INKINDO Jawa Timur dan UMM Teken Kerjasama Percepatan Program Profesi Insinyur

INKINDO wilayah Jawa Timur mengundang secara khusus Program Studi Program Profesi Insinyur Universitas Muhammadiyah Malang (PS PPI UMM) dalam kegiatan Rapat Dewan Pengurus pada Selasa, 17 Desember 2019 di Hotel Novotel Samator – Surabaya. Pada kesempatan tersebut, PS PPI UMM diberi kesempatan untuk memaparkan penyelenggaraan Program Profesi Insinyur di UMM. Dari hasil kegiatan tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan kerjasama percepatan PS PPI bagi pengurus dan anggota INKINDO Wilayah Jawa Timur pada PS PPI UMM. Kerjasama itu ditindaklanjuti silahturahmi ke kampus UMM (10/1) dan diterima langsung Rektor UMM. Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan penandatanganan naskah perjanjian kerjasama percepatan program profesi insinyur pada PS PPI UMM. Penandatanganan dilakukan oleh Ir. Adi Prawito, MM., MT. selaku Ketua Dewan Pengurus Provinsi Jawa Timur dan Dr. Fauzan, M.Pdselaku Rektor UMM. “Hal ini menunjukkan bukti bahwa INKINDO Wilayah Jawa Timur dan UMM ingin berkontribusi dalam menghasilkan SDM yang berpengetahuan handal di bidang keinsinyuran sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014,” ungkap Ketua PS PPI, Fakultas Teknik (FT) UMM, Annisa Kesy Garsidek. UMM termasuk salah satu perguruan tinggi yang mendapatkan mandat untuk menyelenggarakan Program Studi Program Profesi Insinyur. UMM mendapatkan izin pembukaan PS PPI berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 200/KPT/I/2017 tertanggal 27 Maret 2017. PS PPI UMM bertujuan mendukung program Pemerintah Republik Indonesia dalam pemenuhan kebutuhan tenaga profesional keinsinyuran sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Berdasarkan Pasal 10 dan 11 Undang-Undang No 11 Tahun 2014 Tentang Keinsiyuran, maka setiap orang yang akan melakukan Praktek Keinsiyuran di Indonesia harus memiliki Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) yang dikeluarkan oleh Persatuan Insiyur Indonesia (PII). “Untuk memperoleh STRI tersebut, maka orang tersebut wajib memiliki gelar profesi Insinyur (Ir) dan sertifikat Kompetensi Insinyur. Pasca buat kesepakatan, kami sudah langsung action. Ada 40 lebih yang daftar profesi insinyur semester ini” sambung Annisa. (*/can)
Konjen RI Kinabalu Malaysia Terima Kedatangan Mahasiswa KKN UMM

Sebanyak 26 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tiba di Malaysia. Para mahasiswa KKN yang datang bersama Kepala Divisi KKN Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (DPPM UMM) Ir. Alik Anshori Alamsyah, MT., disambut oleh Konsulat Jenderal Kinabalu Sabah, Malaysia Khrisna Djelani. Dalam sambutannya, Khrisna mengungkapkan, Malaysia siap menerima pengabdian mahasiswa KKN UMM dengan program-program yang sudah dirancang termasuk bidang pendidikan. “Menjalani program pengabdian masyarakat melalui KKN ini, nantinya kalian akan turut aktif membantu proses pembelajaran di sekolah-sekolah CLC (Community Learning Center) yang membina anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Sabah, Malaysia. Juga mendapat banyak pembelajaran, pengalaman dan kesan tersendiri dalam memaknai ‘nasionalisme’ di luar negeri. Jaga diri dengan baik dan harumkan nama Indonesia, selalu membawa paspor selama berada di luar negeri (Sabah, Malaysia),” pesan Khrisna. Di kota pusat pemerintahan untuk Pantai Barat negeri Sabah ini diperkirakan ada lebih dari 600 ribu Warga Negara Indonesia (WNI). Jumlah ini baru perkiraan dari berbagai aktivitas yang