Kemeriahan Penutupan Spacious’19 FISIP UMM: Inaguration and Closing Ceremony

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan acara Student Day Spacious’19: Inaguration and Closing Ceremony di Hall GKB 4 lantai 9. Spacious sendiri merupakan kepanjangan dari Sosial, Politic, Art, Science, Religius and Sport yang merupakan nama kegiatan Student Day FISIP UMM 2019. Disampaikan oleh Adjie Prayoga, Ketua Pelaksana Spacious’19 menyatakan tujuannya agar dapat menyatukan hati, tujuan, dan pikiran antar masyarakat FISIP. “Kita juga ingin menyatukan prinsip dari masyarakat FISIP demi terciptanya FISIP yang lebih baik dan berprestasi,” tandasnya. Gubernur Mahasiswa FISIP menambahkan harapannya bahwa ajang perlombaan tak sekedar untuk mencari juara, tetapi yang utama adalah berlomba-lomba dalam kebaikan.  “Semakin kita banyak bertanding semakin memperbanyak pertemanan, bukan lawan”, pungkas Bayu Wildan Hidayatulloh. Diakui pula oleh Zen Amiruddin selaku Wakil Dekan 3 FISIP, Inagurasi Spacious FISIP merupakan ajang apresiasi prestasi mahasiswa baru FISIP. Wakil Dekan 3 FISIP ini kemudian menjelaskan mahasiswa baru melalui Student Day dan Dekan Cup sangat antusias dalam mengikuti semua kegiatan. Melalui Himpunan Mahasiswa Jurusan, mahasiswa baru mampu dipetakan prestasi dan potensinya sejak semester 1, sehingga dapat terus dilakukan pembinaan baik dalam bidang penalaran, minat bakat, olahraga, multimedia maupun keislaman. “Potential Mapping Class dan perlombaan-perlombaan dalam semua cabang selama 2 bulan ini semata-mata tidak hanya untuk event kampus, melainkan kita persiapkan untuk ajang yang secara periodik diperlombankan baik regional, nasional maupun internasional”, ungkap Zen Amiruddin. (*/can)

Prodi Profesi Ners UMM Peringkat 1 Uji Kompetensi Regional Jawa Timur

Untuk kedua kalinya, Program Studi (Prodi) Profesi Ners Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih sertifikat penghargaan terbaik peringkat 1 Regional Jawa Timur dalam Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKNI). Penghargaan diraih dari Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Regional Jawa Timur, Jumat (3/1). Sejak tahun 2017 Prodi Profesi Ners UMM selalu masuk 3 besar Uji Kompetensi Ners Jawa Timur. “Keberhasilan ini tidak luput dari kerjasama berbagai pihak. Dimulai dari pimpinan fakultas, kemudian prodi, dosen keperawatan maupun clinical instructure dari Rumah Sakit yang telah membimbing mahasiswa selama praktik Profesi Ners,” ujar Nur Aini, S.Kep., Ns., M.Kep selaku Sekretaris Prodi Profesi Ners UMM. Keberhasilan ini lantaran dipersiapkan secara matang, salah satunya melalui penyelenggaraan tryout. Seperti kegiatan tryout internal selama 6-8 kali secara online yang terdiri dari 180 soal. Soal try out ini disesuaikan dengan kompetensi soal UKNI, dan juga mengadakan kegiatan pembahasan soal yang dibimbing langsung oleh Dosen Keperawatan selama 1 minggu. Selain tryout internal yang diselenggarakan oleh Prodi, mahasiswa juga kita wajibkan mengikuti Try Out Nasional yang diselenggarakan langsung oleh AIPNI. Dalam pelaksanaan praktik, Prodi Profesi Ners UMM mengirim mahasiswanya ke rumah sakit yang terakreditasi A, B, serta C. Sehingga kasus yang dipelajari oleh mahasiswa bervariasi. Sedangkan soal-soal yang diujikan dalam UKNI adalah kasus – kasus penyakit yang didapatkan selama pembelajaran di rumah sakit. “Seringnya berlatih mengerjakan soal, maka akan menambah pemahaman,” ujar Nur Aini. Setelah berhasil meraih peringkat 1 Regional Jawa Timur dalam Uji Kompetensi Ners, Prodi Profesi Ners tak berbangga. Prodi ini akan tetap melakukan persiapan seperti tryout Internal dan kegiatan pembahasan soal sesuai dengan standar yang telah ada. Adapun pada stase akhir praktik profesi Ners akan dilaksanakan final exam dengan mengguatkan skema Computer Based Test (CBT) atau ujian berbasis komputer. (riz/can)

