Menko PMK Orasi di Wisuda UMM: Pendidikan Tinggi Penentu Kualitas Manusia Indonesia

Gelaran wisuda periode IV Tahun 2019 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dihadiri Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menko PMK RI) Prof. Dr. Muhadjir Effendi, M.AP, Sabtu (30/11). Muhadjir memberi orasi ilmiah di hadapan 1514 lulusan dari berbagai jenjang, yakni Program Pendidikan Doktor (S3), Program Pendidikan Magister (S2), Program Pendidikan Sarjana (S1), Program Pendidikan Diploma Tiga (D3), dan Program Pendidikan Profesi. Dalam kesempatan itu, Muhadjir secara khusus membahas fokus pemerintah Presiden Joko Widodo di periode kepemimpinannya yang kedua, terkhusus terkait amanah yang dibebankan kepada Muhadjir. Ia menegaskan hal yang menjadi tugas Kementerian yang dipimpinnya terdapat di antara 9 poin misi Presiden Indonesia 2019-2024. Yakni peningkatan kualitas manusia Indonesia, pembangunan yang merata dan berkeadilan, serta kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa. “Karena itu, indikator makro yang akan menjadi ukuran dari Kemenko PMK yaitu, pertama tentang memerangi kemiskinan. Kedua adalah peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, dan yang ketiga adalah memperkecil Indeks Gini Rasio (satuan untuk mengukur tingkat ketimpangan, red.),” demikian diungkapkan Muhadjir, tugasnya ini tidak bisa dikerjakan secara maksimal jika hanya dibebankan kepada satu pihak. Berbagai pihak termasuk perguran tinggi juga musti turut andil. Disebut Muhadjir, Rektor Kampus Putih UMM Periode 2000 hingga 2016 ini, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2019, kondisi ketenagakerjaan nasional tercatat sebanyak 2,55 juta angkatan kerja baru. “Sumber daya manusia angkatan kerja kita adalah 57,54% berpendidikan SD dan SMP sederajat, dan 30% pendidikan SMA/SMK sederajat. Sedangkan prosentasi angkatan kerja pendidikan Diploma, Sarjana dan S2 dan S3 hanya 12,4% saja,” sebut Muhadjir. Disebutnya, lulusan UMM yang saat ini diwisuda merupakan bagian dari 12,4% angkatan kerja yang sekarang ini akan siap memasuki dunia kerja. Adapun prosentase pengangguran terbuka saat ini adalah 5,28% atau 7,05%. “Jadi angka pengangguran terbuka kita cukup tinggi yaitu 7% lebih. Berdasarkan data tersebut dalam pendidikan ada dua hal yang menyebabkan terjadinya fenomena tersebut. Yakni masih terbatasnya akses dan rendahnya kualitas pendidikan tinggi kita,” tutur Muhadjir dalam orasinya. “Meski UMM saat ini sudah 12 tahun bertengger di puncak tertinggi untuk perguruan tinggi se-Jawa Timur. Tapi saya mohon untuk para pengelolanya tidak puas, harus terus mengejar ketertinggalan yang lain dan harus berada di depan. Kemudian yang lebih penting lagi adalah data ini menunjukkan bahwa pendidikan kita masih sangat perlu ditingkatkan dalam kaitannya dengan penguasaan sains teknologi engineering dan matematik atau yang biasa disebut STEM,” ungkap Muhadjir. Kehadiran Menteri Muhadjir juga sekaligus meninjau progres pembangunan unit bisnis baru milik UMM yakni Rayz Hotel Sengkaling. Seperti unit bisnis lainnya, Rayz Hotel Sengkaling sekaligus bakal dijadikan laboratorium terapan bagi civitas akademika Kampus Putih. Keberadaan Rayz Hotel Sengkaling menambah jumlah hotel yang dimiliki sebelumnya, yakni Kapal Garden Hotel di Taman Rekreasi Sengkaling UMM. Ditargetkan, pembangunan bakal rampung keseluruhan bulan Februari tahun depan. Ketua Badan Pembina Harian yang sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI) Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar, M.Sc mengingatkan, penyelenggaraan wisuda kali ini bertepatan dengan bulan lahirnya Muhammadiyah yang ke-107. Perjalanan Muhammadiyah tentu saja, selama 107 tahun ini, yang menjadi titik fokus perhatian adalah pembangunan sumberdaya manusia, sumber daya umat. Hal ini sejalan dengan upaya yang tengah diikhtiarkan Menko PMK RI. BaPada hakikatnya, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah telah menempatkan posisi pembangunan sumberdaya manusia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan umat dan bangsa. “Oleh karena itu, saya berpesan kepada wisudan dan wisudawati yang dikukuhkan kesarjanaannya, jangan lupa mengembangkan pembangunan sumberdaya manusia untuk menyongsong masa depan yang begitu dinamis dengan segala perubahannya,” pesan Malik. Dengan menukil salah satu ayat al Quran, Malik kembali berpesan untuk senantiasa mengembangkan pikiran-pikiran positif atau dalam bahasa Al Quran “khusnudzon”. “Itulah, modal yang sangat penting. Karena kalau kita mampu mengembangkan pikiran-pikiran positif, maka hidup kita menjadi produktif. Dan, Insya Allah, menjadi sehat wal ‘afiat dan selalu mengembangkan menabur kebajikan untuk kepentingan semua. Semoga gelar sarjana ini dapat melahirkan pikiran-pikiran lebih positif,” tandasnya. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan prestasi yang diperoleh UMM dalam kurun tiga bulan terakhir. Mulai September hingga November, ada 44 prestasi berbasis lomba yang telah diraih mahasiswa UMM. Enam jenis prestasi tingkat regional, 32 prestasi tingkat nasional, dan 6 prestasi tingkat internasional. Sementara secara institusional, berdasarkan penilaian Kemenristekdikti terhadap kinerja penelitian, UMM tetap bertahan dalam klaster Mandiri. Begitupula kinerja dalam pengabdian kepada masyarakat, UMM berada dalam klaster Unggul. Selain penyelenggaraan wisuda yang ke-94 kalinya ini, sebelumnya pada tanggal 26 November 2019 Fakultas Teknik (FT) telah mengukuhkan 7 orang lulusan Insinyur (Ir.). Serta, pada 23 Oktober 2019 Fakultas Kedokteran (FK) telah melaksanakan Pelantikan dan Sumpah Dokter kepada 68 orang Sarjana Kedokteran (S.Ked.) sebagai dokter (dr.). Sementara itu, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) juga telah meluluskan 872 orang dari Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai Guru (Gr.).(can/geng)
Sophia Mega Ajak Generasi Milenial Kenali Potensi Diri

Jadi influencer, youtuber atau admin media sosial barangkali jadi profesi yang kian digemari di era digital. Bagaimana tidak, beberapa profesi yang memanfaatkan platform digital ini tak perlu khawatir dengan tekanan dan terikat jam kerja. Generasi milenial, seperti halnya Sophia Mega Sabila, barangkali salah seorang anak muda tekun nan ulet yang mampumemanfaatkan berbagai kecanggihan platform digital seperti video blog (Vlog), Instagram, Twitter, atau YouTube untuk menjalankan profesi plus hobinya. Dara lulusan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini dikenal, jika tak berlebihan, sebagai salah satu influencer yang cukup diperhitungkan. Mega, sapaan akrabnya, punya sejumlah saluran khusus untuk menyuarakan kegelisahan, minat dan hasil pembelajarannya selama menempuh perkuliahan di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. Hari ini, Sabtu (30/11), Mega duduk dideretan kursi istimewa bersama dengan lulusan terbaik lainnya dengan raihan indeks kumulatif (IPK) 3,85. Selain aktif di dunia digital, ia juga aktif sebagai pegiat gerakan literasi non-daring. Hal itu berawal dari dirinya yang tak mengerti memilih dan memilah buku yang seharusnya dibaca untuk menggali pengetahuan. Namun, semenjak Mega aktif menjadi Booktuber (saluran reviewer buku di Youtube), ia sering bertemu orang-orang yang gemar pula membaca dan mengulas buku. “Merekalah yang memberi tahu aku buku mana yang direkomendasikan untuk dibaca dan mana yang tidak,” ungkapnya. Mega aktif menulis di beberapa platform media, terutama buku kompilasi. Awal tahun 2019 ia menelurkan karya anyar pribadinya yaitu “Lo Ngerti Siapa Gue: Membangun Personal Branding melalui Media Sosial Tanpa Perlu Jadi Selebgram”. Mega mengajak untuk mengenal diri. “Aku nangkap fenomena, banyak anak setelah lulus nggak semuanya tahu dia harus ngapain,” jelasnya. Padahal, sambung pemilik akun @personadiri ini, setiap orang sebenarnya bisa menemukan potensi pada dirinya. Selain itu, di buku setebal 159 halaman itu juga turut menjelaskan tentang media sosial bukan tentang seberapa banyak follower atau menjadi selebgram. Meskipun pada kenyataannya pikiran untuk menjadi yang terbanyak pengikutnya selalu muncul. Namun, ada alternatif lain dalam menggunakan media sosial, yaitu menciptakan personal branding yang memberi manfaat dalam kehidupan kita. Dengan menyadari hal tersebut, kita bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu dituntut untuk menjadi orang lain. Mega mengaku merasa lebih nyaman untuk berkegiatan di luar