Perdana di Pulau Jawa, Mobil Kaca UMM Beri Surprise SD Muslimat NU 1 Sukun

PERDANA, Mobil Pintar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang disebut dengan Mobil Kamis Membaca (KaCa) untuk pertama kalinya memulai perjalanan di Pulau Jawa. Kali ini Mobil KaCa mengunjungi SD Muslimat NU 1 Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Sebanyak 78 peserta dari siswa kelas 4, 5, dan 6 menyambut kedatangan Mobil KaCa dengan antusias. Koordianator Bidang Kesiswaan SD Muslimat NU 1 Sukun, Sudarti menyampaikan pihaknya sangat senang dengan kedatangan Mobil KaCa UMM. Tidak sekedar membangkitkan literasi siswanya, Mobil KaCa juga memancing siswa untuk terlibat dan berinteraksi dengan masyarakat ekternal, dalam hal ini para mahasiswa dan tim Mobil KaCa dari UMM. “Dengan ini anak yang tadinya hanya berdiam diri di rumah, istilahnya anak mama, dapat belajar berinteraksi. Mobil KaCa UMM membantu sekolah untuk mengajarkan anak-anak terjun ke masyarakat dan ini positif sekali,”tambahnya. Sudarti melanjutkan dirinya mengaku surprise dengan konsep yang dibawa Mobil KaCa. Tadinya ia menyangka, mobil tersebut sama dengan mobil perpustakaan keliling yang lain. “Kami sempat berfikir ini apakah seperti yang di perpus keliling gitu. Ternyata berbeda, ada kegiatan yang bukan hanya membaca tapi juga membangkitkan anak-anak untuk berkreasi,” ujar Sudarti. Sementara itu, ungkapan apresiasi terhadap kegiatan Mobil KaCa juga disampaikan oleh Muhammad Hanani selaku guru Pendidikan Agama Islam SD Muslimat NU 1 Sukun. Melalui fasilitas yang tersedia di Mobil KaCa, Hanani mengungkapkan bahwa banyak manfaat positif yang diperoleh siswanya. “Bimbingan kepada anak-anak ini sangat menarik. Utamanya untuk sekolah-sekolah yang membutuhkan literasi. Saya ucapkan terima kasih kepada UMM yang sudah memberikan fasilitas seperti ini,” pungkas Hanani. Mobil KaCa mencerna baik slogan UMM Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. Melalui program K-A-N-C-A-N-E yaitu Kepo (Ketahui Potensimu), Ayo Dolanan, Nandur, Coto (Konco Cerito) Babad, Aku Jurnalis, Nonton, dan EYL, UMM berupaya hadir memberdayakan pelajar. Kepo (Ketahui Potensimu) merupakan program yang digagas dengan Bimbingan Konseling (BK) UMM untuk memfasilitasi konseling gratis serta mini tes psikologi bagi siswa, khususnya remaja. Sedangkan Ayo Dolanan merupakan pengenalan berbagai macam permainan tradisional sebagai upaya melestarikan kebudayaan Indonesia. Ada pula Nandur yang mengajarkan tentang tanam menanam serta Coto (Konco Cerito) Babad untuk mendidik dan menginspirasi melalui dongeng maupun hikayat. Lalu Aku Jurnalis untuk mengedukasi cara menulis dan program English for Young Learner (EYL) untuk belajar bahasa Inggris. Membawa konsep pembelajarannya yang lengkap, Hanani mengaku salut dengan kreativitas yang diusung. Ia juga memuji para mahasiswa yang turut andil dalam aktivitas Mobil KaCa. “Saya mengapresiasi pada mahasiswa yang datang juga. Walaupun sederhana yang diberikan, tapi sangat berkesan, terutama fasilitasnya. Jadi langsung mengena pada anak-anak,”tambahnya senang. Salah satu siswa kelas 6, Fira sempat menjajal program KANCANE yakni Aku Jurnalis. Dengan berani, ia mendatangi penjual siomay dan melakukan reportase sederhana. Fira mengaku senang, ia dapat belajar banyak hal pada kedatangan Mobil KaCa di sekolahnya. “Saya sebenarnya pemalu, tapi karena ini jadi belajar percaya diri,”ungkapnya bangga. (sil)
Mahasiswa UMM Ditantang Eksis Bikin Konten Kreatif di Era Digital

