Mahasiswa UMM Ubah Tembok Usang Jadi Media Edukasi Sejarah

GRESIK memiliki berbagai potensi yang perlu dieksplorasi. Salah satunya di aspek sejarah. Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui praktikum Public Relations III bekerjasama dengan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Pekelingan Sejahtera Gresik, mengubah tembok tua usang menjadi mural dengan pola khas Damar Kurung, Jumat (18/1). Damar Kurung sebagai salah satu ikon Gresik memiliki makna tersendiri di setiap gambar bidangnya yang bercerita. Aksi mural yang digawangi Kelompok Garda PR ini dikerjakan di Kampung Kemasan Jl. Nyai Ajeng Arem-Arem Kelurahan Pekelingan. “Edukasi sejarah bagi generasi muda diperlukan agar budaya dan sejarah tetap terlestarikan,” ungkap koordinator Garda PR Alifia Setya. Kampung Kemasan sebagai salah satu wisata heritage yang kerap didatangi wisatawan untuk berfoto memiliki nilai yang perlu dieksplorasi dan dijaga. “Edukasi sejarah terkait Kampung Kemasan sangatlah minim selama ini. Maka dari itu, kami menggunakan media mural tembok dengan pola khas Damar Kurung yang mengisahkan sejarah Kampung Kemasan,” tutur Alifia. Kampung Kemasan dikenal dengan gaya arsitektur bangunan khas campuran Cina, Eropa dan Timur menyimpan sejarah kejayaan Gresik pada masa itu. Sayangnya, sambung mahasiswa semester 7 ini, sedikit wisatawan yang mengetahui sejarah Gresik khususnya Kampung Kemasan. Hal inilah yang membuat Mahasiswa Ilmu Komunikasi tertarik menggarap destination branding Kampung Kemasan. Program kolaborasi Prodi Ilmu Komunikasi dengan BKM 79 Kecamatan Gresik sebelumnya telah sukses di acara peluncuran program Discover Gresik. Program ini bertujuan untuk memunculkan potensi dari 5 kawasan melalui Festival Badhogan dan Budaya Gresik 29 Desember 2018 lalu. Selain itu diadakan juga lomba menggambar dan mewarnai yang diikuti oleh pelajar SD/MI di Kota Gresik. “Bangunan kuno tua yang memiliki ciri khas dan gaya arsitektur yang unik bisa jadi satu-satunya di Indonesia bahkan dunia. Potensi tersebut yang akan kami garap melalui program-program yang telah kami susun. Program yang kami susun akan bersifat sustainable (berkelanjutan, red.) dan dapat dinikmati oleh wisatawan. Juga tentu diharapkan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,” bebernya. Bagi Kelurahan Pekelingan, aksi ini menjadi salah satu gebrakan besar untuk membangun potensi yang dimiliki melalui destination branding. “Kami merasa bersyukur dengan kedatangan mahasiswa Ilmu Komunikasi yang mau membantu membangun Kelurahan Pekelingan. Semoga semakin banyak wisatawan mengenal Kampung Kemasan,” ujar Muslik, Kepala Kelurahan Pekelingan. Melalui Inovasi ini, diharapkan warga mampu menciptakan inovasi-inovasi yang lebih menarik untuk kelurahan Pekelingan kedepannya sehingga kesejahteraan masyarakat dapat dicapai. “Terkadang apa yang dilakukan itu tidak bisa kita tuai sekarang, namun akan ada masanya kita menikmati apa yang sudah dikerjakan dengan puas” ungkap Mualim, Ketua BKM Pekelingan. (*/can)

KKN Tematik UMM di Palu: Hidupkan Lagi Rumah Sakit hingga Bangkitkan Perekonomian Lokal

