Perangi Intoleransi, UMM-Komunitas Tionghoa Rawat Persaudaraan

Di tengah maraknya isu intoleransi yang mengancam Kebhinekaan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terdepan memerangi akar perpecahan ini. Berlangsung hangat, kegiatan silaturahim dan berbuka puasa bersama Ikatan Tionghoa Indonesia (INTI) Malang dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) menjadi energi ekstra bagi UMM untuk membangun kekuatan di tengah keberagaman Indonesia. Masih dalam nuansa indahnya bulan Ramadhan 1440 H, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengadakan acara dalam rangka memeriahkan bulan Ramadhan tahun ini. Kali ini UMM mengadakan silaturrahmi sekaligus buka bersama dengan berbagai etnik Tionghoa di Malang (26/5). Acara yang berlangsung di GKB IV lantai 9 UMM ini dihadiri Wakil Walikota Malang Ir. H. Sofyan Edi Jarwoko. Selain dihadiri oleh Wakil Walikota Malang, acara ini dihadiri pula oleh Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc., selaku Badan Pembina Harian UMM sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Widodo Harsono selaku perwakilan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Dalam acara tersebut diisi dengan beberapa sambutan yang menekankan tentang mengedepankan nilai toleransi. Dalam sambutannya Malik Fadjar mengungkapkan, setiap manusia pasti memiliki perbedaan. “Indonesia memiliki masyarakat dengan latar belakang suku dan budaya yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita harus mempunyai rasa saling menghormati dan menjaga satu sama lain agar ke-Bhinnekaan kita tetap terjaga dan dapat menjadi kekuatan bagi bangsa,” ungkap mantan rektor UMM periode 1983 – 2000 itu. Widodo Harsono juga memaparkan bahwa dirinya telah melakukan kerjasama dengan UMM selama 36 tahun. Ia juga menceritakan bagaimana rahasianya bisa menjalin kerjasama yang begitu lama dengan UMM. “Rahasianya adalah saling menghormati, saling toleransi dan selalu menjaga kekompakan,” ungkapnya. Selain itu, Harsono juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan. (Zak/Can)
Prodi Peternakan UMM Pamerkan Produk Pakan Ternak Inovatif

Program Studi Ilmu Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pameran sejumlah produk pakan dan formula ternak inovatif, Sabtu (25/5). Mulai dari formula penggemuk sapi, permen sapi, penggemuk unggas, hingga pakan yang dapat meningkatkan produktivitas susu sapi. Berbagai inovasi ternak ini dapat dijumpai di gelaran “Pameran Pakan Ternak” Fakultas Pertanian dan Peternakan. Kegiatan yang terintegrasi dengan mata kuliah Ilmu Teknologi Pangan ini berangkat dari keresahan yang dialami oleh para mahasiswa dan peternak terhadap pakan yang beredar di pasaran yang kurang efektif. Selain faktor tersebut, produk pakan ternak karya mahasiswa ini juga sudah dilakukan beberapa tes dan pengujian langsung kepada hewan ternak yang bersangkutan. Hasilnya cukup memuaskan. “Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Meskipun saya baru menginjak semester 4, tapi saya sudah mempu membuat produk pakan ternak yang dapat sedikit menjawab keresahan yang dialami masyarakat mengenai hewan ternaknya,” tutur Bambang Sugiono yang sekaligus inisiator produk formula penggemuk hewan, Murcel (Murah Cepet Lemu) yang diperuntukkan bagi hewan ternak sapi. Memberikan Murcel dua kali sehari, berat badan sapi mampu meningkat 1 kg per harinya. Selain itu ia juga mematok harga yang tergolong cukup murah yakni Rp. 6000 saja per kilonya. Bambang juga mengaku, ia memanfaatkan momentum hari raya Idul Adha untuk memasarkan produknya. Sekaligus membantu mengatasi masalah hewan yang akan dijadikan qurban. Terutama dalam masalah ukuran dan berat. Menurut Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP. selaku dosen pengampu mata kuliah dan pencetus pameran karya inovatif mahasiswa untuk terus melakukan riset dalam pengembangan produk. Selain itu, tujuan pameran ini adalah sebagai sarana agar serius dalam membuat produk sekaligus belajar berwirausaha. Ia mendorong berbagai produk ini untuk diikutkan ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Kegiatan