dilakukan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kinabalu, Malaysia. “Yang tercatat di kantor kami hanya 151 ribu orang,” ujar Cahyono Rustam, Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial Budaya KJRI, Kota Kinabalu saat memberi kuliah umum pada agenda Pengarahan dan Pelepasan KKN UMM semester genap 2019/2020, Senin (6/1). Rata-rata para WNI yang datang ke Kinabalu untuk bekerja. Ada yang legal, memiliki majikan dan surat izin kerja. Adapula yang ilegal melalui berbagai jalan tikus. “Tiap bulan, kami memfasilitasi pemulangan WNI oleh Malaysia. Jumlahnya sekitar 300-an orang,” tuturnya. Pekerja Migran Indonesia (PMI), sebutan pengganti TKI, tidak hanya bekerja. Ada juga yang menikah lalu memiliki anak. Anak-anak yang lahir dari hasil pernikahan para PMI ini mayoritas tidak memiliki surat keterangan resmi seperti akta kelahiran. Mereka menikah hanya dengan syarat agama. Dalam hal ini KJRI bertugas mengusahakan untuk membuatkan berbagai surat keterangan sepadan untuk anak-anak para PMI. Untuk pendidikan, anak-anak PMI tidak dapat bersekolah di sekolah negeri Malaysia. Hal ini terkait dengan undang-undang yang dimiliki Malaysia. “Bagi orang asing yang memiliki pendapatan di bawah 5.000 ringgit Malaysia, anak-anaknya tidak dapat disekolahkan di sekolah negeri,” ucapnya. Keadaan ini membuat pemerintah melalui KJRI Kota Kinabalu menginisiasi berbagai metode demi pendidikan anak-anak PMI agar tetap mendapatkan asupan pengetahuan. Indonesia melakukan negosiasi dengan pemerintahan Malaysia untuk mendirikan sekolah-sekolah alternatif. Negosiasi ini pun berhasil, Indonesia mendapatkan izin untuk mendirikan sekolah alternatif. Antusias WNI begitu besar, pada saat awal berdirinya saja ada 1000-an murid yang belajar. “Saya kira program ini harus terus ber-keberlanjutan. Alhamdulillah, dari pihak konjen juga menyambut dengan baik kegiatan ini. Apalagi tujuan kita di sini untuk mendidik anak-anak Indonesia. Adapun untuk fokusnya tetap di bidang pendidikan dengan penempatan di CLC,” ungkap Ketua Divisi KKN DPPM UMM Ir. Alik Anshori Alamsyah, MT. (riz/can)
Mobil KaCa UMM Terapkan Pendidikan Karakter lewat Meneladani Kisah Nabi

Pendidikan karakter perlu diajarkan dan ditanamkan sejak dini. Salah satu yang bisa dilakukan yakni dengan menceritakan kisah-kisah keteladanan para nabi. Seperti yang dilakukan mobil pintar Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menyambangi Rumah Dakwah “Sang Surya” di Perumahan IKIP Tegalgondo, Malang, Kamis (16/1). Sebagai salah satu badan asuhan di bawah Pimpinan Ranting Muhamadiyah (PRM), Rumah Dakwah Sang Surya berperan penting dalam melatih pendidikan karakter anak sejak dini. “Pembentukan karakter dapat membentuk kepribadian anak di kemudian hari. Melalui kisah-kisah yang disampaikan, anak-anak diajarkan tentang akhlaq. Berkiblat dengan cerita-cerita nabi dan Rasul diharapkan anak-anak dapat mengamalkan sesuai dengan ajaran agama Islam,” ucap Ustadzah Nurul, sang story teller. Rumah Dakwah juga menerapkan konsep program kegiatan belajar luar kelas, seperti outbound guna merangsang kepekaan anak didik terhadap alam. Sejalan dengan konsep tersebut, kegiatan Mobil KaCa UMM juga dikemas dengan materi berbentuk games. Menggandeng dua pemateri dari mahasiswa UMM, mengajarkan “Tebak Gaya Kartu Bergambar” oleh Dewi Nur Diana dari Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan Terjemah Nama Hewan oleh Johan Achmad dari Jusurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Menurut Syamsuddin, Kepala Sekolah Rumah Dakwah Sang Surya, kegiatan Mobil