UMM kenalkan Software Tableau, Visualisasi Data Dukung Smart City

Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) menggelar workshop Tableau; Visualisasi Data untuk Mendukung Smart City yang diadakan di Gedung Kuliah Bersama (GKB 3) UMM (12/10). Agenda yang didasari oleh pentingnya penanganan Big Data, termasuk data analisis, yang semakin disadari oleh para pelaku usaha, industri, mahasiswa sampai institusi pemerintahan itu sendiri. Agenda yang digelar sehari ini mencakup pengenalan software Tableau, praktek visualisasi data (analisis visual, filter dan mapping) dan publish data (kalkulasi, story dan dashboard, dan publish Tableau) dengan dibagi menjadi dua kelas untuk umum, yakni dari instansi pemerintahan terkait dan mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia. Dengan menggandeng pemateri ahli praktisi data dari Platform Kata.ai Resa Primasatya, Data Scientist Indonesia Achmad Wilda Al Aziz dan Yufis Azhar, M.Kom dosen Teknik Informatika UMM yang juga berkompeten melihat peluang visualisasi dari penerapan big data melalui platfrom Tableau yang dapat mendukung terbentuknya smart City. Diikuti oleh peserta dari beberapa Pemerintahan Daerah seperti  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA & BALITBANGDA ) Kota Batu dan Pasuruan, Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) Trenggalek, Bangkalan, Sidoarjo, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BALITJESTRO) Batu dan sejumlah Perguruan Tinggi yakni UNAIR, UPN, UB, dan UMM. Dalam pembukaannya, Ketua Pelaksana yang juga dosen prodi Teknik Informatika  Christian S.K.Aditya., M.kom menyatakan, Di era teknologi digital yang makin berkembang pesat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ledakan data. “Diharapkan lewat workshop ini dapat menjembatani praktisi, akademisi dan pemerintahan dalam menyongsong pembangunan kota cerdas di Indonesia” ungkapnya. Dengan menggunakan fasilitas drag dan drop tabel, grafik maupun desain lain dalam software Tableau diharapkan dapat membaca visual dan menganalisis data dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga data tidak monoton dan dapat memperoleh keputusan yang baik dalam menunjang keberadaan smart city,” tambah Yuvis selaku pemateri. (yas/can)

