Mahasiswa Harus Berkhidmat Memajukan, Mencerdaskan dan Mencerahkan Bangsanya

Membekali para mahasiswa baru 2019/2020 dalam mengawali studi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Kuliah Umum Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba). Bertempat di Hall Dome UMM, acara menghadirkan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. KH. Haedar Nasir, MSi, (2/9). Dalam paparannya, Haedar menyampaikan bahwa kehadiran Muhammadiyah bertujuan untuk mencerdaskan, memajukan dan mencerahkan umat, bangsa, dan kemanusiaan. Untuk itu, lanjutnya mahasiswa di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah hendaknya tidak hanya sekedar menjadi mahasiswa formal. “Tetapi juga mampu menjadi mahasiswa yang betul-betul punya karakter sebagai calon-calon intelektual, calon-calon cendekia, bahkan calon-calon ulil albab yang bisa menjadi kekuatan pencerah, baik untuk diri sendiri, keluarga, umat, bangsa dan kemanusiaan semesta,” ujarnya di hadapan 7611 mahasiswa baru UMM. Ia lalu membeberkan perananan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang pada usia muda memiliki peranan besar dalam memajukan bangsa. Mereka adalah KH. Ahmad Dahlan, Ir. Djuanda dan Jendral Sudirman. Mengawali perjuangan sebagai anak-anak muda yang cerdas dan tercerahkan, ketiganya kemudian hadir menjadi tokoh bangsa yang berperan besar dalam kemerdekaan dan membangun Indonesia. “Mahasiswa harus belajar dari tokoh-tokoh tersebut dan menatap masa depan untuk menjadi orang-orang yang bermakna bagi kehidupan. Karena, orang terbaik di mata Islam adalah mereka yang memberi manfaat untuk orang lain,” sebutnya. Untuk menjadi mahasiswa yang berkarakter dan bermanfaat bagi orang lain, Haedar berpesan agar terus menempa diri. Ia juga meminta para mahasiswa untuk terus menjaga tradisi literasi. “Iqra’ yang kekuatannya tidak hanya terpancar ke langit, tetapi ilmunya memancarkan sinar kemajuan ke seluruh alam semesta,” tandasnya. Haedar pun berpesan agar para mahasiswa baru UMM nantinya menjadi pemimpin-pemimpin besar yang meneruskan tradisi UMM dalam melahirkan pemimpin-pemimpin besar. “Generasi emas harus lahir, satu di antaranya adalah mahasiswa yang mau berkhidmat memajukan, mencerdasakan dan mencerahkan bangsanya tanpa pamrih. Jika kalian jadi tokoh, jangan mementingkan diri sendiri, kelompok sendiri, tetapi perhatikan dan perjuangkan kepentingan umat bangsa bahkan kemanusiaan universal. Itulah semangat Muhammadiyah dan Islam rahmatan lil alamin,” tuturnya. Di akhir Haedar mengingatkan agar para mahasiswa baru selalu semangat dalam berjuang, tidak lelah bekerja keras untuk membawa membawa kebaikan bagi masyarakat luas. “Masa depan itu milik orang-orang yang mau berjuang, di kala kalian ada di tengah kemudahan, saya percaya kalian bisa berjuang, sukses lebih baik lagi. Semuanya tergantung pada kemauan, kesungguhan, kerja keras dan selalu berbuat baik pada orang tua, dosen, guru dan orang yang kita tuakan. Sekaligus juga selalu berkhidmat untuk memajukan, mencerahkan dan mencerdaskan umat bangsa dan kemanusiaan universal sebagai wujud dari peran rahmatan lil alamin,” pungkasnya. Turut hadir Ketua Badan Pembina Harian UMM yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. (bel/can)
Hadiri Pembukaan Pesmaba Dibonceng CB Lawas