Pekembangan zaman digital selalu menghadirkan sejumlah profesi baru yang dapat menembus batas dan waktu. Anak muda menjadi segmen terbesar yang menggeluti profesi ini. Mereka seperti berlomba-lomba menelurkan kreativitas dalam berbagai media digital, diantaranya menjadi Vlogger, Blogger, Inlfluencer, Content Creative dan Social Media Specialist. Menjadi kekinian dan mengikuti perkembangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng Kaskus yang merupakan situs komunitas online terbesar di Indonesia untuk berbagi informasi dan kiat sukses berkreasi di era digital. Hadir sebagai influencer adalah Hujwiriawan Ewing (Ewing HD) dan Wahyu Naufal (WN Naufal). Keduanya merupakan mahasiswa yang sukses memulai profesi sebagai influencer melalui Kaskus. Pada kesempatan ini Ewing HD membagikan kisahnya mulai berkarya melalui Kaskus. Ia menyampaikan bahwa saat ini tidak ada alasan bagi anak-anak muda untuk tidak memulai menjadi seorang konten kreator. “Sekarang kita sudah dimudahkan dengan berbagai fasilitas yang ada di smartphone, jadi kita bisa bikin konten di mana aja,” jelas Ewing. Selain itu, ia juga menekankan bahwa untuk membangun kepercayaan diri saat memulai berkarya harus ada konsistensi. Bagi pemuda kelahiran Yogyakarta ini, konsistensi itu penting untuk terus berkarya dan berkreasi. “Yah kalau mau pede yang paling penting itu konsisten dulu, kalau gak konsisten yah gak bakal ada perubahan,” jelas Ewing. Jika Ewing berkarya dengan cara membuat dan membagikan video-video horor, Naufal lebih memilih menyalurkan kegemarannya pada kisah horor melalui tulisan. Naufal telah menulis thread di Kaskus sejak tahun 2016 dan ia telah berhasil membukukan cerita yang ia bagikan di Kaskus dengan judul 100 Tahun setelah Aku Mati. Naufal mengaku hal paling penting dalam menulis itu adalah niat yang kuat untuk melanjutkan menulis. Bagi mahasiswa asal Yogyakarta ini, jika sudah ada niatan untuk melanjutkan menulis maka memulai menulis bukan hal yang sukar. “Yang paling penting itu niat lanjutin nulis bukan niat nulisnya,” jelasnya. Senada dengan kisah dua orang tersebut, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI UMM) Joko Widodo juga mengisahkan kesuksesan mahasiswa UMM Luluk HF yang membagikan tulisan yang dibagikan di media online, dbukukan dalam bentuk novel, hingga dan diangkat ke layar lebar oleh salah satu rumah produksi ternama. Joko Widodo juga menekankan bahwa tidak ada yang sulit jika sudah ada niatan untuk memulai menulis. “Menulis itu ibarat kita mau badan sehat setiap hari, harus olahraga. Kalau mau menulis bagus yah tiap hari menulis,” ungkap Joko Widodo. Joko melanjutkan media-media online seperti Kaskus, Instagram dan Facebook memang bukan lagi wilayah yang asing bagi anak muda utamanya mahasiswa. Berkenaan dengan hal tersebut, dosen mata kuliah Kreasi Sastra ini mengajak mahasiswanya untuk memosting puisi atau cerita pendek (cerpen) yang merupakan penugasan kuliah di blog pribadi atau laman Facebook masing-masing. “Saya ingin suatu saat mahasiswa saya bisa sukses melalui keterampilan menulis, jadi saya minta mereka mengerjakan tugas dan dikirim di blog atau Facebook miliknya,” tuturnya. Saat ini, profesi sebagai konten kreator memang sangat digandrungi utamanya oleh anak muda yang berstatus mahasiswa. Hal tersebut membuat dosen Ilmu Komunikasi (IKOM UMM) Nurudin mengajak mahasiswa UMM untuk terus menulis tanpa banyak waktu untuk merenung. “Jangan menunda untuk menulis, karena setiap tulisan punya pasarnya sendiri-sendiri,” terang dosen yang juga penulis buku Tuhan Baru Masyarakat Cyber di Era Digital. Ditambahkan oleh Nurudin, menulis itu tidak perlu melulu yang harus ada temanya baru bisa menulis. Mahasiswa sekarang suka jalan-jalan dan mengabadikan melalui foto, hal tersebut sudah dapat dijadikan bentuk tulisan tentang pengalaman pribadi. Jika tulisan itu dapat dibungkus dengan unik, maka pembaca akan terus menunggu tulisan-tulisan baru kita yang selanjutnya. “Nulis gak harus nunggu tema tulis saja pengalaman pribadi dan jika apik yah pasti pembaca akan menunggu tulisan-tulisan kita,” pungkasnya. (nis/sil)