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Rehabilitasi Dampak Bencana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memulai kegiatan kerelawanan di Palu, Sigi dan Donggala sejak Senin (14/1) lalu. Salah satu kegiatan mahasiswa KKN Tematik Rehabilitasi Bencana UMM kali ini, yakni membantu persiapan pendirian kembali Rumah Sakit Siti Fadhilah Suphari Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) Muhammadiyah Palu, Kamis (17/1). Rumah sakit yang sempat vakum beroperasi ini kembali dihidupkan dengan menambah sumber daya manusia dari relawan. Selain itu, rumah sakit ini dipakai sebagai pusat pendistribusiaan obat-obatan ke sejumlah wilayah yang dapat terjangkau. Perihal pendirian kembali Rumah Sakit Siti Fadhilah PKU Muhammadiyah, Dr. Agus Taufiqurrahman, M.Kes. Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) mengapresiasi kinerja seluruh relawan. “Alhamdulillah hari ini Muhammadiyah mendapatkan apresiasi dari masyarakat Palu atas kegiatan relawan bencana. Kami dari relawan pusat PP Muhammadiyah mengucapkan terimakasih kepada seluruh relawan,” ujarnya. Sejak Selasa (15/1) lalu, beberapa mahasiswa UMM asal Fakultas Kesehatan ditempatkan di Rumah Sakit untuk membantu kegiatan di Rumah Sakit tersebut. Mulai dari pengecekkan kesehatan hingga pemulihan trauma korban atau psikososial. UMM memberangkatkan 40 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Agama Islam, Fakultas Hukum dan Fakultas Kesehatan. Mereka tersebar di 6 pos pelayanan (Posyan). Beberapa Posyan itu antara lain Posyan Donggala Kodi, Pantoloan, Desa Wani, Desa Bobo, Sidera dan Tawaeli. Kegiatan kerelawanan ini bekerjasama dengan Muhammadiyah Disaster Managemen Center (MDMC) yang lebih dulu berada di lokasi. Selain melakukan pelayanan kesehatan dan psikososial, para relawan juga memberi pembekalan kewirausahaan melalui pemanfaatan potensi daerah. Seperti di Pantoloan sebagai daerah penghasil banyak buah nanas. Pendampingan relawan di Pentoloan yakni dengan melatih masyarakat membuat produk selai. Tidak hanya mengajarkan proses pembuatan selai, melainkan juga mendampingi proses pengemasan, distribusi, hingga produk sampai di konsumen. “Semoga melalui pelatihan dan berbagai kegiatan kami nantinya bakal membangkitkan semangat para korban. Juga mengembalikan kemandirian masyarakat untuk bekerja seperti sebelum terjadi bencana,” tandas humas kelompok Rizky Fariza Alfian. KKN di UMM, selain dijalankan melalui skema diterjunkannya mahasiswa di wilayah terdampak bencana, UMM juga mengirim mahasiswanya untuk mengikuti KKN Internasional. KKN ini diikuti sebanyak 27 mahasiswa yang tersebar di 7 negara. Yakni Malaysia sebanyak 7 orang, Thailand 12 orang, Kamboja 1 orang, Nepal 1 orang, Sri Lanka 4 orang, Polandia 1 orang, dan Ukrainia 1 orang. Mereka akan terjun langsung ke pelosok negara tersebut untuk melakukan pemberdayaan. (*/can)