Smart Tongkang, Mesin Pembuat Garam Berkualitas Ciptaan Mahasiswa UMM

GARAM termasuk mineral yang dapat diperbaharui dan jumlahnya tidak terbatas. Indonesia dengan iklimnya yang tropis dan garis pantai yang panjang menjadi negara dengan potensi produksi yang menjanjikan. Di sisi lain, penggunaan garam domestik dan dunia terus meningkat. Untuk menutupi kekurangan itu maka dilakukan impor. Pada tahun 2018 impor garam Indonesia mencapai 3,7 juta ton dengan nilai 83,6 juta USD, dan 2019 impor garam dialokasikan 2,7 juta ton. Alasan yang disampaikan Pemerintah karena produksi dan kualitas garam lokal Indonesia tidak mencukupi kebutuhan industri domestik, baik untuk kepentingan industri ataupun pangan. “Artinya negara mengeluarkan Rp1,34 Triliun untuk impor garam. Dengan biaya impor sebesar itu, sementara petani garam jauh dari kata sejahtera,” ungkap Haryo Widya Darman, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang saat menerangkan proposal yang diajukannya di ajang Rancang Bangun Mesin IX. “Kurangnya pendampingan dari ahli dan eksploitasi tradisional yang kurang maksimal punya beberapa kekurangan, seperti kepemilikan lahan terbatas, sangat tergantung pada cuaca dan efisiensi produksi yang rendah, menjadikan kualitas garam lokal kurang diminati. Industri,” beber Haryo saat ditemui Senin (14/10) siang. Menurut mahasiswa yang pernah memenangi ajang internasional ini, diperlukan solusi berupa pernambahan lahan yang fleksibel namun membantu percepatan produksi garam yang sesuai standar layak, sehingga bisa dipindah-pindah dan didekatkan menuju pabrik, sehingga mengurangi biaya transport dan operasional truk. “Solusi berupa penambahan lahan terapung menjadi masuk akal, karena bisa dipindah-pindah atau didekatkan menuju pabrik. Serta disematkan teknologi tambahan berupa control device android untuk mengetahui posisi, kadar air, temperatur, dan pengaktifan fitur mekatronika otomatisnya,” terangnya saat menjelaskan apa itu Tongkang Garam. Karena dilengkapi atap, cermin, generator kincir, sekop yang bisa dikendalikan otomatis, tongkang anti karat, tow hook, dan anchor membuatnya mudah dipindahkan, sehingga pembuatan tambak garam hybrid diharapkan jadi solusi untuk membantu petani mempercepat pembuatan garam yang sesuai standar keperluan industri. Dengan rancangan tongkang ini diharapkan dapat menjawab masalah seperti keterbatasan lahan karena proses kristalisasi dilakukan di atas laut, kualitas garam yang bisa ditingkatkan seperti kebersihan, warna, penurunan kadar air, dan percepatan produksi yang semula 15 hari menjadi 8-10 hari karena rekayasa mekatronika. “Yang artinya produksi panen akan lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik dan akan meningkatkan harga jual panen yang lebih tinggi. Harapannya solusi ini akan menjadi penyebab berhentinya impor garam yang dilakukan pemerintah. Kami sedang menyusun dokumen paten untuk produk ini,” pungkas Haryo, ketua tim UMM ini. Haryo tak berjuang sendirian. Dalam perlombaan ini Ia satu tim bersama mahaswa teknik mesin lainnya, yakni Zehandana khatami (angkatan 2016), dan sang adik kandung Annisa Widya Nurmalitasari (angkatan 2007). Dengan komposisi tim ini, mereka berhasil mendapat peringkat 7 dari 44 proposal yang ikut seleksi. Meski belum mendapat raihan memuaskan, mesin temuan mereka ini kembali dilombakan di ajang yang diadakan oleh Asosiasi Program Studi Teknik Mesin-Perguruan Tinggi Muhammadiyah Se-Indonesia. Dari hasil seleksi para finalis yang berjumlah 8 tim, tim Kampus Putih UMM berhasil mendapat peringkat 2. (can)

UMM Dominasi KKCTBN 2019, Rebut 3 Gelar Sekaligus

MENJADI tuan rumah gelaran bergengsi seperti Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 jadi tantangan tersendiri bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain harus melayani peserta dengan suguhan maksimal, performa tim tuan rumah tentu juga musti optimal. UMM telah menunjukkannya. Pada perhelatan 3 hari ini, 10-12 Oktober 2019, UMM berhasil menyabet 3 gelar sekaligus. Pertama, peringkat 2 di 2 kategori sekaligus. Yakni kategori Electric Remote Control (ERC) dan Fuel Engine Remote Control (FERC). Kedua, nominasi tim favorit di kategori FERC yang dimenangkan oleh Team UMM I, UMM. Hingga para pemenang diumumkan (12/10), UMM tampil dengan performa terbaiknya. Team UMM 2 di kategori ERC mendapat raihan terbaik dengan skor akhir 120,678. Sedangkan Team UMM 1 di kategori FERC dengan skor akhir 121,379. Sementara di kategori ASV, UMM harus puas di posisi ke-14 dengan skor 10,8252. Meskipun tim baru terbentuk tahun ini, bahkan UMM tidak memiliki unit kegiatan mahasiswa khusus perkapalan, tapi mereka tetap optimis menang. Namun, mereka memiliki kelompok Mekatronic yang fokus pada permesinan. Ada fokusan mobil hemat energi, sementara tentang kapal baru riset tahun 2019 belakangan ini. “Tim UMM sebelum merancang kapal terlebih dahulu mempelajari panduan KKCTBN dari tahun pertama sampai tahun terakhir pelaksanaan. Kemudian mencari informasi kekuatan dan kelebihan dan kelemahan  tim lawan terutama tim langganan juara,” ungkap Drs Moh Jufri MT pendamping Tim Kapal Cepat UMM (13/10). Juga evaluasi berkala meliputi bagaimana merancang bentuk bodi yang fleksibel dan juga cocok untuk semua tipe track dan komponen yang dipakai dicarikan yang terbaik. “Kalau kapal sudah fleksibel dan komponen-komponennya terbaik, maka tinggal menyusun strategi untuk mencuri kemenangan,” beber Jufri. Pasca kemenangan ini, Jufri mengaku bakal tetap menyiapkan tim yang lebih solid dan kompak untuk mengikuti lomba-lomba berikutnya. “Tentunya, kami juga selalu menamkan tradisi juara buat tim pada semua perlombaan yang diikuti. Jangan salah, para peserta baru semester 3 semua,” tandasnya. Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Ristekdikti Dr Misbah Fikrianto MM MSi menyampaikan apresiasinya kepada Kampus Putih UMM yang menjadi tuan rumah KKCTBN 2019. “Apresiasi yang sangat tinggi, penghargaan, serta sanjungan atas pelaksanaan KKCTBN tahun ini di UMM dengan prediket excellence,” katanya. Hal ini karena pertama, jumlah peserta tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Kedua, penyelenggaraan KKCTBN di UMM tahun ini penilaiannya menggunakan aplikasi sehingga lebih transparan dan akuntabel. Terakhir, juga diadakannya kelengkapan poster menjadikannya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. (can)