Berkluster Mandiri, UMM Siap Kembali Dampingi Pengembangan Kota Probolinggo

UPAYA dekat dengan masyarakat dan memberikan kontribusi untuk pembangunan suatu daerah dilakukan dengan cermat oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setelah bermitra dengan banyak pihak, kali ini melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM, dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UMM dengan Pemerintah Kota Probolinggo, Selasa (13/3) di Auditorium UMM. Kerjasama yang dijalin mencakup berbagai bidang antara lain pengembangan wilayah, sosial dan pertanian. Penandatanganan dilakukan oleh Wakil Rektor III Sidiq Sunaryo dan Walikota Probolinggo Rukmini Buchori disaksikan oleh jajaran Badan Pengurus Daerah Probolinggo, Kepala Dinas Perikanan Probolinggo, Kepala Dinas Pertanian Probolinggo, Camat Mayangan, Kepala DPPM UMM dan jajaran serta perwakilan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) UMM. “MoU ini harus segera di eksekusi menjadi suatu penelitian atau pengabdian yang memiliki nilai guna, agar tidak sekedar jadi sebuah tanda tangan dan tulisan dikertas saja,” ujar Sidiq menyemangati. Dalam kesempatan tersebut, Sidiq memaparkan beberapa unit usaha yang dimiliki UMM. Ia berharap unit-unit usaha tersebut juga bisa melakukan kerjasama lebih khusus dengan Kota Probolinggo. Sebelumnya, dalam kurun waktu tiga tahun sejak 2013 hingga 2015 UMM telah melakukan program kemitraan wilayah di Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo. Kerjasama dilakukan dalam program perawatan dan pemeliharaan pohon mangga, produksi produk olahan mangga dan jagung, serta pengolahan limbah pangan Usaha Kecil Menengah (UKM). Menindak lanjuti keberhasilan kerjasama tersebut, Direktur DPPM UMM Sujono mengaku telah siap kembali mendampingi Kota Probolinggo agar bisa menjadi kota dengan banyak UKM yang berkembang. Meskipun merupakan perguruan tinggi swasta, Sujono menyebut UMM memiliki kapasitas dan kemampuan yang cukup baik dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. Keahlian tersebut cukup setara dengan perguruan tinggi negeri di wilayah Jawa Timur. Bukan hanya itu, mulai tahun 2014, UMM menjadi salah satu dari 14 Perguruan Tinggi di Indonesia yang mendapatkan cluster Mandiri. Status ini merupakan hasil visitasi dan verifikasi oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Dirjen Dikti Kemendikbud RI. Dalam standarisasi Dikti, kampus-kampus di Indonesia dikategorikan ke dalam empat cluster, yakni Binaan, Madya, Utama dan yang tertinggi adalah Mandiri. “Bersama 25 perguruan tinggi hanya empat yang swasta salah satunya adalah UMM di Jawa Timur yang berkluster mandiri, untuk itu kami siap mendampingi Kota Probolinggo,” pungkas Sujono. Sementara itu Walikota Probolinggo Rukmini Buchori menyambut baik kerjasama ini. Rukmini memaparkan aneka potensi yang dimiliki Kota Probolinggo, diantaranya adalah UMKM Batik dan melimpahnya produksi buah mangga. Meski memiliki aneka potensi yang patut dikembangkan, Rukmini menuturkan ada berbagai permasalahan sosial yang juga dihadapi oleh Pemerintah Kota Probolinggo, antara lain hasil limbah sampah yang banyak berkisar 50 ton per hari. “Mungkin dari UMM bisa merangkul paguyuban batik Probolinggo, berinovasi dalam pengelolaan buah mangga yang melimpah dan berinovasi dalam pengelolaan sampah. Ini mungkin bisa dijadikan sesuatu yang memiliki nilai,” ujar Rukmini. (nim/sil)
Apresiasi Profesi Fisioterapi, UMM Gelar Olimpiade Nasional

