UMM Tuan Rumah Monev Darmasiswa Kemdikbud

Dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan bagi mahasiswa asing untuk belajar mendalami Budaya dan Bahasa Indonesia, BIRO Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI), bekerjasama dengan Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai tuan rumah, menyelenggarakan Monitoring Evaluasi Program Beasiswa Darmasiswa, wilayah Regional Malang Raya, Senin (24/02). Dalam sambutannya, Arif Budi Wurianto M,.Si selaku Kepala BIPA UMM mengaku sangat senang menjamu para mahasiswa asing yang datang dari enam pengelola beasiswa Darmasiswa selain UMM, yakni Universitas Brawijaya, Politeknik Negeri Malang, Universitas Negeri Malang, STIE Malang Kucecwera, serta IKIP Budi Utomo. “Kegiatan beasiswa Darmasiswa ini sangat positif untuk mengenalkan budaya Indonesia dan belajar Bahasa Indonesia agar lebih dikenal negara asing. Selain itu pembelajaran penting lainnya, mahasiswa asing juga mendapat pembelajar toleransi, karena budaya Indonesia yang sangat beragam,” ucap Arif. Sherly Lantang selaku Pembantu Pimpinan Subbag KNIU, Bagian FI, Biro PKLN, Kemdikbud berpesan bahwa segala keluh kesah mahasiswa asing selama kegiatan beasiswa akan dievaluasi kembali. Nantinya, bukan hanya mendapat gelar pendidikan, tapi mahasiswa asing juga ditempa untuk menjadi duta Bahasa dan Budaya Indonesia di negara asalnya. Kerjasama Program Beasiswa Darmasiswa dengan UMM sudah berjalan 14 tahun lamanya, sejak pertama kali diadakan tahun 2006, dengan dibantu oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mahasiswa yang menempa ilmu berhak mendapatkan  tunjangan pendidikan sebesar 2,5 juta perbulannya. “Untuk periode yang akan datang, UMM akan lebih banyak mengadakan kerjasama, baik dalam bentuk kerjasama luar negeri maupun dalam negeri. Untuk itu, perlu bantuan dan dukungan dari seluruh civitas akademika dalam mempererat hubungan kerjasama,” jelas Mathieu Mergans selaku Staf Khusus Rektor Bidang Hubungan Internasional. Sembari meminta maaf karena ketidakhadiran mahasiswa asing dari UMM karena sedang menjalankan homestay programs atau semacam Kuliah Kerja Nyata selama satu Minggu di Batu, Mathieu berharap agar UMM sebagai tuan rumah dapat menjadi tali penyambung silaturahmi, bagi mahasiswa asing yang sedang menjalani program beasiswa Darmasiswa di Malang. (yas/can)