KaCa ini sebagai salah satu inovasi pembelajaran karakter yang tidak membosankan. “Alhamdulillah, metode tebak gaya kartu bergambar sangat cocok untuk anak didik dari usia 5 sampai 15 tahun. Selain itu, materi yang disampaikan dalam visual seperti mencontoh gaya tokoh kartu, bisa sangat cepat untuk dihafal anak didik kami,” katanya dengan hangat. Agenda lantas dilanjutkan dengan kegiatan literasi. Anak anak sangat antusias dalam memilih koleksi buku Mobil KaCa yang berhubungan dengan cerita kisah Nabi dan Rasul. “Berhubung anak-anak masih memilih buku berdasarkan visual buku, buku dengan konsep story telling menjadi incaran anak-anak kami,” tambah Syamsuddin. Sembari itu, kegiatan membaca buku tersebut juga dibantu oleh guru asuh dan mahasiswa dalam menceritakan serta menyampaikan hikmah yang dapat dipetik dari mencontoh perilaku Nabi dan Rasul dalam penerapan kehidupan karakter anak. Rumah dakwah Sang Surya sangat mengapresiasi dan mengaku membutuhkan tenaga pendidik muda yang berkompeten dalam mendidik anak anak. Karena, sambung ustadzah Nurul, tidak semua tenaga pendidik dapat melakukan tugasnya dalam mengasah karakter anak. Metode yang diberikan cenderung membosankan. Dibutuhkan metode pembelajaran yang dikemas dengan inovasi terbaru dan perlakuan khusus untuk anak seperti yang dilakukan tim mobil KaCa UMM ini. (yas/can)
Gelar Pelatihan dan Uji Kompetensi Instruktur, UMM Siap Dirikan Lembaga Pelatihan Kerja

Difasilitasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Lembaga Pelatihan Kerja Universitas Merdeka Malang (LPK-Unmer), Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) menggelar Pelatihan dan Uji Kompetensi Instruktur di Kampus III UMM. Kegiatan yang diikuti oleh 40 tenaga pendidik di UMM ini dilakukan selama tiga hari, mulai dari hari Jumat-Minggu (10-13/20). Menurut Dr. Praptining Sukowati, SH., M.Si., selaku ketua LPK-Unmer menyatakan, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UMM sudah menjadi barometer tenaga kerja yang kompeten. Jika tenaga pendidik dari UMM berhasil mendapatkan sertifikasi instruktur, selain LSP yang sudah terlebih dahulu berdiri, UMM akan siap untuk mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) sendiri. Ada 500 pilihan kualifikasi kompetensi teknis yang dapat diambil oleh peserta. Dalam sambutannya, Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan Dr. Sidiq Sunaryo, SH., M.Si, M.Hum., menghimbau kepada para calon instruktur agar lulusan UMM mempunyai banyak kompetensi. “Kompetensi yang banyak dan terverifikasi akan dapat memperluas kesempatan dalam bidang profesi, baik profesi yang sejalur dengan program studi yang ditempuh selama di UMM maupun di luar program studi,” ungkapnya. Sebagaimana yang sering terjadi, sambung Sidiq, banyak lulusan jenjang S1 yang mendapat pekerjaan tidak linear dengan pendidikan yang ditempuh. Dengan adanya uji kompetensi instruktur ini, diharapkan kompetensi pendampingan profesi nantinya akan sesuai dengan realita yang ada di masyarakat. “Banyak sekali kompetensi yang nantinya akan dipelajari selama kegiatan ini berlangsung. Mulai dari tata cara kelola keuangan, membuat laporan pertanggungjawaban, monitoring evaluasi yang nantinya akan dibutuhkan untuk kepentingan bangsa,” tambah Sidiq. Instruktur yang juga menjadi pemateri, Juli Suprianta dalam materinya mengatakan bahwa faktor internal dan eksternal dapat mempengaruhi proses belajar dan mengajar. “Siswa yang berangkat dari latar belakang yang berbeda harus ditangani dengan metode pembelajaran yang bervariatif pula, lingkungan pembelajaran yang nyaman juga merupakan faktor dari kesuksesan tenaga pendidik di Indonesia,” ungkapnya. (yas/can)
