Peneliti Liverpool University di UMM: Kebisingan Berdampak Besar Pada Psikologis dan Fisiologis Seseorang

Peneliti dari Liverpool University, United Kingdom (UK) Sang Hee Park, PhD menyebut, noise atau kebisingan yang merupakan persepsi terhadap suara yang mengganggu ternyata berdampak besar pada psikologis dan fisiologis manusia. Simpulan ini ia paparkan saat kuliah tamu di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (8/8). Secara fisiologis, kebisingan dapat berdampak pada tekanan darah, ritme jantung, dan juga kinerja syaraf. Sementara, lanjut Sang Hee Park secara psikologis noise juga memiliki dampak sangat besar pada stress dan depresi seseorang. Hal ini Sang Hee Park tuangkan dalam penelitiannya yang bertema Psychological and Physiological Effects of Noise. Ia bercerita jika di Korea Selatan, negara asalnya, yang kebanyakan orang tinggal di apartemen, beberapa kasus pembunuhan terjadi akibat stresnya penghuni apartemen akibat kebisingan dari penghuni lantai atasnya. Namun demikian ia juga menambahkan bahwa selain dampak obyektif yang salah satunya ditentukan oleh besaran desibel dari kebisingan. “Sejauh mana dampak kebisingan juga dipengaruhi kepribadian dan kondisi psikologis orang. Seperti contohnya, seorang penghuni apartemen yang punya anak kecil akan lebih empati dan tolerir terhadap kebisingan di lantai atasnya yang diakibatkan anak-anak berlarian atau lompat-lompat,” terangnya di hadapan civitas akademika Fakultas Psikologi UMM. Selain mengisi kuliah tamu, Sang Hee Park juga berdiskusi peluang-peluang kerjasama khususnya riset antara Fakultas Psikologi UMM dengan Liverpool University. “Pemaparannya ini membuka perspektif terutama bagi mahasiswa Psikologi bahwa area cakupan Psikologi sangat luas,” ungkap Dekan Fakultas Psikologi UMM Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Psikolog. (can)
Saatnya Indonesia Investasi Pengembangan SDM Unggul

NEGARA yang maju, nyatanya tidak hanya memprioritaskan pembangunan fisik semata. Pembangunan sumber daya manusia juga musti dimasifkan. “Kita punya bermacam-macam sumber daya alam yang tidak semua negara-negaramaju miliki. Manusianya musti mampu mengolahnya untuk kemajuan negara,” tutur Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc., saat keynote speech pada Konvensi Nasional Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Rabu (7/8) sore. Di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menurut salah satu perintis HIPIIS ini, Indonesia sudah saatnya berani berinvestasi pada target pengembangan sumber daya manusia (SDM). Hal ini dapat dilakukan dengan bercermin pada negara-negara maju seperti Singapura dan Jepang. Dua negara ini jelas tidak memiliki banyak sumber daya alam, namun mampu menaklukan dunia. Mereka dapat berkembang pesat karena berani berinvestasi besar untuk SDM. Majunya negara-negara besar saat ini juga dilatari penguatan identitas yang telah dilakukan melalui budaya. “Betapa kuatnya kultur Jepang mempengaruhi dunia seiring dengan perkembangan kecanggihan teknologinya. Indonesia yang memiliki beragam budaya sebenarnya punya kesempatan besar lebih maju daripada negara-negara yang hanya memiliki satu macam budaya saja,” ujarnya di hadapan pengurus HIPIIS, guru IPS se-Malang Raya, dan civitas akademika UMM. Pembangunan fisik memang harus dilakukan. Tetapi, sambung Malik yang juga Ketua Badan Pembina Harian UMM, jangan sampai melupakan SDM yang akan menjalankan hasil pembangunan tersebut. HIPIIS, ungkap Malik menegaskan, memiliki peran yang strategis untuk berkontribusi melalui ilmu-ilmu sosial. Keanekaragaman sosial yang ada di Indonesia menjadi peluang besar meraih Indonesia yang berkemajuan. Yakni maju manusianya dan maju negaranya. Momentum peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ke-74 ini, bagi Malik menjadi titik puncak untuk melihat betapa besarnya Indonesia. Fokus pembangunan SDM unggul sudah tepat bila menjadi agenda besar negara. “Cita-cita menjadi negara yang maju dan dapat memaksimalkan SDMnya sudah di depan mata. Semoga HIPIIS terus dapat berkontribusi melalui gagasan-gagasannya untuk mewujudkan Indonesia yang unggul,” tandas Malik. (mir/can)
