Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM Raih Akreditasi A

Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mendapatkan Akreditasi A setelah resmi diumumkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada 20 Desember 2018 lalu. Sebelumnya, Prodi ini sudah pernah mendapatkan akreditasi A pada periode 2008-2013 lalu, dan sempat turun menjadi B. Namun kini akredtitasi A tersebut berhasil didapatkan kembali. Puji Sumarsono, S.Pd., M.Pd., Sekretaris Prodi Bahasa Inggris mengatakan, kerja keras Prodi untuk mendapatkan akreditasi ini sebenarnya merupakan keinginan semua civitas akademika. Banyak penilaian dari BAN-PT yang mendasari mereka memberikan akreditasi A pada program studi yang memperoleh ijin penyelenggaraan sejak 9 Maret 1984 ini. Setidaknya ada 7 aspek yang dinilai dalam proses akreditasi kemarin. “Yakni visi misi, tata kelola dan pamong, kemahasiswaan, Sumber daya manusia, Kurikulum, Sarana dan Prasarana, Penelitian pengabdian dan kerjasama,” papar Puji. Dilanjutkan Puji, pihak BAN-PT bersama para asesornya telah beberapa kali turun lapang untuk menilai apakah Prodi Bahasa Inggris UMM benar-benar bisa mendapatkan akreditasi A. Menurut Puji, kedepannya Prodi Bahasa Inggris UMM akan terus melakukan perkembangan-perkembangan agar mereka bisa mempertahankan akreditasi yang mereka dapatkan ini. “Di antaranya memperluas partner perguruan tinggi di luar negri untuk pertukaran dosen dan mahasiswa, serta berupaya untuk mendapatkan akreditasi tingkat internasional,” terang Fuji. Fasilitas perkuliahan mahasiswa juga tidak luput dari perhatian Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM. Prodi ini akan menambahkan beberapapa mata kuliah khusus dan menjadikan 3 mata kuliah. “Mata kuliah ini awalnya hanya diambil oleh mahasiswa sesuai dengan konsentrasinya. Lantas, dijadikan mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa yaitu English for Young Learners (EYL), Business English, dan Translations,” jelasnya. (gan/can)

Setahun Walikota Batu, Sosiologi UMM Gelar Dialog dengan Masyarakat

MENYIKAPI satu tahun masa jabatan Walikota Batu, Dewanti Rumpoko, Program Studi (Prodi) Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar dialog di Balai Desa Junrejo, Kota Batu, Selasa, (25/12). Agenda yang dihadiri berbagai kalangan masyarakat seperti aktivis penggiat Kota Batu, Karang Taruna dan Mahasiswa ini, membahas berbagai masalah yang harus diperhatikan Dewanti. Masyarakat menganggap banyak kebijakan Walikota yang dinilai bakal memberi dampak buruk di masa mendatang. Salah satunya Aris, warga Kota Batu. “Pembangunan pariwisata sekarang semakin tidak terkontrol. Ini bakalan berdampak ke depannya. Jangan hanya karena investasi, nilai-nilai ekologis dikesampingkan oleh pemerintah,” ungkapnya. Selain itu, hasil penelitian yang disampaikan mahasiswa Sosiologi UMM,  juga menunjukan banyaknya masalah di Kota Batu. Mulai dari pelayanan umum, pendidikan bagi masyarakat miskin, dan lapangan pekerjaan. Paparan hasil penelitian Diah Astriani sebagai penyaji mengungkapkan, masyarakat Kota Batu yang bekerja di industri pariwisata, hanya mencapai 20-30%. Keadaan tersebut dianggap karena standar Sumber Daya Manusia yang belum mumpuni. “Hal tersebutlah yang membuat masyarakat Batu justru mengalami kesulitan dalam ekonomi. Lahan pertanian mereka sudah berubah menjadi bangunan beton, dan sekarang sulit cari pekerjaan,” ungkapnya. Dari forum ini menelurkan 3 rekomendasi. Yakni masyarakat perlu berpartisipasi dan mendorong pemerintah untuk mengedepankan masyarakat kecil, memberi perhatian lebih pada UMKM, serta bantuan dana desa.(*/can)

