Kembang Api Meriahkan Closing Ceremony KKN 84 UMM

Semarak Closing Ceremony Kelompok Kuliah Kerja Nyata 84 Kedungsalam, Donomulyo, Kabupaten Malang berlangsung meriah dengan kembang api, Rabu (15/8). Kegiatan ini sekaligus perayaan menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74. KKN 84 bekerjasama dengan Bioskop Keliling (Bioling) UMM dalam pemutaran film “Cek Toko Sebelah” yang disutradai Ernest Prakasa. Dengan menampilkan film keluarga yang dibalut dengan komedi ini terlihat antusias warga. Hal ini terbukti dari ludesnya 500 tiket pengunjung. “Ini merupakan pelaporan sekaligus penutupan dalam pengabdian kami kepada Desa Kedungsalam selama sebulan ini. Kami menyajikan Festival Kembang Api dan nonton bersama semata untuk memberikan hiburan kepada masyarakat Kedungsalam,” sebut Dana Sulistya, koordinator desa Kelompok 84. Kegiatan ini disajikan untuk memberikan kesan perpisahan yang terasa dekat dengan warga Desa Kedungsalam. Setiap warga yang hadir diberi kembang api dan obor yang dinyalakan bersama sebagai simbol pelepasan mahasiswa KKN 84. Tidak sedikit warga yang ikut merasakan kesedihan pengabdian ini. “Sudah berakhir pengabdian masyarakat dari mahasiswa KKN UMM ini. Semoga tidak berakhir juga silaturahmi dengan warga-warga. Semoga diberi kelancaran dalam prosesnya belajarnya di Perguruan Tinggi,” sebut Suprianto selaku Penanggung Jawab Kepala Desa Kedungsalam saat memberikan sambutan. Acara Festival Kembang Api kali ini ditutup dengan pengumuman undian doorprize untuk para warga yang hadir dengan berbagai hadiah menarik seperti kulkas, kipas angin, dan berbagai hadiah lainnya. Bioling UMM sendiri akan mengaspal tiap pekannya memberikan hiburan kepada masyarakat ala layar tancap. (bel/can)
Mahasiswa UMM Olah Sampah Plastik Jadi Paving Block

Sampah plastik merupakan permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi masyarakat Indonesia dan dunia. Penggunaan produk plastik yang tidak ramah lingkungan menyebabkan berbagai masalah lingkungan hidup yang serius. Untuk itu, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur mengolah limbah plastik tersebut menjadi paving block atau conblock. Pengolahan limbah plastik itu dilakukan para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 49 Divisi Ekonomi di Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang Jawa Timur. Kegiatan pengolahan plastik tersebut dilakukan para mahasiswa bersama dengan masyarakat dan aparat desa, Jum’at (9/8). “Banyaknya limbah sampah plastik yang berserkan di lingkungan Desa Kemiri ini dapat merusak ekosistem lingkungan desa. Itulah alasan utama mahasiswa KKN 49 UMM untuk mencetuskan program unggulan mengolah limbah sampah plastik menjadi sebuah inovasi paving block,” ujar Ketua Divisi Ekonomi KKN 49 UMM, Arief Elfandi. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM itu menambahkan, selain sebagai solusi alternatif pengurai limbah plastik, kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu menjadi sumber tambahan pendapatan masyarakat desa, serta menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Kemiri. Di tempat yang sama, mahasiswa KKN 49 UMM Divisi Ekonomi, Adil Abdul Hakim menambahkan, untuk memproduksi 1 buah paving block, diperlukan 1 kg sampah plastik yang dicampur dengan 1 kg pasir, lalu dicampur oli bekas. “Masak oli bekas hingga mendidih, kemudian masukkan limbah sampah plastik ke dalam tungku berisi oli panas. Kemudian, jika sudah mencair keseluruhan plastik masukkan pasir lalu aduk hingga menyatu,” ujar Adil Abdul Hakim. Selanjutlanya, lanjut mahasiswa Fakultas Teknik Informatika UMM itu, masukkan campuran plastik dan oli bekas tersebut ke dalam cetakan paving block. “Kami sangat senang