Presiden Maspion ke UMM, Kepincut Asri dan Sejuknya Kampus Putih

“Cintailah produk-produk Indonesia,” mungkin sepenggal kalimat ini melekat kuat di pikiran sebagian masyarakat Indonesia. Di iklan produk perusahaan manufaktur kenamaan Indonesia tersebut, ada sosok seorang Alim Markus sang Presiden Direktur Maspion Group. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur ini hadir menyapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (6/3). Alim mengaku ini adalah kali pertamanya berkunjung ke UMM. Dalam sekejab, UMM mampu membuat anak dari Alim Husin ini tersanjung. Pasalnya, UMM memiliki suasana asri dan udara yang sejuk. “Saya diminta Pak Rektor lain kali berkunjung lagi ke UMM,” tuturnya. Selain takjub dengan kemegahannya, ke UMM baginya sekaligus berwisata dan beristirahat sejenak dari hiruk pikuk kesibukan kota. Pada agenda Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan atas kerjasama Suluh Kebangsaan dan UMM ini, Alim membagi ceritanya sebagai anak bangsa yang sukses membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Ia membagikan kunci suksesnya. “Pendidikan jadi faktor penentu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkapnya dihadapan peserta yang memadati Aula GKB IV lantai 9 UMM. Dalam gelaran bertajuk “Milenial Wujudkan Indonesia Emas 2045, Siapa Takut?” ini disebutkan Alim, bonus demografi Indonesia pada tahun 2030 menuju Indonesia Emas di tahun 2045, adalah peluang untuk tumbuh dan berkembangnya Indonesia secara ekonomi. Bila semua masyarakat milenial memiliki pendidikan yang baik, ke depan Indonesia punya peluang besar untuk memimpin ekonomi dunia. “Oleh karenanya, masyarakat milenial yang bakal meneruskan tampuk kehidupan saat Indonesia di masa keemasannya di usia seratus tahun, harus disipkan menjadi manusia-manusia terdidik. Karena orang berpendidikan akan memberi harapan nyata bagi sesamanya,” ungkapnya. Ia juga mengundang mahasiswa UMM untuk belajar langsung belajar berwirausaha di perusahaan yang ia pimpin. Selain Presiden Direktur PT. Maspion, hadir panelis lain yakni Ketua Suluh Kebangsaan Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U., Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., Staf Khusus Presiden Bidang Agama Tingkat Internasional Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA., Savic Ali, serta dua putri Presiden Republik Indonesia keempat Dr. K. H. Abdurrahman Wahid, Alissa Wahid dan Inayah Wahid. (mir/can)

Ini Harga yang Harus Dibayar Agar Indonesia Tetap Ada di 2045

Alissa Wahid, putri presiden keempat RI Gus Dur menyebut, pekerjaan rumah masyarakat Indonesia tidak mudah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tetapi sangat mungkin untuk diwujudkan. “Kuncinya adalah di bangunan kenegaraan yang baik, yang berkeadilan melalui sistem yang berintegritas, dan bagaimana kita semua mampu menjaga persatuan dan kesatuan,” tegasnya, Selasa (9/4) pagi. Hal ini disampaikan Alisa dalam kesempatan menjadi panelis pada gelaran Dialog Kebangsaan di Aula GKB IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir tokoh lainnya, Mahfud MD Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Alim Markus Presiden Direktur PT. Maspion, Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM, Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, MA., Savic Ali, serta putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid. Untuk Indonesia bisa tetap bertahan hingga di usia seratus tahunnya, yakni di tahun 2045, ada harga yang harus dibayarkan. “Mau nggak kata Indonesia hilang dari peta? Tapi mau nggak membayar harganya supaya kata ‘Indonesia’ itu tetap ada di dalam peta. Harganya adalah, sebagai warga negara, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri,” bebernya dihadapan ratusan peserta gelaran sehari ini. Selain itu, sambungnya,  ketika seseorang mau berkembang dan tumbuh menjadi orang yang mandiri dan berdikari. Tetapi dalam waktu yang bersamaan, kalau Indonesia juga ingin besar, maka manusianya juga harus sejahtera. “Sejahtera itu harus menjadi bagian dari kita. Yang mandiri dan berdikari. Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar, kalau warganya mampu menyangga dirinya sendiri,” ujarnya. Tak cukup itu, pelibatan generasi penerus bangsa untuk menjadikan Indonesia sejahtera juga mesti dilakukan. “Kita butuh para generasi milenial ini untuk men-tasyarufkan atau membagikan ruang dirinya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita butuh generasi yang tidak apatis terhadap politik, kita butuh generasi yang jangan diam terhadap apa yang terjadi di sekitar kita,” tegasnya. Generasi milenial yang hidup di masa teknologi informasi berkembang pesat, membuat generasi ini memiliki keunggulan. Tahun 2012, diceritakannya, kita dikagetkan dengan kasus Satinah, TKI yang terancam dihukum pancung jika tidak mampu membayar diyat sebanyak 21 milyar. Pemerintah Indonesia ketika itu hanya menyanggupi sembilan milyar saja. Tentu belum cukup,” bebernya. Netizen Indonesia, anak-anak muda milenial ketika itu, berinisiatif saweran agar hukuman itu tidak terjadi. Jumlah yang terkumpul 2,8 milyar dalam kurun waktu sekian hari saja. “Itu kekuatan dunia digital dan itu kekuatan anak-anak muda Indonesia. Hal ini juga terjadi pada 2014, saat pengajuan perluasan gedung KPK. Lagi-lagi karena kekuatan netizen, kebijakan itu akhirnya disetujui,” paparnya. Mengutip salah satu konsep ahli Psikologi Keluarga Alisa menyebut, pemimpin milenial harus memiliki karakteristik yang terangkum di lima keterampilan berfikir. Kalau tidak, dia akan menjadi orang yang digilas roda zaman. “Yakni menguasai ilmu, mampu berinovasi, berpikir kritis dan kreatif, menghormati orang lain, serta terakhir yakni mampu membedakan mana benar-mana salah,” pungkasnya. (can)

