Cerita Prof Syamsul Tentang Menjadi Muslim Minoritas di Australia

Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. pada momentum lebaran lalu, Rabu (5/6), menjadi khatib pelaksanaan shalat Iedul Fitri bagi komunitas muslim Indonesia di Perth, Australia. Dalam kesempatan itu, Syamsul membawakan khutbah Id yang bertajuk, Merawat Momentum “Manusia Ramadhan”. Di khutbah yang disampaikan Syamsul di Leisurerelief Center itu, Syamsul menyisipkan tema seputar “Unity in Devirsity” atau Persatuan dalam Keberagaman dalam Islam, guna melengkapi ulasan Syamsul tentang pengalaman ruhani puasa Ramadhan yang berujung pada ketaqwaan sebagai profil dari “Manusia Ramadhan”. “Dalam kasus penetapan 1 Syawal, entah hingga kapan “modus vivendi” antar umat Islam bisa diperjumpakan? Karena penetapan ini menjadi bagian dari “ikhtilaf”, mudah-mudahan saja tidak berakibat terjadinya “iftiraq”, perpecahan dan pertentangan, seperti ulasan Umar Shihab dalam buku, Beda Mazhab Satu Islam, yang terbit pada 2017,” kata Syamsul. Dikisahkan Syamsul, Nabi Muhammad diliputi kekhawatiran level tinggi terkait dengan “ikhtilaf” dan “iftiraq” ini. Di sebuah masjid yang sekarang terletak ke arah kiri Kuburan Baqi’ Madinah, namanya Masjid al Ijabah, permintaan Nabi di urutan ketiga tidak terkabulkan. Sementara dua permintaan pertama dikabulkan. Nabi memohon kepada Allah agar umat Islam terhindar dari perpecahan akibat perbedaan di dalamnya. Ini permintaan ketiga yang tidak terkabulkan. Dalam khutbah di Victoria Park itu, Syamsul juga menyinggung ancaman merenggangnya “ikatan kebangsaan” antara warga negara yang juga menggejala di kalangan Muslim sebagai efek dari politik elektoral. “Manusia Ramadhan”, tegas Syamsul dalam khutbah, “adalah manusia yang memiliki etos kebaikan yang antara lain dicirikan dengan kemampuannya menahan amarah dan mau memberi maaf.” Kita pada Pemilu kemaren, sambung Syamsul, alih-alih malah mudah marah dan cenderung negativistik kepada pihak lain. Alih-alih didasarkan pada alasan rasional dan obyektif, justru karena memang kita tidak menyukainya. Tanpa disadari, kata Syamsul, kita sedemikian dalam terjatuh pada “post-truth”. Menjadi minoritas tidak selamanya diliputi drama yang menguras air mata seperti suku Uighur, minoritas Muslim di Tiongkok atau komunitas Rohingnya di Myanmar, meskipun tidak bisa dikatakan tidak ada ketegangan, tension, yang dialami oleh Muslim di Australia. Dari forum diskusi yang digelar oleh CIMSCA (Curtin Indonesian Muslim Student Association) pada 6 Juni, dimana Syamsul diminta membentangkan riset KLN-nya itu—CIMSCA adalah perkumpulan kedua yang menyediakan forum kepada Syamsul yang sebelumnya pada 4 Juni, Association of Indonesian Postgraduate Students and Scholars in Australia (AIPSSA)   juga mengundangnya mengulas topik Masyarakat Sipil, Pemilu 2019 dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia—seorang peserta bertukar cerita ihwal pengunjung berjilbab yang tidak dilayani oleh kasir dan kurang artikulatifnya suara umat Islam apabila dibandingkan dengan suara dari kalangan Katolik yang menolak pernikahan sejenis yang diusung oleh kaum LGBT. “Mungkin karena Muslim itu minoritas,” kata peserta dalam forum itu. Namun, fenomena secara umum, Muslim di Australia, setidaknya kalau menyimak ungkapan testimonial mahasiswa yang bicara ketika itu, baik di Curtin maupun di UWA, masyarakat dan pemerintah memberikan jaminan terhadap kebebasan beragama termasuk kepada Muslim. Khayruddin Kiramang, asal Bone, Sulawesi, ketua CIMSA yang juga mahasiswa doktoral Curtin University atas sponsor MORA, mengajak Syamsul ke sebuah mushala yang terletak di Curtin University. “Mushalla? Di kampus plat merah? Di negara sekuler pula! Sewaktu mengikuti konferensi di University of Salerno, Italia, Maret yang lalu, alih-alih sekedar ruang kecil untuk shalat, tidak tersedia,” gumamnya. Tetapi di kampus yang namanya dinisbahkan kepada John Curtin, Perdana Menteri Australia, 1941-1945 dan pentolan Partai Buruh, 1935-1945, dan kampus ini “ditubuhkan” pada 1966, alih-alih ruang kecil, tetapi justru mushala dengan ukuran yang lumayan luas dengan kapasitad sekitar 200 orang, serta dengan arsitektur yang unik. Seharusnya bukan mushala, bolehlah disebut masjid karena juga digunakan untuk shalat Jumat sebagaimana yang saya ikuti pada 8 Juni kemaren. “Pada bulan Ramadhan kemaren, di mushalla ini selalu ada takjil,” cerita Pak Din, sapaan akrab Khyaruddin Kiramang yang sedang studi bidang kepustakaan. Ada pula cerita tambahan dari Bu Yuni, selama Ramadhan di gelar semacam bazar di salah satu koridor di kampus Curtin. Menjadi muslim Minoritas, memang ada minusnya. Sebagaimana juga menjadi mayoritas, ada minus, juga plus. Tetapi dari kunjungan beberapa kali ke Australia, saya belajar banyak kepada mereka. “Di tengah keterbatasan sebagai minoritas, mereka bermental mayoritas. Apakah mungkin karena juga pemerintah Australia menjaga jarak dengan agama sebagai wilayah privat? Masih perlu dikaji lagi,” pungkasnya. (*)

