Puluhan Mahasiswa Asing Belajar Teknik Membatik ala Jepang di UMM

Sebanyak 48 mahasiswa asing Lembaga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) diperkenalkan berbagai teknik membatik. Agenda itu berlangsung di Auditorium BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (16/11) siang. Para mahasiswa asing ini berasal dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya UMM 21 orang, UIN Malang, Unisma, dan Universitas Ma Chung yang masing-masing membawa 9 orang. Kali ini, mahasiswa dari berbagai negara dikenlakan teknik Shibori. Shibori adalah sebuah kesenian di Jepang dalam hal pewarnaan kain. Teknik pewarnaan dilakukan dengan mencelupkan kain pada zat pewarna alami dan memberikan ‘perlindungan’ pada bagian kain tertentu yang tidak ingin diwarnai. Teknik ini, perlindungan pada bagian tertentu dilakukan dengan melilit, melipat, atau mengikatnya dengan benang. “Adapun alat dan bahan yang bisa digunakan dalam membuat batik Shibori yakni Kain Putih Batik atau yang biasa disebut dengan Primisima, pewarna batik Remasol, Karet gelang, Tali Rafia, Botol Aqua yang tutupnya berlubang, Botol Aqua gelas, Kelereng atau Batu kecil, Air Secukupnya, Tas Kresek dan Waterglass,” ungkap Belinda Dewi Regina, staf pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM selaku pemateri. Wanita yang juga dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini menjelaskan lebih jauh bahwa pembuatan batik dengan teknik Shibori cukup sederhana. Karena si pembuat dapat memanfaatkan beraneka ragam barang yang ada disekitar. Teknik ikat celupnya pun tergantung dari si pembuat, ingin membentuk pola yang seperti apa. “Jadi, mereka bisa membuat motifnya dengan sesuka hati,” sambung Belinda. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UMM bekerjasama dengan lembaga BIPA UMM ini, tak hanya melakukan workshop pembuatan Batik saja, tetapi terdapat pameran karya mahasiswa berupa Koran Mahasiswa (Kobama, Oasis dan Cakrawala), kliping opini mahasiswa PBSI UMM, kliping esai, serta empat buah buku karya mahasiswa PBSI UMM. Agenda tahun bertajuk Nusantara Mendunia: “Kearifan Lokal di Mata Internasional” ini mendapat respon positif. “Saya sangat bahagia mengikuti kegiatan ini, karena saya bisa membatik dengan warna-warni (warna yang beragam) dan terima kasih telah mengajak kami ikut (berpartisipasi) dalam kegiatan ini,“ jelas Ton Thi Thuy Trang yang berasal dari Vietnam, Mahasiswa program BIPA UMM saat ditemui di sela-sela kegiatan. (riz/can)
Cerita Lulusan UMM yang Jadi Dokter di Usia 20 Tahun

Syuna Salimdra, seorang dokter berusia 20 tahun baru saja melangsungkan pelantikan dan pengambilan sumpah dokter ke-40 Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tanggal 26 oktober 2019 lalu. Dokter asal Banjarmasin ini diambil sumpah bersama 67 dokter lainnya yang telah menuntaskan pendidikan profesi dokternya. Syuna lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) dengan nilai sangat memuaskan. Putra pasangan Buntoro Salimdra dan Marzuqoh ini tak hanya menjadi dokter termuda, namun dokter yang lahir pada 8 Mei 1999 ini berhasil meraih nilai terbaik UKMPPD Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dengan nilai 42,08 bersama dr. M. Ilham Akbar. Sedangkan untuk UKMPPD Computer Based Test (CBT) terbaik diraih oleh dr. Rika Oktania Sari dan dr. Nungki Samahah Kurniawati dengan nilai 88,5. Untuk nilai IPK profesi terbaik dengan nilai 3,80 diraih oleh dr. Dzaky Ramadhan Hidayat. Angka kelulusan periode ini cukup memuaskan yaitu 93%, dan saat ini FK UMM tercatat telah meluluskan 1.269 dokter. Selama proses pendidikan profesi, dokter yang hobi mendengarkan musik ini sempat mengalami kesulitan. Namun berkat usaha disertai dorongan orang tua dr. Syuna mampu melalui kendala tersebut. “Stase yang paling berat menurut