Gelaran Art Performance Tandai Kelulusan EYL di UMM

LEBIH dari seratus siswa-siswi SD se-Malang Raya tampil dalam gelaran Art Performance, Minggu (30/12). Perhelatan ini menandai ketuntasan mereka kuliah English for Young Learners (EYL) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setelah melalui kegiatan perkuliahan bahasa Inggris selama 10 kali setiap hari Minggu selama 3 bulan terakhir ini, para siswa unjuk kebolehan berbahasa Inggris dalam gerak dan lagu, puisi, pidato, bahkan drama mini. Semua penampilan itu terselenggara, merupakan hasil besutan para mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris UMM yang mengambil mata kuliah EYL selama 2 semester. Tampil memimpin teman-temannya kelas 2, Rhynniar Ratri Putri Wicaksono, dari MI Alam Lukman Al Hakim Batu, mengungkapkan kegembiraannya belajar bahasa Inggris di UMM. Ia senang bisa belajar bahasa Inggris sembari membuat sesuatu. “Sekarang biji kangkung yang ditanam waktu belajar “Growing Plant” sudah tumbuh,” ungkap Niar panggilan akrabnya. Ke depan, ia ingin pergi ke negara asal bahasa Inggris dan melihat salju di sana. Bersama kakaknya yang kelas 4, tahun depan Niar ingin ikut kuliah EYL di UMM lagi. Niar, putri pasangan Ady Wicaksono dan Fifi Rachmawati ini menyampaikan cita-citanya. Ibundanya Fifi, berharap tahun depan putra-putrinya bisa ikut kuliah EYL di UMM lagi. Kuliah EYL ini sudah diadakan bagi siswa SD sejak tahun 2001. Awalnya hanya untuk putra-putri dosen UMM, tahun-tahun berikutnya sudah diikuti oleh siswa-siswi SD di sekitar kampus. Tahun ini, sejak flyer EYL diunggah ke sosial media, 25 kursi yang disediakan per kelas sudah terisi dalam waktu yang singkat. Asal siswa pun meluas se-Malang Raya. Dengan mengusung tema New Year Celebration, kegiatan ditutup dengan menyanyikan lagu I Have a Dream secara bersama untuk menandai tahun baru agar disongsong dengan optimis. “Sebagai kampus ramah anak, mengenalkan kampus dan perkuliahan sejak dini diharapkan dapat menstimulasi anak untuk mempunyai cita-cita yang tinggi,” ungkap Kharisma. Kuliah EYL ini adalah salah satu buktinya, sambung Kharisma, setelah gelaran Kids on Campus Mei lalu dan gerakan literasi Mobil Kaca (Kamis Membaca) di berbagai SD se Malang Raya. (*/can)
Festival Badhogan & Budaya Ramaikan Kalitutup Gresik, Berharap Jadi Ikon Budaya Baru

FESTIVAL Badhogan & Budaya Gresik nampaknya bakal menjadi ikon festival baru di Gresik. Pasalnya, baru sekali digelar, warga Kabupaten Gresik dan sekitarnya geruduk ke event garapan Praktikum Public Relations (PR) III Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (29/12). Selain di meriahkan pentas budaya kolosal, event ini menyediakan setidaknya 60 tenant berisi makanan khas Gresik dan budaya dari 5 Kelurahan. Kelurahan Kroman dan Sukodono, Pekelingan, Kemuteran dan Kramatinggil. Acara ini dikerjasamakan dengan Badan Keswadayaan Masyatakat (BKM) 79 Kabupaten Gresik. Di event ini, para pecinta kuliner dapat menemukan berbagai makanan dalam satu tempat. Mengusung tagline “Gresik Ono Roso” atau “Gresik Ada Rasa” terdiri dari segala jenis makanan dan minuman khas Gresik. Antara lain, Nasi Krawu, Ndok-ndokan (aneka telur), Ubus, Mie Kenyol, Es Sinom, dan jajanan Pudak. “Tetap mengangkat makanan dan minuman khas Gresik di antara makanan minuman modern menjadi tantangan. Tapi nyatanya masih banyak yang tertarik dari warga Gresik,” kata Ida Suryaningsih, salah satu penjual tenant melihat antusias warga Gresik dalam event ini. Ditutup dengan pemutaran film “Di Suatu Tempat Di Mana Ada Kita”. Film garapan komunitas Gresik Movie ini bercerita tentang lahan padi yang