Winekram Art Space Jadi Markas Inkubasi Seni dan Budaya Baru Kota Batu

Kelompok Praktikum Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menghelat gelaran festival Obah Nggedruk Bumi. Proyek kolaboratif ini menandai dilaunchingnya Winekram Art Space, sanggar kesenian milik budayawan Kota Batu Winarto Ekram. Sanggar ini digadang bakal jadi tempat inkubasi serta berkumpulnya para seniman Malang Raya juga luar daerah untuk mengokohkan identitas bangsa melalui kebudayaan. Dihelatnya Festival Obah Nggedruk Bumi, Jumat (3/1) menandai berdirinya sanggar seni ini. Festival Obah Nggedruk Bumi sendiri merupakan festival pentas seni tari dan budaya, dimana Adhigana Production yang merupakan kelompok praktikum program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai penggeraknya. Gelaran seni dan budaya ini merupakan implementasi dari tugas mata kuliah Keterampilan Bahasa Produktif yang diampu M. Isnaini, M.Pd. Sanggar ini terletak di wilayah Nggopit RT 12 RW 03 Dusun Mojorejo, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. “Ini adalah sebuah kegiatan untuk mengawali sebuah tempat, (festival ini) bernama Obah Nggedruk Bumi. Tempat ini adalah space program kesenian yang diharapkan pada ke depan memiliki acara kesenian. Karena acara seperti ini periodik sekali untuk perkembangan kesenian yang ada,” ujar Winarto Ekram. Kegiatan yang menampilkan seni dan kebudayaan lintas daerah ini melibatkan berbagai seniman dari berbagai kota, diantaranya dari Indramayu, Solo, Jombang, Lumajang, Surabaya, serta dari beberapa kota-kota lain.  Tidak hanya berupa pertunjukan kesenian, tetapi juga ada workshop tari dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), hingga parade sanggar tari se-Jawa Timur. Acara ditutup dengan pertunjukan kesenian. “Festival ini tujuannya memang membuka tempat untuk dikerubungi, membuka lahan, membuka ruang untuk pertunjukan kesenian. Selanjutnya, tentu perkembangannya untuk pariwisata budaya yang ada di sekitar  Pendem. Kegiatan yang akan diadakan bentuknya berupa Festival-festival tidak hanya tari, ada teater, musik, tapi juga kecenderungannya memang lebih ke tradisional juga ke kontemporer,” lanjut Winarto. “Kami berharap, sanggar ini bisa sebagai tempat sarasehan kebudayaan maupun workshop kebudayaan. Serta segala sesuatu yang berbau kesenian. Dengan adanya kegiatan dan kerjasama seperti ini, bisa menjadi tahap awal kami juga dalam belajar dan menambah ilmu baru untuk menunjang lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM,” jelas Nirwana Chendra Kasih sebagai ketua pelaksana event. “Untuk mata kuliah Keterampilan Berbahasa Produktif yang konsentrasi di bidang Manajemen Event Organizer, mahasiswa bahasa Indonesia perannya ialah untuk membantu, memanage acaranya pak Winarto. Karena kegiatan ini adalah sebagai salah satu praktek kegiatan secara langsung yang mungkin selama ini mereka pahami hanya beberapa teori singkat tentang bagaimana  memanage atau meng-EO acara,” tegas M. Isnaini selaku Dosen pengampu Mata kuliah. Selain itu, dijelaskan Isnaini, Prodi Bahasa Indonesia itu sangat luas cakupannya, meliputi komunikasi yang di dalamnya menggunakan bahasa Indonesia dalam cakupan linguistik. Praktik ini merupakan implementasi dari bagaimana cara berkomunikasi, negosiasi dan keterampilan berbahasa lainnya, sehingga wujudnya adalah membuat sebuah event. “Karena dalam menyelenggarakan acara itu juga terkadang ada banyak hal yang tidak kita pahami, dan kadang itu menjadi kunci penyelenggaraan acara. Itulah yang menjadi teknis dari para mahasiswa, sehingga memang harus dilakukan dengan praktek langsung,” tandas Isnani. (riz/can)