Motor Honda CB lawas barangkali jadi objek paling ikonik pada sesi opening resepsi Pengenalan Studi Mahasiswa (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (2/9). Pasalnya, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd terlihat necis dalam video pembuka berdurasi tiga menitan itu. Meski hanya gimik, aksinya itu diapresiasi 7000an mahasiswa baru (Maba) UMM yang memenuhi Hall Dome UMM. Video garapan sutradara Rino Anugrawan selaku staf Humas dan Protokoler UMM ini, diceritakan Fauzan terjebak gawe hajatan yang menghambatnya menuju lokasi pembukaan Pesmaba. Di tengah kendala itu, kebetulan Fauzan bertemu mahasiswa barunya yang tengah mengisi bahan bakar. Tanpa berpikir panjang, Fauzan bersedia dibonceng dengan mengendarai motor yang ngetrend di era 80an itu. Pasca diputarnya video opening itu, seantero ruangan Dome UMM riuh dengan tepuk tangan. Rektor Fauzan masuk mendampingi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Badan Pembina Harian UMM yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., juga Mendikbud RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Bukan kali ini saja Rektor UMM mau ‘direpotkan’ dengan skenario gimik kreatif ini. Sebelumnya, pada video opening Pesmaba tahun lalu (2018), Fauzan bahkan ‘menerbangkan’ salah satu pesawat jet milik satuan TNI Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, Malang. Fauzan tampak gagah membelah udara untuk hadir di pembukaan Pesmaba yang dibuka oleh Mantan Ketua MK, Mahfud MD. Sebelumnya, juga dilakukan apel pagi Pembukaan Pesmaba UMM 2019 di Lapangan Helipad UMM. Marsekal Pertama TNI Hesly Paat, Komandan Pangkalan TNI Udara (Danlanud) Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, yang diberi kehormatan dengan didapuk sebagai inspektur upacara pembukaan. Delapan penerjun profesional dari TNI Angkatan Udara juga jadi kejutan. (*can)
Delapan Penerjun Payung Ambil Bagian dalam Pesmaba UMM 2019

Sebanyak delapan penerjun turut andil dalam upacara pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) 2019 di lapangan Heliped Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Marsekal Pertama TNI Hesly Paat, Komandan Pangkalan TNI Udara (Danlanud) Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, yang diberi kehormatan dengan didapuk sebagai inspektur upacara pembukaan. Ke delapan penerjun profesional dari TNI Angkatan Udara Abdulrachman Saleh ini yakni Lettu Pas Archie Arpega, Serma Supriyadi, Serka Agus W, Serka Dahwit, Kopda Jainu, yang berasal dari Batalyon Komando 464 Paskhas serta Sertu Edi Gusyono , Serda Ari Pujo, dan Serda Agung Prayitno dari Denmatra 2 Paskhas, yang menjadi penerjun payung dalam gelaran Upacara pembukaan ini. “Saya menyampaikan ucapan selamat kepada para mahasiswa dan mahasiswi baru UMM. Karena di satu sisi predikat mahasiswa merupakan suatu kebanggaan, namun di sisi lain menuntut kemandirian dan kedewasaan guna mewujudkan cita-cita sebagai sarjana yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, agama dan negara di masa depan,” ujar Hesly Paat dalam amanatnya saat upacara. Dihadapan 7611 Mahasiswa baru (Maba) dan 93 mahasiswa asing yang berasal dari 24 negara, rektor UMM beserta jajarannya, serta Civitas Akademika UMM, empat dari delapan penerjun berhasil mengibarkan Sang Saka Merah Putih dan menghiasi langit-langit yang ada di sekitaran Kampus Putih. Selain itu dibawakan pula bendera Muktamar, bendera UMM dan tidak lupa bendera bertuliskan “Pesmaba”. “Inilah orientasi yang hendak kami ciptakan sehingga generasi yang masuk menjadi mahasiswa baru tentu harus kita sikapi berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka adalah generasi milenial, yang akan hidup dalam dunia teknologi. Oleh karena itu, perubahan mindset seluruh warga UMM telah kita siapkan untuk menyambut itu.” tandas Dr. H. Fauzan, M.Pd saat ditemui usai upacara. Acara dilanjutkan resepsi Pembukaan Pesmaba di Hall Dome UMM. Perhelatan diisi dengan orasi ilmiah oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., dan dihadiri Ketua Badan Pembina Harian UMM yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., juga Mendikbud RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. (Riz/can)
Persembahkan Kursi Wisuda VIP untuk Orang Tua

