan dapat menembus pasar global, mengikuti perkembangan IPTEK dan dunia kerja di berbagai sektor. Hadir dalam FGD tersebut, Staf Ahli Bidang Staf Ahli  Bidang Inovasi dan Daya Saing Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Ananto Kusuma Seta, Ph.D.. Hadir pula sejumlah perwakilan stakeholder yang telah bekerjama dalam pendirian Prodi ini, yakni dari PT. ASIMAS yang diwakili Sarjuni Damari, S.P, MM; dari PT. Air Mancur yang diwakili Yunita Rusyana Kurniasari, S. Farm, Apt.; PT. Kalbe yang diwakili Sugito, S.Si; serta perwakilan dari Rumah Sakit UMM dan Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) UMM. (can)

Mobil KaCa UMM Latih Penghuni Lapas Wanita Product Photography sampai Jadi Barista

Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengunjungi Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Wanita Kelas IIA, Sukun Kota Malang. Setidaknya sekitar 50 Warga Binaan Pemsyarakatan (WBP)  sangat antusias dalam mengikuti materi dan praktek pelatihan kelas Barista dan Product Photography, Kamis (5/3). Warga Binaan Lapas sangat memperhatikan materi yang diberikan oleh Rino Anugrawan, yang juga merupakan fotografer di berbagai kegiatan dan event UMM. “Seni untuk mengambil gambar produk yang ingin kita pasarkan harus terlebih dahulu mengenai produk, fungsi dan kegunaannya. Kemudian angle foto harus disesuaikan dengan pencahayaan yang ada,” terangnya. Sejatinya seni memotret produk ataupun makanan membutuhkan ‘cerita’ agar foto tampak lebih hidup. “Warga binaan lapas sebenarnya juga mempunyai produk tersendiri, berupa handcraft. Namun untuk memasarkan di media online, kita kurang memahami bagaimana cara memotret produk yang lebih menarik. Sehingga kehadiran Mobil KaCa berharap agar semua bisa belajar pengalaman baru,” ucap Maria selaku pengelola Pembinaan Kreatifitas Lapas. Warga Binaan juga turut diberi kesempatan untuk memotret sebagai bekal yang akan berguna saat sudah keluar lapas. Selain kelas Product Photography, terdapat pula kelas Barista yang menghadirkan Helmi Mahendra selaku owner dari Kedai Kopi Rogas dan Becak Kopi Keliling (Koling) sebagai pembicara. “Pembuatan kopi saat ini bukan sekedar hanya membuat saja, tetapi, saat ini, banyak sekali masyarakat yang melihat peluang dan prospek dari sektor bisnis,” ucap Helmi yang juga merupakan mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM. Kegiatan kelas Barista juga nantinya akan sejalan dengan rencana yang akan dibuat oleh Hamlana Riska Achmad Effendy, selaku Pengelola Pembiaan Kepribadian Lapas. Hamlana menambahkan bahwa nantinya, Lapas akan membuat usaha seperti kantin, yang diberi nama “SAE” singkatan dari Sarana Asimilasi dan Edukasi yang dijalankan oleh warga binaan lapas. kegiatan Mobil KaCa sangat efektif untuk menambah ilmu warga binaan lapas. “Dengan adanya Mobil KaCa UMM, sangat membantu kami untuk menambah kegiatan warga binaan lapas dengan mengadakan kelas dan pelatihan. Selain itu, buku bacaan yang disediakan oleh Mobil KaCa juga kita pinjam untuk menunjang kegiatan literasi di Lapas. Karena tingkat minat membaca buku dari warga binaan tergolong sangat bagus,” tambah Hamlana. (yas/can)