10 Tahun Bersinergi dengan Malang Post, Mahasiswa Prodi PBSI UMM Kembali Luncurkan Tiga Koran

Koran masih belum mati. Terbukti dengan dicetaknya tiga koran hasil Praktik Kerja Lapang (PKL) Jurnalistik mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang telah bersinergi dengan Malang Post selama sepuluh tahun. Ialah Koran Prahasta Post, Kabar Kawula, dan Soenda Ketjil, sebagai produk jurnalistik. “Dimulai sejak tahun 2010, yang diprakarsai oleh almarhum Khusnun Djuraid (Komisaris Utama Malang post) hingga saat ini di tahun 2020. Mata kuliah PKL Jurnalistik ini tetap ada hingga di tahun kesepuluh. ini tentu bisa menjadi bekal untuk kalian ke depan. Karena selama satu semester para mahasiswa telah banyak belajar. Tidak hanya belajar jurnalistik, tetapi juga mencari iklan, serta marketing,” ujar Abdul Halim S.Sos., selaku dosen pengampu mata kuliah PKL jurnalistik sekaligus Pemimpin Redaksi Malang Post. Ada sebuah catatan penting dari kesemua koran mahasiswa ini. Salah satu koran besutan mahasiswa, koran Kabar Kawula, berhasil menjual 1042 eksemplar dalam rentang waktu dua hari dan sudah habis di order seminggu sebelum naik cetak. Menyusul Prahasta Post yang menjual sebanyak 1039 eksemplar, serta kurang lebih sebanyak 900 eksemplar berhasil dijual oleh Soenda Ketjil. “Melihat produk hasil jurnalistik malam ini, membuktikan bahwa koran belum mati. Karena banyak ahli yang memprediksi bahwa koran akan tergilas oleh media online. Tapi pada malam ini saya masih melihat bukti bahwa koran masih tetap eksis,” ungkap Sugeng Winarno selaku Pakar Komunikasi UMM sekaligus Kepala Humas dan Protokoler UMM. Konsep jurnalistik itu, menurut Sugeng, ialah kerja berproses. Maka dari itu untuk menjadi seorang jurnalis handal, mahasiswa harus mau terus belajar dan jangan cepat puas, serta harus terus meningkatkan kualitas. Sugeng lantas menyebut, setidaknya ada tiga fungsi utama media yakni sebagai media informasi (to inform), sebagai bahan untuk mengedukasi (to educate), serta untuk menghibur (to Entertaint). “Setelah saya melihat dan membaca ketiga koran ini, saya rasa ketiganya telah memenuhi tiga fungsi utama dari media yakni to Inform, to Educated, dan to Entertaint,” lanjut Sugeng dalam pidato sambutannya saat mengisi malam penganugerahan PKL Jurnalistik, Sabtu (11/1), di Auditorium BAU Kampus III UMM. Pada malam puncak penganugerahan PKL jurnalistik angkatan 2016 kali ini juga terdapat 19 nominasi penghargaan kepada para mahasiswa yang telah mendedikasikan diri selama PKL berlangsung, yakni sekretaris redaksi berbakat, manajer umum berbakat, fotografer berbakat, hingga wartawan berbakat. “Dengan adanya kerjasama antara Malang Post dengan Prodi PBSI UMM, Insya Allah mata kuliah ini akan tetap ada. Karena di sini mahasiswa diberikan berbagai macam keterampilan. Dimulai dari mencari informasi yang layak diangkat, belajar berkomunikasi yang baik dengan narasumber, hingga menuangkannya ke dalam bentuk tulisan,” tandas Dr. Sugiarti M.Si., ketua Prodi PBSI UMM. (riz/can)
Dosen UMM Rancang 3 Drone Pertanian Canggih, Diapresiasi Menko PMK