karena bisa berbagi teknik pengolahan paving blok ini, apalagi kami juga mendapat dukungan antusias dari para Ketua RT dan Ketua RW Desa Kemiri, para perangkat desa Kemiri, pejabat TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terakhir), DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kepanjen Malang, serta dosen pembimbing Ibu Ririn,” papar Adil Abdul Hakim lagi. Sementara itu, Kepala Desa Kemiri, Wijiati mengatakan, pihaknya berterimakasih kepada para mahasiswa KKN 49 UMM, karena telah memaparkan inovasi pengolahan limbah plastik dan oli bekas kepada para perangkat desa. “Saya sangat senang dan berterima dengan adanya ide inovasi pengolahan sampah plastik menjadi paving block ini, yang mana sampah merupakan PR bagi kita semua. Dan saya berharap ke depan sampah ini bisa menjadi sampah berkah atau pun sampah rupiah yang dapat menambah penghasilan bagi masyarakat Desa Kemiri, untuk pemasaranya mungkin nanti akan di bantu oleh BUMDES,” ujar Wijiati. (can)
KOPIN, Macam-Macam Olahan Kopi Inovasi Mahasiswa UMM

Ngantang merupakan salah satu daerah penghasil kopi yang cukup melimpah di Kabupaten Malang. Bahkan pada tahun 2017, produksi kopi mencapai 348 ton biji kopi. Sugiati, Kepala Dusun Ganten, Desa Tulung Rejo, Kecamatan Ngantang menyatakan dusunnya menghasilkan lebih dari 100 ton kopi setiap tahunnya. Namun kopi ini hanya dijual secara gelondongan (borongan) dengan harga yang relatif murah. Melihat permasalahan ini Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 105 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinisiatif untuk membuat inovasi olahan kopi agar produk yang dihasilkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Salah satu aksinya, kelompok mahasiswa ini beberapa waktu lalu mengadakan penyuluhan produk olahan kopi melalui kreasi olahan kopi inovatif. Muhammad Faizal Anshori selaku kordinator bidang Ekonomi dan Kewirausahaan KKN 105 UMM menyampaikan, tak hanya kerupuk kopi, berbagai potensi dan inovasi produk olahan kopi juga coba dibuat. Seperti mie kopi, nasi goreng kopi, sabun kopi, selai kopi hingga masker kopi serta analisa usaha produk olahan kopi. “Olahan produk kopi ini di beri brand KOPIN singkatan dari Kopi Inspiratif Ngantang, “ kata Faiz (12/8). Dengan brand KOPIN, Faiz berharap agar warga Dusun Ganten bisa terus berinovasi untuk membuat olahan kopi yang unik dan inspiratif. Sehingga produk olahan kopi bisa menjadi produk khas dari Dusun Ganten khususnya melalui inovasi Kerupuk kopi. Untuk memberikan nilai tambah produk kerupuk kopi dilakukan pengemasan dan pemberian label produk sehingga kerupuk kopi lebih memiliki daya tarik. Angga Pratama Fikri, selaku Koordinator Desa KKN 105 UMM menyampaikan, warga Dusun Ganten terutama kelompok ibu-ibu sangat antusias dengan diadakannya penyuluhan produk olahan kopi. Angga juga berharap kegiatan penyuluhan ini bisa meningkatkan perekonomian warga Dusun Ganten dan tidak hanya berhenti pada tahap penyuluhan saja tetapi berlanjut meskipun program KKN berakhir. (*/can)
Lewat Konsep Green Village, Mahasiswa UMM Ajak Warga Tambak Rejo Jaga Lingkungan

Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 98 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses meresmikan Green Village atau Desa Hijau pada Senin (5/8). Program kerja yang digagas oleh KKN 98 UMM bersama dengan masyarakat dusun Tambak Rejo diresmikan di Desa Plandi oleh Camat Wonosari. Acara yang dilaksanakan di Gapura Dusun Tambak Rejo Desa Plandi Kabupaten Malang ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama yaitu peresmian “Green Village” yang diresmikan oleh Camat Wonosari, Sesi Kedua yaitu peninjauan lokasi bersama seluruh tamu undangan. Menurut Koordinator