saya adalah stase Puskesmas, karena tugasnya yang cukup banyak ditambah dengan jadwal jaga yang padat. Tapi, Alhamdulillah, semua sudah terlewati.” tuturnya. Cita-citanya menjadi dokter sudah muncul sejak kecil. Syuna mengaku intensitasnya bertemu dengan dokter anaklah yang membuatnya tertarik menjadi dokter. Kini mimpi telah tercapai, dr. Syuna berharap bisa menjadi dokter yang berguna bagi banyak orang, yang benar-benar membantu orang lain dengan keilmuan yang dimiliki, serta membuat bangga keluarga, teman, dan kerabat. Proses akademiknya berlangsung cepat karena ia mengikuti kelas akselerasi dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Kemantapannya memilih Fakultas Kedokteran (FK) sudah ia tetapkan sejak duduk di bangku SMA. Bagi Syuna, dokter merupakan pekerjaan sangat mulia karena bisa menolong banyak orang. “Saya melihat dokter dapat menyelamatkan hidup banyak orang, dari situ kemudian ketertarikan saya dimulai,” ungkapnya. Ketika SMA, Syuna mengaku tak ada metode khusus dalam belajar, selain rajin dan tekun. Ketika memasuki perguruan tinggi, tempo belajarnya ia sesuaikan. Selama lima semester, Syuna dipercaya untuk menjadi asisten dosen di laboratorium skill FK UMM. “Saya jadi asisten dosen mulai semester tiga sampai semester tujuh. Ternyata mengajar enak juga, apa yang diajar bisa lebih mudah diingat,” ujar pria yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anastesi ini. Syuna membuat tugas akhir dengan mengangkat fenomena penjual makanan yang menggunakan minyak jelantah untuk menggoreng. Dengan mengangkat judul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Pepaya Terhadap Perbaikan Histopatologi Sel Hepar Tikus Putih Yang Diinduksi Minyak Jelantah”, Syuna mencoba meneliti kerusakan hati yang disebabkan konsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jelantah. Pria yang sempat aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UMM ini menjelaskan, penelitiannya ini bisa dimanfaatkan untuk manusia. Menurutnya, hati tikus memiliki kerja yang sama dengan hati manusia. Sehingga, jika konsumsi minyak jelantah secara terus menerus dapat merusak hati tikus, maka juga dapat merusak hati manusia. “Jika ekstrak daun pepaya dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati tikus maka demikian halnya pada hati manusia,” jelas Syuna. (ysn/zak/can)
LSP UMM Siap Jadi Tempat Uji Kompetensi Mandiri Penyuluh Anti-Korupsi

Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) tengah menggodok skema sertifikasi penyuluh anti-korupsi pratama. Skema ini termasuk dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan yang kemudian diajukan ke Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Untuk menyelenggarakan skema sertifikasi penyuluh anti-korupsi pratama, UMM sendiri telah menarget menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK) Mandiri. Syaratnya, asesor dari UMM harus lulus sertifikasi skema uji kompetensi penyuluh anti-korupsi pratama yang diselenggarakan oleh LSP lembaga anti rasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dr. Ihyaul Ulum, S.E., M.Si., Ak, CA. selaku Direktur LSP UMM berharap agar dosen dari UMM bisa lolos sertifikasi assesor. “Karena jika ada dosen yang lolos uji sertifikasi, kita dapat mendirikan TUK Mandiri dan bisa menyeleksi peserta di kalangan civitas UMM dan kita bina sendiri menjadi penyuluh anti-korupsi,” ucap Ulum, Rabu (13/11). Sementara, UMM baru ditunjuk sebagai Tempat Uji Kompetensi Sewaktu (TUKS) yang diadakan di tanggal 5-7 November lalu. Peserta yang lolos e-learning dan screening sebanyak 19 orang dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia turut hadir mengikuti tes, termasuk dari UMM ada 3 dosen, yakni dari Fakultas Hukum dan Prodi PPKn. Pada Mei 2019 LSP UMM terpilih sebagai percontohan lembaga sertifikasi