seperti membuat media sendiri, ikut event ataupun mencari pengalaman kerja. Ketika ditanya tentang bagaimana menyeimbangkan kegiatan di luar kampus dan kewajiban akademik, ia mengaku menyiasatinya dengan mengerjakan berbagai kewajiban tugas kampus dengan baik. “Ditambah aktif memperluas wawasan dan banyak baca di luar dari bahan bacaan yang diwajibkan di kelas,” kata alumni Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang ini. Menurut pendiri kanal kapankamunikah.com ini, ketika memilih aktif di luar kampus diperlukan konsistensi yang bagus. “Dilurusin niatnya, sering banget anak yang berkegiatan banyak di luar itu menegasikan kuliah,” ujarnya. Padahal, lanjutnya, kuliah itu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, melalui kuliah juga sebenarnya dapat menjadi akses memperluas jaringan hingga ilmu-ilmu baru. Intinya menurut Mega, kuliah harus diniatkan demi mempersiapkan bekal hidup di masa mendatang. Mega memang merupakan salah satu mahasiswa berprestasi kepunyaan Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. Ia beberapa kali mendapatkan juara pertama di berbagai ajang lomba Public Relations tingkat nasional. Salah satunya di bulan Oktober 2017, yakni lomba Marketing Public Relations yang digelar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). “Dari awal aku kuliah, aku sudah memutuskan kalau tempatku bukan di dalam kampus,” ungkap putri dari pasangan bapak Syamsul Arifin dan ibu Nur Hasanah ini. (mir/can)
Cinta Al Quran, Hafidzah Ini Sabet Gelar Wisudawan Terbaik

Menyeimbangkan sisi akademis dan spiritualitas merupakan hal yang tidak mudah, khususnya bagi kalangan remaja. Namun tidak bagi Dewi Nur Diana, mahasiswa Fakultas Ilmu Agama Islam Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Periode IV Tahun 2019 ini berhasil membuktikan bahwa kedua hal tersebut bisa berjalan beriringan. Selain meraih IPK nyaris sempurna 3.97, Diana, demikian panggilan akrabnya juga berhasil menghafal 30 juz Al Qur’an. Hafidzah putri dari bapak Aimadudin dan ibu Mukhlisah ini juga telah mengikuti berbagai perlombaan dalam bidang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Ia pun meraih beberapa prestasi, salah satunya Juara I dalam Festival Al-Qur’an Perguruan Tinggi Muhammadiyah – Aisyiyah Tingkat Nasional. Menurut Diana, mengikuti perlombaan sejenis MTQ menjadi salah satu resep untuk menjaga hafalannya. “Selain itu, setiap harinya muroja’ah setengah juz setelah shalat subuh dan shalat magrib. Sebulan sekali saya juga ikut kegiatan sema’an yang ada di Kota Malang dan muroja’ah di UKM MTQ,”. Kecintaan Diana pada Al Quran diakuinya tidak muncul begitu saja. Kisah ini bermula saat dirinya berusia 12 tahun dan mulai bersekolah di pesantren tahfidz SMP IT Ibnu Abbas Klaten, Jawa Tengah. Sang ayah menginginkan putri ke tiga dari lima bersaudara ini, menjadi penghafal Al-Quran. Namun sayang, Diana tidak memiliki ketertarikan yang sama. “Sebelumnya saya hanya ingin masuk pesantren saja, tidak ada keinginan untuk menghafal. Akan tetapi, karena disana diwajibkan untuk menghafal, akhirnya saya memaksa diri. Ternyata enjoy dan mampu menyelesaikan hingga akhir,” tutur Diana. Tidak sedikit bagi para penghafal Al-qur’an merasakan sulitnya berkomitmen untuk menjaga hafalan. Hal ini juga diakui Diana. Menurutnya,menjaga hafalan, tidak bisa hanya sesekali saja tanpa diulang-ulang. Semua juga harus diamalkan. Selain itu, manajemen waktu dan kemampuan menyeimbangkan ritme aktivitas sehari-hari juga menjadi kunci, agar aspek lain seperti dunia akademik misalnya, tidak terbengkalai. “Berbagai cara harus dilakukan,” tambah Diana yang juga kerap diminta menjadi juri dalam berbagai perlombaan tahfidz. Usai menyelesaikan studi strata 1, Diana berharap bisa segera meneruskan ke jenjang Strata 2 Jurusan Keguruan Bahasa Arab. Ia juga ingin ilmu yang dimilikinya segera dapat diamalkan segera dengan maksimal. Kelak suatu hari, ia pun berkeinginan untuk menjadi Direktur Sebuah Pondok Tahfidz. “Setidaknya jadi istri direktur pondok. Punya yayasan, lalu mengembangkannya seperti Ayah. Ayah sendiri mengelola Yayasan Rahmatan lil Alamin, dari PAUD IT, TK IT, sama SD IT Cinta Islam. Saya sekarang sevisi sama ayah, kalau di dalam Al Quran, ini jalanku untuk menyeru kepada Allah. Terutama ketika melihat lingkungan rumah. Saya dan ayah ingin mendidik lingkungan sekitar kami dengan Al Quran,” pungkasnya. (bel/can/sil)
