Di Era Industri 4.0, Pustakawan Juga Harus Melek Teknologi

SIAPA bilang menjadi pustakawan itu pekerjaan mudah? Di era Industri 4.0 ada syarat khusus yang mesti dipenuhi untuk menjadi seorang pustakawan. Tak sekedar mengurus buku dan gedung perpustakaan saja, melainkan juga mesti paham teknologi. Demikian ditegaskan Tulus Winarsunu Koordinator Asisten Khusus Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat membuka kegiatan E-resources and Antiplagiarism Workshop Series, Jumat (25/1). Acara yang diselenggarakan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur ini dihadiri 84 perwakilan dari universitas negeri dan swasta. Mereka semua tergabung dalam keanggotaan FPPTI Jawa Timur. Menurut ketua PPTI Jawa Timur, Amirul Ulum, perkembangan perpustakaan sebagai pusat literasi tidak dapat dipisahkan dari peran pustakawan. Keberadaan kinerja pustakawan di dalam suatu perpustakaan memegang peranan yang penting. “Karenanya, potensi setiap sumberdaya manusia dalam perpustakaan harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknnya, agar mampu memberikan hasil yang maksimal. Terlebih dalam pemanfaatan akses yang dilanggan,” ungkap Amirul Disamping itu, sambung Amirul, pustakawan juga harus bisa meningkatkan dan pemberdayaan e-journal, ebook serta penggunaan plagscan atau alat pendeteksi plagiasi untuk mendukung publikasi karya ilmiah. Mulai April 2018, FPPTI Jawa Timur berlangganan konsorsium e-journal, ebook dan antiplagiarism yang terdiri dari Bidang Ekonomi dan bisnis, Bidang Kesehatan, Bidang Teknik dan Bidang Humaniora serta aplikasi plagscan untuk deteksi plagiarism. Workshop ini terdiri dari empat sesi yang terdiri dari narasumber berbeda. Yaitu Irawan Sukardi (E-journal Emerald), Dwi Janto Suandaru (E-journal Proquest dan PlagScan), Okkie S. Budiman (E-journal Gale), dan Jona Giovani (E-Books Cambridge). Senada dengan Tulus, menurut Kepala Perpustakaan UMM Asep Nurjaman, di era Industri 4.0 ini pustakawan harus mengerti bagaimana beradaptasi dengan teknologi dengan baik. Sehingga mahasiswa bisa mengakses buku di mana saja. UMM sendiri sudah memperhatikan perkembangan E-Resourch agar kedepannya mampu meningkatkan akses dan layanan. “Diharapkan UMM mampu beradaptasi dalam perubahan yang terjadi,” tandas Asep. (bel/can)

Ed-Parent, Aplikasi yang Bikin Orang Tua Cerdas Mengasuh Anak

Usai menerima tropi sebagai Juara 1 LKTI tingkat Nasional di STIKI Malang. (Foto: Istimewa)

