Profesor UMM Bikin Produk Bioteknologi 5 in 1 untuk Atasi Masalah Pakan Ternak

Pakan merupakan salah satu hal terpenting dalam suatu usaha peternakan. Limbah pertanian yang biasa digunakan sebagai sumber pakan ternak, belum menjamin nutrisi dan kecernaan yang tinggi. Terlebih, terdapat residu pestisida yang tidak menjamin keamanan pangan dari hasil peternakan. Guru besar bidang nutrisi dan ternak organik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini. MP., mencatat dalam salah satu risetnya bahwa terdapat 12 residu organoklorin paling berbahaya pada hasil peternakan. Dalam pengembangannya, ia menemukan bakteri yang dapat mendegradasikan senyawa kompleks bahkan senyawa berbahaya. Untuk menindaklanjuti riset tersebut, Prof Indah, begitu sapaannya membuat produk bioteknologi. Jika sebelumya membuat produk untuk meningkatkan kesuburan tanah dan membersihkan residu, kali ini Prof Indah berinovasi dalam produk Biofarm 5+1, yang dapat menjawab permasalahan pakan hewan ternak. “Jadi dalam satu kemasan Biofarm terdapat lima manfaat sekaligus, yaitu sebagai bionutrisi, imunobiotik, biofermentasi, probiotik dan prebiotik. Bakteri probotik yang saya gunakan juga sudah terkenal dapat mendegradasi residu-residu kimia,” urai pengajar mata kuliah Ilmu dan Teknologi Pangan UMM ini. Dalam riset yang dilakukan untuk memformulasikan produk tersebut, ia menemukan bahwa terdapat mineral makro dan mikro yang diserap oleh hewan ternak. Hal tersebut dapat meningkatkan ketersediaan mineral yang berasal dari protein mikroba. Selanjutnya terdapat senyawa aktif sebagai anti infeksi untuk menjaga kesehatan ternak. Jika digunakan dalam starter fermentasi pakan, lanjut Indah, dapat dilakukan dengan mudah, tidak mudah terkontaminasi dan dapat hidup dalam kondisi aerob serta anaerob. “Jadi peternak tidak lagi harus menutup pakannya dengan sangat rapat. Pakan akan awet, tetap kuning dan bagus. Akan tetapi jika dimakan akan rapuh dan mudah dikunyah. Sehingga perut cepat kosong dan konsumsi semakin tinggi,” ungkap Dosen Peternakan ini. Fungsi lain yang menjadi pembeda dengan produk yang dijual di pasaran adalah probiotik. Bakteri hidup yang digunakan dapat hidup pada alat pencernaan sapi meskipun dalam keadaan anaerob. Gunanya, lanjut Indah, untuk membantu memperbaiki kondisi rumen. Prebiotik yang digunakan juga dapat menutrisi bakteri hidup di dalam alat pencernaan. “Sudah 5.000 produk yang terdistribusikan ke peternak dan perusahaan-perusahaan. Yang terlihat adalah konsumsinya tinggi, ternak lebih sehat, dagingnya merah, produksi meningkat baik susu, bobot badan, produksi telur, dan juga tidak bau. Cukup efisien juga, karena 1 liter biofarm dapat mengolah 1 ton pakan atau bisa untuk 1000 liter air,” sebut Indah. Tidak berhenti dalam produk ini, saat ini Prof Indah beserta 12 mahasiswanya sedang mengoptimasikan dan uji produksi untuk simbiotik powder. Banyaknya permintaan dari perusahaan dan peternak untuk memformulasikan dalam bentuk powder membuatnya ingin memproduksinya dalam 2 tahun yang akan datang. Hal ini dikarenakan dalam bentuk powder dapat mempermudah perlakuan, pengiriman dan penyimpanan bagi peternak. (bel/can)