diambil alih oleh perusahaan untuk dibangun pabrik. Festival yang dihadiri kurang lebih 6 ribuan pengunjung ini ditutup dengan cukup meriah. Apalagi dimeriahkan alunan manis Band Music Indie Onomastika. “Saya senang mas, kalau diadakan acara kayak gini, makanannya juga udah jarang dilihat, tadi juga ada yang jualan dari Pulau Bawean. Saya belum pernah kesana tapi udah ngerasain makanannya,” ujar Izdi, salah satu pengunjung asal Surabaya. Panitia penyelenggara Festival Badhogan dan budaya ini juga diharapkan nantinya festival seperti ini bisa dijadikan agenda tahunan. Selain untuk mengenalkan makanan khas Gresik yang sudah jarang hadir, juga menjadi wadah untuk menampilkan budaya Gresik. “Harapannya semoga event Festival Badhogan dan Kuliner ini dapat dilanjutkan sebagai event tahunan oleh pemuda Gresik,” ungkap Meidyo Gema Lazuardi, Ketua Pelaksana Discover Gresik. (*/can)
Bikin Beragam Produk Pakan Ternak, Mahasiswa UMM Buktikan Tugas Akhir Tak Sekedar Tuntaskan Kewajiban

MAHASISWA Program Studi (Prodi) Peternakan Semester 5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghasilkan beragam produk pakan ternak. Proyek dalam rangka tugas akhir ini sebagai jawaban, bahwa mahasiswa Prodi Peternakan tidak hanya bisa berteori, melainkan pembuktian untuk menilai keahliannya. Adalah Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP yang menginisiasi model tugas akhir yang menghasilkan produk nyata. Dosen mata kuliah Ilmu Nutrisi Ternak Non Ruminansia itu mengatakan, mahasiswa mempunyai imajinasi yang liar dan harus difasilitasi. Hasilnya banyak sekali produk makanan ternak yang tidak terbayang sebelumnya. “Anak-anak ini tidak boleh dijadikan Anak Krakatau yang menahan-nahan magmanya untuk keluar, harus dipacu untuk berani mengeluarkan semuanya agar mengguncang dunia,” ungkap guru besar UMM yang dikenal kaya penelitian dan pengabdian ini. Track recordnya ini yang hendak ditularkan kepada mahasiswanya. Pelaksanaan tugas akhir ini, mahasiswa diwajibkan melakukan survey di lapangan, perusahaan, dan mencari sumber referensi terkait. Setelah survey, ide yang dieksekusi menjadi produk nantinya diharapkan bisa laku di pasaran. Juga, bisa diikutkan ke Program Kreatif Mahasiswa (PKM) atau Praktek Usaha Peternakan (PUP). Indah selaku dosen pengampu membimimbing Mahasiswanya agar ketika produknya sudah jadi bisa laku di pasaran. “Kemauan mahasiswa begitu besar dengan Ide tugas akhir semacam ini, mereka memang membutuhkan fasilitas untuk mengimplementasikan idenya,” ujar Indah. Dr. Ir. Asmah Hidayati, MS Kepala Prodi Peternakan mengapresiasi langkah Indah. Ia mengatakan bahwa langkah ini merupakan perwujudan ilmu yang selama ini diajarkan kepada mahasiswa Prodi Peternakan UMM. Asmah berharap, produk mahasiswa ini nantinya dikenal banyak peternak, sehingga nilai kebermanfaatannya lebih luas. Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP UMM), Dr. Ir. David Hermawan, MP., IPM menghimbau agar dosen apalagi yang bergelar Profesor seperti Indah, memberlakukan pembelajaran seperti ini.“Mahasiswa harus banyak praktek agar ilmunya bermanfaat, minimal 70% praktek 30% teori,” tandas David. (usa/can)
UMM Kirim Mahasiswanya Ikut KKN Internasional di 7 Negara