Rektor Fauzan: Seorang Dokter Juga Harus Punya Kepribadian Melayani Masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan RSU Haji Surabaya menggelar kegiatan Lokakarya dan Evaluasi Kepaniteraan Klinik RS Pendidikan Utama, RS Jejaring dan Puskesmas. “Ini adalah rangkaian kegiatan tahunan tentang evaluasi selama setahun, kira-kira ada permasalahan apa dan solusi yang harus dilakukan bagaimana. Akan diplenokan dalam forum yang besar, misal seperti perubahan dari desain kurikulum,” ujar dr. Risma Karlina Prabawati, Sp.S selaku ketua panitia saat ditemui di Harris Hotel and Conventions Malang. Menjadi pemateri sekaligus  Pengurus Divisi Rumah Sakit Pendidikan pada Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI), dr. Rini Listiowati, MMR., mengangkat judul “Peran RS Pendidikan sebagai Wahana Pendidikan dokter Muda di Era JKN”. Pada kegiatan yang berlangsung selama dua hari (4-5/1), kegiatan ini diikuti oleh 19 Rumah Sakit Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim), 15 Rumah sakit Jejaring, serta  9 Puskesmas wilayah Dinas Kesehatan Kediri. Saat ini di AIPKI memiliki 94 anggota Fakultas Kedokteran di Indonesia. “Dari 94 itu, yang mempunyai rumah sakit pendidikan baru sekitar 70. Jadi masih ada 24 fakultas kedokteran yang belum mempunyai rumah sakit pendidikan,” ungkap dr. Rini. Selain itu Rini menjelaskan pula tentang fungsi dan tugas Rumah Sakit Pendidikan dalam Tata Kelola organisasi yaitu, terdiri atas tiga poin yakni Pelayanan, Penelitian, dan Pendidikan. “Pada pelayanan harus menjamin mutu dan keselamatan pasien serta pelayanan sesuai kebutuhan pasien. Adapun penelitian meliputi pengembangan pusat unggulan, kerjasama dengan pelaku industri, penelitian untuk pendidikan  kedokteran. Dan untuk ranah pendidikan meliputi penyediaan dosen, menyediakan tenaga kesehatan hingga membina jejaring Rumah Sakit Pendidikan,” jelasnya. “Sebagai salah satu institusi yang tidak mau ketinggalan dari dinamika masyarakat, khususnya dinamika kehidupan manusia, maka konsolidasi yang di dalamnya berupa suatu upaya untuk mengevaluasi kegiatan, adalah satu keharusan. Evaluasi jika dimaknai lebih luas, tidak hanya pada tatanan-tatanan parsial. Tetapi kami berharap evaluasi secara menyeluruh,” tandas Dr. H. Fauzan M.Pd selaku rektor UMM. Sehingga evaluasi tidak hanya dilakukan untuk meningkatkan kualitas akademik yang dimiliki oleh calon dokter, tetapi juga diharapkan memiliki kontribusi yang lebih baik dalam rangka membentuk kepribadian seorang dokter. “Jadi, disamping mereka memiliki kompetensi yang memang mumpuni, tetapi tidak kalah pentingnya ini adalah adanya kepribadian yang diharapkan dapat melayani masyarakat,” pungkas Fauzan saat sambutan sekaligus membuka acara. (riz/can)

Mahasiswa UMM Buat Sistem Pintar Pendeteksi Kebakaran Hutan

Menurut data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2018, luas lahan berhutan di Indonesia mencapai 93,5 juta hektare. Sehingga, selain Brazil, Indonesia menjadi penyumbang terbesar kadar oksigen dunia yang kemudian sering disebut menjadi paru-paru dunia. Indonesia adalah negara yang menempati posisi ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis. Namun kebakaran hutan, baik yang terjadi karena musim kemarau atau pembukaan lahan ilegal, menjadi masalah yang tak kunjung usai. Hal inilah yang mendorong sekelompok mahasiswa Program Studi Teknik Informatika UMM untuk membuat sistem pintar atau teknologi yang bernama Integrated Forest Fire Management System, alat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendeteksi kebakaran hutan. “Cara kerja sistem ini adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan Artificial Intelligence sebagai pemroses data,” ungkap Billy, Selasa (2/1) selaku ketua kelompok. Pada kasus kebakaran hutan di Indonesia telah menjadi masalah yang hingga kini masih belum teratasi, dan menjadi permasalahan internasional. Hal ini juga dapat dilihat dari data BNPB yang di update pada 15 September 2019 mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sebesar 328.722 hektare terbakar, dengan jumlah titik panas 538 titik panas. Inovasi yang dibimbing dosen Fakultas Teknik Nur Hayatin, S.ST, M.Kom digadang mampu mengurangi perluasan dampak kebakaran. “Hutan memegang peran penting bagi kehidupan diantaranya adalah filter dalam mengurangi pemanasan global, dan penghasil oksigen terbesar di dunia. Bercermin dari peran penting hutan, disayangkan jika hutan di Indonesia terus mengalami penurunan dari setiap tahunnya. Banyak penyebab berkurangnya hutan di Indonesia salah satunya yaitu masalah kebakaran hutan,” terang Billy menjelaskan temuan yang didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif. Banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah. Di antaranya pengefektifan perangkat hukum, menerapkan metode kampanye sadar masyarakat, dibangunnya embung, membangun Menara pengawas dan lainnya. Kemudian ketika terjadi kebakaran upaya pemadaman yang dilakukan adalah dengan meningkatkan teknologi dalam upaya pemadaman, kemudian dilakukan operasi pemadaman, juga evakuasi dan penyelamatan. Inovasi teknologi ini dinilai dapat menjawab tantangan tersebut. Inputan yang didapat dari teknologi besutan Billy Aprilio, Yasril Imam dan Ulfah Nur Oktaviana ini berupa temperatur suhu dan nyala api. Ketika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran. “Di mana air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun alami dengan menggunakan pemanen embun menggunakan jaring atau fog harvesting,” kata Billy. Penyemprot akan menyemprotkan air pada periode waktu tertentu yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, maka penyemprot akan diaktifkan kembali. “Namun, apabila sensor mendeteksi kategori kebakaran hutan tingkat tinggi, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat. Sehingga, tidak akan terjadi kebakaran yang jauh lebih besar,” terang Billy menjelaskan sistem kerja alat. Selanjutnya, hasil dari Fog Harvesting tersebut akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan. “Kemudian untuk power supplay, kami menggunakan panel surya untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber daya utama yang kami aplikasikan pada pompa penyemprot air. Dengan adanya sistem pintar ini diharapkan akan meminimalisirkan terjadinya kebakaran hutan besar,” tutur Billy. Mereka berharap teknologi ini bisa segera di realisasikan dalam waktu dekat. (can)

