Ramadhan Momentum Membangun Ummat Terbaik dan Bangsa Unggulan

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, M.Si, menyebut, di usia kemerdekaan Indonesia ke-73 tahun, perlu ada progres yang terus menerus. Hal ini disampaikan Haedar dalam kesempatan mengisi Kajian Ramadhan tahun 1440 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (18/5) siang. Selain itu, di tengah polariasi kehidupan bangsa Indonesia usai pelaksanaan Pemilu, Haedar menyatakan, Muhammadiyah mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU), Bawaslu dan semua pihak untuk mengedepankan asas Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (Luberjurdil) dalam proses penghitungan, sampai pada tahap pengumuman. Serta, berdiri tegak di atas konstitusi dan hukum yang berlaku. Sudah menjadi sikap resmi Muhammadiyah yang berlaku di Tanah Air, pada 18 April yang lalu, Muhammadiyah mengajak seluruh warga negara dan bangsa untuk berpijak di atas hukum dan konstitusi. “Harus menerima apa yang diputuskan KPU. Bagi yang tidak puas, bahkan jika ada kesalahan dan kecurangan, bawalah ke ranah hukum agar semuanya transparan. Tentu kita harus kawal juga,” ungkapnya. Pemilu itu jangan sampai membuat kita retak sebagai bangsa. Karena persatuan selama ini menjadi kekuatan. Sumbangan ummat Islam untuk bangsa ini besar. Yakni menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang Bhineka Tunggal Ika. Tidak ada negeri muslim yang memberi toleransi yang begitu baik. “Artinya, ummat Islam itu menjadi penyangga persatuan Indonesia. Maka, jangan dirusak,” ujarnya. Sejak Indonesia mengamandemen Undang-undang Dasar tahun 1945, ada satu ayat yang ditambahkan, yang dulu tidak ada di UUD 45 asli. Yakni, “Indonesia negara hukum”. “Kepada mereka yang dulu terlibat dalam amandemen, mohon dibaca kembali. Bahwa Indonesia, negara hukum. Artinya, menyelesaikan segala masalah lewat hukum. Penegak hukum juga harus adil dan menegakkan hukum sebaik-baiknya,” ujarnya. Ketika kita menjujung politik nilai, kata Haedara, kita akan berhadapan dengan politik yang pragmatis-oportunistik. Dalam bahasa lain yakni politik Jahiliyah, atau politik ketertinggalan dan keterbelakangan secara nilai. “Kita ingin mengajak seluruh bangsa Indonesia dan ummat Islam untuk memanfaatkan momentum Ramadhan ini untuk membangun ummat terbaik dan bangsa unggulan,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur DR. KH. Saad Ibrahim, MA. menyampaikan dalam sambutannya, di tengah dinamika kehidupan kebangsaan ini, Pimpinan Wilayah Jawa Timur menangkap momentum dengan mengangkat tema Kajian Ramadhan tahun ini yakni “Mewujudkan Khairu Ummah”. Agenda tahunan ini dihadiri Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Jawa Timur. Di sisi lain Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyebut dalam Kajian Ramadhan ini, melalui tema “Mewujudkan Kairu Ummah”, dijadikan sebagai ajang konsolidasi Peryarikatan Muhammadiyah. Lebih jauh lagi, Fauzan menyatakan dalam sambutannya, diselennggarakannya pengajian ini dalam rangka memperkuat Muhammadiyah menjadi aktor yang lebih mencerahkan di daerahnya. (Chan)
Mobil KaCa UMM Berbagi Senyum Ramadhan Bersama Puluhan Anak YPAC

Bulan Ramadhan kali ini, Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berbagi keceriaan. Kali ini waktunya adik-adik dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang yang mendapat kesempatan untuk bermain sekaligus belajar bersama Mobil KaCa, Jumat (17/5). Bekerja sama dengan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, anak-anak YPAC diajak untuk bermain dan juga belajar bersama beberapa mahasiswa asing. Mahasiswa asing ini beberapa diantaranya berasal dari Kamboja, Korea, Mesir, Afganistan, bahkan Ukraina. Dalam acara ini juga ada beberapa kegiatan hiburan seperti membaca