Dies Natalis 55 Tahun UMM: Gelar Turnamen Golf Profesional, Berhadiah Fortuner hingga Harley Davidson

Dies Natalis ke-55 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dirayakan dengan tak biasa. Pasalnya di peringatan hari jadi Kampus Putih lebih dari setengah abad ini, dihelat Turnamen Golf Profesional (26/10). Diikuti 150 peserta dari berbagai latar belakang, gelaran bergengsi ini diselenggarakan di Araya Golf Club, Malang. Terdapat 10 kategori yang diperlombakan. Mulai dari Overall Best Gross,Overall Best Net, hingga kategori keterampilan. Hadiah yang disediakan juga tak tanggung-tanggung, yakni dengan total hadiah 1,5 Milyar. Hadiah bagi yang berhasil Hole in One berkesempatan mendapat mobil Fortuner hingga Harley Davidson. Selain mobil Fortuner yang akhirnya dimenangkan Hadi Sukrianto, hadiah makin semarak dengan adanya mobil Toyota Yaris. Selain juga disediakan banyak grandprize 5 Sepeda Motor, 2 LED TV dan 5 Sepeda Gunung. Sedang doorprize  alat elektronik. Berbagai hadiah ini dipersembahkan oleh para sponsor dan para pihak yang berkontribusi mensukseskan acara perdana ini. “Kami meminta doa restu, mudah-mudahan usia 55 tahun UMM bukan usia yang tua tetapi usia yang terbilang balita. Kami tidak hanya ingin hidup seratus tahun lagi, tetapi kami ingin hidup seribu tahun lagi,” ungkap Rektor UMM Dr Fauzan MPd sambutannya. Agenda ini dimulai ditandai dengan pemukulan bola asap oleh Rektor Fauzan, didampingi Wakil Rektor II, Dr Nazaruddin Malik MSi. Selanjutnya Rektor Fauzan juga mengapresiasi semua pihak yang turut andil mensukseskan even sehari ini. Mereka yakni Bank BNI, Bank Jatim, Gunung Kawi, Bank Mandiri, Esa Unggul, MNC Asset, Sudimoro, Gading Murni, Bank BCA,  Bank Syariah Mandiri, Willys, Karya Intan Sejati, Panca Utama, Telkom, dan Nurjaya Variasi. Lebih jauh, diselenggarakannya event yang anggapannya hanya milik kalangan atas ini juga bertujuan mendekatkan olahraga Golf dengan masyarakat. Selain tentunya lebih mendekatkan Kampus Putih dengan semua pihak atau stakeholder yang punya andil membesarkan dan berkontribusi positif kepada nama besar Kampus Putih, UMM. Selain turnamen golf profesional, rangkaian Dies Natalis juga diisi dengan kegiatan akademik dan penalaran. Seperti penggiatan lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Puncaknya, ada malam resepsi Dies Natalis 55 tahun UMM yang bakal menghadirkan deretan artis ibu kota dengan kemasan instrumen kolosal di akhir November 2019 mendatang. (*)

Satu-satunya Perwakilan Swasta, UMM Targetkan Juara Bertahan di KJI dan KBGI Jakarta