Sabet 2 Gelar, Mahasiswa UMM Dominasi Kemenangan di Ajang Debat Nasional

Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) English Debating Society International Language Forum (EDS ILF) kembali memborong dua piala sekaligus pada ajang National Debate Competition (NASTEC) season 1 yang diadakan di Aula Pertamina Politeknik Negeri Malang tanggal 23-24 November lalu. Delegasi dari UMM mendelegasikan 3 tim yakni, Tim A “Money Oriented” Erfan Kriwanto (FPP) dan M. Ilham dan Zulfiany Madjid (FKIP); Tim B Ghozi Mubarok (FISIP) Lucke Kharimah (FISIP), dan Shelvi Annisa (FEB); dan Tim C “Boon” Wijil Danu Baskoro(FT), Nina Nurazizah (FPP) dan Annisa’ Taqiyyatul Azizah (FAPSI). “Persiapan kami hanya satu minggu berlatih di ruangan sekretariat ILF secara non-stop,” ujar Wijil Lomba debat Bahasa Indonesia yang mengusung tema besar “Dinamika Akuntan di Era Cyberaccounting” menerapkan sistem gugur dari mulai babak prelim, oktofinal, quarterfinal sampai ke semifinal. Dengan mengakumulasikan skor dari 3 penilaian, yakni cara penyampaian (method), gaya bicara (manner) dan bobot materi yang disampaikan (matter). Dan aturan lawan diterima secara acak sesuai perolehan skor. Dari setiap babak yang dilewati, peserta mendapat judul atau biasa disebut mosi yang menjadi topik utama perlombaan dengan pro dan kontra terhadap mosi. “Dari setiap mosi yang terlewat, menurut saya Kriptokurensi atau biasa yang disebut BIT Coin yang paling susah. Karena dalam menyampaikan materi setidaknya kita sudah harus riset terlebih dahulu. Tapi, alhamdulillah, kami mendapat tim kontra dan menang ke babak selanjutnya,” tambah Wijil. Dua tim dari UMM sukses melaju pada babak semifinal dan berhasil mendapatkan Juara Runner Up dan Juara 3. Pada perebutan juara 3, Tim B dan C sempat ditandingkan bersama dalam satu mosi, sampai pada akhirnya Tim B yang berhasil maju ke babak Final, dan Tim C harus rela mendapat Juara 3. Sedangkan tim C harus gugur pada babak Oktofinal. EDS ILF memang sering mengikuti berbagai ajang perlombaan Debat Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia, selain perlombaan ini, beberapa prestasi gemilang didapat, diantaranya pernah menyabet Juara 1 pada YEEC STPP tahun 2018, dan mendapat Runner Up pada ajang English Debate Competition di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Maret lalu. (yas/can)
Sisihkan UGM, Kopma UMM Sabet Piala Tetap Gubernur Banten

Delegasi dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa (Kopma) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih piala tetap Gubernur Provinsi Banten setelah menjadi juara umum dalam Student Cooperative Fair 2019 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 7 hingga 9 November 2019 ini diselenggarakan berbagai kategori lomba, yaitu business plan, olimpiade, dan penulisan esai. UMM beradu dalam kategori olimpiade dan esai dengan 5 delegasi Kopma lainnya di seluruh Indonesia. Di kategori olimpiade, Kopma UMM menurunkan satu tim. Mereka adalah Miftah Firdaus, Renna Indah, dan Fina Andani. Persiapan dilakukan hingga satu bulan, mulai dari belajar mengenai koperasi, hingga riset mengenai koperasi di Kota Malang. Di babak final, mereka mengalahkan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dengan argumennya mengenai Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menindak kecurangan yang terjadi pada bank simpan pinjam di Depok. “Kami sangat menyayangkan, mengapa yang menemukan kasus ini OJK, bukan Koperasi itu sendiri. Jika dilihat, praktik ini dapat menyebabkan citra buruk peran koperasi sendiri. Solusinya, koperasi juga harus bekerjasama dengan lembaga keuangan, sehingga dapat memantau jalannya,” sebut Miftah mahasiswa Program Studi Manajemen saat diwawancarai, Senin (25/11). Pada kategori esai, Ida Firdiana yang juga perwakilan dari Kopma UMM mengangkat judul “Pengabdian Kepada Masyarakat sebagai Bentuk Implementasi Pendidikan Anggota Koperasi Mahasiswa dalam Upaya Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0”. Yakni tentang pentingnya mahasiswa melakukan pengabdian kepada