Ketua Umum HIPIIS: Pembangunan SDM Adalah Bentuk Pembangunan Sesungguhnya

KONVENSI Nasional pertama Himpunan Indonesia untuk Perkembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (7/8) hari ini. Ketua Umum pengurus pusat HIPIIS Prof. Dr. Muhadjir Effendy menyatakan, tema yang diangkat “Sumbangan Ilmu-ilmu Sosial dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia bagi Kemajuan Bangsa” sengaja disinkronkan dengan program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo periode 2. “Saya kira ini momentum bagus, mumpung pembangunan insfrastruktur sedang berjalan. Sebaiknya kita (HIPIIS) juga segera memberikan masukan terhadap perkembangan-perkembangan yang sudah terjadi. Dan perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dengan adanya pembangunan infrastruktur yang, bisa dibilang, besar-besaran pada periode kepemimpinan Bapak Jokowi yang pertama,” ungkap Muhadjir yang juga Mendikbud RI di Hall Dome UMM. Tentu saja, sambung Muhadjir, pembangunan sumber daya manusia yang diharapkan pada era pemerintah Joko Widodo yang kedua adalah dalam konteks bagaimana mengoptimalkan, mengapitalisasi, memultiplayerkan, serta melipatgandakan manfaat infrastruktur yang sudah ada. Karena infrastruktur, katanya, pada dasarnya baru prasyarat pembangunan. Adapun pembangunan sesungguhnya, ketika sudah menyentuh dan menangani manusianya itu sendiri. “Karena itu kita bisa katakan bahwa pembangunan infrastruktur adalah prasyarat dari pembangunan yang sesungguhnya. Ibarat shalat, infrastruktur itu baru wudhunya, baru menutup auratnya, tapi belum shalat itu sendiri. Dan shalatnya itu, ketika membangun sumber daya manusia itu sendiri,” ungkap Muhadjir di hadapan para tamu undangan yakni pengurus HIPIIS dari 13 wilayah di Indonesia, guru ilmu pengetahuan sosial (IPS) se-Malang Raya, serta civitas akademika UMM. Fokus pembangunan SDM, menurut Muhadjir, taruhannya lebih besar. Lebih besar ketimbang pembangunan infrastruktur itu sendiri. Karena membangun manusia, tidak bisa “dipanen” dalam waktu yang singkat. Tapi, mungkin, baru akan bisa dipanen satu atau dua dekade ke depan. “Tentu saja pembangunan ini akan menjadi masalah ketika, pembangunan sumber daya manusia ini ditunggu-tunggu didak ada umpan balik atau feedback dari apa yang kita lakukan,” terang Muhadjir. Sehingga, Muhadjir yang juga wakil ketua Badan Pembina Harian UMM ini berharap, Konvensi yang diselenggarakan ini betul-betul bisa intens memberikan masukan, kritik, dan saran yang sifatnya konstruktif untuk masyarakat Indonesia, khususnya masukan untuk Kabinet Kerja periode kedua agar betul-betul bisa sejalan seiring dengan cita-cita nasional kita. Yaitu, menciptakan masyarakat yang adil dan makmur, sesuai dengan cita-cita dari kemerdekaan kita,” ungkapnya. (riz/can)
Rawat Budaya, Mahasiswa UMM Gaungkan Kembali Seni Barongan

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kelompok Kuliah kerja Nyata 84 UMM 2019 mencoba kembali menggaungkan kesenian khas Jawa Timur, Seni Barongan. Salah satunya melalui Festival Barongan di Lapangan Ndawung Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Sabtu (3/8). Ketua Panitia, Luguh Wasono menjelaskan, festival Barongan ditunjukkan untuk menggaungkan seni budaya Barong agar tetap lestari. Lalu juga untuk meningkatkan kreativitas insan seni budaya serta menciptakan komunikasi dan hubungan baik antar pelaku seni. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi event tahunan. Lomba Barong perorangan ini diikuti sebanyak 44 peserta dari seluruh wilayah Kabupaten Malang. Menariknya perlombaan kali ini tidak hanya diikuti oleh kalangan laki-laki saja, akan tetapi perempuan dan anak-anak. Hal ini membuktikan bahwa kesenian Barongan tidak membatasi gender dan usia pemainnya. Perlombaan dibagi menjadi menjadi dua babak. Antara lain babak penyisihan dan final yang diikuti oleh 30 orang peserta. Sementara kriteria penilaian ditekankan pada kelincahan gerak pemeran Barong dan penjiwaan karakter. “Fashion, tata busana, kostum dan keindahan Barong, serta etika dan tata krama pemeran Barong,” ujar dia. “Selain tentunya melestarikan budaya khas Malangan, agenda ini juga mempromosikan kabupaten Malang itu sendiri, khususnya Desa Kedungsaalam Kecamatan Donomulyo sebagai Desa Budaya. Selain itu juga acara ini digelar utamanya memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-74,” kata Luguh, Senin (5/8) siang. Kesenian ini mencerminkan sifat-sifat kerakyatan, spontanitas, kekeluargaan dan kesederhanaan. Lalu juga sifat kasar, keras, kompak, dan keberanian yang berlandaskan kebenaran. Pemainnya memakai kostum yang menyerupai singo Barong sebagai bentuk samaran makhluk berkaki empat atau dua dengan kepala singa. Selain Barong, festival ini juga mengadakan senam anti narkoba bersama siswa-siswi SDN 4 Kedungsalam. Lalu dilanjutkan dengan senam Lien Tien Kung dan lomba mewarnai tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diikuti 287 peserta. “Seluruh warga sangat antusias,” tambah dia. (*/can)
Libatkan 20 Wasit Profesional, RS UMM Gelar Kompetisi Futsal Antar RS se-Malang Raya

MERAYAKAN hari jadinya yang ke-6 tahun, Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) menggelar berbagai kegiatan, baik kegiatan internal maupun eksternal. Salah satu kegiatan eksternal yang diadakan adalah Kompetisi Futsal antar Rumah Sakit se-Malang Raya, Sabtu-Minggu (3-4/8). Acara yang dibuka langsung oleh Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Malang yakni Haris Thofly ini mendapat antusias di luar ekspektasi penyelenggara. Kompetisi ini telah diikuti oleh puluhan unit kesehatan hingga terkumpul 27 tim. Bahkan ada beberapa unit kesehatan yang mengirimkan lebih dari 1 tim. Kompetisi futsal ini sendiri menggunakan sistem penyisihan, di mana seluruh tim akan dibagi menjadi beberapa grup kecil. Satu grup terdiri dari 3-4 tim untuk memperebutkan juara grup dan runner up sebagai syarat untuk dapat lolos ke babak selanjutnya. Tak tanggung-tanggung, kompetisi ini menghadirkan 20 wasit profesional dari PSSI Malang. Kompetisi berlangsung dua hari, di mana hari pertama difokuskan pada laga penyisihan dan hari kedua difokuskan pada laga knock out hingga laga Final. Menurut dr. Viva Maiga Mahliafa Noor, MMRS. ketua panitia menyampaikan, selain kompetisi futsal, masih banyak rangkaian acara lain. “Kami juga mengadakan kegiatan lain seperti pilling massal, lomba cuci tangan antar unit kesehatan, hingga seminar kecantikan,” ungkapnya. Agenda ini juga sekaligus dijadikan ajang silaturahmi. Karena sebagai unit kesehatan, sambung Viva, bukan untuk berkompetisi namun saling bahu-membahu melayani masyarakat. Selain itu kompetisi ini juga memperebutkan sertifikat, trophy dan juga uang tunai jutaan rupiah. Salah satu pemain dari RS UMM yakni Rifky Harli Putra Pratama mangaku senang dengan kompetisi ini. “Semoga tahun depan dapat terselenggara kembali dengan region yang lebih luas lagi. Se-Jatim misalnya,” ungkap kapten dari tim RS UMM tersebut. (zak/can)
Mobil KaCa UMM Sosialisasi Mitigasi Bencana di Lereng Semeru

Banyaknya korban yang terdampak bencana alam di Indonesia, terkhusus Jawa, mendorong Tim Mobil KaCa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan mitigasi bencana. Medium literasi inklsusif berkonsep Mobil Pintar ini terjun ke tengah siswa SD dan SMP yang ada di desa Bambang kecamatan Wajak Kabupaten Malang, Kamis (1/8) untuk memberikan edukasi seputar kebencanaan. Kehadiran Mobil KaCa UMM di tengah siswa-siswi di lereng Semeru ini atas inisiasi kelompok Kuliah Kerja Nyata 18 UMM. Salah satu alasan dipilihnya lokasi ini karena dikenal dengan wilayah yang sering terjadi bencana gampa bumi dan juga longsor. “Mengingat lokasi Desa Bambang Kecamatan Wajak ini berada di lereng gunung Semeru,” kata Fani Wahyu Pamungkas, koordinator desa KKN 18 UMM. Materi mitigasi bencana disampaikan oleh Liyana Nurul