Dubes Thailand di UMM, Ingin Indonesia Jadi Destinasi Utama Pelajar Thailand

“Indonesia adalah destinasi terbesar kedua bagi para pelajar Thailand setelah Mesir. Tetapi saya harap, ke depannya Indonesia menjadi destinasi utama dari para pelajar Thailand,” ungkap H.E Mr. Songphol Sukchan selaku Duta besar (Dubes) Thailand untuk Indonesia saat melawat ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kedatangan Dubes Negeri Gajah Putih ini disambut dengan antusias oleh mahasiswa UMM asal Thailand di depan pintu masuk Gedung Rektorat UMM, Kamis (3/10). Ia disambut sebanyak 63 orang mahasiswa Thailand yang tengah menempuh jenjang pendidikan di UMM. UMM punya mahasiswa Thailand terbanyak Se-Malang Raya. “Kita semua tahu bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Saat ini, ada begitu banyak pelajar asal Thailand yang tersebar di perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia seperti di Jogja, Malang, Surabaya dan beberapa kota lain tentunya,” ujar Songphol di hadapan rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. Melihat kontur alam serta suasana kota yang mendukung, juga di-support oleh berbagai akses pendidikan dengan banyaknya Perguruan Tinggi favorit, tentu membuat Kota Malang menjadi salah satu pusat destinasi pendidikan pilihan yang memiliki daya tarik tersendiri dari kacamata siswa ataupun calon mahasiswa sebagai Kota Pendidikan. “Saya senang sekali melihat semuanya berkumpul di sini. Terimakasih buat pak rektor dan keluarga besar UMM karena telah mempertemukan kami di sini,” lanjutnya pada perjamuan sembari mencicipi buah Matoa asal Papua bersama Rektor UMM dan perwakilan Mahasiswa Thailand. Acara pertemuan berlangsung dengan gayeng. Di hadapan Dubes Thailand, Dr. Fauzan. M.Pd menjelaskan bahwa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah tidak semua berlatar belakang muslim, karena ada beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia, seperti di NTT dan Papua yang memiliki sekitar 17% Mahasiswa non-muslim, Papua 19% dan di UMM 10%. “Kedatangan pak Dubes Thailand ke sini, diharapkan mampu melecut semangat mereka (mahasiswa Thailand) serta menumbuhkan minat belajar para mahasiswa kita yang berasal dari Thailand ini,” tandas Fauzan. Diterimanya mahasiswa dari luar negeri, kata Fauzan, bertujuan menghadirkan atmosfer internasional di Kampus Putih. (riz/can)
UMM dan 20 PT Rumuskan Konsep Kompetensi Socio-Ecopreneur

Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) bersama perwakilan dari 21 Perguruan Tinggi (PT) Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan Nationwide University Network Indonesia (NUNI), hadir dalam agenda Presidential Meeting dan NUNI Forum guna mematangkan skema konsep kompetensi socio-ecoprenur, Jumat (4/10). “Agenda ini sebagai bentuk penguatan kerjasama antar perguruan tinggi dengan upaya membranding komunitas NUNI agar menjadi suatu sinergitas kelompok dengan peningkatan mobilitas mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan dari masing-masing perguruan tinggi,” kata Dr. H. Fauzan, M.Pd, Rektor UMM saat pembukaan. Menghadirkan pemateri dari Universitas Binus Malang, Universitas Brawijaya dan UMM sebagai bentuk perwakilan PT yang digadang berhasil mengelola unit bisnis akademis maupun non akademis terbanyak yang dimaksudkan dapat memberi masukan daripada konsep socio-ecopreneur yang menjadi tema besar pertemuan penting tahun ini. “Jika ingin