KKCTBN 2019 di UMM Sukses Dihelat, Ini Daftar Pemenangnya

Kontes Kapal Cepat Tanpa Awak Nasional (KKCTBN) 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) (10-12/10) akhirnya mengukuhkan sejumlah pemenang. Enam puluh dua tim dari 30 perguruan tinggi se-indonesia bersaing ketat memperebutkan gelar bergengsi kontes yang diselenggarakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemristekdikti RI) ini. Di kategori Autonomous Surface Vehicle (ASV), Tim Aeroships dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) mencatatkan skor terbaiknya dengan nilai akhir 330. Disusul Tim Barunastra Roboboat ITS dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dengan nilai akhir 300. Selanjutnya di posisi 3 dengan nilai akhir 223,636 diraih oleh Autonomous Marine Vehicle dari Universitas Indonesia (UI). Di kategori Electric Remote Control (ERC), Tim Gamantaray Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mendominasi kemenangan dengan skor akhir 123,956. Di posisi 2 diraih Team UMM 2 dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan skor akhir 120,678. Disusul kemudian di posisi ketiga di raih Tim Elmoana dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan skor akhir 118. Sementara di kategori Fuel Engine Remote Control (FERC), Cakalang 7 dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) mendapat skor terbaik yakni 122,811. Di posisi kedua UMM yang diwakili Team UMM 1 berhasil menyabet perolehan terbaiknya yakni dengan mencatatkan skor 121,379. Di posisi ketiga, tim Seawolf dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan skor akhir 116,889. Di kategori lainnya yakni Fun Race ERC dimenangkan Cakalang 3 PPNS dan FERC dimenangkan Seawolf Unesa. Kategori Tim Favorit di ASV dimenangkan Gamataray UGM, ERC dimenangkan Baracuda V IPB, dan FERC dimenagkan Team UMM I UMM. Di Best Spirit, ASV dimenangkan Antares UNS, ERC oleh HTNB Universitas Hang Tuah, dan FERC oleh Onepro_MP dari Politeknik Negeri Ujung Pandang. Ada juga pemenang bagi kategori Best Poster yang hanya ada satu pemenang yakni dari Tim Autonomous Marine Vehicle, Universitas Indonesia (UI). Terdapat juga kategori Best Design yang pada kategori ASV dimenangkan Barunasastra Roboboat ITS, ERC dimenangkan Tim Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM), dan FERC dimenangkan oleh Tim andalan PPNS Surabaya yakni oleh Tim Cakalang 7. Dalam sambutannya, Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Ristekdikti Dr Misbah Fikrianto MM MSi menyampaikan apresiasinya kepada UMM yang telah menyelenggarakan perhelatan KKCTBN 2019 dengan sangat baik. “Kami menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi, penghargaan, serta sanjungan atas pelaksanaan KKCTBN tahun ini di UMM dengan prediket excellence,” katanya. Setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan gelaran KKCTBN 2019 di UMM menjadi spesial. Pertama, jumlah peserta tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Kedua, penyelenggaraan KKCTBN di UMM tahun ini penilaiannya menggunakan aplikasi sehingga lebih transparan dan akuntabel. Terakhir, diadakannya syarat poster menjadikannya berbeda dari tahun sebelumnya. Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi menyebut UMM memiliki ekosistem serta sarana dan prasarana yang sangat mendukung kegiatan akademik civitas akademikanya, misalnya danau buatan yang dipakai perlombaan KKCTBN tahun ini. “Mungkin para pendiri kampus ini sudah memiliki suatu imajinasi bahwa kelak, UMM akan diminta sebagai host penyelenggaraan KKCTBN ini,” tandas Syamsul. (can)