Pesan Mahfud MD Buat Milenial UMM: Mari Ikut Wujudkan Indonesia Emas 2045

Cita-cita Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju, adil dan beradab dalam rangka menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045 akan terwujud, kata Prof. Dr. M. Mahfud MD., S.H., S.U., jika memenuhi sejumlah syarat. Yakni jika ideologi bangsanya kokoh, ekonominya baik, hukum dan keadilan ditegakkan, politik yang demokratis, budaya gotong royong, serta mengedepankan persaudaraan. Hal itu disampaikan Mahfud MD Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan ini dalam gelaran Dialog Kebangsaan yang digelar di Aula Gedung Kuliah Bersama IV lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir para tokoh lain sebagai pembicara yakni Dr. Alim Markus Presiden Direktur PT. Maspion, Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM, Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, MA, serta Savic Ali. Dilanjutkan Hakim Konstitusi periode 2008-2013 ini, Indonesia Emas juga disokong oleh sejumlah indikator lain. Diantaranya pemanfaatan bonus demografi, bonus geografi,  juga kesadaran hidup bernegara untuk terus bersatu. “Kalau beberapa indikator ini terpelihara sampai tahun 2045, artinya ketika Indonesia di usianya 100 tahun, barulah Indonesia sudah bisa dikatakan emas,” katanya, Selasa (9/4). Pertanyaannya, sambung Mahfud, kita bisa sampai ke sana ataukah tidak? Hati-hati, Mahfud mewanti-wanti ke seluruh peserta, banyak negara-negara besar yang tidak sampai ke sana. Dicontohkannya, Uni Soviet tidak sampai usia 100 tahun. Padahal pernah berjaya luar biasa. “Pernah menjadi negara menakutkan dunia karena kehebatannya. Bubar hanya dalam kurun waktu 87 tahun,” bebernya. Meski begitu, sambungnya, ada begitu banyak ancaman untuk cita-cita itu dapat terwujud. Di antaranya intoleransi. Makannya kita berkumpul seperti ini untuk mengingatkan bahwa sekali kita terpecah, karena intoleransi, sekali kita terpecah karena tidak sadar pentingnya pluralisme, mungkin kita tidak akan sampai Indonesia Emas 2045. Dan itu akan mengakibatkan kita rugi,” ujarnya. Sementara, menurut perspektif Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-22 ini, mulai dari sekarang masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial, harus bekerja secara sungguh-sungguh untuk menegakkan hukum dan keadilan agar Indonesia Emas di tahun 2045 itu dapat terwujud. “Karena biasanya negara hancur itu, utamanya, kalau hukum tidak ditegakkan dengan benar,” tegasnya. Rumusnya, ketika masyarakat diperlakukan tidak adil, pasti diakibatkan oleh praktik disorientasi dalam bernegara. Kalau disorientasi dibiarkan, sambungnya, akan menimbulkan distrust, atau ketidakpercayaan publik kepada pemerintah. “Pada tingkatan berikutnya akan terjadi disobedience, atau pembangkangan,” kata Mahfud  di gelaran dialog yang dimoderatori putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid. “Jika pembangkangan ini terus dibiarkan, tidak segera ke orientasi awal, maka akan terjadi berikutnya disintegrasi. Disintegrasi ini akan terjadi, jika suatu bangsa kemudian sudah tidak tahan rakyatnya karena tidak diperlakukan tidak adil. Inilah yang menyebabkan negara hancur. Sehingga, untuk mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045 kita harus bagi-bagi tugas,” tuturnya. Ikhtiar berbagi peran ini, khususnya di kalangan milenial, dalam rangka menyiapkan kita untuk membangun bangsa yang beradab. Jangan sampai negara kita hancur karena kita terpecah belah. “Mari bersama-sama membangun bangsa Indonesia yang maju dan beradab dengan memanfaatkan segala kelebihan yang kita miliki. Agar Indonesia Emas di tahun 2045 dapat tercapai,” tandasnya. (can)