KOMISI Perlindungan Anak (KPAI) mencatat pada tahun 2011-2016 sebanyak 4.294 kasus kekerasan pada anak dilakukan oleh keluarga dan pengasuh. Data ini didukung dengan laporan “Global Report 2017 Ending Violence in Childhood”, sebanyak 73,7 persen anak Indonesia berumur 1-14 tahun mengalami pendisiplinan dengan kekerasan, atau agresi psikologis dan hukuman fisik di rumah. “Hal ini tentunya dapat berdampak negatif pada kesehatan mental anak, serta berdampak pula pada karakter yang terbentuk pada diri anak. Sehubungan dengan hal ini  edukasi terhadap  cara mendidik, mengasuh anak secara benar sangat diperlukan orang tua guna mengindari hal-hal tersebut,” terang Siti Mubasiroh, mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Latar belakang ini yang mendorong Siti bersama teman satu kelompoknya menggagas aplikasi Ed-Parent. Aplikasi khusus orang tua tentang cara edukasi anak yang benar. “Dibuatnya aplikasi ini diharapkan dapat merekontruksi generasi bangsa menjadi generasi yang berkarakter dan bermoral sehingga terwujudnya revolusi mental di era perkembangan teknologi saat ini,” beber Siti. Aplikasi berbasis Android garapan sekelompok mahasiswa ini dinobatkan sebagai juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat Nasional di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Indonesia (STIKI) Malang, 21 Januari lalu. Adalah Chano Paramita mahasiswa Ilmu Komunikasi, Siti Mubasiroh mahasiswa Pendidikan Biologi, Muhammad Fitrah Asyari Bangun mahasiswa Manajemen. Masing-masing angkatan 2017. “Saya sangat senang sekali. Saya tidak menyangka bisa menang setelah bersaing dengan berbagai peserta dari perguruan tinggi yang sangat bagus karyanya. Semua tidak lepas dari dukungan bapak dan ibu dosen kami masing-masing yang membimbing dan  selalu mendukung aktifitas akademik mahasiswanya,” ungkap Siti selaku ketua kelompok saat diwawancarai Sabtu (26/1) siang. Siti berharap bisa mengikuti kompetisi serupa di tempat lain. “Kedepannya saya ingin meningkatkan level perlombaan. Harapan saya, semoga prestasi ini bisa membahagiakan orangtua, juga menginspirasi mahasiswa prodi saya, pendidikan biologi secara khusus, dan mahasiswa UMM pada umumnya untuk selalu semangat belajar dan berprestasi,” ucap Siti. “Tiada hari tanpa prestasi, tiada prestasi yang tidak dihargai, dan tidak ada pelanggaran yang diberi sangsi menjadi semangat kami untuk mendidik mahasiswa untuk menjadi yang terdepan dan menginspirasi,” kata Husamah, S.Pd., M.Pd selaku Sekretaris Prodi Pendidikan Biologi mengapresiasi raihan salah satu mahasiswanya. Aplikasi ini akan tersedia dan dapat diunduh secara gratis di Play Store. (*/can)  

Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum di UNS, Herwastoeti: Kepastian Hukum Konsumen Bank Harus Terjamin

KEPASTIAN hukum bagi para konsumen saat penyelesaian sengketa perbankan kerap menemui jalan buntu. Hal itu, disebut dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) Dr. Herwastoeti, SH, M.Si., dikarenakan masyarakat jarang mengetahui bagaimana langkah hukum yang harus ditempuh ketika bersengketa dengan Bank. Demikian problem mengakar ini sebagai latar belakang Herwastoeti dalam pengerjaan disertasi untuk meraih gelar doktoralnya. Herwatoeti resmi menjadi Doktor Ilmu Hukum di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS). Permasalan ini, kata Herwastoeti, disebabkan minimnya informasi yang diedukasi oleh Bank tentang resiko-resiko jika kredit di Bank. Herwastoeti menemukan bahwa konsumen banyak yang tidak tahu resiko apa yang akan didapat saat mengajukan kredit di Bank. Hal ini dikarenakan kebanyakan Bank sekedar mensosialisasikan produk-produk dan layanan-layanan baru, namun tidak pernah mengedukasi masyarakat tentang resiko dan jalur hukum yang harus ditempuh saat bersengketa. Selain itu, menurutnya, Bank juga tidak terbuka dan tidak pernah membacakan perjanjian ketika peminjaman kredit. Hal ini menyebabkan tidak ada kepastian hukum bagi konsumen. Konsumen Bank kebanyakan menyelesaikan sengketa di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Padahal, tahun 2011 sudah dibentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Praktik ini menyebabkan konsumen dirugikan. Karena BPSK tidak mempunyai kapabilitas untuk menyelesaikan sengketa, lantaran latar belakang anggota BPSK minim dari orang Hukum atau Keuangan. “BPSK tidak paham mengenai prinsip-prinsip, dasar-dasar, dan norma-norma Hukum sehingga banyak menabrak aturan hukum yang berlaku,” sebutnya. Dengan kapabilitas semacam ini, saat mediasi sengketa antara Bank dan konsumen, pihak Bank sering tidak hadir karena ketidakpercayaannya pada BPSK. OJK dalam hal ini sudah membentuk Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI) untuk menyelesaikan sengketa perbankan. Namun demikian, kata dia, LAPSPI hanya ada di Jakarta. “Sehingga para konsumen daerah yang tidak punya akses ke LAPSPI akhirnya ke BPSK. Seharusnya OJK membentuk LAPSPI di daerah-daerah agar kepastian hukum konsumen Bank terjamin,” tandas Herwastoeti. Tujuh tahun lamanya perjuangan Herwastoeti mengerjakan disertasi terbayar lantaran dinyatakan lulus sebagai doktor pada 9 Januari 2019 lalu. Perjuangan Herwastoeti untuk bergelar doktor tidaklah mudah. Ia sempat berhenti mengerjakan disertasinya karena sang Ayah jatuh sakit. Herwastoeti putus asa dan sempat berkeinginan untuk tidak melanjutkan. Namun berkat dukungan keluarga, teman, dan kerabat kerja yang tak putus-putus, semangat Herwastoeti menyala kembali. (usa/can)