masyarakat berbasis koperasi melalui teknologi. “Peran manusia sebagai tenaga kerja sering kali dapat tergantikan dengan canggihnya teknologi. Sehingga kita perlu meningkatkan kualitas kinerja manusia yakni harus dapat bekerja dan beradaptasi dengan teknologi. Untuk itu, mahasiswa bisa bersama-sama memberikan pendidikan koperasi yang berbasis teknologi kepada masyarakat desa,” sebut Ida. Dalam risetnya, Ida melihat permasalahan koperasi di Indonesia khususnya masyarakat desa yang terbatas dalam mengakses pendidikan perkoperasian. Padahal menurutnya, koperasi seharusnya dapat mengentaskan permasalahan ekonomi di kalangan masyarakat desa akibat ketidaksiapan dalam menghadapi revolusi industri 4.0. “Oleh karenanya, perlu adanya pengoptimalisasian sistem pendidikan pada anggota koperasi. Bisa dilakukan dengan pelatihan dan praktik langsung ke lapangan, yaitu dengan melakukan pengabdian,” terang Ida mahasiswa Program Studi Agribisnis. Ide itu meraih juara II dalam kategori esai. Kedepannya, Kopma UMM berencana untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat desa. Harapannya, anggota Kopma dikemudian hari tidak hanya sekedar mengetahui mengenai kewirausahaan ataupun koperasi, tetapi juga dapat berbagi dan siap terjun kepada masyarakat desa, khususnya dalam membangun ekonomi. (bel/can)
Seminar Nasional FH UMM: Bahas Advokat dan Contempt of Court dalam RUU KUHP

Permasalahan hukum yang terkait dengan penghinaan yang ditujukan kepada lembaga peradilan selalu menjadi perhatian masyarakat hukum Indonesia. Walaupun pada umumnya sepakat bahwa setiap orang, lembaga dan profesi selalu menuntut adanya perlindungan hukum terhadap kehormatan dan nama baiknya. Demikian disampaikan Dr. Mudzakkir, S.H., M.H, dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia. “Namun demikian dalam praktek penegakan hukumnya acapkali menimbulkan masalah hukum mengenai interpretasi hukum terkait dengan apakah perbuatan tersebut termasuk sebagai perbuatan penghinaan terhadap pengadilan,” sambung Mudzakkir dalam Seminar Nasional: “Advokat dan Contempt of Court dalam RUU KUHP” (26/11) yang diselenggarakan FH UMM dan Perhimpunan Advokat Indonesia Cabang Malang. Dilanjutkan Mudzakkir di hadapan ratusan mahasiswa dan praktisi hukum bahwa permasalahan hukumnya akan menjadi lebih menarik lagi ketika pengadilan, dalam hal ini dijalankan oleh hakim, menilai seseorang telah melakukan contempt of court yang salah satu bentuk tindak pidananya mirip dengan penghinaan atau pencemaran nama baik dan meminta kepada aparat penegak hukum/polisi untuk melakukan penyidikan. “Tema Contempt Of Court (COC) yang menjadi topik bahasan dalam seminar hari ini sangat relevan agar rumusan norma hukum pidana mengenai COC menjadi jelas dan tegas serta mudah untuk ditegakkan serta tidak menjadi “pasal karet” yang disebabkan oleh sikap aparat penegak hukum dan hakim atau pengadilan yang secara langsung atau tidak langsung menjadi korban dari tindak pidana COC tersebut,” tukasnya. Sementara, Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Timur dan pengajar Universitas Nasional Jakarta Dr. H. Herri Swantoro, SH, MH menegaskan bahwa sebagai lembaga penegakan hukum yang memberikan keadilan kepada para pihak yang berperkara melalui putusan hakim, maka peradilan meliputi lembaganya, proses atau mekanisme, maupun para hakim yang memeriksa dan memutus perkara, haruslah dihormati. Segala bentuk tindakan atau perbuatan yang pada prinsipnya merupakan bentuk tidak hormat maupun pelecehan terhadap peradilan (contempt of court) harus diberikan sanksi. “Penghinaan terhadap peradilan bukan lagi semata tindakan verbal di pengadilan, melainkan sudah mengarah pada aksi kekerasan di dalam ruang sidang,” ungkap Herri dalam seminar yang turut dihadiri Wakil Rektor III UMM, Sidik Sunaryo. Lebih jauh Herri berpendapat, sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap pelaku criminal contempt adalah sanksi yang bersifat menghukum (punitive). “Di negara‐negara common law, pelaku dapat dijatuhi pidana denda atau pidana penjara. Tujuan dari pemidanaan pelaku criminal contempt adalah untuk membuat pelaku jera dan membuat orang lain tidak melakukan perbuatan yang sama,” ungkap Herri di Mini Teater UMM. Dilanjutkan