Mahasiswa UMM Bawa Isu Kecanduan Gawai ke Turki

KECANDUAN gawai (gadget) yang menggejala di kalangan anak-anak menjadi perhatian khusus sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Mereka, secara khusus merumuskan proyek sosial untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan gawai yang berlebihan. Proyek sosial ini mereka bawa ke Turki untuk mendapat masukan dari para ahli yang selanjutkan bakal diterapkan di Indonesia. Proyek sosial ini mereka namakan “Disconnected to Connected”. Adalah Nandiroh dari Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan, Faura Dea Ayu Pinasti dari Prodi Pendidikan Biologi, Alia Rizka Mansyur dan Isyfa Zahrotul Mufidah dari Prodi Hubungan Internasional (HI), yang mewakili Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada perhelatan Istanbul Youth Summit (IYS) 2020 di Turki. Ketiganya bersama beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi Indonesia lain tergabung dalam satu kelompok untuk terbang ke Turki pada 27-30 Januari lalu. “Berdasakan hal tersebut, kami berinisiasi untuk membuat kegiatan berupa kampanye ‘No Gadget Day’ yang dikhususkan untuk anak-anak usia 1-12 tahun beserta orang tuanya. Kampanye ini dibuat untuk meminimalisir kegiatan anak-anak yang disibukkan oleh gadget-nya. Kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya juga menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi kecenderungan anak terhadap gadget,” kata Nandiroh, salah satu anggota kelompok, Selasa (11/2). Orangtua seringkali membiarkan anaknya bermain gawai tanpa adanya pengawasan, sehingga membuat anak sulit diajak bicara dan cenderung marah ketika gawainya diambil. “Proyek sosial ini menekankan pada kegiatan edukasi terhadap orang tua perihal cara cerdas mendidik anak di era milenial disertai dengan kegiatan bermain anak menggunakan permainan tradisional,” ungkap Nandiroh. Konsep proyek sosial ini yang dibawa dan diberi masukan oleh para pakar di Turki. Kota Tangerang menjadi sasaran pertama wilayah yang akan mereka gunakan untuk melaksanakan kegiatan kampanye “No Gadget Day”. Rencananya bakal digelar 26 Juli 2020 di Car Free Day Alam Sutera. Dipilihnya Tangerang karena kota ini pernah dinobatkan sebagai Kota Layak Anak (KLA) Pratama 2018 yang diadakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), sehingga dapat menjadi percontohan awal dalam melakukan kampanye ini. Bentuk kegiatannya antara lain Asyik Bermain Bersama (Asmara). Asmara merupakan kegiatan bermain bersama anak-anak menggunakan permainan tradisional seperti congklak, egrang, kelereng, karetan, gasing dan permainan tradisional seru lainnya yang tanpa menggunakan alat. Kegiatan Asmara juga diiringi dengan agenda bernyanyi bersama lagu-lagu tradisional serta bermain musik tradisional. “Digelar juga buku bacaan anak-anak yang bisa dipinjam,” terangnya. Ada juga Edukasi Orang Tua (Edora). Edora merupakan kegiatan yang dikhususkan untuk orang tua. Dalam hal ini, mereka juga mengundang orang tua bagi anak-anak yang hadir dalam agenda kampanye No Gadget Day. “Karena bukan hanya anak-anak yang perlu diedukasi, tapi orang tua juga perlu mendapatkan ilmu bagaimana cara cerdas mendidik anak di era milenial. Disediakan juga wadah bagi para orang tua untuk melakukan konseling terhadap permasalahan mendidik anak,” jelasnya. Terakhir, Mari Membuang Sampah (Marimas). Tidak hanya menjaga kelestarian budaya, kita juga berupaya untuk mendidik anak-anak menjaga kelestarian lingkungan untuk turut serta membuang sampah pada tempatnya dan membantu meringankan pekerjaan para petugas kebersihan dalam membersihkan sampah di lingkungan. “Berbagai kegiatan ini akan kami persembahkan untuk meramaikan agenda pada Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli 2020,” tandas Nandiroh. (riz/can)