MENGEMBANGKAN skill mahasiswa khususnya bidang Fisioterapi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fisioterapi dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan (FIKES) berinisiatif menggelar Olimpiade Fisioterapi Nasional. Mengusung tema Pesona Fisioterapi, rangkaian kegiatan Fisioker berlangsung selama tiga hari mulai Jumat hingga Minggu (9-11/3). Terdapat tiga kelas Fisioterapi yang dilombakan, yaitu Neuromuscular, Sport, dan Pediatri. Ketiganya merupakan bidang-bidang penting dalam lingkup Fisioterapi yang perlu dipahami dengan baik oleh para calon praktisi Fisioterapi. “Olimpiade ini merupakan sarana yang baik bagi mahasiswa Fisioterapi se-Indonesia untuk mengasah kemampuan dan mengukir prestasi,” terang Ketua Pelaksana Rangkaian Acara Olimpiade, Seminar dan Workshop Fisioker, M. Rizqi Ramadhani. Melalui Olimpiade yang digelar, Rizqi menyampaikan bahwa acara ini diharapkan dapat membuka peluang bagi mahasiswa Fisioterapi menorehkan prestasi. Hal tersebut mengingat jumlah universitas yang memiliki program studi Fisioterapi di Indonesia masih sangat minim, yakni hanya 11 perguruan tinggi. “Ajang ini jadi kesempatan juga untuk kita mengenalkan jurusan Fisioterapi kepada lebih banyak orang,” jelas Rizqi. Meski sepak terjang rumpun ilmu Fisioterapi belum tersohor namun semangat peserta begitu tinggi mengikuti ajang adu kecerdasan ini. Terbukti dari jumlah pendaftar Olimpiade yang membludak padahal kuotanya hanya 12 tim dari masing-masing kelas yang terdiri dari tiga orang. “Dengan terpaksa kami menolak pendaftar karena terbatasnya kuota. Semoga tahun depan kami bisa membuka lebih banyak kuota supaya lebih banyak yang ikut,” ujar Jeje salah satu panitia. Olimpiade ini diikuti oleh 93 peserta dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi Fisioterapi, antara lain Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Esa Unggul (UEA), Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Katolik St. Vincentius a Paulo, Universitas Airlangga (Unair), Universitas Udayana, Stikes Widya Husada, Politeknik Kesehatan (Poltekes) Jakarta 3, dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Dalam pelaksanaannya, ajang unjuk kecerdasan ini terdiri dari tiga babak penilaian pada masing-masing kelas yang ada, yakni kelas Neuromuscular, Sport dan Pediatri. Pada babak pertama, peserta harus menentukan jawaban ‘benar’ atau ‘salah’ pada soal-soal yang diberikan. Selanjutnya di babak kedua, ada studi kasus dimana para peserta harus memecahkan masalah dengan memberikan solusi secara keilmuan Fisioterapi, dan pada babak ke tiga peserta harus melewati uji ketangkasan serta kecepatan dalam menjawab soal. Berlangsung seru dan penuh sportifitas, Pada Kelas Pediatri keluar sebagai Juara I Poltekes Surakarta, Juara II Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Juara III Poltekes Jakarta. Sementara itu pada kelas Neuromuscular Juara I diraih oleh Poltekes Surakarta, Juara II UMS serta Juara III Stikes Widya Husada. Untuk kelas Sport Juara I Universitas Esa Unggul (UEA), Juara II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan Juara III UMS. Para peraih Juara I memperoleh medali emas, Juara II medali perak dan Juara III perunggu. Keluar sebagai Juara Umum Olimpiade Nasional Fisioterapi 2018 adalah Poltekes Kemenkes Surakarta dengan mengantongi dua medali emas. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM Faqih Ruhyanudin menyampaikan dirinya berharap pada tahun depan jumlah peserta dan jenis cabang ilmu yang dilombakan bisa bertambah. “Selain skill kompetensi kognitifnya juga bisa ditambahkan, juga karya tulis misalnya,”tambahnya. Faqih juga menyampaikan semoga acara dapat mengenalkan bagaimana fisioteraphis yang sesungguhnya kepada masyarakat Indonesia. “Saat ini, UMM sendiri juga tengah menyiapkan perencanaan pendirian Prodi Profesi Fisioterapi. Semoga dengan rangkaian acara ini lebih mengenalkan jati diri fisioterapi di Indonesia,” tandasnya. (nim/sil)