Herri, pentingnya pemidanaan terhadap pelaku criminal contempt adalah untuk melindungi kekuasaan peradilan dan martabat pengadilan, yang dalam hal ini meliputi negara, pemerintah, pengadilan dan masyarakat berkepentingan terhadap terselenggaranya peradilan yang seharusnya. Dalam literatur‐literatur common law, criminal contempt secara singkat sering disebut sebagai ʺoffences against the administration of justiceʺ. Turut hadir panelis lainnya H. Arsul Sani, S.H., M.Si, selaku wakil ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dan Wakil Rektor III UMM Sidik Sunaryo juga turut sebagai panelis. Selain pemaparan para panelis seputar materi Advokat dan Contempt of Court dalam RUU KUHP, hadir sebagai pembicara kunci yakni Prof. Dr. Otto Hasibuan, S.H., M.M. selaku Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Nasional Peradi. (mir/can)
Komparasi Isu Sosial, Kesos UMM Berangkatkan Mahasiswa Visiting Study ke Malaysia

Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali akan menguatkan kerjasama dalam bentuk visiting study 2-7 Desember mendatang. Agenda ini menindaklanjuti Letter of Intent (LoI) dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Kegiatan ini juga merupakan balasan dari visiting study mahasiswa UKM tahun 2018 lalu. Sejumlah 12 mahasiswa Kesos yang terdiri dari mahasiswa semester 1, 3, dan 5, serta 2 dosen pendamping telah mempersiapkan diri dalam riset mengenai isu-isu sosial yang terjadi di Indonesia. Riset ini dipergunakan dalam program utama visiting study, yaitu mini conference berupa presentasi yang akan dilaksanakan bersama mahasiswa Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan (FSSK) UKM. “Risetnya dari isu yang ada di Indonesia dan berbasis penugasan mata kuliah yang kemudian diseriusi dalam proses persiapan visit. Untuk isu yang akan kita angkat di antaranya isu mengenai disabilitas, anak jalanan dan pekerja migran,” sebut Hutri Agustino, S.Sos., M.Si selaku dosen pendamping, Selasa (26/11). Menurut Hutri, ketiga isu tersebut sangat relevan dengan isu SDGs atau Sustainable Development Goals yang merupakan agenda global. Tidak hanya itu, lanjutnya, ketiga isu tersebut relevan dengan konsentrasi studi Kesos dalam persoalan-persoalan sosial mikro, mezzo dan makro. “Luaran yang diharapkan, mahasiswa dapat melakukan komperatif study, sehingga dapat mengetahui bagaimana pelayanan, penanganan persoalan-persoalan sosial mikro, mezzo dan makro di Indonesia maupun di Malaysia,” lanjut Hutri. Dalam visiting study tersebut terdapat program-program lainnya, yaitu Joint in Class Course Work, di mana para mahasiswa UMM masuk dan mengikuti kelas-kelas di FSSK UKM. Kemudian dilanjut kunjungan ke Institut Sosial Malaysia dan badan diklat Kementerian Sosial Malaysia yang merupakan bentuk kunjungan balasan untuk menjajaki kemungkinan dalam melakukan research maupun pelatihan-pelatihan. Selain visiting study, pihak Kesos UMM juga mengupayakan program pengiriman dosen untuk study lanjut, visiting professor, ikut serta dalam penerbitan jurnal ilmiah, serta research collaboration yang akan dilakukan bersama UKM. sejumlah skema kerjasama ini akan segera ditindaklanjuti dalam waktu dekat. (bel/can)
PT INKA Buka Kerjasama dengan Prodi HI UMM

Upaya mengintegrasikan keilmuan di dunia kampus dengan kebutuhan praktis di dunia industri terus dilakukan oleh Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM. Salah satunya melalui kunjungan industri ke PT. Industri Kereta Api (INKA) di Madiun (19/11). Sebanyak 58 mahasiswa HI dan 3 dosen berkesempatan memahami sistem manajemen dan perkembangan ekspansi bisnis industri kereta api nasional itu. Humas PT.INKA Dewanta Prayoga menyampaikan bahwa selama ini PT. INKA masih sangat lekat dengan pandangan yang sangat teknikal. Padahal, tambahnya, PT. INKA sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan dari ilmuwan sosial dan politik, terutama dalam hal strategi penjajakan dan membangun kerja sama berkelanjutan dalam pemasaran kereta api ke seluruh dunia. “Kami membutuhkan ilmuwan sosial dan politik, yang dapat memiliki peran sebagai analis pasar negara tujuan, seperti melihat perkembangan ekonominya, potensi ekonomi, pasar, serta persaingan dengan kompetitor,” tandasnya. Sementara