KESEMPATAN mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk merasakan iklim belajar dan pengalaman internasional semakin lebar. Berbagai kerjasama internasional yang dijalin UMM memperbesar peluang ini. Salah satunya adalah kerjasama yang dijalin melalui AIESEC in UMM. Total, 867 orang dilepas untuk menjalankan salah satu Tri Dharma Peguruan Tinggi yakni pengabdian masyarakat dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Sabtu (29/ 12). KKN pada periode ini dibagi menjadi tiga kelompok besar, di antaranya KKN Internasional, KKN Tematik, dan KKN Regular. KKN Internasional diikuti sebanyak 27 mahasiswa yang tersebar di 7 negara. “Yakni Malaysia sebanyak 7 mahasiswa, Thailand 12 mahasiswa, Kamboja 1 mahasiswa, Nepal 1 mahasiswa, Sri Lanka 4 mahasiswa, Polandia 1 mahasiswa, dan Ukrainia 1 mahasiswa,” urai Ketua Divisi KKN Alik Ansyori Alamsyah. Salah satu mahasiswa yang akan mengikuti proyek sosial tersebut ialah Febryani Monita Astuti. Mahasiswi program studi Sosiologi ini akan melakukan proyek sosial selama 6 pekan di Thailand. Proyek yang diikutinya yakni Sawasdee Thailand. “Selama enam minggu di sana, saya akan mengerjakan proyek sosial mengajar Basic English untuk siswa sekolah dasar hingga sekolah lanjutan di pedalaman Thailand,” papar mahasiswi asal Lombok, Nusa Tenggara Barat ini. Ia ingin mempelajari kondisi sosial di negara lain. Selain itu, sebagai mahasiswa Sosiologi ia mengaku ingin memiliki ruang belajar yang lebih luas dengan mengikuti KKN Internasional ini. “Saya sebagai mahasiswa Sosiologi ingin punya ruang belajar lebih luas terutama tentang kehidupan masyarakat sosial, kan konteks dan ruang belajarnya pasti berbeda,” terangnya. Seremoni pelepasan peserta KKN ini tak hanya dihadiri oleh mahasiswa yang mengikuti KKN Internasional, namun juga mahasiswa dari KKN Tematik yang akan melakukan proyek sosial di Palu dan mahasiswa program KKN Regular. Dilepas Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. mahasiswa diingatkan terus bahwa mereka adalah representasi dari UMM. “Saudara akan dilihat sebagai representasi Muhammadiyah. Jadi, tinggalkan kesan baik di tempat pengabdian nanti,” ujarnya. (nis/bel/can)
Teknologi Dosen UMM Ini Bantu Petani Kentang Pasok Benih Berkualitas

SEBAGAI negara agraris, sudah sepatutnya Indonesia dapat mandiri dalam memproduksi bahan-bahan pangan pokok dan rempah. Meski begitu, Indonesia ternyata punya cerita lain dengan tanaman kentang. Data yang dilansir laman resmi Kementerian Pertanian RI, tanaman hortikultura ini sering dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata produksi kentang mencapai 1.213.828,6 ton per tahunnya. Ironisnya, dari banyaknya produksi dan permintaan kentang, ketersediaan benih atau bahan tanam kentang baru bisa 15 % yang bisa disediakan secara mandiri oleh Indonesia. Selain kuantitas, problem lain juga soal pasokan benih berkualitas. Melihat fakta ini, dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian dan Perternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM), Dr. Ir. Syarif Husen, M.P., memiliki solusi atas permasalahan produksi benih kentang ini. Untuk mengatasi permasalahan itu, Syarif mengembangkan benih kentang dalam teknologi kultur in vitro dalam bentuk planlet dan teknologi aeroponik untuk menghasilkan benih kentang dalam bentuk umbi generasi nol (G0). Teknik ini diawali dengan isolasi jaringan meristem sebagai bahan tanam yang bernama latin Solanum tuberosum L. Lantas, diperbanyak dengan cara subkultur dalam kondisi aseptic (kondisi bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit). Bila pertumbuhan sempurna, akan menjadi tanaman lengkap yang disebut planlet. “Planlet ini dapat dijual ke petani penangkar benih sebagai bahan tanam untuk menghasilkan umbi G0 yang harus ditanam di screen house,” terangnya. Planlet yang siap dipasarkan ini telah mendapatkan delegasi legalitas dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang untuk varietas Granola Lembang, sehingga dinyatakan bebas virus dan tergolong