Soal Hoaks, Dosen UMM: Otak Seringkali Kalah Cepat dengan Jempol

MINATNYA pada kajian media sosial dan media massa pada umumnya mendorong Nurudin untuk menelurkan banyak buku. Buku teranyarnya Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial menyajikan ulasan menarik dan tuntas seputar kemunculan media baru satu ini. Salah satu perkembangan yang menarik untuk dikaji dari media sosial menurutnya adalah semakin marak beredarnya berita bohong atau hoaks. Media sosial telah tumbuh dan sangat menentukan sikap dan perilaku masyarakat milenial. Bahkan, dijelaskan Nurudin, ia berkembang atau sengaja dikembangkan seolah sebagai agama. Karenanya, masyarakat cenderung mengaca pada media sosial, layaknya ajaran agama itu. “Padahal sebagian pesan media sosial perlu diyakini sebagai sebuah kebohongan yang dilegalkan,” kata dosen program studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, Selasa (16/1). Tentu saja, sambung Nurudin, dampak carut-marut pesan media sosial tidak hanya Hoaks dimana-mana, tetapi juga suasana saling membenci, mencaci, dan menghujat antar sesama. “Melihat perkembanganya, media sosial nyata telah mengancam disintegrasi bangsa. Media sosial telah menciptakan komunikasi di masyarakat berjalan dengan tidak tulus,” ungkap pria berkumis yang menerbitkan belasan buku ini. Buku Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial mengeksplorasi mengapa itu terjadi, bagaimana dampaknya dan apa yang harus dilakukan agar media sosial tidak dijadikan kambing hitam semua sebab. Buku yang ditulis berdasar penelitian dan tulisan-tulisannya di media massa ini merekam jejak pasang surut pengguna media sosial dan dampaknya di masyarakat serta solusi yang harus dilakukan. Penyebaran hoaks, ternyata bisa dilakukan siapapun. Tak dipungkiri masyarakat tengah dimabuk dan dimudahkan dengan teknologi. Mereka kebanyakan menyebar berita, bukan berdasarkan benar-salahnya. Melainkan sesuai dengan kecenderungan dirinya. “Otak kita seringkali kalah cepat dari jempol kita. Apalagi di tengah situasi politik saat ini, tidak bisa dipungkiri hoaks menjadi sangat politis,” ungkapnya. Media sosial menjadi lahan paling subur penyebaran Hoaks. Sementara di media mainstream hoaks dapat ditekan karena terduri dari sistem kemediaan yang dituntut profesional. “Mereka punya karyawan, punya pembaca, punya penonton, sehingga kalau menyebar hoaks, ya, mesti hati-hati. Kalau tidak, akan diingatkan oleh aparat hukum. Konsekuensi terberatnya, media itu bakal bubar,” bebernya. Sementara hoaks, biasanya disebarkan oleh aktor individual. Jika terindikasi akun yang dikelolanya terbukti melakukan aksi penyebaran hoaks, mudah saja, yang lantas dilakukan adalah menghapus akunnya. “Masalahnya di manapun dan kapanpun, hemat saya media itu lebih banyak menginduk kepada penguasa. Kita tidak usah mengkritik fenomena sekarang, memang sejak dulu sudah seperti itu,” ungkapnya. Tugas mencerdaskan masyarakat tentang melek media, tegas Nurudin, bukan cuma tugas para akademisi seperti dirinya. ”Kalau saya sendiri, dalam setiap perkuliahan, pergaulan dan diskusi saya selalu menekankan untuk selalu melek media. Melek media itu adalah kita sadar media selalu punya dampak negatif. Kalau sudah sadar, orang cenderung berhati-hati. Inilah yang kita sebut dengan praktik media literasi,” sebutnya. Perhatian besarnya pada gerakan literasi media yang akhirnya mangantarkan Nurudin mendapat ganjaran ketua Prodi terbaik dari Kopertis Jawa Timur saat menjabat sebagai Ketua Prodi Ilmu Komunikasi beberapa tahun silam. “Beberapa kali kami lakukan kegiatan literasi media ke SMP-SMA yang menurut kami jadi sasaran empuk Hoaks. Meskipun disadari, menangkal penyebaran hoaks itu sangat sulit,” tuturnya. (nis/can)

48 Dosen UMM Ikut Pelatihan Asesor Kompetensi

LEMBAGA Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan pelatihan asesor kompetensi di Gedung Kuliah Bersama 4 UMM. Jika sebelumnya UMM memiliki 93 tenaga asesor, kali ini UMM bakal menambah 48 calon asesor baru. Pelatihan diadakan 15 hingga 19 Januari ke depan. Peserta pelatihan ini merupakan tenaga pengajar dengan mempertimbangkan ketersediaan skema pada tiap program studi (Prodi). Tujuannya menghasilkan perangkat asesmen yang diigunakan saat ujian sertifikasi kompetensi mahasiswa UMM. Para calon asesor ini di akhir pelatihan akan mengikuti ujian atau asesmen. Menurut Dr. Ihyaul Ulum, S.E., M.Si., Ak., CA, selaku Direktur LSP UMM, pelatihan ini dilakukan karena LSP UMM sudah terlisensi sejak Mei 2018 serta memiliki 55 skema. 20 skema di antaranya sedang proses verifikasi oleh BNSP. “Tujuan kegiatan ini untuk menghasilkan dan menambah sumber daya asesor kompetensi,” ujarnya. “Peserta yang dinyatakan kompeten atau lulus dalam ujian asesor, maka di awal bulan Februari akan langsung terlibat dalam uji kompetensi para calon wisudawan di seluruh Prodi. Terlebih pada pelatihan ini, kita mengirimkan dari fakultas kesehatan dan kedokteran yang sebelumnya belum memiliki tenaga asesor,” bebernya. Tidak hanya pada periode kedua ini saja diselenggarakan pelatihan asesor kompetensi. Rencananya pada tahun 2019 ini LSP akan mengadakan pelatihan lagi terhadap dosen UMM. “Tujuannya agar dalam 3 tahun ke depan pengadaan sumber daya asesor kompetensi di UMM akan aman,” tambahnya. Ulum berharap, 48 peserta ini dapat dinyatakan kompeten dan lulus menjadi asesor, supaya menambah kekuatan LSP UMM untuk melakukan asesmen calon wisudawan. “Hal ini sesuai dengan SK Rektor mengenai uji kompetensi yang mewajibkan seluruh calon wisudawan UMM untuk memiliki sertifikat kompetensi,” terangnya. “Ini merupkan komitmen bagi UMM. Sistem pembelajaran di UMM memberikan penguatan kompetensi yang orientasinya profesionalitas. Kelulusan tidak hanya sekedar formalitas tetapi orientasinya kualitas. Agar lulusan kita memiliki trust (kepercayaan, red.) di tengah masyarakat. Maka sertifikat kompetensi ini menjadi wajib bagi mahasiswa,” tutur Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. (bel/can)