menerapkan minor yang berbasis Socio-ecoprenur, maka harus melihat potensi yang ada dari masing-masing daerah asal perguruan tinggi. supaya strategis tepat sasaran, dan cocok pada stakeholder terkait. Seperti layaknya yang sudah diterapkan di BINUS,” kata Dr Ir. Boto Situmpang MBP, Rektor Binus Malang. UMM sendiri selama 3 tahun berurut-urut menggelar Festival Kebangsaan, sebagai ajang bertemunya para pelaku bisnis dan produsen, dengan hasil product research yang dihasilkan mahasiswa. Program ini dikelola oleh Wakil Direktur Bidang Pemasaran Product Research UMM yang bakal diimplementasikan di program kerja NUNI. Sementara itu, Pupung Arifin selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Universitas Atmajaya Yogyakarta mengusulkan terkait konsep kompetensi socio-ecopreneur agar terdapat skema kerjasama internasional perguruan tinggi. Sehingga skema ini dapat menambah penilaian dari Kemenristekdikti. Di sisi lain, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) berharap digalakkan pelatihan enterprenur baik digital maupun technoprenur. Juga segera didiskusikan tentang database setiap perguruan tinggi, agar bisa diakses di seluruh anggota NUNI dan dapat diadaptasi, dan dimodifikasi ulang agar kegiatan NUNI jauh lebih beragam. (yas/can)
Juara Ghina Araby Jawa-Bali, Mahasiswa UMM Asal Nabire Papua Pesankan Ini

“Ada satu hal yang saya tanamkan dalam hati, yakni jangan terlalu mudah naik (tinggi hati) atau sombong. Karena saat kamu sudah pernah juara, kamu harus tetap berlatih dan penguasaan materi itu perlu. Kebanyakan orang, saat mereka sudah juara banyak yang sombong dan menganggap orang lain di bawahnya,” ujar Al Amin Letsoin. Dilanjutkan mahasiswa asal Nabire Provinsi Papua ini, sikap jumawa dan besar kepala ini membuat orang menjadi angkuh, jadi tidak mau latihan, serta tidak mau mengembangkan diri agar menjadi lebih berkembang. “Justru hal seperti inilah yang harus dihindari. Walaupun sudah juara, tetapi kita harus tetap latihan,” ungkap Al. Jadi saat memilih lagu arab, Al harus tahu dan bisa melihat part mana yang bisa diangkat serta dimainkan sebagai improvisasi. “Nah, improvisasi lagu arab itu memiliki banyak cekukan dan cengkok. Saya tidak boleh menyamai cara menyanyi seperti mereka. Jadi saya harus mencari yang benar-benar sesuai,” sambungnya (3/10). Al yang telah banyak ikut kompetisi menyanyi ini tengah duduk di semester tujuh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil menjadi juara pertama pada kategori lomba Ghina’ Araby tingkat pelajar, mahasiswa dan umum Se-Jawa-Bali. Al menang pada Festival Araby 2019 dengan membawakan lagu Rouhi Fidak. “Sebenarnya ada tujuh lagu yang disiapkan oleh panitia. Berhubung peserta yang begitu banyak dan membludak, sehingga yang dibawakan hanya satu lagu pilihan peserta. Lagu yang saya bawakan ini maknanya lebih ke arah sholawat karena menceritakan cinta kepada Nabi Muhammad S.A.W dan saya suka artinya,” kata Al. Pria yang juga kerap disapa Amin ini berhasil menyisihkan tujuh puluhan kontestan dengan berbagai latar belakang usia. Dimulai dari siswa MTS, MA, hingga mahasiswa dan umum yang digabung menjadi satu Se Jawa-Bali. Sedangkan peringkat 2 dan 3 diraih oleh Lailatul Badriyah Fahum dan Hadi Asrori Fahum berasal dari UIN Malang. Dengan membawa nama besar UMM, Al bersama seorang rekannya yang bernama Zaki Anwar (berasal dari Fakultas Agama Islam UMM) turut andil pada kategori