PPG UMM Lepas Kelulusan 52 Mahasiswanya dengan Gelaran Pentas Seni-Budaya

PROGRAM Studi (Prodi) Profesi Pendidikan Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menggelar Pentas Seni dan Budaya di Auditorium BAU, Senin (10/12). Acara itu merupakan perpisahan 52 orang mahasiswa PPG dari Program Studi (Prodi) Matematika dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Trisakti Handayani, Kepala Prodi PPG menyampaikan rasa bahagia, sedih sekaligus haru kepada mahasiswa PPG yang kini menyelesaikan studinya. Pasalnya, waktu sepuluh bulan dirasi berlalu begitu cepat. Mulai dari masa orientasi, hingga uji pengetahuan telah dilalui mereka dengan cukup baik. Namun, perpisahan bukan berarti isyarat tanpa kembali, karena mahasiswa PPG telah menjadi bagian dari sivitas akademi UMM. “Banyak kenangan yang telah menjadi bagian dari hidup adik-adik PPG. Teruslah ingat motto Kampus Putih ini,  yaitu dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” ucap Yani Handayani. Poncojari Wahyono, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengatakan, acara gelaran seni-budaya dan pameran ini turut mendukung visi FKIP UMM, yaitu menjadi fakultas terkemuka dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berdasarkan nilai-nilai Islam. Salah satunya melalui seni dan budaya. Menurutnya, dunia akademik tidak bisa dipisahkan dari seni. Oleh karena itu, ia sangat mengapresiasi upaya mahasiswa PPG yang telah menyelenggarakan acara tersebut. Dalam pidatonya, ia menghimbau kepada mahasiswa PPG agar selalu menjaga almamater Jas Merah Kampus Putih layaknya menjaga saudara sendiri. Peserta, selain diminta menampilan tarian asal mereka mengabdi, juga mengadakan pameran dengan menyediakan beragam panganan serta benda khusus yang dibawanya dari hasil mengabdi.  Beberapa daerah yang diadakan pameran yakni Papua, Kalimantan Barat, NTB, NTT, Maluku dan wilayah lainnya di Indonesia. Dipesankan Rektor UMM, Dr. Fauzan, M Pd., guru haruslah menciptakan suasana yang menyenangkan. “Jika di dalam kelas, kehadirannya selalu di nanti. Murid-muridnya selalu senang, bukan sebaliknya,” ucapnya sekaligus membuka acara di hadapan sejumlah kepala sekolah dan guru di Kota Malang yang hadir siang itu. Program PPG di UMM terbagi dalam dua jenis, yaitu PPG Bersubsidi dan PPG Mandiri. PPG Bersubsidi ialah PPG yang mendapat bantuan pembiayaan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dari pemerintah. Sementara itu, PPG Mandiri ialah PPG yang menggunakan pembiayaan pribadi peserta. (nda/can)

Ini Kunci Hadapi Tantangan Pendidikan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) menguraikan, pendidikan tinggi pada era Revolusi Industri 4.0 seperti saat ini, harus memperhatikan lima aspek. Di antaranya persiapan sistem pembelajaran, rekonstruksi kebijakan, persiapan sumber daya manusia, terobosan dan pengembangan dalam riset, dan ionvasi dalam ekosistem riset. Dalam pengaplikasiannya, Program Studi (Prodi) Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan (MKPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah menerapkan beberapa kegiatan yang mendukung. Di antaranya adalah pembinaan dan kolaborasi bersama Prodi di luar UMM yang berada pada lingkup di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). “Pada dasarnya kita juga ingin terus maju dan terus bekembang, salah satu langkah yang dapat kita lakukan adalah dengan menggandeng prodi lain dari beberapa PTM untuk bersinergi bersama kita,” terang Dr. Agus Tinus, M.Pd., Kepala Prodi MKPP UMM. Hal ini disampaikan dalam Seminar Nasional Pendidikan yang diselanggarakan UMM bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah (UM) Metro Lampung. Salah satu pembicara, Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si. menjelaskan, pendidikan sebagai suatu hal yang dinamis diharapkan selalu menjadi solusi untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pada era di mana teknologi menjadi kebutuhan primer, pendidikan juga harus melahirkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar. “Akan ada konsekuensi dalam pemahaman konsep dan model pembelajaran yang baru. Konsekuensi tersebut berhubungan dengan sistem yang harus terkini,” katanya. Ishomuddin lantas membahas karakteristik pembelajar pada era yang menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Salah satu yang sangat nampak adalah budaya berkolaborasi. Saat ini generasi milenial lebih mengutamakan kecepatan dan ketepatan, dan kolaborasi merupakan jawaban untuk mengingkatkan produktivitas. “Kita bisa melihat kalau saat ini kerjaan milenial adalah berkumpul. Mereka pergi ke café itu karena suka berkolaborasi,” ungkapnya. Selanjutnya, tantangan pendidikan perguruan tinggi adalah rekonstruksi kurikulum yang responsif terhadap revolusi industri. Seperti mendesain ulang kurikulum dengan pendekatan human digital dan keahlian berbasis digital. Sejalan dengan hal tersebut, Program Studi MKPP UMM telah memulai dengan berbagai kegiatan belajar berbasis digital. “Kami sudah menyusun kurikulum yang sudah sangat sesuai dengan kebutuhan pada era industrialisasi ini. Utamanya dalam hal digitalisasi proses belajar mengajar,” pungkas Agus. (nis/can)