Desa KKN 98 UMM, Dandy M. Reza dalam sambutannya, Green Village berkonsep kawasan penghijauan yang terintegrasi dengan berbagai aspek yaitu seperti program hidup sehat, kerajinan tangan, serta pengelolaan sampah yang baik dan benar. Acara ini dihadiri oleh lebih dari lima puluhan peserta. Hadir pula segenap pejabat tingkat dusun, desa dan kelurahan di antaranya Camat Wonosari, Ketua Ibu PKK, Ketua Dasa Wisma dan Masyarakat dari tiga Dusun Desa Plandi yaitu Dusun Selobekiti, Dusun Tambak Rejo, Dusun Pandan Ploso. “Semoga Dusun Tambak Rejo tidak dipandang sebelah mata sebagai dusun terpencil, tetapi Dusun Tambak Rejo dikenal sebagai dusun yang memiliki berbagai potensi di segala hal seperti sayuran, dan lainnya,” ujar penanggung jawab pelaksana, Sulistyoningrum Dalu Lestari. Sedangkan menurut Drs. A Muzaki, Camat Wonosari, dengan adanya Green Village ini semoga desa ini dapat menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan untuk kebutuhan keseharianya. Berharap rogram ini tidak berhenti pada saat peresmian, tapi diteruskan masyarakat dusun Tambak Rejo. Senada dengan itu, Kepala Desa yang baru terpilih menyanggupi untuk melanjutkan dan mengembangkan program ini lebih luas lagi di dusun lainnya. Dilanjutkan dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa masyarakat diharapkan dapat menjadi lebih peduli lingkungan lewat Green Village ini. KKN 98 UMM merupakan KKN tematik kewirausahaan yang dibimbing oleh dosen UMM, Setyo Wahyu S.E., M.E selaku dosen pendamping lapangan KKN Wonosari, Kuliah kerja nyata ini berlangsung selama 28 hari yaitu mulai dari 18 Juli 2019 dan berakhir pada 16 Agustus 2019 mendatang. (can)
Dosen UMM Kembangkan Zat Pewarna Alami Pangan dari Bunga Mawar

Penggunaan pewarna bukan untuk makanan masih menjadi pelanggaran yang terbanyak kedua pada produk pangan setelah pemanis buatan. Adapun pewarna non-pangan yang masih digunakan dan beredar bebas di pasaran seperti Rhodamin B, Methanyl yellow dan Pounceau. Hal ini tentu mengancam kesehatan masyarakat. Latar belakang ini mengunggah kepedulian Kepala Laboratorium Sentral dan Halal Center Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP untuk mengangkat penelitian berjudul Potensi Pigmen sebagai Zat Pewarna dan Antioksidan Alami untuk Mendukung Penyediaan Pangan Sehat dan Pemberdayaan Daerah. Elfi memang saat ini tengah fokus mengambil sampel bunga mawar sebagai zat pewarna alami berbasis pigmen (antosianin, karotenoid, klorofil). Pigmen yang dijadikan sampel Elfi dari organ tanaman yang terdapat pada bunga, buah dan umbi, maupun rumput laut sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan zat pewarna sintetis. ”Penggunaan bahan pewarna berbahaya secara berlebih pada makanan dapat membahayakan kesehatan manusia. Masalah yang diakibatkan karena ketidaktahuan masyarakat mengenai aturan kadar dan jenis pewarna buatan yang diizinkan, membuat saya sadar akan kekayaan hayati lokal,” ungkap Elfi saat diwawancarai, Senin (12/8). Penelitian ini dibagi kedalam 3 tahap, yakni eksplorasi kekayaan hayati lokal sebagai sumber pigmen penyumbang warna merah-keunguan, Karakterisasi pigmen beberapa kekayaan hayati lokal, sebagai pengganti Rhodamin B, dan uji efektivitas kadar penggunaannya pada beberapa produk pangan seperti sari buah, jam, dan yoghurt Perempuan kelahiran Pasuruan ini mengaku penelitiannya diilhami dari Alquran surat An-Nahl ayat 68-69 dimana minuman yang dikeluarkan dari perut lebah atau yang biasa kita sebut madu itu berasal dari bermacam-macam warna yang akhir-akhir ini biasa kita sebut sebagai pigmen terbukti bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit. Melalui penelitiannya, Elfi mampu meraih predikat Juara Kedua mewakili Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Cabang Malang dari 14 usulan calon penerima PATPI Award 2019 oleh Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia pada Forum Seminar Internasional PATPI tahun 2019 di Kota Bandung, Jawa Barat. (riz/can)