itu, Staf Bagian Sumber Daya Manusia PT. INKA Rangga Sukmantara memberi pemaparan berkaitan dengan sistem manajemen PT. INKA serta bagaimana relasi aktivitas industri PT. INKA dengan Hubungan Internasional. “PT. INKA banyak melakukan kerjasama dengan negara dan perusahaan luar negeri. Saat ini, PT INKA menjajaki kerjasama dengan negara Nigeria, Zimbabwe, dan Mesir dalam pengadaan transportasi berbasis rel,” ungkapnya. Lebih lanjut, pihaknya membuka peluang bagi penjajakan kerjasama dengan Prodi HI UMM. Pihak PT. INKA bahkan mengaku bersedia untuk memberikan perkuliahan sebagai dosen tamu untuk mata kuliah di Prodi HI UMM, seperti Bisnis Internasional, Diplomasi, dan kajian kawasan. Selain itu, PT. INKA membuka peluang untuk magang bersertifikat bagi mahasiswa selama 6 bulan. Pada kesempatan itu, rombongan Prodi HI UMM juga memperoleh kesempatan tur industri mengelilingi halaman PT INKA sambil melihat proses produksi beberapa lokomotif, kereta, dan gerbong pesanan dalam dan luar negeri seperti milik Bangladesh, serta pesanan dari Philippine National Railways. Dosen Prodi HI Haryo Prasodjo, MA selaku ketua rombongan menyampaikan bahwa kunjungan industri ke PT. INKA ini memberikan perspektif baru bagi mahasiswa HI bahwa kereta api bukan sekadar moda transportasi. Namun,kajian tentang kereta api juga memiliki relevansi dengan kajian Hubungan Internasional kontemporer. Menurutnya, kunjungan industri ini perlu ditindaklanjuti dalam bentuk kerja sama untuk pengembangan atmosfer akademik di Prodi HI UMM. (hry/can)
Sisihkan Ratusan Pesaing, Mahasiswa UMM Raih Gold Medal di Singapura

PERTANIAN tak lagi harus dikelola secara manual. Pengembangan sektor pertanian ternyata bisa mengikuti perkembangan zaman yang serba digital. Pemikiran semacam itulah yang akhirnya membawa sekelompok mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mendapatkan medali emas (Gold Medal) pada ajang Advanced Innovation Global Competition (AIGC) di Nanyang Tecnological University, Singapura, Minggu 17 November 2019 lalu. Adalah Faza Abdurrahman Fiddin, Siti Agus Tina, Zellin Maylinda Rizky Islami, Anisa Nur Utami, dan Nikmatul Rizky Isroikha yang dibimbing Erfan Dani mampu bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai negara untuk menciptakan Integrated Electrical Accelerator Plant Growth With Led Cultivation And Indigenous Microbial Fertilizers Controlled Irrigation System On Smart Farming Technology. Inovasi teranyar di bidang pertanian ini diprediksi akan menjadi model pertanian modern di masa depan. Prospek pengembangan pertanian semakin terbuka lebar dengan terus meningkatnya kebutuhan pangan dunia. Namun, di sisi lain, terjadi pengurangan ketersediaan pangan yang berkualitas dan bersih dari bahan kimia sebagai bahan pangan yang baik bagi kesehatan. Penerapan inovasi ini dapat digunakan dalam pertanian skala besar maupun kecil, sehingga harapanya dengan ide ini, pertanian Indonesia mampu menyediakan bahan pangan sehat dan dapat menjaga ketahanan pangan. Baca juga: Puluhan Mahasiswa Asing Belajar Teknik Membatik ala Jepang di UMM Faza, salah satu anggota kelompok mengungkapkan, prototipe alat yang dibuat menggunakan media tanam cocopeat dan sebuah alat yang terbuat dari akrilik yang menambah kesan futuristik dalam ruangan atau rumah. Sistem pengairannya menggunakan metode irigasi tetes. ”Yang dapat dikontrol melalui smartphone merupakan iklim mikro tanaman. Mulai dari kelembaban dan temperatur sekitar tanaman, kebutuhan air, hingga intensitas cahaya,” ungkap Faza (20/11). Faza meyakini, teknik ini akan menjadi gaya hidup baru masyarakat urban, setelah sebelumnya banyak yang mulai bertanam tanpa tanah dengan cara hidroponik. Melalui inovasi itu, bercocok tanam akan lebih mudah, menyenangkan, efisien waktu, tidak memerlukan pekarangan, serta akan mendapatkan pangan organik yang sehat, karena bebas hama, pestisida, dan pupuk kimia. ”Meski sedang bepergian, dapat tetap memantau pertumbuhan tanaman dari jarak jauh melalui gawai di tangan,” katanya. ”Ke depannya alat ini dapat membantu masyarakat urban untuk menyediakan makanan organik di rumahnya. Dengan aktivitas tinggi masyarakat urban, mereka tetap dapat bertani hanya dengan mengontrol menggunakan