SETELAH berjaya di gelaran Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) di Politeknik Negeri Ujung Pandang tahun 2018 yakni dengan masing-masing mendapat juara 1 dan juara 3, Surya Team Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siap unjuk gigi dan menargetkan dominasi kemenangan di KJI dan KBGI XI tahun 2019 di Politeknik Negeri Jakarta. Perebutan Piala Reka Cipta Griya Indonesia dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti RI tahun ini nampaknya, bakal berjalan cukup kompetitif. Empat tim di bawah bimbingan Ir. Moh. Abdul, ST., MT., IPM selaku pembina berhasil lolos di partai final 10 besar, mengalahkan saingan perguruan tinggi (PT) lain se-indonesia. UMM menjadi satu-satunya perwakilan PT Swasta. Keempat tim yakni Gajendra, Maheswara Team, Great Apollo, dan Dandelion Diamond yang proposalnya berhasil lolos bersaing dengan 50 proposal lainnya. Sepuluh finalis akan presentasi proposalnya di Jakarta. “Hanya UMM yang menjadi kampus swasta yang berhasil lolos, bersanding dengan perguruan tinggi negeri seperti ITS, ITB, UB, Politeknik Negeri Bandung, UI dan PTN lain di Indonesia.” tambah Abdul. “Kegiatan ini sangat dibanggakan oleh Rektor, juga kesempatan yang baik untuk menorehkan prestasi kembali dan dapat menjembatani ilmu yang didapat dengan konsentrasi akademis yang memang kalian tempuh. Dalam ajang ini juga dapat membentuk nama baik kalian sebagai finalis dan fakultas teknik,” ujar Dr. Ir. Samin, MT. selaku Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM dalam sambutannya di hadapan finalis. Di tahun 2014, UMM merupakan tuan rumah penyelenggaraan KJI yang ke-10 dan KBGI yang ke-6. Sejak pertama kali diselenggarakan, keduanya selalu diadakan di kampus negeri. UMM menjadi tuan rumah pertama dari kalangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Di ajang itu, tak sekedar menjadi tuan rumah, UMM berhasil menggeser dominasi kemenangan perguruan tinggi negeri seperti ITS, ITB, dan PTN lainnya. Para finalis juga mempertontonkan bentuk realisasi miniatur jembatan dan bangunan dari setiap tim, sehingga para mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana proses persiapan para tim. Mulai dari pemotongan bahan, pemasangan ornamen, finishing dengan percobaan pemberian beban, diuji dengan goyangan dan sebagainya, sehingga nanti pada presentasi di Jakarta sudah mengetahui ketahanan miniatur. (*)

Tindaklanjuti Mandat KLHK, UMM Bakal Jadikan KHDTK sebagai Agropark

PASCA menerima mandat sebagai pengelola Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beberapa bulan lalu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menindaklanjuti mandat itu dengan melakukan survei penentuan lokasi pembangunan sarana dan prasarana ke depan. Menurut Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., bahwa keleluasaan sebagai pengelola kawasan hutan ini akan menjadi energi baru bagi UMM dalam pendampingan pada masyarakat. Selain itu, hutan KHDTK juga akan menjadi laboratorium lapangan yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh elemen civitas akademika Kampus Putih UMM. “Saya rasa menjadikan tempat ini sebagai kawasan Agropark sangat cocok. Selain untuk kawasan pertanian-peternakan terpadu yang sekaligus sebagai pusat laboratorium FPP, bisa juga digunakan oleh jurusan lain. Umpamanya saat kita ingin mengembangkan pusat tanaman herbal,” ungkap Fauzan, saat survey lapangan. Melibatkan Biro Perlengkapan, Biro Perencanaan dan beberapa tim yang berasal dari Program Studi (Prodi) Kehutanan hingga Ketua Tim Teknis PLTMH UMM. “Setelah kegiatan survei ini, nanti baru kita tentukan lokasi mana saja yang akan dibangun,” ujar  Tatag Muttaqin S.Hut., M.Sc., IPM., Ketua Prodi Kehutanan UMM, Rabu (23/10). Berada pada kawasan hutan produksi dan hutan lindung Perum Perhutani petak 43A, 44I, 44K-1, 44K-2, 44L dan BE BKPH Pujon KPH Malang dengan luas total 75.09 Ha. “Sesuai dengan fungsi hutan lindung untuk melindungi kawasan, tanaman yang ada di lahannya meliputi suren, eukaliptus, mahoni, hingga tanaman buah,” lanjutnya. Pada hutan produksi UMM terdapat damar dan pinus, dengan luas hutan produksi 20 Ha, selebihnya hutan lindung. Adapun yang mendapat tugas untuk membantu mengelola hutan hingga saat ini ialah Prodi Kehutanan salah satunya sebagai tempat praktik umum seperti manajemen hutan, penentuan fungsi hingga hidrologi. (Riz/Can)