Perkuat Branding Makanan Khas Gresik melalui Food Photography

MAHASISWA Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan acara Workshop Food Photography di kelurahan Sukodono Gresik, Minggu (23/12). Bretya Pati Anoraga, owner @takeafood_foodphotography didaulat menjadi pemateri dalam acara kali ini. Peserta workshop dari beberapa komunitas dan blogger di Gresik melakukan praktek foto aneka makanan tradisional. Aan, demikian disapa, berencana membuat revolusi besar dalam dunia ekosistem fotografi makanan. Yakni mengajak fotografer muda yang punya minat di bidang ini untuk bergabung. Aan membagikan kiat-kiat dasar memotret makanan tradisional Indonesia. Secara khusus makanan khas Gresik. Menurutnya, seorang food fotografer membutuhkan ‘cerita’ agar foto tampak lebih hidup. Selain itu, agar tampilan makanan menarik, seorang fotografer harus dapat menyesuaikan tata pencahayaannya. Izdihar Fakhriyah, ketua pelaksana program ini menyatakan, salah satu tujuan diadakannya program ini adalah untuk menyiapkan peserta, utamanya anak muda kelurahan Sukodono dalam menghadapi program Discover Gresik. “Gresik inginnya tidak hanya dikenal sebagai Kota Industri. Namun juga tetap dikenal melalui makanan khasnya. Seperti pudhak, otak otak, jenang ayas, dan lain sebagainya,” jelas mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM ini. M. Ajib salah satu peserta mengungkapkan, banyak hal baru yang didapat dari workshop ini. Terlebih untuk orang awam. “Acaranya menginspirasi dan mengedukasi kami yang baru mengenal food photography,” ujar anggota Karang Taruna Sukodono ini. Diadakannya workshop food photography sebagai bagian dari rangkaian garapan Mega proyek Discover Gresik. Yakni, program merancang 5 kawasan menjadi destinasi bernilai kemanfaatan sosial yang diintegrasikan melalui praktikum peminatan Public Relations Prodi Ilmu Komunikasi UMM. Desa Kramat Inggil melaui konsep Eco Green Village, Kelurahan Kemuteran melalui konsep Night Market, Kelurahan Kroman melalui konsep Wisata Pelabuhan, Kelurahan Penelingan melalui konsep Cultural and Heritage, serta Kelurahan Sukodono melalui konsep Sentra Kuliner. (*/can)

Adakan Kompetisi Public Speaking, Dijuri Langsung Jurnalis Profesional Kompas TV

DALAM DUNIA KERJA, kemampuan public speaking atau berbicara di depan umum sudah menjadi seperti kebutuhan primer. Hampir di setiap bidang kerja, sangat memerlukan kompetensi satu ini. Menyadari hal itu, Program Studi D-III Keuangan dan Perbankan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Public speaking Competition for D-III Finance and Banking di  Aula GKB IV UMM, Kamis (20/12). Kepala Laboratorium Bank Syariah Prodi D-III Keuangan dan Perbankan, Eris Tri Kurniawati, S.E., M.M., Ak. menyatakan, program studi vokasi D-III Keuangan dan Perbankan 70% mata kuliahnya merupakan matakuliah praktek. “Keterampilan Public speaking merupakan salah satu penunjang yang sangat penting dari seluruh matakuliah praktek itu. Karena pada level profesional, lulusan D-III keuangan dan perbankan akan dituntut memiliki kecakapan ini,” terang Eris. Kategori yang dikompetisikan yakni Speech Competition, Presenter, Master of Ceremony dan Moderator. Keempat kategori tersebut juga dibagi kembali menjadi kategori Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Salah satu juri kompetisi, yang juga merupakan Video Jurnalis dan Reporter Kompas TV, Shinta Maulidya, mengaku terkejut dengan kualitas dari seluruh peserta di setiap kategori lomba. “Untuk menguasai Public speaking memang memerlukan waktu dan latihan yang cukup intensif. Terlebih lagi, untuk mahasiswa yang tidak memiliki dasar keilmuan Jurnalistik maupun Ilmu Komunikasi, akan lebih memakan waktu,” kata Shinta. Public speaking, sambung Shinta, tidak hanya identik dengan mahasiswa Jurnalistik dan Ilmu Komunikasi saja. Karena memang faktanya di lapangan, kemampuan Public speaking sangatlah penting. Salah satu peserta, Lila Denayu Yustian, merasa sangat senang dengan adanya kompetisi Public speaking sebagai rangkaian akhir mata kuliah ini. Menurutnya, ini bisa menjadi salah satu motivasi bagi mahasiswa untuk lebih kompetitif. “Kemampuan public speaking yang saya peroleh di bangku perkuliahan juga harus diimbangi dengan praktek agar lebih berdampak besar kepada kemampuan public speaking saya,” jelasnya. (iel/can)

Perkuat Toleransi Antar Umat Beragama, Mobil KaCa UMM Sambangi Yayasan Bunda Teresia Batu