Begini Penjelasan Islam yang Berkemajuan

Islam yang berkemajuan merupakan bentuk transformasi Al Maun untuk menghadirkan dakwah dan tajdid dalam pergulatan kehidupan keummatan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Agama Islam yang bercorak maju dan mencerahkan merupakan wujud dari pandangan keagamaan yang bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan mengembangkan ijtihad di tengah kehidupan modern di abad ke-21 yang kompleks. “Islam yang berkemajuan menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan dan kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh ummat manusia,” demikian pesan utama yang diuraikan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M. Ag. dalam kesempatan menjadi khatib pelaksanaan shalat Idul Adha di lapangan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (10/8) pagi. “Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Islam yang menggelorakan anti perang, anti terorisme, anti kekerasan, anti penindasan, anti keterbelakangan, dan anti dalam segala bentuk pengrusakan di muka bumi, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemungkaran yang menghancurkan kehidupan ummat manusia,” urai Agung.Islam yang secara positif, lanjut Agung, melahirkan keutamaan yang memayungi kemajemukan suku, ras, bangsa, golongan dan kebudayaan ummat manusia di muka bumi. Karakter Islam yang berkemajuan telah memberikan kekuatan yang dinamis, dalam menghadapkan Islam dengan perkembangan zaman. Dalam penghadapan Islam atas realitas zaman itu dikembangkan ijtihad dengan menggunakan akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Islam dalam pergumulan dengan kehidupan sepanjang zaman, sambung Agung, harus diwujudkan dalam amal. Islam sangat menjunjung tinggi amal, sejajar dengan iman dan ilmu. Sehingga Islam hadir dalam paham keseimbangan sekaligus membumi dalam kehidupan. Dalam kehidupan yang konkrit, tidak ada manisfestasi lain dari Islam, kecuali dalam amal shaleh. “Islam memiliki pandangan tentang masyarakat yang dicita-citakan, yakni masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam pesan Al Qur’an, masyarakat Islam diidealisasikan sebagai perwujudan khaira ummah (ummat terbaik) yang memiliki posisi dan peran sebagai ummatan washatan (ummat tengahan), dan syuhada alannas (pelaku sejarah) dalam kehidupan manusia,” papar Agung. Masyarakat Islam adalah suatu masyarakat yang di dalamnya ajaran Islam berlaku dan menjiwai seluruh bidang kehidupan yang dicirikan oleh pertama, bertuhan dan beragama. Kedua, berpersaudaraan atau ukhuwah. Ketiga, berakhlak dan beradab. Keempat, berhukum syar’i. Kelima, kesejahteraan. Keenam, bermusyawarah. Ketujuh, berikhsan. Kedelapan, berkemajuan. Sembilan, berkepemimpinan. Kesepuluh, berketertiban. Dengan demikian masyarakat Islam menampilkan corak yang bersifat tengahan yang melahirkan format kebudayaan dan peradaban yang berkeseimbangan. “Masyarakat Islam yang dicita-citakan tersebut, memiliki kesamaan karakter dengan masyarakat Madani atau civil society yang maju, adil, makmur, demokratis, mandiri, bermartabat, berdaulat dan berakhlak mulia, yang dijiwai nilai-nilai Ilahiyah,” terang Agung. Masyarakat Islam sebagai kekuatan Madani, menjunjung tinggi kemajemukan agama, dan pemihakan terhadap kepentingan seluruh elemen masyarakat, perdamaian dan nir-kekerasan. “Serta menjadi tenda besar bagi golongan dan seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi,” tandas