Gedung Kuliah UMM Mendadak Jadi Sandaran ‘Kapal’

Ada yang unik pada gelaran Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jembatan penghubung dengan gedung kuliah bersama (GKB) I, disulap menjadi kapal pesiar yang siap mengarungi ganasnya lautan lepas. Dilihat dari pantauan udara menggunakan drone, jembatan yang setiap harinya digunakan lalu lalang mahasiswa UMM ini didekor dengan serius sehingga menjadi objek ikonik selama penyelengaraan kontes. Di pembukaan, ‘kapal’ dilaunching Dirjen Belmawa Didin Wahidin. Kreativitas desain usulan Wakil Rektor III UMM Dr Sidik Sunaryo ini memang sengaja dihadirkan untuk memberi atmosfer lautan lepas yang sesungguhnya. Apalagi disertai pelampung dan jangkar kapal yang terlihat di sisi kanan-kirinya, menambah kesan kapal laut sungguhan. Di atas ‘kapal’ ini juga, saat pembukaan acara, digelar defile kontingen dari 62 tim yang berasal 30 perguruan tinggi se-Indonesia. Mereka masing-masing membawa bendera asal perguruan tinggi. Sebelumnya juga, para peserta disambut tarian daerah dari Sangsekarta UMM. Kontingen UMM sendiri menerjunkan 3 kapal cepat andalannya di 3 kategori yang ada. Mereka bersaing di Kapal Kendali Otomatis (ASV), Kapal Cepat Listrik dengan Sistem Kendali Jauh (ERC), dan Kapal Cepat Berbahan Bakar dengan Sistem Kendali Jauh (FERV). Mereka optimis menang, karena menggunakan mesin berkapasitas 32 CC dengan laju kecepatan maksimal mencapai 40 KM/H. Selain itu, mereka mengandalkan spesifikasi bodi yang lebih ramping. Tak ketinggalan, mereka tentu sudah hafal dengan lintasan yang tersedia. Hingga berita ini diturunkan, UMM tampil dengan performa terbaiknya. Team UMM 2 di kategori ERC berada di posisi 2 dengan skor akhir 120,678. Sedangkan Team UMM 1 di kategori FERC juga berada di posisi 2 dengan skor akhir 121,379. Sementara ASV menunggu hasil. Meskipun tim baru terbentuk tahun ini, bahkan tidak memiliki UKM khusus perkapalan, tapi mereka optimis menang. Mereka memiliki kelompok Mekatronic yang fokus pada permesinan. Ada fokusan mobil hemat energi dan tentang kapal baru riset tahun 2019 ini. Para pemenang akan diumumkan pada Sabtu (12/10) malam di depan GKB I UMM. Selain pengumuman pemenang dan penyerahan medali, akan ada juga penyerahan piagam penghargaan dari Dirjen Belmawa kepada UMM sebagai tuan rumah KKCTBN tahun ini. (riz/can)