Fauzan Kembali Terpilih Secara Aklamasi sebagai Calon Rektor UMM 2020-2024

Fauzan kembali terpilih sebagai calon rektor secara aklamasi dalam Rapat Senat Pemilihan Rektor Periode Tahun 2020-2024 di Ruang Sidang Senat UMM, Senin (30/12). Acara dihadiri oleh Ketua Badan Pengurus Harian, Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Selain itu, hadir pula semua anggota senat universitas, Badan Pembina Harian UMM, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Malang Raya, Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa, serta Senat Mahasiswa Universitas. Acara berlangsung gayeng, guyub, dan penuh rasa kekeluargaan. Dalam pilrek kali ini, ada tujuh calon yang dinyatakan terverifikasi oleh panitia pemilihan. Mereka adalah Dr. Fauzan, M.Pd, Prof. Dr.Syamsul Arifin, M.Si, Prof. Dr.,Tobroni, M.Si., Dr.,Nazaruddin Malik, SE., MSi., Dr.,Tulus Winarsunu, M.Si., Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., dan Dr. H.Khozin, M.Si. Berdasarkan Peraturan UMM Nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Tertib Pemilihan, Pertimbangan dan Penetapan Calon Rektor UMM Masa Jabatan 2020-2024, pada Pasal 7 point 4 menyebutkan bahwa pemilihan calon rektor secara demokratis dapat dilakukan dengan cara musyawarah mufakat atau dengan cara pemungutan suara. Dalam proses pemilihan ini, semua peserta sidang menyepakati, pemilihan rektor UMM dilakukan secara musyawarah mufakat. Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. Dr. Malik Fadjar, M.Si. berpesan, kebesaran Muhammadiyah harus didukung oleh aktivitas Muhammadiyah yang nyata. “Terimakasih yang telah punya komitmen atas perjalanan universitas ini. Universitas ini harus menjadi kebanggaan bagi pimpinan daerah, pimpinan wilayah, dan pimpinan pusat Muhammadiyah. UMM harus senantiasa mengabdi kepada bangsa,” ungkap Malik. Usai proses pemilihan, Fauzan calon Rektor UMM terpilih menyatakan bahwa kekompakan yang telah terbangun sebelumnya, terkhusus di masa kepemimpinannya empat tahun kebelakang agar tetap dijaga. “Semoga kekompakan yang telah diajarkan oleh para pendahulu kita bisa dijadikan dasar untuk terus mengembangkan UMM agar lebih baik lagi di masa depan,” kata Fauzan. Ketua Panitia Pemilihan Rektor UMM, Dr. Oman Sukmana, M.Si menyampaikan bahwa hasil keputusan rapat pemilihan calon rektor kali ini selanjutnya dimintakan persetujuan kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mendapat pengesahan Dr. Fauzan, M.Pd sebagai Rektor UMM Periode Tahun 2020-2024. (can)

