Konsep Kewirausahaan Sosial ini Bawa Alumnus UMM Terbang ke Amerika

Kasmawati Ahmad, alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpilih mewakili provinsinya, Maluku, sebagai peserta Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) 2019 di Amerika Serikat. Kasma terdaftar di kategori Academic Fellowship selama lima pekan. Melalui konsep kewirausahaan sosial yang diusungnya, yakni “Satu Desa Satu Produk” untuk salah satu pulau besar Kepulauan Maluku, Pulau Buru, Ia berangkat bersama 24 peserta lainnya dari berbagai provinsi di Indonesia. Kasma terbang ke Negeri Paman Sam ini untuk angkatan musim semi tahun ini hingga 29 April. Kasma ditempatkan di University of Connecticut untuk belajar membuat dan mengembangkan bisnis sosial kewirausahan. “Saya bisa belajar hal-hal yang membuat Amerika bisa menjadi negara adidaya. Harapannya bisa saya gunakan untuk program di komunitas saya,” ujar aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini. Kasma mengaku ingin melanjutkan program komunitas sosial kewirausahaan yang ia dirikan di Pulau Buru, yaitu Komunitas Bupolo Mandiri. “Komunitas ini berdiri sejak Juni 2017 untuk mewujudkan ide-ide anak muda Pulau Buru yang termasuk dalam daerah 3T; tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia,” tuturnya. Menurutnya, saat diwawancarai Kamis (4/4) via WhatsApp, desa-desa yang terdapat di Pulau Buru ini masih jauh dari kata berkembang. Dikarenakan kurangnya pengetahuan untuk manajemen hasil usaha, rendahnya pendapatan, dan tingginya pengangguran yang membuat masyarakat terjebak lingkaran setan kemiskinan. “Untuk itu solusi yang paling baik adalah membuka akses langsung ke masyarakat untuk membuat produk yang bisa dipasarkan secara luas dan memenuhi standard. Saya menyadari bahwa semua orang punya potensi untuk maju, hanya perlu sedikit sentuhan saja,” ungkap lulusan terbaik periode 3 UMM tahun 2016 ini. Pola program Komunitas Bupolo Mandiri ini memiliki 3 tahap, yakni sekolah desa, bisnis inkubator dan manufaktur. Di tahap awal, akan ada sekolah desa dengan pelatihan mengenai bisnis selama satu bulan. Selanjutnya di tahap Inkubator. Masyarakat akan berlatih membuat bisnis plan bersama pihak swasta. “Setelah bisnis, rancangan dan pendanaan selesai, tahap selanjutnya tiap desa akan diberikan wewenang untuk membuat bisnis yang dapat dipasarkan. Harapannya tiap tahun kami bisa memasarkan minimal lima produk dari desa-desa di Kabupaten Buru,” terang peraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini. Merasa terpacu, Kasma berniat mengambil gelar Master of Business Administration (MBA) yang fokus pada pengembangan ekonomi. Bahkan, Kasma sudah mengantongi Unconditional Letter of Acceptance (LoA) atau surat pernyataan telah diterima di sebuah Perguruan Tinggi tanpa syarat. Tinggal tunggu waktu. “Sekarang saya sedang menunggu hasil dari beberapa kampus di Amerika. Kebetulan baru satu kampus yang telah keluar LOA Uncon-nya (The American University). Doakan saja pertengahan April ada kabar baik untuk kampus lain. Dan September ini saya bisa berangkat lagi ke Amerika untuk studi S2,” pungkasnya. (bel/can)