buku, menonton fil edukasitif, bermain dan bernyanyi, hingga acara buka bersama. Tidak cukup hanya di situ saja, ada penampilan spesial yaitu mendongeng yang ditampilkan oleh Indah Rahayuning Tyas mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menurut salah satu mahasiswa asing, Theng Chan Boramey, ia mengaku sangat senang karena bisa berbagi dengan teman-teman yang tidak seberuntung kita. ”Saya sangat senang dengan acara seperti ini, karena kita bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka,” ungkap mahasiswi asal Kamboja tersebut. Salah satu pengasuh YPAC, Edi Siswanto menyatakan, ia sangat senang dengan kehadiran Mobil KaCa. “Saya sangat senang karena bisa melihat anak-anak ceria dan antusias seperti barusan. Saya juga berharap semoga acara seperti ini lebih sering lagi, untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak di sini,” tururnya. Menyambung, Sekretaris Humas UMM Mohamad Isnaini menyebut, selain berbagi keceriaan, acara ini juga sekaligus memberikan pengalaman bagi mahasiswa asing untuk berinteraksi bersama adik-adik yang ada di YPAC. Acara ditutup dengan buka bersama dan juga bernyanyi bersama dengan para penghuni YPAC. “Acara ini sekaligus memperkenalkan pengalaman baru kepada mahasiswa asing untuk berbagi kebahagiaan dengan adik-adik difabel yang ada di YPAC. Karena di negara mereka rata-rata tempat seperti ini sangat tertutup. Berbeda dengan yang ada di indonesia,” ungkap Isnaini. (Zak/Chan)
Seniman Jabung di UMM: Lewat Budaya Kita Menjadi Kaya

Pendiri Gubuk Baca Lentera Negeri Fachrul Alamsyah mencurahkan keprihatinannya kepada anak-anak muda saat ini yang justru lebih mengenal tokoh-tokoh Super Hero dari luar negeri, ketimbang daerah asalnya atau lokal. “Oleh karena itu, kampus harus menjadi corong utama bagi generasi penerus bangsa untuk mengenalkan itu,” jelas Irul di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/5). Dijelaskan pula bahwa sebenarnya budaya bisa membuat seseorang menjadi sangat kaya. Bukan soal materi, tetapi menjadi kaya akan ide, imajinasi serta inspirasi. “Saat ini, di Jabung terdapat seorang maestro topeng yang bernama Mbah Suparjo yang karyanya telah memiki hak paten atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKI),” tukasnya pada seminar dan workshop budaya yang berlangsung di Auditorium BAU. Pada gelaran workshop yang mengangkat tema menjadi “Enterpreneur Berbasis Budaya” ini, tak hanya mengajarkan proses pembuatan topeng dan gantungan kunci, pemateri juga memperkenalkan Tari Khas Jabung yakni Tari Wayang Topeng Gunung Sari sebagai pembuka. Tarian ini mengisahkan tentang sosok pangeran yang berasal dari kerajaan Kediri atau Doho yang sakti mandraguna, berhati mulia dan baik budi. “Ini adalah kali pertama bagi saya untuk memberikan workshop dalam lingkungan civitas akademika,” ungkap Fachrul Alamsyah yang kerap disapa Irul bersama sejumlah rekan Seniman Ukir Topeng, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Mereka mengajari para mahasiswa pembuatan topeng berbahan dasar Sterofoam serta gantungan kunci Resin atau bahan kimia berbentuk cairan kental seperti lem. “Saya yakin setelah adanya gambaran seperti ini, mungkin akan ada tangan kreatif yang mau mengembangkan dan terus menggerakkan kebudayaan, seiring dengan perkembangan dan kemajuan. Karena membangun entrepreneur yang berbasis budaya, terutama bagi para mahasiswa belum banyak,” pungkas Daroe Iswatiningsih selaku Kepala Lembaga Kebudayaan UMM saat memberikan sambutan. (Riz/Can)
BIPA UMM Kenalkan Budaya Gotong Royong Lewat Diplomasi Kemanusiaan