Peringkat 6 PTS Terbaik Indonesia, Unpam Belajar Tata Kelola Perguruan Tinggi ke UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan dari Universitas Pamulang (Unpam) Banten, Kamis (24/1). Diterima langsung oleh Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Unpam membawa sepuluh jajaran fungsional universitas. Diantaranya hadir Wakil Rektor II, Dr. Subarto, M.Pd. Dalam lawatannya ke Kampus Putih, Unpam ingin belajar banyak pada UMM terkait pengelolaan Perguruan Tinggi. Mengingat beberapa waktu lalu, UMM berhasil menempati pemeringkatan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik di Indonesia. UMM berada di posisi ke-6 PTS terbaik versi Kemenristekdikti tahun 2018. “Kami ingin belajar upaya-upaya UMM dalam membesarkan perguruan tinggi, karena kami kira UMM saat ini menjadi salah satu percontohan perguruant tinggi swasta di Indonesia,” ungkap Subarto. Saat ini, sambungnya, Unpam telah memiliki lahan seluas 160 hektar yang siap dibangun untuk aktivitas akademik mahasiswa. Disamping itu, Unpam juga ingin belajar terkait konsistensi UMM dalam ranah pengabdian pada masyarakat. “Kami kira besarnya Universitas Muhammadiyah Malang juga karena besarnya pengabdian perguruan tinggi pada masyarakat,” tutur Subarto. Besarnya UMM, sebut Syamsul, tak lain loyalitas seluruh elemen yang ada. “Kesungguhan ini ditanamkan Pak Abdul Malik Fadjar sejak dahulu,” jelas Syamsul. Salah satu wujud nyata UMM dalam ranah pengembangan perguruan tinggi yakni melalui berbagai unit usaha yang telah dibangun. Beberapa diantaranya yakni Wahana Wisata Sengkaling, Hotel UMM Inn dan SPBU UMM. Selain itu, relasi perguruan tinggi dengan berbagai instansi juga perlu dibangun dengan baik. “Salah satu buah dari relasi kami adalah perjanjian untuk para fresh graduate Fakultas Ilmu Kesehatan. Setelah lulus dari UMM kami akan kirimkan mereka ke Jepang untuk menjadi tenaga kesehatan di sana,” tandas Syamsul. (mir/can)