KKCTBN 2019: 30 Perguruan Tinggi Adu Hebat di UMM

KONTES Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dibuka hari ini, Jumat (11/10). Direktur Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) Dr Didin Wahidin MPd membuka secara langsung gelaran tahunan memperebutkan Piala Bergilir KKCTBN. “Sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan tujuh belas ribu lima ratusan lebih pulau yang kita miliki dan disatukan oleh laut yang demikian luas. Maka kemudian, kapal menjadi sesuatu yang memiliki nilai strategis bagi negara kita. Oleh karena itu, tentu KKCTBN 2019 ini juga memiliki posisi yang strategis dalam rangka menjaga kedaulatan bangsa, baik airnya maupun di permukaan airnya,” ungkap Didin saat sambutan. Melalui kontes ini, Didin mengajak para peserta untuk mengambil makna dari setiap proses perlombaan. Pertama, makna untuk saling belajar tentang ilmu seputar perkapalan. “Dalam kesempatan kali ini kita juga mengembangkan kapal-kapal cepat yang lain, dalam bentuk, teknologi dan ragam teknologi yang kelak akan menyatukan kehebatan kita dalam wujud kapal-kapal yang bisa menjaga kedaulatan bangsa,” tegasnya di atas danau UMM. Makna yang kedua adalah pengembangan karakter. Di antaranya adalah karakter untuk siap menang dan siap kalah. Ketiga, bagaimana agar para peserta rasa nasionalismenya terbangun. Keempat, penyelenggaraan KKCTBN ini merupakan upaya bersama mencoba menjadikan Indonesia berada pada jajaran depan pada pengembangan teknologi yang seharusnya dilakukan dalam rangka menghadapi era Revolusi Industri 4.0 ini. Rektor UMM Dr Fauzan MPd dalam sambutannya memesankan, diamanahinya gelaran bergengsi ini kepada Kampus Putih UMM ini harus diambil makna bahwa event ini adalah satu titik awal dalam rangka mengembangkan teknologi, khususnya di bidang perkapalan. “Khususnya kepada para peserta, jangan dianggap kegiatan ini sekadar mencari nomor satu, nomor dua. Jadikan kontes ini untuk mengembangkan minat,” kata Fauzan. Kembali ditegaskan Fauzan, KKCTBN merupakan satu momen strategis untuk mengembangkan minat dan bakat yang mahasiswa miliki. “Siapa tahu, saat ini saudara menjadi mahasiswa, tujuh atau mungkin sepuluh tahun mendatang saudara juga akan menjadi leader-leader di bidang perkapalan. Apa yang didasari oleh minat dan bakat, Insya Allah, melajunya akan melebihi lajunya kapal yang akan berlomba,” ungkapnya. Di event yang diikuti 30 perguruan tinggi ini ada 3 kategori yang diperlombakan. Pertama, Kapal Kendali Otomatis. Di kategori ini, kapal didesain dan dibangun dengan piranti lunak elektronik otomatis atau sensor warna. Kedua, Kapal Cepat Listrik dengan Sistem Kendali Jauh. Kapal ini menggunakan baterai sebagai sumber tenaga penggerak dengan bantuan remote control. Terakhir, Kapal Cepat Berbahan Bakar dengan Sistem Kendali Jauh. “Penilaian kontes KKCTBN ini dilakukan terhadap setiap kategori dengan beberapa kriteria. Selain ditentukan berdasarkan waktu tercepat, pertimbangan dalam penilaian juga berupa manuver kapal dalam setiap rintangan pada lintasan. Ada pula penghargaan bagi desain kapal terbaik,” terang Dr Nur Subeki ST MT dosen Fakultas Teknik UMM selaku Ketua Pelaksana KKCTBN 2019 ini di Kampus Putih UMM saat melaporkan acara. Setiap kategori kontes prototipe kapal memiliki misi dan tantangan yang berbeda-beda. Secara umum kemampuan menyelesaikan misi dan tantangan tersebut dapat diukur melalui kecepatan dan kemampuan bermanuver. “Misi dan tantangan tersebut diterjemahkan ke dalam lintasan yang harus dilalui oleh setiap kapal dalam setiap kategorinya,” ungkap Subeki yang juga tengah menjabat Wakil Dekan III Fakultas Teknik UMM. Daya kreasi mahasiswa dalam KKCTBN 2019 ini tidak hanya mencakup desain badan kapal yang baik dari segi performance dan manuver, tetapi juga mencakup perencanaan sistem penggerak, sistem navigasi yang handal, dengan memperhatikan keselarasan faktor teknis lainnya (engine matching). Dengan demikian segala kreatifitas peserta dalam kontes yang dimaksud akan melibatkan beberapa disiplin ilmu teknik yang saling berkaitan. (yas/can)