Lembaga Kebudayaan UMM Kemas Batik Tembus Pasar Milenial

LEMBAGA Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM), Jum’at (25/10) siang, menyelenggarakan Workshop Marketing Batik bagi para pelaku batik di Jawa Timur. Pelatihan ini diikuti oleh 62 peserta yang berasal dari  unsur pengrajin, pengusaha, dan start up dari Malang Raya dan sekitarnya. Mengusung tema “Batik Lokal menembus pasar Milenial” LK UMM mengundang para pakar di bidangnya yang menunjang pengembangan marketing batik. Eggy Andalas selaku penanggung jawab workshop menuturkan antusias pelaku batik tinggi begitu sosialisasi workshop dihelat oleh panitia dari LK UMM. “Awalnya kami hanya menyediakan quota untuk 50 orang saja. Namun karena permintaan yang tinggi kami menambahkan sejumlah kursi lagi. Mereka datang dari Kota Malang, Kepanjen, Batu, dan ada yang dari luar kota misalnya dari Jombang.” Jelas Eggy di temuai di sela acara di Auditorium Biro Administrasi Umum UMM. Menurut Eggy materi yang dirancang LK UMM menjadi salah satu daya tarik peserta. Misalnya ada materi Fotografi Produk Batik yang akan disampaikan oleh seorang fotografer profesional, Afifah Rachmawati mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM, pendiri Vhee Design ini dikenal sebagai fotografer spesialis produk. Selain Fifi dengan materi fotografi, peserta Workshop akan dikenalkan lebih dalam dengan materi Bisnis Batik Online oleh Didiet Trismawan, praktisi Digital dan fasilitator Gapura Digital. Tidak lupa sebagai mitra LK UMM, Soendari Batik and Art berbagi pengalaman melalui materi Mengelola Bisnis Batik di era milenial. Melengkapi workshop yang akan digelar sehari penuh, LK UMM juga mengundang perwakilan Bank Jatim untuk melakukan sosialisasi komitmen Bank Jatim terhadap geliat perdagangan dan industri kreatif bagi peserta workshop. Event ini sekaligus menghadirkan semua elemen untuk mengarus utamakan batik sebagai fasion. (*)

Lembaga Kebudayaan UMM Persembahkan Motif Batik Khas KWJ

Rangkaian merayakan hari Peduli Batik Nasional digelar Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah (LK-UMM) dengan berbagai kegiatan. Mengambil tema, “Batik Menembus Ruang dan Waktu” pada Jum’at (25/10) hari ini, LK UMM mengundang 62 orang pelaku batik yang terdiri dari pengrajin, pengusaha, dan start up untuk mengikuti workshop Marketing Batik menyongsong Era Milenial. Keesokan harinya, Sabtu (26/10) siang, kegiatan dilanjutkan dengan launching Batik Motif, kerjasama dengan Sundari Batik and Art, yang dibuat khas Kampung Warna-Warni Jodipan, kampung tematik garapan mahasiswa praktikum Ilmu Komunikasi UMM, serta lomba mewarnai motif batik untuk anak setingkat Taman Kanak-Kanak, dan Lomba Fashion Show Busana Batik untuk siswa SMA se Malang Raya. “Batik menembus Ruang dan Waktu bermakna batik pantas untuk berbagai golongan sosial dan generasi. Generasi Tua maupun generasi muda, orang desa maupun orang kota, budaya tradisional maupun modern, golongan sosial miskin maupun kaya, mereka yang berpendidikan tinggi maupun rendah, profesional maupun pekerja serabutan,” jelas Dr Daroe Iswatiningsih Msi, Kepala LK UMM. LK UMM sejak lama menaruh perhatian khusus pada Batik. Beberapa kali sudah menggelar even serupa. Mulai dari seminar, pameran, riset desain batik motif daerah Jawa Timur, dan pelatihan membatik. Semua dilakukan sebagai wujud rasa cinta dan bangga pada warisan leluhur. “Disamping batik memiliki nilai filosofi dan bisa sebagai media pembentukan karakter bangsa,” sambung Daroe. “LK UMM bekerjasama dengan Sundari Batik and Art ingin menambahkan sedikit konstribusi dengan mempersembahkan motif batik khas Kampung Warna-Warni Jodipan. Sehingga selain pengecetan rumah juga jembatan kaca yang didesain oleh Fakultas Teknik, motif batik khas KWJ juga diharapkan menambah daya tarik,” kata Rahmawati Khadijah Maro, M.PEd, ketua pelaksana Festival Batik 2019. Kata Fida Pangesti selaku penanggung jawab launching, event akan diiringi oleh kegiatan fasion show. “LK UMM mengundang mahasiswa asing yang tergabung dalam program BIPA – Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing- dari berbagai negara untuk berlenggak lenggok di catwalk dengan mengenakan busana batik rancangan siswa-siswi SMK 3 Kota Malang,” tuturnya dengan bangga di sela workshop. Berdasarkan daftar nama yang ada, akan dihadirkan sekitar 20-an mahasiswa asing yang bakal terlibat dalam Launching. Fashion show menampilkan mahasiswa dari Jepang, Korea selatan, Thailand, dan Azerbaijan. Pengunjung juga dihibur oleh permainan alat musik angklung yang dimainkan mahasiswa BIPA UMM dari Jepang, Hongaria, Palestina, Afganistan, Vietnam, Serra Leone, Thailand, dan Mesir. (*)