Bedah Metakognitif Imam Al Ghozali, Inam Dikukuhkan sebagai Guru Besar Baru UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) punya guru besar baru. Kali ini, pada Sabtu (28/12), UMM mengukuhkan Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. sebagai guru besar Bidang Ilmu Pendidikan Matematika. Dalam orasinya, direktur Pascasarjana UMM ini mengusung pemikiran Imam Al Ghozali tentang pengelompokan manusia menjadi empat golongan, atau dalam istilah lain dikenal sebagai konsep Metakognitif Al Ghozali. Yakni 1. Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (orang yang tahu, dan dia tahu kalau dirinya tahu);2. Rojulun La Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu dan mengetahui bahwa ia tidak tahu); 3. Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (orang yang tahu, tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu), dan; 4. Rojulun La Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu dan tidak mengetahui bahwa ia tidak tahu). “Memperhatikan keempat kelompok manusia tersebut dapat dikatakan bahwa kelompok pertama dan kedua merupakan kelompok yang dapat ditingkatkan kualitas hubungan vertikal dan horizontal. Mereka termasuk kelompok yang mau menyadari kalau dirinya tahu tentang sesuatu dan juga menyadari mengenai ketidaktahuannya, dalam istilah lain dikatakan dengan metakognitif,” ungkap Direktur Pascasarjana UMM ini. Metakognitif, disambung suami dari Dra. Siti Hajar, M.Pd ini, mempunyai peran sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. “Seorang peserta didik yang menyadari dirinya sedang belajar, faham dengan yang dipelajari, sadar apa yang belum diketahuinya, dan berpikir tentang sesuatu, merupakan faktor yang sangat berperan terhadap keberhasilan peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar,” terangnya. Berkenaan dengan pembelajaran, dapat dikatakan bahwa pembelajaran adalah usaha peserta didik mempelajari sesuatu materi sebagai konsekuensi dari pengajaran guru. Pembelajaran merupakan aktivitas guru melaksanakan tugas menyampaikan materi kepada peserta didik sesuai dengan perencanaan yang telah dirancang. Pembelajaran bukan hanya proses menyampaikan ilmu pengetahuan oleh guru kepada peserta didik. “Namun peran guru adalah mengenal kemampuan dan potensi yang dimilikinya dan berusaha untuk mengembangkannya,” tegas In’am. Hal ini didasarkan kepada tiga hal: Pertama, peserta didik adalah manusia yang sedang berkembang. Kedua, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Serta ketiga, penemuan baru terkait dengan konsep perubahan perilaku manusia,” terang pria kelahiran Kediri, 10 Agustus 1964 ini. Memperhatikan hal itu, katanya, terdapat 4 hal yang hendaknya perlu diperhatikan dan diperhitungkan dalam pelaksanaan pembelajaran, yaitu strategi, pendekatan, metode dan prosedur pembelajaran. Keempat hal tersebut mempunyai peran yang sangat berarti untuk membantu peserta didik memahami materi yang dipelajarinya. Juga secara bersama merupakan aspek-aspek dalam pelaksanaan pembelajaran. Dari hal ini, usaha untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, khususnya Matematika, dapat dikemukakan bahwa faktor pertama dan utama adalah guru, baik berkenaan dengan kemampuan penguasaan materi serta penyampaiannya. “Berkaitan dengan penyampaian materi, efektivitas pembelajaran dapat terwujud dengan baik melalui penggunaan pendekatan metakognitif Imam Ghozali,” beber In’am. “Yang dalam hal ini dapat dikatakan bahwa metakognitif telah dikemukakan lebih terdahulu oleh al Ghozali sebagaimana diuraikan tadi. Melalui pemikiran al Ghozali, dalam pelaksanaan pembelajaran, khususnya pada bidang pembelajaran Matematika dapat diinisiasi melalui aksi dengan mengimplementasi kelompok pertama dan kedua, sehingga pembelajaran Matematika menjadi kondusif dan efektif,” tandas In’am. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd menyebut orasi yang disampaikan In’am sebagai tanda peneguhan, sekaligus pengukuhan dalam bidang pendidikan Matematika. Prof. In’am tercatat sebagai guru besar yang kedua di FKIP serta ke 21 guru besar di tingkat universitas. “Dengan demikian, saya sebagai pimpinan UMM menyampaikan ucapan selamat atas jabatan akademik tertinggi yang di raih Prof. In’am ini,” tuturnya. Hingga akhir tahun 90-an atau 2000-an, lanjut Fauzan, pelajaran Matematika masih menjadi barang yang menakutkan dan sekaligus menyebalkan. Bahkan stigma buruk itu telah menghinggapi banyak orang. Hal ini akibat konsep belajar Matematika yang tidak ramah lingkungan. “Artinya, Matematika diajarkan hanya secara parsial dan eksklusif, tanpa mempertimbangkan fungsinya dalam kehidupan yang nyata,” sebut Fauzan. Stigma Matematika itu semakin buruk setelah guru Matematika pun sulit senyum dan cenderung asosial. Akan tetapi sejak Frudental mengembangkan konsep pembelajaran Matematika Realistic di era tahun 70-an, saat itu pulalah guru Matematika mau tersenyum. Apa yang disampaikan In’am, kata Fauzan, telah mengambil realitas kehidupan sebagai basis untuk menerjemahkan bagamaina sebenarnya Matematika itu. Sehingga Matematika tidak berada pada ruang kosong, tetapi Matematika telah hidup di alam bersama kita. Dan memang senyatanyalah dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat luput dari praktek Matematikasasi. Inilah yang akhirnya dikembangkan oleh bangsa Indonesia saat ini. Ia didekonstruksi menjadi seperangkat ilmu yang turut bertanggungjawab atas keberlangsungan peradaban manusia yang humanis. Dalam konteks inilah para pengajar Matematika dituntut untuk berjuang membangun logika yang didasarkan atas realitas kehidupan secara empiris dan komprehensif. “Jadi saya kira apa yang disampaikan Prof. In’am, jika diimplementasikan dalam sebuah pembelajaran itu sangat luar biasa, Dan spiritualisasi pembelajaran Matematika sebagai upaya penguatan praktek pembelajaran Matematika agar lebih simplifis dan fungsional. Sementara itu, sejalan dengan Fauzan, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Dr. Saad Ibrahim MA menyebut dalam sambutannya bahwa Imam Al Ghozali menempatkan Matematika sebagai simbol tertinggi pikiran rasional, dengan berpegang pada wahyu dan intuisi. “Matematika bukan soal angka, namun juga ada sisi humanis, basis dimensi perwujudan dalam keseharian,” tandasnya. (mir/can)