Agung. Sementara itu, terkait dengan penyediaan hewan kurban, UMM telah menyiapkan 7 sapi dan 13 kambing. Hewan kurban ini didistribusikan ke beberapa titik, seperti di wilayah dakwah UMM yang ada di Malang Selatan, serta sejumlah titik di penempatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata. Selain itu, tentunya di bagikan ke sekitar masyarakat Kampus III UMM. Kampus Putih sendiri melaksanakan shalat Idul Adha di dua tempat berbeda. Shalat Idul Adha di Kampus III UMM Jalan Raya Tlogomas diimami oleh Ustadz Anry Oktapiansyah, S.Sy. Sementara di Kampus II UMM Jalan Bendungan Sutami yang berlaku sebagai khatib, ialah Azhar Muttaqin, M.Ag, sementara imam Ustadz Wahyu Hidayat. (riz/can)
Tiga Persepektif tentang Indonesia Berkemajuan menurut Muhammadiyah

Dalam rangka menerjemahkan masyarakat Islam dalam konteks Indonesia kontemporer, maka Muhammadiyah merumuskan konsep Indonesia Berkemajuan sebagai sumbangsih Muhammadiyah terhadap konsep Indonesia ke depan. Indonesia Berkemajuan dimaknai sebagai negara utama atau Al Madinatul Fadhillah atau negara berkemakmuran dan berkeadaban dan negara yang sejahtera. Demikian pesan utama yang diuraikan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M. Ag. dalam kesempatan menjadi khatib pelaksanaan shalat Idul Adha di lapangan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (10/8) pagi. Dihadiri oleh ribuan jamaah dari seantero Malang Raya. Shalat pun berlangsung penuh khidmat. Karenanya negara yang Berkemajuan, lanjut Agung, adalah negara yang mendorong terciptanya fungsi kerisalahan dan kerahmatan yang didukung sumberdaya manusia yang cerdas, berkepribadian, dan berkeadaban mulia. Karena itu, negara berkemajuan harus mampu menegakkan kedaulatan. “Baik di bidang wilayah, politik, hukum, ekonomi dan budaya; bisa mendatangkan kemakmuran; terpenuhinya sandang, pangan dan papan; mewujudkan kehidupan material dan spiritual; menjamin kebebasan berpikir, berekspresi dan beragama; menghormati hak asasi manusia, dan; menciptakan keamanan dan jaminan masa depan,” ungkapnya. Pertama, dalam perspektif politik Indonesia Berkemajuan adalah negara demokrasi yang dijiwai oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, berdasarkan hukum yang berkeadilan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keberadaban. Demokrasi dalam kehidupan kebangsaan yang berkemajuan harus beretika tinggi yang dilandasi nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, pemusyawaratan, dan keadilan. “Etika politik berdemokrasi ini ditunjukan dalam sistem tindakan yang mengedepankan perilaku jujur, damai, kesatria, dan saling menghormati. Dan menolak tindakan-tindakan anarkis, praktik menghalalkan segala cara, kekerasan dan kecurangan,” ungkap pendakwah yang juga dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Kedua, dalam perspektif ekonomi. Disambung pria kelahiran Kulonprogo, 24 Januari 1968 ini, Indonesia Berkemajuan dicirikan oleh terciptanya sistem ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan yang berkedaulatan, berkeadilan, dan berkelanjutan dengan keseimbangan pendayagunaan potensi darat, laut dan udara. “Indonesia Berkemajuan harus berdaulat secara ekonomi,” katanya. Hal ini terutama berkaitan dengan upaya untuk menciptakan keadilan distributif bagi warga negara guna memperoleh akses dan kepemilikan serta pengelolaan sumber daya ekonomi dan menyediakan sumber kehidupan dan lapangan pekerjaan untuk seluruh rakyat Indonesia yang layak. Paradigma pembangunan ekonomi yang dianut dan dilaksanakan merupakan sistem ekonomi yang mengupayakan keadilan dan kedaulatan bangsa. Serta, pada saat yang sama mampu membawa kemakmuran bagi seluruh warga negara. Sementara, lebih