Temuan Dosen UMM Ini Bikin Masyarakat Urban Bisa Tanam Sayur dan Ternak Ikan Sekaligus di Lahan Sempit

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, balita Indonesia masih mengalami masalah gizi. Hal tersebut menjadi perhatian bagi Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.Sc, Kepala Fish Edu Park Program Studi (Prodi) Perikanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Indonesia negara maritim yang besar, sayang sekali bila anak-anaknya kekurangan gizi,” ungkapnya saat ditemui di Fish Edu Park UMM. Menurutnya, solusi masalah gizi di Indonesia dapat diatasi dengan peningkatan ketahanan pangan dari lingkup terkecil yakni keluarga. Riza menggagas One House One Pond atau OHOP. “Ini adalah sebuah konsep pemanfaatan lahan rumah yang sempit, utamanya, di perkotaan,” tuturnya saat ditemui Rabu (23/10). Jadi, lanjutnya, tiap rumah memiliki satu kolam ikan beserta tumbuhan. Dosen lulusan S2 Kasetsart University, Thailand bidang Aquaculture ini telah melahirkan tiga teknologi mengembangkan OHOP. Teknologi yang pertama ialah Biona, yang kedua adalah Bionic yang baru saja disempurnakan, dan yang terbaru yakni Ohoponic. Biona ialah budidaya ikan tawar mulai dari Lele, Patin dan Nila yang mengkondisikan air seperti habitatnya. Hal tersebut dilakukan melalui persiapan media air, manajemen kualitas air dan manajemen pemberian pakan ikan. Selanjutnya ialah Bionic, teknologi ini merupakan gabungan dari Biona yang digabungkan dengan Aquaponic. Mudahnya Bionis adalah budidaya ikan dan sayuran. “Jadi, pupuk untuk sayuran itu berasal dari kotoran ikan yang ditarik ke atas menggunakan mesin kemudian dialirkan ke dalam pipa yang berisi akar. Air yang ditarik ke atas itu akan jatuh kembali ke dalam kolam ikan di bawahnya. Praktisnya, melalui teknologi Bionic ini, tidak perlu proses menyirami dan pemupukan. Agar sayuran semakin lebat dan sehat, Riza memberikan nutrisi AB Mix dengan dosis yang tepat. Melalui penyempurnaan teknologi Bionic ini, hasilnya sangat memuaskan. Teknologi teranyar dari OHOP adalah Ohoponic. Ini merupakan teknologi bertanam hydroponic yang sangat praktis. Tidak perlu tanah dan penyiraman, sayuran dapat terus tumbuh dan dipanen. Riza berharap, teknologi yang ia gagas dalam pengembangan program OHOP ini dapat benar-benar diterapkan oleh masyarakat perkotaan. Ditegaskan Riza, mudah dan praktisnya teknologi OHOP untuk peningkatan ketahanan pangan di Indonesia, utamanya untuk terus memberi gizi yang cukup bagi keluarga, teknologi ini baik. Daun-daun sayuran seperti Kangkung, Bayam hingga Selada lebar dan sangat lebat. “Yang enak ini Kangkung, tiap dua minggu panen,” katanya. (mir/can)