‘Sembelih’ Dinosaurus, UMM Siap Pecahkan Rekor MURI

KELOMPOK mahasiswa praktikum “Prospero” event management Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bakal mengukir Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Sabtu 6 April mendatang. Rekor yang akan diukir adalah pembuatan replika dinosaurus berukuran 7×5 meter yang terbuat dari tempe. Rencananya, replika tempe dinosaurus ini akan ‘disembelih’ oleh Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. Penyembelihan ini sekaligus sebagai simbol peresmian tempat wisata baru di Kota Batu, yakni Kampung Hijau Tempenosaurus. Berbagai persiapan jelang acara peresmian pun sudah mulai dilakukan. Proses pembuatan tempe dinosaurus ini sudah mulai dilakukan, Selasa (2/4). Hal ini dikarenakan proses pembuatan tempe membutuhkan waktu cukup lama, yakni 3-4 hari. Tak sampai mubadzir, nantinya replika ini akan dibagikan kepada pengunjung dan juga masyarakat yang melintas di sekitar kawasan wisata Jawa Timur Park 3. Jamroji selaku dosen pembimbing pratikum mengungkapkan, untuk mewujudkan pemecahan rekor MURI tersebut, Jamroji dan mahasiswa bimbingannya melibatkan baik warga sekitar maupun perusahaan seperti PT. INDANA sebagai penyedia cat Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ), dan juga Jawa Timur Park Group. “Untuk membuat replika tempe dinosaurus tersebut dibutuhkan kurang lebih 12-15 orang dan menghabiskan biaya hampir 20 juta rupiah untuk menyiapkan alat dan juga bahan yang diperlukan,” ungkap dosen yang sebelumnya sukses mendampingi kelompok mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi “Guys Pro” menggarap KWJ. Demi tercapainya pemecahan rekor ini, usaha yang tentu dilakukan tidaklah mulus. “Banyak hal yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama. Karena proyek ini melibatkan berbagai pihak. Sehingga dalam membuat suatu keputusan harus di musyawarahkan bersama,” sambung Jamroji, Selasa (2/4). Ketika pengajuan pemecahan rekor MURI ini ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi. Rencana awal replika tempe dinosaurus itu akan diberi formalin dan hendak dipamerkan di Jawa Timur Park 3. Namun begitu, untuk kategori makanan, tempe yang dibuat replika disyaratkan untuk dikonsumsi dan tidak boleh tersisa. Dosen lulusan Edith Cowan University Western Australia ini juga menambahkan, sebelumnya ia juga pernah mencetuskan beberapa eksperimen unik mengenai jenis-jenis olahan tempe yang sebelumnya belum pernah ada. Seperti es krim tempe, brownis tempe, pudding tempe, dan lainnya. Berbagai panganan ini bisa ditemukan di pameran UKM. (zak/can)

UMM Tetapkan Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah sebagai Dosen Pascasarjana

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. H. Ahmad Basarah, MH. hadir ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Minggu (31/3) dalam acara Sosialisasi Empat Pilar. Di sini, Rektor UMM Dr. H. Fauzan, M.Pd. sekaligus mengukuhkan Ahmad sebagai Dosen Pascasarjana UMM. Penetapan ketua fraksi PDI Perjuangan MPR RI ini mengaku membuat Ahmad bangga. “Dengan dilantiknya saya sebagai dosen Pascasarajana UMM, itu artinya saya adalah bawahannya pak Fauzan,” ungkap pria lulusan doktor Ilmu Hukum ini dengan nada bercanda yang lantas disambut tawa riuh hadirin. Ahmad lantas menyampaikan hal penting mengenai ideologi negara yakni Pancasila. Disebutnya, ideologi yang mulai diterapkan di negara-negara tetangga saat ini adalah ideologi liberalisme kapitalisme, dimana pemilik modal yang kuat akan menguasai pasar dan mengancam pemilik modal yang lemah. Lebih jauh, Ahmad menyebutkan bahwa saat ini juga mulai diterapkan ideologi kebebasan. Yakni ideologi yang menyenangkan namun sekaligus membahayakan untuk warga negaranya. Hal ini dikarenakan ideologi ini dapat mengancam nilai-nilai yang ada pada ideologi Negara Indonesia yakni Pancasila. Ia khawatir terhadap generasi penerus bangsa dalam mempertahankan nilai-nilai Pancasila. Lantaran banyak dari negara tetangga yang mulai menerapkan peraturan yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Seperti legalisasi LGBT. Hal ini merupakan suatu ancaman yang berbahaya untuk Indonesia. “Thailand sudah mengajukan legalisasi LGBT tahun lalu, sedangkan pada bulan November yang lalu negara Singapura juga mengajukan permohonan pencabutan UU anti-homoseksual. Ini merupakan warning (peringatan, red.) untuk warga negara Indonesia,” ungkap pria yang akrab disapa Baskara ini. Terlepas dari baik buruknya suatu ideologi, Baskara lantas menegaskan bahwa ada beberapa poin yang membuktikan bahwa ideologi Pancasila yang Indonesia anut dinilai lebih baik dari ideologi lainnya. “Yakni lebih baik dari Komunisme, karena dalam Pancasila terdapat sila Ketuhanan yang Maha Esa,” tegas Baskara. “Lebih baik dari Liberalism dan Kapitalisme karena ada sila keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, dan lebih baik pula dari sistem Khilafah ala kelompok ekstremis ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah, red.), dikarenakan dalam butir Pancasila terdapat sila ketiga yakni Persatuan Indonesia,” tandasnya. Selain acara pengukuhan, Rektor Fauzan juga menyampaikan pesan jelang Pemilu 17 April mendatang. Ia berharap, akan lahir kader-kader Muhammadiyah yang berhasil dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut. “Saya berharap Muhammadiyah menjadi rumah besar yang kadernya ada dimana-mana,” pungkas Fauzan. (zak/can)