produk berkualitas. Selain menghasilkan planlet hasil kultur in vitro, Syarif dan timnya juga mengembangkan umbi G0 dengan teknik Aeroponik. Yakni, budidaya tanpa menggunakan tanah sehingga sangat efisien. “Teknologi ini sebagai suatu bentuk hilirisasi dan komersialisai hasil riset yang mendapatkan dana dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, dalam bentuk program pengabdian kepada masyarakat,” papar Syarif. Teknologi ini didaftarkan Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK). Dengan menyelenggarakan PPUPIK, perguruan tinggi berpeluang memperoleh pendapatan dan membantu menciptakan wirausaha baru. Untuk memperluas pemasarannya, program ini bermitra dengan kalangan petani penangkar benih di Jawa Timur. Syarif berharap produk benih kentang ini dapat membantu masalah pengadaan benih kentang berkualitas dalam skala nasional. (iel/can)
Indonesia di Tengah Ancaman Proxy War, Begini Kata Para Pakar UMM

ANCAMAN keterlibatan aktor-aktor eksternal untuk mejadikan Indonesia sebagai arena pertarungan kepentingan, baik ekonomi, politik, maupun keamanan, menjadi hal yang perlu diperhatikan. Terutama di tahun politik dan menjelang Pemilu 2019. Posibilitas ancaman keamanan dari kepentingan negara-negara besar maupun adanya upaya provokasi dan adu domba dari kelompok-kelompok tertentu, menjadi isu yang mengemuka. Dampaknya adalah berpotensi memecah belah serta mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Merespon hal ini, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Laboratorium Kajian Hubungan Internasional, dan Komunitas Kajian Keamanan Global dan Terorisme (K3GT) HI UMM menggelar refleksi akhir tahun. Bertajuk Refleksi Akhir Tahun: Dari UMM untuk Bangsa. Acara tersebut mengusung tema “Indonesia di Tengah Ancaman Proxy War (Analisa Multi Perspektif)”. Dihadiri oleh berbagai pakar, aparat sipil, militer dan Polri, dan sekitar 200 mahasiswa, acara berlangsung di Aula Lantai 9 GKB IV Kampus III UMM, Kamis (27/12). Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. dalam pandangannya menegaskan, dalam menghadapi ancaman proxy war, Indonesia harus memperkuat sektor ekonomi dan produksi. “Selain itu, harus pula mempersempit kesenjangan ekonomi dengan melakukan pemerataan di mana pembangunan tidak hanya fokus di pulau Jawa,” ucapnya. Sementara menurut Dekan FISIP Dr. Rinikso Kartono, M.Si. yang juga pakar keamanan kesehatan, Indonesia ke depan menghadapi ancaman children stunting dan baby fat salah satunya sebagai akibat pola hidup anak-anak masa kini yang lebih senang mengonsumsi fast food. Komandan Korem 083 Baladhika Jaya Kol. Inf. Bagus Suryadi, yang juga hadir menyampaikan pandangannya. Menurutnya, Indonesia saat ini berada di dalam keadaan yang sangat rentan. “Kita tidak bisa berdiam diri melihat apa yang dilakukan oleh negara-negara di sekitar kita, karena setiap negara memiliki kepentingan. Campur tangan asing tidak akan pernah memberikan manfaat, seperti yang terjadi di Timur Tengah,” katanya. Karena itu, menurutnya, yang harus dilakukan adalah membentengi seluruh warga negara Indonesia sehingga memiliki daya tangkal terhadap kepentingan-kepentingan pihak eksternal. Para pakar tersebut menyampaikan pemaparan dan pandangannya terkait isu-isu keamanan kontemporer di antaranya keamanan pangan dan pertanian, keamanan kesehatan, isu lingkungan, politik dan keamanan nasional, media dan teknologi cyber, serta isu Islam dan terorisme dari berbagai perspektif keilmuan. Selain itu, juga digelar Deklarasi Gerakan Indonesia Anti Adu Domba (#Geraiduda) sebagai bentuk komitmen sivitas akademika UMM terhadap segala upaya provokasi dan adu domba untuk memecah belah kesatuan bangsa. Ketua Prodi HI UMM M. Syaprin Zahidi, MA menyampaikan bahwa acara ini merupakan agenda rutin tahunan yang dimaksudkan untuk menunjukkan kontribusi nyata HI UMM pada bangsa. Tambahnya, hal ini sekaligus untuk menjadikan HI UMM sebagai center of excellent dalam kajian-kajian HI kontemporer di Indonesia. (*/usa/mir/can)