Perdana! UMM Bikin Layar Tancap di Pakisaji

SELAIN Mobil Kamis Membaca (KaCa), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) makin giat memberikan manfaatkan kepada masyarakat. Mengawali tahun 2019, UMM kembali mengeluarkan program teranyarnya, yakni Mobil Bioskop Keliling atau Bioling. Mobil hibah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) ini bakal berkeliling ke seluruh pelosok Jawa Timur khususnya, juga ke sejumlah wilayah di Indonesia untuk menyajikan tontonan dan tuntunan edukatif. Pemutaran film melalui layar tancap ini juga bertujuan memberi informasi tentang kebudayaan terkait budaya lokal. Masyarakat diajak untuk mengenal berbagai film yang memiliki nilai edukasi dan kebudayaan melalui layar tancap. Panti Asuhan Muhammadiyah Pakisaji Kabupaten Malang jadi tujuan perdana Bioling. Hujan gerimis tak menyurutkan antusias warga Pakisaji untuk menghadiri gelaran sekaligus peluncuran Mobil Bioling UMM. Warga sekitar memadati pelataran Panti Asuhan, Sabtu (12/1). Rozy selaku pengurus Panti Asuhan mengaku senang dengan hadirnya Mobil Bioling ke panti asuhannya. “Baru pertama kali ada layar tancap yang mau datang jauh-jauh dari Kota Malang untuk mengedukasi anak-anak panti asuhan mengenai film,” katanya. “Saya bertemakasih kepada pihak UMM yang mau datang kesini, karena anak-anak kalau mau ke bioskop itu jauh sekali, juga mahal,” ujar Rozy. Selain menyediakan film-film teranyar, Bioling juga menyediakan film garapan mahasiswa UMM sendiri. Mohammad Isnaini selaku Sekertaris Humas dan Protokoler UMM mengatakan bahwa dirinya berterimakasih kepada warga juga anak-anak Panti yang sudah berkenan datang dan mengizinkan untuk melaunching di Panti Asuhan Muhammadiyah Pakisaji. Dia mengatakan, tidak semua orang punya kesempatan untuk pergi ke bioskop. “UMM akan berperan untuk mengedukasi dan melayani masyarakat yang tidak memiliki kesempatan ke bioskop untuk tahu film-film Indonesia,” tandasnya. Kedepan sambung Isnaini, seperti jangkauan Mobil KaCa, Bioling bakal menyasar tempat-tempat khusus untuk lebih menyentuh lapisan masyarakat lebih luas. Seperti ke lembaga pemasyaratakan, panti jompo, dan tempat-tempat khusus lainnya. Melalui Mobil KaCa, Mobil Bioling, serta konsep menarik lainnya, UMM ingin memberikan kemanfaatan seluas-luasnya kepada masyarakat. Beberapa aksi ini, sambung Isnaini, sebagai kiprah nyata pengabdian UMM untuk masyarakat. “Karena memberikan edukasi dengan konsep hiburan kepada masyarakat kurang beruntung sangat perlu. UMM ingin terus mengambil peran dalam mengedukasi masyarakat tanpa mengekslusifkan siapapun,” ungkapnya. (usa/can)