Ke Amerika, Ken Dedes UMM Ini Siap Harumkan Nama Indonesia

Ken Dedes Maria Kunthy adalah salah satu dari tiga mahasiswa anggota Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pada tanggal 10 April mendatang akan berlaga di Amerika Serikat. Hebatnya, mahasiswa yang akrab disapa Ken Dedes ini menjadi perempuan pertama yang turut berlaga dalam ajang robot internasional dari UMM. Tiap kali berlatih menguji robot kategori beroda rancangannya; MuForIna, Ken Dedes hampir selalu menghabiskan waktu seharian penuh. “Sebelum bahkan mendekati kompetisi begini, latihan yang kami lakukan semakin masif,” ungkap mahasiswa teknik elektro angkatan 2015 yang merupakan putri pasangan Totok Hadi Purwanto dan Maria Wigati tersebut. Saat ditanya prosesnya hingga berkesempatan berlaga di Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) ini, Ken Dedes menceritakan perjalanannya tak mudah. “Sebelum bergabung dengan Tim Robotika, saya diminta untuk mendampingi sekaligus mengajar anak-anak Sekolah Dasar Muhammadiyah untuk belajar robot,” tutur saat diwawancarai, Senin (8/4). Setelah melewati masa panjang itu, dengan tekad kuat dan kesungguhan akhirnya Ken Dedes memutuskan bergabung dengan tim yang notabene beranggotakan para laki-laki ini, dan berkesempatan untuk mendesain robotnya sendiri. Dalam merancang robot MuForIna, Ken Dedes mengaku didukung penuh oleh pembimbing dan kawan-kawan seperjuangannya di LSO Robotik. Di Amerika nanti, Ken Dedes akan melawan 32 tim dari berbagai negara. Tim-tim itu terdiri dari berbagai negara diantaranya dari Israel, Kanada, Tiongkok, Uni Emirate Arab, Portugal dan tentu saja tuan rumah Amerika Serikat. Dengan robot rancangannya, ia optimis dapat mengukir prestasi layaknya pendahulunya. “Harus optimis menang seperti pesan Pak Rektor saat pelepasan,” tuturnya. Saat gelaran pemeran akademik Festival Kabangsaan II 6 April lalu, Ken Dedes berkesempatan berbincang singkat dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK). Ia mendapatkan dukungan penuh. JK menaruh harapan besar pada tim robot UMM yang akan berlaga di Amerika. “Seneng banget dapat dukungan moril dari Pak Wapres, makin semangat,” ungkapnya. Menjadi perempuan pertama yang ikut kontes internasional, Ken Dedes berhasil membuktikan bahwa perempuan juga dapat berprestasi layaknya laki-laki. Ia berharap, ke depan para perempuan dapat memiliki kemauan dan tekad kuat untuk mengukir prestasi. “Mumpung masih kuliah. Ayo! Tentu nanti yang bangga bukan hanya orang tua, tetapi kampus dan Indonesia,” tandasnya. (mir/zak/can)