Penulis Menggusur Ego, Niam Muiz Ungkap Rahasia Kendalikan Ego

HIMPUNAN Psikologi Indonesia (HIMPSI) Malang menggelar bedah buku di Gedung Kuliah Bersama IV  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (22/01). Acara ini membedah buku keempat pebisnis dan konsultan sukses, Niam Muiz. Dalam bukunya, Niam membongkar makna ego. “Ego laksana api yang apabila dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan dahsyat. Menggelorakan cinta, mengejar prestasi dan menjadi energi spiritual,” paparnya. “Namun jika tidak dikelola dengan baik, ego menjadi kerdil, liar dan membumi hanguskan diri sendiri dan alam sekitar,” ujarnya. Selepas kuliah pada 1985, Niam Muiz sukses menggedor pintu perusahaan asing. Ia hilir mudik di lima perusahaan konsultan asing terbesar di dunia. Sebagai konsultan SDM, ia telah mendapatkan puncak dari perjalanan kariernya. Rumah mewah, mobil BMW serie terbaru di masanya, jabatan tinggi dengan 12.000 anak buah. Bukunya, ‘Menggusur Ego’, sempat dilayangkan kritik oleh Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi,. M.Psi., PhD selaku Dekan Fakultas Psikologi UMM, karena dinilai tidak membahas definisi ego. Sehingga membuat pembaca bingung. Niam Muiz mengonfirmasi, bahwa bukunya bukan buku akademik. Namun buku ini disesuaikan keinginan pasar. Buku ini didasarkan pada pengalamannya menggeluti ego selama bertahun-tahun. Sehingga, Niam Muiz memiliki definisi ego tersendiri. “Ego adalah ‘lampu sorot’ yang mempercantik panggung. Panggung ini adalah sebuah perumpaan tentang apa yang menjadi berharga buat kita. Misalnya kecantikan adalah hal yang berharga buat kita,” ungkapnya. Maka, sambung Niam, ‘lampu sorot’-nya adalah skin care, make up, makanan bergizi, dan olahraga untuk membuat panggung kecantikan kita bagus untuk dilihat. Demikian, kita tinggal membuat ‘lampu sorot’ masing-masing. Ego perlu dikendalikan. Mana yang perlu dan tidak kita jadikan ‘lampu sorot’. Bagi Niam, jika ingin cantik, yang dilakukan tinggal makan makanan yang bergizi dan rutin berolaraga saja. Tak perlu membeli skin care dan make up yang mahal-mahal. “Kita perlu untuk menkonfigurasi ego untuk mengenalli diri kita sendiri,” tegas Niam. Ia memberi contoh Nabi Muhammad SAW ketika menyendiri di gua tsur hingga gua hira untuk mengenali egonya dan mengukur jarak dengan Tuhan. Kemudian, Nabi Muhammad SAW diberitahu oleh Malaikat Jibril siapa dirinya sebenarnya, yaitu seorang Rasul Allah. Niam Muiz melanjutkan, setelah itu ‘lampu sorot’ Nabi Muhammad runtuh, berganti cinta bersahaja kepada Allah SWT. Niam Muiz mengatakan bahwa kita sudah diberi contoh oleh manusia paling sempurna yang pernah lahir di Bumi, maka kita harus meneladaninya. Menurut Niam, perjuangan manusia hanyalah menkofigurasi egonya saja. Musuh manusia semuanya sama, sambung Niam, yaitu ego. “Sebenarnya manusia itu semuanya sama, cuma ego kita yang merasa kita lebih baik daripada yang lain saja yang membuat kita berbeda,” papar Niam. Niam menutup dengan ungkapan bahwa tiap orang harus senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT. Bahwa Allah Maha Kaya, maka manusia tak perlu khawatir dengan rezeki. Yang perlu dilakukan oleh tiap orang hanyalah berjuang. Ego yang terlalu tinggi kadang mengukur cinta kasih Allah kepada kita. Sehingga kita selalu khawatir dan resah. “Jika kita tetap teguh dengan apa yang kita perjuangkan dan selalu mengingat Allah dalam setiap langkah kita,” tandasnya. (usa/can)