Roadshow Mekatronic Team UMM Jelang Laga di Malaysia

Mekatronic Team Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan sosialisasi mobil hemat energi di SMK Negeri 1 Singosari Jumat (29/3). Dalam rangka mengikuti Off-Track Awards Shell Eco Marathon Asia (SEM Asia) 2019 kategori Communication Award. Off Track Awards merupakan penghargaan di luar dari Eco Marathon Challenge.  Tujuannya untuk mengenalkan tim sebelum kompetisi. Lebih dari itu, Tim Mobil listrik yang bakal berlaga di ajang bergengsi tingkat Asia ini hendak memperkenalkan lebih dekat mobil hemat energi besutannya dengan para siswa SMK yang mengambil jurusan teknik, utamanya teknik mesin. “Masalah kehematan energi dan efisiensi, perlu dikenalkan secara riil ke siswa-siswa sejak dini,” ungkap Dwi Puji, salah satu anggota Mekatronic Team kepada puluhan siswa. Saat melakukan sosialisasi, para siswa antusias ingin mengetahui bagaimana mobil Mekatronic Team dirakit dan memenangkan berbagai ajang nasional dan internasional. “Aerodinamis mobil dirubah untuk mendapatkan coeficient drag  seminimal mungkin. Kemudian material body dibentuk lebih kaku sehingga dapat mempercepat laju mobil,” terang salah satu anggota tim Mekatronic kepada para siswa. Pada kompetisi di Malaysia April mendatang, Dwi CS akan berkompetisi menggunakan energi sesedikit mungkin untuk melewati track panjang. Mobil ini mengandalkan mesin BLDC Motor 400 Watt. Sementara tempurung berbahan carbon fiber dan sasis aluminum. Sementara ban pelek berukuran 17 inchi serta roda dasar berukuran 1250 milimeter. Keseluruhan bobot mobil yakni 80 kilogram. Kedepan, masih ada tiga sekolah lagi yang hendak dikunjungi dan diberikan motivasi oleh Mekatronic Team. Menurut Dwi, sosialisasi ini diharapkan dapat benar-benar menyemai semangat siswa-siswa dalam menghemat energi melalui setiap karya yang mereka buat. “Mudah-mudahan ini juga akan menjadi semangat kami saat menaklukkan Sirkuit Sepang, Malaysia nanti,” tandas Dwi. (mir/can)

