1000Startup, Ikhtiar Lahirkan Banyak Unicorn Baru

Indonesia menjadi salah satu negara dengan empat perusahaan startup yang telah masuk ke dalam level Unicorn. Level ini disematkan bagi perusahaan startup yang memiliki pendapatan valuasi sebesar USD 1 miliar. Beberapa di antaranya adalah Go-Jek dan Tokopedia. Untuk menggenjot pertumbuhan startup-startup baru, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) meluncurkan program 1000Startup. Program ini ditujukan untuk menumbuhkan startup-startup baru melalui pembinaan 6 bulan. 1000Startup dengan program awalnya yakni ignition dilaksanakan di beberapa kota. Salah satunya di Malang. Kali ini, Sabtu (24/8), Kominfo menggandeng kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai official partner. Event ini dihelat di Hall Dome UMM. Pembicara dan panelis yang hadir yakni Angki Yudistia (Founder dan CEO Thisable Entreprise), Alif Hanif (Senior Product Manager Bukalapak), Bimo Prasetio (Founder Smartlegal.id), Adila Inda (Senior Vice President Sales & Marekting Ruang Guru), dan Tri Kurniawan (Kata.ai). “Ini adalah kesempatan besar saudara sekalian untuk berani mewujudkan mimpi,” tutur Yudi Suharsono, S.Psi., M.Si., Kabiro Kemahasiswaan UMM. Di era industri 4.0 ini, lanjutnya, segalanya telah bertransisi. Ia mendorong para mahasiswa untuk terus bermanfaat melalui hal-hal kreatif. Acara yang bertajuk Seribu Mimpi, Seribu Karya, Seribu Solusi Untuk Satu Indonesia Raya ini pun dihadiri lebih dari 1000 peserta. “Kami tak menyangka responnya sedemikian besar,” ungkap Adhina Paramita, Strategist Partner penyelenggaraan pelatihan 1000Startup. Untuk menopang hal ini Sadjan, Sekretaris Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo yang menyambut baik semangat mensukseskan 1000Startup. “Pemerintah telah merampungkan Palapa Ring (Serat yang dipasang di laut dan darat di seluruh penjuru Indonesia),” katanya. Di Kota Malang sendiri, Walikota Malang, Dr. Sutiaji menyambut baik program 1000Startup. Bahkan dirinya berencana mendirikan infrastruktur mendukung hadirnya iklim kreatif di Kota Malang. Penggarapannya sendiri dimulai tahun 2019 dan ditargetkan rampung 2020. “Sejalan dengan dijadikannya Kayutangan sebagai ibukota Heritage Malang Raya, nanti di ruas kanan dan kiri jalan Kayutangan akan dijadikan sebagai tempat untuk display startup-startup Malang,” sebut Sutiaji yang juga hadir mendukung program 1000Startup. UMM sendiri baru-baru ini diamanahi Kominfo untuk menggelar Digital Talent Scholarship 2019, ajang pencarian bakat-bakat pengusaha unggul di dunia digital. Sedikitnya 100 alumnus Teknik Informatika UMM digembleng menjadi seorang digital entrepreneur (Digipreneur). (mir/can)