Fresh Ijtihad CMM UMM untuk Tuntaskan Persoalan Kebangsaan

Perubahan sosial di Indonesia terlalu berlangsung cepat, terutama perubahan tren keagamaan, dan apa yang Muhammadiyah bisa lakukan atasnya. Ada pertanyaan besar, yakni bagaimana memadukan akal dan kalbu sebagai kekuatan untuk melakukan penetrasi terhadap kehidupan keberagamaan. “Bagaimana cara kita menerjemahkan semangat pencerahan itu pada dimensi ekonomi-politik?” demikian Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Nazaruddin Malik bertanya saat membuka diskusi bertajuk “Fresh Ijtihad dari Muhammadiyah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan”. Dr. Nazaruddin Malik dipanel seorang filsuf, ilmuwan, pakar hermeneutika dan cendekiawan muslim Indonesia Prof. M. Amin Abdullah pada gelaran Kolokium Nasional Interdisipliner Cendekiawan Muda Muhammadiyah di Sengkaling Convention Hall UMM, Jumat (6/3). Menurut Nazaruddin, Muhammadiyah belum punya rumusan untuk melakukan penetrasi ekonomi untuk mengatasi ketimpangan di masyarakat atau memengaruhi kebijakan ekonomi nasional. Memang ada perbincangan tentang bagaimana membangun institusi-institusi ekonomi seperti perbankan syari’ah, tapi tidak ada rumusan strategis untuk menghentikan akumulasi kapital di satu lokasi, sehingga meniadakan kemerataan di tengah umat. Istilah yang dikemukakan Nazaruddin adalah price discrimination. Menurutnya, peran wasathiyah Muhammadiyah harus diterjemahkan ke dalam konteks nation welfare. Ia mengkhawatirkan kemelempeman majelis-majelis ekonomi dalam menafsirkan pencerahan ekonomi. “Cendekiawan muda harus punya sumbangsih pada rumusan-rumusan strategis tersebut,” tandasnya. Di sesi kedua, Prof. Dr. M. Amin Abdullah menjelaskan apa itu fresh Ijtihad. “Ijtihad, kan, sudah biasa. Tapi setelah seratus tahun, ijtihad Muhammadiyah tidak terdengar lagi. Maka harus disegarkan,” kata beliau. Ada tiga alasan, menurutnya. Pertama, dunia Islam tampak involutif, yakni terdapat kemunduran-kemunduran dalam keberagamaan. Kedua, dunia Islam juga mengalami stagnansi metodologis. Ketiga, karena dua konteks di atas, harus ada takamul ‘ulum, yakni interdisipliner dalam memahami Islam. Al-Azhar baru-baru ini mengajak pada tajdid pemikiran, karena dakwah-dakwah digital yang menafikan metodologi dalam memahami Islam. Sementara, menurutnya, hambatan utama dalam tajdid adalah pembagian qat’i dan zanni, sesuatu yang bila umat berkutat di sana hanya akan menimbulkan stagnansi lagi. “Solusi-solusi yang dirumuskan al-Azhar sudah digarap oleh Muhammadiyah 50 sampai 100 tahun yang lalu, termasuk keputusan tidak mengakui adanya negara agama. Jangan sampai kita yang di sini malah menjadi lebih mundur,” ungkap Amin. Menurut Prof. Dr. M. Amin Abdullah, solusi utama adalah kembali membaca literatur dengan telaten. “Tidak ada cara lain. Bila hanya mengandalkan grup-grup Whatsapp, tidak akan ada hasilnya,” tambahnya. Di Indonesia, muwathonah (citizenship) belum selesai karena involutif dan stagnansi itu. Banyak minoritas yang masih menjadi korban, dan persoalan-persoalan lain yang menunjukkan bahwa masyarakat masih berpikir di level lower order of thinking. Sesi ini diperkuat dengan semangat yang diwariskan oleh para pembicara pada para cendekiawan muda yang hadir dalam Kolokium Nasional ini. Dalam dua puluh tahun ke depan, menurut para pembicara, yang akan mengemban Muhammadiyah dan Negara Indonesia adalah anak-anak muda, bukan yang lain. Karena itulah anak-anak muda Muhammadiyah harus punya kemampuan menelaah literatur secara kuat, juga punya kemampuan multi languages. “Strategi-strategi yang harus dikeluarkan oleh Muktamar adalah strategi untuk mendukung itu, misalnya, membeasiswai anak-anak muda Muhammadiyah untuk belajar bahasa Arab dan Inggris dan mengirim mereka ke negara-negara berbahasa asing itu selama satu tahun, agar bahasanya kuat,” tandas Amin. (*/Can)