Bercita-cita mengantarkan kedua orang-tuanya untuk duduk di kursi VIP wisuda, Siti Malikatul Mushowwiroh mahasiswi angkatan 2015 Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) terbaik dengan angka 3.98 pada gelaran wisuda ke-93 periode III UMM. Selain ingin membanggakan orangtua, wanita yang akrab disapa Malika ini memiliki motivasi lain yang ingin ia capai, yakni dengan mencatatkan namanya sebagai wisudawan terbaik asal Lombok. Seperti yang telah diraih oleh seniornya yakni Alhamdu Ramadhan (IPK 3,99). Selain itu ia juga disupport oleh senior lain yang tak kalah berprestasi seperti Lutfiya Al Qarani dan Alwafi Ridho Subarkah. Menjadi mahasiswi yang awalnya hanya kupu-kupu (kuliah-pulang), membuatnya bosan dengan ruitinitas yang hanya itu-itu saja. Hingga akhirnya ia aktif di beberapa organisasi seperti Indonesia International Studies Academic Utilization Community (IISAUC) UMM, English Debating Society-International Language Forum, Centre of Intermestic Studies, dan Model United Nation Club UMM. “Untuk siklus perkuliahan, aku termasuk orang yang biasa-biasa aja. Kayak, ada kan, orang yang siklus perkuliahannya dia rajin banget terus ulet banget atau yang males banget atau yang sedang-sedang saja. Nah, aku adalah orang yang sedang-sedang. Karena dari awal perkuliahan itu, aku enjoy aja nggak terlalu sampe yang rajin banget,” cerita Malika saat diwawancarai Selasa (27/8) siang. Malika lantas membagi tips manajemen waktu. ”Seenggaknya kita harus ada prioritas sendiri dalam perkuliahan, bahwa aku ini di kelas keaktifannya bagaimana di luar kelas keaktifannya bagaimana. Jadi, aku membagi waktuku menjadi 60-40. 60% di kelas sedangkan untuk 40%-nya aku aktif di luar kelas, karena kita juga harus menyeimbangkan antara akademik dan non-akademik,” tuturnya. Selama kuliah, banyak pengalaman yang Malika peroleh. Utamanya pengalaman internasional. Di tahun 2017, Malika menjadi University’s delegation untuk Asia-Pasific Model United Nations Conference (AMUNC) di Hongkong University, Hongkong; peraih juara pertama Essay Competition di Asia –Oceania Symposium, serta; salah satu dari 20 pemenang dari Write to China Essay Competition di Beijing. “Dari awal saya sudah memiliki set prioritas agar bisa lulus dengan nilai sempurna dan menjadi yang terbaik. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara, sehingga saya minimal wajib memberi teladan yang baik untuk kedua adik saya nantinya,” pungkas putri pasangan Muhammad Zaini M.Sy dan Khairul Bariyah S.Pd ini. Malika mengaku bangga mempersembahkan gelar wisudawan terbaik ini untuk keduanya. (riz/can)
Kunci Kemajuan Bangsa Ada di Kebudayaannya

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) Hilmar Farid menyebut, kunci kemajuan setiap bangsa sesungguhnya terletak pada kebudayaannya. “Percuma saja kita menggunakan teknologi yang maju. Akan tetapi, ketika kebudayaannya tidak maju, tidak ada gunanya kita menggunakan smartphone tercanggih tapi masih percaya kepada hoax. Ini adalah salah satu problem kebudayaan,” kata Hilmar. Hilmar hadir saat didapuk mengisi orasi ilmiah pada gelaran wisuda ke-93 Periode III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Sabtu (31/8) siang. Prosesi wisuda juga dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P, Ketua Badan Pembina Harian UMM yang Juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., perwakilan Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syafri Syairin, Ph.D. “Kita bisa melihat persoalan seperti ini dalam kehidupan sehari-hari banyak fasilitas publik yang dirusak, karena kemungkinan besar penggunanya dan tidak ada informasi yang cukup untuk orang mengupgrade pengetahuannya,” ungkap Hilmar. Dalam setiap menyelesaikan permasalahan, diperlukan pemimpin di era Industri 4.0 yang punya kemampuan berkomunikasi, kecepatan mengambil