Di Bromo, Mahasiswa Asing UMM Kampanye Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Meskipun lahir di negara Indonesia, sebagian dari kita orang Indonesia tulen, kerap tidak betul-betul mempraktikkan bahasa Indonsiaa yang baik dan benar. Uniknya, kali ini kampanye penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar justru dilakukan sekelompok mahasiswa asing dari Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Taman Nasional Gunung Bromo, Semeru. Puluhan mahasiswa asing dari berbagai negara di dunia ini diperkenalkan dengan keindahan yang ditawarkan oleh Taman Nasional Bromo Tengger, Semeru yang ada di kabupaten Malang, Jawa Timur. Selain menikmati sunrise dan juga padang pasir Gunung Bromo, para mahasiswa asing juga dapat berinteraksi dengan para pengunjung lain sekaligus melatih kelancaran berbahasa Indonesia mereka. “Selain memperkenalkan wisata yang ada di Indonesia, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperlancar keterampilan bahasa Indonesia mereka. Karena di sini mereka juga diberikan tugas untuk wawancara beberapa pengunjung dan juga masyarakat setempat dengan menggunakan bahasa Indonesia,” terang Faizin, M.Pd selaku Kepala Divisi Internasionalisasi Program BIPA UMM ditemui di ruangannya, Senin (21/10). Para mahasiswa asing ini juga membagikan beberapa tangkai bunga mawar kepada pengunjung dan juga warga sekitar. Di mana di setiap tangkainya terdapat sebuah kata berbahasa Indonesia yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tujuan dari hal ini adalah untuk membenarkan secara redaksional terhadap beberapa kata popular yang selama ini beredar, namun secara penulisan masih belum tepat. Manurut salah satu mahasiswa asing yakni Tukazban Zeynalova, ia mengaku cukup senang dengan berbagai pesona yang disuguhkan oleh Taman Nasional Bromo Tengger, Semeru. “Saya sangat senang dengan Gunung Bromo, terutama sunrise dan ketika menaiki mobil Jeep. Semua kegiatan ini sangat menyenangkan sekali,” ungkap mahasiswa asal Azerbaijan itu dalam bahasa Indonesia dengan nada senang. Menurutnya, kampanye penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar ini membuatnya lebih memperlancar keterampilan berbahasa Indonesia. Model pembelajaran secara langsung di lapangan, yakni berinteraksi dengan masyarakat lokal, membuatnya memahami penggunaan kata dalam bahasa Indonesia dengan lebih baik. Utamanya Bahasa Indonesia yang sesuai KBBI dan kaidah EYD. Setelah sebelumnya para mahasiswa BIPA ini juga sempat mengunjungi berbagai destinasi wisata yang ada di sekitar Malang Raya, seperti Wisata Paralayang Batu dan Kampung Warna-warni Jodipan. Rencananya dalam waktu dekat meraka akan berkunjung ke Banyuwangi karena mereka juga ingin mengetahui wisata dan juga budaya. Seperti Wisata Kawah Putih dan Suku Oseng di Banyuwangi. (zak/can)

Peringati Hari Pangan Sedunia, BEM FPP UMM Bagikan Es Lilin Cuma-Cuma

Pada tanggal 16 Oktober diperingati Hari Pangan Sedunia atau World Food Day. Dalam upaya menyoroti kepedulian masyarakat terhadap sektor buah sebagai pendukung pangan di Indonesia, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (BEM-FPP) Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) mengadakan aksi bagi0bagi es lilin gratis. Aksi bagi-bagi es ini mengusung tema pangan lokal. “Semoga dengan aksi ini dapat lebih mencintai produk produk lokal sebab dapat membantu menunjang hasil tani dalam negeri dalam membantu menjual produk, seperti buah yang sudah menjadi bahan pangan di Indonesia” ujar Suci anggota BEM FPP. Pemilihan es lilin dalam produk pangan kali ini bukan tanpa sebab, karena Es lilin yang dibuat menggunakan buah-buahan seperti blewah, kacang hijau, jeruk merupakan buah buahan lokal yang banyak ditanam oleh petani Indonesian. Es lilin dibagikan di sekitaran kampus 3 UMM, seperti gedung rektorat, Gedung Kuliah Bersama (GKB) I,III, IV dan mahasiswa yang sedang melakukan aktivitas di kampus. Bentuk program kerja dari Departemen Kajian Aksi dan Strategi (Kastrat) BEM FPP menyerukan untuk mengajak para mahasiswa, jajaran staff dan akademisi di UMM untuk mengkonsumsi panganan lokal dan mengurangi panganan import seperti fast food. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk perbaikan kualitas sumber dayamanusia (SDM) yang dimulai dari memperbaiki panganan lokal Indonesia. Pola pangan sehat sendiri adalah pola pangan yang memenuhi kbutuhan individu dengan menyediakan makanan yang cukup, aman dan bergizi untuk menerapkan kehidupan yang aktif. Termasuk buah buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, makanan rendah lemak, gula dan garam yang sudah disiapkan sebagai bahan panganan lokal di Indonesia. (yas/can)