UMM Anugerahi Menkeu Sri Mulyani Tokoh Pemajuan Ekonomi Syariah

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menganugerahi Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani Indrawati, SE., M.S., Ph.D. penghargaan sebagai tokoh dalam bidang pemajuan Ekonomi Syariah di Indonesia. Penganugerahan yang berlangsung Kamis (10/10) di Hall Dome UMM ini lantaran Sri Mulyani dinilai turut meletakkan landasan bagi pemajuan Ekonomi Islam. Saat ini, Sri Mulyani sendiri ditunjuk menjadi Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) periode 2019 – 2023. “Ibu Sri Mulyani turut mewujudkan pengembangan kualitas sumberdaya manusia, peningkatan kapasitas riset, mendukung kebijakan yang menunjang perkembangan ekonomi syariah, mendorong sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah atau otoritas dalam mengembangkan ekonomi syariah, serta mendukung upaya membangun wajah  Islam yang inklusif dan sejalan dengan semangat kebhinekaan dalam bingkai NKRI,” ungkap Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin saat membacakan SK. Rektor UMM dalam sambutannya menyampaikan, Kampus Putih UMM senantiasa mengundang para tokoh nasional dari berbagai latar belakang bahkan tokoh internasional sebagai inspirasi pada para mahasiswa, sebagai tokoh-tokoh masa depan bangsa ini. “Beliau seorang Srikandi yang tahan banting dan bisa hidup di sembarang ‘alam’. ‘Alam’-nya pak SBY dan alamnya Pak Jokowi. Mudah-mudahan ke depannya beliau juga masuk di dalam jajaran kabinet berikutnya,” ungkap Rektor Fauzan. Ada satu hal, sambung Fauzan, yang barangkali perlu mahasiswa contoh. “Selain kiprah dan kesuksesan beliau, beliau itu orang yang taat beragama, puasa Senin-Kamisnya tidak terhenti. Oleh karena itu saya mohon maaf kalau meja-meja itu bersih dan hanya ada pot-pot bunga. Tidak ada satupun makanan di atas meja karena kita semua menghargai beliau dan beliau adalah Srikandi yang menurut kita adalah luar biasa luar dan dalamnya,” tegas Fauzan di hadapan 7000 mahasiswa UMM. Menteri yang sempat mendapat penghargaan sebagai menteri terbaik dunia dalam ajang World Government Summit 2018 ini memesankan kepada ribuan mahasiswa UMM dalam orasi ilmiahnya bahwa sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas dan inovasi adalah faktor penentu dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. “Pemerintah akan selalu berkomitmen dalam mendorong perbaikan kualitas SDM melalui berbagai langkah afirmasi dan terobosan program kebijakan,” katanya. UMM harus terus berkiprah, berkarya tidak mudah puas akan capainnya, dan selalu haus akan pencapaian baru. Sehingga mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan bangsa. “Diharapkan UMM agar tidak hanya mendidik kemampuan hard skill, kognitif dan intelektual mahasiswa. Tetapi juga membentuk soft skill antara lain berupa karakter yang berintegritas. Dan jangan lupa, jangan pernah lelah mencintai negeri ini,” tutup Sri yang juga anggota keluarga kehormatan Kampus Putih ini. (riz/can)