yang sam Ghina’ Araby. Al sendiri merupakan mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM. Tak hanya kategori lomba Ghina Araby, banyak kategori lainya yang diperlombakan. Yakni Kategori Imatoh, Kategori Khitobah, kategori Taqdimul Qishoh, Kategori Kaligrafi, Kategori Qiraatus Syi’ir, Kategori Qiraatul Kitab, dan kategori Munadhoroh Ilmiah yang berlangsung di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Surabaya. “Saya harap, ke depan UMM bisa melahirkan banyak potensi sebagai penyanyi Ghina Araby. Serta untuk kegiatan seperti ini diharapkan mampu menjadi wadah untuk mengembangkan kemampuan bahasa arab bagi para pelajar maupun mahasiswa,” pungkasnya. Kembali ditegaskan Al untuk jangan pernah merasa di atas angin. (riz/can)
Pecah Telur! Tim Debat UMM Ini Juara I Nasional Setelah Cuma Jadi Langganan Runner Up

LANGGANAN menjadi runner up dalam kompetisi debat, Tim Debater Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang beranggotakan Ana Fauzia, M. Fitrah Ashary Bangun, dan Wildan Arif akhirnya mendapatkan peringkat satu. Melalui ajang Management Education Fair 3 (MANUFAIR) di Universitas Jember, tim debat bernama “UMMI” ini meraih juara satu pada perlombaan debat ekonomi nasional. Sebelumnya, tim debat hasil kolaborasi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Hukum UMM ini sukses mencatatkan skor terbaiknya di empat event debat level nasional dengan puas hanya di posisi sebagai runner-up saja. Yang terbaru, memenangi ajang Debat Competition for University (ECOFU) Universitas Katolik Darma Cendika, Surabaya, 29 Juni 2019 lalu. Lagi-lagi cuma sebagai runner-up. Selain menjadi Juara I, lebih membanggakan lagi Fitrah juga dinobatkan sebagai Best Speaker dalam kompetisi ini. Sebelumnya mereka melalui rangkaian tahap seleksi. Untuk menghasilkan 16 besar yang bertandang dalam adu pendapat ini, mereka harus membuat essai dengan tema “Aktualisasi Peran Pemerinntah, Pengusaha, dan akademisi dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi Digital di Era Disruptif”. Dengan tema yang sudah ditentukan tersebut, mereka mengangkat ekonomi-politik berupa pengoptimalisasian tol langit Palapa Ring. “Optimalisasi tol langit atau Palapa Ring dengan menambah fasilitas wifi melalui dana desa. Langkah ini merupakan solusi tepat dalam meningkatkan ekonomi digital. Ini juga dapat mendorong kreatifitas masyarakat juga,” sebut Wildan yang juga ketua kelompok UMMI UMM. Mereka menegaskan, konsepsi tol langit Palapa Ring yang ingin dilaksanakan pemerintah ini merupakan kebijakan baik guna pemerataan sinyal, internet, dan kebutuhan teknologi digital di Indonesia, terkhusus untuk daerah-daerah terpencil. Melalui essai tersebut, mereka mampu mentransformasikan pemikiran yang didasarkan pada fakta dan teori, sehingga layak lolos seleksi hingga memenangi lomba. Dalam debat ini, mereka dapat mengalahkan tim debat dari UGM pada 8 besar, tim debat UIN Sunan Kalijaga dalam semi final, dan pada babak final, mereka berhasil mengalahkan tim debat dari STIE Perbanas Surabaya. Wildan mengaku debat kali ini lebih menegangkan dari debat yang sudah pernah mereka ikuti. Wildan dan Ana yang merupakan mahasiswa Hukum, harus belajar lagi mengenai Ekonomi. “Banyak kata-kata atau pengertian yang kita tidak tahu, tapi kita harus mempelajarinya. Apalagi mosi diberikan 15 menit sebelum tampil. Sehingga kita harus bekerja lebih ekstra lagi,” sebut Wildan. Kendala