Resolusi ala Bocah dari Kelas Bahasa Inggris UMM

Panggung Auditorium BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pagi itu, Minggu (29/12/2019), kembali riuh dengan celoteh para bocah berumuran 7-12 tahun yang mengikuti Art Performance. Gelaran sebagai acara penghujung program English for Young Learners (EYL) ini menampilkan kemampuan Bahasa Inggris yang beragam. Mereka menampilkan kebolehannya dalam bernyanyi, berpuisi, dan bermain peran. Sebagai acara puncak dari pembelajaran Bahasa Inggris yang telah dilaksanakan selama sepuluh kali pertemuan sejak akhir bulan Oktober lalu, acara ini dikemas untuk menyambut Tahun Baru 2020 dengan resolusi semakin percaya diri dalam mencapai cita-cita. Every Kid Deserves to be a Star, sengaja dipilih menjadi tema dalam Art Performance kali ini. “Puncak kegiatan EYL kali ini merupakan salah satu bukti bahwa dengan kemampuan yang beragam, siswa harus semakin percaya diri bahwa dengan belajar Bahasa Inggris yang menyenangkan, mereka kelak akan menjadi bintang,” tutur Kharisma Naidi WS, M.Pd., dosen pengampu mata kuliah EYL di UMM.   Kharisma menambahkan bahwa penampilan setiap kelas dari program EYL ini ditentukan sendiri oleh masing-masing kelas, dengan menyesuaikan pada tema besarnya. Rupanya para siswa sangat antusias dalam mempersiapkan setiap penampilan yang akan mereka suguhkan pada kedua orang tua mereka. Cahya, salah satu mahasiswa EYL yang mengajar di kelas 4 mengatakan bahwa penampilan siswanya kali ini diambil dari materi yang diajarkan di kelas tentang cita-cita. Bertajuk 4.0 Dream and Dancing Show, siswa memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris dan menyampaikan cita-cita mereka seperti youtuber, web designer, football player, atau model, tentunya di luar cita-cita yang selalu disampaikan oleh bocah seumuran mereka seperti dokter atau insinyur. Tingkah polos mereka sontak membuat penonton bertepuk tangan. Tampil dengan kostum sesuai cita-cita mereka, penontonpun terpukau dengan fasihnya mereka menyanyikan lagu Be What You Wanna Be yang dipopulerkan oleh Darin, penyanyi asal Swedia itu. Penampilan yang tak kalah memukau yang lain adalah penampilan kelas 1, yaitu gerak dan lagu Baby Shark. Meskipun lagu tersebut sangat sederhana, tapi keberanian siswa kelas 1 untuk tampil di atas pangguanglah yang membanggakan bagi orang tuanya. Mereka berharap tahun depan putra-putri mereka semakin percaya diri dan berani tampil di panggung EYL lagi. Resolusi sederhana pun terlontar dari mulut mungil mereka ketika MC menanyakan “Hi first graders, will you come back to this stage next year?” dan semua secara kompak tapi malu-malu mengatakan “Yes”. Penonton pun bertepuk tangan. Tak mau kalah, kelas 2 pun menampilkan lagu Count on Me dan kelas 3 dengan berani menampilkan program televisi ala America’s Got Talent dengan tajuk Fabulous Got Talent dan A Million Dreamer Show. Masih dengan visi yang sama, setiap siswa berhak memilih cita-citanya sendiri. Diminta menyampaikan kesannya, Dessy Indriani, wali siswa kelas 3 Rafif Afkar Chaniago, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tahunan EYL di UMM. Ia mengaku merasakan manfaat yang didapatkan oleh putranya selama beberapa kali mengikuti kegiatan ini. Ke depan, ia berharap kegiatan ini terus berlanjut dan dapat diikuti lebih banyak siswa dari area Malang Raya. Menutup sambutannya, Dessy berharap banyak pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMM menjadi inisiator pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak dengan mengedepankan pengalaman belajar menggunakan Bahasa Inggris, seperti yang dialami oleh putranya selama belajar di UMM. Kegiatan EYL yang telah dilaksanakan lebih dari satu dasawarsa ini, telah menghasilkan guru-guru yang tidak hanya mengajar di sekolah-sekolah SD negeri dan swasta, tetapi telah mengantarkan mereka untuk mengajar di sekolah internasional dan luar negeri. Beberapa tahun belakangan tercatat mahasiswa asal Thailand selalu mengambil mata kulliah EYL sebagai mata kuliah pilihan mereka. Setelah lulus mereka mengamalkan ilmunya di berbagai sekolah nasional dan internasional di negeri Gajah Putih tersebut. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMM, Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D., membenarkan informasi tersebut. “Saat ini program EYL di UMM telah menjadi rujukan dari perguruan tinggi lain untuk menyelenggarakn program yang sama atau menyelenggarakan perkuliahan serupa. Terakhir dosen Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta juga bertandang ke UMM untuk belajar khusus  tentang EYL. Dosen EYL UMM Rina Wahyu S, M.Ed., bahkan sempat diundang sebagai pembicara kunci di Universitas Singaperbangsa Karawang,” papar Doktor alumni University of South Australia ini. Tampak sedikit perbedaan antara kelas yang lain. Kelas 6 mampu menampilkan drama berjudul Turtle and Rabbit. Dalam drama tersebut tampak seorang guru sedang bercerita di depan siswa dengan dilengkapi visualisasi cerita tersebut. Sementara siswa yang lain berperan menjadi kelinci, kura-kura, burung, dan pohon. Penonton tampak menikmati drama tersebut sambil sesekali tertawa tertahan, karena beberapa kesalahan ucap dalam Bahasa Inggris. Salah satu siswa kelas 5, Aisyah Peravasa Effendy yang telah mengikuti kegiatan ini sejak kelas 1, menyampaikan bahwa ia banyak belajar berbicara dan tampil di depan penonton, dalam Bahasa Inggris. Itu pula yang memotivasinya untuk berani tampil dalam ajang lomba Bahasa Inggris sampai tingkat provinsi. “Tahun depan mau ikut EYL lagi biar bisa tampil lebih bagus dan ngomong lebih panjang lagi,” tutur siswa yang pagi itu didaulat untuk membuka penampilan penutup Art Performance dari kelas 5 berupa lagu gerak dan lagu Heal the World yang membawa pesan perdamaian dan menyampaikan semua anak dengan latar belakang budaya yang berbeda setuju untuk mencapai cita-cita setinggi-tingginya. Lagu penutup itu berakhir dengan seluruh siswa berdiri dan menyanyi di reffrein terakhir sambil membawa bunga mawar merah. Lagu Hero pun berkumandang untuk flash mop dan siswa pun berhambur menemui orang tua masing-masing untuk memberikan setangkai bunga mawar, menyampaikan terimakasih telah membiarkan mereka mempunyai cita-cita. (rin/can)