tahunan yang sudah berlangsung selama tiga tahun ini memang selalu menyita perhatian. Bagaimana tidak? Meski baru berstatus mahasiwa semester empat, mereka mampu menciptakan produk pakan ternak yang inovatif dan memiliki harga jual yang berada di bawah harga pasaran. Tak boleh ditinggalkan, berbagai produk buatan mahasiswa ini punya kualitas yang tidak kalah, bahkan cenderung lebih baik. Selain memperkenalkan beberapa produk, para pengunjung juga dapat memberikan penilaian secara langsung terhadap produk yang mahasiswa pamerkan. Nantinya nilai tersebut diakumulasi dan akan menjadi nilai dari tugas akhir mereka untuk mata kuliah Ilmu Teknologi Pakan. Selain itu, kegiatan ini juga secara tidak langsung mengajarkan mereka untuk dapat belajar bagaimana cara berwirausaha dengan baik. (Zak/Can)
Mahasiswa UMM Bikin Roti Aman Buat Penderita Diabetes Mellitus

SIAPA yang tak suka roti? Walaupun bukan makanan pokok masyarakat Indonesia, roti menjadi makanan yang cukup digemari. Namun siapa sangka kalau roti memiliki kandungan gula yang tinggi. Hal ini menjadi masalah bagi penderita Diabetes Mellitus yang gemar mengonsumsi panganan berbahan dasar tepung ini. Hal tersebutlah yang melatari Novitasari Dwi Mar’atusholihah, Anggun Nurani, Rehan Almira mahasiswa prodi Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menciptakan roti yang ramah bagi para penderita Diabetes Millitus. “Kami campur bahan rotinya dengan ekstrak Okra atau Abelmoschus Esculentus,” tutur Novitasari Dwi Mar’atusholihah, Ketua Kelompok. Tanaman asli Afrika ini menjadi bahan tambahan untuk menekan kadar gula pada roti. Produk tersebut dinamai Rita Ok (Roti Tawar Okra). Buah okra merupakan salah satu tanaman yang tinggi serat dan kandungan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan kimia dari okra diantaranya adalah 67,50% α-selulosa, 15,40% hemiselulosa, 7,10% lignin, 3,40% komponen pektik, 3,90% komponen lemak dan linin serta 2,70% ekstrak air. Efek kimia tersebut memiliki guna sebagai antidiabetes. Mahasiswa semester enam ini juga menerangkan, temuannya sudah disusun sejak awal April lalu. Bukan tanpa sebab, Novita dan kawan-kawannya menggagas Rita Ok dalam rangka diikutkan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Penelitian tersebut telah dan sedang dalam masa uji. “Ada dua tahap pengujian. Satu sudah, yakni uji infifo. Tinggal satu lagi, uji serat,” jelas Novita. Buah Okra nantinya akan diekstrak dan akan berbentuk gel. Gel tersebutlah yang akan dicampurkan dalam bahan pembuatan roti. Setelah itu roti akan melalui proses pembuatan roti pada umumnya. “Ada sedikit perbedaan dengan roti pada umumnya, hanya teksturnya agak sedikit lembek. Lainnya sama dengan roti biasanya,” ungkap Novita. Dalam kurun waktu empat bulan, Novita akan memaksimalkan penelitannya. Melalui penelitian ini pula, penelitian bimbingan Dr. Ir. Warkoyo, MP. ini berharap mendapatkan informasi produk ekstrak buah okra yang mampu menurunkan kadar gula dalam darah. Ini dimaksudkan agar dapat dijadikan alternatif produk pangan aman untuk dikonsumsi penderita Diabetes Mellitus. (mir/can)
Cerita Magang BUMN Mahasiswa UMM di Sulawesi Selatan

SEJUMLAH mahasiswa berasal dari berbagai program studi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta dalam pelaksanaan magang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersertifikat Batch I di PT Kawasan Industri Makassar (KIMA), Sulawesi Selatan. Primahaditya Putra Bintang Adi Pradana, salah satunya. Ia mengaku turut mengikuti program tersebut untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Menurutnya, materi di dalam kelas tidak cukup untuk bekal memasuki dunia kerja. “Magang bisa menjadi bahan pertimbangan kedepannya untuk memilih minat dan bakat dalam kerja. Karena ke depan, kita semua akan melakukan pekerjaan langsung di lapangan,” ujar Prima mahasiswa Fakultas Hukum UMM (23/5). Magang selama enam bulan ini, sambung Prima diwawancarai via WhatsApp, dimulai dengan pembekalan dari perusahaan terkait mengenai magang integrasi dan gambaran umum kondisi kerja, hingga