Cendekiawan Muda Muhammadiyah UMM Sambut Muktamar Muhammadiyah

Muhammadiyah yang lahir 1912, memiliki pengalaman yang lebih lama dibandingkan dengan negara Indonesia yang diproklamirkan oleh Soekarno dan Moh. Hatta pada 1945. Dengan pengalaman yang penting itu pula, Muhammadiyah memiliki tradisi demokrasi (musyawarah, tanwir dan muktamar) yang sangat substansial. Lebih dari itu, tradisi demokrasi Muhammadiyah terinspirasi dari ajaran Islam Berkemajuan yang berlandaskan al-Qur’an dan al-Sunnah, yang mengandung nilai-nilai profetisme Islam yang mulia. Oleh karena itu, hingga saat ini, Muhammadiyah telah menyelenggarakan kongres nasional lima tahunan (Muktamar) 47 kali. Sebanyak itu pula, Muhammadiyah mempraktikkan dan menempa nilai-nilai inti berdemokrasi seperti kemerdekaan (liberty), keadilan (justice), kesetaraan (equality) dan persaudaraan (fraternity). Karena itu, dalam konteks pembangunan kebangsaan dan demokratisasi yang sedang diperjuangkan oleh bangsa Indonesia, Muhammadiyah memiliki dan menjadi (having and becoming) bagian dari Indonesia itu sendiri. Dengan kata lain, Muhammadiyah adalah aktor penggerak pembangunan peradaban Indonesia yang memiliki peran penting. Lebih dari itu, Muhammadiyah pada Muktamar yang ke 47 di Makassar pada 2015 lalu, mempromosikan gagasan Negara Pancasila sebagai Dar al-Ahd wa al-Syahadah. Gagasan tersebut menegaskan bahwa Indonesia harus dipandang sebagai “negara kesepakatan” (dar al-ahd) di antara seluruh anak bangsa, sekaligus “negara persaksian” (dar al-syahadah) sebagai tempat di mana anak-anak bangsa ini mengabdi, berjuang dan berkontribusi secara partisipatoris dalam proses pembangunan. “Peran-peran penting Muhammadiyah harus terus diupayakan dan menjangkau seluruh aspek pembangunan nasional meliputi bidang pendidikan, kesehatan dan filantropisme, politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan, serta aspek-aspek lainnya, yang bersifat interdisipliner,” demikian dikatakan Hasnan Bachtiar, S.HI., MIMWAdv., anggota Cendekiawan Muda Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam rangka merealisasi hal tersebut, Muhammadiyah berkhidmat memperjuangkan gagasan Islam yang berkemajuan, – sekaligus mengimplementasikan Dar al-Ahd wa alSyahadah – demi terwujudnya Indonesia yang berkemajuan. “Karena itu, kami Cendekiawan Muda Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Malang  berupaya memberikan sumbangsih intelektualnya dalam hal pembangunan peradaban Indonesia yang berkemajuan. Berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan penting ini, maka CMM UMM menyelenggarakan “Kolokium Nasional Interdisipliner Cendekiawan Muda Muhammadiyah” dengan tema “Konsolidasi Kaum Muda Muhammadiyah untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”,” ungkap Hasnan, selaku ketua pelaksana kegiatan. Kegiatan ini diadakan Jum’at – Sabtu, 6-7 Maret 2020 berlokasi di Sengkaling Convention Hall, UMM. Diikuti para Cendekiawan Muda Muhammadiyah (CMM), Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), perwakilan PTM se-Indonesia, utusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur, para pimpinan ortom Muhammadiyah di tingkat pusat dan wilayah (atau daerah), dosen muda UMM, serta para aktivis dan pegiat literasi Muhammadiyah. Selain sebagai ajang silaturrahmi (sambung-rasa) dan silatulfikri (sambung-fikir) Cendekiawan Muda Muhammadiyah untuk turut berkontribusi dalam menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan dewasa ini, juga dalam rangka Konsolidasi dan memperkuat jejaring Cendikawan Muda Muhammadiyah di seluruh Indonesia. “Tak kalah penting, agenda utama dari kolokium ini untuk merumuskan policy brief yang bisa digunakan sebagai pertimbangan bagi para pihak yang berkepentingan dalam rangka mendorong pembangunan Indonesia yang berkemajuan. Serta, berkontribusi secara ilmiah dalam menyambut pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo 2020,” tandas Hasnan. Hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammmadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir M.Si. turut hadir memberi sambutan sekaligus membuka acara, juga Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P. yang didapuk sebagai keynote speaker. (*/Can)