profesi penerima hibah retooling vokasi. Ketika itu, Kampus Putih UMM telah mengikutsertakan ratusan mahasiswanya mengikuti uji kompetensi Program Retooling Pendidikan Tinggi Vokasi Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti RI. “LSP UMM lahir dengan visi menjadi lembaga yang unggul, profesional, dan kompeten agar mahasiswa memiliki kompetensi yang berdaya saing yang berasal skema kompetensi yang relevan dan berkualitas serta asesor kompetensi yang kompeten dan profesional yang berawal dari tata kelola kelembagaan yang modern,” tandas Ulum. (yas/can)
Prodi Teknik Informatika UMM Raih Akreditasi A, Bersiap Songsong Akreditasi Internasional 2020

Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) berhasil meraih akreditasi A (sangat baik) setelah sebelumnya hanya mendapat peringkat B (baik) di tahun 2014. Pengumuman ini dirilis oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada 6 November 2019 lalu. Setidaknya terdapat tujuh standar aspek penilaian dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), yakni terkait visi misi, tata kelola, kemahasiswaan, sumberdaya manusia (SDM) karyawan, dosen maupun mahasiswa, kurikulum dan sarana prasarana. Oleh karena itu Prodi Teknik Informatika membentuk tim task force. Selain itu demi memudahkan proses visitasi terkait klasifikasi, verifikasi, dan validasi data serta informasi penilaian asesor dari BAN-PT, pihak Prodi Teknik Informatika telah membuat Sistem Informasi Manajemen Akreditasi (SIM-Akreditasi), di mana data-data terkait berbagai aspek penilaian akreditasi tersebut dapat diakses oleh tim asesor. Agar proses penilain berlangsung maksimal, mereka juga melakukan simulasi. “Simulasi dilakukan semirip mungkin dengan proses penilaian vitisasi asesor. Tujuannya supaya kita lebih mempersiapkan data-data borang dengan matang,” ucap Gita Indah Marthasari, S.T., M.Kom, ketua Prodi (Kaprodi) Teknik Informatika UMM. Saat ini Prodi Teknik Informatika berada pada tahapan pencapaian daya saing nasional (national competitiveness). “Target yang ingin kami tuju ialah bagaimana kita menginternasionalisasi, yang artinya sumberdaya manusia seperti dosen, karyawan dan mahasiswanya juga harus terinternasionalisasi,” tandas Gita, Selasa (12/11). Memiliki 1500 mahasiswa Prodi Teknik Informatika, Gita memiliki harapan untuk seluruh mahasiswanya agar lulus tepat waktu dan bekerja di bidang keahlian masing-masing. Mengingat Prodi Teknik Informatika memiliki empat profil konsentrasi, yakni pengembang game, ilmuan data, rekayasa perangkat lunak dan administrator jaringan. Ke depan, pada tahun 2020 Prodi Teknik Informatika bakal mengikuti akreditasi internasional dari Indonesia Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) yang merupakan akreditasi mandiri, didirikan sebagai bagian dari Persatuan Insinyur Indonesia dan dibantu oleh Japan Accreditation Board for Engineering Education. (yas/can)
UMM Masuk Kluster Unggul untuk Kinerja Pengabdian kepada Masyarakat

Berdasarkan pemeringkatan Perguruan Tinggi berbasis Kinerja Pengabdian kepada Masyarakat periode tahun 2016-2018 oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) termasuk ke dalam kluster Unggul. Klusterisasi didasarkan pada hasil penilaian kinerja Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi dan surat keputusan Dirjen Penguatan Risbang nomor 29/E/KPT/2019 tanggal 27 September 2019. UMM sendiri berada di peringkat 18, mengungguli peringkat kinerja pengabdian kepada masyarakat Perguruan Tinggi Swasta (PTS) lainnya, juga Perguruan Tinggi Negeri seperti Universitas Andalas (peringkat 20), Universitas Negeri Surabaya (peringkat 23), Universitas Negeri Makassar (peringkat 24), bahkan Universitas Indonesia (peringkat 21). Masuknya UMM ke kluster Unggul, membuktikan pengakuan pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemenristekdikti bahwa kinerja UMM sangat sesuai dengan standar. Pengabdian kepada masyakarakat yang dilakukan oleh dosen UMM perlu dilihat dari perspektif sebagai berikut: Pertama, pengabdian merupakan implementasi sinergitas antara 5 unsur yang disebut pentahelex yang meliputi unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media. “UMM punya komitmen, apa yang dihasilkan oleh dosen di bidang akademik, misalnya riset, harus memberi kemanfaatan antara lain bagi masyarakat,” ungkap Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin. Kedua, pemberdayaan atau empowering terhadap masyarakat. Ada banyak kegiatan pengabdian yang dilakukan dosen dan mahasiswa Kampus Putih UMM yang telah berdampak pemerdayaan terhadap masyarakat, misalnya di bidang pertanian dan energi seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang diterapkan di sejumlah daerah. Intinya, kembali ditegaskan Syamsul, kegiatan akademik jangan sekedar menjadi menara gading, tetapi harus bernilai praksis terhadap masyarakat. Aspek yang dinilai dari pengabdian masyarakat ialah Sumberdaya Manusia (SDM) pengabdian 25 persen, manajemen pengabdian (pengelolaan DPPM) 20 persen, luaran atau produk seperti apa yang dihasilkan pengabdian 45 persen. Produknya dihasilkan melalui beberapa skema seperti KKN-PPM, pendampingan desa, serta pengabdian unggulan daerah. Pendanaannya mencapai 50-60 juta setahun, dan bisa mencapai 100 juta untuk multi tahun, seperti pendampingan desa mitra dan unggulan daerah. Wakil Direktur I Bidang Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM Dr. Vina Salviana Darvina S, M.Si. menyatakan, UMM mempunyai skema pengabdian internal yang model skemanya diklaim setara dengan standar penilaian Kemenristekdikti. Sehingga sebelum diajukan ke Kemenristekdikti, proposal yang diajukan akan melalui tahapan dan seleksi ketat oleh DPPM UMM agar berpeluang besar mendapat pendanaan. (*)
UMM Dominasi Kemenangan Kompetisi Jembatan Indonesia 2019

Surya Team Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan kegigihannya dengan tampil gemilang di sejumlah kategori Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) di Politeknik Negeri Jakarta 7-10 November 2019. Meski tidak lolos sebagai juara umum, UMM mendapat banyak raihan di KJI, yakni Juara 2 Nasional Jembatan Model Cable Stayed, Juara 2 Nasional Jembatan Model Plengkung, dan Juara Harapan 1 Nasional Jembatan Baja Bersekala. Tak sampai di situ, Surya Team di KJI juga juara di katagori Terkokoh, juara katagori Terimplementatif, dan juara di katagori K3 Terlengkap. Keempat tim yakni Gajendra, Maheswara Team, Great Apollo, dan Dandelion Diamond yang proposalnya berhasil lolos bersaing dengan 50 proposal lainnya. Sepuluh finalis telah presentasi proposalnya di Jakarta. UMM satu-satunya kampus swasta yang berhasil lolos dan bersanding dengan perguruan tinggi negeri seperti ITS, ITB, UB, Polban, UI dan PTN lainnya. Di kategori Jembatan Pelengkung yang diwakili Maheswara Team dengan nama jembatan Kar Jaged Bridge mendapat dua gelar sekaligus, yakni Juara 2 dan Juara Kategori Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) Terlengkap. Sedangkan di Ketegori Jembatan Cable Stayed yang diwakili Great Apollo dengan nama jembatan Tektona Bridge mendapat tiga capaian sekaligus, yakni Juara 2 Nasional, juara Kategori Jembatan Terkokoh, dan Juara Kategori Kesesuaian Implementasi terhadap Desain. Yang menarik yakni Sapeh Kerrap Bridge, Jembatan yang mendapat Juara Harapan 1 di kategori Rangka Baja Jalan Raya Berskala ini terinspirasi dari budaya lokal Madura, “Karapan Sapi”. Bentuk dudukan rider diimplementasikan pada bentuk railing. Bentuk tanduk sapi diimplementasikan pada bentuk tiang lampu jalan. Selain kokoh dengan lendutan < 2 MM, jembatan