Prodi Agribisnis UMM Taruh Perhatian Serius pada Perubahan Iklim

Program Studi (Prodi)Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi Co-Hosting Organizations dalam gelaran akbar 6th GoGreen Summit & Awareness on Climate Change di Bali, Maret mendatang. “Kami diminta secara langsung saat turut serta dalam agenda summit sebelumnya di Singapura,” ungkap Rahayu Relawati, Dr. Ir., MM, Dosen Prodi Agribisnis. Seminar bertajuk “Socio-economic Scenarios and Environmental Consequences of Human Activities Causing Climate Change”ini, akan berlangsung pada 20-21 Maret 2020. Rahayu mengungkapkan jika UMM akan meninjau perubahan iklim dari aspek sosial ekonomi pertanian dan agribisnis. “Kami ingin berkontribusi padahasil penelitian bahwa perubahan iklim ini berdampak pada salah satunya bisa dari daya saing ekspor,” tuturnya. Menurut dosen yang juga akan menjadi pembicarapada gelaran bertaraf internasional ini, perubahan iklim tidak dapat mengendalikan secara personal. Hal yang dapat dilakukan ialah menekan faktor-faktor penyebab.“Penelitian yang akan dipresentasikan UMM nanti terkait dengan plastik,” kata Rahayu. Plastik, lanjutnya, membawa dampak luar biasa buruk pada pencemaranlingkungan. Maka dari itu, Rahayu beberapa waktu terakhir tertarik mengamati perilaku konsumen dalam meminimalisir penggunaan plastik yang termasuk dalam tindakan mitigasi atau upaya mengurangi resiko. Dari sudut pandang Agribisnis, dikenal pula istilah adaptasi. Hal ini merupakan upaya manusia menghadapi perubahan iklim yang ekstrem. Misalnya, terkait dengan pola tanam dan pergeseran waktu tanam. Saat saya turun lapang, nyatanya ada juga mengganti komoditi. Dulu padi kemudian berganti menjadi tanaman lainnya. Hal ini karena perubahan iklam yang sangat ekstrem. Menurut Rahayu, suka tidak suka, pada akhirnya manusialah yang harus beradaptasi dengan segala perubahan yang ada saat ini. “Iklimya sudah sangat berubah,” tegasnya. Kesadaran menjaga lingkungan harus dimiliki oleh seluruh elemen masyarakat. Rahayu, dalam penelitiannya juga menekankan aspek religiusitas. “Kami saranakan pada para da’i-da’i ketika berceramah juga tidak melulu membahas ubudiyah(ibadah), namun juga terkait amaliyah. Salah satunya yaitu betapa pentingnya menjaga lingkungan sebagai anugerah Allah yang harus dijaga dengan baik,” tuturnya. Selain itu, organisasi penyelenggara BioLEAGUES Worldwide juga telah bekerjasama dengan Scopus. Gelaran akbar ini menjadi kesempatan emas bagi dosen-dosen yang ingin jurnalnya masuk di jurnal bereputasi Scopus. Tujuan akhir dari seminar ini bukan hanya proceeding  saja, namun juga ditujukan untuk bisa masuk ke Scopus.(mir/can)