RAMAINYA berbagai persoalan yang menyinggung masalah toleransi antar umat beragama, menjadi perhatian khusus tim Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, Mobil KaCa sambang dan sharing program di Yayasan Bunda Teresia Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (20/12). “Bagi kami, kunjungan kali ini terbilang istimewa. Biasanya Mobil KaCa hanya sambang ke tempat-tempat notabene masyarakat Muslim. Kali ini, tim Mobil KaCa memutuskan untuk sambang ke wilayah yang cakupan lebih luas. Karena literasi milik semua kalangan,” terang koordinator tim, Maharina Novia Zahro. Bagaimanapun, sambung Maharina, konflik yang belakangan terjadi, diakibatkan kurangnya interaksi juga dialog dengan kelompok yang dianggap berbeda. Mobil KaCa UMM, disebut Maharina, menjadi sarana edukatif dan tepat untuk menyemai nilai-nilai toleransi. Yakni dengan mengajarkannya sejak dini. Hadir dengan membawa konsep literasi, anak-anak yang berada di sana merasa terhibur dan senang. Pasalnya, anak-anak bukan hanya disuguhkan buku bacaan, namun di sana diajari tentang cara mengolah degradasi warna dengan pensil gambar. Serta, bergembira bersama melalui kegiatan outbound. “Kami tak pernah ragu untuk berjumpa dengan pembaca baru sekalipun anak kecil. Apalagi mereka yang tidak suka membaca. Kami yakin, mereka hanya belum menemukan buku yang ia senangi saja. Jadi kedatangan kami hanyalan membantu mereka menemukan buku yang disukai,” lanjut Maharina. Gabriel contohnya, anak berusia 8 tahun ini mengaku sangat menyukai permainan Bola Shegy. Bersama teman-temannya, dia saling berebut bola dalam salah satu sesi outbond ini. “Seneng banget main bola, tapi capek rebutan sama temen,” ungkapnya polos. Lutfi Nurul Rosyidah sebagai triner, memilih permainan ini karena merasa cukup efektif mengasah konsentrasi dan ketangkasan. “Setiap ada kata Shegy, peserta harus waspada. Karena mereka harus mencari ke mana arah bola yang sudah saya lempar lalu menangkapnya,” terang mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi ini. Sementara, Tintrim Rahayu, pengurus Yayasan yang dihuni oleh anak yatim, cacat dan terlantar ini mengaku senang dengan kedatangan Mobil Kaca. “Kegiatannya sangat bermanfaat. Saya sangat senang melihat mereka senang membaca dan senang dengan berbagai kegiatan yang diadakan seperti ini,” akunya. (rin/can)

Kejuaraan ESports di UMM Jadi Wujud Dukungan Perkembangan Cabang Olahraga Baru

MESKI belum begitu populer, cabang olah raga (cabor) satu ini justru tengah naik pamor. Olah raga elektronik atau electronic sports (ESports), dulu hanya jadi sarana hiburan, kini berubah jadi cabor yang diperlombakan secara resmi. Salah satunya adalah pada gelaran ASIAN Games 2018 yang resmi memasukkan ESports sebagai salah satu cabang olahraga. Demikian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan dukungannya pada cabor ini. Event pertama kali yang dikolaborasikan dengan Tencent dan Tora Bika, menghelat PUBG Campus Championship Indonesia, Kamis (20/12) siang di Aula GKB IV UMM. Game PUBG sendiri sekarang tengah banyak digandrungi. Meski berstatus exhibition, atau tak masuk dalam daftar kontingen pemenang, ajang ini tak sepi peminat. Hal tersebutlah yang mendorong Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) UMM untuk menyelenggarakannya. Kejuaraan ini diselenggarakan secara serentak di 40 Perguruan Tinggi di Indonesia. Di UMM sendiri, hanya dalam kurun 28 jam dibukanya pendaftaran, sudah ada 112 tim yang mendaftar. Padahal kuota bertanding hanya 20 tim. BEM-U sampai harus melakukan seleksi untuk merampingkan pendaftar menjadi 20 tim saja. Di Kota Malang sendiri, ada empat Perguruan Tinggi yang terlibat, yakni UMM, Polinema, Universitas Brawijaya dan UM. Tim yang menang akan mendapatkan Grand prize sebesar lima juta rupiah. Nantinya, tim yang melampaui skor rata-rata akan berangkat mewakili UMM ditingkat Nasional. Serta, berhadapan dengan perguruan tinggi lain. Presiden Mahasiswa UMM, Ainur Rifqi Alhamdani Rahmat menyatakan, “Ini adalah wujud kami mendukung perkembangan E-Sports di Indonesia,” katanya. Ia takjub, sambungnya, dengan antusias para peserta. Terakhir, Rifqy mengajak untuk menyikapi ESports dengan bijak dan menjadikannya sarana prestatif bukan sekedar rekreatif. Lewat kejuaraan ini, masyarakat tak lagi memandang sebelah mata para pemainnya. (mir/can)