ini juga ringan dengan berat struktur < 150 KG. Jembatan ini sangat inovatif karena ramah lingkungan dan pendistribusian beban yang efisien. Novan Surya Adityawan ketua umum Surya Team UMM dalam keterangannya menjelaskan, meski tidak beruntung di KBGI, ia mengaku sangat puas dengan raihan timnya. “Mau juara atau nggak, yang penting kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami tidak menyesal, meski tidak juara sekalipun. Akan kami perbaiki di ajang berikutnya. Terutama meningkatkan pemahaman terkait TOR,” katanya saat dihubungi via telepon dalam perjalanan dari Jakarta kembali bertolak ke Malang, Senin (11/11). Di tahun 2014, UMM merupakan tuan rumah penyelenggaraan KJI yang ke-10 dan KBGI yang ke-6. Sejak pertama kali diselenggarakan, keduanya selalu diadakan di kampus negeri. Sementara, dalam KBGI di Universitas Kristen Maranatha, Bandung, November 2015, UMM berhasil menggondol Juara Umum, menggeser dominasi juara bertahan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan tim andalan tuan rumah, memperebutkan Piala Reka Cipta Griya Indonesia itu berjalan sangat kompetitif. (can)
FPP UMM Helat Konferensi Internasional Bio-Energy dan Teknologi Pertanian, Hadirkan Pembicara Lintas Negara

Selama dua hari, 7-8 November 2019, Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) melalui Fakultas Peternakan dan Perikanan (FPP) menghelat International Conference on Bio-Energy and Environmentally Agricultural Technologies (ICoN-BEAT). Pada gelaran ini, FPP UMM mengundang pembicara profesional di bidangnya yang berasal dari Thailand, Malaysia dan Indonesia. Perhelatan yang diikuti peserta dalam dan luar negeri seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Brunei, dan India ini menjadi ajang bergengsi bagi para peneliti. Hal tersebut disampaikan oleh Dr Ir David Hermawan MP IPM Dekan FPP UMM. “Konferensi ini bertujuan untuk membawa para peneliti, akademisi, ilmuwan, mahasiswa, insinyur dan praktisi untuk berpartisipasi dan mempresentasikan temuannya,” katanya, Kamis pagi (7/11). Tujuannya, mengupdate riset, pengembangan atau penelitian terbaru dalam lingkup pertanian, peternakan, perikanan, pangan, kehutanan dan bio-energi. Salah satu pembicara, Assoc. Prof. Dr. Maizirwan. Mel., dari International Islamic University, Malaysia memaparkan risetnya terkait implementasi energi terbarukan di indonesia (bio-energi). Dalam temuannya, rata-rata penggunaan energi bahan bakar fosil di Indonesia sepuluh tahun terakhir naik sekitar 7%. “Hal itu disebabkan oleh pertumbuhan populasi penduduk. Hingga saat ini saja, Indonesia sudah memiliki 267 juta jiwa penduduk,” paparnya. Penggunaan energi yang begitu besar itu, menurut Maizirwan sudah sangat berpengaruh pada perubahan iklim saat ini. Udara semakin panas, energi yang berasal dari fosil juga terus berkurang. Ia pun menggagas penggunaan bio-energi berkelanjutan untuk menghadapi masa depan. Emisi atau gas buang dari energi bahan bakar fosil pada saat ini berkisar 31 Gt (Gigatone) pertahunnya. “Kita coba kurangi pada 2020 nanti menjadi 14 Gt dan pada 2035 kita bisa mencapai 0 Gt,” jelasnya di depan para peserta. Dalam mewujudkan energi terbarukan yang berkelanjutan, diperlukan sebuah sumber energi terbarukan dan biomassa. Di antaranya ialah memiliki manajemen hutan yang baik dan produktivitas yang lebih tinggi di bidang pertanian. Hal ini menjadi cara baik menurut Maizirwan demi menggapai pola hidup yang lebih baik dengan energi terbarukan. Dr. Fauzan, M.Pd, Rektor UMM mengungkapkan bahwa perlunya terus menggagas dan mendalami energi terbarukan untuk mengahadapi masa depan. “Dunia masa depan kita tidak bisa terus bergantung pada bahan bakar fosil seperti yang kita gunakan saat ini,” terangnya. Ia berharap forum ini dapat menjadi tonggak awal penemuan-penemuan dan pendalaman energi baru terbarukan yang berkelanjutan. (mir/can)