Azmi dari Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM yang berafiliasi langsung dengan organisasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Dalam materi mitigasi bencana ini, para siswa diajarkan bagaimana cara menyelamatkan diri ketika suatu bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir dan juga Tsunami sedang terjadi. Materi disampaikan dengan cara yang unik dan menggembirakan agar para siswa dapat menerima materi yang disampaikan dengan maksimal. Metode yang digunakan yakni melalui bernyanyi dan bermain permainan yang kaitannya pada kewaspadaan saat terjadi bencana. Bahkan, sempat dilakukan juga simulasi agar para siswa dapat menerapkan secara langsung materi yang diajarkan melalui beragam metode itu. Selain materi mitigasi bencana, adapula kelas menulis cerita anak yang disampaikan oleh Achmad Sulchan An Nauri. Dalam materi kali ini para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap siswa harus membuat satu buah kalimat yang saling berkaitan sehingga menciptakan sebuah rangkaian kalimat yang padu. Para siswa nampak antusias menceritakan kembali karangan cerita yang mereka rangkai. “Para siswa di desa ini memang sejak awal sangat antusias dalam belajar. Hal itu terlihat ketika kami melaksanakan program mengajar di beberapa sekolah dan juga membuka bimbingan belajar di posko pemondokan mahasiswa. Namun sangat disayangkan, kurangnya tenaga pendidik di desa ini membuat perkembangan belajar mereka sedikit terhambat,” ungkap Fani, mahasiswa Prodi Teknik Industri tersebut. Salah satu siswa asal SDN 2 Bambang juga mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran mobil kaca ini. Terlebih tentang materi kebencanaan. “Saya sangat senang dengan adanya mobil pintar ini. Saya bisa membaca buku dan mendapat pengetahuan tentang cara menyelamatkan diri dari bencana yang terjadi,” tutur Muhammad Hanafi yang pada saat ditemui sedang asik membaca komik Warkop DKI Reborn ini. (zak/can)
Bantu Pasarkan Tape Singkong Banjarsari Lewat Medsos

SINGKONG memang jadi komoditas yang melimpah di Desa Banjarsari Kabupaten Malang. Hanya saja, pengetahuan seputar pemasaran produk masih jadi masalah tersendiri. Potensi yang seharusnya bisa dilejitkan ini ditangkap oleh kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 94 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan mengadakan pelatihan penggunaan media sosial sebagai alat pemasaran, Selasa (27/7) lalu. Pelatihan ini merupakan salah satu program kerja yang dibuat oleh divisi Ekonomi dan Kewirausahaan (KWU) dari kelompok KKN 94 UMM. Pelatihan sehari ini mengundang salah satu dosen Fakultas Pertanian dan Perternakan (FPP) dari UMM yaitu Aprilia Devi Anggraini S.pt, M.sc sebagai pemateri. Aprilia menangkap bahwa potensi olahan singkong berupa tape ini bisa meningkatakn penjualan melalui media sosial. Pelatihan dimulai dengan memberikan tips dan trik dalam pengembangan produk seperti kemasan, label serta inovasi varian olahan tape. Lalu dilanjutkan dengan penjelasan umum mengenai media sosial yang biasa digunakan sebagai media pemasaran. Setelah dijelaskan mengenai media sosial, peserta langsung diajak untuk mempraktikkan cara menggunakan media sosial untuk pemasaran secara online. Target kami ini Kelompok Wanita Tani (KWT), anggota PKK, dan pelaku wirausaha. “Sebelumnya sudah sering ada pelatihan pemasaran, tapi ini sudah baik karena mengajarkan langsung cara berjualan di Facebook. Tantangannya, masyarakat masih banyak yang kurang paham tentang cara menggunakan hp apalagi media sosial seperti itu” ucap Solikha, ketua Kelompok Wanita Tani yang menjadi salah satu peserta. “Produk di sini sebetulnya sudah sesuai dengan komoditas unggulan yang diharapkan oleh masyarakat. Jadi lebih tepatnya kami cuma membantu melatih dalam pemasaran melalui media social. Selain itu, kami juga mendampingi mereka dalam proses pengemasan serta menyertakan logo produk itu sendiri agar memiliki nilai jual lebih tinggi dari sebelumnya,” ucap Dhiva, ketua pelaksana dari pelatihan tersebut. Banyak cara yang dilakukan untuk mengembangkan usaha tape singkong ini. Hanya saja, selama ini proses pemasarannya belum mampu menaikkan penghasilan yang signifikan. “Tape ini adalah hasil olahan home industry. Biasanya setiap outlet tape menjual produk tapenya dalam bentuk kwintal ke beberapa kota seperti Tulungagung, Blitar, dan Batu. Semoga lewat medsos bisa menaikkan penjualan,” terang Dhiva. (*/can)