Mobil KaCa UMM di CFD IJen: Sediakan Banyak Buku hingga Kenalkan Asyiknya Bermain Rangku Alu

AWAL tahun 2019 ini, Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengaspal untuk menggaungkan gerakan literasi kepada masyarakat umum. Berbeda dengan biasanya, kali ini mobil KaCa mengunjungi Car Free Day jalan Ijen, tepatnya di depan Perpustakaan Kota Malang, Minggu (13/1). “Ini kali pertama Mobil KaCa mengaspal di Car Free Day. Lain dari biasanya, di tahun 2019 ini kami ingin berbagi kepada masyarakat yang lebih luas. Mobil pintar ini memberikan alternatif bacaan yang mudah dengan pilihan yang banyak. Masyarakat bisa bebas memilih buku yang disenangi,” ujar Maharina Novia Zahro selaku koordinator Mobil KaCA. Targetnya tahun 2019 ini, Mobil KaCa UMM akan menjangkau ke tempat yang lebih luas lagi. Jika biasanya mobil KaCa UMM mengunjungi sekolah dan tempat tertentu yang tersegmentasi, kali ini akan menjangkau semua usia dan kalangan. “Sekarang lebih luas jangkauannya. Tidak hanya di tempat yang segmented, Mobil KaCa akan menyapa korban bencana di Lombok, Kampung Pank, Kelompok Tani, perkumpulan Ibu-Ibu dan juga ke daerah bekas prostitusi,” terang Maharina. Kehadiran mobil KaCa UMM langsung menjadi serbuan pengunjung di sekitar Car Free Day. Ada sekitar 456 koleksi buku yang terdiri dari ensiklopedi, cerita, novel dan literasi lainnya. Di belakang mobil juga dilengkapi LED monitor yang dapat menampilkan film-film edukatif. Tidak hanya membaca dan menonton saja, pengunjung yang hadir juga dapat belajar mengenali berbagai macam permainan tradisional. Sebagai upaya melestarikan kebudayaan tradisional, mobil KaCA mengajak pengunjung untuk ikut serta bermain, Rangku Alu atau tarian tongkat. Permainan asal Manggarai, Nusa Tenggara Timur ini dimainkan oleh 2 tim. Tim pertama berisi empat orang yang berjaga menggerak-gerakkan bambu. Mereka duduk membentuk bidang persegi dan memegang dua bambu. Sementara tim lain menjadi pemain yang mendapat giliran menghindari jepitan bambu. Sejumlah pengunjung terlihat sangat antusias memainkan Rangku Alu. Tidak hanya anak-anak yang meminkan, remaja hingga dewasa juga ikut bermain bersama. Dengan lincah, pemain masuk dalam bidang persegi dan melompat-lompat sesuai ayunan dan irama ketukan bambu. “Kita mesti pahami bersama, bahwa kegiatan literasi tidak hanya berhenti pada membaca buku. Kegiatan literasi banyak macamnya. Rangku Alu, kami kenalkan ke kemasyarakat untuk mengembalikan kejayaan permainan tradisional sebagai media penguatan interaksi sosial antar masyarakat. Anak-anak juga menjadi tidak melulu disibukkan dengan gadgetnya,” tukasnya. (bel/can)