Mahasiswa Psikologi Juga Harus Mahir Berbisnis

FAKULTAS Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Malang dan HIMPSI Jakarta menggelar Bedah Buku “Menggusur Ego”, Selasa (22/1). Penulisnya, Niam Muiz menyebut, di era modernisasi sekarang, mahasiswa dituntut menggali potensi diri menjadi entrepreneur. Rumpun keilmuan Psikologi sebagai ilmu yang luas, kata Niam, memberi peluang bagi mahasiswanya untuk bereksplorasi menghadapi globalisasi. Salah satunya melalui bisnis atau wirausaha. Kedatangan motivator sekaligus pebisnis Niam Muiz, memotivasi mahasiswa Fakultas Psikologi UMM untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur. Dalam buku Menggusur Ego, Niam membongkar makna ego. Ego laksana api yang apabila dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan dahsyat. Menggelorakan cinta, mengejar prestasi dan menjadi energi spiritual. “Namun jika tidak dikelola dengan baik, ego menjadi kerdil, liar dan membumi hanguskan diri sendiri dan alam sekitar,” ujarnya. Selepas kuliah pada 1985, Niam Muiz sukses menggedor pintu perusahaan asing. Ia hilir mudik di lima perusahaan konsultan asing terbesar di dunia. Sebagai konsultan SDM, ia telah mendapatkan puncak dari perjalanan kariernya. Rumah mewah, mobil BMW serie terbaru di masanya, jabatan tinggi dengan 12.000 anak buah. Sementara, ketua HIMPSI Malang, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Psikolog yang juga dekan Fakultas Psikologi UMM mengajak semua anggota HIMPSI untuk menggali potensi di tiap diri. “HIMPSI itu sebagai rumah untuk kalian. Dan jangan pernah merasa sendiri karena kalian masih punya rumah yang nyaman di sini,” ujarnya. Bersamaan dengan peluncuran buku keempat Niam Muiz ini, Salis memaparkan buku ini sangat cocok untuk bahan perenungan, karena tema yang sangat cocok dengan kondisi Indonesia kekinian. “Di mana masalah terbesar bangsa saat ini adalah Ego. Selain itu setiap sub bab-nya juga menarik untuk diulik,” ungkapnya. Kedepan, sambung Salis, diharapakan mahasiswa tidak lagi hanya berpatok pada bisnis di rumpun ilmu Psikologi saja. Namun, mereka mau menantang dirinya untuk keluar dari zona nyamannya. Yakni dengan membangun bisnis apapun. Baik di sentra kuliner, teknologi, dan lain sebagainya melalui pemanfaatan disiplin ilmu Psikologi. “Karena sejatinya apa yang dilakukan sehari-hari semuanya berkaitan dengan hubungan antar manusia. Begitupun dengan bisnis. Maka dari itu, ilmu Psikologi harus mampu mengambil celah untuk berbisnis,” pungkas Salis di ruang sidang lantai 4 Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM. (yun/can)