Fasilitasi Kreativitas Milenial, FKIP UMM Gelar Kompetisi Vlog Nasional

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan sebuah kompetisi video Blog (VLOG) tingkat nasional. Selain merebutkan uang tunai, sertifikat dan juga trophy, kompetisi ini juga merebutkan piala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kompetisi ini diadakan untuk memberikan sebuah wadah bagi generasi milenial dalam mengembangkan potensi  yang terdapat dalam dirinya. Terutama dalam dunia pembuatan video menarik seperti vlog. Seperti yang kita tahu, saat ini video blog sedang banyak digemari oleh kaum milenial. Melihat fenomena ini, FKIP UMM mencoba untuk memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan kreativitas dalam pembuatan video blog yang kali ini bertemakan “Guruku Idolaku” Pemilihan tema “Guruku Idolaku” ini bukan tanpa alasan. Guruku Idolaku yang diadakan oleh FKIP UMM ini merupakan kampanye penumbuhan karakter dan gerakan menghargai jasa guru-guru Indonesia sebagai garda terdepan dalam mewujudkan peningkatan kualitas Pendidikan. Kegiatan ini sangat penting dilakukan mengingat akhir-akhir ini terjadi gejala dan perilaku yang mengarah pada tidak dihargainya guru, berwujud kekerasan terhadap guru dan bahkan sampai kekerasan yang menghilangkan nyawa. “Guruku Idolaku ini memiliki misi mengembalikan posisi Guru yang dalam filosofi Jawa berarti digugu lan ditiru. Seorang guru merupakan sosok yang harus ‘digugu’ artinya dipatuhi atau didengar dan ‘ditiru’ yang berarti patut dicontoh atau diteladani,” ungkap M. Yunus Prasetya selaku Sie Humas dan Publikasi. Guru, sambung Yunus, tidak hanya seorang yang luas ilmu pengetahuanya dan mengajar dalam ruang pembelajaran. Guru bisa diartikan sebagai orang yang mengajarkan segala sesuatu, meskipun itu hanya satu huruf. Pengalaman bermanfaat yang mampu mengajari diri kita menjadi lebih baik juga dapat disebut sebagai guru. “Profesi seorang guru, termasuk profesi yang dihormati. Guru seharusnya menduduki strata sosial yang tinggi, bahkan ketika telah pensiun. Ia dianggap sebagai sosok yang serba tahu dan menjadi tempat bertanya. Guru juga dinilai sebagai sosok yang berakhlak mulia dan berperan penting dalam mencerdaskan putra-putri bangsa ini. Tanpa guru, tak akan ada kemajuan bangsa,” kata Yunus. Kompetisi vlog nasional kali ini melombakan dua kategori yakni kategori pelajar (siswa SMA sederajat) dan juga kategori umum. Apabila ingin turut memeriahkan kompetisi berhadiah jutaan rupiah ini, calon pendaftar bisa mengakses bit.ly/pendaftaranpesertaNVC untuk mengisi formulir secara onine terlebih dahulu. Batas pengiriman karya sendiri masih cukup panjang yakni sampai tanggal 15 juli mendatang. “Ini merupakan momen yang pas untuk mengkespresikan ide kretifitas dalam mendokumentasikan peranan guru dalam dunia pendidikan di daerah melalui pembutan video blog dengan tema ”Guruku Idolaku” dalam ajang lomba National Vlog Competition (Piala Mendikbud) 2019,” pungkas Yunus. (*)