Akademisi UMM Rembuk Isu Aktual Hukum Nasional

FAKULTAS HUKUM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Rembuk Hukum Warga UMM bertajuk “Bahas Tuntas Isu-Isu Aktual Hukum Nasional”, Senin (7/10) kemarin. Agenda ini dilatari oleh makin memanasnya tekanan sekelompok masyarakat yang menolak sejumlah keputusan DPR RI Periode 2014-2019 di akhir masa jabatannya. Sejumlah keputusan yang dinilai nyeleneh dan tidak pro-rakyat ini pada akhirnya mengundang aksi massa di sejumlah daerah di Indonesia. Agenda rembuk ini diselenggarakan di GKB IV lantai 9 Kampus III UMM. Terdapat beberapa undang-undang yang telah disahkan dan beberapa lainnya masih dalam proses. Di antara beberapa undang-undang tersebut adalah Perubahan Undang-Undang KPK, Rancangan KUHP, RUU Pemasyarakatan, RUU Agraria (Pertanahan), dan RUU Pemberantasan Kekerasan Seksual. Beberapa undang-undang terkesan dipakasakan karena belum masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Hal ini memicu berbagai reaksi penolakan dari berbagai kalangan, mulai akademisi, aktivis antikorupsi bahkan sampai pada mahasiswa. Berbagai reaksi penolakan tersebut diwujudkan dengan berbagai cara. Di antaranya dengan melontarkan opini di berbagai media, baik di media massa elektronik, media online, hingga ke media sosial. Puncak reaksi tersebut disampaikan melalui demonstrasi di Gedung DPR RI, bahkan di Gedung DPRD yang berakhir ricuh dan memakan korban jiwa mahasiswa. Tidak sedikit juga pernyataan yang muncul dalam aksi mahasiswa tersebut yang berlebihan. Hal tersebut memunculkan asumsi bahwa mahasiswa dan masyarakat pada umumnya kurang memahami perubahan atas berbagai undang-undang tersebut. Minimnya pemahaman ini memunculkan pro dan kontra terurama di masyakarat umum yang tidak paham tentang hukum yang dapat berujung anarkis. Kondisi ini dapat berpotensi menjadi penyebab perpecahan antar anak bangsa Indonesia. Dalam pembukaannya, Dekan Fakultas Hukum UMM Dr Tongat SH MHum menyatakan, banyak informasi media sosial simpang siur yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itu, Fakultas Hukum harus meluruskan cara pandang tentang problematika hukum di Indonesia. “Selain itu, saya menasihati mahasiswa ketika mau melakukan aksi supaya bisa menyikapi dengan bijak, tertib, dan tahu substansi apa yang mau disampaikan,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta. Menggambarkan situasi dan kondisi politik Indonesia saat ini, pakar Hukum Tata Negara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Sulardi. SH., M.SI., menyebut bahwa keadilan harus tetap ditegakkan meski langit akan runtuh. Pernyataan itu Sulardi kutip dari pernyataan monumental seorang filsuf kenamaan Calpurnius Piso Caesoninus (43 SM). “Apapun alasannya hukum harus selalu ditegakkan,” ungkap dosen yang juga aktif menulis di media massa regional dan nasional ini. Diskusi ini dihadiri pula oleh Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. wakil Rektor 1 UMM, Dr. Tongat, SH., M.Hum Dekan  Fakultas Hukum (FH) UMM , Dr. Idah Zuhroh M.M (Ahli Ekonomi), Zen Amiruddin S.Sos., M.Med.Kom (Ahli Komunikasi Politik), Dr. Fifik Wiryani SH., M.Si. M.Hum (Ahli Hukum Agraria), Abdul Aziz Pranatha (Presiden Mahasiswa UMM) serta ratusan mahasiswa dan civitas Akademika UMM lainnya. Diskusi ini berlangsung dialogis. Peserta juga dapat menanggapi pemateri. (riz/can)