Gelar Rektor Cup 2018, UMM Perkuat Daya Kompetisi Mahasiswa

Perhelatan ajang kompetisi terbesar tingkat universitas Rector Cup Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2018 resmi dibuka. Melombakan berbagai macam cabang mulai penalaran hingga keislaman acara pembukaan digelar Sabtu (10/3) di Stadion Sepak Bola UMM. Diawali pertandingan pembuka cabang sepak bola antara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) melawan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) yang dimenangkan oleh FPP dengan skor 0-1 acara berlangsung meriah. Ketua pelaksana Rector Cup 2018, Nur Subeki memaparkan, Rector Cup merupakan ajang tahunan UMM yang ditujukan sebagai wadah kreasi dan prestasi bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa semester dua, empat dan enam. Mengusung tema “Smart and Elegant Competition to be Great Generation” gelaran ini menjadi cerminan semangat UMM dalam meningkatkan bakat dan minat mahasiswa. “Selain itu tema ini juga mencerminkan proses edukasi yang dikembangkan UMM dalam rangka membangun kualitas pribadi dan mental mahasiswa yang mampu berkompetisi secara sehat dan jujur,” ungkap Subeki. Hal tersebut juga diamini oleh Rektor UMM, Fauzan. Sebagai salah satu agenda tahunan universitas, Fauzan menegaskan bahwa untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam kegiatan Rector Cup ini memerlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak yang terkait, antara lain mahasiswa, program studi, fakultas hingga universitas. “Kegiatan Rector Cup ini menjadi salah satu media UMM untuk mendidik mahasiswa menjadi pribadi yang lebih baik. Mahasiswa harus memiliki daya yang kuat untuk berkompetisi,” tegasnya Bekerjasama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Rector Cup 2018 digelar mulai hari ini 10 Maret 2018 hingga 21 April 2018 dan diikuti oleh kontingen dari 10 fakultas yang ada di UMM. Kesepuluh fakultas tersebut akan berebut piala bergilir Rector Cup yang mana pada tahun lalu berhasil disabet Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) sebagai Juara Umum Rector Cup 2017. (Humas UMM)
Mahasiswa UMM Jeli Tangkap Peluang di Berbagai Bidang Usaha

Pernah mendengar tentang generasi Z? Generasi Z adalah mereka yang lahir pada 1990an hingga 2000an. Menjadi bagian dari Generasi Z (Gen Z) menuntut anak-anak muda dihadapkan pada banyak tantangan, salah satunya tentang berprofesi. Saat ini, Gen Z lebih melirik profesi yang mereka bangun sendiri dan ogah menjadi karyawan. Mereka juga lebih memilih berprofesi sesuai dengan passionnya. Melihat perkembangan tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan yakin mencetuskan program UMM PASTI, yaitu PASTI lulus empat tahun, PASTI bekerja, dan PASTI mandiri. Fauzan yakin, UMM PASTI akan menjamin lulusan UMM dapat mandiri. “Saya yakin jika UMM PASTI ini bisa dijalankan dengan baik, tidak akan ada lagi mahasiswa UMM yang tidak bekerja setelah lulus dari sini,” kata Fauzan pada Pelatihan Dosen Kewirausahaan. Jauh sebelum UMM PASTI digaungkan, mahasiswa dan alumni UMM telah banyak terjun di bidang entrepreunership dengan berbagai macam latar belakang mulai dari sekedar menambah uang jajan, pengalaman hingga memberdayakan masyarakat, Muhammad Aripin misalnya. Alumni Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik UMM tersebut telah diganjar banyak penghargaan nasional berkat usahanya menghidupkan industri kreatif. Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar yang didirikannya pada 2014 telah memiliki 85 anak binaan, 21 diantaranya bahkan telah memiliki usaha sendiri serta empat lainnya telah melanjutkan kuliah. Ia pun meraih penghargaan selama tiga tahun berturut-turut, yakni pada ajang penganugerahan Pemuda Pelopor Nasional di Bidang Pendidikan, Wirausaha Kreatif di ajang Satu Indonesia Award dan Yayasan Berprestasi Nasional. “Saya teringat wasiat ibu saat mendirikan yayasan. Kini saatnya saya membalas semua kebaikan yang ibu berikan pada saya dengan berbuat baik pada orang lain,” ujarnya mengenang almarhumah sang ibu. Apa yang dilakukan Arifin berbeda dengan Nasihudin Cahya, Awang Ristanto, dan Helmi Mahendra. Bagi ketiganya, berwirausaha merupakan jalan untuk menyalurkan kecintaan mereka pada kopi. “Awalnya saya sama Cahya suka kopi, lalu ikut-ikut dan belajar membuat kopi sama teman, kemudian muncullah ide kenapa gak buka sendiri saja,” ungkap mahasiswa Program Studi Perternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM tersebut. Setelah menyiapkan diri untuk berwirausaha, Awang beserta dua temannya memanfaatkan becak milik Cahya sebagai tempat untuk berjualan dengan mengusung brand “Becak Koling” yang merupakan singkatan dari Becak Kopi Keliling “Becak itu punya Cahya yang duluan punya usaha,” jelas Awang. Hambatan-hambatan menjadi wirausahawan yang memulai semuanya dari kantong pribadi tidak lantas menyurutkan semangat tiga mahasiswa UMM asli Malang ini. Helmi menyebutkan bahwa diawal mereka memulai usaha sering tidak ada yang membeli. Alih-alih menyiutkan cita-cita, hal ini justru menjadi pecutan semangat untuk ketiganya. “Pernah sampai di lokasi terus hujan deras, sepi gak ada yang beli,” tutur mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) tersebut. Meski sekedar berjualan kopi, Awang mengaku bahwa omzet yang dikantongi setiap bulannya cukup lumayan. Ketiganya bahkan menargetkan untuk memiliki lahan milik sendiri untuk digunakan berjualan agar ada tempat tetap dan tidak harus berpindah-pindah, utamanya saat hujan. “Untung yang didapat buat beli alat-alat baru dan kalau bisa tahun ini bisa punya lahan walaupun kecil yang penting menetap,” harap Helmi. Menjadi mahasiswa dan berwirausaha bukan hal yang tabu lagi. Pada era modern seperti ini, setiap individu harus mengetahui peluang-peluang yang bisa diambil. Bagi Helmi yang merupakan mahasiswa PBSI UMM, berbisnis tidak selalu harus relevan dengan jurusan kuliah ditempuh. “Tidak ada salahnya untuk mencari pengalaman di bidang lain,” tandas mahasiswa berkacamata tersebut. Kepala Program Studi (Kaprodi) PBSI UMM Sugiarti menyampaikan bahwa selaras dengan UMM PASTI, di Prodi PBSI ada mata kuliah kewirausahaan bersastra dan kewirausahaan berbahasa. Selain itu, pihaknya juga melakukan pemetaan peminatan mahasiswa. Untuk mahasiswa yang memiliki minat di luar bidang Prodi, maka bisa bekerja sama dengan lintas prodi dan lintas fakultas. “Jika mahasiswa memiliki keterampilan di bidang fisik juga akan kami carikan sumberdaya,”tambahnya. Menanggapi usaha Becak Koling Sugiarti mengaku bangga. Ia bahkan memberikan masukan untuk mengembangkan usaha lebih luas, termasuk merangkul dan bekerjasama dengan pihak lain, misal mengisi stand di sebuah acara. Mereka juga bisa membuka mini forum saat berjualan di kegiatan kampus contohnya ngopi sastra, ngopi linguistik. “Ini akan menciptakan atmosfer akademik yang ada aspek kreatif dan rekreatif, jadi proses transfer pengetahuan tidak terjadi secara formal saja namun juga secara informal,”pungkasnya. (nis/sil)
UMM Siapkan Mahasiswa Pegang Kendali Industri Pangan Dunia