Tim Robotika UMM Kembali Berlaga di Amerika

Tim Robotika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan kembali bertanding di tingkat internasional pada 13-15 April 2019 di Trinity College Hartford Connecticut, Amerika Serikat. UMM mewakili Indonesia karena berhasil keluar sebagai juara nasional berdasarkan surat penugasan dari Ditjen Belmawa Kemenristekdikti Republik Indonesia nomor T/274/B3.1/KM/02.04/2019. Tak tanggung-tanggung, UMM memberangkatkan tiga tim jagoannya di kompetisi yang juga pernah dimenanginya pada tahun 2017. Yakni Zhafarul (robot kaki 4), Dome_Ina (robot kaki 6), dan MuForIna (robot beroda). Masing-masing robot membutuhkan waktu pembuatan 4 bulan, dimulai dari proses perakitan hingga siap berkompetisi di ajang kontes robot bergengsi tingkat dunia ini. Kompetisi robotik internasional bertajuk Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) ini mempertandingkan dua jenis kategori, yakni robot berkaki dan robot beroda. Dengan membawa status juara bertahan, tim robotik UMM optimis mendapat hasil terbaik di kompetisi robot pemadam api tingkat dunia. Yakni dengan mengusung beberapa teknologi andalan dan inovasi terbaru. Di tahun 2017, dua tim dari UMM memborong juara 1 dan 2 sekaligus untuk kategori robot berkaki. Dua tim tersebut yaitu tim InaMuh sebagai juara 1 dan tim Unmuh Malang sebagai juara 2. Di samping itu, tim InaMuh juga meraih juara poster terbaik. Atas pengalaman inilah, mereka optimis akan kembali menang, tentunya melalui penyesuaian beberapa teknologi dan mengusung inovasi baru. Kontes diikuti 32 tim dari berbagai negara, seperti Israel, Tiongkok, dan lainnya.  Adalah Alfan Achmadillah Fauzi, Rohmansyah, Ken Dedes Maria Khunty yang kesemuanya merupakan mahasiswa Prodi Teknik Elektro. Selain itu mereka juga dibantu anggota WS Robotika yang berperan mengerjakan mekanik, penyediaan hardware, algoritma, hingga menguji performa robot. Semua robot memiliki misi memadamkan api dengan cepat di titik pada satu ruangan atau kamar yang menyerupai rumah. Posisi titik api diletakan secara acak oleh dewan juri sehingga robot dituntut harus cerdas untuk mencari api tersebut. Setelah memadamkan api, robot dituntut untuk kembali ke titik start. Robot dengan catatan tercepat bakal keluar sebagai pemenang. “Robot yang telah berhasil memadamkan api berhak bertanding pada level berikutnya. Pada level ini, selain memadamkan api, robot juga dituntut untuk menyelamatkan boneka dan memindahkannya ke zona aman,” terang Alfan, mahasiswa prodi teknik elektro angkatan 2015, selaku ketua tim. Alfan yakin kawan setimnya akan mengulang kesuksesan para seniornya terdahulu. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam sambutan pelepasannya menyatakan bakal membebaskan skripsi jika berhasil memenangi kontes ini. Fauzan lantas berpesan kepada para delegasi dan mahasiswanya yang hadir ketika itu untuk berhenti menjadi penonton. Sebaliknya, jadilah pemain. “Saya tidak menarget harus juara satu, tetapi yang terbaik sajalah yang saya minta,” ungkapnya. Dua tim lainnya yang dimotori Bayu Irawan Nugroho mahasiswa teknik elektro dan Dwi Nur Fajar mahasiswa teknik informatika juga akan unjuk gigi di Kontes Robot Indonesia (KRI) Regional IV pada 21-23 April 2019 di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Rombongan ini mempertandingkan dua jenis robot, yakni satu robot pemadam api (DOME), dan tiga robot sepak bola (Zhafarul). Robot sepakbola pada kompetisi ini harus memiliki spesifikasi yang wajib dipenuhi. Yakni mendeteksi objek, menggiring bola, menendang, hingga lokalisasi. Pendeteksian objek tersebut agar robot dapat membedakan bola, lawan, garis, dan gawang. Robot akan dinyatakan memenangkan pertandingan ketika robot lebih banyak memasukan bola ke gawang lawan. (zak/riz/can)