keputusan, serta kolaborasi. Dan di tiap tingkatan ini sangat diperlukan kerjasama. Sementara itu, Menteri Muhadjir juga turut berpesan kepada para wisudawan. Bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah bukan sekadar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi juga kemampuan beradaptasi untuk menguasai situasi yang terus berubah dan situasi yang terus berkembang. “Pesan saya kepada wisudawan dan wisudawati agar memiliki kemampuan tingkat adapatasi itu, jangan sampai terdistrupsi karena gagal dalam beradaptasi,” ujar Muhadjir. Tak kalah penting, Ketua Badan Pembina Harian UMM yang merupakan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI, Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. juga turut berpesan. Saya harapkan seluruh wisudawan dan wisudawati menjadi sarjana-sarjana di era digital sekaligus, yang mampu menyongsong, mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Yang selalu menjaga Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan selalu teguh berpegang ideologi falsafah Negara Pancasila,” kata Malik. Wisuda kali ini mengukuhkan kelulusan bagi Program Pendidikan Doktoral, Magister, Sarjana, Diploma III dan Program Pendidikan Profesi. Keputusan ini berdasarkan yudisium serta hasil rapat pimpinan 15 agustus 2019. Jumlah lulusan wisuda 93 periode III sebanyak 2461 orang, terdiri dari 1084 wisudawan 1377 wisudawati. Pada gelaran akhir wisuda juga diserahkan kartu alumni yang diserahkan secara simbolik oleh Rektor UMM Fauzan. (riz/can)
Lima Pilar Penguatan Mutu Perguruan Tinggi Menurut Tim SPMI Kemenristekdikti

Ada lima pilar penting yang menguatkan mutu sebuah perguruan tinggi. Yakni sinergi antara pengelola dan penyelenggaran pendidikan, keorganisasian, tata kelola, kepemimpinan dan penjaminan mutu. Kelima hal tersebut harus dimiliki oleh suatu lembaga pendidikan tinggi agar terus berkembang dan semakin maju. “UMM telah menjadi salah satu perguruan tinggi yang bermutu,” puji Ir. Desiana Vidayanti M.T, Tim Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Ristekdikti. Menurutnya, UMM menjadi salah satu contoh universitas swasta yang mapan dalam sistem pengelolaan pelayanan pendidikannya. Pada Rabu (28/8) siang, UMM bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemristekdikti) menggelar Sinkronisasi Sistem Penjaminan Mutu Internal dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (IAPT 3.0 dan IAPS 4.0) di Ruang Sidang Senat (RSS) Kampus III, Kampus Putih UMM. Bila kelima pilar tersebut tidak diterapkan, menurut Desiana di hadapan 17 Universitas swasta Jawa Timur, bisa saja akan terhambat pertumbuhannya. Ia kemudian mencontohkan pada bidang keorganisasian. Dalam struktur organisasi harus ada kepemahaman dan kejelasan masing-masing tugas yang diemban. Mutu, lanjut Desiana, menjadi elemen yang sangat penting. Mutu yang menentukan suatu PT akan berlanjut dan berusia panjang atau tidak. “Jika mutu tidak dicek dan dijaga secara berkala, maka hampir dipastikan mutu yang dimiliki juga tidak akan terkontrol,” ungkap Desiana, dosen Universitas Mercubuana Jakarta ini. Jika perguruan tinggi tidak menaruh perhatian pada penjaminan mutu, selain merugikan perguruan tinggi sendiri, juga dapat merugikan mahasiswanya. Dalam pelaksanaannya, perguruan tinggi diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014, tentang penyelenggaraan pendidikan tinggi dan pengelolaan pendidikan tinggi. Bagi Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd, pendekatan SPMI itu dimulai dari perubahan mindset. Bilamana mindset yang dimiliki belum baik, yang akan dikerjakan pun akan kurang baik. Perguruan Tinggi bertugas untuk membangun kepercayaan pada masing-masing pihak (stakeholder) melalui penjaminan mutu perguran tinggi. “Pelayanan yang diberikan juga tentu harus terjamin. Hal tersebut sangat mempengaruhi kepercayaan stakeholder maupun para mahasiswa dan circle sosialnya,” kata Fauzan. Selain Desiana, pertemuan ini juga turut menghadirkan Ir. Bambang Suryoatmono, Ph.D yang juga dari Tim Pengembangan SPMI. (mir/can)