DPR RI Komisi VII Puji Kepeloporan UMM sebagai Kampus Hemat Energi

Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (19/12). Kegiatan itu dalam rangka reses Komisi VII DPR RI.   Ditunjuknya UMM sebagai tuan rumah Kunker, disebut Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Ridwan Hisjam, tak lepas dari kepeloporannya mengusung konsep kampus hemat energi. Yakni adanya 2 Pembangkit Listrik Tenga Mikro Hidro (PLTMH) Mitra Kerja Komisi-Komisi DPR RI Masa Keanggotaan Tahun 2014-2019 yakni Energi, Riset dan Teknologi, dan Lingkungan Hidup. “Dipilihnya UMM untuk kunjungan kerja ini karena kepeloporannya pada energi baru-terbarukan,” jelasnya. Sebagai kampus yang dikenal dengan predikat pelopor energi baru-terbarukan (EBT), kehadiran 2 Pembangkit PLTMH telah mengantarkan diraihnya Asean Energy Award untuk pertama kalinya di tahun 2009.  Di tahun 2018, tepatnya Oktober lalu, melalui Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) UMM juga meraih penghargaan yang sama. UMM dianugerahi sebagai 2nd Runner-up sub kategori bangunan tropis (tropical building). “PLTMH milik UMM tidak hanya digunakan sebagai laboratorium terapan bagi civitas akademika UMM sendiri, tapi juga digunakan perguruan tinggi lain sebagai sumber belajar mahasiswa,” sebut Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. Setelah mendengar jajak pendapat dan aspirasi dari mitra kerja Komisi VII DPR RI juga pergurun tinggi Malang Raya, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi 2 PLTMH yang berada di lingkungan Kampus III UMM. (*/can)

Ini 5 Kualifikasi Dosen di Era Revolusi Industri 4.0 Menurut Komisi VII DPR RI

Di era revolusi industri 4.0, profesi dosen semakin kompetitif. Pada era ini Dosen memiliki tuntutan lebih, baik dalam kompetensi maupun kemampuan untuk melakukan kolaborasi riset dengan berbagai pihak tingkat dunia. Demikian disampaikan Ridwan Hisjam, Wakil Ketua Komisi VII DPR di acara Kunjungan Kerja Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi VII di Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (19/12).  “Kondisi Dosen Indonesia saat ini sendiri masih didominasi oleh generasi baby boomers dan generasi X yang merupakan digital immigrant. Sementara mahasiswa yang dihadapi merupakan generasi millennial atau digital native,” katanya. Sehingga, dipaparkan Ridwan, setidaknya terdapat lima kualifikasi dan kompetensi dosen yang dibutuhkan di era revolusi industry 4.0. Pertama, educational competence, kompetensi berbasis Internet of Thing sebagai basic skill di era ini.  Kedua, competence in research, kompetensi membangun jaringan untuk menumbuhkan ilmu, arah riset, dan terampil mendapatkan grant internasional. Ketiga, competence for technological commercialization.  “Dosen harus punya kompetensi membawa grup dan mahasiswa pada komersialisasi dengan teknologi atas hasil inovasi dan penelitian,” terangnya di depan sejumlah rektor dan pimpinan perguruan tinggi Malang Raya.  Keempat, competence in globalization, dunia tanpa sekat. Yakni dosen dituntut tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan national problem.  Serta, yang terakhir atau kelima. competence in future strategies. Di mana dunia mudah berubah dan berjalan cepat. “Sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya,” pukasnya.  Dilanjutkan Ridwan, berbagai upaya yang bisa dilakukan di antararanya dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-publication, joint-lab, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s dan industri, dan lain sebagainya. (*/can)

Gandeng UMM, LLDikti Bina Kemahasiswaan 37 Perguruan Tinggi untuk Hadapi Industri 4.0