jauh lagi, di persepktif ketiga atau perspektif sosial-budaya, Indonesia Berkemajuan ditandai oleh berkembangnya budaya nasional yang merupakan puncak-puncak budaya daerah dan terbuka pada budaya baru yang sesuai dengan kepribadian bangsa. “Untuk dapat mewujudkan konsep Indonesia Berkemajuan, yang merupakan tafsir kontemporer ke-Indonesiaan atas konsep baldatun thoyibatun warabbun ghafur tersebut, dibutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh warga masyarakat,” tegas Agung. Indonesia Berkemajuan adalah cita-cita kita bersama sebagai realisasi tugas kerisalahan ummat manusia sebagai abdi dan hamba Allah di muka bumi. “Menjadi tugas kita bersama Bangsa Indonesia, khususnya kaum muslimin, untuk merealisasikannya,” tandas Agung. Sementara itu, terkait dengan penyediaan hewan kurban, UMM telah menyiapkan 7 sapi dan 13 kambing. Hewan kurban ini didistribusikan ke beberapa titik, seperti di wilayah dakwah UMM yang ada di Malang Selatan, serta sejumlah titik di penempatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata. Selain itu, tentunya di bagikan ke sekitar masyarakat Kampus III UMM. Kampus Putih sendiri melaksanakan shalat Idul Adha di dua tempat berbeda. Shalat Idul Adha di Kampus III UMM Jalan Raya Tlogomas diimami oleh Ustadz Anry Oktapiansyah, S.Sy. Sementara di Kampus II UMM Jalan Bendungan Sutami yang berlaku sebagai khatib, ialah Azhar Muttaqin, M.Ag, sementara imam Ustadz Wahyu Hidayat. (riz/can)
Satu-satunya Perwakilan PT Swasta, Luthfin Belajar Industri Peternakan Ke Australia

Dua puluh mahasiswa Indonesia yang berasal dari 14 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 1 Perguruan Tinggi Swasta (PTS), terpilih untuk mengikuti program dari NTCA Indonesia Australia Pastoral Program (NIAPP) 2019 di Australia. Mahasiswa yang terpilih berkesempatan untuk belajar industri peternakan di Australia. Salah satunya, mahasiswi Prodi Peternakan UMM angkatan 2016, Luthfin ‘Abidah, yang merupakan satu-satunya mahasiswi dari PTS yang lolos serangkaian tes seleksi program NIAPP 2019 yang ketat. Terdiri dari seleksi administrasi, tes tulis mengenai pengetahuan industri sapi potong Indonesia dan Australia serta tes fisik. Luthfin mengaku sangat bersyukur dan bangga bisa terpilih menjadi salah satu dari 20 peserta terpilih. Terlebih lagi yang menjadi saingannya adalah mahasiswa dari universitas bergengsi di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran dan lainnya. “Selain tes fisik, kami juga harus presentasi dan interview di hadapan profesor juga dosen bidang industri sapi potong dan para alumni NIAPP 2018. Di Seleksi akhir, presentasi dan wawancara dengan perwakilan NTCA dari Australia, PD 3 FAPET UB, ISPI, dan alumni NIAPP 2018,” ungkap mahasiswa asal Ponorogo, Jawa Timur. Setelah dinyatakan lulus, Luthfin dan 19 peserta lainnya harus mengikuti pelatihan pre-departure terlebih dahulu. Pelatihan akan dilaksanakan di Cianjur, Jawa Barat pada tanggal 12-16 Agustus 2019 mendatang. Pada sesi ini peserta dibekali terkait pengendalian ternak, kesejahteraan hewan, hingga sejarah program NIAPP. Selanjutnya, Lutfin juga akan berada di Kementrian Pertanian RI untuk melaksanakan acara pelepasan oleh Dirjen Peternakan. Perjalanan Luthfin di Australia akan berlangsung selama 10 minggu yang berisi pelatihan dan magang di Nothern Territory, Australia terhitung mulai tanggal 25 Agustus hingga 31 Oktober 2019 nanti. Ternyata, keputusan Luthfin berangkat ke Australia harus meninggalkan kesempatan lainnya. “Sebenernya aku sedikit dilema waktu diterima NIAPP. Pasalnya tiga minggu sebelumnya aku dinyatakan lolos TF Scale (Temasek Foundation Specialists’ Community Action and Leadership Exchange) ke