Momen Ramadhan rupanya dimanfaatkan sekelompok mahasiswa asing ini dengan cara berbeda. Sekelompok mahasiswa dari Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai negara berbagi kepada sesama di Panti Asuhan Putri Aisyiyah, Dau, Selasa (14/5) sore. Kepala UPT BIPA UMM, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. menerangkan, kegiatan filantropi ke Panti Asuhan dan ke beberapa tempat khusus lain nantinya, sebagai bentuk usaha BIPA UMM untuk melakukan diplomasi kemanusiaan. Yakni mempererat hubungan negara asal mahasiswa asing melalui kegiatan berbagi atau kemanusiaan. Karena nilai-nilai kebaikan itu sifatnya universal. Di Indonesia, sambung Arif, salah satu sikap yang menonjol adalah gotong royong. Budaya ini bisa diartikan juga dengan berbagi. “Kebetulan, baru terselenggara tahun ini, di Ramadhan ini, melalui kegiatan buka bersama. Sejauh ini baru di panti asuhan Aisyiyah,” beber Arif. Yang kedua, yaitu mendekatkan kepada masyarakat. Jadi, mengenalkan kepada masyarakat sebuah pergaulan internasional. “Anak yatim juga kita perkenalkan sebuah wawasan global karena mereka mendapat kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang-orang asing dari banyak negara,” ungkap Arif saat ditemui (15/5). Selain itu, dilanjutkan Arif, kegiatan ini juga bersifat rekreatif. Kegiatan ini dimaksudkan agar para mahasiswa BIPA UMM tidak jenuh belajar di kelas. “Mereka keluar kelas untuk mengunjungi tempat khusus, yaitu tempat mereka untuk berbagai, tempat mereka untuk menjalin sebuah komunikasi yang berkesetaraan,” ungkap Arif. Bantuan yang diberikan tidak hanya yang bersifat intelektual, seperti pembelajaran bahasa. Pembelajaran ini dilakukan agar mahasiswa BIPA tidak hanya mengenal budaya dan wisata. Lebih dari itu, mahasiswa juga memahami dinamika sosial yang ada di sekitar tempat mereka tinggal selama belajar budaya dan bahasa. Mahasiswa BIPA antusias mengikuti kegiatan tahunan ini. Bagi mahasiswa asing muslim, kegiatan ini menarik karena mereka menemukan pengalaman tak biasa. Tidak seperti kebiasaan yang mereka alami di negaranya. Bagi non-muslim, pengalaman buka bersama dengan masyarakat lokal sebagai pembelajaran keragaman. “Setelah saya mengikuti acara itu, saya senang sekali karena bisa melihat bagaimana panti asuhan di Indonesia. Mulai dari sistemnya, jadwal pelajarannya, dan yang mereka lakukan. Selain itu, saya menjadi tahu karena melihat langsung bagaimana tradisi orang Indonesia ketika berbuka puasa,” ungkap Vuly, mahasiswa asal Mesir. (bel/can)
Pakar Energi UMM: Air, Angin, dan Surya Jadi Sumber Listrik Masa Depan

Ahli di bidang Perencanaan Jaringan Pipa Air Minum dan Bendungan Kecil Ir. H Suwignyo, MT. menyebut bahwa di masa depan, seluruh energi pembangkit listrik akan beralih ke air, angin dan juga surya atau matahari. Mengingat, katanya, ketersediaan bahan bakar fosil, seperti minyak bumi dan lainnya, yang semakin menipis. Salah satu teknologi yang bisa digunakan untuk mengantisipasi kelangkaan ini adalah dengan mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Beberapa tahun terakhir ini, Suwignyo banyak melakukan penelitian terhadap teknologi yang mulai jadi perhatian dunia untuk mengantisipasi kelangkaan energi. Ditemui di ruangannya, Rabu (15/5), dosen kelahiran Jember ini menyampaikan bagaimana peluang dan perkembangan PLTMH di masa depan. Berkat dedikasi dan kesungguhannya bergelut di bidang energi, dosen Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik ini dinobatkan sebagai Dosen dengan Penghargaan Khusus UMM 2019. Dimulai sejak tahun 2000 bersama ke enam mahasiswanya, Suwignyo memulai studi tentang PLTMH pertamanya yakni PLTMH Sengkaling 1. Setelah melalui beberapa revisi dan juga evaluasi, baik studi maupun desain, akhirnya PLTMH sengkaling mulai dibangun pada tahun 2007 dan mulai beroperasi pada awal tahun 2008. Selanjutnya pada tahun 2012 dibangun pula PLTMH di Sumber Maron Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang yang dimana