sikap saat mengambil keputusan. Tak cukup sampai disitu, setelah pembekalan peserta akan ditempatkan pada divisi yang sesuai dengan program studi perkuliahan. Prima ditempatkan pada divisi Legal Corporate yang bertanggungjawab terkait masalah hukum di perusahaan. Terutama dalam kawasan industri. “Kebanyakan kegiatan divisi ini seperti review perjanjian, pembuatan surat keputusan, kemudian update peraturan perseroan khusus kawasan industri BUMN. Tidak hanya diberi materi saja, akan tetapi juga dikenalkan mengenai kondisi lapang dan cara mengatasinya,” sebut pria kelahiran Gresik ini. Jika dilihat dari aktivitas magang, sebagian besar yang dilakukan Prima sesuai dengan materi di perkuliahan. Hanya saja saat magang, sambungnya, bersifat praktik atau tugas lapang. Di akhir nanti, katanya, terdapat penilaian terkait kinerja dan penguasan bidang yang digeluti. “Di sini, yang baru saya pelajari dan tidak ada diperkuliahan seperti pembuatan perjanjian penggunaan tanah industri, pembuatan legal opinion dan pembuatan somasi. Jadi, benar-benar banyak hal yang saya pelajari di sini,” ujar Prima. Selain mendapatkan bekal praktik di dunia kerja, peserta magang berintegrasi BUMN ini akan mendapatkan gaji di tiap bulannya. Tidak hanya itu, mereka juga diberi sertifikat tanda partisipasi magang integrasi BUMN yang dapat digunakan melamar kerja di perusahaan BUMN. Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kerjasama, Dr. Ratih Juliati, M.Si. dalam kesempatan lain menyatakan, skema magang bersertifikat ini UMM telah bekerjasama dengan 142 perusahaan BUMN di bawah Forum Human Capital Indonesia (FHCI). Program ini tidak akan mengganggu perkuliahan peserta. Kedepannya akan diterapkan sistem pembelajaran jarak jauh dengan metode blended learning atau pembelajaran berbasis daring. Sehingga peserta tetap dapat melanjutkan perkuliahan yang sedang ditempuh. (mir/bel/can)
Setiawan Mungil, Sepatu 4 in 1 Mahasiswa UMM yang Diminati Mancanegara

Beragam jenis alas kaki diperuntukan berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapi. Hal tersebut memungkinkan kebanyakan wanita untuk memiliki beberapa jenis alas kaki. Jika dihadapkan pada situasi yang berbeda dengan selang waktu yang berdekatan, akan merepotkan penggunannya untuk membawa banyak alas kaki. Berangkat dari hal itulah tiga sekawan dari program studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Syahmi Kafin Fahreza, Dita Fomara Tuasikal, dan Muhammad Fitrah Ashary Bangun, membuat produk Setiawan Mungil (Sepatu Batik Four in One Multifungsi) untuk diikut sertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa – Kewirausahaan (PKM-K) Ristekdikti Tahun 2019. “Ide itu muncul ketika ada keluhan dari konsumen wanita, yang jika berpergian selalu membawa banyak macam sepatu dan sandal. Ya kenapa tidak kita coba untuk membantu memberi solusi all in one,” ungkap Syahmi yang juga seorang wirausahaan sepatu. Selain memiliki keunggulan dalam menjalankan empat bentuk dan fungsi sebagai sneaker, wedje, boot dan juga sandal, sepatu ini juga menggunakan pesona batik untuk menyasar pasar internasional. Untuk memastikan hal itu, mereka melakukan survey ke mancanegara dan mendapatkan hasil yang positif. Menariknya, saat melakukan survey, seorang pemuda asal Jepang menawarkan diri untuk menjadi reseller sepatu tersebut dan akan dibayar dengan harga yang lebih mahal. Sebelumnya produk mereka dibandrol dengan harga Rp. 700.000. “Mereka berani menjual dengan harga Rp 1.500.000 di Jepang. Negara Jepang memang sangat minat terhadap produk-produk inovasi, terlebih produk Setiawan Mungil ini sendiri menyentuh unsur kebudayaan Indonesia,” ungkap Fitrah. Tidak hanya dibuktikan melalui survey saja, produk mereka juga beberapa kali diikut sertakan dalam perlombaan. Penghargaan yang pernah diterima diantaranya, Juara 1 National Bussines Plan Asia Andalas 2019, Juara 1 Expo National Bussines Plan Festival Universitas Kristen Satya Wacana 2019. Setelah lolos pendanaan PKM-K dan mendapat dana hibah sebesar Rp. 7.800.000, dana tersebut digunakan untuk memproduksi dua puluh sepatu yang akan diikut sertakan pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2019. (bel/chan)