Saat Mahasiswa Thailand UMM Minta Anak-Anak Sumber Pucung Cicipi Tom Yam

“Saya sangat senang bisa ketemu langsung sama kakak dari Thailand. Bisa mencicipi Tom Yam khas Thailand yang rasanya sedikit aneh, tapi masih enak,” ungkap Alif Syahputra Imanuar, siswa kelas 6 SDN Jatiguwi III, Desa Jatiguwi, Sumber Pucung, Kabupaten Malang usai diminta mencicipi makanan tradisional Thailand yang cukup terkenal, Tom Yam. Atau tengoklah komentar Mohammad Debi Ardiansyah, “Senang bisa kenal kakak cantik dari Thailand. Rasa makanan Tom Yamnya sedikit asem dan pedas gurih. Enak! Mantap!” ujarsiswa kelas 5 ini. Dua mahasiswa asal Thailand Nafeesa Jehlae dan Nur-ashireen Mahama lah yang mengenalkan kuliner khas bercita rasa pedas-asam itu. Dua gadis Thailand ini masing-masing dari program studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini sengaja dihadirkan oleh Kelompok Kerja Nyata (KKN) 10 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (6/2) untuk mengenalkan budaya, bahasa dan makanan khas Thailand kepada para siswa. “Dihadirkannya mahasiswa Thailand ke sini untuk menambah wawasan anak-anak terhadap budaya Asia. Di era Modern seperti ini perlu sekali menambah wawasan tentang dunia luar. Anak-anak terlihat sangat antusias menyambut kakak-kakak dari Thailand,” kata Rizky Yuliana selaku Ketua Divisi Pendidikan dan Agama KKN 10 UMM. Selain memperkenalkan kuliner, Feesa dan Shireen juga mengenalkan beberapa kata sapaan beserta penggunaannya. Tak lupa keduanya juga mengenalkan huruf-huruf aksara Thailand. Tak sedikit siswa yang berkomentar bahwa aksara Thailand dan Jawa terdapat kemiripan. Agenda yang dikerjasamakan dengan Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) UMM ini juga membuka lapak baca di lapangan sekolah. Rizky mengatakan, diundangnya Mobil KaCa UMM untuk menyadarkan mengenai pentingnya literasi. “Kami mengundang Mobil KaCa UMM karena tidak memadainya perpustakaan di SD ini. Padahal membaca adalah salah satu hal yang penting untuk dilakukan dalam prosesi belajar,” tuturnya. Pengalaman belajar kreatif diberikan dengan bantuan mahasiswa KKN 10 UMM agar anak-anak tidak cepat bosan. “Kami sangat senang dengan bantuan kakak-kakak mahasiswa untuk mengajar di sini. Agenda yang memberikan pengalaman belajar kreatif kepada anak-anak dan mendatangkan Mobil KaCa untuk mengenalkan indahnya perpustakaan juga cara belajar sambil bermain,” terang Sumaiyah, Kepala SDN Jatiguwi III saat diwawancarai. Syahrin Rachmayannia Pertiwi, selaku koordinator Mobil KaCa UMM menjelaskan bahwa latar belakang adanya Mobil KaCa ini untuk mendatangi tempat-tempat dan siapapun agar mau membaca dan tidak menganggap membaca adalah hal yang membosankan. “Tidak hanya menunggu mereka datang untuk membaca, tapi mendatanginya agar mau membaca,” terang mahasiswa yang akrab dipanggil Syahrin itu. (*/riz/can)

Kembali Jabat Rektor, Fauzan: UMM Harus Terus Memberi Manfaat

Dr. H. Fauzan, M.Pd. kembali terpilih sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Fauzan dinyatakan secara resmi mengemban tugas sebagai Rektor UMM periode 2020-2024, setelah dilantik oleh Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Chairil Anwar di Auditorium BAU Kampus III UMM, Sabtu (8/2) malam. Pelantikan turut dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, MSi, ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., serta para tamu undangan, di antaranya pimpinan Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri, pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), pimpinan Muhammadiyah beserta organisasi otonom, dosen, karyawan, dan aktivis mahasiswa. Dalam pidatonya Fauzan mengatakan, UMM mengusung cita-cita dan tekad yang dituangkan dalam semboyan, “UMM, dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Semboyan ini mengandung spirit kemanusiaan yang dalam, yang disarikan dari cita-cita besar KH. Ahmad Dahlan dalam mendirikan organisasi Muhammadiyah. “Sebagai salah satu amal usahanya, UMM harus dapat memberikan manfaat bagi umat dan bangsa,” katanya. Dinamika kehidupan global kini dan mendatang, sambung Fauzan, akan terus melahirkan berbagai tantangan. Tantangan itu merupakan sebuah keniscayaan yang semua orang harus menghadapi dan menyelesaikannya. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali membangun sinergisitas yang berkualitas dan luas dari semua lapisan masyarakat, yang tanpa membedakan ras, agama, suku, dan golongannya. Dalam konteks ini, kembali ditegaskan Fauzan, maka UMM sebagai institusi pendidikan telah lama menyadari peranannya tidak saja mengemban misi akademik, akan tetapi juga mengemban misi keumatan dan kebangsaan. “Hanya dengan cara demikianlah, kami meyakini akan tercipta generasi bangsa yang unggul dan beradab, yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan melalui kampus ini,” ditegaskan Fauzan. Di periode keduanya memimpin, Fauzan mengaku bakal melanjutkan upaya menjadikan kampus yang dipimpinnya ini memiliki peran lebih dalam perubahan dan dinamika masyarakat. “Saya masih harus kerja keras. Perguruan tinggi, khususnya UMM, tidak boleh jadi objek perubahan. Tapi, harus jadi aktor perubahan yang berperan besar dalam dinamika masyarakat, keumatan, dan kebangsaan,” katanya. Beberapa target capaian turut dia sematkan dalam target di periode duanya. Salah satu capaian yang hendak diraihnya yakni mengejar rekognisi internasional. Upayanya bakal disajikan dengan memperbanyak prestasi dan kerja sama di tingkat internasional. Upaya memperkuat output dari UMM turut menjadi target. “Kami ingin meningkatkan kualitas SDM mahasiswa kami. Muaranya, mencetak alumni yang berkulitas,” tuturnya. Dikatakan Ketua BPH UMM, Prof. Dr. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., bahwa pelantikan Rektor UMM periode kedua ini memang agak khusus. Bahwa momentum ini dalam rangka membangun komunikasi, membangun suasana kebangsaan. “Bangsa ini tentu saja perlu terus-menerus direkatkan dan itu sekaligus menggarisbawahi semboyan yang selalu didengungkan, ‘Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa’,” pesan Malik. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si, yang turut menghadiri pelantikan dalam sambutannya menyampaikan selamat menunaikan amanah kepada Fauzan. “Kami percaya, dengan pengalaman selama empat tahun ke belakang Pak Fauzan akan mampu membawa Universitas ini menjadi kekuatan penggerak, sekaligus menjadi pusat keunggulan,” ungkap Haedar. (riz/can)