smartphone mereka,” ujar Faza. Bahkan, lanjut Faza, alat ini juga mampu mempercepat pertumbuhan tanaman menggunakan medan elektromagnetik dan bakteri sebagai pupuk penyedia nutrisi tanaman. Inovasi inilah yang pada akhirnya banyak dilirik sejumlah kalangan. Baca juga: Cerita Lulusan UMM yang Jadi Dokter di Usia 20 Tahun Diterangkan mahasiswa program studi Agroteknologi semester tujuh ini, dibuatnya teknologi ini untuk membuktikan bahwa pertanian dapat diterapkan berbasis teknologi industri 4.0 yang dituntut untuk digitalisasi semua bidang. Selain itu, lanjutnya, untuk menyediakan bahan pangan segar organik dengan pertumbuhan yang cepat. Pasalnya, jika pertanian manual, menanam sayur, misalnya, akan memerlukan waktu sekitar 21 hari untuk panen. Hanya dengan alat ini, panen bisa dilakukan pada 12-14 hari. Ditanya lebih jauh soal kemungkinan bakal diproduksi masal alat inovatif temuan mahasiswa UMM ini, mereka mengaku optimis. ”Produksi massal tentu bisa. Kendala untuk pemasaran adalah akan bersaing dengan produk pertanian tradisional dan pemahaman keunggulan dari alat ini serta hasil dari produknya. Biaya yang diperlukan untuk membuatnya sekitar Rp 500 ribu untuk satu alat,” tambah Faza yang juga aktif di lembaga penalaran setingkat fakultas, lembaga semi otonom Hipotesa FPP UMM. Dikatakan pembimbing tim, persiapan yang mencakup perancangan alat, pembuatan desain, pembuatan power point untuk presentasi, serta poster dan brosur exhibition, selain itu juga koordinasi tim, pembagian job description, dan pembagian managerial yang baik dalam satu tim ini merupakan kunci keberhasilan tim yang menamakan diri Elli ini. Tidak hanya itu, Erfan berharap bahwa mahasiswa UMM terkhusus tidak perlu takut untuk mengembangkan diri dengan mengikuti perlombaan internasional. (*Can)
Fakultas Psikologi UMM, Berikan Materi Psikodukasi Bagi Mahasiswa Baru

Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) mengadakan kegiatan Psikoedukasi Karir yang diadakan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 oleh mahasiswa semester 5 kelas A angkatan 2017, dalam rangka memenuhi mata kulah pengembangan diri dan karir pada minggu 10 November lalu. Dikoordinir dari ketua tingkat masing-masing kelas, peserta yang ikut merupakan hasil dari screening. Dengan materi satu yang disampaikan Danella Victoria Putri Hastikatentang mengembangkan potensi diri “ bagi mahasiswa yang sudah terlanjur berkecimpung di jurusan yang tidak mereka sukai, pasti ada kelebihan dibidang lain yang menonjol” jelas Danella. Dilanjutkan materi 2 tentang pengenalan profesi oleh Alfian Wahyu Pangestu, “ didalam era 4.0 pastinya kita harus sering menambah wawasan dan pengetahuan yang luas mengenai karir-karir yang bisa didapatkan” tambah Alfian. Selain itu, para peserta diajak untuk membentuk group discussionmembentuk5 kelompok, masing-masing 6-8 orangdimana pada masing-masing grup di dampingi oleh para fasilitatoryang juga merupakan anggota kelompok. Pada tahap ini, para peserta dipersilahkan untuk memberikan atau mengajukan pertanyaan terkait materi yang sudah disampaikan selama 30 menit Tujuan dan manfaat dari kegiatan ini adalah mengedukasi para generasi muda dengan memberikan pengetahuan serta pemahaman mengenai pengembangan potensi dir, mampu memahami secara kognitif mengenai bagaimana mengembangkan potensi diri dan pemahaman salah jurusan, agar nantinya mampu menghasilkan berbagai pemikiran yang solutif dan inovatif terkait permasalahan yang menjadi latar belakang dalam kegiatan ini. Serta penting dilakukan untuk memberikan keyakinan pada mahasiwa baru yang merasa salah jurusanagar mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk menjadi bekal dalam meniti karier nantinya, serta mengetahui karier-karier yang saat ini sedang berkembang agar tidak stuckdengan pemikiran salah jurusan dan bingung saat dihadapkan oleh banyaknya pilihan karier setelah lulus dari UMM nanti.Fakultas Psikologi Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) mengadakan kegiatan Psikoedukasi Karir yang diadakan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 oleh mahasiswa semester 5 kelas A angkatan 2017, dalam rangka memenuhi mata kulah pengembangan diri dan karir pada minggu 10 November lalu. (yas)