tersebut, tidak lantas membuat mereka bersantai. Dengan padatnya kegiatan mereka di luar debat, seperti tugas kuliah dan organisasi, membuat mereka harus menyepakati untuk belajar bersama setelah Subuh. “Kuncinya mau berporses dan mau diproses. Mau tidak tidur, mau Subuh-Subuh harus belajar, mau diberi saran dan disanggah. Ya, proses itu harus dilakukan. Karena kita bisa juara 1 sekarang ini, tidak lain dari hasil proses kita selama ini,” ujar Wildan. Mereka yakin, proses tidak akan mengkhinati hasil. Capaian sebagai juara satu ini tak lantas membuat mereka untuk berhenti mencapai raihan gemilang lainnya. (bel/can)
Sinergi FPP UMM dan Dunia Industri, Godok Kurikulum Profesional Unggas

Program Studi (Prodi) Peternakan Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mulai menggodok kurikulum bagi mahasiswa untuk menjadi Profesional Unggas, Rabu (2/10). Digelar dengan metode lokakarya, Prodi Peternakan UMM bersama PT. Jatinom Agri dan PT. Charoen Pokphand membahas kisi-kisi rencana pembelajaran semester (RPS) untuk 5 materi kuliah. Rencananya, mata kuliah-mata kuliah tersebut akan diberikan kepada mahasiswa semester 6 Prodi Peternakan. Dalam menjalani kuliah, mahasiswa akan menempuh 5 materi kuliah. Yakni Manajemen Pemeliharaan Sistem Close House, Teknologi dan Formulasi Ransum Unggas, Manajemen Pengendalian Penyakit Unggas, Manajemen Breeding dan Hatchery, serta Manajemen Perusahaan Unggas. Saat materi kuliah telah siap, bukan hanya dosen dari Prodi Peternakan UMM yang akan mengajar. Perwakilan dari kedua perusahaan tersebut pun akan turun tangan dan ikut mengajar. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa mendapat pengalaman langsung dari para pelaku industri, serta mengantisipasi setiap kegagalan yang mungkin dihadapi jika nantinya para mahasiswa ini terjun sebagai profesional unggas. Hidayatturrahman, Owner PT.JATINOM AGRI mengungkapkan jika UMM adalah mitra perguruan tinggi (PT) yang strategis. Di perguruan tinggi, banyak sekali sumber daya manusia yang berkualitas. Utamanya para mahasiswa yang siap dan mampu menjadi seorang profesional unggas. “UMM beda dengan lainnya, mau menjemput bola dan mau belajar, kami senang itu,” tuturnya saat memberi sambutan. “Kedepan, tuntutan zaman adalah profesionalitas,” kata Dr. Fauzan, M.Pd, Rektor UMM saat sambutan. Sejak di bangku kuliah, lanjutnya, para mahasiswa mesti ditempa menjadi profesional. Menurutnya, bukan saatnya lagi pengajaran hanya bersifat teoritis. Apalagi, era informasi digital saat ini terus menerpa. Dosen bukan lagi sumber informasi satu-satunya. Belajar dapat dilakukan di manapun dan kapan pun. Bagi Dr., Ir. David Hermawan, M.P., IPM, Dekan FPP UMM, kedepan, kerja sama antara pemerintah, dunia industri dan perguruan tinggi harus terus dibangun. Hal tersebut, ditegaskan David, untuk menciptakan sumber daya manusia unggul. UMM sendiri telah banyak melakukan sinergi dengan para pihak strategis, utamanya pelaku industri dan pemerintah. Yakni dalam pengembangan potensi daerah. (mir/can)
Kolaborasi Mahasiswa UMM dan Singapore Polytechnic Manfaatkan Limbah Whey Jadi Biogas