Lebaran Momentum Wujudkan Masa Depan Lebih Baik

Civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (13/6), memadati Hall Dome UMM. Yakni silaturahmi seluruh elemen kampus ini dalam rangka Halal bi Halal. Ketua Badan Pembina Harian UMM Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. menyebut, pasca Ramadhan merupakan momentum mengumpulkan energi baru  menatap kecemerlangan di masa depan. Malik berkeyakinan, pasca menghadapi puasa, secara fisik justru tubuh semakin fit, semakin sehat. Selain fisik, kita juga harus menjadi pribadi yang semakin jeli melihat masa depan. Saya berharap seluruh elemen terlibat dalam menggerakkan universitas ini sehingga menjadi besar, terpercaya, memegang amanah, serta bertanggung jawab,” sambung Malik. Malik juga mendorong para civitas akademika untuk memiliki nilai dan jiwa yang dianut para pemenang. Diantaranya menghindari untuk tidak bersyukur nikmat dan berpikir ngeres. Orang kecil itu adalah orang yang tidak syukur nikmat, dan orang yang berpikir ngeres-ngeres itu. Orang besar itu yang bisa menysukuri nikmatnya yang diberikan Tuhan kepada kita. Baca juga: Fasilitasi Kreativitas Milenial, FKIP UMM Gelar Kompetisi Vlog Nasional   “Insya Allah, jika kita mengembangkan (prinsip) itu, hidup ini akan barokah. Barokah itu tidak dihitung dengan seberapa banyak uang yang dimiliki,” kata Malik dengan bersehaja. Malik lantas menegaskan Muhammadiyah sebagai organisasi pergerakan, “Kalau ingin bisa menjadi orang pergerakan yang berkontribusi bagi umat dan bangsa, di sinilah tempatnya.” “Kita juga punya tanggungjawab strategis untuk menampilkan Muhammadiyah sebagai model pergerakan Islam modern dengan wajah yang ramah Islam Indonesia,” tegas Malik. Setelah Halal bi Halal ini, kita akan memasuki tahun ajaran baru/tahun akademik baru 2019-2020. Tentu kita akan menghadapai tantangannya besar dan perubahan besar. “Mari kita memberikan semaksimal mungkin. Dan itu hanya bisa kita lakukan dengan  bersama-sama. Semua kompak memberikan pelayanan terbaik baik universitas,” ujarnya. Idul Fitri menjadi momentum untuk menjaga kejernihan hati dan batin untuk meningkatkan produktifitas kita. Untuk meluruskan (niat) perjuangan kita. Ini bahagia dan kegembiraan. Disebut Rektor Fauzan, UMM tidak hanya memiliki tanggung jawab pendidikan, tapi juga sosial. Hal itu ditunjukan dengan bertambahnya jumlah keluarga civitas akademika UMM. “Telah banyak penduduk baru di civitas akademika UMM. Itu semua bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab sosial UMM. Juga keberlanjutan UMM ke depan,” sebutnya. Rektor lantas mengucapkan permohonan maaf, baik secara pribadi juga institusi kepada civitas akademika dan rekanan UMM. Ditutup doa dan dilanjutkan dengan ritual saling berjabat tangan. Dalam momen itu juga turut hadir jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang diwakili Nur Cholis Huda. Ia juga menyampaikan pentingnya ritual Halal bi Halal. (can)