Dibaca 74 Juta Kali di Wattpad, Novel Karya Mahasiswi Ini Kembali Difilmkan

ANTUSIASME terhadap peluncuran novel Mariposa karya Hidayatul Fajriyah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan optimisme bagi penerbit kenamaan Indonesia, Gramedia. Novel ini akan meneruskan kesuksesan novel best seller miliknya yang berjudul “EL”. Meski baru memasuki tahap pre order, novel bergenre teen fiction comedy ini terjual sebanyak 17.849 eksemplar. Proses penulisan Mariposa yang mempunyai arti dari bahasa Spanyol yaitu “Kupu-kupu” ini sudah sejak satu tahun yang lalu. Novel kelimanya ini diawali dari tulisan versi digital di aplikasi Wattpad. Banyaknya minat pembaca, hingga 74 juta kali dibaca dan mendapatkan respon positif dari pembacanya, membuat novel ini naik cetak. Tidak tanggung-tanggung, novel ini sudah dilirik rumah produksi Starvision sebelum diterbitkan oleh Gramedia. “Alhamdulillah, ketika Novel Mariposa masih ditulis di wattpad, pihak Starvision langsung menghubungi dan mengajak kerjasama untuk mengadaptasinya ke layar lebar,” kata mahasiswi Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) ini, Jumat (11/1). Dalam pembuatan film ini, Luluk demikian dia disapa, dapat banyak pengalaman berharga. Terlebih ia juga dilibatkan langsung oleh Starvision dalam pembuatan naskah film Mariposa sendiri. “Dalam pembuatan naskah, saya banyak dimintai saran. Untuk penulis naskahnya sendiri oleh Alim Sudio dan akan disutradari oleh Fajar Bustomi,” ujar gadis asal Lamongan, Jawa Timur tersebut. Novel Mariposa bukan satu-satunya karya Luluk yang difilmkan, tahun 2018 lalu, novel keempatnya “EL” juga telah difilmkan dengan judul yang sama. Berbeda dengan “EL”, Mariposa sendiri mengangkat cerita yang lebih ringan. Tidak hanya menceritakan kisah percintaan saja, tapi juga persahabatan, kekeluargaan dan dunia anak SMA. Novel ini semakin menarik, terlebih dikemas dengan sentuhan komedi khas anak muda kekinian. Menceritakan perjuangan Acha, seorang gadis manja dan hiperaktif yang jatuh cinta kepada Iqbal yang berperangai cuek. Acha berjuang mendapatkan hati Iqbal. Diceritakan, Acha mengibaratkan Iqbal sebagai kupu-kupu. “Kupu-kupu memiliki filosofi jika dikejar ia akan menjauh. Jika tidak dikejar dan didiamkan saja, akan ada kemungkinan tetap lari dan menjauh atau justru akan berhenti dan mendekat,” paparnya. “Semoga di film kedua yang diadaptasi dari novel saya ini, semua pembaca novel Mariposa suka dan puas dengan filmnya, sehingga mau menonton berulang-ulang,” tandas Luluk optimis. Tradisi prestasi senantiasa dipupuk ke tiap civitas akademika UMM. Tidak hanya mendorong mahasiswa untuk berinovasi lewat karya dan pengabdiannya, dosen dan karyawan juga didorong punya kiprah serupa. “Hal ini lantaran komitmen UMM untuk turut berkontribusi pada kemajuan Indonesia melalui ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd di kesempatan berbeda. Prestasi Luluk ini sebagai pembuktiannya. Pantas saja, sejak terdaftar sebagai mahasiswa baru, mahasiswa sudah diarahkan dan didorong untuk mengendepankan nalar ilmiah. Salah satunya melalui dibudayakannya penulisan karya ilmiah berupa Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Selain itu, mahasiswa memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuan akademik, minat dan bakatnya. “UMM merespon secara positif dan antusias dengan menjadikan hari Sabtu sebagai Student Day,” kata Fauzan. Pada hari tersebut, sambungnya, mahasiswa akan melakukan kegiatan secara mandiri maupun kolektif sebagai bentuk aktualisasi dan pengembangan diri dalam berbagai bidang seperti, keagamaan, minat bakat, keprofesian dan kebudayaan. (bel/can)

Menolak Senjakala, Mahasiswa UMM Tetap Kekeuh Jadikan Koran Bacaan Utama Masyarakat