HI UMM Tuan Rumah Kursus Hukum Humaniter Internasional

Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperoleh kebanggaan menjadi tuan rumah International Humanitarian Law Course. Kursus hukum humaniter tersebut merupakan agenda tahunan International Committee of the Red Cross (ICRC) Regional Delegation Indonesia-Timor Leste. Diikuti sebanyak 45 peserta dari berbagai perguruan tinggi, kementerian, dan lembaga swadaya masyarakat dari Indonesia dan Timor Leste. Acara berlangsung pada 19-23 Agustus 2019 di Amarta Hills Hotel and Resort, Kota Batu. Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si dalam sambutannya menyambut baik kepercayaan ICRC untuk memilih UMM menjadi tuan rumah. Menurutnya, kursus hukum humaniter menjadi penting untuk memahami pentingnya misi kemanusiaan terutama dalam situasi perang. Tambahnya, agama merupakan manifestasi untuk mewujudkan kemanusiaan. Namun demikian, sambung Syamsul yang merupakan guru besar Sosiologi Agama ini, ironisnya tidak ada agama manapun yang akan terhindar dari adanya perang. Untuk itu, lanjutnya, memahami nilai dan substansi kemanusiaan dalam perang adalah hal yang fundamental, sebagai pengejawantahan ajaran agama sekaligus penghargaan terhadap hak asasi manusia. Sementara itu, Direktur Otoritas Pusat dan Hukum Internasional Kemenkumham Tudiono  memandang bahwa seiring dengan kompleksitas konflik bersenjata yang didukung dengan modernisasi persenjataan, maka perlindungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan harus ditingkatkan. “Dalam konteks Indonesia, pemerintah Indonesia terus berusaha memastikan terlaksananya penghormatan terhadap hukum humaniter internasional, salah satunya melalui penyusunan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 diikuti dengan peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2019,” tandasnya. Untuk itu kegiatan ini, menurutnya, menjadi penting dalam membantu proses penyelarasan dan penyempurnaan hukum humaniter Indonesia terhadap hukum humaniter internasional. Sekaligus menjalin sinergitas antara pemerintah dan stakeholders, salah satunya ICRC dan perguruan tinggi. Lebih lanjut, Dr. Alina Permanasari dari Fakultas Hukum Universitas Trisakti sebagai salah satu pemateri dalam paparannya menegaskan bahwa dalam peristiwa konflik bersenjata, bukan hanya masyarakat sipil yang harus mendapat perlindungan. Bahkan hukum humaniter internasional mengatur kewajiban kedua belah pihak yang berkonflik untuk melindungi benda-benda budaya, seperti bangunan bersejarah, situs prasejarah, hingga manuskrip. Hal ini menunjukkan perang memiliki aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pihak. Selama lima hari, acara diisi dengan penyampaian materi dan diskusi tentang hukum humaniter internasional dari berbagai pakar. Hadir sebagai pemateri di antaranya dari ICRC Indonesia-Timor Leste, Kushartoyo B.S., Donny Putranto, Novriantoni Kaharuddin, serta Muhammad Awfa. Kemudian Mayor Ahmad Fadilah, Brigjen (Purn.) Natsri Anshari, Laksamana Kresno Buntoro dari kalangan TNI serta Yunizar Adiputera dari kalanagan akademisi, dan Azharuddin dari Kemenkumham Republik Indonesia. (*/can)