Peduli Goes to Campus di UMM, Semai Semangat Inklusi

Perguruan Tinggi berperan sangat penting sebagai ruang-ruang menyampaikan ide, gagasan, dan wacana yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk membangun bangsa. Wacana keberagaman di dalam kampus perlu terus dipelihara sebagai upaya menguatkan inklusi sosial dalam hidup berbangsa dan bernegara. Kampus perlu menjadi tempat yang nyaman bagi tumbuh dan berkembangnya insan-insan akademisi yang inklusif; Insan yang tidak lagi memandang perbedaan sebagai sebuah hambatan, namun menjadi sebuah kekuatan. Untuk itu, kampus perlu dilibatkan secara aktif dalam proses menumbuhkembangkan inklusi sosial dalam lingkungan pendidikan. Upaya melibatkan elemen Perguruan Tinggi tersebut diinisiasi oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melalui Program Peduli dukungan The Asia Foundation. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (17/10) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Kampus III UMM bertujuan untuk melakukan publikasi dan diseminasi praktik baik yang sudah dilakukan Program Peduli. Selain itu, untuk menjalin dialog untuk memperluas diskursus dan memelihara iklim inklusi sosial dalam lingkungan kampus. “Membuka dialog di lingkungan kampus terkait inklusi sosial adalah sesuatu yang harus dilakukan. Sebagai ruang pemikiran dan gagasan, kampus harus inklusif terhadap keberagaman, tidak ada lagi diskriminasi atas dasar perbedaan pendapat, pemikiran, agama, suku, jenis.kelamin, disabilitas, dan lain lain,” tutur Ketua Pengurus Nasional PKBI Dr. Ichsan Malik. Baca juga: Tim LSLC FKIP UMM Siap Dampingi Sejumlah SMP di KWB Menurutnya, hal ini sejalan dengan semangat PKBI dalam mewujudkan keluarga yang bertanggung jawab dan toleran. Pengertian dasar toleran adalah menghormati perbedaan yang ada. Ketika seseorang atau sekelompok orang merasa tidak aman dan merasa terancam oleh kelompok lainnya, maka akan lahir intoleransi. “Pada titik inilah, civitas akademika harus berperan serta dalam mencegah intoleransi, kegiatan Peduli Goes to Campus adalah salah satunya. Karena perbedaan adalah anugerah yang kita mesti jaga bersama,” kata Ichsan Malik. Senada dengan hal tersebut, Dekan Fisip UMM Dr. Rinikso Kartono, M.Si mengatakan bahwa pihak kampus menyambut sangat baik dan apresiatif dengan gagasan Peduli Goes to Campus di UMM. Ini menjadi pembelajaran bersama dan forum berbagi praktik baik antara lembaga yang mengimplementasikan Program Peduli dengan UMM. Terkait dengan kampus ramah disabilitas, UMM berpedoman kepada Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 46 Tahun 2017 tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus di Perguruan Tinggi, pasal 4 menyatakan bahwa Pendidikan inklusi merupakan Pendidikan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus yang dilakukan bersama dengan mahasiswa lain. Selain itu, UMM terbuka terhadap keberagaman. “Kami sepakat bahwa berbagai pihak harus dilibatkan dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. Apalagi di lingkungan kampus, sebagai ruang pertukaran ilmu pengetahuan, segala bentuk kegiatannya harus menjunjung tinggi inklusi sosial. Berbagai praktik baik telah kami lakukan terkait ini,” tutur Rinikso. “Kami berharap Peduli Goes to Campus akan melahirkan agen-agen perubahan di lingkungan kampus. Dengan lingkungan yang inklusif di kampus, akan menyebar ke seluruh sendi-sendi kehidupan, tempat para civitas akademika berinteraksi dengan masyarakat. Sehingga tercipta Indonesia yang inklusif dalam menjalani pembangunan sosial yang humanis. Semoga ini bukan yang terakhir, namun awal untuk terjalinnya kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat antara UMM dan PKBI,” tutup Rinikso. Sebelumnya, Peduli Goes to Campus telah dilakukan di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada September 2018, Universitas Medan, Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang dengan mendapatkan apresiasi yang besar dari mahasiswa, dosen dan para partisipan lainnya. Pada penyelenggaraannya kali ini di Malang, kegiatan yang dihadiri kurang lebih 500 yang terdiri dari dosen dan mahasiswa ini, diwarnai oleh kegiatan kuliah umum, pagelaran seni Mahasiswa UMM, pameran inklusi, pemutaran film, penguatan kapasitas berupa penulisan tugas akhir dan pembuatan film dokumenter. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd dalam sambutannya menerangkan, jika ia antusias dengan inklusifitas. UMM sendiri terus berkomitmen menyuarakan persatuan salah satunya melalui gelaran Festival Kebangsaan yang bertepatan pada tahun ini yang dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla. “Inklusifitas menjadi hal yang sudah semestinya dijalani bukan diperdebatkan lagi,” terang Fauzan. Sayangnya, keadaan ini tidak selalu tercermin dari Indonesia. Padahal, lanjutnya, jargon Kita Indonesia hingga NKRI Harga Mati kurang benar-benar diterapkan dalam hidup berwarganegara. (mir/can)