Mahasiswa Teknik Mesin UMM Ciptakan Mesin Pengayak Pasir Efisien

Berawal dari keresahan sang Ayah melihat para pekerjanya tidak efesien saat mengayak pasir, Fajar Ibrahim Sulaksono beserta kedua teman kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menciptakan mesin pengayak pasir canggih. Mesin yang dinamakan Sinpangsir (Mesin Pengayak Pasir) ini memiliki beberapa keunggulan. Diantaranya penggunaan waktu yang efesien untuk memilah pasir halus dan kerikil. “Mengayak harusnya bisa dilakukan oleh satu orang saja. Tetapi pada kenyataannya harus dilakukan oleh tiga orang, bahkan lebih,” terang Fajar saat diwawancarai beserta kedua temannya dari Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik UMM (21/5), Sabiq Nugroho dan Amirul Bagus Bintoro. Inovasi ini didaftarkan ke ajang Program Kreativitas Mahasiswa – Karsa Cipta Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti. Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Sinpangsir diantaranya tabung pengayak sengaja didesain berbentuk segi delapan. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Setiap sudut dari segi tersebut memiliki fungsi sebagai penghentak sekaligus pemisah antara kerikil dan juga pasir. Selain itu, Sinpangsir juga memiliki penutup pada tabung pengayaknya untuk mencegah berhamburnya pasir dan juga kerikil keluar tabung. Salah satu keunggulan yang cukup menyita perhatian adalah masin ini menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) premium. Sehingga mesin ini dapat di tempatkan di mana saja tanpa harus mencari sumber daya listrik terdekat. Mesin pengayak pasir ini menampung hingga 174 kg pasir dan mampu mengayak sekitar 17 ton per jamnya,” ungkap Fajar. Biaya pembuatan mesin inovatif ini sekitar enam juta rupiah. Berkat ketekunan dan juga kreatifitas mahasiswa bimbingan Iis Siti Aisyah, ST, MT, Ph.D ini berhasil maju ke Program Kreatifitas Mahasiswa tingkat Monitoring dan Evaluasi (Monev) eksternal, sebelum nanti maju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Naional (PIMNAS) akhir Juni mendatang. UMM sendiri berhasil meloloskan 38 tim PKM dari semua kategori skim, untuk didanai dan diwujudkan menjadi bentuk penelitian maupun karya nyata. (zak/can)
UMM Apresiasi Pejuang Pendidikan Berprestasi

Pendidikan menjadi tiang bagi masa depan seseorang. Jembatan bagi banyak cita-cita. Mereka yang bekerja dalam dunia pendidikan, tak ubahnya seperti pahlawan yang membantu anak negeri meraih jutaan mimpi. Menyadari hal tersebut, pada setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan apresiasi khusus bagi para pejuang pendidikan, baik dosen maupun karyawan di lingkungan internalnya. Atas dedikasi dan karya terbaik yang diciptakan, pada tahun ini terdapat 9 dosen dan karyawan yang mendapat penghargaan. Untuk Dosen Berprestasi, Peringkat I diraih oleh Dr. Ihyaul Ulum, S.E., M.Si., A.K., C.A., Peringkat II Dr. Widayat, S.E., M.M. dan Peringkat III Risa H., S.Kep., NS., M.SM. Sementara itu, pengharaan bagi Karyawan Berprestasi jatuh kepada Peringkat I Sukam, S.T., Peringkat II Dewi Sulistyowati, S.T. dan Peringkat III Arianto, S.P. Tidak hanya sekedar menyelesaikan tugas dengan berbalut loyalitas, mereka juga telah dengan kesungguhan hati memberikan yang terbaik dalam menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Penasaran dengan kisah Ihyaul Ulum, Sukam, dan Suwignyo? Berikut narasi lengkapnya. Formula Modal Intelektual Dosen UMM Dipakai Banyak Peneliti Asing Penggagas Sistem Kepegawaian Ini Raih Titel Karyawan Berprestasi Pakar Energi UMM: Air, Angin, dan Surya Jadi Sumber Listrik Masa Depan Selain itu, pada kesempatan yang sama, diberikan juga penghargaan khusus kepada dosen di empat kategori. Yakni pemilik Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak Prof. Ishomudin, publikasi buku teks dan motivator penulis mahasiswa Nurudin, M.Si, pengembang energi terbarukan Ir. Wignyo, M.T., dan inspirator dan motivator karya kreatif dan inovatif mahasiswa Jamroji, M.Sc.