Universitas Muhammadiyah-MDMC Prakarsai Perumusan Standardisasi Penanganan Psikososial Darurat Bencana

FAKULTAS Psikologi (FPsi) Universitas Muhammadiyah se-Indonesia berkolaborasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menggelar Lokakarya Nasional Kesehatan Jiwa dan Dukungan Psikososial untuk Situasi Darurat. Bertempat di Kapal Garden Hotel Sengkaling. Lokakarya itu membahas standardisasi penanganan psikososial bagi penyintas bencana alam. Hal tersebut ditengarahi sejauh ini, belum ada penyamaan penanganan atau standard. “Kami mencoba membuat panduan agar penanganan yang dilakukan bisa seragam,” jelas Zainul Anwar, S.Psi, M.Psi, Wakil Dekan III Fapsi UMM. Hasil Lokakarya tersebut akan berupa panduan, baik untuk relawan psikososial maupun para penyintas. Selain itu, juga nanti akan didiskusikan bersama-sama terkait dengan leveling untuk para relawan, semisal basic, intermediate dan advance. “Jadi yang Advance ini nanti orang yang sudah selalu siap diterjunkan ketika ada bencana,” tutur Zainul. Indonesia adalah Negara yang berada di wilayah rawan bencana. Sudah pasti para penyintas rawan mengalami trauma. Penanganan secara psikososial tentu menjadi salah satu cara untuk menyembuhkan trauma tersebut. “Karena, orang-orang (penyintas, red) akan menjalani kesehariannya lagi pasca bencana, maka traumanya harus perlahan-lahan disembuhkan,” tambah Zainul saat diwawancarai Sabtu (8/12). Sebelumnya, FPsi UMM telah menerjunkan tenaga-tenaga psikososial terbaiknya untuk memulihkan trauma penyintas bencana di Lombok dan Palu. UMM sudah berkontribusi melalui Laboratorium Psikologi Terapan (LPT) Psikososial Fapsi UMM, sejak tahun 1998. Lokarya diikuti seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia. (mir/can)