LEMBAGA Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengumpulkan 37 perguruan tinggi di Jawa Timur, dalam rangka membina Kemahasiswaan Perguruan Tinggi dalam menghadapi Industry 4.0.  Melaui Pelatihan Pemandu Orientasi Pengembangan Pendamping Kemahasiswaan (PP-OPPEK), terdapat empat poin tujuan yang ingin dicapai  PP-OPPEK yang dikumukakan Widyo.  Pertama, Pimpinan Universitas dan Dosen mampu membimbing para Mahasiswa untuk dalam menghadapi industry 4.0. Kedua, pimpinan Perguruan Tinggi dan dosen mampu mendidik mahasiswa menciptakan SDM yang berkualitas serta adaptif.  Ketiga, Kemahasiswaan di setiap Perguruan Tinggi mampu berkreativitas di berbagai bidang. “Keempat, seluruh Perguruan Tinggi yang berkumpul mampu menjalin sinergi untuk bekerja sama di berbagai bidang,” tukasnya.  “Selama pembinaan dilakukan, seluruh perumusan kebijakan tergantung dengan kreativitas universitas masing-masing,” tutur Dr. Widyo Winarso, M.Pd. selaku Sekretaris Pelaksana LLDikti Wilayah VII.  Widyo menjelaskan, tidak ada pakem yang bisa ditetapkan untuk menentukan sistem kebijakan Kemahasiswaan. Hal ini dikarenakan budaya setiap universitas berbeda. Kebijakan harus disesuaikan universitas masing-masing.  Sementara, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Wakil Rektor I UMM menyampaikan, penting sekali untuk memahami era Industry 4.0. Menurut Syamsul, sekarang para pengajar bisa kalah paham dengan mahasiswa dalam memahami era industry 4.0.  Para pengajar, sebut Syamsul, sangat perlu untuk memahami era Industry 4.0 agar bisa menjadi pembimbing bagi mahasiswanya. “Mahasiswa tidak hanya diajarkan hardskill saja seperti dahulu, tapi sekarang soft skill juga penting,” tandasnya.  Acara itu dilaksanakan 3 hari di Hotel Royal Orchids Garden, Senin (17/12) sampai Rabu (19/12). Dengan pembinaan ini, diharapkan mahasiswa di masing-masing perguruan tinggi bisa berkembang sesuai dengan zamannya, yaitu era Industry 4.0. (usa/can)

Begini Islam Memandang Hak Asasi Manusia

BERBICARA tentang kondisi Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia selalu menjadi perdebatan yang menarik. Pasalnya, menegakkan dan memenuhi HAM untuk 265 juta penduduk Indonesia selalu menemui kondisi ketimpangan. Tahun ini saja, Komisi Nasional (Komnas) HAM diberikan rapor merah oleh masyarakat. Hal tersebut berkaitan dengan semakin maraknnya kasus-kasus ketimpangan sosial yang berimbas pada tidak ditegakkannya HAM. Disamping itu, HAM menjadi menarik jika dikaji melalui perspektif Islam. HAM, disebut sebagai sebuah hak yang sudah dimiliki oleh setiap individu sejak ruh yang tertanam pada dirinya dianugerahkan oleh Allah SWT. “Sesungguhnya manusia diciptakan dengan mewarisi sifat-sifat ketuhanan, namun Tuhan memberikan pilihan (hak, red.) padanya,” papar Prof. Dr. Ishommudin, M.Si pada Seminar Nasional HAM BEM UMM, Senin (17/12). Lebih lanjut, Ishomuddin memaparkan bahwa HAM pada setiap individu bersumber pada hati masing-masing. Saat hati tidak merasa puas akan apa yang terjadi, khususnya pada fisik manusia, maka hal itu diungkapkan sebagai pelanggaran HAM. “Manusia itu lupa, bahwa mereka sejak diciptakan telah dianugerahi sifat selalu ingin memuaskan diri dan tamak. Sifat tersebut akan menjadi liar jika tidak dikendalikan oleh logika,” kata Ishomudin. Islam sendiri secara utuh telah mengajarkan bagaimana menerapkan HAM dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan perbedaan yang kemudian dihargai adalah bentuk ditegakkannya HAM. Tak berhenti di situ, sambung Ishomudin, penegakkan HAM dapat dimulai dengan memutuskan dan memusnahkan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma dalam kehidupan bersosial, yang membawa keburukan bagi kehidupan sosial. “Menghargai perbedaan dan memerangi yang zalim sebenarnya adalah hal yang mudah untuk dilakukan oleh setiap umat sebagi seorang individu,” tutup Ishomudin dalam pemaparan yang dihadiri mahasiswa berbagai jurusan ini. Hadir pembicara lain Haris Azhar, Direktur Eksekutif Lokataru Foundation dan Rocky Gerung, Peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D). Kedua tokoh ini juga memprovokasi mahasiswa untuk lantang menyuarakan kebenaran. (nis/can)