Singapura,” ungkapnya. “TF Scale adalah mimpiku sejak semester dua, pun program NIAPP juga mimpiku sejak semester tiga. Akhirnya setelah ku fikirkan matang-matang, NIAPP agaknya akan banyak memberiku ilmu tentang peternakan dan pengalaman skala internasional, maka aku putuskan untuk mengundurkan diri dari TF Scale,” katanya Sabtu (10/8). Beruntungnya, Luthfin mendapatkan pembiayaan akomodasi program ini secara penuh (full funded). NTCA, pemerintah Australia dan Indonesia-Australia Red Meat and Cattle Partnership akan membiayai seluruh kegiatan sejak keberangkatan dari Bali menuju Darwin, Australia serta akomodasi selama sepuluh pekan di Australia. Luthfin berharap perjalanannya sejak seleksi hingga selesai program NIAPP 2019 dapat menginspirasi semua pihak, utamanya mahasiswa jurusan peternak UMM sehingga dapat terus berkiprah di dunia peternakan hingg ke skala internasional. “Tak ada usaha yang sia-sia, gemparkan langit dengan doa-doa,” tandasnya. (*can)
Mensesneg di UMM: Ilmu Sosial adalah Pemimpin Ilmu

MENTERI Sekertaris Negara (Mensesneg) Republik Indonesia Prof. Dr. Pratikno saat menjadi pembicara kunci Konvensi Nasional Ilmu-ilmu Sosial Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) menyampaikan materi dengan fokus pada Pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) dari Perspektif Ilmu Sosial. Bertempat di Teater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (8/8), Menteri Pratikno menyampaikan akumulasi dari pengalamannya selama menjadi praktisi ilmu sosial, khususnya saat dirinya menjadi rektor UGM. Dari pengalamannya tersebut, ia mengungkapkan bahwa ilmu sosial adalah pemimpin segala ilmu. “Untuk mengetahui masyarakat, keinginan masyarakat, kita perlu memiliki ilmu sosial. Produk, yang bagus tidak akan sampai pada masyarakat, tanpa adanya ilmu sosial. Sehingga boleh dikatakan bahwa ilmu sosial adalah pemimpin ilmu” tuturnya di hadapan pengurus HIPIIS dan civitas akademika Kampus Putih, UMM. Lebih lanjut, ia mengungkapkan ilmu sosial tidak lagi ilmu yang berdiri sendiri. Dengan pengalamannya, analogi pohon ilmu yang selama ini dikenalkan sudah tidak dapat dipakai lagi saat ini. Ilmu, dalam konteks revolusi industry 4.0 bertransformasi menjadi pohon belantara, dimana ilmu pengetahuan tidak ada lagi yang monodisiplin. “Sudah saatnya perguruan tinggi menggunakan pendekatan interdisiplin, di mana pemecahan suatu masalah, juga harus dengan menggunakan sudut pandang ilmu yang lainnya. Misalnya seorang direktur rumah sakit sarjana yang ia tempuh kedokteran, tapi magisternya bisa saja mengambil disiplin ilmu manajemen,” sebut Praktikno. Pratikno lantas memberikan contoh pada perusahaan teknologi Gojek. Nadiem Makarim, yang merupakan orang ilmu sosial membangun bisnis dengan misi sosial. Ia mengidentifikasi masalah yang ada pada masyarakat saat ini. Akhirnya ia memberikan solusi dengan memanfaatkan Big Data dengan pendekatan data science. lewat pendekatan ini, ilmu sosial dapat diolah dengan teknologi dan menjadi sesuatu yang bernilai. “lmu sosial adalah di mana sebuah masalah bisa diidentifikasi, dan solusi dapat ditemukan. Terlebih, di Indonesia saat ini memasuki era Revolusi Industri 4.0. yang mana segala solusi bisa juga diselesaikan dengan teknologi,” tuturnya. Berangkat dari hal tersebut, Pratikno lantas menuturkan bahwa SDM yang unggul dan dapat berkembang apabila memiliki karakter ilmuwan sosial masa kini. Di antara karakter unggul ilmuan sosial itu yakni dia berwawasan luas, melihat segala hal dengan perspektif yang berbeda, fleksibel dan responsif, serta cakap berargumentasi. “Pembangunan sumberdaya manusia ke depan harus dilandasi jiwa pejuang, determinasi tinggi untuk maju dan belajar berdasarkan empati dan sosiability. Agar generasi masa depan Indonesia dapat membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkemajuan serta mampu menghadapi segala tantangan,” tutupnya. (bel/can)