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Singapore Polytechnic (SP) pada program Temasek Foundation International – Specialist Community Action and Leadership Exchange (TFI-SCALE) dan Learning Express (LeX) memanfaatkan limbah Whey Mozzarella jadi bahan bakar alternatif biogas. Ha ini dilakukan di industri pembuatan keju mozarella Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Merjosari, Kota Malang. Whey sendiri merupakan sejenis cairan berwarna semi-transparan dalam jumlah yang besar. Karena sebagian besar produksi keju di dunia umumnya menghasilkan whey. Sebanyak 50% total whey yang diolah menjadi produk makanan serta minuman, sementara 50% lainnya terbuang menjadi limbah. Dengan mengusung konsep Sustainable Development Goals (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, di agenda ini mereka membuat produk yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Demikian dijelaskan Muhammad Oddy Nurfiansyah, salah satu peserta Program TFI-SCALE dan LeX dari UMM. “Tujuannya adalah untuk memenuhi need statement yaitu kami perlu mengurangi produksi limbah untuk meningkatkan laba. Dengan mendukung need statement tersebut, kami akhirnya memiliki ide membuat whey itu menjadi biogas,” tandas mahasiwa Program Studi Hubungan Internasional UMM ini. “Saya rasa proyek ini sungguh sesuatu hal yang unik karena ada banyak hal yang tidak kita dapat di sana (Singapura) bisa kita temui disini,” ujar Muhammad Iqbar Bin Hisyam selaku Student Coordinator dari Singapore Polytechnic saat ditemui di Auditorium BAU UMM, Rabu (2/10) di sela gelaran Galery Walk memamerkan produk. Sebelumnya selama 3 pekan, mereka belajar tentang Sustainable Development Goals (SDG) dan Design Thinking di Singapura. Dilanjutkan dengan dua minggu di Indonesia dan observasi ke beberapa Usaha Kecil Menengah (UKM) di Malang. Salah satunya pemanfaatan limbah Whey agar punya nilai manfaat. (riz/can)
UMM Bekali Generasi Milenial Jadi Agen Perubahan lewat Socio-ecopreneurship

Generasi Y dan Z sedang menghadapi masalah yang menantang hingga saat ini. Hal ini terutama berkaitan dengan bagaimana komunitas berkembang sedemikian rupa untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Salah satu topik yang muncul untuk meningkatkan kualitas hidup mereka adalah konsep Socio-ecopreneurship. Dengan demikian, socio-ecopreneur datang sebagai peluang yang menjanjikan. “Socio-ecopreneur merupakan generasi baru wirausaha, yang menyoroti peran mereka sebagai agen perubahan sosial,” demikian disampaikan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Syamsul Arifin MSi saat menjelaskan latar belakang penyelenggaraan Nationwide University Network in Indonesia (NUNI) 2019, 2-4 Oktober 2019 lewat tema besar menyiapkan milenial menjadi socio-ecopreneurship. “Salah satu aksi yang dapat dilakukan yakni dengan membiasakan dan melibatkan generasi muda dengan gagasan socio-ecopreneurship yang diharapkan dapat menghasilkan individu-individu yang memiliki motivasi dan dorongan diri dengan kesadaran sosial dan komitmen sosial yang tinggi,” kata Syamsul. Agenda ini akan diisi dengan Student Camp, Presidential Forum, NUNI Meeting, serta Networking Dinner. “Kesadaran sosial dan komitmen sosial yang tinggi, sambung Syamsul, yang dilengkapi dengan dorongan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan sosial atau memperbaiki masalah sosial dengan menerapkan prinsip-prinsip ilmu dan kepekaan, empati, pembuatan ide, membuat prototype dan kesediaan membantu sesama adalah kekuatan pendorong dari proses ini,” tandas Syamsul di ruangannya, Selasa (1/10) siang. Materi Student Camp sendiri berisi tentang design thinking untuk problem solving terhadap permasalahan yang