Gelar Talkshow, UMM dan KKU Bandingkan Demokratisasi Indonesia-Thailand

BERTEMPAT di ruang sidang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mahasiswa program studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) bersama mahasiswa pertukaran pelajar dari College of Local Administration (COLA) Khon Kaen University (KKU) Thailand menyelenggarakan talkshow, Selasa (22/1). Membahas gerakan mahasiswa dalam proses demokratisasi di Indonesia dan Thailand. Diskusi ini diawali penjelasan mahasiswa COLA KKU Sittisak Khaeothanmanukun terkait sistem pemerintahan di Thailand. Dijelaskan Sittisak, Thailand merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang menganut sistem pemerintahan Monarki. Negara yang dipimpin oleh seorang raja bernama King Rama X. “Rakyat Thailand sangat menghormati rajanya sebagai pemimpin dari segi moral,” terangnya. Seperti negara Monarki yang lain, sambung Sittisak, dalam hal ini kepala pemerintahan adalah perdana menteri yang dilantik oleh raja dari anggota-anggota parlemen. Biasanya adalah pemimpin partai mayoritas. Dari aspek ini, mahasiswa COLA KKU mengakui, perbedaan antara Indonesia dan Thailand sangat kentara. Namun, sebut Sittisak, terdapat persamaan antara Indonesia dan Thailand. Yaitu terdapat lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. “Jika kembali ke sejarah, Indonesia dan Thailand sama-sama memiliki masalah dengan adanya paham komunisme yang di anut oleh beberapa oknum di negara tersebut,” bebernya. Di Thailand pada tahun 1473, terjadi peristiwa penghukuman bagi para penganut paham Komunis yang ingin melakukan persekusi terhadap raja. Komunis di Thailand dianggap paham yang dilarang karena dapat mengancam kedaulatan. ”Seperti halnya di Indonesia yang memiliki permasalahan dengan paham ini,” ungkap Sittisak. Sementara, disebut mahasiswa IP UMM Tia Marwah, sistem kepartaian dalam periode Pemilu 1955 hingga 2014 memberikan warna dalam Pemilu di Indonesia. Mulai dari sistem yang demokratik hingga psuedo demokratik. “Poin penting dalam penyelenggaraan Pemilu di Indonesia adalah untuk menjamin hak politik, menjamin sirkulasi elit, melindungi kedaulatan rakyat, hingga menjamin kesehteraan masyarakat,” jelas Tia. Penyelenggaraan Pemilu setidaknya harus mewujudkan poin, yang disebut Tia, melalui visi dan misi serta strategi masing-masing pasangan calon presiden. “Bukan hanya sekedar pertentangan wacana untuk memperebutkan maupun mempertahankan kekuasaan, namun untuk mewujudkan keadilan politik, sosial dan ekonomi,” pungkas Danang Kurniawan, mahasiswa IP UMM yang juga menjadi pemateri. (*/can)

Membanggakan! Taekwondo UMM Borong 25 Medali Sekaligus

KONTINGEN Taekwondo Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyabet gelar juara pada kejuaraan Ganesha Taekwondo Championship II di GOR Singodimedjo, Ponorogo, Sabtu dan Minggu (19-20/1). Pada ajang 2 tahunan ini, UMM berhasil mendapat total perolehan 25 Medali. Terdiri dari 13 medali emas, 11 perak dan 1 perunggu. Kejuaraan ini setidaknya diikuti oleh 900 peserta dari berbagai wilayah di Jawa Timur. “Harapan saya, semoga medali yang kami bawa di awal tahun ini,bisa menjadi pacuan untuk makin meningkatkan prestasi dan kemampuan atlet Taekwondo Kampus Putih,” kata Hadi Nugraha, ketua umum sekaligus pelatih ini. Kelas yang dilombakan yaitu Kyorugi dan Poomsae. Kyorugi yakni pertarungan duel yang dilakukan antar peserta. Sedangkan Poomsae adalah seni pukulan, tendangan maupun tangkisan. UMM setidaknya menerjunkan 29 altet dan 2 pelatih. “Selama pertandingan kami terkendala kapasitas GOR sehingga harus desak-desakkan dengan kotingen lain, Alhamdulillah, semua tetap berjalan dengan lancar,” kata mahasiswa program studi Hubungan Internasional ini. Tak kalah membanggakan, kabar baik juga datang dari UKM olahraga beladiri UMM lainnya. Salah satu anggota UKM Karate Inkado UMM bakal berlaga di ajang kejuaraan Karate internasional di Italia 24 Januari mendatang. Adalah Shofiyah Nur Yustina, mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis akan berlaga dalam ajang bergengsi kelas dunia, International Cup 2019 yang diadakan Shotokan Karate-Do International Federation (SKIF) di Italia. (riz/can)