Jadi Wapresma Internasional, Mahasiswa BIPA UMM Canangkan Ini

Selain keluar sebagai pemenang dalam lomba cerdas cermat keindonesiaan di rangkaian acara International Student Summit (ISS) 2019 yang diadakan oleh Kemenristekdikti, Mohamed Ali Galai Elfouly, mahasiswa lembaga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpilih sebagai Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) International Student Assosiation (ISA). Gelar Wapresma itu disandang Fouly, sapaan akrabnya, pada 3 November saat berlangsungnya pertemuan mahasiswa internasional di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Agenda ini merupakan ajang pertemuan tahunan mahasiswa asing yang tengah belajar budaya dan bahasa Indonesia. Fouly terpilih dalam konferensi pemilihan Presiden maupun Wakil Presiden mahasiswa internasional ISA. Selain Fouly, ada lima orang lagi yang mendaftar menjadi calon presiden mahasiswa. Mereka dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), bahkan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Adapun negara asalnya dari Thailand, Sudan, Mesir, hingga Korea. Di hari kedua konferensi, Hussein Gebreel Musa dari UMY asal Sudan yang akhirnya terpilih menjadi presiden mahasiswa ISA. Di kepengurusannya setahun ke depan, Fouly akan membuat website asosiasi mahasiswa internasional. “Kami ingin bisa berinteraksi dengan sesama mahasiswa asing yang tengah menempuh pendidikan Indonesia dengan mudah. Sehingga jika terjadi sesuatu mereka bisa menghubungi kami. Selain itu, bisa sebagai tempat untuk menyebarluaskan informasi tentang asosiasi ini,” ungkap Fouly, Rabu (7/11). Fouly telah memilih satu orang di tiap kota untuk menjadi koordinator. “Melalui website ini, nantinya saat kita (mahasiswa asing) telah pulang ke negaranya masing-masing, dan telah menduduki jabatan-jabatan penting di negaranya, perlu kita sebarluaskan informasi tentang mereka. Karena mereka pernah berproses bersama dan juga pernah menjadi bagian dari asosiasi ini, saat berkuliah di Indonesia,” pungkas Fouly. (riz/can)
Smart Tyrender Karya Mahasiswa UMM Sabet Bronze Medal di Jerman
Setelah meraih bronze medal dan Special Award of Association Polish Inventors and Rationalizers di Seoul International Invention Fair (SIIF) 2018 Korea Selatan, kali ini alat penurun temperatur ban mobil pengangkut barang Tyrender, inovasi teknologi besutan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Haryo Widya Darmawan, kembali menyabet prestasi gemilang bronze medal di iENA International Trade Fair Ideas Inventions New Products 2019 pada 31 Oktober – 3 November di Messe Nürnberg, Jerman. Tak sia-sia saat penilaian, karyanya mendapat pujian dari para juri yang berasal dari berbagai elemen, mulai dari para engineer hingga dunia industri. Smart Tyrender benar-benar dapat menghemat pengeluaran perusahaan terkait suku cadang dan periodik penggantian ban. “Beberapa pengusaha Jerman yang memiliki usaha pengangkutan barang di Indonesia tertarik dan ingin mendiskusikan karya saya lebih lanjut ke depan,” tutur mahasiswa asal Ujung Pandang ini saat diwawancarai via WhatsApp (5/11). Tyrender yang dipamerkan saat di Seoul International Invention Fair Korea Selatan juga menuai pujian dari berbagai kalangan. Perncapaiannya di Korea Selatan itu membawa Haryo lebih bersemangat mengikuti kontes yang lebih tinggi. Haryo menyempurnakan Tyrender dengan menambahkan fitur pembaca temperatur lingkungan. Dengan fitur tersebut, mahasiswa Teknik Mesin ini menyematkan kata “smart” pada gagasannya sehingga saat di Jerman, alat ini bertransformasi menjadi Smart Tyrender. “Smart Tyrender secara otomatis akan menyemprotkan air ketika temperatur ban melebihi ambang batas suhu maksimal. Dengan demikian, usia ban dapat