Mobil KaCa UMM Giatkan Literasi Bersama Preman Mengajar di Jabung

Pendidikan inklusif yang hendak dihadirkan Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyab Malang (UMM) nampaknya bukan isapan jempol semata. Berbagai kelompok yang terbilang eksklusif juga tak ketinggalan dirangkul dalam aksi menggiatkan melek literasi ini. Kali ini, Kamis (26/12) Mobil KaCa UMM blusukan ke Jabung, Malang. Dengan mengandeng kelompok pegiat literasi, Republik Gubuk asuhan para mantan preman (Preman Mengajar) ini, untuk membumikan kegiatan literasi. Stereotipe mantan preman di tengah masyarakat masih negatif, melalui gerakan Republik Gubuk, para mantan “preman” (kampung) ini ingin kembali bermanfaat masyarakat melalui kontribusinya di pendidikan. “Dengan adanya program mobil KaCa yang dikerjasamakan dengan Republik Gubuk ini, kami ingin menghadirkan gerakan literasi di Kecamatan Jabung, khususnya buat anak anak disini mulai rentan TK, SD, SMP maupun SMA/MA/SMK,” ujar Fachrul Alamsyah selaku Presiden Republik Gubuk saat ditemui di sela-sela acara. Alasan para preman tersebut menggalakkan literasi adalah karena mereka mau menebus kesalahan mereka dimasa lalu melalui jalan sederhana berbagi ilmu. “Kata pak Kyai yang membimbing kami, sedekah ilmu itu adalah sedekah ringan dan sering terlupakan,” ujar Dony Windiarto yang merupakan salah satu penggiat di Gubuk Trail. Bahkan saat kelompok ini baru berdiri, bahkan sempat dikira sebagai kelompok penculik anak,penjual pil koplo dll. Imej negatif ini mungkin muncul dari penilaian orang pada penampilan atau perilaku lama para pegiat. “Selain itu, kami juga mengajarkan beberapa keterampilan seperti seni budaya, olahraga, keagamaan,lingkungan dan lainnya,” ujar Fachrul menceritakan suka-dukanya. Selain menggiatkan literasi tradisional melalui kegiatan membaca buku, Mobil KaCa UMM juga mengajarkan berbagai keterampilan lainnya. Misalnya tentang tentang menumbuhkan tingkat kepercayaan diri kepada anak-anak SD. Materi ini dibawakan Syahrin Rachmayania Pertiwi yang merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi. Selain mengajarkan kepercayaan diri, Rahmat Iskandar Rizki mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang juga merupakan bagian dari Tim Mobil KaCa UMM, menggembirakan anak-anak melalui kegiatan outbond. Diantaranya game Race Ball yang mengajarkan bagaimana nilai bekerjasama. Program kolaboratif ini akan dilanjutkan di beberapa tempat asuhan Republik Gubuk. “Untuk di gubuk Traill ini, kami juga mulai bergerak di bakat minat. Ada lahan untuk sirkuit BMX, jadi harapan ke depan semoga suatu saat ada adik adik yang bisa menjadi atlit sepeda BMX,” ungkap Dony Windiarto salah satu Pengajar Gubuk khusus atlet Trail ini. Saat ini Republik Gubuk memiliki 22 gubuk asuhan berbagai tema yang tersebar di Kecamatan Jabung. Di tiap gubuknya diajarkan keterampilan tersendiri di masing-masing gubuknya. Seperti Gubuk Baca Anak Alam, Gubuk Baca Pentongan Mindi, Gubuk Baca Kampung Texas, Gubuk Panji, Gubuk Kampung Treteg, Gubuk Sufi dan lain lain (win/can)