Islamic University in Uganda Belajar Tata Kelola Perguruan Tinggi ke UMM

Wakil Rektor Islamic University in Uganda (IUIU), Ismail Simbwa Gyagenda, berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (7/12) kemarin. Kunjungan ini bertujuan mengulik rahasia UMM memajukan universitasnya. Lawatan ini diterima langsung Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. Ismail mengeluhkan IUIU yang kekurangan sumber dana dan pengajar. Satu-satunya sumber dana yang diperoleh IUIU dari SPP Mahasiswa. “Kami hanya mempunyai 9.000 Mahasiswa, kebanyakan dari mereka juga tidak mampu. Maka kami kesulitan untuk bertahan,” jelas Ismail. Dijelaskan Ismail, IUIU adalah satu-satunya universitas Islam di Uganda. Sehingga, perhatian Pemerintah kepada IUIU sangat minim. Dana bantuan juga jarang datang. Untuk diketahui, peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Uganda hanya berada di urutan 157 dari 182 negara. “Di UMM Mahasiswa hanya membayar empat juta saja tiap semesternya,” jelas Fauzan yang membuat terkejut Simbwa karena dinilai teramat murah. Namun begitu Fauzan menjelaskan, 4 juta sudah terbilang mahal, dikarenakan biaya hidup di Indonesia yang cukup murah. Namun, Fauzan menyatakan bahwa Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bisa ditekan karena UMM banyak memiliki unit bisnis. Pemasukan dari unit bisnis ini yang nantinya digunakan untuk meringankan biaya operasional perguran tinggi. Selain itu, unit bisnis milik UMM juga dijadikan laboratorium terapan bagi mahasiswa. Fauzan juga menjelaskan bahwa UMM sedang membuka banyak beasiswa untuk negara berkembang. “Di tahun ini ada 300 Mahasiswa asing yang belajar di UMM, sebagiannya melalui beasiswa,” ujar Fauzan. Fauzan menyatakan, secepatnya akan dibuka beasiswa sampai Afrika, sehingga IUIU bisa bergabung. Selain menawarkan beasiswa di masa depan, Fauzan memberi jalur kerjasama dengan rekan kerja sama UMM. Seperti Erasmus Mundus dan Darmasiswa. “Pertemuan ini merupakan awal dari kerja sama kedua belah pihak untuk saling membangun bangsa melalui pendidikan,” tandasnya. (usa/can)

Tahun 2035 Dunia Krisis Pangan, Begini Kata Dekan Pertanian-Peternakan

“Tahun 2035, di seluruh dunia akan terjadi krisis pangan,” kata Dekan Fakultas Pertanian Peternakan UMM, Dr. Ir. David Hermawan, MP., IPM, Kamis (6/12). Hal ini terjadi, disebabkan pertumbuhan penduduk yang begitu pesat. Pertumbuhan ini, sebut David, tidak seimbang dengan ketersediaan pangan, energi, dan air di dunia. Meski begitu, sambungnya, dikatakan beberapa kalangan Indonesia tidak sampai terdampak bencana ini. “Tapi Indonesia, merupakan negara yang siap menghadapi krisis ini. Karena kita mempunyai geografis yang bagus dengan cadangan air yang banyak dan tanah yang subur,” lanjut David. Hal itu disampaikan David saat pelatihan bagi analis kredit Bank Nasional Indonesia (BNI). Pelatihan ini sebagai upaya untuk peningkatan keterampilan dalam pembiayaan di bidang Pertanian dan Peternakan. Utamanya, berharap agar penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tepat sasaran. David mengatakan, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang siap berperan dalam krisis pangan di masa depan. Hal ini, lanjut David, lantaran FPP UMM mempunyai program studi di seluruh sektor pangan yaitu, Peternakan, Pertanian, Perikanan, serta Kehutanan. “Yang minta pelatihan kepada kita itu bukan hanya Bank BNI saja. PT. Aqua juga pernah tentang perikanan. (Unit Pembangk Listrik Tenaga Uap, red.) Paiton juga pernah minta pelatihan tentang peternakan dan perikanan untuk pegawai yang akan pensiun,” papar David. Pelatihan semacam ini, menurut David, sangat penting untuk menyiapkan para pemangku kepentingan, termasuk petani dan peternak dalam menghadapi krisis. Menurutnya, di masa sekarang ada tiga sektor yang paling penting untuk digarap yaitu pendidikan, pangan, dan kesehatan. Di aspek mutu pendidikan, sejumlah program studi UMM telah memperoleh akreditasi A. Juga mempercepat proses sejumlah Prodi yang masih tertinggal. Disamping itu, pihaknya juga akan mengembangkan Prodi yang terekognisi oleh lembaga akreditasi internasional. UMM sendiri, sebut Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si yang membidangi akademik, memiliki 3 Prodi terekognisi Asean University Network-Quality Assurance (AUN QA). Yakni Prodi Manajemen, Pendidikan Biologi dan Peternakan. Sejumlah Prodi lainnya bakal segera menyusul. Kinerja penelitian dan publikasi jadi sorotan tersendiri. Utamanya publikasi di jurnal internasional bereputasi. Syamsul mengaku telah memiliki skema pembinaan serta pengembangan khusus agar dosen bisa mempublikasikan artikelnya di jurnal internasional bereputasi. “Tak kalah penting,” tandas Syamsul, “prestasi kemahasiswaan juga tolok ukur yang tidak boleh tertinggal. Dari sekian (strategi) itu, kita punya modalitas untuk terus kita kembangkan.” Tak heran, UMM kian dilirik banyak kalangan untuk diajak kerjasama. (usa/can)