PSIF UMM Gelar Dialog Akhir Tahun, Bahas Moderasi Islam di Tahun Politik

MEMASUKI tahun politik, Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (PSIF UMM) menggelar Dialog Akhir Tahun yang bertajuk Moderasi Islam di Tahun Politik Perspektif Kaum Muda Milenial, Kamis (27/12). Gelaran ini sekaligus penganugerahan pemenang lomba menulis artikel bertajuk “Tantangan Muhammadiyah di Era Kekinian”. Gelaran ini dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-106. Asisten Rektor Bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Dr. Abdul Haris, MA. dalam sambutannya mengemukakan, forum bertukar pikiran sangat penting untuk diadakan generasi milenial. “Sebagai generasi muda, kita harus cerdas dalam membaca perkembangan suasana politik agar tidak larut dalam emosi. Selain itu, kita harus bisa menjadi bagian penting untuk meluruskan arah bangsa,” ujar Haris. Pemateri pertama yang sekaligus Wakil Bupati Trenggalek dan Ketua Umum DPW Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Timur, M. Nur Arifin, mengemukakan, kita tidak dapat lepas dari politik. Ia juga mengkorelasikan kejadian saat ini dengan masa lampau, ketika ideologi Marhaenisme Ir. Soekarno dikritik oleh Darwis Thaib dengan Marhamismenya. Keduanya, disebut Arifin, memiliki akar ideologi Islam. Hasnan Bachtiar sebagai pemateri kedua memaparkan beberapa hasil riset mengenai generasi milenial dan media baru. Dari riset yang ia utarakan, faktor utama yang mendorong generasi milenial adalah media baru. Dari munculnya media baru tersebut, lanjut Hasnan, maka munculah bentuk pekerjaan, cara besosialisasi, cara berkomunikasi hingga manusia baru yang kini sering disebut generasi milenial. “Menurut riset, generasi milenial memiliki ciri-ciri tidak terlalu peduli dengan agama. Namun lebih peduli terhadap kesehatan, kasih sayang, keluarga dan lain sebagainya. Sedangkan generasi non-milenial justru sebaliknya,” ungkap pria yang saat ini menjabat sebagai Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan alumni UMM yang baru lulus dari Australian Nasional University (ANU) ini. Sedangkan pemateri ketiga, Pradana Boy ZTF yang merupakan dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM dan Asisten Staf Khusus Presiden menjelaskan secara teoritis dasar-dasar bagaimana orientasi beragama pada saat ini. Ia menjelaskan, pada mulanya setiap orang punya orientasi beragama yang moderat. Karena pengaruh teman, pergaulan dan lingkungan, maka orang itu akan condong ke salah satu orientasi, entah fanatik/konservatif atau permisif/liberal. (iel/can)
Gubernur Pakde Karwo: Pendidikan Vokasi Solusi Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat

PENINGKATAN daya saing melalui pendidikan vokasi merupakan langkah nyata mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hasil survey Forum Bursa Kerja Khusus SMK se Jawa Timur tahun 2018 menunjukan bahwa lulusan SMK yang diterima bekerja di industri sebanyak 64,11%. “Sejalan dengan hasil survey tersebut, BPS mencatat terjadi penurunan pengangguran lulusan SMK dari tahun 2014 sebesar 10,53% menjadi 8,83% pada 2018,” disampaikan Gubernur Jawa Timur, Dr. Dr. (HC) Soekarwo, SH., M.Hum., saat penobatan dirinya sebagai Doktor Honoris Causa, Kamis (27/12). Kebijakan