dihadapi Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan basis kewirausahaan. Peserta Student Camp NUNI 2019 adalah dari mahasiswa yang terdiri dari 21 universitas dengan total 63 peserta. Student Camp akan diadakan di wilayah binaan UMM, yakni Kampung Hijau “Tempenosaurus”, Desa Beji, Kota Batu. Sementara, materi Presidential Forum berisi kebijakan-kebijakan di lingkup pendidikan tinggi untuk pengembangan perguruan tinggi. Peserta Presidential Forum adalah seluruh rektor perguruan tinggi yang menjadi anggota NUNI. Sedangkan peserta NUNI Rector Meeting adalah para Rektor/Direktur/Sederajat anggota NUNI. Dan, peserta NUNI Staf Meeting adalah staf masing-masing perguruan tinggi anggota NUNI. Dijadikannya UMM sebagai tuan rumah penyelenggaraan NUNI 2019 ini, tak lepas dari kiprah UMM yang senantiasa mengabdikan diri pada masyarakat. Utamanya melalui konsep eko-wisata atau pemanfaatan potensi daerah dengan tujuan mensejahterakan masyarakat. Kampung Hijau “Tempenosaurus” yang dijadikan venue penyelenggaraan Student Camp 2019 sebagai percontohan pendampingan yang dilakukan UMM. Jauh sebelum viralnya Kampung Hijau “Tempenosaurus”, UMM sebelumnya juga sudah melakukan pendampingan di salah satu wilayah kumuh di Kota Malang, yakni di Jodipan, Kecamatan Blimbing melalui branding Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ). Pendampingan yang berangkat dari praktikum mahasiswa Ilmu Komunikasi ini berhasil menaikkan taraf hidup masyarakat hingga keberhasilannya dilirik mancanegara. (can)
UMM Bina Nelayan dan IRT Sapeken Lejitkan Potensi Ekonomi

Kepulauan Sapeken merupakan kecamatan terjauh dan paling timur (terluar) dari Kabupaten Sumenep. Akses menuju Kepulauan Sapeken cukup sulit akibat faktor geografis dan sarana penunjang transportasi belum memadai, sehingga menyebabkan kecamatan ini semakin terisolir, mengalami kesenjangan, dan jauh tertinggal dari kecamatan lainnya, khususnya dari Sumenep daratan. Angka kemiskinan di daerah yang terletak di kepulauan Madura ini masih cukup tinggi. Sebenarnya Kepulauan Sapeken memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) berbasis bahari atau kelautan yang cukup besar dan sangat potensial untuk dikembangkan. Butuh pihak pendamping untuk melejitkan potensinya. Merasa terpanggil, tim dosen dari Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pengabdian masyarakat, yang difokuskan pada pendampingan Industri Rumah Tangga (IRT) Pembuatan Oleh-oleh khas Kepulauan Sapeken dan kelompok nelayan penangkap ikan. Kegiatan itu disponsori Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) melalui skim Program Penerapan Teknologi Tepat Guna Kepada Masyarakat (PPTTG) tahun 2019. Kegiatan ini juga berkoordinasi dengan tim Community Development (COMDEV) Kangean Energy Indonesia (KEI), sebuah perusahaan minyak dan gas (migas) yang beroperasi di Kepulauan Sapeken yang telah menginisiasi pemberdayaan masyarakat. Dr. Iin Hindun MKes, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil observasi dan riset yang dilakukan oleh beberapa dosen sebelumnya, dengan difasilitasi Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas-KEI terungkap bahwa daerah tersebut menyimpan potensi kelautan yang sangat besar. “Namun kami berfokus pada dua hal, yaitu mengangkat potensi jajanan atau oleh-oleh yang berasal dari daerah ini. Salah satu yang kami dorong adalah pembuatan abon. Tentu di sini sangat banyak ikan, udang, kepiting dan