studi PLTMH ini dimulai sejak tahun 2009. Di tahun 2015 dibangun pula PLTMH sengkaling 2, melanjutkan studi yang dimulai sejak 2001. Dan yang terbaru yakni PLTMH di Wisata Andeman Boonpring. Secara sederhana, kata Suwignyo, untuk menentukan besar kecilnya listrik yang dihasilkan, tergantung kepada ukuran turbin dan juga tinggi jatuhnya air. Sedangkan untuk PLTMH di wisata Andeman Boonpring sendiri memiliki diameter turbin 30 cm, dan diperkirakan mampu menghasilkan energi sebesar 15.000 watt tenaga listrik. Terkait dengan gelar penghargaan kategori Pengembang Energi Terbarukan yang Suwignyo terima, dia mengaku terkejut dan tidak menduga. Ia sendiri tidak pernah terbesit sedikitpun sebelumnya untuk mendapat, apalagi mengejar gelar yang rutin diberikan pada upacara peringatan Hardiknas di UMM ini beberapa waktu lalu. ”Ya, mungkin itu bentuk apresiasi dari Universitas Muhammadiyah Malang terhadap karya civitas akademika. Tentunya, semoga diraihnya penghargaan ini dapat menginspirasi teman-teman dosen yang lain untuk berkarya dan berinovasi. Walaupun (sesungguhnya, red.) saya tidak bertujuan untuk itu,” ungkapnya. Mimpi besarnya sebelum pensiun, Suwignyo ingin membuat sebuah desain pembangkit energi dari turbin penghasil listrik di sepanjang Jembatan Selat Bali yang panjangnya sekitar 39 KM. “Apabila ini benar-benar terealisasi dampaknya akan luar biasa. Karena mampu menghasilkan daya listrik yang sangat besar,” tandasnya optimis. (zak/can)
Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Pesan Ahmad Dahlan yang Diamalkan Bu Mei

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” menjadi mantra ampuh Mei Suciptowati menghabiskan lebih dari seperempat abadnya mengabdi di Kampus Putih, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dedikasi dan keiklasan Bu Mei, begitu ia disapa, menuntaskan tugasnya sebagai tenaga kependidikan tetap di UMM dengan predikat ‘khusnul khatimah’. Ulet dan teliti, itulah karakter yang tercermin dari seorang Bu Mei. Tepat 26 tahun 6 bulan sudah ia mengabdi di perguruan tinggi yang berjargon “Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa” ini. “Pengabdian yang didasari oleh keikhlasan akan berbuah berbagai rezeki yang baik,” ungkap Bu Mei di hari terakhirnya aktif sebagai tenaga kependidikan tetap di kesekretariatan Rektorat UMM, sekaligus di Kampus Putih (14/5). Tulusnya Bu Mei dalam bekerja terpancar dari sorot jernih matanya saat membagikan ceritanya. Perempuan yang menamatkan pendidikan tingginya di Administrasi Bisnis ini memulai karirnya di UMM pada tahun 1992. Ia beberapa kali berpindah instansi yang terang berbeda dengan bidang minatnya. “Saya kira itu tantangan, saya suka itu,” tuturnya. Ia pernah empat tahun di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM. Selama empat tahun itu, Bu Mei berusaha memberikan kinerja terbaiknya. Kontribusi yang tak boleh dilupakan dari perempuan kelahiran Blitar, 4 Mei 1963 adalah papan jadwal yang saat ini ada di bagian Tata Usaha FEB. Dulu, terangnya, belum ada penjadwalan yang rinci dan efektif. Mei bersama tiga orang karyawan lainnya menggagas sistem penjadwalan yang lebih efektif yakni melalui papan. Papan jadwal tersebut pada akhirnya menjadi sebuah karya monumental yang banyak diadaptasi oleh fakultas-fakultas lainnya di UMM, karena dinilai lebih efektif. “Saya belajar dari nol terkait penjadwalan,” kata Bu Mei. Tantangan bagi Bu Mei adalah hal yang mutlak bagi seorang staf kependidikan. Sebagai seorang pegawai pula, pesannya, harus memberikan terobosan-terobosan yang kreatif serta inovatif. Selain pernah menjadi tenaga kependidikan bidang keadministrasian FEB UMM, Bu Mei juga pernah di Biro Administrasi Umum (BAU), dan pada 2008 sampai 2019 di Rektorat UMM. Ia diminta Rektor Muhadjir Effendy