Diklat Bela Negara Bagi Aktivis UMM, Gembleng Bibit Pemimpin Masa Depan

Para aktivis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkesempatan mengikuti kegiatan Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM). Momen ini menjadi kesempatan berharga bagi para aktivis mahasiswa untuk memperdalam keilmuan terkait kepemimpinan dan segala hal tentang pengelolaan organisasi. Agenda ini diprakarsai oleh Biro Kemahasiswaan UMM. Acara yang digelar empat hari sejak 19 hingga 22 Agustus ini diikuti oleh seluruh elemen organisasi internal mahasiswa dan organisasi otonom Muhammadiyah di UMM. Mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa, Senat Mahasiswa,Unit Kegiatan Mahasiswa, hingga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) . “Semuanya dilatih menjadi pemimpin yang baik,” jelas Zainul Anwar, S.Psi, M.Psi., selaku ketua panitia. Menurut Zainul, para aktivis mahasiswa harus benar-benar mempersiapkan dirinya untuk menjadi public figure yang ideal bagi mahasiswa lainnya. Di antaranya menjadi pribadi yang kreatif dan kritis. Hal tersebut dilatih melalui LKMM. Agenda ini merupakan upaya UMM dalam rangka mengembangkan softskill dan hardskill para mahasiswa yang berkomitmen menjadi bagian dari perubahan bangsa. Ada yang baru pada gelaran LKMM tahun ini, yaitu Diklat Bela Negara. Diklat ini difasilitasi langsung oleh Resimen Induk Kodam V/Brawijaya Kota Malang. Pelatihan yang diberikan di antaranya pelatihan kedisiplinan dan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat bagi masyarakat sipil. Diklat diadakan di lapangan UMM pada Kamis pagi (22/8) dan disusul dengan pelantikan para pengurus organisasi mahasiswa. “Slogan dari Muhammadiyah untuk Bangsa bukan sekedar jargon,” ungkap Dr., Drs., H. Joko Widodo, M.Si., Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kemahasiswaan UMM saat didaulat sebagai pembina upacara penutupan LKMM 2019. Itu, lanjutnya, adalah pekikan semangat untuk menjadi bagian perubahan Indonesia yang dimulai dari UMM. Slogan unnu juga musti dilaksanakan dengan serius. Bagi Joko, mahasiswa yang memutuskan dirinya menjadi pengurus organisasi di kampus artinya telah menghibahkan diri untuk kebermanfaatan bersama. Empat hari yang telah dilalui bukan semata-mata kegiatan belajar. Tentunya ke depan harus diaplikasikan dalam menjalankan peran sebagai aktivis mahasiswa. “Tidak ada yang lebih pandai, semuanya belajar. Mari bersama-sama,” ajak Joko. (mir/can)

UMM Hadirkan Ilmuan Diaspora dari Swinburne Australia, Bagi Kiat Songsong World Class University

Di era industri 4.0 ini, berbagai dimensi kehidupan musti berbenah. Pola lama yang dipakai, musti diubah dengan mengintegrasikan dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ditelurkannya. Termasuk perguruan tinggi juga tidak boleh ketinggalan melakukan penyesuaian. Salah satunya dengan memberikan kuliah yang berbasis dalam jaringan (daring/online). “Metode tersebut sudah diterapkan dengan baik di Swinburne University of Technology,” jelas Dr. Dina Wahyuni, dosen Swinburne University of Technology Australia saat menghadiri Penguatan Program Internasionalisasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menuju World Class University, Rabu (21/8). Dina adalah salah satu ilmuan diaspora dari Indonesia yang menjadi dosen tetap di luar negeri. Lulusan S1 Universitas Negeri Jember, Jawa Timur ini membagikan pengamatan lingkungan akademik universitas kelas dunia di Australia, khususnya di mana dirinya mengajar sebagai seorang diaspora Indonesia. “Di sana, seluruh kualitas perguruan tinggi dinilai oleh customer, yakni mahasiswa,” tuturnya. Hal tersebut meliputi pengajaran di kelas, kompetensi dosen dan kualitas bahan ajar. Perguruan tinggi tempat Dina mengajar selalu mendapat urutan pertama dalam pelayanan pendidikan. Ia pun juga menjelaskan betapa ketatnya suasana akademik di Swinburne. “Jika dosen berhalangan hadir, ia tak bisa mengganti kelas sesuai kehendak,” katanya. Dosen, lanjutnya, harus menghubungi partner mengajarnya dan kelas harus tetap berlangsung karena semua sudah tersistem. Setiap proses belajar mengajar berlangsung, secara otomatis akan direkam dan mahasiswa dapat memutar ulang setelah kelas berlangsung. Ada tiga macam dosen di Swinburne. Teaching Only, Research Only dan Conventional. Teaching Only tidak memiliki kewajiban untuk meneliti, tugasnya hanya mengajar. Sedang, dosen konvensional berkewajiban meneliti dan mengajar. Pembedaan ini adalah upaya untuk tetap memfokuskan lembaga pendidikan dalam melaksanakan cita-cita dan kewajibannya. Ekosistem riset yang ada di tempat Dina mengajar juga tak jauh-jauh dari keadaan di Indonesia. Sedikit bedanya adalah penelitian besar-besaran yang diprakarsai oleh Pemerintah. “Tahun ini, kami sedang meneliti emisi karbon,” ungkap Dina. Menurut Dina, untuk menuju World Class University butuh keseriusan membentuk budaya akademik yang baik. Mulai dari riset hingga pelayanan pendidikan pada para mahasiswa. Dirinya pun mencontohkan, saat ia mengajar, memiliki tanggung jawab mengajar 1000 mahasiswa pada satu mata kuliah. Kemudian ia bagi menjadi dua kali pertemuan yang artinya, satu kali pengajaran ada 500 mahasiswa yang diajar dalam kelas besar. Kelas teori hanya berlangsung 2 jam. Selanjutnya adalah kelas tutorial yang dibagi dalam kelas-kelas kecil bersama para instruktur masing-masing. Selain kelas secara langsung, ada juga kelas online. Kelas online tidak berarti sepenuhnya online. Tetap ada 12 kali pertemuan tatap muka yang dilakukan. Rupa kelas online ini hampir sama seperti yang diterapkan Universtias Terbuka di Indonesia. Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, Wakil Rektor I UMM menerangkan jika World Class University (WCU) adalah ikhtiar UMM. Jalan menuju visi itu perlu ditempuh dengan baik. Salah satunya melalui kesungguhan memberikan outcome berupa publikasi ilmiah. Telah banyak wadah-wadah untuk publikasi ilmiah dan harus bisa di manfaatkan dengan baik. Selain itu, bagi Syamsul, universitas-universitas di Indonesia perlu juga belajar dari beberapa universitas-universitas yang telah menjadi rujukan perguruan tinggi-perguruan tinggi dunia. “Kita punya peluang besar untuk menjadi salah satu universitas terbaik di dunia,” tuturnya. (mir/can)