Dosen Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ir. Wahono, MT. merancang 3 jenis pesawat tanpa awak (drone) berteknologi canggih untuk mendukung dunia pertanian Indonesia. Pertama ialah Motodoro MX berjenis Flying Wing dengan kemampuan yang lebih efisien karena sekali terbang bisa memetakan sekitar 700 hektar. Pesawat kedua, Farm Mapper yang memiliki kemampuan terbang serta landing vertikal dengan daya jangkau 400-500 hektar. Ketiga, Spraying Robot Indonesia (SRI) yang berfungsi untuk aplikasi pupuk dan pestisida. “Aplikasi untuk pupuk dan pestisida oleh SRI ini Smart, karena ia hanya menyemprot pada tempat yang membutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan dengan kapasitas 23 liter dan jangkauan 10 hektar dalam 1 jam. Sedangkan data tanaman yang membutuhkan pupuk serta pestisida itu kita dapatkan dari Farm Mapper maupun Motodoro MX,” papar Wahono. Selain itu, SRI juga memiliki sistem kerja yang mewakili mata yang berfungsi melakukan pemilahan atas tanaman yang sehat dan yang berpenyakit. Karena SRI memiliki sensor yang lebih presisi, lebih akurat secara kuantitatif. “Jadi dari sensor itu bisa menganalisis tingkat kesehatan tanaman, sehingga lebih objektif. Tanpa perlu turun kelapangan,” ungkap Wahono. Dikembangkannya model pertanian pintar melalui 3 jenis drone ini, Wahono berharap mampu menyelesaikan berbagai persoalan pertanian di Indonesia. “Lewat model pertanian ini kita bisa meningkatkan produktifitas tanaman serta mengefisiensi biaya,” lanjutnya, Sabtu (11/1). Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P selaku Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dalam kunjungannya ke UMM turut mengapresiasi temuan ini. “Saya sangat senang dengan penemuan ini, dan saya rasa ini tinggal mendesiminasi. Jadi tinggal digunakan secara betul di dunia luas agar bisa diadopsi oleh para petani, karena kecepatannya bisa berkali-kali lipat dibandingkan dengan tenaga manual. Sehingga saya rasa sudah layak untuk di diseminasikan ke masyarakat dan harus segera dipatenkan,” kata Muhadjir. Sejak awal tahun 2017, Farm Mapper maupun Motodoro MX telah diproduksi massal dengan kapasitas produksi sebanyak 40 buah tiap tahunnya. Harga dimulai dari 62 juta hingga 250 juta rupiah. Sementara drone SRI juga akan diproduksi masal setelah selesai tahap pengembangan. “Dengan adanya temuan seperti ini, tentu akan sangat penting bagi pertanian kita,” ujar Dr. H. Fauzan, M.Pd, selaku rektor UMM. (Riz/Can)
Mahasiswa PBSI UMM Hibur Santri Pondok Metal

Dilatarbelakangi ketertarikan terhadap ketulusan pesantren yang memuliakan manusia dari berbagai latar belakang, mahasiswa praktikan event organizer, program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar event di Pondok Pesantren Metal, Rejoso, Pasuruan, Kamis (9/1). Berbeda dari pesantren pada umumnya, Pondok Metal ini menerima santri yang kurang beruntung, seperti tuna grahita, regab korban narkoba, anak terlantar, hingga anak yatim. Melalui event berjudul “Sebar Nobar Pondok Metal” (Seneng Bareng Nonton Bareng Pondok Pesantren Metal), kelompok bernama Argya Project ini berbagi kebahagiaan dengan santri Pondok Metal dari usia 1 hingga 12 tahun. Kegiatan ini dikemas dengan berbagai kegiatan menarik, yaitu edukasi permainan tradisional melalui badut, outbound, membaca buku oleh Mobil Kamis Membaca UMM (Mobil KaCa), belajar Bahasa Inggris, dan nonton bareng. Melalui Mobil Bioskop Keliling UMM, kegiatan ini menayangkan film “Garuda di Dadaku 2”. Pemilihan film tersebut bertujuan untuk memotivasi anak-anak agar pantang menyerah, bekerjasama tim dalam segala tantangan yang mereka hadapi. Menurut Viki Setyawan, ketua kelompok Argya Project ini, kegiatan ini ia gunakan selain sebagai penyelesaian praktikum Event Orginizer mata kuliah Keterampilan Berbahasa Produktif, tapi juga sebagai rasa ingin menumbuhkan jiwa sosial dan kepedulian sosial kepada sesama. Bagi