berumur lebih lama. Smart Tyrender memiliki fitur unggul berupa penyesuaian kecepatan kendaraan, manajemen daya yang cerdas dan pasokan, bobot kendaraan serta perubahan iklim yang bekerja secara otomatis,” ungkap Haryo. iENA 2019 ini menjadi kali pertama Haryo menginjakkan kakinya di negeri seribu inovasi teknologi itu. Selama persiapan menuju iENA 2019 di Jerman, Haryo dibimbing langsung oleh Drs. Moh. Jufri, ST., MT. Bersamanya, Haryo mengaplikasikan berbagai fitur baru yang hendak diterapkan dalam Smart Tyrendernya. Haryo mengaku, penghargaan yang diperoleh harus dibayar dengan usaha yang gigih. Ia mengurangi waktu tidur demi mengulik lebih dalam Smart Tyrender besutannya. Kedisiplinan yang tinggi juga menjadi salah satu kunci bagi anak pasangan Agus Purwanto dan Dwi Astuti ini. (mir/can)
Peneliti Paramadina di UMM: Agama Tak Lebih dari Alat Politik di Pemilu 2019

Agama telah menjadi alat yang ampuh bagi para politisi. Selama tahun-tahun awal Reformasi, politisasi agama sering dikaitkan dengan partai-partai Islam, yang jelas berkampanye untuk agenda Islam seperti penerapan syariah. Sekarang, semua orang memainkan agama untuk politik. Politik identitas yang dimainkan oleh para Islamis mendorong politisi lain, umumnya dari latar belakang sekuler yang tidak tertarik pada masalah agama, untuk menggunakan alat yang sama untuk mengalahkan mereka. Pemilu 2019 adalah bukti paling jelas tentang bagaimana kelompok-kelompok sekuler nasionalis menggunakan agama untuk tujuan pemilihan mereka. Kedua kandidat presiden, Prabowo Subianto dan Joko “Jokowi” Widodo tidak berasal dari latar belakang Islam. Keduanya, untuk menggunakan istilah Gifford Geertz, masing-masing berasal dari keluarga priyayi dan abangan, dan keduanya menggunakan agama untuk tujuan politik mereka. Sementara Prabowo menggunakan kaum Islamis. Demikian disampaikan Luthfi Assyaukanie, Ph.D, dosen Universitas Paramadina saat memaparkan hasil penelitiannya di forum Seminar Nasional Diseminasi Hasil Riset Secular and Islamist Role in Indonesian Elections di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (5/11). Penelitian yang dilakukan dirinya bersama tim yang dilakukan selama dua tahun ini mengeksplorasi peran agama dalam politik Indonesia, khususnya dalam pemilu 2019. Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya turut hadir. Pada pemaparannya itu, Luthfi fokus pada bagaimana agama memainkan perannya dan bagaimana orang menggunakannya sebagai alat politik mereka. Setelah politik identitas dan kebangkitan populisme global, agama memiliki ruang yang luas untuk diekspresikan. “Pertanyaan sentral yang dibahas dalam artikel ini adalah siapa aktor utama dan bagaimana menangani masalah ini? Apa yang membuat politisasi agama yang baru berbeda dari fenomena yang sama di masa lalu?” ungkap Luthfi. Memotret hal yang sama, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Masdar Hilmy, M.A, Ph.D, yang turut menjadi panelis seminar sehari ini mengungkapkan bahwa gelombang politik identitas juga dapat disaksikan dengan bermuculannya aksi yang berjilid-jilid di Jakarta pada tahun 2017 lalu. Hal tersebut tentu saja bukan tanpa sebab. Menurutnya, elit-elit politik terdorong untuk merebut hati umat Islam Indonesia menggunakan kemasan agama dalam menawarkan dirinya sebagai pemimpin yang ideal. Di sisi lain, menurut Wakil Rektor I UMM Dr. Syamsul Arifin, M.Si., politik identitas sudah lama digaungkan dan digunakan para politisi untuk meraup suara. Cara ini adalah teknik lama yang sering digunakan untuk meraup suara yang berlimpah mengingat mayoritas rakyat Indonesia merupakan umat Islam. “Agama seharusnya sebagai pencerah. Bila tidak dipahami benar-benar akan mudah menjadi pribadi yang diperalat atas nama agama,” tandas Syamsul yang turut menjadi panelis. (mir/can)