Pesan Malik Fadjar untuk Muktamar Muhammadiyah 2020

SESEPUH Muhammadiyah yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019, Prof. Dr. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. didapuk memberi Mukaddimah dalam gelaran Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah 2020 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (8/2), di Aula GKB IV UMM. “Muhammadiyah di tengah-tengah pergolakan di semua aspek kehidupan terus tumbuh berkembang. Usia 108 tahun bagi sebuah ormas bukanlah (capaian) usia yang gampang. Yang perlu digaris bawahi adalah bukan sekedar usianya yang panjang, tapi real dengan amal yang nyata,” ungkap Malik di hadapan hadirin. Sebagai orang tua di Muhammadiyah, Malik mengajak para hadirin yang datang untuk kilas balik pada gelaran Muktamar Muhammadiyah dari masa ke masa. Utamanya, dinamika yang diikutinya pada gelaran Muktamar Muhammadiyah di usia setengah abad di Senayan yang hendak menghadirkan Presiden Bung Karno. Dengan segala tantangan yang dihadapinya saat itu, hajat musyawarah tertinggi Persyarikatan akhirnya bisa dibuka oleh Bung Karno. “Kehadiran Bung Karno memberi makna tersendiri bagi perjalanan Muhammadiyah di masa-masa sulit ketika itu. Karena yang dihadapi ketika itu adalah partai politik Komunis,” kenang Malik. “Muktamar itu tempat menggelar pikiran-pikiran besar, tempat menggelar pandangan-pandangan jauh kedepan dan luas. Meski tiap muktamarnya mengalami tantangan-tantangan, Muhammadiyah tetap solid. Itu yang harus dijaga. Muhammadiyah juga tidak bisa diintervensi,” sambung Malik menggebu. Malik lantas menitipkan sejumlah pesan untuk Muktamar. Yang pertama fatsun atau etika selama bermuktamar yang harus dijaga. Kedua, isu-isu kontemporer harus selalu dibicarakan. Misalnya masalah di dalam negeri seperti masalah lingkungan hidup, Muhammadiyah juga harus peduli. Ketiga, menggiatkan gerakan literasi. Kembali ditegaskan Malik yang juga Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM ini, Muktamar ke-48 ini harus menjadi barometer Muhammadiyah untuk berkiprah kedepan. Dengan cara pandang, cara berpikir, mindset kita yang maju. Hasil Muktamar ini harus mampu menyelesaikan masalah-masalah keumatan. “Jadikan Muktamar ini sebagai ajang menatap ke depan dan melangkah membawa Sang Surya sebagaimana yang dinyanyikan. Indonesia Raya dengan Sang Surya itu hampir-hampir mirip semangatnya. Indonesia Raya untuk membangun Indonesia, sementara Sang Surya untuk menggerakan Muhammadiyah,” tandas Malik. (can)