Rawat Spirit Toleransi, Mahasiswa UMM Inisiasi Rumah KeBhinnekaan

Bertepatan dengan momen bersih desa Pandesari Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 114 meresmikan Rumah KeBhinnekaan yang berada di daerah Punden Ki Hajar Seguh selaku pembedah kawasan Dusun Sebaluh. Keberadaan Rumah KeBhinnekaan ini didasari perbedaan agama di Dusun Sebaluh dan selama ini warga bisa hidup rukun dengan memegang teguh toleransi antar umat beragama. Peresmian Rumah KeBhinnekaan berlangsung bersamaan dengan prosesi tasyakuran di area Punden, Selasa (13/8) yang dihadiri warga Dusun Sebaluh serta para sesepuh. Koordinator KKN 114 UMM Wildan Arif menegaskan, pembangunan Rumah KeBhinnekaan oleh mahasiswa KKN 114 UMM didasari pada keberadaan beragam agama yang hidup rukun, tanpa pernah terjadi konflik. “Selain itu, wargapun masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, tanpa membedakan agama,” ungkap Wildan saat diwawancarai, Rabu (21/8). Di dalamnya, selain bisa digunakan sebagai ruang pertemuan, juga terpasang gambar dan simbol dari masing-masing keempat agama, kitab dan buku referensi setiap agama, serta prasasti yang sudah ada sebelumnya. “Di tengah mengerasnya hubungan antar elemen di Indonesia , kehadiran Rumah KeBhinnekaan diharapkan bisa membantu meredam ketegangan ini. Selain itu juga, diharapkan menjadi contoh sekaligus inspirasi perwujudan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” lanjut Wildan. Keberadaan Rumah KeBhinnekaan diharapkan bisa menjadi tempat pertemuan para tokoh agama di Dusun Sebaluh, agar toleransi beragama di Dusun Sebaluh tetap terjaga. Di Dusun Sebaluh sendiri terdiri dari 4 agama yakni Islam, Hindu, Kristen, dan aliran kepercayaan Sapta Dharma. “Di dusun ini, empat agama ini bisa hidup rukun-guyub. Misalnya, ketika masyarakat beraga Islam membangun masjid, masyarakat agama lain juga turut membantu mendirikan. Demikian juga dengan pendirian tempat ibadah lainnya,” tutur Wildan. Kepala Dusun Sebaluh Imam Bashori mengapresiasi gagasan para mahasiswa kelompok KKN 114 UMM yang telah menginisiasi sebuah wadah berupa Rumah KeBhinnekaan. Keberadaan Rumah KeBhinnekaan ini nantinya bakal dijadikan sebagai tempat pertemuan kegiatan warga, baik itu rapat ataupun pertemuan lainnya. “Dengan adanya gagasan dari teman-teman KKN UMM ini, warga Dusun Sebaluh berterimakasih sekali. Rumah ini bisa jadi tempat memediasi kalaupun suatu saat ada masalah,” ungkap Imam di sela acara peresmian. Tak hanya pendirian Rumah KeBhinnekaan, selama 30 hari mahasiswa kelompok KKN 114 yang didampingi Ianatut Thoifah, S.Pd.I, M.Pdi. telah melakukan pengabdian lainnya. Antara lain melakukan penyuluhan pencegahan struk di Posyandu, menghiasi jalan dengan papan penunjuk jalan di wilayah Dusun Sebaluh, memberikan les sekolah gratis bagi anak-anak, memberikan bimbingan belajar mengaji bagi warga muslim, serta menyelenggarakan lomba tradisional di momen Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia. (*)