Fikes UMM Gandeng Praktisi Internasional Tingkatkan Publikasi Jurnal Scopus

FAKULTAS Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) untuk yang ke dua kalinya menggelar kegiatan Konferensi Internasional. Acara yang bertajuk The 2nd Health Science International Conference  (HSIC) ini dilangsungkan di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB IV) lantai 9 UMM, Sabtu (5/10). Tahun ini FIKES menghadirkan pakar ahli di bidang kesehatan dari dalam dan luar negeri, yakni Dr. Sirikul Karuncharernpanit, RN dari Boromarajonani College of Nursing Thailand, DR. Nazrul Islaam dari Queensland University of Australia, Asst.Prof.Dr. Peemongkon Wattananon dari Mahidol University Thailand dan 3 Pemateri lainnya berasal dari UMM. Jika Konferensi Internasional peserta biasanya hanya duduk mendengarkan saja, namun kali ini terdapat oral session. “Partisipan dituntut mempresentasikan hasil dari riset dan dokumen full paper yang nantinya akan dipublish dan terindeks di jurnal Scopus,” terang Indah Dwi Pratiwi, M. Ng, Kep., ketua pelaksana acara. Di oral session ada presentasi dengan judul Improvement of Community Responsibility Using SGD (Small Group Discussion) Method dibawakan oleh Nia Agustiningsih dari STIKES Kepanjen. Tercatat berbagai institusi pendidikan tinggi farmasi yang ikut di antaranya ialah UNUD, UNJANI, UNSOED, UNEJ, dan UNISSULA. Dekan FIKES Faqih Ruhyanudin, M. Kep., Sp. Kep.MB berharap, acara ini selain dapat membangun suasana akademis, jurnal-jurnal penelitian dapat masuk dan terindeks Scopus. “Selebihnya dapat memberi kemanfaatan ilmu bagi yang membaca,” tandasnya. (yas/can)

Jufoc Gelar Pameran #ReformasiDikorupsi

Aksi turun ke jalan dari ribuan mahasiswa Malang Raya yang terjadi pada tanggal 24-25 September lalu, membuat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Lembaga Semi Otonom (LSO) Jurnalistic Fotografi Club (Jufoc) melahirkan beberapa karya foto jurnalis yang menarik. Karya foto yang dipamerkan pada tanggal 1-3 oktober di halaman kantin Tiga Setengah Gedung Kuliah Bersama I ini, memamerkan 11 foto dari 5 orang pengkarya. Selain foto, adapula papan vandal yang disediakan untuk menampung suara dan aspirasi mahasiswa Kampus Putih yang tidak mengikuti aksi. Terdapat pula cuplikan video dari aksi #ReformasiDikorupsi yang ditayangkan pada hari terakhir gelaran karya tersebut. “Tujuan kami melakukan hunting foto dan gelar karya ini adalah kami ingin menggambarkan suasana yang ada di depan gedung DPRD Malang untuk teman-teman mahasiswa yang tidak bisa mengikuti aksi tersebut,” ungkap Andri Yoga Ketua Umum LSO Jufoc periode 2018-2019. Selain itu, menurut salah satu pengkarya yakni Farah Tri Vania, hunting foto di tengah aksi demonstran memiliki kesulitan yang cukup tinggi, seperti sempitnya ruang gerak sehingga mempersulit pengambilan angle. “Selain angle, saya juga masih diselimuti rasa takut. Lantaran ini merupakan hunting foto aksi demonstran pertama saya. Namun dari sini pula saya jadi bisa merasakan bagaimana tantangan menjadi seorang fotografer jurnalis,” tegas Farah. Menurut salah satu pengunjung, yakni Fida Amina Zahro, gelar karya ini cukup menarik. “Foto-foto yang dipamerkan cukup menarik dan cukup mewakilkan mahasiswa yang absen pada aksi kemarin. Terlebih terdapat papan vandal di mana para mahasiswa dapat menulis apapun yang diinginkan terkait #ReformasiDikorupsi ini,” ungkap Fida. (zak/can)