Rektor UMM Buka Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah 2020

JELANG penyelenggaraan Muktamar ke-48 Muhammadiyah 1-5 Juli 2020 di Surakarta, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah 2020, Sabtu (8/2) pagi. Gelaran sehari ini mengusung tema, “Islam Berkemajuan: Manhaj, Implementasi dan Internasionalisasi”. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. secara khusus berpesan agar penyelenggaraan seminar pra-muktamar ini dijadikan sebagai momentum kontemplasi serta menyegarkan gerakan Muhammadiyah di usianya yang ke-108 tahun. Hal ini senada dengan semangat Muhammadiyah, yakni gerakan tajdid atau pembaharuan. “Merefresh perjalanan Muhammadiyah ini menjadi penting, karena bagaimanapun, Muhammadiyah sudah besar. Maka konsekuensi logis dari itu harus diikuti minset cara berpikir yang besar. Jangan malah terjadi gerakan peyorasi (pelemahan) berjamaah,” ungkapnya dalam sambutan di Aula GKB IV Kampus III UMM. Oleh karena itu, momen yang baik ini patut kiranya dijadikan momentum merekonstruksi kembali cara beramal, cara mengawal, dan cara bermuhammadiyah kita. “Apalagi yang hadir dalam kesempatan ini ada kaum milenial, Turut andilnya saudara menjadi harapan besar bagi Muhammadiyah,” sambung Fauzan. Apakah sama, Muhammadiyah pada tahun-tahun sebelumnya dengan tahun-tahun sekarang dan yang akan datang. Sedangkan, dinamika kehidupan sosial, ekonomi, berpolitik, serta kehidupan keberagamaan kita selalu dinamis. “Tentu pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan mindset yang biasa-biasa saja,” kata Fauzan. Fauzan lantas menyatakan, tema yang dipilih dalam seminar ini sangat menarik. “Tema ini barangkali suatu impian. Tetapi kita juga harus sadar betul bahwa saat ini, pendekatan inklusif dalam menggerakan Muhammadiyah adalah kunci untuk mencapai cita-cita itu,” ucapnya di hadapan ratusan peserta seminar. Seminar ini menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, M.A., Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, Dr. Hamim Ilyas, M.A., Prof. Dr. Masdar Hilmy, S.Ag., Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, M.A., serta Dr. Pradana Boy Z. T. F., S.Ag., M.A. Hasil seminar akan dirumuskan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (can)

PP Muhammadiyah: Islam Berkemajuan Harus Islam yang Universal

MELIHAT perkembangan Muhammadiyah yang sudah menjadi fenomena internasional, pikiran-pikiran tentang Islam Berkemajuan tidak boleh hanya menjadi lokalitas. Tidak menjadi Islam Indonesia, tidak menjadi Islam Jawa, tidak menjadi Islam Asia Tenggara. Tapi Islam yang universal, Islam yang sangat cocok untuk diinternasionalisasi. Setidaknya demikian yang disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, M.A. Ph.D., dalam kesempatan memberi sambutan pada gelaran Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah 2020 yang diadakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (8/2) di Aula Gedung Kuliah Bersama  IV. Sehingga pikiran-pikiran maju dari Muhammadiyah bisa dinikmati, bisa diapresiasi dan dikembangkan oleh masyarakat internasional. Mendiskusikan ini, kata Syafiq, sebagai proses mewujudklan cita-cita agar Muhammadiyah punya dampak yang positif bagi perkembangan pemikiran Islam dan praktik keagamaan bagi masyarakat internasional. Secara khusus, seminar pra-muktamar Muhammadiyah di UMM ini berbicara tentang Islam Berkemajuan. Karena Islam Berkemajuan itu sendiri sudah menjadi semboyan dari warna keislaman yang dikembangkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Tanda-tanda pikiran ini bahkan sudah ada sejak berdirinya Persyarikatan hingga saat ini. “Dalam berbagai pengalaman, Muhammadiyah menjadi satu-satunya organisasi sosial keagamaan yang bisa dengan tepat merumuskan hubungan antara agama dengan negara dengan teori Darul Ahdi wa Syahadah. Karena itu bisa menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah,” ungkap Syafiq di hadapan ratusan peserta yang hadir. Kita ingin mempunyai dokumen yang sama yang dilahirkan dari Muktamar. Syafiq berharap dari UMM bisa menjadi inti tim untuk bisa merumuskan teori dari Islam yang Berkemajuan, yang nanti disahkan di dalam Muktamar. “SDM dari UMM lebih dari cukup untuk bisa merumuskan sesuatu yang dinantikan masyarakat,” katanya. Seminar sehari ini menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, M.A., Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, Dr. Hamim Ilyas, M.A., Prof. Dr. Masdar Hilmy, S.Ag., Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, M.A., serta Dr. Pradana Boy Z. T. F., S.Ag., M.A. Hasil seminar akan segera dirumuskan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di sisi lain, disampaikan Syafiq, setidaknya ada 22 seminar Pra-Muktamar yang dilaksakan di kampus-kampus Muhammadiyah yang ada diberbagai daerah. “Ini sebuah momentum yang sangat krusial yang sangat menentukan bagi Persyarikatan Muhammadiyah. Maka harus ada pikiran-pikiran yang dikembangkan,” tukas Syafiq. (riz/can)