Kuasai 3 Bahasa Asing, Mahasiswa UMM Ini Menangi Ajang Duta Bahasa Jawa Timur 2019

Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) lagi-lagi mengharumkan nama UMM setelah mendapat predikat Duta Bahasa Jawa Timur 2019. Rima Nabila Dian Agustin salah satu mahasiswa Prodi Psikologi yang sukses mendapat Juara 1 mengalahkan peserta lainnya. Perjuangan untuk mendapatkan predikat di ajang bergengsi ini bukan yang pertama kali diikuti oleh Rima, ia disapa, gadis kelahiran Agustus 1997. Sudah yang ke tiga kalinya Rima ikut. Yakni 2017 hingga tahun 2019, yang membuat Rima selalu belajar dari kesalahan. Duta Bahasa sendiri juga mengikuti kebijakan dari Kemendikbud tentang kebijakan Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah dan kuasai Bahasa Asing, sebagai salah satu bentuk penilaian dari ajang bergengsi tersebut. Rima juga aktif dalam kegiatan kebahasaan yang dilaksanakan selama KKN dengan membuat Program Teater Anak Pintar (TENAR) dan membuat buku Aktifitas yang mencakup cerita rakyat dan lagu-lagu nasional, dengan bertujuan meningkatkan budaya literasi. Selain Indonesia, Rima juga ternyata menguasai bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Korea dan menguasai kesenian daerah seperti menari Tari Bapang Malangan, dan Nyinden menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk mendapat penilaian tertinggi. “Saya tidak pernah belajar khusus kesenian daerah. Saya hanya belajar otodidak dari YouTube. Dari hasil belajar itu, saya banyak berhasil melewati setiap seleksi hingga memenangi ajang ini,” ungkap putri pasangan Ayah Nahar Wibowo dan Ibu Etty Yuliartanti. Menariknya, penguasaan bahasa Rima terbilang unik. Dara cantik yang gemar menonton Korean Drama (K-Drama) ini mengaku piawai berbahasa Korea dari nonton film. Tak seperti saat dia menguasai bahasa Jerman, yang memang dipelajarinya sedari sekolah menengah atas. Selain itu, selama menjadi mahasiswa aktif UMM Rima juga pernah menyabet gelar bergengsi lainnya, seperti Duta Mahasiswa Genre Putri Kota Malang, Wakil 1 Kakang Mbakyu Kota Malang, Putri Kampus UMM 2018 dan Putri Taruna Nusantara Jawa Timur 2019. Atas raihannya di tingkat provinsi, Rima berhak melaju ke tingkat nasional mewakili provinsi Jawa Timur ke Ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2019. Seleksi itu menobatkan Rima sebagai Duta Bahasa Tingkat Nasional Harapan 1, menyisihkan dari 34 Provinsi lain. Meski tak menjadi yang terbaik, Rima mengaku ingin menginternasionalisasi Bahasa Indonesia. Saat ini ia tengah mempersiapkan diri menjadi duta Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Dengan modal kepiawan bahasanya sekarang, ia yakin bisa mengglobalkan bahasa Indonesia. (yas/can)
Digembleng Dua Bulan, Lulusan UMM Siap Jadi Digipreneur

Prof. Dr. Syamsul Arifin M.Si. selaku Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyebut, pesatnya perkembangan Informasi dan Teknologi (IT) pada saat ini membuat segala kebutuhan manusia dapat terpenuhi dengan mudah. Bahkan berkat kecanggihan IT dapat merubah gaya hidup dalam suatu masyarakat. Demikian pesan yang disampaikan Syamsul dalam kesempatan menutup acara Program Beasiswa Digital Talent Schoralship 2019 di Aula Teknik Gedung Kuliah Bersama III lantai 6, Kamis (22/8) kemarin. Dalam kesempatan ini dihadiri oleh 100 peserta Digital Talent Scholarship 2019 dari mahasiswa Teknik Informatika UMM. Sebelumnya, peserta telah mendapatkan materi dan juga uji kompetensi selama 2 bulan. Syamsul lantas pengapresiasi agenda ini. “Kegiatan seperti