viki, anak-anak atau santri yang berada dalam pondok ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih. “Harapannya ada pihak-pihak luar yang tergugah hatinya untuk berbagi kepada seluruh anak-anak luar biasa ini. Pemilihan rangkaian kegiatan juga diharapkan dapat memberikan alternatif kegiatan yang menyenangkan, yang berbeda dengan kegiatan di pondok pada umumnya,” jelas Viki. Menyambung, Dosen Pengampu mata kuliah tersebut, Mohamad Isnaini mengapresiasi baik dan atas keberanian mahasiswa praktikum untuk masuk menjadi bagian dari kegiatan pondok tersebut. Ia mengaku pemilihan pondok ini memang sangat tepat, dikarenakan pondok tersebut yang berbeda dengan pondok pada umumnya. “Harapannya ideologi-ideologi yang kadang-kadang berbeda, dapat disatukan di sini. Ini merupakan suatu khazanah positif, ketika teman-teman menjalankan kegiatan di sini,” sebut Isnaini. Selain itu, Ia menjelaskan, keterampilan berbahasa produktif sebenarnya merupakan ekspresi dalam berbahasa Indonesia yang diwujudkan dalam berbagai bentuk. Cakupan linguistik yang cukup luas merupakan implementasi dari bagaimana cara berkomunikasi, ngosiasi dan keterampilan berbahasa lainnya, sehingga diwujudkan dalam sebuah pengorganisasian event. “Fokus kita dalam bagaimana melakukan komunikasi negosiasi kepada beberapa pihak, bagaimana mengemas acara ini dengan berbagai ide kreatif, team work yg kuat dan bagaimana meng-orgenize sebuah acara,” terang Isnaini. (bel/can)
Busyro Muqaddas di UMM: Muhammadiyah Itu Mengisi Makna Kemerdekaan

“Muhammadiyah sebagai salah satu bagian dari perintis negeri dan pengisi negeri ini, sebelum kemerdekaan, setelah kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, memiliki kontribusi yang bersifat dua dimensi, yakni secara internal bagi Muhammadiyah itu ialah untuk menjalankan amanatnya, tapi secara nasional itu mengisi kemerdekaan, mengisi makna merdeka,” kata Dr. M. Busyro Muqaddas. SH., M.Hum. saat menyampaikan amanah Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dalam agenda 1st Community Empowerment Forum, Jumat (10/1). Dilanjutkan Busyro, sama seperti halnya dalam mengamalkan putusan-putusan Muktamar ke-47 di Makassar tahun 2015 yang telah menasbihkan visi Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) sebagai pilar strategis gerakan Muhammadiyah, setidaknya kandungan maknawi dari putusan itu adalah pengembangan sayap. Yakni sayap gerakan Tajdid yang diisi dengan dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. “Bukan hanya dalam kehidupan keagamaan tetapi juga di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya,” lanjutnya. “Sebetulnya gerakan seperti MPM merupakan wujud gerakan-gerakan yang tidak teknis, mekanis melulu. Tetapi ada ruhnya, Ruhnya adalah tauhid. Dengan demikian, semua itu bekerja dalam suatu gerakan sistem. Sistem ini kemudian dijiwai. Jiwa ini adalah roh tauhid sebagaimana dalam Mars Muhammadiyah yang satu nuansa dengan lagu kebangsaan kita, jadi bangunlah jiwanya bangunlah badannya yang mustahil tanpa tauhid,” jelasnya. Jumat (10/1). Sejalan dengan itu, Dr. M. Nurul Yamin M.Si, selaku ketua MPM PP Muhammadiyah menjabarkan bahwa pertemuan kali ini adalah pertemuan nasional ketiga, yang mana, pada pertemuan pertama telah disepakati bahwa bangsa ini tengah mengalami berbagai problematika yang harus diselesasikan. Di antaranya ialah problematika kesenjangan yang menyosor ke seluruh sudut, entah di kota maupun desa. “Setidaknya ada lima yang menjadi perhatian serta komitmen MPM pada lima pilar strategis gerakan pemberdayaan