Jombang Minta UMM Lejitkan Potensi Daerahnya

Kiprah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan kepada daerah melalui pemaksimalan potensi lokal telah diakui banyak pihak. Apresiasi dan kerjasama tak hanya berangkat dari sesama institusi pendidikan, melainkan juga dari unsur pemerintahan. Kali ini dijalankan dengan Kabupaten Jombang (28/7). Penandatanganan dilakukan langsung Rektor UMM, Dr. H. Fauzan, M.Pd dan Bupati Jombang, Hj. Mundjidah Wahab. UMM-Jombang bekerjasama dalam bidang diklat, bidang penelitian, bidang pengabdian kepada masyarakat, bidang peningkatan kualitas SDM dan bidang peningkatan penerapan dan pengembangan teknologi. Fauzan menyampaikan, jika kerja sama tersebut akan memacu pertumbuhan kualitas segala bidang agar semakin pesat. “Banyak ranah yang dapat dikembangkan bersama,” tuturnya saat memberikan sambutan. Di antaranya pendidikan keahlian teknologi informasi dalam rangka menghadapi tantangan Industri 4.0. Dalam kerja sama tersebut, UMM diminta secara khusus membantu meningkatkan skill SDM pada sektor pertanian, peternakan dan perikanan masyarakat Jombang. Hal ini dipandang strategis untuk ditingkatkan, karena menyangkut potensi ekonomi juga mengingat salah satu hasil bumi terbesar Jombang pada sektor pertanian. Selain itu, sektor pendidikan juga akan digarap oleh UMM. Program yang akan diberikan yakni pemaksimalan kemampuan guru dan ustadz pondok pesantren dalam menguasai teknologi informasi. Menurut Fauzan, sektor ini menjadi sangat penting untuk menciptakan pendidikan yang semakin berkualitas di era digital. UMM juga bakal membina Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk kurangi angka pengangguran . Melalui upaya pembinaan UKM, UMM berharap dapat memberikan kontribusi terbaiknya bagi masyarakat. Tak hanya itu, UMM juga akan upayakan penanganan kepada anak-anak jalanan agar memiliki masa depan yang cerah. Sebelumnya, UMM telah melakukan kerja sama dengan pemerintah Kabupaten Jombang, tepatnya pada era Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P saat menjadi Rektor. Kerja sama tersebut mengizinkan UMM untuk mendirikan laboratorium Fakultas Kedokteran (FK) UMM di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. (mir/can)
Dosen UMM Gagas Kaderisasi Petani Kopi Berbasis Literasi

KOMODITAS kopi dan aktivitas ngopi menjadi alat pemersatu utamanya kelompok milenial. Disamping itu, sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa komoditas kopi telah lama menjadi unggulan wilayah beriklim tropis, salah satunya yang berada di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bahkan, kecamatan dengan luas 135,57 kilometer persegi tersebut menyandang predikat sebagai Kota Kopi. Terhitung sudah tiga generasi melakukan budidaya kopi. Salah satu desa di wilayah Kecamatan Dampit yang memiliki keunggulan komoditas perkebunan kopi tersebut adalah Desa Amadanom dengan luas wilayah 6,11 kilometer persegi. Topografi desa yang berbukit ditambah dengan iklim yang mendukung, menjadikan Desa Amadanom sebagai primadona bagi komoditas tanaman kopi berjenis robusta. “Tetapi, meski begitu, potensi tersebut belum di dukung dengan komitmen generasi muda dalam melanjutkan proses regenerasi agar potensi perkebunan kopi robusta tersebut tetap eksis bahkan semakin ekspansif. Tidak sedikit diantara mereka yang lebih memilih menjadi pekerja migran bahkan sampai ke luar negeri,” ungkap M. Saprin Zahidi, akademisi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Fenomena tersebut yang kemudian menginspirasi tim Pengabdian Masyarakat UMM yang diketuai oleh