DI TENGAH kemunculan berbagai platform media massa di era digital, tak lantas menyurutkan sekelompok mahasiswa ini untuk tetap memproduksi media tradisional. Meski media massa cetak digadang tak lagi diminati, mereka tetap kekeuh mengkampanyekan koran sebagai bahan bacaan utama masyarakat. Untuk pertama kalinya Peluncuran Koran dan Penganugerahan Praktik Kerja Lapangan (PKL) Jurnalistik diadakan Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sabtu, (12/1) di Auditorium BAU Kampus III UMM. Di penganugerahan ini terdapat 11 nominasi yang disabet beberapa kelompok. Melalui Dr. Dra. Hj. Sugiarti, M.Si., Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM menyebut, “Setiap mata kuliah jurnalistik outputannya adalah koran,” jelasnya. Koran, katanya, masih menjadi media penyampai informasi efektif di Kota Malang. Dijelaskannya, koran ternyata masih diminati kelas masyarakat tertentu. Nyatanya, piranti siaran informasi umum yang mulai diperkenalkan pada tahun 1960 oleh Benjamin Harris –tokoh yang mengawali penerbitan surat kabar Amerika yang pertama- ini masih diminati. “Terkhusus bagi usia 40 tahun ke atas,” ujarnya. Pada penganugerahan ini, Sugiarti mengaku takjub dengan mahasiswanya. Menurutnya, penganugerahan ini sebagai bentuk apresiasi setinggi-tingginya bagi kerja keras selama 6 bulan berproses. “Dengan diberikannya ruang kreasi yang luas, mereka dapat mengeskplorasi kemampuan secara optimal,” ungkapnya bangga. Selain itu, proyek pengerjaan koran yang dilakukan selama 1 semester ini juga tidak hanya belajar tentang liput-meliput. Namun juga manajeman media massa, distribusi hingga pemasarannya dilakukan secara profesional. “Lengkap! Banyak sekali bagian agar para mahasiswa memilih sesuai minatnya,” kata Sugiarti. Menariknya, Komisaris Harian Malang Post Husun N. Djuraid turut mendampingi langsung mahasiswa ini dalam pengelolaan media massa cetak. Mulai dari ilmu memimpin perusahaan media, menjadi pemimpin redaksi, manajer keuangan, manajer periklanan, manajer pemasaran, hingga mencari berita langsung di lapangan. Salah satunya Koran Saskara, surat kabar setebal 12 halaman ini berhasil merekam berbagai cerita unik nan inspiratif dari berbagai sudut di Malang Raya. Tak hanya kisah kesuksesan wirausaha mahasiswa, redaksi Saskara juga menyajikan berbagai ulasan mendalam seputar pendidikan, sosial, budaya, hingga dunia kesehatan. Tak hanya itu, koran ini juga membuka jasa iklan secara profesional. Seperti layaknya pengelolaan profesional, jasa iklan yang masuk dijadikan pembiayaan operasional prototype media yang mereka jalankan. Sugiarti berharap, pengalaman ini dapat dijadikan pelajaran berharga untuk terjun di dunia media sesungguhnya. Hal lain yang tentu didapatkan dalam proyek ini adalah kemampuan berkomunikasi. Meliput berita tentu harus tahu cara berkomunikasi dengan baik. Selain itu tak tanggung-tanggung, koran yang diterbitkan terbatas ini dijual secara mandiri. Sehingga, juga dapat dinikmati masyarakat Kota Malang secara luas. (mir/can)

PGSD UMM Helat Festival Ludruk untuk Tumbuhkan Kecintaan pada Kesenian Lokal

KESENIAN LUDRUK mungkin kini kalah pamor dengan tontonan televisi dan bioskop. Ditakutkan, generasi muda mulai meninggalkan dan tak lagi dikenal di masa mendatang. Meski begitu, kesenian yang tercatat lahir di Jombang Jawa Timur ini mesti tetap dilestarikan. Salah satunya dikenalkan melalui bangku perkuliahan. Ikhtiar yang dilakukan sekelompok mahasiswa ini patut diacungi jempol. Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (PGSD UMM) menggelar Festival Ludruk Kampus, Kamis (10/1). Festival ini digelar dalam rangka menuntaskan tugas akhir mata kuliah Karawitan oleh mahasiswa angkatan 2016. Menampilkan lakon Sarip Tambak Rasa, Maling Caluring, Babad Surabaya, Sakerah, Jaran Mayang Seta, dan Jaka Sambang. Lakon yang dipentaskan merupakan cerita lokal yang kebanyakan dengan latar zaman kolonial. Kemudian naskah yang sudah diadaptasi akan dipentaskan yang semua, baik di belakang maupun di depan panggung, diperankan mahasiswa. “Mahasiswa PGSD ini kan calon guru SD, jadi saya rasa perlu untuk paham seni tradisi,” jelas Danang Wijoyanto, S.Pd, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Karawitan. Menurut Danang, perlu untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal sejak dini. Maka mahasiswa PGSD harus dibekali pengetahuan kesenian lokal. Sehingga ketika menjadi Guru SD bisa menyalurkan kepada murid-muridnya. Danang takjub dengan totalitas mahasiswanya ketika melaksanakan tugas. “Hasilnya melebihi batas dan target yang saya tetapkan, saya sangat puas sekali,” papar Danang bangga. Sedangkan Judha Bira Krisna selaku Ketua Pelaksana Festival Ludruk Kampus mengatakan bahwa ini pengalaman yang luar biasa. Ia mengemukakan bahwa Festival Ludruk Kampus kali ini adalah yang pertama kalinya digelar di UMM. “Saya harap langkah awal ini bisa menumbuhkan rasa cinta yang besar dari mahasiswa PGSD UMM kepada budaya lokal,” ujarnya. Pada periode 1920 sampai 1925 ludruk berkembang. Awalnya pertunjukan jalanan yang berpindah-pindah tempat atau ngamen. Berubah dengan tempat pertunjukkannya yang menetap di halaman rumah atau ditanggap. Seperti ditanggap dalam pesta perkawinan, ruwatan, khitanan, dan sebagainya. “Semoga melalui festival ini, Ludruk kembali populer dan kembali digandrungi masyarakat,” pungkasnya. (usa/can)