yaitu, Pertanian Terpadu, Usaha Kecil dan Mikro (UKM), Kelompok Disabilitas, Buruh dan Nelayan, Komunitas Khusus dan Daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Terdepan),” jelas Nurul Yamin dalam pidato sambutannya. Gerakan pemberdayaan tersebut, telah melahirkan beragam aksi pemberdayaan. Seperti berdirinya Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam), pemberdayaan nelayan dengan pendekatan Kampung Nelayan Berkemajuan (KNB) misalnya kampung nelayan Wonokerto Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Serta pemberdayaan masyarakat di daerah 3 T yang juga mengintegrasikan dan mensinergikan berbagai aksi pemberdayaan di bidang pendidikan, pertanian, nelayan, sosial secara holistik seperti yang dilakukan di Kampung Warmon Kokoda, Papua Barat. “Saya ucapkan terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh majelis, dalam rangka untuk memfasilitasi acara ini di UMM. Semoga acara ini juga menjadi bagian dari pemberdayaan dalam rangka untuk mengangkat Muhammadiyah yang lebih hebat,” jelas Dr. H. Fauzan, M.Pd, selaku Rektor UMM. Ketika disebut Muhammadiyah, sambung Fauzan, sebenarnya adalah organisasi yang mengandung kadar pemberdayaan. Seluruh unsur Muhammadiyah di dalamnya harus mengandung kadar pemberdayaan. “Karena Muhammadiyah itu organisasi, sebuah gerakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar,” tandas Fauzan di Aula Gkb IV lantai 9. (riz/can)
Mahasiswa UMM Kampanyekan Go Green lewat Inovasi Teknologi Hemat Energi

Penemuan Inovasi energi terbarukan dalam semua aspek kehidupan sudah menjadi suatu keharusan. Namun, hal tersebut tak berkesesuaian dengan tingginya konsumsi energi yang berbanding terbalik dengan produksi energy konvensional. Menjawab tantangan itu, mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saling adu gagasan karya dalam pameran pengembangan produk dengan tema lingkungan “Go Green”, Selasa (7/1). Agenda tahunan ini bekerjasama dengan Laboratorium Teknik Industri UMM. Event memamerkan karya inovasi mahasiswa semester 5 ini merupakan rangkaian acara akhir dari mata kuliah Perancangan Pengembangan Produk (P3). Sebanyak 23 produk inovasi dipamerkan dalam bentuk produk yang berupa protorype. “Penilaian inovasi produk terdiri dari desain produk, produk terbarukan, kelompok favorite, poster dan banner.” jelas Shanty Kusuma Dewi selaku kepala Lab Teknik Industri. Kegiatan ini tidak hanya berhenti di penyelenggaraan pameran, namun para mahasiswa juga dibimbing agar karyanya diajukan ke Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) lewat Program Kreatifitas Mahasisswa. Menariknya, tidak hanya embel-embel Go Green, produk yang dpamerkan merupakan hasil daur ulang dari bahan-bahan pabrik yang masih dalam kondisi baik namun sudah tidak terpakai. Diharapkan inovasi yang ditelurkan dapat menjawab masalah lingkungan. Salah satu temuan produk unik dan hemat lingkungan karya mahasiswa Prodi Teknik Industri yang dipamerkan adalah “Winner Street Light”. Alat ini mengandalkan tenaga angin sebagai sumber utama pengganti penerangan listrik dalam sistem pencahayaan jalan bebas hambatan. Prototype yang terdiri dari baling-baling sebagai sumber penangkap energi, controller dengan dipadukan sensor cahaya dan lampu LED ini, inovasi energi terbarukan ini dapat menghasilkan hingga 12 volt tenaga listrik. “Karya ini berangkat dari melihat tol Malang-Pandaan yang minim cahaya lampu. Energi angin yang dihasilkan dari kendaraan yang bergerak relatif cepat, membuat kami terpikir untuk membuat teknologi ini. Di samping hemat energi, juga membantu penerangan pengendara jalan Tol,” ucap M. Noor Fajar sang penemu. Selain itu, ada juga “Plastic Vending Machine”, yakni alat penukar sampah plastik ke dalam nilai tukar uang., serta masih banyak inovasi produk Go Green lain yang dipamerkan. (yas/can)