Semarakkan Ramadhan, UMM Gelar Bhakti Sosial di Desa Pramuka

Dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan 1440 Hijriah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melakukan kegiatan Bakti Sosial sebagai bentuk kepedulian Kampus Putih terhadap masyarakat. Kali ini lokasi yang dipilih adalah Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang. Desa yang dijuluki desa Pramuka ini memang sudah beberapa kali mendapat kepercayaan untuk mengadakan kegiatan internasional, terutama penyelenggaraan perkemahan Pramuka semenjak tahun 1970-an. Dibuktikan dengan sudah tiga kali even Pramuka tingkat dunia pernah digelar di desa ini. Selain bakti sosial, terdapat pula pengobatan gratis. Kegiatan ini turut didukung oleh Rumah Sakit UMM. Terdapat pula wisata edukasi bagi anak-anak dengan mendatangkan Mobil Pintar dukungan dari Humas UMM. Dalam kegiatan ini ratusan warga kurang mampu berbondong-bondong memanfaatkan kegiatan ini. Menurut salah satu warga, yakni Rumini mengungkapkan, dirinya sangat senang dan antusias dalam mengikuti kegiatan yang jarang diselenggarakan ini. “Ya senang, mas. Biasanya kalau berobat jauh dan bayar. Dengan adanya ini saya bisa berobat gratis, dapat sembako lagi,” kata wanita 67 tahun mengungkapkan kegembiraannya. Belum sampai disitu, dalam kegiatan ini juga diisi ceramah keagamaan yang disampaikan oleh Imamul Hakim, S.E., M.Sh., sekaligus menunggu waktu buka puasa tiba. Dalam ceramahnya Imamul menyampaikan bahwa maksud dan tujuannya kesini adalah untuk menyambung tali silaturrahmi dengan masyarakat. (zak/can)
Gubernur Jawa Timur: Muhammadiyah Berkontribusi Besar Pada Pembangunan Jawa Timur

Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. hadir dalam perhelatan Kajian Ramadhan 1440 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu (18/5). Khofifah menyampaikan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur saat ini 2000 Trilyun. Sementara APBD Jawa Timur hanya 31 Trilyun. Angka ini idak sampai 2% bisa menstimulir seluruh gerak pembangunan. Bahkan, sambung Khofifah di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), jika seluruh aset pemimpin daerah di Jawa Jimur digabungkan, hanya akan menambah 50 Triliun atau 2,5% dari total PDRB Provinsi. “Saya ingin menyampaikan bahwa betapa penting kekompakan seluruh elemen masyarakat yang ada di seluruh jawa timur,” ungkap di depan ribuan pasang mata. Dilanjutkan Khofifah bahwa pengukuran perbandingan dalam membangun masyarakat Jawa Timur adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Untuk meningkatkan itu, seluruh keluarga besar Muhammadiyah Jawa Timur sangat berperan kuat dan signifikan. Diantaranya melalui lembaga pendidikan, kesehatan, dan melalui lembaga ekonomi yang menjadi komponen penting di dalamnya. “IPM Jawa Timur saat ini berada di urutan ke 15 dari 34 provinsi di Indonesia. Dan ini menjadi yang terendah dari seluruh Pulau Jawa. Kita ingin mendongkraknya. Mungkin tidak bisa dilakukan dengan APBD yang hanya 31 Triliun. Dengan demikian, pembangunan ini tidak akan terwujud tanpa kontribusi yang luar biasa, yaitu keluarga besar Muhammadiyah,” terangnya pada Sabtu (18/5) sore. Sementara disebut Ketua Umum PWM Jawa Timur Dr. KH. Saad Ibrahim, MA., di bawah naungan PWM Jawa Timur, Muhammadiyah saat ini telah memiliki 7 Universitas, 20 lebih Sekolah Tinggi, 82 buah Rumah Sakit dan Klinik, serta 1002 sekolah mulai dari jenjang SD, SMP dan SMA, 120 rumah panti asuhan, serta 35 usaha di bidang ekonomi termasuk travel Jamaah Haji dan Umroh. Dalam gelaran bertema “Mewujudkan Khairu Ummah” ini, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. Prof A Malik Fadjar mengajak warga Persyarikatan untuk menjadikan Bulan Suci Ramadhan 1440 Hijriah sebagai tonggak untuk menatap masa depan bahwa keluarga besar Muhammadiyah adalah keluarga Khairu Ummah. Malik