Ini Indikator Wanita Milenial Menurut Para Pakar

Selain menjalani aktivitas sesuai passion dan hobi, indikator paling penting untuk menyokong seorang wanita milenial adalah percaya pada diri sendiri. “Bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain, kalau kita belum yakin terhadap diri sendiri,” ungkap Widaningsih, Owner Biro Psikologi Psycho Sinergy Malang di seminar  “Kesetaraan Gender Di Era Millenial” yang berlangsung Sabtu (30/3) di UMM. Tak hanya itu, dalam kesempatan yang sama dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM Dr. Frida Kusumastuti, M.Si. dosen UMM mengajak para wanita untuk mengedepankan berpikir kreatif atau creative thinking. Hal ini dimaksudkan agar kiprah wanita juga jangan sampai kalah dengan laki-laki. “Hal ini berlaku untuk semua jenis pekerjaan dan aktivitas,” ungkapnya di depan puluhan mahasiswa. Lanjut Frida, setidaknya ada tiga indikator untuk menilai bahwa sesorang itu memiliki kompetensi berfikir kreatif atau tidak berdasarkan Torrance Test of Creative Thinking (TTCT). Pertama, kefasihan atau fluence dalam merespon sebuah perintah atau pertanyaan. Kedua fleksibilitas atau respon yang bisa menyesuaikan terhadap pertanyaan atau berfikir secara konvergen serta memiliki banyak alternatif respon. “Serta yang terakhir adalah novelty atau idenya memiliki sebuah kebaruan. Kalau ketiga Indikator dalam menguji kompetensi creative thinking ini tinggi, maka skor creative thinkingnya juga tinggi dan problem solvingnya atau kemampuan penyelesaian dalam memecahkan suatu masalah juga tinggi. Meski begitu, antara laki-laki dan wanita harus saling sokong satu sama lainnya. Inilah yang disebut relasi gender. ”Kami ingin memberikan pandangan tentang stigma di mana wanita sering dipandang sebelah mata. Karena wanita tidak melulu mengurusi urusan rumah saja, tetapi bisa mengurusi hal lain seperti laiknya rutinitas laki-laki. Saya rasa tema ini sudah sesuai untuk mewakili era milenial ini, karena wanita layak untuk bergerak sesuai dengan Passionnya masing-masing,” ujar Nata Renaldi selaku Ketua Pelaksana. Kegiatan yang menghadirkan para pakar untuk mengomentari kiprah perempuan di era milenial ini sendiri dalam rangka memperingati International Woman’s Day yang jatuh pada 8 Maret lalu, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Putra Putri UMM yang berlangsung di Aula Masjid AR. Fachrudin UMM  Lantai 1. Turut menjadi panelis yakni Juwita Hayyuning P., S.IP, M.IP. dosen Ilmu Politik Universitas Brawijaya. (riz/can)

Universitas Malaysia Ini Belajar Pengelolaan Amal Usaha ke UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menerima lawatan Universiti Malaysia Kelantan (UMK), Jum’at (29/3). Diterima langsung Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., UMK membawa tujuh jajaran fungsional universitas. Diantaranya hadir Wakil Rektor bidang Akademik dan Hubungan Internasional, Prof. Dr. Mohd Rafi Bin Yacob. Dalam kedatangannya ke Kampus Putih, UMK ingin belajar pengelolaan perguruan tinggi dan amal usaha milik UMM. Mengingat UMM sudah 55 tahun berdiri dan menjadi kampus mandiri yang terus berupaya mengembangkan berbagai amal usaha. Tujuannya untuk memperkecil biaya operasional yang dibebankan kepada mahasiswa. “Kami ingin belajar upaya-upaya UMM dalam mengembangkan perguruan tinggi yang sudah 55 tahun berdiri ini,” ungkap Rafi. Saat ini, sambungnya, UMK masih berusia 12 tahun dan masih ingin belajar dengan perguruan-perguruan tinggi sukses lainnya. Menurutnya, relasi dengan instansi lain perlu dibangun dengan baik. Amal usaha yang dimiliki diantaranya RS UMM, bengkel motor dan mobil Rinjani , SPBU, UMM Farm, UMM dome, Klinik Surya Medika Sumbawa, Taman Rekreasi Sengkaling UMM, Kapak Garden Hotel dan Race Hotel. Hotel Kapal menjadi salah satu amal usaha terbaru UMM untuk kebutuhan para wisatawan. Disamping itu, UMK juga ingin bekerjasama di bidang kewirausahaan. Terlebih UMM telah membangun iklim kewirausahaan di kalangan mahasiswa. “Kami ingin mempertemukan mahasiswa UMM dengan UMK dalam forum diskusi kewirausahaan. Selain itu kami akan menghadirkan dosen UMM untuk mengajar di UMK,” tutur Rafi. Fauzan merencanakan kerjasama tersebut dalam bentuk proyek inovasi sosial Learning Express (LEx) yang sudah dijalankan sebelumnya bersama Singapore Polytechnic. “Program ini akan berfokus dalam penyelesaian masalah yang digali melalui observasi lapangan dan berorientasi pada terciptanya produk kewirausahaan,” tandasnya. Selain itu, Fauzan menginginkan untuk menindaklanjuti kerjasama dengan UMK dengan menghadirkan Indonesia Corner di UMK dan begitu pula sebaliknya. “Tujuannya untuk penguatan hubungan antar kebudayaan dan berfungsi, tidak hanya untuk universitas saja, melainkan berfungsi untuk masyarakat juga,” pungkasnya. (zak/can)