Replika Dinosaurus Terbesar dari Tempe Masuk MURI

KELOMPOK mahasiswa praktikum event management “Prospero” Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukir Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Sabtu, (6/4) siang ini. Rekor yang diukir adalah pembuatan replika dinosaurus terbesar yang terbuat dari tempe. Replika dinosaurus berukuran 7×5 meter ini ‘disembelih’ oleh Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. Hal ini sekaligus menandai peresmian destinasi wisata baru di Kota Batu, Kampung Hijau Tempenosaurus. Kehadirannya menyusul kesuksesan Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) sebelumnya. “Dilaunchingnya Kampung Hijau Tempenosaurus sesungguhnya menginisiasi bangunan peradaban kemanusiaan. Karena yang diharapkan dari pembangunan di manapun adalah people center development; pusat dari seluruh pembangunan adalah pembangunan manusia yang ada di dalamnya,” kata Khofifah. Disebut Khofifah, membangun perkampungan adalah membangun peradaban. Membangun peradaban adalah membangun tatanan sosialnya, budayanya, serta estetikanya. “Partnership ini terbangun dengan sangat baik, antara korporasi yakni PT. Indana dan UMM sebagai perguruan tinggi,” ungkapnya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyebut, proses pembangunan kampung ini tidak cukup berhenti pada pengecetan. Pihaknya juga akan mulai memikirkan perencanaan tatanan sosial, ekonomi, bahkan pendidikannya. “Utamanya pada upaya peningkatan kompetensi masyarakatnya,” sebutnya. Upaya pembangunan dari segala aspek oleh UMM juga dilakukan di wilayah lainnya. Selain tentunya KWJ, lainnya yakni Wisata Kampung Topeng Desaku Menanti Kota Malang, serta sejumlah wilayah lainnya. UMM juga akan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Turen, Kabupaten Malang. Proses pembuatan tempe dinosaurus ini sudah mulai dilakukan, Selasa (2/4). Hal ini dikarenakan proses pembuatan tempe membutuhkan waktu cukup lama, yakni 3-4 hari. Tak sampai mubadzir, nantinya replika ini dibagikan kepada pengunjung dan juga masyarakat yang melintas di sekitar kawasan wisata Jawa Timur Park 3. Jamroji selaku dosen pembimbing praktikum mengungkapkan, untuk mewujudkan pemecahan rekor MURI tersebut, Jamroji dan mahasiswa bimbingannya melibatkan baik warga sekitar maupun perusahaan penyedia cat KWJ PT. Inti Daya Guna Aneka Warna (Indana), dan juga Jawa Timur Park Group. “Untuk membuat replika tempe dinosaurus tersebut dibutuhkan kurang lebih 12-15 orang dan menghabiskan biaya hampir 20 juta rupiah untuk menyiapkan alat dan juga bahan yang diperlukan,” ungkap dosen yang juga sukses mendampingi kelompok mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi “Guys Pro” menggarap KWJ. Untuk tercapainya pemecahan rekor ini, usaha yang tentu dilakukan tidaklah mulus. “Banyak hal yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama. Karena proyek ini melibatkan berbagai pihak. Sehingga dalam membuat suatu keputusan harus di musyawarahkan bersama,” sambung Jamroji di sela acara. Ketika pengajuan pemecahan rekor MURI ini ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi. Rencana awal replika tempe dinosaurus itu akan diberi formalin dan hendak dipamerkan di Jawa Timur Park 3. Namun begitu, untuk kategori makanan, tempe yang dibuat replika disyaratkan untuk dikonsumsi dan tidak boleh tersisa. (*/mir/can)