hasil lautnya. Oleh karena itu, kami juga memilih mitra kelompok nelayan, sehingga kedua mitra akan bersinergi. Satu menyuplai bahan baku, satunya mengolah menjadi produk khas Kepulauan Sapeken,” tambah Iin Hindun, Minggu (29/9). Sementara itu Thahira Hudrie, ketua kelompok dari IRT “Dapoer Emmak” menuturkan bahwa selama ini banyak persoalan atau kendala yang mereka hadapi. Kendala tersebut, yaitu penggunaan alat masih sederhana, jumlah terbatas dan manual sehingga produksi masih rendah dan pemasaran masih dalam wilayah yang sempit, serta volume yang kecil karena memang jumlah produksi sangat terbatas. Bantuan yang diberikan berupa paket mesin pembuatan abon. Ada alat pengukus atau presto sehingga pemasakan bahan baku lebih cepat dan merata. Ada pula mesin penggoreng, sehingga abon matang merata dan tidak takut gosong. juga dibantu spinner, sehingga minyak bisa dibuang, maka abon akan awet lebih lama. “Kami juga dibantu sealer dan diajarkan bagaimana kemasan yang baik. Total biaya alat ini kayaknya lebih dari 60 juta. Bayangkan kalau kami harus beli sendiri. Kami semangat untuk meningkatkan produksi dan membuat aneka produk, sehingga mengangkat nama kepulauan Sapeken,” ujar Thahira semangat. Di tempat terpisah Husni Mubarak, koordinator kelompok nelayan “Sapeken Sejahtera” menginformasikan, sebelumnya permasalahan yang mereka hadapi adalah keterbatasan biaya sehingga hanya memiliki perahu yang kecil, mesin tenaga kecil (GT kecil), akses penerangan dan navigasi yang lemah, dan pemasaran hasil tangkapan yang tidak maksimal. “Kami berterimakasih mendapatkan bantuan kapal atau boat. Lumayan besar. Sekitar 3 sampai 4 GT. Sudah ada mesinnya juga. Kapal pun sudah dilengkapi dengan tenaga surya. Jadi bila malam, penerangan sesuai dengan keinginan”, imbuh Husni yang mengaku sejak sekolah dasar sudah menjadi nelayan itu. Husni juga mengaku bahwa setelah adanya kapal ini, hasil dan pendapatan meningkat berkali-kali lipat. Mereka juga lebih berani menangkap ikan agak jauh karena kapal dan mesin sudah layak. Hasil tangkapan mereka juga terjamin pemasarannya karena minimal sudah bekerjasama dengan IRT pengolahan abon. (can)
UMM Terima Hibah Benda Budaya Sesepuh Senirupa Malang

Dalam rangka menghadirkan karya seni di lingkup civitas akademika sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, keluarga besar ibu Hj Dedy S. Winoto menghibahkan 200 lebih karya seni sebagai benda budaya hasil karya almarhumah. Dedy S. Winoto sendiri merupakan salah satu panutan senirupa di kota Malang kepada Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Almarhumah menginginkan bahwa pendidikan senirupa harus berkembang lebih lanjut, walaupun beliau sudah tidak di sisi kita lagi. Tapi di sini kami membawa tiga sampel utama saja dan kami akan membawakannya lengkap saat ruangannya telah siap, untuk pengembangan pengetahuan bidang senirupa,” ungkap Bambang Hardiyanto selaku adik dari Hj. Dedy S. Winoto. Tiga sampel itu berupa patung Ganesha berukuran kecil, patung abstrak terbuat dari batok kelapa, serta sebuah lukisan yang secara visual terlihat seperti anak kecil sedang membelakangi. Turut dihadiri pula oleh Anthony Wibowo (salah satu Dedy), Slamet Henkus (pelukis nasional), Dr. H. Fauzan, M.Pd (Rektor UMM), Keluarga besar Dedy S Winoto, serta Civitas Akdemika UMM. “Pemberian hibah ke UMM ini sesungguhnya terjadi di luar kehendak kita semua. Dimulai saat silaturahmi ke