Aksi Terorisme di New Zealand, Dosen UMM: Islam adalah Jalan Keselamatan

AKSI TEROR yang terjadi beberapa waktu lalu di Christchuch, New Zealand mengganggu harmonisasi keberagaman umat beragama di berbagai belahan dunia. Aksi yang menewaskan lima puluhan orang ini disebut mengatasnamakan supremasi ras kulit putih, serta pembalasan atas tragedi teror yang dilakukan oknum umat Islam. Padahal, berdasarkan hasil survey yang dilakukan Global Peace Index tahun 2017, New Zealand disebut sebagai negara paling aman kedua di dunia. Pemeringkatan ini didasarkan pada penilaian kondisi keamanan, perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), ketertiban lingkungan, serta praktik kriminalitas. Merespon hal ini, Nafik Muthohirin, dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerangkan, ada sebuah terminologi yang mengatakan bahwa Islam itu kekerasan. Padahal Islam itu adalah jalan keselamatan. “Jadi tidak mungkin Islam itu mengajarkan kekerasan apalagi terorisme,” katanya. Penyerangan yang dilakukan Brandon Tarrant tentu sangat mengejutkan publik dunia. Aksi ini tidak serta merta membuat masyarakat muslim New Zealand menjadi takut. Tepat sepekan setelah teror, masyarakat berduyun-duyun untuk datang ke masjid, bahkan azan disiarkan secara besar-besaran di beberapa stasiun televisi. “Itu membuktikan bahwa masyarakat di New Zealand memiliki pengetahuan dan toleransi yang tinggi dengan mereka turun kelapangan, memakai hijab, sebagai bentuk empati.  Mereka juga bisa membedakan mana yang terorisme dan mana yang tidak, dan mereka tahu bahwa islam itu adalah agama yang damai,” tuturnya Kamis (27/3). Islam mengajarkan ketenangan, perdamaian, toleransi, dan nilai-nilai universal yang semua agama juga meyakini itu. “Hanya saja banyak pihak-pihak tertentu mempolitisasi atau menjustifikasi dalil agama atau dalil Islam khususnya, untuk kepentingan tertentu,” kata direktur penelitian Pusat Studi Islam dan Multikulturalisme (PUSAM) UMM ini. Hal ini disebabkan Islamofobia yang tengah melanda masyarakat dunia belahan Barat. Islam sendiri telah diajarkan di surat Al-Hujurat ayat 13, bahwa setiap umat bahkan setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku, supaya saling mengenal. Inilah konsep multikulturalisme dalam Islam. Berbagai aksi kekerasan berlatar belakang agama ini, disebut Nafik, paling tidak disebabkan oleh dua faktor dominan. Yakni yang pertama, sambungnya, praktik populisme agama yang hadir di ruang publik, yang dibumbui dengan nada kebencian terhadap pemeluk agama, ras, dan suku tertentu. Sementara yang kedua, beberapa kelompok yang beraliran politik sektarian yang sengaja menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk menjustifikasi kebenaran manuver politik tertentu. “Paham ekstrim ini menggiring masyarakat ke arah konservatisme radikal secara pemikiran,” terang Nafik. Dilanjutkan penulis buku fundamentalisme Islam ini, Islam juga ada begitu banyak mengajarkan kepada kita untuk bertoleransi, seperti menganjurkan supaya umat muslim berlaku adil (al-Maidah: 8-10), peduli terhadap sesama (al-Maun: 1-7), larangan saling bermusuhan (al-Hujurat: 12), serta merajut kebersamaan (al-Hujurat: 10). (riz/can)