Kemenag Pesankan Ini Kepada Lulusan PPG UMM

“Dari yang saya lihat saat masuk keruangan ini yang terpancar adalah kebahagiaan, tentu anda sudah tahu perjuangan dan tugas berat para guru. Program Profesi Guru (PPG) ini merupakan salah satu instrumen dalam meningkatkan mutu guru,” ujar Prof. Dr. Suyitno, M.Ag. selaku Direktur Direktorat GTK Madrasah Kementerian Agama RI (Kemenag RI) pada sambutannya dalam Gelar Kelulusan dan penyerahan sertifikat PPG Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Saya berani mengatakan apakah guru yang sudah ikut PPG, kemudian kalian bisa menjamin dirinya sudah bermutu?” lanjut Suyitno. Bermutu itu adalah sebuah proses, bermutu itu never ending, never stoping. Jadi PPG ini hanyalah proses. Karena ke depan akan ada Program Keprofesian Berkelanjutan (PKB) meliputi pengembangan diri serta karya inovatif dan lain sebagainya. “Masih banyak yang harus dilakukan. Jadi proses panjang tidak hanya dilalui melalui PPG. Jadi ini adalah satu bentuk rehat dan refresh setelah sekian lama melakukan pengajaran di sekolah. Dimana kita mendapatkan pengayaan info baru, pengayaan pembelajaran dan siswa kita butuh itu, butuh hal-hal baru,” sambung Suyitno di Teater Dome UMM. Sabtu (22/2). Pada gelar kelulusan dan penyerahan sertifikat pendidik PPG Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM periode 4 berasal dari Program Studi (Prodi) Matematika, Biologi, B. Indonesia, Bahasa Inggris, PPKN, dan PGSD. Dengan  PPG Dalam Jabatan (Daljab) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejumlah 308 Mahasiswa, terdiri dari Prodi Matematika berjumlah 57 Mahasiswa, Biologi 26 mahasiswa, Bahasa Indonesia 67 Mahasiswa, Bahasa Inggris 91 mahasiswa, serta PGSD 67 Mahasiswa. Adapun PPG Dalam Jabatan (Daljab) Kementerian Agama (Kemenag) sebanyak 108 mahasiswa yakni 28 orang dari Pendidikan Bahasa Indonesia, 25 orang Pendidikan Kewarganegaran, 55 orang Pendidikan Bahasa Inggris dan berasal dari 11 provinsi, 26 Kabupaten Kota. Dengan jumlah total sebanyak 416 mahasiswa, yakni 105 (25%) Laki-laki dan 311 (75%) Perempuan. Salah satu guru Program Profesi Guru (PPG) turut berbagi cerita saat mengikuti PPG, “Tidak hanya disini saja, selama tiga bulan kami di Labuhan Bajo harus bolak-balik ke kota untuk mengikuti pembelajaran Daring (pembelajaran online), bahkan saya awalnya tidak tahu caranya memakai komputer, laptop, serta bagaimana menyetel proyektor di kelas,” ungkap Kamsin S.Pd. Gr salah satu peserta Kelulusan PPG UMM. “Namun, ketika sampai di sini saya mempelajari itu semua. Sehingga guru yang awalnya biasa saja sekarang harus lebih profesional, harus tahu materi apa yang di sampaikan, teori apa yang disampaikan, indikator apa yang akan dilakukan. Ada banyak manfaat yang kami dapat di PPG. Ini menunjukan bahwa kepedulian pemerintah terhadap pendidikan itu sangat tinggi,” lanjut pria asal SMPN Satu Atap Pulau Messah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTT) ini. “Untuk menjadi guru itu, harus siap kerja cerdas. Tidak hanya menyiapkan RPP saja. Lalu kerja mawas yakni dengan ikhtiar, berdoa dan tawakal. Sehingga tidak hanya bekerja dengan hati-hati saja. Kemudian harus kerja tuntas. Dan yang tidak kalah pentingnya ialah kerja ikhlas. Dan harus diimbangi dengan kerja keras. Dengan begitu mudah-mudahan akan membawa keberkahan di masa yang akan datang,” jelas Dr. Poncojari Wahyono, M.Pd Dekan FKIP UMM. “Saya mencoba mentabulasi diksi yang dipakai oleh pak Dekan, diksi itu adalah ultimate atau puncak yang akan kita gapai yaitu bahagia, happines, sa’adah. Menekuni profesi sebagai guru itu harus kita maknai untuk menapaki kebahagiaan karena guru itu adalah seorang inspirator alih-alih menjadi motivator,” jelas Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si selaku Wakil Rektor 1 (WR 1) UMM. Karena motivator dan inspirator itu adalah dua diksi yang berbeda, sambung Syamsul, karena jika menjadi motivator harus pintar merangkai kata, menjadi suatu kalimat yang menggugah dan harus pintar melafadzkan rangkaian kata menarik. Tetapi sebagai seorang inspirator, tidak perlu melihat wajahnya, tampilannya, tetapi apa yang dia lakukan itu bisa menginspirasi dan bisa menggugah. “Menjadi guru itu sesuatu yang luar biasa, meskipun resikonya juga luar biasa. Karena ketika menjadi guru, kita harus menyediakan pundak kita sebagai titik tumpu bagi para murid untuk melihat dunia, melihat cakrawala. Maka dari itulah peran kita membahagiakan dan kita harus enjoy menikmati profesi itu,” tandas Syamsul dalam sambutannya. (riz/can)