Wapres Jusuf Kalla: Bangsa Tak Memiliki Batas

“Apa beda negara dengan bangsa?” demikian Wakil Presiden RI melempar pertanyaan kepada ribuan peserta Festival Kebangsaan II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (6/4). Seringkali, katanya, kita sulit membedakan keduanya. “Negara jelas ada batasnya, tetapi bangsa tidak memiliki batas. Batasnya adalah kesamaan, perasaan, sejarah, juga tujuan,” tegasnya. Batas-batas inilah, sambung Jusuf Kalla, yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Walaupun kita berbeda-beda. “Indonesia memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh negara atau bangsa lain. Kita memiliki negara kepulauan terbesar di dunia, yakni sekitar 17 ribu pulau. Penduduknya adalah modal utama. Meski begitu hanya kuantitasnya, melainkan dari kulitasnya. Penduduk itu aset,” ungkapnya. Pola pikir inilah yang diadopsi China dengan jumlah 1,4 milyar penduduk.  Bagi China, dengan jumlah penduduk yang sangat besar, tak dipandang sebagai beban. serta memunculkan anggapan bahwa negaranya tak bisa maju. “Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar, dan alhamdulillah juga damai dibanding dengan negara berpenduduk Islam lainnya. Inilah potensi kita,” kata Jusuf Kalla. Semua hal yang terdapat di Indonesia itu, disebut Jusuf Kalla, sebagi modal bagi Indonesia untuk maju. Kita menghargai kebangsaan kita dengan Kebhinekaan. Perbedaan bukanlah kelemahan, tetapi perbedaan adalah kekuatan. “Apa yang dilakukan UMM hari ini (menggelar Festival Kebangsaan, red.) ialah bagaimana usaha untuk membina bangsa yang besar,” ujar Jusuf Kalla. Sementara, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. menyebut, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak boleh hilang dari Republik ini. “Diadakannya Festival Kebangsaan di kampus ini, karena memang UMM telah bertekad menyatakan dirinya ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” kata Badan Pembina Harian UMM ini. Lebih jauh lagi, Bhineka Tunggal Ika disebut Malik, bukanlah suatu kebetulan. Tapi lahir dari kesadaran, penghayatan, serta kecermatan para pendiri bangsa ini, bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat majemuk. “Bahkan sadar betul, kemajemukan bangsa Indonesia itu multi dimensi. Yakni dengan perbedaan latar belakang agama, suku, sosial-ekomini, termasuk dalam pilihan politik,” ungkapnya. Komitmen bangsa ini, ditegaskannya, bahwa Pancasila merupakan puncak kesepakatan bangsa, tidak boleh diganti oleh paham kebangsaan lain. “Pancasila adalah ideologi bangsa. Pancasila adalah dasar negara. Pancasila sudah sangat final dan tidak boleh digeser. Tapi Pancasila, sangat terbuka untuk ditelaah, dikembangkan, dan direaktualisasikan sesuai dengan zamannya,” tambah Malik. Di sisi lain, pendiri Institute for Syriac Cristian Studies (ISCS) Bambang Noorsena dalam orasi kebangsaannya juga menekankan,  perbedaan bukan alasan untuk kita saling menafikkan, saling meniadakan, bahkan saling berhadap-hadapan dalam sebuah konflik. “Melainkan justru menjadikannya suatu kekayaan bersama yang harusnya kita rayakan, bahkan sejak awal perkembangan bangsa ini,” ungkapnya. Negara Indonesia. disebutnya, mampu menjaga segala perbedaan tersebut dan menjadikannya sebagai kekuatan dan juga kekayaan bangsa. “Sudah bukan saatnya lagi Indonesia memperdebatkan masalah agama, suku, maupun bahasa. Karena karena Pancasila sudah berjalan bersama berdasarkan relnya masing-masing. Pancasila adalah sarana untuk mempersatukannya,” pungkasnya. (*/can)

Wapres Jusuf Kalla Resmikan Lima Infrastruktur Baru UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan pembangunan fisik untuk menunjang aktivtas akademis maupun non akademisnya. Infrastruktur terbaru yang dibangun dengan mandiri diantaranya  Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV berlantai Sembilan dan renovasi gedung pertemuan menjadi Hotel Kapal Garden Sengkaling. Sedangkan infrastruktur baru lainnya merupakan bantuan pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dna Perumahan Rakyat (PUPR). Tiga infrastruktur bantuan pemerintah tersebut adalah dua unit jembatan, yakni Jembatan Sengkaling dan Jembatan GKB IV dan satu unit Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Kehadiran Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla dalam pembukaan Festival Kebangsaan II UMM Sabtu (6/4), sekaligus meresmikan lima infrastruktur baru. Peresmian ditandai dengan penandatangan prasasti usai Jusuf Kalla membuka agenda yang dihadiri ribuan mahasiswa dan unsur masyarakat dan latar belakang agama. “Beberapa kali hadir di Universitas Muhammadiyah Malang, dan selalu mengagumi perkembangan universitas swasta seperti UMM. Idenya, spiritnya, kampusnya yang dibelah sungai (Brantas, red.) dan tentu saja hasil dari produk-produk akademiknya yang membanggakan,” ungkapnya disaksikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Gubernur Jawa Timur, dan unsur pejabat pemerintahan lainnya. UMM, sambung Jusuf Kalla, selayaknya bukan hanya sebagai kampus Muhammadiyah. Karena kampus ini begitu terasa unsur persaudaraan dan keragaman yang sangat merepresentasikan keragaman yang baik. “Kemajuan kita akan sangat ditentukan oleh model pendidikan seperti ini,” ungkap Jusuf Kalla yang pada tahun 2014 juga turut meresmikan Rumah Sakit UMM ini. Dalam kesempatan ini juga digelar produk-produk riset mahasiswa dan para dosen, baik dari UMM maupun dari perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya. Pagelaran produk riset ini dimaksudkan mengenalkan untuk direspon oleh pelaku usaha dan pelaku bisnis.  Wapres Jusuf Kalla juga turut melihat berbagai produk riset ini usai membuka secara resmi Festival Kebangsaan II ini. Acara diselenggarakan dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), pelaku dan pemilik perusahaan, dan Badan Musyawarah Gereja Kristen Malang Raya. Sementara yang hadir, selain mahasiswa, terdiri atas tokoh agama, tokoh etnis, tokoh organisasi, dan pejabat pemerintahan. (*/can)