Angkat Kedermawanan Tokoh Lokal Muhammadiyah, Film Mahasiswa UMM Ini Raih Prestasi Nasional

Tak banyak dokumentasi yang bisa ditemukan jika kita ingin tahu seputar kiprah perjuangan tokoh-tokoh lokal Muhammadiyah, terlebih di Malang. Adalah Masluhatin atau Mbah Dollah, salah satu tokoh yang cukup punya andil kepada persebaran spirit filantropi Muhammadiyah di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Kisah pengabdiannya kepada masyarakat, melatarbelakangi tim Bamboe.Films yang digawangi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat film bergenre dokudrama (atau dokumenter drama). Aksi kedermawanan Mbah Dollah  melalui amal usaha yang dimilikinya membuat ia dikenang masyarakat. Film yang diproduksi mahasiswa sinematografi Kine Klub UMM ini menceritakan biografi Mbah Dollah. Dengan judul “Amal, Jejak Langkahku”, film ini berhasil memenangkan lomba Pekan Seni Muhammadiyah 2019 tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah se-Indonesia di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (13-15/08). Mella Dwi Purnama, produser film ini mengaku tertarik dengan sosok Mbah Dollah lantaran kegigihan beliau dalam memperjuangkan Muhammadiyah. Hal ini terlihat saat masyarakat sekitar tempat tinggalnya yang belum mengetahui Muhammadiyah tidak menginginkan adanya tokoh yang berambisi membangun Muhammadiyah di daerah tersebut. “Saat itu banyak tekanan dari masyarakat sekitar. Bahkan setiap malam terdapat keranjang batu berisi kotoran manusia yang diletakkan di depan rumahnya. Akan tetapi dengan kegigihannya, hingga saat ini masyarakat selalu mengamalkan pelajaran dari beliau,” sebut Mella yang merupakan mahasiswa semester 5 Ilmu Komunikasi saat diwawancarai Senin (19/8) siang. Tidak hanya hal tersebut yang membuat tim Bamboe.films mengangkat ketulusan Mbah Dollah dalam membangun amal usaha yang diperuntukkan untuk masyarakat. Dari berbagai amal usaha yang ia buat, seperti TK Aisiyah ABA 16 Dinoyo, SD Aisiyah, SMP Muhammadiyah 4, dan juga padepokan Hizbul Wathon, ia gunakan untuk bersedekah dan berdakwah kepada masyarakat. Film yang disutradarai oleh Jaka Teguh Nugraha menjadi peluang sebagai salah satu dokumentasi tokoh Muhammadiyah yang saat ini jarang ditemui. Melihat peluang tersebut, Bamboes.Films akan terus mendistribusikan film tersebut melalui festival dan pemutaran alternatif. “Menurut kami, film tidak boleh hanya berhenti pada saat launching saja. Daripada kadaluarsa di tempat penyimpanan, lebih baik diikutkan lomba ataupun pemutaran alternatif. Agar film tersebut dapat bertemu dengan penontonnya, karena film dan penonton adalah jodoh,” sebut Mella. (bel/can)