Nobar Film Jejak 2 Ulama Momentum Junjung Persamaan Muhammadiyah dan NU

Film ‘Jejak Langkah 2 Ulama’ besutan Sutradara Sigit Ariansyah diputar dalam agenda Nonton Bareng Bioskop Keliling Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM di Hellypad (22/2). Film ini mengangkat kisah perjalanan dua orang tokoh pendiri ormas keagamaan terbesar di Indonesia (Muhammadiyah dan NU), KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Menurut Presiden Mahasiswa, Abdul Aziz Pranatha, inisiatif digelarnya nobar film ini adalah sebagai sarana nostalgia pada masa beberapa tahun silam, dimana sering sekali diadakan hiburan rakyat di kampung-kampung, salah satunya layar tancap. “Kita hidup di malang, tidak pernah pulang kampung, sehingga kita bisa bernostalgia merasakan hangatnya malam dengan menonton layar tancap ini,” sebut Aziz. Selain itu sebut Aziz, film yang diangkat untuk ditayangkan kali ini memiliki nilai yang dapat diambil oleh masyarakat. Selain kedua tokoh dalam film ini merupakan tokoh yang sangat inspiratif bagi umat islam, tentunya lanjut Aziz, dalam film ini terdapat syiar yang dituangkan. “Kedua tokoh ulama tersebut pernah berjuang pada masa dahulu. KH Hasyim Asy’ari dengan revolusi jihad yang disampaikan dan diturunkan kepada santrinya. Kemudian pendidikan karakter yang oleh KH Ahmad Dahlan diajarkan kepada santirnya,” sebut Aziz. Bagaimana dalam film ini memang menunjukkan kedua sahabat karib tersebut menapaki langkah perjuangan menghadapi tantangan berdakwah pada tempat dan kondisi yang berbeda. Film ini juga berisi kebersamaan antar dua tokoh memperdalam ilmu agama pada guru besar yang sama. Alif, salah satu penonton mengungkapkan apresiasinya kepada film tersebut. Film menurutnya, mengembalikan kisah sejarah 2 ormas islam yang sebenarnya selalu berdampingan. Meskipun menurutnya memiliki perbedaan dalam berdakwah, namun memiliki banyak persamaan. “Orang selalu membicarakan perbedaannya NU dan Muhammadiyah saja, harusnya yang terpenting kita junjung adalah persamaannya,” sebut Alif Film ini sendiri diketahui merupakan karya kolaborasi antara Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Muhammadiyah dengan Pondok Pesantren Tebuireng, jombang. (bel/can)

LPPI UMM Dampingi Dosen Muda Naikkan Akreditasi Jurnal Baru TBI

Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Workshop Editor Jurnal Baru Terbitan Berkala Ilmiah (TBI), Jumat (21/2). “Gelaran ini merupakan ikhtiar membawa 20an jurnal baru UMM yang belum terakreditasi pada tahun 2019, untuk terakreditasi di Sinta 3-6 pada tahun 2020,” ungkap Zulfatman, M.Eng., Ph.D. Sekretaris LPPI UMM. Dilanjutkan Zulfatman, LPPI UMM memfasilitasi para editor mengelola jurnal-jurnal baru agar mendapatkan akreditasi jurnal nasional pada tahun 2020, serta indeksasi internasional. Jurnal baru TBI merupakan kategori jurnal yang sudah dipublikasikan selama dua tahun lamanya. Untuk bisa terakreditasi SINTA, jurnal baru harus sudah menerbitkan 4 nomor, memiliki OJS yang lengkap, dan mempunyai substansi konten jurnal yang kredibel dan memadai. “Kami menargetkan untuk lebih dulu terindeks SINTA level 3-6. Karena jika kategori 1-2, biasanya jurnal tersebut sudah menuntut kualitas substansi artikel yang tinggi. Apalagi yang Sinta 1 biasanya sudah terindeks di Scopus,” terang Zulfatman. Workshop ini lebih fokus memberikan pengetahuan tentang bagaimana ketentuan akreditasi nasional dan apa saja yang harus dipenuhi dalam aspek manajemen dan substansi agar terakreditasi pada Sinta 3-6. Disamping itu juga diberikan bagaimana cara mempromosikan jurnal baru TBI untuk mendapatkan penulis, reviewer, dan editor. Agenda ini menghadirkankan enam pemateri yang merupakan 6 editor jurnal yang handal dari internal UMM, yaitu M. Sri Wahyudi S. ME,  Agus Eko M., M.Kom, Wahyu Andhyka K., M.Kom, Husamah M.Pd, Arif Setiawan M.Pd, serta Dana Marsetiya U., M.T. Salah satu pemateri, Agus Eko Minarno, M.Kom menjelaskan, ada berapa hal yang harus dipenuhi jurnal baru dari sisi manajemen agar dapat terakreditasi di Sinta. “Di antaranya kualitas editor dan reviewer, sebaran penulis, jumlah kunjungan unik, indeksasi, ketersediaan publication ethics, dan lain-lain” terangnya. Dalam kegiatan ini, Zulfatman yang juga merupakan Ketua Penyelenggara menghimbau agar dosen dosen muda, aktif menjadi pengelola jurnal, sehingga dapat mempengaruhi kemampuan dan performa nantinya saat menulis artikel jurnal. (yas/can)