Pakar Ilmu Sosial di Konvensi HIPIIS: Perlu Keseimbangan Pembangunan Infrastruktur dan SDM

Sesi pertama Konvensi Ilmu-ilmu Sosial Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPISS) di Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (8/8), fokus menanggapi isu perihal respon ilmu sosial yang terkait dengan Pembangunan Infrastruktur dan Implikasinya terhadap Perubahan Sosial. Konvensi yang dimoderatori Dr. M. Alfan Alfian ini menghadirkan Prof. Dr. Ravik Karsidi, Dra, Fransisca Saveria Sika Ery Seda, MA, PhD (Sosiolog UI), dan Prof. Dr. Bagong Suyatno, (Sosiolog Unair). Sosiolog UI Ery Seda dalam pemaparannya menyebut ada beberapa implikasi sosial dari pembangunan infrastruktur yang perlu diperhatikan lebih jauh oleh para pegiat ilmu-ilmu sosial. Secara umum, implikasi pembangunan infrastruktur diharapkan dapat mendukung pengentasan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, pemerataan hasil pembangunan untuk mengurangi kesenjangan wilayah, memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara langsung, serta meningkatkan konektivitas. “Yakni meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan pelayanan sistem logistik nasional bagi penguatan daya saing bangsa di lingkup global yang berfokus pada keterpaduan konektivitas daratan dan maritim, mengurangi disparitas antar wilayah, antar kawasan, dan antar pendapatan masyarakat termasuk masyarakat miskin dalam upaya pemerataan pembangunan. Serta, menggerakkan ekonomi riil serta menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar khususnya di sektor jasa konstruksi,” papar Ery. Namun sebaliknya, pembangunan infrastruktur juga memiliki implikasi negatif. Dua kasus yang dipaparkan Ery di antaranya konflik Agraria karena pembebasan lahan. Seperti pada kasus yang terjadi di pembangunan infrastruktur Trans Papua dan kasus pembangunan Trans Jawa. Disebutnya, pembangunan infrastruktur ini berpotensi menimbulkan deagrarianisasi serta mendorong urbanisasi. “Dari kasus ini kita perlu membedakan, secara konseptual tentang dampak dengan perubahan sosial,” kata Ery. Sementara, Ketua dewan pertimbangan HIPISS Prof. Dr. Ravik Karsidi menyebut, pada periode kedua ini pemerintag telah mencanangkan prioritas pembangunan Infrastruktur dan pengembangan sumberdaya manusia. “Untuk investasi infrastruktur kembali modalnya akan berlangsung lama, sementara pengembangan SDM modal malah mungkin tidak akan kembali, tetapi merupakan sesuatu yang wajib diadakan agar kita bisa mengikuti perkembangan dunia yang menuntut berubah,” kata Ravik. Di sisi lain, Sosiolog Unair Prof. Dr. Bagong Suyatno justru mengkritik fokus pembangunan infrastruktur dengan mengajukan pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dalam pembangunan infrastruktur. Menurutnya, di setiap pembangunan infrastruktur selalu ada pihak yang diuntungkan dan bahkan dirugikan. “Kalau satu daerah yang kurang maju dihubungkan melalui sebuah infrastruktur ke daerah yang lebih maju, apakah selalu menguntungkan daerah yang kurang maju?” ungkapnya. “Kuncinya adalah pada peningkatan kualitas SDM-nya. Sejalan yang dikatakan Pak Ravik, agar pembangunan infrastruktur bisa menghasilkan dampak positif bagi perubahan sosial yakni diperlukan integrasi yang baik di bidang infrastruktur, ekonomi, sosial dan administrasi. Selain itu juga diperlukan strategi khusus membangun SDM melalui reformasi bidang pendidikan, mental dan birokrasi khususnya capability yang mampu menyesuaikan tuntutan baru perubahan sosial,” tandas Bagong.(can)