FAI UMM Perkuat Sinergi Antar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Muhammadiyah se Jawa Timur

Tepat pada Jum’at 7 Februari 2020, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyelenggarakan Sarasehan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di lingkungan Muhammadiyah (PTKIM) se-Jawa Timur. Sarasehan yang dipimpin FAI UMM ini mengambil tema “Penguatan PTKIM Menuju Perguruan Tinggi Berkemajuan.” Menurut Dr Fauzan, selaku Rektor UMM yang membuka acara tersebut menyatakan, sudah saatnya PTM menjadi subyek perubahan. Bukan obyek. Karenanya, sudah saatnya bertarung dalam gelanggang; dinamika pendidikan tinggi yang terus berubah. Secara lebih jauh Fauzan mengatakan bahwa konsolidasi ini penting digunakan untuk menata niat, tekad dan semangat PTKIM dalam rangka menjadi yang terdepan dalam inovasi dan prestasi. Narasumber kunci, Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar menandaskan bahwa dalam rangka membawa PTKIM sebagai yang terdepan, memerlukan keberanian dan soliditas. “Dalam menata PTKIM ini, kita harus berani berwawasan inklusif dan menanggalkan sektarianisme,” tegasnya. Prof Malik mengamati bahwa, secara historis, banyak di antara kelahiran Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) bermula dari FAI. Hal ini diamini oleh Prof. Achmad Jainuri. Bahkan, di banyak universitas terkemuka di dunia, juga berawal dari program studi agama (divinity school). Sayangnya dalam perkembangannya, pengelolaannya di Indonesia, tidak se-profesional fakultas lainnya. “Karena itu, harus dikelola secara jauh lebih baik. FAI adalah yang pertama. FAI yang menjadi perekat agar kita semua solid,” Prof Malik berkomentar. Sebenarnya, saat ini tantangan kehidupan begitu berat. Dinamika sosial, politik dan ekonomi di era teknologi 4.0, juga harus direspon dan digerakkan oleh FAI. Prof Malik menyatakan bahwa FAI adalah aset. “Aset yang penting untuk mengupayakan pencerahan umat, kemanusiaan dan peradaban,” tegasnya. Dalam rangka menyambut segala tantangan yang ada, Prof. Tobroni, selaku Dekan FAI UMM menjelaskan bahwa FAI akan menghadapi akreditasi dengan sembilan standar. Standar ini menekankan luaran dan capaian mahasiswa. Menurutnya Tobtoni, jika FAI mampu meluluskan anak-anak bangsa yang pandai, cerdas, produktif, memiliki karya yang mewarnai gelanggang akademik, lalu siap kerja, maka institusi FAI dianggap sudah sesuai standar. “Hal ini ditambah juga dengan Tri-Pasti: pasti berakhlak-mulia, pasti lulus dan pasti bermanfaat (kerja),” tambahnya. Dalam rangka menuju hal itu, maka FAI UMM dan PTKIM, menekankan pentingnya publikasi karya ilmiah, bukan hanya bagi dosen, namun juga para mahasiswa. “Hal ini tentu selaras dengan kebijakan Mas Menteri, Nadhim Makarim,” ungkap Prof. Tobroni. (*/yas/can)