Mahasiswa KKN UMM Dampingi Anak-Anak Pekerja Migran Indonesia di Kinabalu

Selain melakukan pengabdian di berbagai bidang, kali ini skema KKN internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tengah fokus pada penanganan serius para tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Utamanya perihal peningkatan kualitas pendidikan. Misalnya mahasiswa yang bakal diterjunkan di Kota Kinabalu, Negeri Sabah, Malaysia. Di kota pusat pemerintahan untuk Pantai Barat negeri Sabah ini diperkirakan ada lebih dari enam ratus ribu warga negara Indonesia (WNI). Jumlah ini baru perkiraan dari berbagai aktivitas yang dilakukan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kinabalu, Malaysia. “Yang tercatat di kantor kami hanya 151.000,” terang Cahyono Rustam, Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial Budaya KJRI, Kota Kinabalu saat memberi kuliah umum pada agenda Pengarahan dan Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) semester genap 2019/2020, Senin (6/1). Rata-rata para WNI yang datang ke Kinabalu untuk bekerja. Ada yang legal, memiliki majikan dan surat izin kerja. Adapula yang ilegal melalui berbagai jalan tikus. “Tiap bulan, kami memfasilitasi pemulangan WNI oleh Malaysia. Jumlahnya sekitar 300-an orang,” tuturnya di hadapan 1210 peserta KKN. Pekerja Migran Indonesia (PMI), sebutan pengganti TKI, tidak hanya bekerja. Ada juga yang menikah lalu memiliki anak. Anak-anak yang lahir dari hasil pernikahan para PMI ini mayoritas tidak memiliki surat keterangan resmi seperti akta kelahiran. Karena menikah hanya dengan syarat agama. Dalam hal ini KJRI bertugas mengusahakan untuk membuatkan berbagai surat keterangan sepadan untuk anak-anak para PMI. Untuk pendidikan, anak-anak PMI tidak dapat bersekolah di sekolah negeri Malaysia. Hal ini terkait dengan undang-undang yang dimiliki Malaysia. “Bagi orang asing yang memiliki pendapatan di bawah 5.000 ringgit Malaysia, anak-anaknya tidak dapat disekolahkan di sekolah negeri,” jelasnya. Keadaan ini membuat pemerintah melalui KJRI menginisiasi berbagai metode demi pendidikan anak-anak PMI agar tetap mendapatkan asupan pengetahuan. Indonesia melakukan negosiasi dengan pemerintahan Malaysia untuk mendirikan sekolah-sekolah alternatif. Negosiasi ini pun berhasil, Indonesia mendapatkan izin untuk mendirikan sekolah alternatif. Antusias WNI begitu besar, pada saat awal berdirinya saja ada 1000-an murid yang belajar. Pada 2008, Indonesia melakukan negosiasi lagi dengan Malaysia untuk mendirikan lingkup belajar yang lebih besar bernama Community Learning Center (CLC). Pemerintah serius menangani berbagai masalah yang dihadapi para WNI di Malaysia, utamanya pendidikan bagi anak-anak. “Anda-anda yang yang KKN di sana nanti, mari kita bantu mendidik anak-anak WNI untuk berwawasan luas dan mencintai Indonesia,” ajak pria yang pernah menjadi pengajar sementara di FISIP UMM ini. Selain skema KKN internasional di Kinabalu, Malaysia, mahasiswa UMM juga disebar ke sejumlah daerah. Untuk regional Jawa Timur di antaranya Malang Raya, Kota Probolinggo, Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Madiun. “Semailah berbagai kebaikan di tengah-tengah masyarakat,” pesan Wakil Rektor III, Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si., M.Hum. (mir/can)