D3 Keperawatan UMM Raih Akreditasi A

Setelah Program Studi (Prodi) Magister Agribisnis berhasil mempertahankan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk periode 2019-2024, kini giliran Prodi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memperoleh akreditasi A (sangat baik). “Uji kompetensi kita mengikuti ukuran standar nasional. Dimulai dari Try Out, Uji OSCE (Objective Structured Clinical Examination) dan sebagainya. Mengenai uji kompetensi, rata-rata kita sudah mencapai 85% ke atas di tiap tahunnya. Serta optimis dalam mendapatkan nilai A,” ungkap Kaprodi Reni Ilmiasih, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp. Kep.An. Melihat kinerja dan kualitas yang ditampilkan dengan maksimal, maka berdasarkan rapat acara Pleno Majelis Akreditasi No . 009/LAM-PTKes/BAAkr/IX/2019 tanggal 29 September 2019 memutuskan Prodi D3 Keperawatan UMM berhasil meraih Akreditasi A dengan nilai 367. Sebelumnya, untuk periode 2014-2019 prodi ini berakreditasi B. “Kita harus mempersiapkan segala sesuatu, agar kualitas tetap menjadi yang utama. Dari jauh-jauh hari kita telah menyiapkan tim yang benar-benar memiliki kualitas. Sehingga dokumen-dokumen tertata, kemudian kita juga familiar dalam membuat nilai dan mengupayakan agar mahasiswa menjadi lebih kompeten,” lanjut Reni. Selain meningkatkan kualitas pendidikan, Prodi ini mengoptimalkan bimbingan akreditasi dari kantor akreditasi UMM. “Sehingga kita upayakan pelaporan dilakukan sedetail mungkin. Kita telah compare dengan Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA). Artinya persiapan telah kita buat matang,” ujar Reni (14/10). Setelah mendapat akreditasi A, Reni merasa Prodi yang dipimpinnya memiliki tanggung jawab kian besar. Saat ini yang menjadi tantangannya maupun output ke depan adalah dalam bidang karir. “Karena lebih banyak profesi yang mengutamakan S1, sehingga harus mengedepankan mobilitas untuk persiapan ke dunia kerja,” tandasnya. (riz/can)