secara langsung kala itu. Tugasnya, melayani tamu-tamu Rektor dalam hal hidangan ramah tamah. “Saya jabarkan sendiri bagaimana melayani tamu yang baik itu, pokoknya terbaik,” jelasnya. Pelayanan yang diberikan Bu Mei bahkan diakui oleh Menteri Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan (periode 2009-2014) dalam kesempatan bertandang ke UMM. Bu Mei sampai mendapat apresiasi dan ucapan terima kasih khusus dari sang Menteri. “Pak Menteri mencari-cari saya ke dapur untuk mengucapkan terima kasih karena sudah dijamu dengan hidangan kesukaannya,” ungkapnya sembari tertawa kecil. Rentang waktu pengabdian yang sangat panjang tersebut, Bu Mei membagikan kunci keistiqomahannya. Baginya, ikhlas dalam setiap pekerjaan yang dilakukan adalah hal yang paling penting. “Rezeki Allah yang mengatur, pokoknya ikhlas seperti perkataan Kyai Haji Ahmad Dahlan yang tentunya sudah sangat kita hapal, Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” ungkapnya. Puluhan tahun Mei mengabdi di UMM, ia telah melayani Rektor Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc., Rektor Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. hingga Rektor Dr. Fauzan, M.Pd UMM saat ini. Ia mengaku tak mengharapkan banyak hal dari UMM. Niatnya adalah mengabdi, karena ia mengikuti pertumbuhan UMM dari kampus dua hingga memiliki kampus tiga. Ia berharap, UMM semakin baik dan berkemajuan. (mir/can)
LSP UMM Jadi Percontohan Penerima Hibah Retooling Vokasi Ristekdikti

Sebanyak 384 mahasiswa Vokasi Keperawatan, Elektro dan Perbankan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti uji kompetensi Program Retooling Pendidikan Tinggi Vokasi Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti – Ristekdikti di Kampus II UMM (11-13/5). Uji kompetensi ini sekaligus penanda terpilihnya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UMM sebagai percontohan penerima hibah retooling vokasi. Periode kali ini terdapat enam skema yang diuji, yaitu Rohaniawan Rumah Sakit, Kewirausahaan Industri, Funding Representatif, Teknisi Akuntansi Ahli, Network Administrator Muda, dan Perancang Sistem Elektronik. Sebanyak dua tim dari Ristekdikti, yaitu tim monev dan tim media dikerahkan untuk memonitoring dan mengevaluasi jalannya uji kompetensi. Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Menariknya, tim media ini datang secara khusus untuk merekam kegiatan dan akan digunakan sebagai video profile Dirjen Kelembagaan Ristekdikti. Ristekdikti menilai, ada skema khas yang dimiliki LSP UMM. Yaitu pada skema Rohaniawan Rumah Sakit. Dr. Ihyaul Ulum, S.E., M.Si., Ak, CA. selaku Direktur LSP UMM mengatakan bahwa dari sekian banyak skema yang diujikan, skema Rohaniawan Rumah Sakit dianggap unik. Dikarenakan adanya penggabungan aspek kesehatan, psikologi dan kerohaniawan. “Banyak yang mengabaikan pentingnya pelayanan spiritual, padahal syarat sehat adalah fisik, mental dan spiritual. Sebagai universitas yang mengembangkan ilmu pengetahuan berdasarkan nilai-nilai Islam, sehingga skema ini penting untuk diujikan bagi lulusan D3 Keperawatan,” ujar Ulum saat ditemui di ruangannya (13/5). Terdapat 87 mahasiswa yang mengikuti skema rohaniawan rumah sakit pada periode ini. Peserta akan menjalani dua tahap dalam pengujian, yakni ujian tulis dan ujian demonstrasi. “Kita akan menguji pengetahuan mahasiswa dalam pemberian pelayanan sebagai seorang rohaniawan, dengan memperhatikan etika-etika keperawatan,” sebut Faqih Ruhyanudin, M.Kep.,Sp.Kep.MB., Asesor Skema Rohaniawan Rumah Sakit. Selain itu, peserta akan diberi dua kasus dalam uji demonstrasi. Kasus yang di uji berupa penanganan kerohanian pada pasien penderita kanker darah yang sedang cemas karena takut meninggal. Dan pada pasien Ibu muda yang mengalami krisis kerohanian setelah kehilangan anak pada saat kelahirannya. “Dalam kasus tersebut kita akan melihat bagaimana mereka menangani spiritual pasien,” kata Faqih. Dalam pengujiannya, peserta uji kompetensi Rohaniawan Rumah Sakit akan mempraktekan komunikasi terapeutik, yakni kemampuan atau keterampilan perawat dalam berinteraksi untuk membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis dan belajar bagaimana berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain. Secara khusus melakukan sentuhan kerohanian terhadap pasien. (bel/can)