Cetak Guru Berwawasan Global Lewat Magang dan KKN Internasional

Terhitung sampai tahun 2019 ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah empat kali mengirimkan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan Magang 3 Internasional ke Thailand. Sejak tahun 2015, FKIP UMM menjalin kerjasama dan mengirimkan mahasiswa untuk mengajar di Thailand. Kunjungan 12 senator (anggota parlemen) Thailand yang dipimpin Jendral Dr.Tuang Antachai (mantan kepala staf Angkatan Darat/Gen.Udomchai Tammasarorat) pada tanggal 10 Agustus 2018 ke UMM meneguhkan kerjasama FKIP ini. Magang ke Thailand ini diselenggarakan pada setiap bulan Juni. Selama satu bulan penuh, mahasiswa melaksanakan kegiatan praktek mengajar di sekolah. Mahasiswa melaksanakan magang di sekolah yang tergabung dalam Muslim Education Development Association Thailand (MEDAT), suatu organisasi sekolah yang beranggotakan SD, SMP dan SMA di seluruh wilayah Thailand. “Berkat kerjasama yang harmonis, setiap tahunnya FKIP mengirimkan 45 hingga 55 mahasiswa dari enam program studi (Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, PGSD, Biologi, Matematika dan PPKN) ke empat provinsi di Thailand, yaitu Bangkok, Satun, Krabi dan Songklha,” ungkap Nur Widodo, Kepala Magang FKIP. Melalui Magang 3 ini, sambung Nur Widodo, mahasiswa melakukan kegiatan mengajar. Apapun latar belakang disiplin ilmunya, mereka akan mengajar Bahasa Inggris, budaya dan Bahasa Indonesia, kepanduan, dan pelajaran ekstra kurikuler lainnya. Mulai tahun 2018 kegiatan Magang 3 ini digabungkan dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kependidikan. Oleh karena itu, durasi program bertambah satu bulan, sehingga magang dan KKN mahasiswa berakhir pada bulan Agustus. Dengan penggabungan magang dan KKN ini, maka mahasiswa semakin leluasa dalam merancang dan melaksanakan kegiatan kemasyarakatan. “Melalui program gabungan ini, mahasiswa mampu mengembangkan koperasi sekolah, mengenalkan berbagai budaya daerah di Indonesia, seperti kesenian wayang, angklung, batik jumput dan lain lainnya. Bahkan ada kelompok mahasiswa yang menggerakkan gemar membaca dan literasi melalui perpustakaan keliling,” ungkap Nur Widodo. Kegiatan Magang 3 dan KKN Internasional ini sekalipun berlingkup bilateral, memiliki makna penting bagi mahasiswa. Tidak hanya terkait dengan school exposer, tetapi lebih pada international atmosphere. Mahasiswa perlu memiliki wawasan internasional, terlebih dengan telah diberlakukannya pasar bebas ASEAN sejak tahun 2015. “Mau tidak mau, dunia pendidikan pasti terimbas oleh globalisasi, dan mahasiswa harus dipersiapkan untuk memenangi kompetisi global termasuk dalam dunia pendidikan ini,” katanya. Lebih jauh Nur Widodo menjelaskan, melalui magang internasional ini maka berbagai kualifikasi seperti yang dikehendaki oleh pembelajaran abad 21 antara lain kemahiran komunikasi, berfikir kreatif, bekerja sama dan bahkan kemandirian dapat dikuatkan pada mahasiswa peserta magang dan KKN Internasional ini. “Oleh karena itulah mahasiswa peserta Magang dan KKN Internasional ini mendapatkan pembekalan yang terkait dengan pemenuhan empat kualifikasi yang dipersyaratkan, penguatan spirit de corp, penguasaan bahasa dan budaya Thailand serta tidak kalah pentingnya adalah  penguasaan mapping dan traveling di Thailand,” pungkasnya. Pengalaman baik kegiatan Magang dan KKN Kependidikan tahun 2018 berhasil mendapatkan apresiasi oleh Kementerian Pendidikan Thailand dalam bentuk “Teacher of the Year”. Penghargaan tersebut diperoleh berkat kerja cerdas mahasiswa dalam mengajarkan dan mengembangkan koperasi sekolah. Mahasiswa peserta magang ini juga telah mendokumentasikan kegiatannya dalam bentuk buku. Dengan membaca buku catatan pengalaman mereka, maka pembaca dapat memetik good practice-nya. Buku karya mahasiswa alumni program magang ini diterbitkan untuk kalangan umum. Judul bukunya “Bangsaku Kawanmu” untuk edisi tahun 2016, dan “Catatan Kenangan Thailand” untuk tahun 2018. Pada tahun 2019 ini FKIP UMM kembali mengirimkan 46 mahasiswa untuk mengikuti kegiatan magang dan kkn internasional. Mahasiswa tersebut merupakan hasil seleksi dari 100 peminat. Ke 46 mahasiswa yang terseleksi selanjutnya telah dipersiapkan dengan intensif selama bulan Mei. Disamping penguatan kualifikasi, pengembangan program individu, penguatan spirit de corp dan penguasaan wilayah dan budaya Thailand, untuk menajamkan kemandirian dan kepekaan sosialnya disentuh melalui program MOR, ICA dan NOLL. Dekan FKIP, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes. memberikan catatan pada saat pembekalan, bahwa peserta tahun ini diharapkan tidak sekedar melaksanakan program yang telah dipersiapkannya. “Peserta saya harapkan untuk mampu memikat hati sekolah di Thailand dengan karakter keunggulannya sehingga mendapatkan kesempatan untuk direkrut sebagai guru di Thailand setelah lulus nantinya, sebagaimana kakak tingkatnya,” demikian motivasi yang diberikan untuk peserta tahun 2019 ini. “Menjadi guru di Thailand itu sangat menjanjikan, karena tidak mensyaratkan sertifikasi seperti di Indonesia dan gajinya lumayan jauh lebih tinggi,” demikian pungkasnya. Tidak ketinggalan pula Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. yang merasa bangga dengan program Magang dan KKN Iternasional ini. “Saya mengharapkan program ini dapat diperluas lagi di berbagai negara lain. Syukur-syukur bisa di Eropa maupun Amerika” demikian pintanya. (*)