Shofiyah Nur Yustina, Atlet Karate UMM yang Berlaga di Italia

24 Januari mendatang, Shofiyah Nur Yustina, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan berlaga dalam ajang International Cup 2019 yang diadakan Shotokan Karate-Do International Federation (SKIF) di Italia. Ia akan menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam ajang Karate bergengsi tingkat dunia ini. Mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang akrab disapa Shofi ini menceritakan proses latihannya menjelang perhelatan diikuti 12 negara ini. Dalam masa persiapan, waktu menjadi tantangan tersendiri baginya, karena juga dibarengi dengan pelaksanaan ujian akhir semester (UAS). Sebelumnya, saat duduk di bangku kelas 3 SMA, Shofi pernah mengikuti kompetisi ini. Namun saat itu usianya baru 17 tahun. Shofi bertanding di kelas Junior. “Sekarang persiapannya lebih berat karena saya sekaran masuk ke kelas senior. Jadi lawannya adalah atlet-atlet nasional masing-masing negara,” ungkapnya. Selama tiga bulan, secara intens Shofi berlatih menaikkan grade dan teknik-teknik karatenya. Belanda, Jepang dan tentu saja tuan rumah Italia bakal jadi lawan terberatnya. Ketika ditanyai tentang kematangan persiapan dirinya, Shofi menjawab sudah siap seratus persen. “Haqqul Yaqin insyallah, harus menang,” ungkapnya. Menurut Shofi, setiap proses harus dinikmati. Tidak hanya di karate, apapun kegiatannya. Shofi berharap, segala persiapan yang telah ia lakukan dapat mendapatkan hasil terbaik. Juga dapat membawa nama Indonesia dan UMM harum di kancah internasional. Shofi sampai harus menjalani pemusatan latihan (training center). Frendy Aru Fantiro, M.Pd, Pembina Karate Inkado UMM membagi singkat proses latihan Shofi. “Sebelum berangkat, Shofi masuk ke training center. Di sana akan dilatih bersama seluruh para delegasi,” jelas Frendy, Pembina UKM Karate UMM yang merupakan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini. (mir/can)

Helat Gema Desa, Wakil Bupati Malang Ikut Tanam Pohon di Lembah Bidadari

KELOMPOK 16 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Pandanrejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang mendapat kesempatan untuk turut andil dalam kegiatan Gema Desa, Rabu (16/1). Gema Desa sendiri diambil dari kata “Gerakan Membangun Desa”. KELOMPOK 16 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Pandanrejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang mendapat kesempatan untuk turut andil dalam kegiatan Gema Desa, Rabu (16/1). Gema Desa sendiri diambil dari kata “Gerakan Membangun Desa”. Wakil Bupati Malang Drs. H.M. Sanusi MM bersama istri Hj. Anis Zaida juga mengunjungi beberapa desa yang ada di Kecamatan Pagak. “Gema Desa bertujuan memacu pertumbuhan ekonomi dalam upaya menurunkan angka kemiskinan melalui optimalisasi potensi pariwisata, dan peningkatan daya dukung lingkungan hidup,” kata M. Sholaudin, koordinator kelompok. Acara ini tidak hanya dihadiri wakil Bupati Malang saja, tetapi juga di hadiri oleh beberapa staff Pemerintahan Kabupaten Malang antara lain DPRD, Camat Pagak, Dandim, dan Lurah Desa Pandanrejo. “Setiap Desa memiliki kelebihan sendiri untuk bisa dikembangkan, maka dari itu, bersama pemerintah, warga desa dan mahasiswa, kita ingin mendukung dan mengajak masyarakat untuk membangun desa bersama,” tutur Sholaudin. Kegiatan yang diadakan di Desa Pandanrejo antara lain kunjungan wakil Bupati Malang ke tempat produksi emping melinjo, pertunjukan kesenian khas Malang, dan penanaman pohon oleh wakil Bupati Malang. Emping melinjo menjadi salah satu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang di unggulkan di Desa ini. Kesenian yang disuguhkan adalah Reog Ponorogo dan Jaran Kepang Sekar Singo Budhoyo (SSB). Tujuannya, selain untuk mengisi acara, juga untuk memperkenalkan seni khas Desa Pandanrejo yang dipimpin oleh Anang Setya Aji. Anang adalah warga asli Desa Pandanrejo, dan merupakan ketua dari sanggar Sekar Singo Budhoyo. (Humas UMM)