Festival Kebangsaan II UMM Dibuka Wapres Jusuf Kalla

WAKIL Presiden (Wapres) Republik Indonesia Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK) hadir dalam gelaran kedua kalinya Festival Kebangsaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sabtu (6/4), pagi ini. Jusuf Kalla hadir di Hall Dome UMM untuk membuka even perekat Kebhinekaan ini, sekaligus meresmikan lima infrastruktur baru di lingkungan Kampus Putih, UMM. “Kehadiran kita pada gelaran Festival Kebangsaan kedua ini dalam rangka merevitalisasi visi kebangsaan di negara yang ditakdirkan oleh Allah subhanahuwata’ala penduduknya berbeda-beda,” sebut Rektor UMM. Dr. Fauzan, M.Pd. dalam pidato sambutannya di hadapan ribuan mahasiswa dan undangan dari berbagai unsur masyarakat dan latar belakang agama. Gelaran yang kedua ini, sengaja disertakan agenda peresmian pembangunan Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV, Hotel Kapal Garden, dua jembatan, dan satu Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Bangunan dua jembatan dan satu Rusunawa ini merupakan bantuan pemerintah melalui Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PUPR RI). Keberadaan lembaga pendidikan tinggi harus menjadi variabel pendorong dalam merawat tradisi bersaudara, di tengah-tengah kemajemukan di antara kita. “Universitas Muhammadiyah Malang telah lama menyadari atas peran itu. Atas dasar itulah Festival Kebangsaan yang kedua kalinya ini dihadirkan di kampus ini,” ungkap Rektor Fauzan disambut riuh tepuk tangan hadirin. UMM telah lama memiliki semboyan; dari Muhammadiyah untuk Bangsa.  Semboyan ini, sambung Fauzan, mengandung spirit bahwa apa yang diupayakan oleh UMM harus dapat dirasakan manfaatnya oleh semua golongan masyarakat yang ada di bumi ini. “Sekecil apapun yang dihasilkan UMM, didorong memiliki daya manfaat bagi masyarakat, tak terkecuali produk-produk riset,” katanya. Oleh karenanya, dalam kesempatan ini juga digelar produk-produk riset mahasiswa dan para dosen, baik dari UMM maupun dari perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya. Pagelaran produk riset ini dimaksudkan mengenalkan untuk direspon oleh pelaku usaha dan pelaku bisnis.  Wapres Jusuf Kalla juga turut melihat berbagai produk riset ini usai membuka secara resmi Festival Kebangsaan II. Acara ini diselenggarakan dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), pelaku dan pemilik perusahaan, dan Badan Musyawarah Gereja Kristen Malang Raya. Sementara yang hadir, selain mahasiswa, terdiri atas tokoh agama, tokoh etnis, tokoh organisasi, dan pejabat pemerintahan. (*/can)