Semai Nilai Perdamaian dan Tangguh Bencana Lewat Boardgames

BANYAK cara yang dilakukan untuk mengedukasi masyarakat agar siap menghadapi segala kemungkinan saat terjadi bencana. Seperti yang dilakukan Izza Amalia, mahasiswa Prodi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menggunakan media boardgames untuk mewujudkan sekolah-sekolah di daerah rentan bencana alam dan sosial, menjadi sekolah yang ceria, damai, dan siaga bencana. Izza, demikian ia akrab disapa, menggunakan media permainan berbasis papan atau meja bermain untuk mengajarkan kebencaan dan perdamaian. Melalui berbagai tema, Izza beserta kesepuluh kawan-kawan seprogramnya di Sekolah Cerdas, inisiasi MDMC, Lazizmu, dan Peace Generation Indonesia, menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Izza ditempatkan di Cianjur, Jawa Barat selama tiga bulan hingga Mei mendatang. “Selain mengajarkan modul materi di Sekolah Cerdas, kami menggunakan boargames. Jadi di sini kami lebih ke bermain dan belajar. Tidak melulu materi. Materi kita sampaikan selingan saja. Kebanyakan kami menggunakan boardgames. Karena memang modul dan boardgames ini lebih relevan atau lebih cocoknya digunakan untuk SD dan SMP,” kata Izza saat diwawancarai Rabu (28/3) via WhatsApp. Boardgames dinilai bisa dijadikan media mitigasi atau penanggulangan bencana. Boardgames dinilai mampu meningkatkan kreativitas anak-anak. Game juga mampu melatih perkembangan motorik anak-anak. Yang paling penting, boardgames dapat meningkatkan respon anak-anak dalam upaya pengurangan resiko bencana. Karena secara teknik, game ini berisikan banyak edukasi seputar kebencanaan. Seperti boardgames “Bencana” yang memuat pelajaran untuk menjaga lingkungan dan keharmonisan alam. Permainan kompetisi dan menjaga harmoni alam antara pulau satu dan lainnya untuk mewujudkan pulau yang aman dari bencana. Selain itu, ada boardgames “Galaxy Obscurio”, di mana para pemain harus menjaga perdamaian melalui penjagaannya dari para virus jahat yang menyerang planet. Sebelumnya Izza telah melalui tahap seleksi ketat yang dilakukan Peace Generations. Dari ratusan pendaftar, Izza terpilih sebagai salah satu relawan yang dikirim ke berbagai wilayah rawan bencana. Seperti di Nusa Tenggara Barat, Maluku, Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur. Para calon relawan berbagai latar belakang ini telah mengikuti karantina sebelum benar-benar diterjunkan ke lapangan. Selain bermain dan penyampaian materi, lanjutnya, Ia juga mengadakan simulasi kebencanaan yang pelaksanaannya bekerjasama dengan Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD), Pemadam Kebakaran (Damkar), Palang Merah Indonesia (PMI), Puskesmas, Desa Tangguh Bencana (Destana) dan pihak-pihak terkait. Juga mengajak komunitas-komunitas kebencanaan dan lingkungan di Cianjur. “Kami tidak hanya berhenti di edukasi pra-bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Bukan hanya tentang bencana alam saja, tetapi kami juga akan membicarakan bencana sosial yang akan diberikan materi tentang 12 nilai perdamaian. Diantaranya menerima diri, memahami prasangka, menghormati perbedaan etnis, menghormati perbedaan agama, dan nilai-nilai perdamaian lainnya,” pungkasnya. (bel/can)