siPicow, Aplikasi Pendeteksi Penyakit Sapi Buatan Mahasiswa UMM

MINIMNYA pengetahuan yang dimiliki menjadikan para peternak kurang sigap dalam menangani penyakit-penyakit yang sering diderita oleh hewan ternak, semisal sapi. Sehingga penanganan yang mereka lakukan bisa dikatakan tidak benar dan kurang profesional. Penanganan yang tidak benar mengakibatkan kerugian yang bertahap. Mulai dari borosnya penggunaan obat, biaya perawatan dan akomodasi yang tidak murah, serta terhentinya produksi dan penjualan. Masalah ini harus dipecahkan. Berangkat dari permasalahan itu, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan perangkat lunak (software) bernama “SIPICOW”.  Tujuan dari pengembangan perangkat lunak ini adalah untuk merancang dan membangun sebuah aplikasi mobile sebagai media pendeteksi dan penanganan dini terhadap penyakit sapi dengan memanfaatkan sistem pakar, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari media dalam jaringan dan beberapa pakar yang ahli di bidangnya. “Selain itu jika kerugian tersebut tidak segera ditangani kemungkinan besar akan terjadi penyebaran penyakit yang tidak terkontrol. Sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemungkinan paling buruk yaitu kematian pada hewan sapi dan terjadinya kebangkrungtan bagi peternak itu sendiri,” kata Muhammad Nafi’ Maula Hakim, salah satu penggagas aplikasi. Nafi’ bersama kawannya Abdul Jabbar Nur Ihsan dan Muhamad Azhar Ridani yang bisa diakses dengan platform mobile android dan iOS. Namun sebaliknya, sambung Nafi’, jika peternak mampu menguasai medan dan situasi, maka peternak dengan sigapnya mampu mengatasi permasalahan tersebut tanpa perlu ragu dan khawatir akan resiko yang dihadapinya. “Oleh karena itu, perlunya dilakukan pengembangan perangkat lunak yang bisa digunakan sebagai referensi oleh peternak sekaligus menjadi media informasi dan pendampingan melalui sistem pakar dalam bentuk aplikasi “SIPICOW” yang ringan dan mudah digunakan,” ungkap Nafi’. Berdasarkan hasil penggalian data melalui beberapa tahapan yang sebelumnya sudah dilakukan, terdapat beberapa fitur yang bermanfaat bagi peternak sapi antara lain nama penyakit penyakit yang sering diderita oleh hewan sapi, ciri-ciri penyakit, penyebab penyakit, gejala Penyakit, penanganan dini terhadap penyakit, metode-metode penanganan yang baik dan benar menurut pakar, sketsa kandang dan lingkungan yang baik bagi hewan sapi, serta manajemen pakan dan pengelolaan hewan sapi. Studi literatur dilakukan untuk mengumpulkan data atau kebutuhan yang diperlukan melalui beberapa referensi. “Referensi yang kami gunakan antara lain adalah jurnal ilmiah, media daring, serta beberapa sumber yang kredibel dari internet. Tidak hanya itu kami juga melakukan tanya jawab kepada beberapa orang yang memang ahli di bidang peternakan melalui media aplikasi chat,” terang Nafi yang merupakan mahasiswa program studi Teknik Informatika angkatan 2017 saat diwawancarai Selasa (18/2). (yas/can)