ini sangatlah bagus, karena memberikan kompetensi dan juga peluang kepada milenial sebagai seorang digital entrepreneur untuk dapat optimis melihat masa depan,” tutur syamsul. Syamsul juga memberi contoh nyata di mana gaya hidup masyarakat perkotaan di Indonesia saat ini sudah berubah. Ia mencontohkan keberhasilan seorang Nadiem Makarim yang tidak lain adalah pendiri serta CEO dari Go-Jek. Berkat adanya aplikasi Go-Jek, segala kebutuhan kita dapat terpenuhi dengan sangat mudah. “Gaya hidup terdahulu sangatlah ownership, di mana kalau tidak naik mobil itu tidak keren. Tapi untuk saat ini yang dicari bukanlah mobil, akan tetapi akses. Di mana tidak punya akses berarti tidak keren,” tegas Syamsul. Selain dihadiri Syamsul, kegiatan ini dihadiri pula oleh Dr Ahmad Mubin MT, selaku Dekan dari Fakultas Teknik. Dalam kesempatan ini Dr. Ahmad Mubin menyampaikan ungkapan terimakasih kepada KOMINFO, lantaran telah memberikan kepercayaan kepada UMM. Dalam hal ini UMM menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Swasta yang dipercaya untuk menyelenggarakan Pelatihan Digital Talent Scholarship 2019 ini. Selain mendapat materi dan juga pengalaman, para peserta juga mendapatkan sertifikat dan juga uang saku dari Kominfo. Ahmad juga menyampaikan beberapa pesan kepada para peserta. “Teruslah kalian menggali potensi yang ada pada diri kalian dan carilah pengalaman sebanyak-banyaknya,” tutup Mubin. Uji kompetensi yang mereka jalani membuat mereka siap bersaing di dunia pekerjaan kekinian. Para peserta yang lulus dalam program beasiswa pelatihan ini, nantinya akan diproyeksikan untuk magang di beberapa perusahaan start up terkemuka seperti Bukalapak, Tokopedia, GOJEK dan perusahaan startup raksasa lain. (mir/can)
1000Startup, Ikhtiar Lahirkan Banyak Unicorn Baru

Indonesia menjadi salah satu negara dengan empat perusahaan startup yang telah masuk ke dalam level Unicorn. Level ini disematkan bagi perusahaan startup yang memiliki pendapatan valuasi sebesar USD 1 miliar. Beberapa di antaranya adalah Go-Jek dan Tokopedia. Untuk menggenjot pertumbuhan startup-startup baru, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) meluncurkan program 1000Startup. Program ini ditujukan untuk menumbuhkan startup-startup baru melalui pembinaan 6 bulan. 1000Startup dengan program awalnya yakni ignition dilaksanakan di beberapa kota. Salah satunya di Malang. Kali ini, Sabtu (24/8), Kominfo menggandeng kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai official partner. Event ini dihelat di Hall Dome UMM. Pembicara dan panelis yang hadir yakni Angki Yudistia (Founder dan CEO Thisable Entreprise), Alif Hanif (Senior Product Manager Bukalapak), Bimo Prasetio (Founder Smartlegal.id), Adila Inda (Senior Vice President Sales & Marekting Ruang Guru), dan Tri Kurniawan (Kata.ai). “Ini adalah kesempatan besar saudara sekalian untuk berani mewujudkan mimpi,” tutur Yudi Suharsono, S.Psi., M.Si., Kabiro Kemahasiswaan UMM. Di era industri 4.0 ini, lanjutnya, segalanya telah bertransisi. Ia mendorong para mahasiswa untuk terus bermanfaat melalui hal-hal kreatif. Acara yang bertajuk Seribu Mimpi, Seribu Karya, Seribu Solusi Untuk Satu Indonesia Raya ini pun dihadiri lebih dari 1000 peserta. “Kami tak menyangka responnya sedemikian besar,” ungkap Adhina Paramita, Strategist Partner penyelenggaraan pelatihan 1000Startup. Untuk menopang hal ini Sadjan, Sekretaris Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo yang menyambut baik semangat mensukseskan 1000Startup. “Pemerintah telah merampungkan Palapa Ring (Serat yang dipasang di laut dan darat di seluruh penjuru Indonesia),” katanya. Di Kota Malang sendiri, Walikota Malang, Dr. Sutiaji menyambut baik program 1000Startup. Bahkan dirinya berencana mendirikan infrastruktur mendukung