Tambah Prodi Binaan, Pascasarjana UMM Teken MoU dengan UM Metro Lampung

MENJAWAB perkembangan dan tuntutan jaman terhadap pendidikan tinggi, Direktorat Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka lebar pintu kerjasama pembinaan dan kolaborasi antar pascasarjana perguruan tinggi. Khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Disampaikan, Direktur Pascasarjana UMM Akhsanul In’am, Ph.D., dibukanya kerjasama antar pascasarjana di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah ini bertujuan untuk mengembangkan potensi masing-masing perguruan tinggi. Ikhtiar itu juga, sambung In’am, ditujukan guna mendukung PTM agar terus menciptakan inovasi. “Intinya, semua bentuk kerjasama ini kita jalin untuk mengembangkan kedua lembaga pendidikan yang terlibat di dalamnya,” terang In’am. Langkah ini merupakan upaya Direktorat Pascasarjana UMM dalam membantu pengembangan model pendidikan tinggi di PTM. “Pada prinsipnya, pembinaan ini kita lakukan untuk saling membantu perkembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di PTM,” tambah In’am. Menambah formasi, Universitas Muhammadiyah (UM) Metro Lampung menjadi universitas kedelapan yang bergabung pada program pembinaan dan kolaboarasi yang diinisiai Pascasarjana UMM. Permulaan kerjasama program pembinaan antara UMM dan UM Metro Lampung  ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada acara Seminar Nasional Pendidikan, Jumat (7/12) siang. Diwakili Ketua Program Studi Pascarjana Manajemen Pendidikan M. Ihsan Dacholfany, diharapkan MoU ini dapat menghasilkan produk yang dapat mendukung perkembangan program studi kedua belah pihak. “Kami berharap, MoU yang kami lakukan dengan pascasarjana UMM ini dapat menghasilkan produk-produk pengembangan bagi program studi kami,” ungkap Ihsan. Sebelumnya, Direktorat Pascasarjana UMM telah bekerjasama dengan 7 pascasarjana PTM seluruh Indonesia, yakni UM Palu, IKIP Maumere, STKIP Muhammadiyah Alor, UM Palangkaraya, UM Sumatera Utara, UM Kupang, dan UM Purwokerto. (nis/can)

Rawuh di UMM, Dubes Ikrar Nusa Bhakti Beri Gambaran Hubungan Baik Tunisia-Indonesia

SEBAGIAN besar masyarakat yang menggeluti bidang Sosial dan Politik tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Ikrar Nusa Bhakti. Profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini merupakan sosok peneliti dari Pusat Penelitian Politik LIPI dan juga sosok pengamat politik yang dikenal luas di Indonesia. Kamis (6/12), Ikrar, yang kini menjadi Duta Besar (Dubes) Indonesia di Tunisia hadir sebagai narasumber dalam Kuliah Tamu bertajuk “Politik Tunisia dan Hubungan Diplomatik dengan Indonesia” di Auditorium BAU, Universitas Muhammadiyah Malang. Ikrar menyapa civitas akademika UMM, “Hubungan Indonesia dengan Tunisia sangat penting setelah Kebangkitan dunia Arab, seperti Tunisia melihat Indonesia sebagai contoh demokrasi di negara mayoritas Muslim,” papar pakar di bidang Sejarah Politik dari School of Modern Asian Studies, Griffith University Brisbane, Australia. Sementara Indonesia, sambung Ikrar, telah menyatakan kesediaannya untuk mendukung transisi demokrasi di Tunisia melalui peningkatan kapasitas dan kemitraan untuk demokrasi. “Indonesia memuji Tunisia sebagai contoh sukses dari transisi demokrasi di Dunia Arab. Hubungan diplomatik ini berawal dari tahun 1950-an ketika Indonesia mendukung kemerdekaan Tunisia dari Perancis,” terang Indonesia, disebut Ikrar, memiliki kedutaan besar di Tunis. Sementara Tunisia memiliki kedutaan besar di Jakarta. Kedua negara adalah anggota Organisasi Kerjasama Islam dan Gerakan Non-Blok. Di bidang perdagangan, Indonesia juga punya hubungan sangat baik dengan Tunisia. Indonesia, kata Ikrar, mengekspor terutama terdiri dari minyak pelumas, alat musik, optik, karet, kertas, plastik, furnitur, sepatu, kopi dan rempah-rempah ke Tunisia. “Sementara negara Asia Tenggara mengimpor kurma, jeruk, pupuk, batu fosfat, kaca, plastik dan minyak zaitun dari negara Afrika Utara,” kata Ikrar. Disampaikan Ikrar, salah satu tugas yang diembannya sebagi Duta Besar yakni mensukseskan  Bali Democracy Forum (BDF) chapter Tunisia yang salah satu tujuannya membahas demokrasi dan implikasinya pada pembangunan ekonomi. “Selain itu, saya akan berusaha meningkatkan kerjasama bidang perekonomian dan meningkatkan jumlah wisatawan Tunisia untuk berkunjung ke Indonesia,” pungkas Ikrar,” tukasnya. (*/can)