Guru TK ABA sebagai Garda Terdepan Benteng Ideologi Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Aisyiyah bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kuliah Umum Peneguhan Ideologi Muhammadiyah bagi Kepala Sekolah KB-TK Aisyiyah Bustanul Atfal (ABA) se-Jawa Timur pada Selasa (18/2) di Theater Dome UMM. Acara ini dihadiri 350 peserta, baik kepala sekolah maupun guru KB-TK ABA se Jawa Timur. Dra. Salmah Orbayinah, M.Kes.,Apt, Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Aisyiyah dalam sambutannya mengatakan, di abad kedua ini KB-TK ABA telah meneguhkan visi yang berlandaskan iman, ilmu, dan amal untuk mendidik jiwa yang kokoh, merdeka, penuh toleransi, yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam Berkemajuan. Untuk itu, Salmah berpesan agar Kepala Sekolah dan Guru mendidik generasi yang kuat karakternya, berakhlak mulia, kokoh nilai-nilai keislamannya, cinta lingkungan, serta menjadi orang-orang yang mencintai kedamaian. Oleh karena itu lanjutnya, program ini menjadi sangat penting dan sangat strategis disaat muncul dan berkembangnya berbagai ideologi. “Kepala Sekolah dan Guru KB-TK ABA memiliki peran sebagai garda terdepan benteng ideologinya Muhammadiyah di masyarakat. Terlebih bagi anak-anak yang akan menjadi penerus, pelangsung, dan pelopor perjuangan Aisyiyah dan Muhammadiyah. Jadi sudah seharusnya semua pihak memahami apa itu ideologi Muhammadiyah,” ujar Salmah. Selain itu dalam sambutannya, Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., Wakil Rektor II UMM mengatakan bahwa menurutnya esensi dari peneguhan ideologi di dalam Muhammadiyah sesungguhnya adalah upaya untuk secara terus-menerus membangun dan mengasah intuisi keberagaman. “Ini merupakan basis utama gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Mengusung Islam sebagai agama yang mencerahkan seluruh alam semesta dan membawa kepada cahaya kemenangan, kebahagiaan, hidup yang menggairahkan,” sebut Nazar. Lanjutnya, praktik Surat Al-Maun sebagai basis ideologi Muhammadiyah sesungguhnya menjadi ruh untuk menggerakkan diri kita secara tulus, ikhlas beribadah dengan jalan mengabdi kepada institusi dan badan amal usaha, seperti UMM dan TK ABA. “Ideologi itu adalah sesuatu yang melekat dalam alam bawah sadar kita. Karena itu perlu diasah untuk menjadi bekal untuk diri kita terus berkiprah kepada Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai pilar kemajuan Republik Indonesia,” tutur Nazar.(bel/can)

Mahasiswa UMM Ciptakan Beton Daur Ulang

Melihat perkembangan konstruksi di Indonesia yang semakin pesat, perlu adanya inovasi-inovasi baru. Mengingat, ketersediaan sumber daya alam yang merupakan bahan dasar dalam konstruksi sangat terbatas. Jika konstruksi di Indonesia terus dilakukan tanpa adanya alternatif baru, suatu saat akan merusak perut bumi. Berangkat dari fenomena tersebut, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurman Handitya Prima, Muh Irfan Maulana, dan Oval Mufarid menemukan cara yang ramah lingkungan untuk mendaur ulang beton bekas reruntuhan bangunan. Hal ini dapat digunakan kembali dengan memanfatkan limbah material bekas konstruksi beton sebagai subtitusi 100% dari total kebutuhan agregat. Limbah beton bekas yang tak terpakai tersebut dihancurkan kembali menghasilkan agregat kasar dan juga agregat halus. Selain itu, menurut mereka terdapat serbuk-serbuk kecil dari penghancuran beton tersebut yang ternyata bekas dari semen. “Di sini kami menghancurkannya dengan cara manual, yaitu palu. Kemudian disaring sesuai ukuran saringan. Material yang tertinggal menjadi agregat kasar pengganti krikil. Yang lolos akan dihancurkan menggunakan mesin los angeles hingga seperti pasir dan disaring lagi menjadi agregat halus,” sebut Nurman bimbingan Lukito Prasetyo, Ir. MT, dosen Teknik Sipil UMM. Hasil dari beton daur ulang tersebut nampaknya tidak dapat dipandang sebelah mata. Dalam hasil uji abrasi, beton daur ulang ini memiliki tingkat keausan yang sama dengan krikil Kulon Progo. Ditemukan nilai keausan sebesar 23.5%, sehingga masih dalam nilai keausan yang diizinkan untuk beton kelas III yaitu dibawah 27% berdasarkan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI). “Kita membuat inovasi akan tetapi tidak mengurangi dari durabilitas beton tersebut. Apa yang kita pakai harus sesuai dengan standar yang berlaku. Harus sesuai dengan batas-batas yang diujikan. Sehingga tidak hanya menggunakan SNI saja, SII, ASTM dan PB juga kita uji,” tutur Nurman. Berkat inovasi tersebut, Nurman mampu lolos dalam seleksi abstrak lomba karya tulis nasional Civil Festival 2020 di Politeknik Negeri Jakarta. Hebatnya, Nurman menjadi satu-satunya perwakilan Universitas Swasta. Selanjutnya ia akan menyerahkan full paper dan mempresentasikan inovasinya tersebut pada 11 Maret mendatang. (bel/can)