hadirnya iklim kreatif di Kota Malang. Penggarapannya sendiri dimulai tahun 2019 dan ditargetkan rampung 2020. “Sejalan dengan dijadikannya Kayutangan sebagai ibukota Heritage Malang Raya, nanti di ruas kanan dan kiri jalan Kayutangan akan dijadikan sebagai tempat untuk display startup-startup Malang,” sebut Sutiaji yang juga hadir mendukung program 1000Startup. UMM sendiri baru-baru ini diamanahi Kominfo untuk menggelar Digital Talent Scholarship 2019, ajang pencarian bakat-bakat pengusaha unggul di dunia digital. Sedikitnya 100 alumnus Teknik Informatika UMM digembleng menjadi seorang digital entrepreneur (Digipreneur). (mir/can)
HI UMM Tuan Rumah Kursus Hukum Humaniter Internasional

Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperoleh kebanggaan menjadi tuan rumah International Humanitarian Law Course. Kursus hukum humaniter tersebut merupakan agenda tahunan International Committee of the Red Cross (ICRC) Regional Delegation Indonesia-Timor Leste. Diikuti sebanyak 45 peserta dari berbagai perguruan tinggi, kementerian, dan lembaga swadaya masyarakat dari Indonesia dan Timor Leste. Acara berlangsung pada 19-23 Agustus 2019 di Amarta Hills Hotel and Resort, Kota Batu. Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si dalam sambutannya menyambut baik kepercayaan ICRC untuk memilih UMM menjadi tuan rumah. Menurutnya, kursus hukum humaniter menjadi penting untuk memahami pentingnya misi kemanusiaan terutama dalam situasi perang. Tambahnya, agama merupakan manifestasi untuk mewujudkan kemanusiaan. Namun demikian, sambung Syamsul yang merupakan guru besar Sosiologi Agama ini, ironisnya tidak ada agama manapun yang akan terhindar dari adanya perang. Untuk itu, lanjutnya, memahami nilai dan substansi kemanusiaan dalam perang adalah hal yang fundamental, sebagai pengejawantahan ajaran agama sekaligus penghargaan terhadap hak asasi manusia. Sementara itu, Direktur Otoritas Pusat dan Hukum Internasional Kemenkumham Tudiono memandang bahwa seiring dengan kompleksitas konflik bersenjata yang didukung dengan modernisasi persenjataan, maka perlindungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan harus ditingkatkan. “Dalam konteks Indonesia, pemerintah Indonesia terus berusaha memastikan terlaksananya penghormatan terhadap hukum humaniter internasional, salah satunya melalui penyusunan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 diikuti dengan peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2019,” tandasnya. Untuk itu kegiatan ini, menurutnya, menjadi penting dalam membantu proses penyelarasan dan penyempurnaan hukum humaniter Indonesia terhadap hukum humaniter internasional. Sekaligus menjalin sinergitas antara pemerintah dan stakeholders, salah satunya ICRC dan perguruan tinggi. Lebih lanjut, Dr. Alina Permanasari dari Fakultas Hukum Universitas Trisakti sebagai salah satu pemateri dalam paparannya menegaskan bahwa dalam peristiwa konflik bersenjata, bukan hanya masyarakat sipil yang harus mendapat perlindungan. Bahkan hukum humaniter internasional mengatur kewajiban kedua belah pihak yang berkonflik untuk melindungi benda-benda budaya, seperti bangunan bersejarah, situs prasejarah, hingga manuskrip. Hal ini menunjukkan perang memiliki aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pihak. Selama lima hari, acara diisi dengan penyampaian materi dan diskusi tentang hukum humaniter internasional dari berbagai pakar. Hadir sebagai pemateri di antaranya dari ICRC Indonesia-Timor Leste, Kushartoyo B.S., Donny Putranto, Novriantoni Kaharuddin, serta Muhammad Awfa. Kemudian Mayor Ahmad Fadilah, Brigjen (Purn.) Natsri Anshari, Laksamana Kresno Buntoro dari kalangan TNI serta Yunizar Adiputera dari kalanagan akademisi, dan Azharuddin dari Kemenkumham Republik Indonesia. (*/can)