Versi SINTA, Pendidikan Biologi FKIP UMM Terbaik se-Indonesia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan dirinya sebagai salah satu perguruan tinggi bergengsi di Indonesia. Kali ini, prestasi membanggakan diperoleh Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM didaulat sebagai Prodi Pendidikan Biologi terbaik (nomor urut satu) dari 143 prodi yang sama di Indonesia, baik PTN maupun PTS, berdasarkan indikator publikasi ilmiah yang terdaftar di portal SINTA Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). SINTA (Science and Technology Index) merupakan portal yang berisi tentang pengukuran kinerja Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang meliputi antara lain kinerja peneliti, penulis, author, kinerja jurnal, dan kinerja institusi Iptek. SINTA dibuat guna mewadahi hasil penelitian yang sudah dipublikasikan secara online. Sehingga orang yang dapat berkontribusi di Portal SINTA adalah para peneliti dan dosen. Merujuk pada http://sinta2.ristekdikti.go.id/departments/afiliasi?kdprodi=84205&view=affiliation, terlihat jelas posisi Pendidikan Biologi UMM berada di urutan pertama. Score yang diperoleh adalah 91 (5 year Score) dan 365 (all year score). Score ini memiliki selisih yang cukup jauh dengan score yang diperoleh beberapa PTN, misalnya UM (59/191), UNM (57/193), UNESA (43/122), dan UPI (21/203). Peringkat di “5 Year Score” adalah berdasarkan skor 5 tahun terakhir, publikasi dihitung sejak tahun 2015 sampai publikasi (sekitar) akhir Mei 2019. Sedangkan untuk “All Year Score” dihitung seluruh tahun publikasi. Skor lima tahun terakhir ini (akan) dipakai untuk pemberian beragam kategori Penghargaan Sinta. Adanya skor ini, diharapkan perguruan tinggi, dosen/peneliti, dan pihak lainnya akan dapat lebih terpacu setelah melihat produktifitas dalam tiga tahun terakhir. Baca juga: Mahasiswi Ini Berbagi Tips Bagi Perantau yang Tak Mudik Lebaran Menanggapi capaian prestasi ini, Dekan FKIP UMM Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes. menegaskan bahwa hal tersebut sebenarnya bukan hal yang mengagetkan. Menurutnya, prestasi ini sangat wajar mengingat Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM terus melakukan inovasi-inovasi dalam hal publikasi. Semua dosen secara bersama-sama giat melakukan penelitian berkualitas, lalu mempublikasikan artikel ilmiah mereka di jurnal bereputasi internasional. Bahkan, budaya itu pun menular kepada mahasiswa. Mahasiswa semester akhir secara otomotis memformat skripsi mereka menjadi artikel ilmiah yang akan dipresentasikan di berbagai seminar nasional dan internasional, juga minimal di jurnal-jurnal terakreditasi. Dekan FKIP UMM  juga menjelaskan bahwa tradisi juara dan prestasi memang menjadi nafas prodi-prodi di lingkungan FKIP UMM. Secara khusus di Prodi yang diketuai ole Dr. Iin Hindun, M.Kes ini telah diperoleh rekognisi internasional berupa sertifikasi dari ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA), yang merupakan prodi Pendidikan Biologi pertama di Indonesia. Prodi ini juga memperoleh Akreditasi A (2011-2021), Laboratorium Biologi Terakreditasi KAN dan ISO-17025, memiliki Jurnal terakreditasi Sinta 2 dan terindeks internasional (JPBI), dan program-program kerjasama internasional. (*)