M. Saprin Zahidi dan beranggotakan Hutri Agustino, Havidz Ageng dan Erfan Dani untuk mengajukan proposal Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) ke Ristekdikti untuk pendanaan Tahun 2019. Setelah melalui serangkain seleksi termasuk verifikasi lapang, proposal tersebut dinyatakan layak. Sebagai awal dari pelaksanaan program tahun jamak tersebut adalah launching kelas literasi kopi yang langsung dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Malang, Drs. Suwadji., S.IP. M.Si. Kelas literasi kopi tersebut terbagi dalam delapan sesi tematik dengan melibatkan 25 kader petani kopi usia produktif yang tersebar dari beberapa dusun di wilayah Desa Amadanom. Beberapa tema utama yang disampaikan oleh para narasumber mulai dari membangun mentalitas petani kopi kaum milenial sampai pada pengolahan kulit biji kopi menjadi pupuk cair sebagai nilai tambah (value added). “Di akhir kelas, direncanakan akan digelar festival kopi robusta hasil dari proses kaderisasi yang sekaligus penyerahan sertifikat lulus pelatihan,” terang Saprin, Rabu (31/7). “Kegiatan PPDM yang dilakukan para dosen UMM ini diharapkan mampu memberikan dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat lokal. Utamanya bagi mereka yang selama ini beranggapan bahwa menjadi petani kopi tidak memiliki prestis,” tandas Saprin. Kaderisasi petani kopi berbasis literasi ini, lanjutnya, tidak berhenti di sini. Melainkan akan digelar di sejumlah wilayah penghasil kopi lainnya. (*/Can)
BIPA UMM Latih PTN/PTS Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Asing

Sebagai salah satu lembaga yang terbilang senior di Jawa Timur, Lembaga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Universitas Muhammadiyah Malang (BIPA UMM) kerap mendampingi pengajaran bahasa dan budaya Indonesia ke sejumlah instansi. Misalnya 24 orang mahasiswa asing dari berbagai negara mengikuti pembekalan Diplomatik Darmasiswa RI di BIPA UMM pada awal Juli lalu. Mereka berasal dari Papua Nugini, Vietnam, Thailand, Ukraina, Mesir, Yaman hingga Amerika. Para mahasiswa asing ini mengikuti Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KMB) dan Darmasiswa Kemdikbud RI yang diadakan di BIPA UMM. Rekam jejak baik ini yang membikin sejumlah instansi mempercayai BIPA UMM untuk mendampingi mereka. Hal ini juga yang mendasari beberapa PTN/PTS di Jawa Timur seperti Universitas Trunojoyo, Universitas Negeri Surabaya, Universitas PGRI Adibuana Surabaya datang ke UMM untuk mengikuti Pelatihan Pengajaran BIPA Tingkat Pemula, Senin (29/7). Pada acara pembukaan yang dihadiri oleh Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. selaku kapala BIPA UMM ini dihadiri oleh 20 peserta, jumlah ini sengaja dipilih karena dirasa lebih efektif dalam menangkap materi dan juga praktik mengajar yang diberikan. Selain itu turut hadir pula Dr. Ratih Juliati,M.Si. selaku Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kerjasama UMM yang sekaligus membuka acara Pelatihan Pengajaran BIPA Tingkat Pemula secara resmi di Ruang Kelas BIPA . Dalam sambutannya Ratih menyampaikan rasa bangganya kepada peserta yang hadir karena masih banyak yang peduli dan cinta bahasa dan budaya Indonesia. Ia harap semangat ini tidak pernah pudar untuk menginternasionalkan bahasa Indonesia. Sementara, Arif menyatakan, pelatihan yang didiadakan tiga hari ini ditujukan untuk umum. Terutama untuk dosen dan juga mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap BIPA yang diproyeksikan bisa mengajar bahasa Indonesia untuk orang asing. Dalam pelatihan yang baru pertama kali diselenggarakan pada tahun 2019 ini, para peserta akan mendapatkan beberapa pembelajaran seperti teori dasar ke-BIPA an, Micro Teaching, dan juga sikap, serta pengetahuan kebudayaan Indonesia. “Karena BIPA kami baru berdiri satu tahun ini, kami perlu sekiranya untuk belajar lagi dan mengeksplore apa saja yang harus dikembangkan. Oleh karena itu kami datang ke pelatihan ini,” ungkap Ferra Dian Andanty, SS., M.Pd dari Universitas PGRI Adi Buana. (can)