Kisah Galang, Mahasiswa UMM yang Rela Kurangi Jam Tidur Demi Raih Mimpi

Mimpi harus diperjuangkan mati-matian. Termasuk harus rela mengorbankan beberapa hal untuk menggapai impian. Begitulah kiranya prinsip yang dipegang seorang Galang Bimandra. Mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini merupakan salah satu aktor di balik berbagai raihan penghargaan bersama timnya di LSO Mekatronic UMM. Perolehan posisi pertama atau juara 1 nasional Kelas Urban Listrik pernah disabet timnya saat KMHE Padang tahun 2018 lalu. Tak puas di kelas nasional, mahasiswa kelahiran Malang 18 Maret 1998 ini, meraih peringkat 6 di Kelas Urban Listrik Shell-Eco Maraton Asia 2019 yang diselenggarakan di Malaysia. “Jujur, sejak nyebur di kompetisi-kompetisi nggak pernah tidur 8 jam lagi,” ungkapnya. Bagi mahasiswa yang akrab disapa Galang ini, tidur 5-6 jam sudah cukup. Mengurangi jam tidur menurutnya adalah wujud kesungguhan dalam mengusahakan suatu hal. Selain itu, memang perlu pengorbanan yang lebih dalam setiap perjuangan. Tak jarang, ia dan kawan-kawannya di LSO Mekatronic begadang untuk menyempurnakan mobil listrik yang hendak diturunkan pada kompetisi mendatang. “Tengah malam test drive, itu hal yang biasa,” tuturnya sambil tertawa. Mengingat mobil-mobil yang dikerjakan Mekatronic adalah mobil listrik, Galang menduduki posisi yang sangat inti yakni Ketua Divisi Elektrik. Ia dan anggota divisinya bertanggung jawab penuh segala hal terkait kelistrikan. Mulai dari controller hingga lampu utama mobil. “Untuk ngulik dan ngoprek satu elemen saja saya dan tim butuh waktu yang panjang,” terangnya. Persiapan yang dilakukan oleh Galang dan timnya untuk kompetisi di tahun berikutnya selalu maksimal. Ini terbukti dari evaluasi, perancangan hingga eksekusi yang dilaksanakan paling lama dua minggu setelah kompetisi. Anak dari pasangan Kusnadi dan Ngatmiati ini mengaku mencintai dunia elektro sejak duduk di bangku sekolah dasar. “Bapak dulu punya usaha jual beli mobil, itu asal mula saya tahu jika di balik sound system pada mobil ada proses elektro yang keren,” ceritanya. Selain itu, Gilang juga gemar mencari tahu bagaimana mobil Tamiya (mainan yang popular di awal tahun 2000-an) berjalan dengan sebuah dinamo. Galang tak hanya berprestasi saat di bangku kuliah saja. Ia lebih dulu meraih suksesnya pada kompetisi lingkup kota madya hingga internasional. “Saat itu gagasan saya tentang alat pendingin menang mulai kota hingga nasional. Akhirnya saya diutus menjadi perwakilan Indonesia untuk berkompetisi di Jepang,”. Walaupun tidak menang di Jepang, ia mengaku kegagalannya itu sebagai pengalaman yang mengesankan. Dalam berbagai kompetisi yang pernah diikuti, tak sedikit pula Galang gagal memperoleh juara. Namun ia tidak pernah kecewa berlebihan. “Gagal ya harus diperbaiki, Alhamdulillah, juga karena seneng dengan dunia ini,” katanya. Saat ini Galang dan tim tengah menyiapkan diri untuk turut serta dalam Shell Eco Marathon Asia 2020 yang akan diadakan bulan Juni mendatang. Galang sedikit memberi bocoran salah satu hal baru yang akan hadir di mobil listrik hemat energi gagasan LSO Mekatronic. “Kami buat headlamp-nya jadi seperti salah satu mobil di film Fast and Furious,” ungkapnya. Untuk gelaran KMHE mendatang, Galang tengah fokus memaksimalkan kemampuan bersama timnya. “Kuncinya jangan meremehkan lawan. Lakukan yang terbaik dan jangan lemah menghadapi gagal,” imbuhnya. (mir/can)