Mahasiswi Ini Berbagi Tips Bagi Perantau yang Tak Mudik Lebaran

Tiap negara memiliki tradisinya masing-masing menjelang perayaan Idul Fitri. Seperti diketahui, lebaran di Indonesia selalu identik dengan mudik. Momentum ini bisa menjadi sangat spesial bagi seluruh umat Islam untuk kembali menjalin tali silaturahmi dengan kerabat, sanak famili, sahabat maupun handai taulan. Heni Pujiati, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Tarakan, Kalimantan Utara membagikan tips bagi sesama teman seperantauan yang tidak mudik untuk mengisi waktu libur Ramadhan dan bagaimana caranya merayakan lebaran di rantauan. Kota Malang ditempati oleh berbagai profesi, terutama mahasiswa. Tentu hari demi hari menjelang lebaran, suasana kamar para penghuni kost kian sepi.  “Karena itulah dengan beraktifitas kita bisa sedikit menghabiskan waktu dan menghilangkan kejenuhan,” ujarnya. Pertama, memperbanyak kegiatan positif. Seperti membantu teman yang butuh bantuan, ataupun mengantarkan barang belanjaan milik tetangga maupun teman. “Kalau saya, saat sore harinya, saya berjualan kue-kue di sekitar Taman Rekreasi Sengkaling,” beber Heni yang saat ini tengah menempuh semester enam. Kedua, untuk menambahkan kesan lebaran agar kian kental hal yang dapat dilakukan yakni dengan menghias kamar kost-an dengan pernak lebaran. “Membeli kue-kue khas lebaran. Juga membeli baju baru agar suasana lebarannya tetap dapet,” kata mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) ini. Tips yang terakhir ialah dengan berkumpul bersama teman-teman terdekat yang tidak mudik, sekaligus bersilaturahmi ataupun pergi ke rumah teman yang notabene asli penduduk setempat. Hal ini dimaksudkan agar suasana kekeluargaan di tanah rantau tetap terasa, walaupun sedang tidak berada di kampung. “Mungkin untuk kedepan di kampus bisa dibuat silaturrahmi akbar atau acara mudik gratis sebagai alternatif bagi mahasiswa perantau yang berhalangan mudi saat momen Idul Fitri,” pungkasnya. Ia beralasan tak mudik karena harus menuntaskan hajat yang penting. (riz/can)

Cerita Ocha Melawan Stigma Alumni Ikom yang Memilih Berbisnis Kuliner

Berwirausaha menjadi salah satu pilihan tepat bagi para fresh graduate. Begitulah yang dilakukan oleh Rahmania Santoso, perempuan  lulusan program studi Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2018 silam yang meyakinkan dirinya untuk membuka usaha kuliner bernama Tape Deh. “Pertama kali dulu open pre order lalu dikirim ke pemesannya langsung,” ungkapnya. Jauh sebelum memberanikan diri open order, ia mencoba membikin kreasi panganan tradisional tape dengan sentuhan modern ini lewat tangan sendiri. Produknya lantas dicobakan kepada teman-teman terdekatnya. Responnya positif. Perempuan yang akrab disapa Ocha ini mengaku senang berwirausaha sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). “SD dulu pernah aku jualan gelang,” katanya. Kegemaran itu berlanjut hingga duduk dibangku perguruan tinggi. Saat di perguruan tinggi ia jual makanan ringan kiloan yang kemudian dikemasi sendiri. Lantas dijualnya dengan label dan kemasan lebih kecil. Perjalanan Tape Deh yang dikembangkan Ocha benar-benar mengalami perkembangan yang signifikan. Kini Tape Deh sudah memiliki outlet yang dapat dikunjungi oleh pelanggan secara langsung. Letaknya di pintu masuk Perumahan Bukit Cemara Tujuh. Meski baru mulai, perbulannya ia dapat mengantongi keuntungan bersih satu hingga dua juta sesudah dipotong uang sewa tempat, bahan, dan gaji karyawan. Walaupun demikian, Ocha beberapa kali pernah mengalami kegagalan dalam mengembangkan Tape Deh-nya. “Pernah bahan-bahannya rusak tidak dapat digunakan dan akhirnya terpaksa dibuang,” tuturnya. Selain itu ia juga pernah mengalami masa-masa dagangannya tidak laku. Menurutnya, semua hal tersebut adalah proses yang tentu saja akan dilalui seorang wirausaha. Dalam proses membangun Tape Deh, Ocha mengaku belajar banyak hal. Salah satunya mengelola sumber daya manusia yang turut mengelola usahanya. Termasuk menggaji dan mengelola penjadwalan shift. “Sejauh ini yang menjadi pelayan Tape Deh adalah mahasiswa, jadi mengatur jadwal jaganya disesuaikan dengan perannya sebagai mahasiswa,” jelasnya. Stigma lulusan Ilmu Komunikasi yang paling tidak berprofesi menjadi Wartawan atau bekerja di PR Agency sering kali hinggap ditelinganya. “Saya sudah biasa. Yang penting bermanfaat dan saya suka,” ungkap Ocha yang kini sebagai staf rektorat UMM. Tentang basik keilmuannya, Ocha juga menerapkannya di waktu lainnya. Seperti menjadi pembawa acara lepas. Ocha berharap kedepan usahanya dapat menginspirasi para mahasiswa maupun fresh graduate untuk berani berwirausaha. “Jangan takut mencoba! Karena kita tidak akan tahu hasilnya jika tidak dicoba terlebih dahulu,” tekannya saat diwawancarai, Senin (3/6). (*)