UMM Siap Cetak Dosen Pemula Profesional lewat PEKERTI

Berprofesi sebagai seorang Tenaga Pengajar (Dosen) tidaklah suatu pekerjaan yang mudah. Seorang dosen harus memiliki ilmu pengetahuan yang cukup, berprilaku baik, dan memiliki teknik pengajaran yang menarik sehingga para mahasiswanya mampu menerima materi yang disampaikan dengan baik. Oleh karena itu Badan Pengelola Sumber Daya Manusia (BPSDM) Universitas Muhammadiyah Malang kembali mengadakan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) yang diselenggarakan di ruang sidang ekonomi Gedung Kuliah Bersama II lantai 1, Rabu (14/8). Acara yang dihadiri oleh Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. selaku Wakil Rektor 1 UMM ini, diikuti oleh puluhan dosen pemula dari berbagai program studi yang ada di UMM. Selain memberikan materi tentang Kebijakan Mutu dan Profesi, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. juga membuka pelatihan tersebut secara resmi. PEKERTI sendiri memang diwajibkan kepada seluruh tenaga pengajar yang ada di lingkungan Kampus Putih UMM. Tujuan dari adanya pelatihan ini adalah sebagai bekal untuk para dosen pemula sebelum mereka terjun langsung menghadapi berbagai macam latar belakang dari para mahasiswanya. Bekal yang dimaksud di sini ialah berbagai hal yang terkait dengan pembelajaran, mulai dari teori pembelajaran, teori pengajaran, metode pembelajaran, strategi hingga evaluasi pembelajaran. Bahkan sampai membuat rangkaian dan perangkat pembelajaran, hingga praktik (Micro Teaching). Dalam kegiatan pelatihan ini terdapat 3 tahap. yakni, pemantapan konsep yang dilaksanakan selama 2 hari. Setelah mendapat pelatihan pemantapan konsep, nantinya para peserta akan diberikan waktu selama 2 minggu untuk menyusun perangkat pembelajaran yang digunakan selama satu semester, dalam hal ini para peserta mendapat tugas untuk menyusun Rancangan Pembelajaran Semester (RPS) dan Rancangan Pembelajaran Harian (RPP). Setelah RPS dan RPP selesai dibuat, para dosen pemula ini akan mulai melakukan pembelajaran di kelas selama 5 minggu. Tahap ini mereka harus menerepkan RPS dan RPP yang telah dibuat sebelumnya. Selain itu dalam melaksanakan pembelajaran, para dosen pemula ini nantinya akan didampingi oleh fasilitator yang bertugas untuk mendampingi kegiatan mengajar mereka di kelas, dan memonitor para dosen pemula apakah sudah menerapkan hasil dari pelatihan yang telah diikuti. Dr. Hari Windu Asrini, M.Si. selaku ketua pelaksana mengungkapkan fungsi dari fasilitator sendiri adalah sebagai pendamping di mana mereka dapat memberikan koreksi atau masukan kepada dosen pemula tersebut. “Dalam hal pembelajaran, jam terbang memiliki peran yang cukup penting. Mengingat hal ini berhubungan dengan pengalaman para dosen pemula dalam hal menyampaikan materi di depan kelas,” ungkap Rini. Selain diikuti oleh beberapa dosen pemula, pelatihan ini juga diikuti oleh beberapa dosen yang sudah memiliki jam tebang tinggi, namun belum pernah mengikuti pelatihan PEKERTI sebelumnya. Hal ini dapat terjadi karena betapa pentingnya sertifikat dari pelatihan ini sendiri. Mengingat sertifikat yang didapat nantinya dapat digunakan untuk mengurus apapun yang berkaitan dengan kepangkatan, sertifikasi dosen, karena untuk melakukan hal itu harus mencantumkan sertifikat pekerti. “Alhamdulillah UMM ini sudah diberi kewenangan untuk menyelenggarakan pelatihan pekerti ini, kalau perguruan tinggi lain masih harus ikut di LLDIKTI Kopertis,” imbuh Rini. UMM sendiri sudah menyelenggarakan pelatihan ini yang ke-22 kalinya. (zak/can)