pendidikan vokasi yang Sukarwo lakukan, telah berhasil mendorong struktur pekerja di Jawa Timur lebih berkualitas. Terjadi pergeseran pendidikan tenaga kerja di Jawa Timur, pada tahun 2008 mayoritas pekerja di Jawa Timur (57,79%) merupakan lulusan pendidikan dasar. “Sementara, tahun 2018 mayoritas pekerja Jawa Timur yakni 53,80%, merupakan lulusan pendidikan menengah. Peningkatan kapasitas tenaga kerja Jawa Timur menjadi input yang mendorong prduktivitas,” papar Pakde Karwo yang menerima gelar penghormatan itu dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Produktivitas tenaga kerja di Jawa Timur, sambung Sukarwo, berdampak pada peringkat daya saing daerah, khususnya daya saing Sumber Daya Manusia (SDM). Daya saing SDM Jawa Timur diapresiasi Asia Competitiveness Institute. “Ini menandakan Jawa Timur memiliki SDM yang berdaya saing,” ungkapnya. Peningkatan daya saing melalui pendidikan vokasi berhasil menurunkan angka pengangguran lulusan SMK serta meningkatkan kapasitas tenaga kerja di Jawa Timur, dan berdampak pada produktifitas tenaga kerja sehingga meningkatkan daya saing dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang inklusif. “Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ditopang oleh kinerja yang produktif. Mengingat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil saat ini yang diiringi pemerataan pendapatan, penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, sebagai inkulisivitas pembangunan ekonomi,” jelasnya. Dampak kebijakan peningkatan daya saing melalui pendidikan vokasi mendukung kinerja industri bisa mengungkit pendapatan masyarakat. “Saya perkirakan, jika kebijakan berkelanjutan, dapat menghantarkan Jawa Timur memasuki era pendapatan upper midle income di tahun 2019,” tukasnya. (iel/nis/can)
Penganugerahan Doktor Honoris Causa Pakde Karwo, Rektor UMM: Bukti Kepedulian UMM kepada Pendidikan Vokasi

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Fauzan, M.Pd., menyebut, pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kualitas dan pemartabatan hidup masyarakat, telah lama menjadi tradisi yang dikembangkan Kampus Putih. Hal itu disampaikan Fauzan, saat pidato penganugerahan gelar penghargaan Doktor Honoris Causa kepada Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo, S.H., M.Hum, Kamis (27/12). Penganugerahan ini, lantaran perhatiannya kepada dunia pendidikan vokasi dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur. “Pakde Karwo adalah gubernur yang memiliki komitmen tinggi untuk menyiapkan tenaga terampil dari pendidikan umum, kejuruan dan pondok pesantren, yang berorientasi pada pengurangan kesenjangan antara realitas pendidikan, dengan jenis pendidikan yang tersedia,” ujar Fauzan. Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Pakde Karwo ini merupakan salah satu bentuk kepedulian UMM terhadap pendidikan vokasi di Indonesia. Pendidikan vokasi, kata Fauzan, dimaksudkan untuk menjawab problematika bangsa, khususnya menyiapkan generasi bangsa yg unggul dan berdaya saing. Sebelumnya, UMM sudah banyak melakukan rangkaian pengembangan kualitas pendidikan Vokasi, khususnya di UMM. “UMM sudah merevitalisasi dan mereformulasi sistem penyelenggaraan pendidikan UMM, termasuk program revitalisasi program vokasi,” lanjut Fauzan. “Seiring datangnya era bonus demografi di Indonesia, sudah seharusnya perguruan tinggi terlibat aktif untuk turut serta ikut andil dalam mengantarkan generasi yang dapat hidup layak dan mampu memainkan peran dalam setiap perubahan kehidupan,” papar Fauzan. Penghargaan kepada Pakde Karwo ini, sambungnya, merupakan salah satu ritual akademik dari