Mahasiswa UMM Temukan Gel Anti Aging dari Kulit Semangka

Penuaan atau aging jadi proses menakutkan yang dihindari sebagian orang. Terlebih bagi kaum perempuan. Hal inilah yang melatari Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan formula berupa gel anti kusam dari kulit semangka (Citrullus lanatus). Adhea Fajarina Nugraheni bersama Vika Amelia Safitri dan Kiki Vergianti Ayuningtyas adalah penemunya. Penelitian didampingi Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt. Temuan yang didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa – Penelitian (PKM-P) ini lolos pendanaan dari Ristekdikti sebesar Rp 12.500.000,-. Ardhea selaku koordinator kelompok mengungkapkan, seiring bertambahnya usia, kulit akan ikut menua. Salah satu solusi yang mungkin dilakukan yakni dengan melakukan tindakan pencegahan maupun memperlambat proses aging yang dinilai mengkhawatirkan. “Salah satu cara dalam melakukan tindakan anti aging adalah dengan menggunakan kosmetik dari bahan tanaman yang banyak mengandung senyawa likopen dan antosianin yang berfungsi peremajaan terhadap kulit,” sebut Ardhea. Selain terdapat senyawa likopen, lanjutnya, penggunaan kulit semangka dinilai mampu menutup pori-pori yang terbuka pada wajah dan menangkap radikal bebas yang disebabkan paparan sinar matahari dan polusi. “Kedua manfaat itu merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya penuaan dini,” kata Ardhea. “Biasanya semangka hanya dimanfaatkan dagingnya saja, sementara bagian kulitnya dibuang. Sehingga kita juga memanfaatkan limbah kulit tersebut sebagai bahan aktif kosmetika yang dapat mengatasi limbah dan meningkatkan nilai jual,” lanjut Ardhea. Dijelaskan pembimbing Siti Rofida, penelitian tiga mahasiswa program studi Farmasi ini dilakukan dalam jangka waktu lima bulan dengan tahapan yaitu, persiapan bahan uji ekstrasi kulit buah, pembuatan gel anti kusam, pengujian mutu fisik dan pengujian aktivitas antioksidan gel. “Kami berharap setalah adanya penelitian ini hasilnya dapat dipublikasikan dalam seminar nasional dan memiliki potensi untuk didaftrarkan hak paten. Selain itu juga dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk membuat penelitian lainnya,” harap Siti (2/6). (*)

Mantri Caino, Media Belajar Matematika Lewat Budaya

Matematika bagi sebagian orang menjadi salah satu pelajaran yang terhitung susah atau perlu ketelatenan untuk menguasainya. Menjawab tantangan ini, Riska Nur Rohmah, Westi Ayu Maulida Permata Sari dan Dimas Galih Dwi Pangasta ,mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi media pembelajaran interaktif berbasis software komputer. Riska dan kedua kawannya, menggunakan metode Computer Assisted Instruction (CAI) untuk media pembelajaran tersebut dan diberi nama Mantri Caino. Nama Mantri Caino sendiri berasal dari Mantri yakni mengobati yang dimaksudkan untuk mengatasi krisis pengetahuan budaya di Indonesia. Caino diambil dari metode CAI dan No diambil dari Etno. Media pembelajaran ini diperuntukkan siswa kelas 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Konten Mantri Caino pun beragam. Mulai dari kompetensi inti, kompetensi dasar dan tersedia pula indikator pencapaian. Kemudian Mantri Caino juga dilengkapi dengan petunjuk penggunaan untuk mempermudah para siswa. “Kami juga menerapkan kurikulum 2013 pada Mantri Caino,” jelas Riska, Selasa (28/5). Selain itu, terdapat pula fitur drill and practice berbasis etnomatematika yang dapat membantu siswa mempelajari dan lebih memahami konsep materi melalui budaya lokal dan nasional. Seperti menampilkan budaya, adat dan sejarah Indonesia. Melalui fitur ini, mereka berusaha menghilangkan stigma bahwa matematika adalah pelajaran menyebalkan. Salah satu caranya dengan menyematkan sebuah game. Inovasi yang diciptakan dalam rangka penyusunan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini sudah pernah diujicobakan kepada siswa yang mengikuti program bimbingan belajar. “Mereka senang dan merasa lebih mudah memahami matematika,” ungkap Dimas Galih. Disamping belajar matematika, sambung Galih, juga dapat memperluas wawasan umum seperti sejarah dan kebudayaan. Untuk mengenalkan Mantri Caino lebih detail, mahasiswa bimbingan Agung Deddiliawan Ismail, M.Pd. ini telah mempublikasikankannya melalui website mantricaino.weebly.com dan Instagram @mantricaino. Kedepan, Riska dan kawan-kawan berharap mendapatkan respon baik masyarakat, serta lolos dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). (riz/mir/can)