Peduli Kesehatan Mental Remaja, Mia Bawa Isu Bullying di Indonesia ke Korea

Miarti Amanah Riesky, mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini baru saja kembali ke tanah air setelah beberapa waktu lalu mengikuti International Conference Asia Pasific Youth Week 2019 yang diadakan di Seoul, Korea. Mengusung tema “Leading the Generation Unlimited to Prepare for 2030”, kegiatan yang diadakan oleh United Nations Human Settlements Programme (UN Habitat) yang bekerja sama dengan Studec International kali ini diikuti 130 peserta dari 25 negara. Mulai dari negara berkembang seperti India, Kamboja, Indonesia sampai negara maju seperti Inggris, Australia dan Singapura. Berbekal esai berjudul “The importance of Mental Health for Young Generation”, Mia berhasil terpilih untuk berangkat bersama 29 peserta lain dari Indonesia. Dikisahkan Mia, esai ini diangkatnya dari pengalaman pribadi dimana ia pernah mengalami bulliying di lingkungan SMA nya yang berada di ibu kota Jakarta. “Saya ingin menyampaikan kepada dunia, bahwa kondisi remaja di Indonesia sangat rawan bulliying,” tandas Mia (Rabu, 27/3).  Acara yang diselenggarakan selama lima hari empat malam ini membahas tentang berbagai isu yang sedang marak dikalangan milenial seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan juga budaya. Selain itu, program ini juga memberikan pengalaman serta pengetahuan non akademis tentang budaya Korea, diantaranya memakai Hanbok atau pakaian khas korea, upacara pembuatan teh dan juga membuat Kimchi (makanan khas Korea). “Selain itu kami juga berkesempatan mengunjungi stasiun televisi nasional Korea yakni NBC TV  dan belajar seluk beluk media yang ada di negeri tersebut,” tambah Mia. Diakui Mia, keberangkatannya ke Korea bukan tanpa hambatan. Perempuan 20 tahun ini sempat terhalang izin orang tua lantaran harus pergi sendiri tanpa pendampingan. Namun setelah memberikan pengertian, restu sang ibu pun didapatkan. “Saat disana, mama malah yang paling bangga,” ungkapnya. Meski telah sering mengikuti berbagai kegiatan internasional di dalam negeri,  anak kedua dari tiga bersaudara ini merasakan pengalaman yang sangat berbeda saat berada di Korea pada Februari hingga awal Maret lalu. Selain dari  perbedaan cuaca yang sangat drastis, budaya orang Korea juga membuat Mia kagum. “Awalnya saya kaget dengan cuaca, suhu disana mencapai -5 derajat celcius. Selain itu, saya juga takjub dengan budayanya, dari segi pendidikan saja siswa SMP harus menimba ilmu di sekolah selama hampir 14 jam setiap harinya,” tambahnya. Di akhir Mia berpesan kepada mahasiswa lain untuk selalu aktif mencari informasi terkait kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan pengalaman dan pengetahuan, termasuk diluar dunia akademis. “Kita sebagai mahasiswa harus aktif mencari informasi diluaran sana untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri, baik di akademis maupun non akademis,” pungkasnya. (zak/sil)

Pendidikan Kebencanaan: Bukan Cuma Harus, Tapi Mendesak!

PENDIDIKAN kebencanaan di Indonesia masih sangat minim digalakkan. Buktinya, nilai kerugian relatif tinggi di setiap kali terjadi bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri mencatat, selama kurun waktu 2018, telah terjadi 3.466 peristiwa bencana di Indonesia dengan 4.814 orang meninggal dunia. Melihat hal tersebut, Zakarija Achmat, M.Si, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang merupakan pengurus pusat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, pendidikan kebencanaan di Indonesia bukan hanya harus, tapi mendesak. “Pendidikan kebencanaan di Indonesia bukan lagi bagaimana bersikap pada saat bencana saja. Tapi sudah mengarah pada bagaimana pengurangan risiko bencana,” tutur Zakarija. Seharusnya, lanjutnya, masyarakat perlu terus belajar, terutama mempelajari potensi bencana dan antisipasi di lingkungan sekitar tempat tinggal. Yang paling dasar, lanjutya, kebiasaan memarkir kendaraan. “Masih banyak kita jumpai kesalahan dalam memarkir kendaraan. Arah mermarkir kendaraan harusnya menghadap keluar. Tujuannya, agar ketika terjadi bencana tidak perlu lagi memundurkan kendaraan,” terangnya saat ditemui di ruangannya, Selasa (26/3). Berkaca dari negara Jepang, yang juga sering terjadi bencana, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap bencana masih jauh berbeda. “Masyarakat Jepang sudah siap menghadapi bencana. Edukasi tentang konstruksi bangunan hingga penanganan bencana sering dilakukan, baik di sekolah maupun media,” ungkapnya. “Sudah saatnya pusat-pusat studi menggaungkan dan menyiapkan kurikulum pendidikan kebencanaan juga mengadakan workshop berdasarkan kajian-kajian yang sudah dilakukan. Harapannya usaha ini dapat mengurangi resiko dan kerugian yang dapat ditimbulkan dari dampak bencana di Indonesia,” tuturnya. (bel/can)