rumah beliau, lalu terjadilah keinginan bu Dedy yang disampaikan kepada kami. Saya kira UMM bisa menerima. Kami langsung menyampaikan kepada pak rektor dan langsung setuju. Tentu ini adalah suatu embrio sentuhan peringatan untuk UMM agar kedepannya lebih dekat kepada seni dan budaya,” ungkap Dr. Wahyudi, M.Si selaku moderator yang juga dosen Sosiologi UMM. Kedepan Perpustakaan Pusat UMM lantai 1 akan disediakan sebuah ruangan untuk mengumpulkan benda-benda baik itu dari Hibab alm. Dedy S Winoto maupun karya seni dan budaya yang lain, bersama Lembaga Kebudayaan (LK) UMM akan membuat kajian rutin bulanan terkait seni dan budaya Nusantara. “Tentu ini adalah suatu anugrah yang memiliki nilai sindiran, agar UMM selalu meningkatkan atau merefleksikan nilai-nilai budaya. Tentu ini juga merupakan tanggungjawab dan keyakinan semua pada apa yang telah diserahkan ini, memiliki makna edukasi pada civitas akademika UMM utamanya dan pada umumnya mereka yang sedang berkunjung ke UMM,” pungkas Dr. H. Fauzan, M.Pd selaku Rektor UMM. (riz/can)
Mahasiswa Hukum Dibekali Skill Jadi Advokat Profesional

Fakultas Hukum Universitas Muhamadiyah Malang (FH-UMM) selalu berkomitmen untuk menjadikan mahasiswanya sebagai lulusan yang siap untuk di terjunkan di dunia kerja. Hal ini ditunjukan melalui pemberian ide, program dan kegiatan yang bervariasi mengikuti dengan perkembangan dan kebutuhan. Bersama laboratorium Hukum, salah satu program yang dilakukan ialah mengadakan Pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum (PLKH) sebagai materi kuliah yang harus ditempuh mahasiswa hukum setiap semester dengan jumlah 2 SKS. Dengan menyajikan tema yang berbeda di tiap semester, kali ini PLKH I dan III mengusung tema Legal Managerial dibawakan oleh Dr. Soehartono Soemarto dari Law Firm Soehartono Soemarto & Rekan, S.H., M.Hum dan tema Mediasi oleh Judi Prasetyo, SH., M.H. dari Pengadilan Negeri Malang, (28/9). Diikuti ratusan mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2016, seminar ini diselenggarakan di Seminar Room GKB 4 Lantai 9 UMM. Pada materi pertama Soehartono membahas terkait kompetensi, kepribadian dan skill management dan suka duka menjadi seorang pengacara. Ceritanya berangkat dari pengalamannya sebagai seorang advokat selama 38 tahun. Lebih jauh, Soehartono menegaskan jika sudah berkecimpung di dunia pengacara, maka wajib hukumnya memperdalam masalah masalah yang hadir dalam masyarakat. “Jangan pernah langsung mempercayai apa kata client, kalian harus mencari tahu dari dua sisi dahulu baru bisa menyimpulkan” jelasnya. Dilanjutkan dengan materi ke dua, Judi yang juga selaku Wakil Ketua Pengadilan Negeri Malang menjelaskan, mediasi sendiri diartikan sebagai salah satu alrternatif penyelesaian sengketa yang dilakukan dengan 3 tahap, yakni pra, mediasi dan pasca mediasi dengan menandatangani kesepakatan 2 belah pihak. Ke dua topik tersebut sangat relevan untuk mahasiswa hukum dalam mempersiapkan banyak hal sebelum mereka magang dan terjun ke dunia kerja. Selebihnya, materi-materi yang sudah disampaikan akan dibawa ke lapangan seperti mengunjungi ke firma hukum terkait sebagai bentuk realisasinya. “Di kelas sendiri, mahasiswa juga mendapat materi terkait PLKH selama 3 hari dengan dosen masing-masing. Melalui PLKH mahasiswa mendapat kajian ilmu secara praktis langsung dari ahlinya”. Ujar Wahyudi Kurniawan, SH. M,Hli selaku Kepala Lab Hukum FH UMM. (yas/can)