Formula 4K yang Bikin Perguruan Tinggi Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0.

Wakil Dekan I Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ir. Samin,  MT. mengatakan, perubahan besar-besaran akan terjadi di era Revolusi Industri 4.0. Satu yang paling dominan adalah dengan hadirnya internet. Sejak kehadirannya, segala aspek kehidupan manusia mulai tergantung oleh sarana satu ini. Tentu saja, hal itu memiliki konsekuensi tersendiri, baik positif juga negatif. Oleh karena itu,  Samin berharap manusia dapat memanfaatkan era tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi ini, dengan sebaik-baiknya. Demikian halnya dengan aktor perguruan tinggi, mesti juga melakukan penyesuaian dengan segala tantangan yang menghadang. “Perguruan Tinggi harus siap dan ikut serta dalam menghadapi revolusi industri 4.0,” ujarnya, Kamis (6/12) siang. Jika sedikit saja lengah, sambung Samin, perguruan tinggi bakal habis dilindasnya. Oleh karenanya, kata Samin dalam sambutannya pada gelaran Seminar Nasional Teknologi dan Rekayasa, agar semua elemen perguruan tinggi musti siap menghadapi Revolusi Industri 4.0. Disebutkan Samin, beberapa hal yang dapat dipersiapkan menghadapi revolusi industri 4.0, yakni memiliki formula 4K. Formula 4K itu yakni, perguruan tinggi harus selalu berpikir Kritis, Kreatif, Komunikasi, dan mengedepankan Kerjasama. Dalam konteks komunikasi misalnya, dijelaskan Samin, yakni agar karya berupa penelitian dan pengabdian perguruan tinggi dapat dikomunikasikan ke jangkauan yang lebih luas.. “Salah satu sarananya yang bisa dimanfaatkan di era ini yakni dengan adanya internet,” terangnya. Selain itu, tak kalah penting menurut Samin, kunci dimenangkannya Revolusi Industri 4.0 oleh perguruan tinggi yakni dengan mengedepankan kerjasama atau kolaborasi. Karena baginya, formula komunikasi akan lebih punya daya dorong lebih baik. “Agar tercipta penelitian yang lebih baik, kerjasama atau kolaborasi juga perlu dilakukan. Baik tingkat Prodi ataupun dengan perguruan tinggi lainnya,” tutupnya. Acara ini mengusung tema “Industrial Revolution 4.0: Sustainable Technology Development for Competitiveness and Responsiveness”. Hadir sebagai pemateri, Direktur Utama PT. Dirgantara Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Ir. Rajesri Govindaraju, ST. MT. (ITB). Juga, Kepala Divisi Rancang Bangun PT. Dirgantara Indonesia, Ir. Indra Wirasendjaja. (hnd/can)

Pembangunan SDM Rendah, Ferri Jubair: Jadilah Pengusaha untuk Bangun Indonesia!