UNTUK membekali mahasiswa dalam membangun dan mengembangkan pangan nasional, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar seminar nasional bertajuk ‘Perkembangan Pertanian Modern Berbasis Sumber Daya Manusia Lokal sebagai Penguatan Ketahanan Pangan Lokal’ di Hall Dome UMM, (8/3). Pada kesempatan tersebut hadir Direktur Operasional PT Kelola Mina Laut (KML) Food, Ir. Zainul Wasik. Di depan mahasiswa FPP dari enam program studi yakni Agribisnis, Agroteknologi, Ilmu dan Teknologi Pangan, Peternakan, Kehutanan dan Budidaya Perairan (Perikanan) Zainul berbagi kiat menghidupkan agroindustri di Indonesia. Ia juga menyampaikan “rahasia” bagaimana dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, food industry tempatnya berkarya mampu menghasilkan omset hingga 3 triliun per tahun. Menurut Zainul, sebagai pelaku industri khususnya industri pangan, menguasai proses dari hulu ke hilir menjadi hal terpenting. “Mulai dari budidaya, bahan baku, processing, peningkatan produk sampai distribusi kemudian diterima oleh konsumen, kita melakukan semua itu dengan pola integrated,” ujar Zainul menjabarkan. Selain itu menurutnya, ada tiga unsur yang harus diperhatikan dalam meningkatkan daya saing guna menumbuhkan sektor industri. Yaitu inovasi, pengetahuan manajemen dan semangat enterpreneurship. Terakhir Zainul menambahkan, yang harus diingat dalam mengelola sebuah bisnis unsur kepedulian terhadap lingkungan sekitar juga harus tetap diperhatikan. Disamping nilai profit, aspek kesejahteraan masyarakat juga tidak boleh dilupakan. “Melakukan dua hal sekaligus, pertama adalah membuat bisnis yang bisa memberdayakan masyarakat banyak dari hasil budidaya perikanan dan pertanian, kemudian melalui ekspor impor ada profit untuk perusahaan,” tandas Zainul. Pada kesempatan yang sama, hadir pula Vice President Non-Government Organization (NGO) Head, Heart, Hand, Healthy (Four H) Indonesia, Ooy Haerudin S.E., MBA. Dalam paparannya, Ooy menaruh harapan pada mahasiswa FPP UMM agar siap menjadi pelopor petani Indonesia dan memegang kendali pada industri pangan dunia. “Saya harap dari kalian generasi muda, kedepannya tidak lagi ada impor bahan baku dari luar. Kita sepenuhnya mengandalkan beras dan yang lain dari dalam negeri,” tutur Ooy. Menambahkan Zainul dan Ooy, Bupati Pacitan yang juga alumni UMM, Drs. Indarto M.M., menyampaikan keterkaitan antara pemimpin, kebijakan pangan, serta teknologi. Sementara itu Staf Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Pangan Dr. Ir. Sabrina M.Si menjelaskan peran Kementerian LHK dalam ketahanan pangan, yakni menjaga hutan sebagai sumber air dan sumber lahan untuk pangan. Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, menyampaikan kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan dari program UMM PASTI yang tengah digalakkan UMM. Harapannya seminar nasional ini semakin mendekatkan mahasiswa dengan tujuan UMM PASTI yaitu, mahasiswa pasti lulus empat tahun, mahasiswa pasti bekerja setelah lulus dan mahasiswa pasti mandiri setelah lulus. “Ini menjadi salah satu upaya membangun atmosfir akademik untuk mendukung program UMM PASTI,” tegas Syamsul. Berlangsung interaktif, gelaran ini juga dihadiri oleh para delegasi Ikatan Badan Eksekutif Mahasiswa Pertanian Indonesia (IBEMPI) dari berbagai perguruan tinggi di tanah air. (nim/sil)
Mahasiswa UMM Jeli Tangkap Peluang Usaha di Berbagai Bidang

Menjadi bagian dari Generasi Z (Gen Z) menuntut anak-anak muda dihadapkan pada banyak tantangan, salah satunya tentang berprofesi. Saat ini, Gen Z lebih melirik profesi yang mereka bangun sendiri dan tanpa menjadikan mereka seorang karyawan. Selain itu, Gen Z juga lebih memilih berprofesi sesuai dengan passion mereka bersama rintangan-rintangan yang akan mereka hadapi. Melihat perkembangan tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan yakin mencetuskan program UMM PASTI, yaitu PASTI lulus empat tahun, PASTI bekerja, dan PASTI mandiri. Keyakinan