Tes Masuk Gelombang 1 UMM Didominasi Camaba Kedokteran

Camaba Kedokteran UMM menunjukan kartu peserta. (Foto: Rizki/Humas) Sebanyak 2600 calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti tes seleksi Jalur Reguler Gelombang 1, Sabtu (11/5) pagi. Mereka bersaing untuk mendapat kursi sebagai mahasiswa tingkat strata 1 dan diploma Kampus Putih. Ujian dipusatkan di lingkungan Kampus III UMM, yakni di Gedung Kuliah Bersama (GKB) I hingga IV, dan Gedung Auditorium BAU UMM. Pada tes gelombang pertama ini, Fakultas Kedokteran masih menjadi favorit para peserta ujian. Sekitar 850 peserta memilih program studi Kedokteran. Bahkan, untuk mengantisipasi kecurangan, UMM sampai mengerahkan petugas bantuan dari pihak kepolisian dan keamanan internal. Hal ini dilakukan untuk menghindari praktik perjokian. Yakni dengan melakukan penggeledahan ke tiap kelas. Dr. Saiman, M.Si. selaku kepala Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM menyatakan, pagu penerimaan pada gelombang 1 ini antara 20 hingga 25 persen. Sementara gelombang 2 dan 3, antara 25 hingga 30 persen. Khusus untuk fakultas kedokteran, pelaksaan tes seleksi gelombang 3 tidak lagi menerima peserta seleksi. Serta, beberapa program studi yang telah memenuhi kuota. Selain itu Rektor UMM Dr. H. Fauzan, M.Pd juga menyampaikan, untuk tes masuk UMM berikutnya akan dilakukan sistem Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk mengikuti perkembangan yang terjadi saat ini. “Ini tahun terakhir UMM melaksanakan ujian tes masuk menggunakan cara konvensional (tulis, red). Nantinya akan menggunakan Ujian Tulis Berbasis Komputer itu,” terangnya. UMM sudah memiliki sekitar empat ratus komputer untuk mempersiapkan UTBK yang rencananya akan mulai dilaksanakan pada tes gelombang 3. Nantinya akan dibagi ke dalam beberapa shift, tergantung dari jumlah peserta yang mendaftar dan kapasitas tempat. “Selain mengikuti perkembangan teknologi dan juga mengantisipasi kecurangan pada saat tes ujian masuk,” terang Fauzan di gedung Rektorat. Setelah menerima camaba dari jalur prestasi dan gelombang 1, UMM akan kembali menyelenggarakan pendaftaran tes jalur regular gelombang II sejak 9 Mei hingga 10 Juli 2019. Sementara pendaftaran gelombang III mulai tanggal 11 Juli hingga 16 Agustus 2019. Para camaba UMM dihimbau memantau lini informasi seputar PMB UMM di kanal pmb.umm.ac.id dan mendaftar di online.umm.ac.id. (zak/can)
Kedokteran UMM Diminati Hingga Ujung Timur Negeri

Gema Universitas Muhammadiyah malang (UMM) tak hanya terdengar di kota Malang dan sekitarnya, tapi hingga ke pelosok negeri. Seperti Priambudi Kesuma Ramadhani sebagai peserta seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Gelombang I yang berasal dari kota asal tim Mutiara Hitam Jayapura, Provinsi Papua. “Saya ke UMM karena rekomedasi dari guru yang ada di sekolah. Selain itu orang tua juga turut merekomendasikan, sehingga saya mencoba untuk mendaftar dan mengikuti tes dan pilihan saya jatuh kepada Fakultas Kedokteran kampus ini,” ungkap Priambudi Kesuma Ramadhani yang kerap disapa Rama ini. Selain itu, Ismaliyah Kurnia Tiara Wati asal Nabire juga punya cerita serupa. “Saya ke sini karena rekomendasi dari guru. Orang tua juga turut mendukung. Tak hanya itu, di