Urun Pemikiran Kaum Muda Muhammadiyah UMM untuk Indonesia Berkemajuan

Jaringan Intelektual Muda MuhammadiyahUniversitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Cendekiwan Muda Muhammadiyah (CMM) menggelar Kolokium Nasional Interdisipliner, Jumat (6/3). Acara yang dikerjasamakan dengan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) ini dihelat di Sengkaling Convention Hall UMM, 6-7 Maret 2020.  Gelaran menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-48 ini bertajuk “Konsolidasi Kaum Muda Muhammadiyah untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”. Dalam sambutannya Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. berpendapat bahwa Cendekiawan Muda Muhammadiyah harus punya resonansi dan tanggungjawab nasional. “Bukan hanya pandai berpikir dan menggagas, tapi harus pandai mengeksekusi ide-ide brilian itu. Kolokium ini hanya awal,” ujarnya. Ia berharap cendekiawan muda mampu mengawal Muhammadiyah untuk terus berkebaruan. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. yang sekaligus membuka acara mengapresiasi agenda dalam rangka berkontribusi secara ilmiah dalam menyambut pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo tahun 2020 ini. “Saya memberi apresiasi terhadap acara ini karena saya yakin cendekiawan Muhammadiyah punya peran strategis untuk membawa Muhammadiyah bertahan dan berkiprah di masa depan,” kata Haedar. Haedar berpendapat bahwa cendekiawan Muhammadiyah harus mampu menelurkan tawaran-tawaran alternatif, yang baru dan substantif, yang bisa memandu jalannya kehidupan manusia. Konteks yang Haedar tegaskan adalah persoalan kebangsaan dan ke-bhineka-an, yang oleh Muhammadiyah direspon dengan gagasan Darul Ahdi Was Syahadah. “Cendekiawan Muhammadiyah harus memperkaya dimensi alternatif bagaimana mengisi cita-cita pendiri bangsa dengan Islam tanpa mengancam keberadaan ‘yang lain’. Untuk itu, anda harus memperkaya bacaan dan memperluas pergaulan, muhasabah terus menerus,” pesan Haedar. Acara diselingi dengan launching dan penyerahan secara simbolis buku “Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa”, yang diserahkan oleh Wakil Rektor II UMM Dr. Nazarudin Malik, M.Si. pada Ketua Umum Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Buku ini adalah versi buku dari jurnal Muhammadiyah Studies. Kuliah umum berikutnya, sekaligus sebagai pembuka acara, disampaikan oleh Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. “Di kalangan Muhammadiyah sudah ada anak muda yang mencoba meluruskan keadaan, dengan penelitian dan laporan-laporan indepth. Ini bagus sekali. Sebab di luar sana ada tren ke-tidak tekun-an. Banyak juga anak muda Muhammadiyah yang ingin panen praktis dengan cara berpolitik. Tapi yang hadir di sini, Insyaallah, tidak seperti itu,” ungkap Muhadjir. Menurut Muhadjir, di kalangan anak muda terdapat ketimpangan struktural dan spasial, sehingga harus pula ada pemetaan ketimpangan di kalangan anak muda Muhammadiyah. Jangan sampai, mayoritas anak muda Muhammadiyah masih mengalami ketimpangan. Peserta yang menghadiri acara pembukaan tidak kurang dari 200 orang. Peserta Kolokium Nasional ini adalah delegasi dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Papua. Variasi kepesertaan ini penting untuk menciptakan jejaring cendekiawan dan memelihara persebaran kecendekiaan di tubuh Muhammadiyah. (*/Can)