Festival Kebangsaan UMM Bakal Dihadiri RI 2

NUANSA kebangsaan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) termanifestasi dari berbagai kehidupan kampus yang majemuk, terbuka (open minded), dan harmonis. Puluhan ribu mahasiswa dari berbagai penjuru Tanah Air dan mancanegara beraktivitas dalam kebersamaan dan penuh persaudaraan. Mereka seperti berada di sebuah miniatur Indonesia dan merasa nyaman berinteraksi dalam berbagai perbedaan. Nuansa ini juga dibangun dan dipelihara menjadi nilai-nilai yang menjiwai tumbuh kembangnya universitas Muhammadiyah terbesar ini. Hal ini Nampak dari berbagai aktivitas yang melibatkan lintas suku, lintas agama, lintas komunitas dan lintas negara. Berbagai even besar terkait isu-isu kebangsaan dan kemajemukan kerap menjadi primadona mahasiswa dan masyarakat secara umum. Bersamaan dengan momentum kebangsaan saat ini, UMM kembali terpanggil untuk menggelar suatu even di hari Sabtu, (6/4), yakni Festival Kebangsaan II. Ini adalah sebuah even untuk merayakan nilai-nilai kebangsaan sekaligus untuk mempersatukan gagasan. “UMM ingin berperan aktif dalam bridging the gap, menjebatani jarak antar perbedaan menuju kebersamaan,” kata Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. Menandai momentum ini pula, UMM bermaksud me-launching infrastruktur terbaru yang tuntas dibangun pada tahun 2019 ini. Yakni berupa Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV, Hotel Pendidikan Kapal Garden Hotel, jembatan, dan Rumah Susun Mahasiswa di lingkungan Rumah Sakit UMM. Momentum ini tepat kiranya diresmikan oleh tokoh nasional yang memiliki perhatian pada isu keberagaman. Festival Kebangsaan yang pada tahun ini mengambil tema “Mengukuhkan Semangat Kebhinekaan menuju Indonesia Berkemajuan” ini bakal menghadirkan salah satu tokoh bangsa. Yakni Wakil Presiden Republik Indonesia Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla. Dihadirkannya Jusuf Kalla atas pertimbangan kontribusinya pada harmonisasi kehidupan Kebhinekaan. Serta kedekatannya dengan Muhammadiyah. Jusuf Kalla, tepat di hari peringatan Milad Persyarikatan Muhammadiyah beberapa waktu lalu, Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara khusus menganugerahkan Muhammadiyah Award. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, penganugerahan itu sebagai wujud penghargaan tertinggi atas dedikasinya kepada bangsa. Penghargaan tertinggi tersebut diberikan kepada Jusuf Kalla sebagai tanda terima kasih dan penghormatan PP Muhammadiyah. Jusuf Kalla dinilai sebagai tokoh bangsa yang sangat berperan penting dan penuh pengabdian dalam menyelesaikan konflik serta membangun perdamaian serta kemanusiaan. Jusuf Kalla telah menggoreskan sejumlah kepeloporan dan kiprah nyata dalam merekat integrasi nasional. Kedekatan Jusuf Kalla dengan organisasi Muhammadiyah sudah berlangsung lama. Bukan tanpa sebab, Jusuf Kalla mengaku sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan keluarga Muhammadiyah. Bahkan Sang Ibu, Athirah Kalla, pernah tercatat sebagai pengurus Aisyiyah di Makassar. Bagi Jusuf Kalla, Aisyiyah sudah menjadi pelopor bagi negara, terutama dalam bidang pendidikan dan gerakan perempuan. Lawatan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ke Kampus Putih sebetulnya pernah dilakukan sebelumnya di tahun 2014. Jusuf Kalla datang ke UMM bersama Megawati dalam kesempatan penganugerahan UMM Award untuk Tokoh Bangsa yang menjatuhkan pilihan kepada suami Megawati, Dr (H.C.) H. Muhammad Taufiq Kiemas. Jusuf Kalla ketika itu berstatus sebagai Wakil Presiden RI ke-10. Kehadiran Jusuf Kalla bersama Megawati saat itu juga sekaligus untuk meresmikan Rumah Sakit UMM. Megawati berpesan, agar melalui pendirian rumah sakit ini, juga akan semakin banyak lahir dokter-dokter profesional.. Dalam kesempatan ini Megawati menyumbangkan lima unit ambulans kepada RS UMM. Pernyataan itu di terima langsung Rektor UMM ketika itu, Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P. Festival ini menjadi puncak dari beberapa even di UMM sebelumnya yang menggalang partisipasi dari berbagai kalangan masyarakat dan mahasiswa. Pada festival ini, even yang akan digelar yakni Rembug Kebangsaan, Gelar Seni Budaya Tradisional, Gelar Karya Produktif Dosen dan Mahasiswa, serta ditutup dengan dihelatnya peresmian infrastruktur baru milik UMM. (*)