lingkungan saya juga terdapat beberapa alumni yang berasal dari kampus ini,” jelas Nia yang juga mengambil Program Studi (Prodi) Kedokteran. Tak kalah menarik, orang tua Ismaliyah turut membagikan cerita perjalannya dalam menemani putrinya. “Saya ke sini karena mengikuti kemauan dan cita-cita putri saya yang sangat ingin berkuliah di UMM. Selain itu kampus ini sudah punya nama di tempat saya,“ ujar Mrakih, saat menemani putrinya selesai ujian seleksi. Dilanjutkan oleh Mrakih, bahwa putrinya sudah dia tawarkan untuk memilih kampus-kampus yang tersebar di berbagai kota di Pulau Jawa lainnya. “Sudah saya tawarkan mulai dari Semarang, Jogja, Solo, serta Universitas Cendrawasih yang ada di Jayapura. Namun Ia tetap kekeuh untuk memilih di sini,” ungkapnya. Pada tes gelombang pertama ini, Fakultas Kedokteran masih menjadi favorit para peserta ujian. Sekitar 850 peserta memilih program studi Kedokteran. Bahkan, untuk mengantisipasi kecurangan, UMM sampai mengerahkan petugas bantuan dari pihak kepolisian dan keamanan internal untuk menghindari praktik perjokian. Setelah menerima camaba dari jalur prestasi dan gelombang 1, UMM akan kembali menyelenggarakan pendaftaran tes jalur regular gelombang II sejak 9 Mei hingga 10 Juli. Sementara pendaftaran gelombang III mulai tanggal 11 Juli hingga 16 Agustus. Pengumuman peserta lolos gelombang 1 tanggal 20 Mei 2019. (riz/can)
Formula Modal Intelektual Dosen UMM Dipakai Banyak Peneliti Asing

Selama lima tahun terakhir, Dr. Ihyaul Ulum banyak bergelut di dunia intellectual capital (modal intelektual). Bahkan, dia menciptakan model ukuran dari intellectual capital (IC). Temuan formula ini dinamainya dengan Modified Value Added Intellectual Coefficient (MVAIC). Fungsinya, untuk mengukur kinerja dari organisasi yang memiliki modal intelektual. “Karena selama ini (modal intelektual, red.) tidak terukur,” katanya. Buah pemikirannya itu kini sudah terbit di salah satu jurnal internasional di Amerika Serikat (AS). MVAIC juga sudah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemenkumham). Bahkan, diakuinya, model MVAIC telah dipakai banyak peneliti asing untuk mengukur kinerja perusahaan publik di Hongkong, Amerika, Australia, hingga London. Tak hanya menelurkan formula MVAIC. Di tahun 2016, Ulum juga sudah menerbitkan buku dengan judul “Intellectual Capital: Model Pengukuran, Framework Pengungkapan & Kinerja Organisasi”. “Buku ini disusun dengan semangat untuk meng-Indonesia-kan isu tentang IC,” ungkapnya. Secara internasional, ditambahkan Ulum, kajian tentang IC telah mulai berkembang sejak akhir tahun 1990-an. Termasuk di Indonesia. Atas dedikasinya pada pengembangan ilmu pengetahuan, pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu, Ulum diganjar penghargaan sebagai Dosen Berprestasi UMM Tahun 2019. Dinobatkannya Ulum di peringkat pertama dosen berprestasi UMM didasarkan pada kiprah Ulum di karya Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Publikasi, serta Pengabdian kepada Masyarakat. Event tahunan pemilihan Dosen Berprestasi UMM ini menyesuaikan dengan agenda pemilihan dosen berprestasi di tingkat Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII dan nasional. Seleksi dimulai di tingkat perguruan tinggi. Pemenang, dalam hal ini Ulum, akan mewakili UMM untuk berkompetisi di tingkat LLDIKTI Wilayah VII. Jika kembali terseleksi, Ulum akan mewakili LLDIKTI Wilayah VII ke nasional. Untuk diketahui, pada ajang pemilihan Dosen Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2018, UMM telah menorehkan catatan membanggakan. Dosen UMM, Djoko Sigit Sayogo, Ph.D. meraih Juara Pertama dalam perhelatan pemilihan finalis Dosen Berprestasi Tingkat Nasional bidang Sosial Humaniora dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI). (riz/can)