Masif Mendampingi, LPT Psikososial Wujud Dedikasi UMM Pada Masyarakat

LABORATORIUM Psikologi Terapan (LPT) Psikososial merupakan wujud dedikasi UMM pada bidang Psikologi. Dinaungi langsung Fakultas Psikologi, LPT Psikososial telah masif mendampingi masyarakat sejak peristiwa Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Konflik Poso, Tsunami Aceh dan baru-baru ini pada Gempa Palu serta Donggala. Keberadaan Psikososial selama ini kebanyakan dianggap sebatas untuk bencana. Padahal tidak demikian, seperti dikatakan Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A, staff LPT Psikososial. “Sebenarnya bisa juga untuk ODHA dan trauma-trauma lainnya. Intinya adalah mental (psikis, red.) yang diobati pada psikososial,” tuturnya. Memang, stigma tentang psikososial banyak yang kurang tepat. Disangka, psikososial hanya mengurusi anak-anak penyintas pasca bencana. Alifah mencontohkan, ranah aksi psikososial sebenarnya lebih luas. “Para relawan terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya untuk menangani anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak,” jelasnya. Pendekatan kepada setiap umur tentunya berbeda. Keidentikan Psikososial untuk anak-anak tentu tak tepat. Selain itu, Psikososial tidak hanya beraksi saat bencana. Psikososial juga dapat memberikan treatment misalnya kepada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). “Kita berikan treatment agar siap menghadapi sosial,” kata Alifah. Durasi dalam pemberian Psikososial pada peristiwa bencana biasanya tak lebih dari sebulan. Hal tersebut karena relawan juga membutuhkan energi baru untuk memberikan penanganan Psikososial. Sejauh ini, kerja sama yang paling masif ialah bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Dekan Fakultas Psikologi, Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi, M.Psi, Ph.D, Psikolog. menerangkan, Fakultas Psikologi kosisten menurunkan tenaga-tenaga terbaiknya untuk memberikan pelayanan Psikososial kepada korban bencana maupun konflik. Para relawan telah dibekali langsung beragam kompetensi oleh LPT Psikososial. Selain yang dikerjasamakan dengan MDMC melalui LPT Psikososial, UMM memang tengah banyak melakukan pengabdian terhadap para korban bencana yang belakangan dialami sejumlah daerah di Indonesia. Salah satu di antaranya melaui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang ditempatkan di Palu, Sulawesi Tengah. Termasuk yang dilakukan RSU UMM yang mengirim dokter dan perawatnya ke Donggala, Sulawesi Tengah. Terhitung sejak Oktober 2018 lalu, relawan RSU UMM terjun langsung ke salah satu wilayah terdampak bencana. Berbagai aksi ini sesuai dengan visi dari Rumah Sakit Islam yang menjunjung visi kemanusiaan. Dalam waktu dekat, tepatnya 13 Januari 2019, LPT Psikososial bakal menggelar Diklat Psikososial Dasar bagi mahasiswa dan masyarakat umum. Tak menutup kemungkinan, LPT Psikososial UMM akan menerjunkan relawannya untuk turut membantu pemulihan trauma dari korban bencana Tsunami di Selat Sunda. (nis/mir/can)