menyerukan pada warga Muhamadiyah untuk berkiprah di berbagai bidang. “Semua itu penting untuk memberi makna guna memperkuat pergerakan Muhammadiyah dalam konteks menebarkan fastabiqul khairat untuk Indonesia,” terangnya. Malik menegaskan, Muhammadiyah tidak boleh berhenti untuk bergerak menebar kemanfaatan dan kebaikan untuk umat, bangsa dan kemanusiaan. Di sisi lain, Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015 Prof. Dr. K.H. Din Syamsuddin, M.A. mengingatkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari. “Ada orang-orang yang melubangi dasar perahu. Maka, jika tidak dicegah dan dibiarkan, mereka akan binasa semua. Tapi jika dicegah, semua penumpang akan selamat. Maka, keharusan umat Islam untuk melakukan amar makruf nahi mungkar,” ujar Din. Sebagai Khairu Ummah, umat terbaik dan pilihan, umat Islam harus bisa menghindari konflik yang bisa merusak bangsa. “Jika terjadi political chaos atau kekacauan politik, harganya terlalu mahal. Bukan saja merusak Islam, namun juga merusak persyarikatan. Mengembalikan pada keadaan semula jelas tidak mudah,” ungkapnya (19/5). Islam, tegasnya, harus menjadi warna Khairu Ummah. Dalam gelaran Kajian Ramadhan kemarin, Jumat (18/5), juga diadakan buka bersama. Selain Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, acara juga dihadiri Wakil Bupati Malang Drs. HM Sanusi, MM., Walikota Malang Drs. H. Sutiaji, Pejabat Eselon 1 Provinsi Jawa Timur, jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan perwakilan jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (riz/can)
Cendekiawan Muda Muhammadiyah UMM Serukan Persatuan Bangsa

Sejumlah akademisi muda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seruan Kebangsaan, di UMM Dome, Senin (20/05). Mereka tergabung dalam Cendekiawan Muda Muhammadiyah UMM yang prihatin kondisi terkini. Juru bicara CMM UMM Pradana Boy menyatakan, sebagai cendekiawan muda pihaknya prihatin atas gejala politik saat ini. Mengutip presiden Sukarno, bahwa persatuan adalah sesuatu yang amat mahal dan terlalu mahal untuk dikorbankan. “Sekali persatuan dikorbankan maka pemulihannya akan sangat lama, bisa ratusan tahun, atau justru tak bisa dipulihkan,” kata Pradana. Pradana juga menyayangkan, saat ini kebenaran faktual tidak lagi merupakan kebenaran sejati. Sebaliknya, kebenaran telah digantikan dengan pembenaran atas opini, propaganda, pandangan, analisis, atau berita bohong. Tingkat kepercayaan kepada “yang dianggap benar”, dan bukan kepada “kebenaran faktual” telah menjadikan wibawa lembaga-lembaga negara yang berkompeten dalam memproduksi informasi pada bidang tertentu, menurun. Bahkan, lanjutnya, kini muncul kecenderungan bahwa lembaga-lembaga negara tak lagi dihormati dan bahkan dianggap sebagai bagian dari konspirasi jahat menghancurkan bangsa. Sebagai bangsa yang berpijak teguh kepada agama, agama dan tokoh-tokoh agama diharapkan memainkan peran dalam meminimalisir konflik, ketegangan dan fragmentasi yang melanda bangsa ini. “Sayangnya, tidak sedikit tokoh agama yang menjadi bagian dari pusaran konflik dan alih-alih menjadi kekuatan perekat, justru sering mengajak masyarakat untuk menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang tidak agamis,” ujar Pradana. Pradana menambahkan, kegiatan Seruan Kebangsaan ini juga memberikan beberapa pernyataan penting untuk mengingatkan kepada publik, di antaranya mengenai: (1) Menghormati setiap proses demokrasi, memandangnya sebagai mekanisme rutin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan tidak menjadikannya sebagai pemicu fragmentasi dan konflik antar anak bangsa; (2) Mengajak para tokoh masyarakat dan pemimpin agama untuk menjadi perekat umat, penyejuk situasi dan peredam ketegangan; (3) Mendukung pemerintahan sah saat ini untuk bersikap tegas dan kuat dalam menghadapi setiap upaya memecah belah bangsa. (*)