Kursi Terapi Penghilang Stres Menangi Ajang Inovasi ASEAN

TINGGINYA beban pekerjaan memicu terjadinya gejala stres. Tingkat stres seseorang dapat dipicu oleh beragam faktor. Mulai dari tingkat pendapatan, beban pekerjaan, hingga masalah-masalah lain yang tidak pernah terbayangkan. Lebih jauh lagi, stres berlebihan bisa menyebabkan depresi bahkan gangguan kejiwaan. Anda tak perlu khawatir. Tengoklah Inovasi rancangan sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini yang memenangi ajang ASEAN Innovation Science and Entrepreneur Fair 2020 di BG Junction Bubutan Surabaya, 14 – 16 Februari 2020. Inovasi yang meraih Silver Medal ini bertajuk “Terapi Penghilang Stres dengan Kursi Musik Alami”. Inovasi teknologi berbasis kewirausahaan ini merupakan rancangan dari Dicky Marcellino Akbar, Ardi BC, Kholil Maharno, Hadi Purnomo, Revaldo Yuanda. Kursi ini menggunakan audio dan arduino (sebuah platform komputasi) serta sensor jarak sebagai pendeteksi ketika pengguna duduk untuk kemudian secara otomatis kursi akan memainkan musiknya. Sedangkan pada pusat tertentu pada kursi yang digunakan getaran dengan modul getar dan arduino sebagai terapi. “Bahkan, stres juga mampu menyebabkan beberapa masalah pada tubuh yang sebenarnya sepele, tapi cukup mengganggu,” ungkap Dicky Marcellino salah satu anggota kelompok saat diwawancarai, Senin (17/2). Ketika seseorang merasakan stres, tubuh membacanya sebagai sebuah serangan atau ancaman. Seseorang melindungi diri, tubuh akan memproduksi berbagai hormon stres, seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin. “Peningkatan hormon pada tubuh penyebab stres ini membuat jantung menjadi berdetak kencang karena denyut jantung yang semakin meningkat, napas jadi lebih cepat dan singkat, otot-otot menegang, tekanan darah naik, mudah cemas, sulit tidur, hingga sulit berpikir jernih,” sambung Dicky. Hipotesis kelompok ini menyatakan, antara intensitas mendengarkan musik dan stres seseorang menggunakan metode uji Kendall’s disimpulkan bahwa mendengarkan musik dapat menurunkan stres. (can)