Roof Top Hotel Kapal UMM akan Jadi Working Space para Start Up

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali me-launching unit bisnis barunya. Kali ini fasilitas yang diresmikan adalah sebuah kafe di atas Hotel Kapal UMM yang disebut sebagai Roof Top Café and Resto. Rektor UMM, Fauzan, mengklaim kafe baru ini berbeda karena akan menjadi working space bagi pebisnis pemula. Hal itu disampaikan rektor ketika memberi sambutan dalam Silaturahmi dan Buka Bersama jurnalis pendidikan Malang, Selasa (28/05/2019). “Mahasiswa, alumni dan masyarakat umum bisa memanfaatkan fasilitas ini untuk melakukan negosiasi, bekerja, dan lobi-lobi produktif sampai bisnisnya deal,” katanya. Konsep working space juga dibenarkan oleh Wakil Rektor II, Nazarudin Malik. Menurutnya, tempat ini memiliki nuansa yang santai tetapi terkesan luxury. Di samping itu, letaknya di ketinggian hotel menjadikan viewnya indah menghadap kota Batu, Karangploso dan kampus III UMM. “Kami belum memberi nama apapun pada kafe ini, jadi untuk sementara kita namai saja Roof Top Resto and Caffee,” tutur Nazar. Bisnis memang menjadi salah satu fokus UMM saat ini. Melalui pembudayaan kewirausahaan atau enterpreunership baik dosen maupun mahasiswa ditantang untuk menjawab peluang untuk mengembangkan bisnis-bisnis produktif. Kewira usahaan bukan saja menjadi kurikulum di dalam kelas melainkan sudah diterapkan dalam bentuk unit-unit bisnis yang melibatkan mahasiswa. Untuk itu, lanjut rektor, pihaknya sudah menyiapkan fasilitas baru berupa Program Vokasional.  Saat ini UMM sudah mengambil alih kepemilikan sebuah pabrik dan perkantorannya di daerah Karangploso seluas 11 hektar. “Insya Allah tahun depan kita sudah buka beberapa program vokasi untuk mencetak tenaga ahli yang siap kerja,” tambah rektor. Kehadiran Top Roof ini menjadi icon baru unit bisnis UMM setelah bulan lalu Hotel Kapal diresmikan Wakil Presiden M Jusuf Kalla. Hotel ini merupakan pengembangan perkantoran Taman Sengkaling yang berbentuk kapal pesiar. Di dalamnya terdapat fasilitas 48 kamar dan ratusan tepat tidur berkelas dormitory. “Ini sudah melebihi fasilitas hotel berbintang empat, karena memiliki banyak kolam renang,” kata rektor berkelakar. Sebab, hotel Kapal memang menyatu dengan lokasi Taman Sengkaling yang memiliki beberapa kolam renang, mulai dari untuk anak-anak hingga dewasa. Sementara itu, hotel UMM Inn yang dimiliki UMM sebelumnya saat ini sedang dalam tahap renovasi. Hotel legendaris dan bersejarah karena menjadi penginapan Muktamar Muhammadiyah tahun 2005 itu kini dibangun hingga 150 kamar, dilengkapi kolam renang. “Hotel ini akan menjadi tujuan masyarakat umum dan tamu universitas. Sedangkan untuk mahasiswa asing dan orang tua mahasiswa juga disiapkan fasilitas baru juga berupa dormitory dalam bentuk desain container modern,” terang rektor. Acara buka bersama dihadiri juga Wakil Rektor I, Syamsul Arifin dan Wakil Rektor III Sidik Sunaryo. Selain itu hadir pula para pejabat struktural fakultas hingga universitas. Puluhan wartawan yang selama ini menjadi mitra kerja UMM menikmati hidangan ala Eropa dan Jawa yang kabarnya akan menjadi menu andalan kafe tersebut selain kopi. Kepala Humas UMM, Joko Susilo, menerangkan acara silaturahmi ini merupakan kegiatan rutin yang sudah berjalan sepuluh tahun terakhir. Namun di setiap tahunnya, pihak universitas memberikan sentuhan berbeda. Seperti pada tahun ini, selain diwarnai dengan peresmian Roof Top juga ada acara memancing ikan di kolam pancing Taman Sengkaling, wartawan yang ikut acara ini dapat membawa pulang ikan hasil pancingannya. “Ini merupakan salah satu cara kami untuk mendekatkan diri dengan media sekaligus keluar dari rutinitas kerja,” pungkas Joko. (nas/can)