Peringati HUT RI, Kapal Garden Hotel Gelar Donor Darah

PERINGATAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia (RI) bisa diisi dengan banyak hal positif. Misalnya yang dilakukan salah satu unit bisnis milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, yakni Taman Rekreasi Sengkaling dan Kapal Garden Hotel yang mengadakan aksi donor darah, Minggu (18/8) siang. Aksi yang dikerjasamakan dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang ini terkumpul 64 kantong darah dari 85 calon pendonor yang mendaftar. “Kegiatan ini memperkenalkan Kapal Garden Hotel ke semua segmen market dan ikut turut serta dalam kegiatan sosial,” terang Mashuri, ketua pelaksana kegiatan donor. Mereka yang bisa mendonor yakni yang memenuhi syarat-syarat kesehatan, antara lain: tidak ada riwayat penyakit kronis, benar-benar sehat, tidak pernah opname, tidak ada alergi, tidak minum obat (antibiotik), untuk wanita tidak sedang menyusui atau menstruasi, HB min. 12,0, max. 17,0 tensi bawah 100/60 atas 160/100. Ismah, salah satu pendonor memberikan harapan positif kepada aksi ini. Terlebih dilakukan di hari spesial, kemerdekaan. “Semoga saya pribadi dan penyelenggara dapat banyak memberikan kebaikan kepada orang-orang yang membutuhkan dan mendapatkan barakah dari Allah SWT,” ungkapnya diwawancari usai donor. Masyarakat sekitaran Sengkaling, Dau atau wisatawan yang kebetulan berkunjung juga disuguhkan deretan jenis bazar. Mulai dari makanan, baju khas Malang, dan kerajinan yang bisa dibawa sebagai cinderamata. “Aksi ini bagian dari penegasan komitmen kami, dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” tandas Mashuri. (can)

Anak Muda Taiwan Khidmat Ikut Upacara Kemerdekaan RI di UMM

Ada pemandangan menarik dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (17/8) pagi. Sejumlah anak muda Taiwan yang mengikuti pertukaran budaya nampak khidmat mengikuti upacara bendera di Lapangan Helipad UMM. Li Cheng-Sung, yang merupakan siswa kelas 2 SMA Taiwan merasa sangat antusias ketika mengetahui akan mengikuti upacara bendera. Alasannya, karena di Taiwan sendiri sudah jarang diadakan upacara bendera pada saat kemerdekaan. Terlebih, di Indonesia suasana kemerdakaan sangat meriah. “Kalau di Taiwan, tidak ada yang sorak sorai dan menyanyikan lagu kebangsaan. Kita merasa belum menjadi sebuah negara. Bahkan, orang-orang di luar masih menyebut kami China, padahal kami berbeda negara,” sebut Li Cheng-Sung. Menurut Li Cheng-Sung, hal tersebut membuat anak muda di Taiwan merasa malu meneriakkan kemerdekaan Taiwan. Bahkan, pada saat upacara bendera tidak sedikit yang memilih kabur. Lain halnya dengan apa yang mereka lihat di UMM. Seluruhnya, bahkan mahasiswanya khidmat mengikuti hingga akhir acara. Sepakat dengan hal tersebut, Su Ying yang merupakan guru Bahasa Indonesia di Taiwan, merasa sangat senang dapat mengikuti peringatan hari Kemerdekaan Indonesia di UMM. Ia merasa kagum dengan semangat nasionalis yang ada pada diri masyarakat Indonesia. “Kita melihat dari peringatan kemerdekaan ini, bahwa Indonesia merupakan negara kesatuan. Tidak hanya dilihat dari upacaranya, tetapi juga dilihat dari suasana kemerdekaan yang sudah dirasakan dari jauh-jauh hari. Seperti banyak bendera dan perlombaan,” tutur Su Ying. Untuk itu, Meinong People Assosiation (MPA) Taiwan yang merupakan gerakan kampanye masyarakat tentang kebudayaan Meinong, mengajak anak muda Taiwan untuk memiliki semangat khususnya dalam melestarikan budaya Negara sendiri. Hal ini diwujudkan dengan datangnya rombongan yang berjumlah 12 orang tersebut untuk pertukaraan budaya di UMM selama 2 minggu. (bel/can)