PPG UMM Luluskan 331 Guru Profesional

Pada gelar Kelulusan Pendidikan dan Penyerahan Sertifikat Pendidik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode 3 tahun 2019, sebanyak 311 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) dinyatakan sebagai pendidik profesional, Senin (24/12). Mereka terdiri dari 96 atau 31% laki-laki, 215 atau 69% perempuan. Berasal dari bidang studi Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. “Barangkali modal yang harus kita kembangkan saat ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tetapi berdasarkan kebijakan pemerintah, memang akan direduksi tidak berlembar-lembar lagi. Hanya cukup dengan menggunakan tujuan, kegiatan pembelajaran, dan assesmen. Ini tentu berbeda dengan yang saudara kembangkan saat berada di PPG, tetapi saudara jauh lebih mendalam,” Dr. Poncojari Wahyono, M.Pd selaku Dekan FKIP UMM. “Sehingga ketika nanti membuat RPP, saudara justru jauh lebih mudah melakukannya. Ini adalah upaya agar saudara tidak tumpul, tetap cerdas, sehingga memiliki ilmu yang cukup dalam memberikan kemerdekaan belajar pada anak didik dan pada diri saudara sendiri. Karena untuk menjadi guru saudara harus haus ilmu, harus haus untuk memperoleh pengetahuan,” sambungnya saat menyampaikan pidato sambutan di GKB lantai 9. Gelaran kelulusan ini mengusung tema “Menghadirkan Profesionalitas Guru Abad XXI dalam Bingkai Pendidikan Berkemajuan”. Mahasiswa yang dinyatakan lulus pada periode 3 tahun 2019 berasal dari enam provinsi, yakni Provinsi Bali, Jawa Timur (Jatim), Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang tersebar di 44 kota dan kabupaten. Selain itu, dilanjutkan Poncojari bahwasanya untuk menjadi seorang guru pada era seperti saat ini, harus haus akan ilmu, dan bisa memanusiakan manusia, memiliki sifat yang ceria, berfikiran positif, serta cakap. Gelar kelulusan ini didasarkan pada SK Kemenristek Dikti No B 805/B-B4/JM03/02/2019 serta Surat keputusan rektor No 947/SK/ PPG XI 2019 Tgl 22 November 2019 tentang penetapan kelulusan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Periode 3 tahun 2019 UMM. Dengan rincian PPG Dalam Jabatan (Daljab) angkatan 2 sebanyak 142 mahasiswa, PPG Daljab angkatan 3 sebanyak 115 mahasiswa, PPG Daljab Guru Daerah Khusus (Gurdasus) sebanyak 15 mahasiswa, Retaker yang berasal dari PPG Dalam Jabatan sebanyak 36 mahasiswa dan PPG Prajabatan SM3T sebanyak 3 Mahasiswa. “Kita tahu bahwa, tidak semua yang sudah menjalani profesi guru bisa mendapatkan panggilan untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru. Jumlahnya banyak, tidak semua bisa diundang. Dari sisi waktu, bapak ibu harus mengikuti seluruh rangkaian PPG selama 6 bulan, 4 bulan difasilitasi dengan Sepadan (Sistem Pembelajaran Daring) atau Online setelah itu 2 bulan hadir di kampus,” jelas Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.selaku Wakil Rektor 1 UMM. Selama itu, lanjut Prof. Syamsul, tentu ada tantangan tersendiri karena harus disadari bahwa setiap momen itu adalah kebahagiaan. Bahagia itu adalah sekarang dan hari ini, bukan masa lalu dan bukan masa yang akan datang. Setelah ini, semuanya akan mendapatkan Sertifikasi. “Karena itu saya melihat ada suatu ekspresi kebahagiaan saat mendapatkan sertifikat Pendidik Profesional,” ungkapnya. “Maka bapak ibu, sebagai guru di manapun kita berada, kita harus responsif, memiliki sensitivitas terhadap perubahan. Dan saya kira bapak ibu selama PPG ini sudah dibekali dengan berbagai macam pengetahuan untuk menghadapi perubahan. sehingga lebih responsive dalam menghadapi kedinamisan zaman maupun menghadapi kebijakan yang selalu berubah-ubah. Terlepas dari RPP dan perangkat pembelajaran yang lainnya, itu adalah sekedar sebagai supporting bukan yang esensi. Karena yang esensi adalah kita sendiri sebagai orang, sebagai manusia. oleh karena itu di berbagai kesempatan saya mengatakan bahwa guru adalah Living Kurikulum,” tandasnya. (riz/can)