FERRI Jubair, Founder dan CEO Click Indonesia mengisi kuliah tamu Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM UMM), Rabu (05/12). Kuliah tamu ini diadakan untuk menginspirasi Mahasiswa UMM menjadi pengusaha yang matang di era 4.0. Acara di Hall Dome UMM ini penuh oleh mahasiswa yang haus inspirasi untuk menjadi pengusaha. Ferri Jubair yang merupakan alumni Pogram Studi Ilmu Hubungan Internasional UMM ini mengatakan, untuk memulai usaha bisa dilakukan sekarang juga. “Kita tidak perlu memikirkan modal atau kesiapan mental kita. Jika kita memikirkan itu, kita akan selalu menunda,” jelasnya. Ia mengatakan bahwa banyak usaha besar di dunia yang hanya berbekal ide, seperti Facebook, Uber, Netflix, dan lainnya. “Selain memiliki ide, kita harus memiliki keinginan yang kuat. Keinginan kita harus lebih kuat daripada skill kita,” sambung pria berumur 28 tahun itu. Ferri mengatakan bahwa ide sebagus apapun jika keinginannya lemah, ide itu tidak akan menjadi kenyataan. Maka memiliki keinginan yang kuat menjadi penting untuk merealisasikan ide yang sudah terpikirkan. Menurutnya, indeks Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia cukup rendah. Ia merujuk data yang diriset oleh Insight, perusahaan riset dunia dalam dunia bisnis. Data itu menyebut bahwa Indonesia berada di peringkat 85 dari 125 negara dalam pembangunan SDM. “Kita bangun Indonesia dengan menjadi pengusaha yang membangun masyarakat. Karena masa depan ada di tangan kalian,” tandasnya. Di kesempatan lain, Wakil Rektor I yang membidangi akademik, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyampaikan, UMM saat ini berada di posisi yang ideal untuk mengembangkan model pembelajaran yang futuristik. Hal itu dilakukan sebagai upaya pembentukan profil lulusan yang berkualitas. Salah satunya dapat dilakukan dengan pembentukan jiwa kewirausahaan. (usa/can)

Tampil Maksimal, Dua Tim Jembatan UMM Sabet 4 Gelar Juara di KJI XIV Makassar

Nama Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggaung di penutupan Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XIV dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) X di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PUNP), Ahad (2/12) lalu. Mengirim dua timnya untuk KJI, UMM berhasil menyabet Juara 1 kategori Jembatan Canai Dingin dan Juara 3 kategori Jembatan Busur. Jembatan Canai Dingin yang diberi nama Tudang Sipulang ini memiliki keunikan berupa lendutan, atau perubahan rangka jembatan setelah diberikan beban, yang nilainya sangat kecil. Menurut Andre Oktavian Wijaya, salah satu anggota tim Red Jaeger, Tudang Sipulang hanya menghasilkan lendutan sebesar 2.175 mm dari angka maksimal untuk lendutan 15 mm. Hasil itu sekaligus menjadikan Tudang Sipulang sebagai juara Jembatan Terkokoh. “Karena setelah pengujian beban hidup di tengah bentang jembatan sebesar 400 kg, lendutan yang dihasilkan Jembatan Tudang Sipulung sangat jauh dari angka maksimal ledutan,” papar Andre. Tak berhenti di situ, tim Red Jaeger juga meraih juara pada kategori K3 Terbaik. Hal tersebut, diakui Andre, karena kelengkapan papan-papan peringatan konstruksi beserta pakaian keamanan yang dikenakan oleh seluruh anggota. Sementara itu, jembatan kedua dari Tim Naraya memiliki keunggulan sebagai jembatan ramah lingkungan. Diakui Harrys Purnama, jembatan yang ia rancang bersama dua anggota timnnya ini memasang panel surya pada ujung-ujung jembatan. Panel surya ini dapat menjadi energi listrik penerangan jalan pada jembatan saat malam hari. “Keunikan yang dimiliki oleh jembatan ini adanya panel surya yang digunakan untuk mengaliri listrik untuk penerangan jalan di jembatan,” jelas Harrys. Baru-baru ini juga, Fakultas Teknik UMM memenangi Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018 di Universitas Negeri Padang. Mekatronic Team UMM menyabet Juara 1 dalam Kategori Urban Listrik. Sementara tim puteri, Srikandi Team, memenangi gelar Juara pada kategori Desain Estetika Terbaik. Atas hasil tersebut, Rektor UMM Fauzan sangat mengapreasiasi capaian tersebut. “Saya sangat mengapreasiasi atas prestasi ini, semoga mereka semakin semangat untuk berkompetisi,” terang Fauzan. “Raihan ini tentu tidak membuat kami puas. Kami akan terus mempersiapkan mahasiswa kami untuk terus bisa berprestasi di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. Diungkapkannya, UMM punya cara sendiri untuk mengapresiasi tiap raihan prestasi yang didapat mahasiswanya. Hal itu, sambung Fauzan, sesuai dengan moto prestasi UMM, “Tiada prestasi yang tak dihargai”. (nis/can)