Makna Kemerdekaan itu Freedom For, Bukan Cuma Freedom From

Peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (17/8), mendapuk Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya di hadapan ribuan civitas akademika UMM Syamsul menyampaikan beberapa pemaknaan terkait konsep kemerdekaan. Pertama, kemerdekaan adalah suatu proses. “Untuk meraih kemerdekaan membutuhkan waktu yang sangat panjang, harus mencurahkan energi, air mata, bahkan darah yang menharuskan ribuan nyawa dikorbankan untuk Republik Indonesia tercinta,” ungkap Syamsul di lapangan Heliped Kampus III, Kampus Putih UMM. Syamsul lantas mengutip pernyataan presiden Amerika Serikat yang ke 32, Franklin D. Roosevelt. “Kemerdekaan itu bukan suatu anugerah. Tetapi kemerdekaan itu (lahir) dari cucuran air mata, dan tetesan darah yang luar biasa.” Demikian, kata Syamsul, kemerdekaan sebagai bagian dari proses ini harus dimaknai secara bersama. Hari ini kita memperingati ulang tahun ke 74, artinya kita “merdeka dari” atau freedom from untuk menuju kepada “merdeka untuk” atau freedom for. 74 tahun yang lalu, kita telah bebas terjajah dari bangsa kolonialisme, atau freedom from. Maka, ketika pemaknaan kemerdekaan kita berhenti di situ, tidak memberikan makna apapun. Sebaliknya, kemerdekaan harus dilanjutkan dengan freedom for atau kemerdekaan untuk apa? “Kalau kita sudah bisa terbebas terlepas dari lingkungan yang bersifat eksternal, pada hari ini merupakan suatu momentum untuk mewujudkan kemerdekaan dengan cara mewujudkan semua kebajikan yang bisa kita laksanakan,” ungkapnya. Lebih jauh lagi terkait makna kemerdekaan, Syamsul kembali mengutip pernyataan yang kali ini dari seorang penyair Kahlill Gibran. “Kemerdekaan dalam pengertian yang salah adalah mewujudkan apa yang kita inginkan. Tetapi kemerdekaan dalam pengertian yang benar adalah mewujudkan apa yang harus kita laksanakan,” kutipnya. “Apa yang kita inginkan itu berarti keinginan yang bersifat jangka pendek. Tetapi yang harus kita laksanakan itu berarti apa yang kita laksanakan dan kita wujudkan dalam bingkai etik dan moral,” paparnya di ritual upacara bendera yang juga dihadiri sejumlah pelajar Taiwan yang tergabung di Meinong People Assosiation (MPA) Taiwan. Usai mendengarkan amanat upacara, kegiatan tujuh belasan dilanjutkan dengan berbagai rangkaian lomba. Kegiatan perlombaan ini sudah dimulai dari beberapa hari sebelumnya. Menariknya, di salah satu perlombaan, yakni video, juga di selipkan kampanye #DietSampahPlastik sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan. (riz/can)