Semangat menebarkan literasi kembali dilakukan oleh tim mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (12/2). Kali ini tim Mobil KaCa menyambangi siswa-siswi dari SDN 1 Wonocoyo Trenggalek, SDN 1 Tenggarang dan SDN Kajar 1 Bondowoso. Mereka tengah menjalani program Tetirah di Pelayanan Sosial Petirahan Anak (PSPA) Bima Sakti, Kota Batu. Kehadiran Mobil KaCa tidak hanya memperkenalkan literasi namun diselingi juga dengan berbagai kegiatan. Seperti yang dilakukan Johan Achmad bersama siswa-siswi kelas 5. Mereka melakukan kegiatan Fun English seperti Ice Breaking, Jump Sit, menjelaskan tentang cita-cita dan pekerjaan dalam bahasa Inggris, Games Who Am I, serta Animals Whispering Games. Begitu pula dengan Nurul Hamidah yang mengajak siswa-siswi kelas 4 dan 5 melakukan kegiatan outbond. Di antaranya Goyang Unggas, Games Estafet Karet, memperkenalkan bahasa Arab dan tebak-tebakan kosakata bahasa Arab. Kegiatan luar ruangan ini untuk membangkitkan semangat siswa, melatih kekompakan dan kerjasama tim, melatih daya ingat, serta fokus serta cepat tanggapnya siswa. “Senang (dengan kegiatan ini). Karena nggak cuma belajar dan membaca, tapi ada mainnya juga. Bisa baca komik juga,” ujar Galang salah satu siswa peserta tetirah yang berasal dari SDN 1 Wonocoyo kabupaten Trenggalek. Sedangkan kelas 2-4 belajar reportase jurnalistik, belajar menulis pertanyaan, wawancara, serta merangkai kata dari hasil wawancara. “Dengan adanya mobil KaCa mereka bisa mendapatkan tambahan skill yang baru yang belum pernah mereka dapatkan. Mereka juga dapat berbagai inspirasi dari sumber bacaan yang mereka temui pada buku-buku yang ada di Mobil KaCa,” tandas Maharina Novia Zahro selaku koordinator Mobil KaCa UMM. “Diharapkan melalui tetirah ini anak-anak menjadi tertib, disiplin dan tanggung jawabnya meningkat. Yakni dengan menanamkan kebiasaan baik kepada anak seperti menyetrika, mencuci, merapikan tempat tidur yang arahnya untuk perubahan sikap dan perilaku,” ujar Warsiyah selaku pekerja sosial fungsional sekaligus sebagai pembimbing anak-anak. Selain itu, jelas Warsiyah, kehadiran Mobil KaCa UMM menambah kegiatan edukatif, disamping bimbingan sosial, bimbingan mental yang mencakup penanaman norma-norma sosial dan norma agama, latihan konsentrasi, serta pembimbing menyesuaikan dengan masalah yang ada pada anak yang telah diprogram sebelumnya. (Riz/Can)

Ingat Formula JAKET Mahasiswa Kedokteran UMM Ini untuk Cegah Hipotermia

Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh menurun drastis hingga di bawah 35oC. Ketika suhu tubuh berada jauh di bawah normal (36-38oC), fungsi sistem saraf dan organ tubuh lainnya akan mengalami gangguan. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gagal jantung, gangguan sistem pernapasan, dan bahkan kematian. Tapi gejala ini tidak akan terjadi jika Anda betul-betul menerapkan formula “JAKET”. JAKET sendiri merupakan akronim dari Jeans are not allowed to be used (Jeans tidak bisa digunakan), Avoid drinking alcoholic beverages to warm the body (Hindari minum minuman beralkohol untuk menghangatkan tubuh), Keep your body temperature normal (Jaga suhu tubuh Anda normal), Eat enough because the body needs energy (Makan cukup karena tubuh membutuhkan energi), dan terakhir The equipment carried and used must be completed (Peralatan yang dibawa dan digunakan harus dilengkapi). Formula ampuh sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) ini digadang mampu untuk pencegahan hipotermia. Adalah Bagas Danadipa dan Nadhiva Nur A. yang menjadi juara 1 Lomba Poster Publik tingkat nasional dalam acara Indonesian Medica Student Training and Competition (IMSTC) yang diadakan oleh Asian Medical Students Association (AMSA) Indonesia (9/2). Indonesia memiliki sekitar 128 gunung dari Sabang hingga Merauke. Sekitar 5 juta orang tinggal di dekatnya. Keindahan alam membuat banyak orang tertarik untuk mendaki Gunung. Untuk satu gunung saja bisa mencapai puluhan ribu pengunjung setiap tahunnya. “Hipotermia adalah salah satu kendala yang sering mengancam kehidupan pejalan kaki di gunung. Oleh karena itu, pejalan kaki harus tahu cara mencegah hipotermia ini,” jelas Bagas saat diwawancarai perihal kemenangannya. IMSTC sendiri merupakan acara tahunan AMSA Indonesia dimana pada tahun ketiga ini Universitas Brawijaya menjadi terpilih menjadi host. Acara bertema Trauma Care with Comprehensive Solution ini berisi serangkaian training atau lecturing mengenai pembuatan makalah ilmiah dan poster publik serta 5 cabang lomba, yaitu poster publik, poster saintifik, videografi, fotografi, dan scientific paper. (yus/can)