rentetan panjang pendidikan vokasi yang diselenggarakan UMM. “Program Vokasi ini untuk menjawab problematika bangsa, khususnya menyiapkan generasi bangsa yang unggul dan berdaya saing,” pungkasnya. Sebagai ikhtiar nyata, UMM merancang pendirian Pusat Pendidikan Vokasi (PPV) UMM dengan tagline creating moment, progressing talent. PPV ini nantinya memiliki visi pelopor dalam pemajuan talenta. PPV akan melayani mulai dari masyarakat umum dewasa, anak-anak lulusan SMA/SMK dan juga civitas akademika UMM. “Memberi kesempatan kapan saja dan kepada siapa saja untuk menambah dan meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan sikap sesuai talenta dan minatnya. Sehingga mampu mengambil peluang menjadi pelaku utama dalam Making Indonesia 4.0, seperti yang dicanangkan Presiden Joko Widodo,” terang Fauzan. Untuk mengawali PPV ini, UMM akan membuka 5 sekolah bidang keahlian. Yakni Desain dan Media, TIK dan Elektronika, Bisnis dan Manajemen, Kesehatan dan Hospitality, serta Agribisnis. Kelima sekolah keahlian ini akan dibangunkan gedung seluas 12,5 hektar di wilayah Karang Ploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. “Selanjutnya, jika kelima PPV ini sudah terlihat kemajuannya, UMM tentu akan terus mengembangkan juga menambah sekolah bidang keahlian lainnya yang memang benar-benar dibutuhkan dan sesuai dengan keinginan atmosfer pasar kerja,” pungkasnya. (iel/nis/can)
Gubernur Jawa Timur Pakde Karwo Terima Gelar Doktor Honoris Causa dari UMM

GUBERNUR Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo, S.H., M.Hum. menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (27/12). Gelar tersebut diraih Pakde Karwo, demikian ia dikenal, atas komitmennya dalam pembangunan daerah dan masyarakat Jawa Timur. Utamanya dalam aspek perekonomian selama 2 periode memimpin. Promotor Prof. Dr. Yus M. Cholily, M.Si menerangkan, diterimanya gelar ini didasarkan atas 5 hal. Pertama, prestasi kerja Pakde Karwo dalam bidang pembangunan daerah dan kemasyarakatan di Jawa Timur selama periode 2008 sampai 2018. Kedua, penghargaan prestasi kerja Soekarwo baik nasional maupun internasional yang jumlahnya mencapai 169 penghargaan. Ketiga, prestasi yang luar biasa pada penyelenggaraan pendidikan vokasi di Jawa Timur. Keempat, publikasi karya ilmiah dan karya pembangunan yang telah dipresentasikan dalam forum ilmiah, baik tingkat regional, nasional, maupun internasional. Kelima, dengan terpenuhinya persyaratan pada pedoman pemberian gelar kehormatan di lingkungan UMM. “Atas pertimbangan dan penilaian tersebut, tim Promotor menyatakan bahwa Promovendus atas nama Dr. H. Soekarwo, S.H., M.Hum. dinyatakan layak untuk diberikan gelar doktor kehormatan,” papar Yus dalam pidato pertanggung jawaban tim Promotor di depan sejumlah tamu dan pejabat negara yang hadir. Antara lain, Mendikbud RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menyatakan, pemberian penghargaan kepada tokoh yang dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kualitas dan pemartabatan hidup masyarakat, telah lama menjadi tradisi yang dikembangkan UMM. “Hal ini merupakan salah satu cara kami untuk mengimplementasikan visi yang menjadi semangat, yakni UMM dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” katanya. Penghargaan berupa gelar Doktor Honoris Causa bidang Pendidikan Vokasi Kerakyatan kepada Pakde Karwo ini, sambungnya, merupakan salah satu ritual akademik dari rentetan panjang pendidikan vokasi yang diselenggarakan UMM. “Program Vokasi ini untuk menjawab problematika bangsa, khususnya menyiapkan generasi bangsa yang unggul dan berdaya saing,” paparnya. (iel/nis/can)