bahwa mahasiswa UMM dapat mencapai program UMM PASTI disampaikan oleh Fauzan pada pembukaan kegiatan Pelatihan Dosen Kewirausahaan. “Saya yakin jika UMM PASTI ini bisa dijalankan dengan baik, tidak akan ada lagi mahasiswa UMM yang tidak bekerja setelah lulus dari sini,” kata Fauzan. Jauh sebelum UMM PASTI digaungkan, mahasiswa UMM telah banyak yang melakukan wirausaha dengan berbagai macam alasan salah satunya untuk menambah uang jajan dan menambah pengalaman. Salah satu alumni Teknik Mesin UMM Muhammad Aripin misalnya yang telah diganjar banyak penghargaan nasional. Berkat Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar yang didirikannya pada 2014 Aripin saat ini memiliki 85 anak binaan, 21 di antaranya bahkan telah memiliki usaha sendiri dan empat di antaranya berhasil melanjutkan kuliah. Ia juga telah menerima penghargaan selama tiga tahun beruntun, yakni pada ajang penganugerahan Pemuda Pelopor Nasional di Bidang Pendidikan, Wirausaha Kreatif di ajang Satu Indonesia Award, serta Yayasan Berprestasi Nasional. “Saya teringat wasiat ibu saat mendirikan yayasan. Kini saatnya saya membalas semua kebaikan yang ibu berikan pada saya dengan berbuat baik pada orang lain,” ujarnya mengenang sang ibu yang telah berpulang pada Idul Adha 2015. Apa yang dilakukan Arifin berbeda dengan Nasihudin Cahya, Awang Ristanto, dan Helmi Mahendra. Bagi ketiganya, berwirausaha merupakan jalan untuk menyalurkan kecintaan mereka pada si bubuk hitam, kopi. Menurut Awang, ide usahanya diawali saat dirinya bersama Cahya melihat peluang pada usaha kopi. “Dulu saya sama Cahya suka kopi, terus awalnya dari ikut-ikut dan belajar membuat kopi sama teman, terus diskusi kenapa gak buka sendiri,” ungkap mahasiswa Program Studi Perternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM tersebut. Setelah menyiapkan diri untuk berwirausaha, Awang beserta dua temannya memanfaatkan becak milik Cahya sebagai tempat untuk berjualan dengan nama Becak Kopi Keliling (Becak Koling). “Becak itu punya Cahya yang duluan punya usaha,” jelas Awang. Hambatan-hambatan menjadi wirausahawan yang memulai semuanya dari kantong pribadi tidak menyurutkan semangat tiga mahasiswa UMM asli Malang ini. Helmi menyebutkan bahwa diawal mereka membuka usaha mereka sering tidak ada yang membeli. Namun, karena niat dan mereka merasa senang menjalani kegiatan tersebut hal ini menjadi pecutan semangat untuk mereka bertiga. “Pernah sampai di lokasi terus hujan deras, sepi gak ada yang beli,” tutur mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia itu. Helmi juga menyampaikan bahwa menjalani wirausaha seperti ini yang paling penting adalah gigih, ulet, dan semangat. “Wirausaha itu kan lebih enak dimulai dari nol, kalau dari bawah itu bisa melatih kesungguhan niat, kegigihan, dan keuletan juga,” tegas Helmi. Awang juga menambahkan bahwa omzet yang dihasilkan dalam tiap bulan juga menjadi bentuk semangat bagi tiga mahasiswa ini. Selain sebagai acuan untuk terus memperbaiki sistem usaha omset juga sebagai bukti adanya kesungguhan dalam berwirausaha. “Diawal omzet yang didapat yah kecil tapi sekarang sudah mulai stabil dan itu bikim kita makin semangat,” jelas Awang. Sebagai wirausahawan pemula, tiga orang mahasiswa ini mengaku harus pintar dalam mengelola profit yang didapat karena mereka ingin pada tahun ini bisa memiliki laham pribadi yang bisa digunakan untuk berjualan tetap dan tidak harus berpindah tempat jika hujan. “Untung yang didapat buat beli alat-alat baru, terus yah kalau bisa tahun ini bisa punya lahan walaupun kecil yang penting menetap,” jelas Helmi. Menjadi mahasiswa dan berwirausaha bukan hal yang tabu lagi. Pada era modern seperti ini, setiap individu harus mengetahui peluang-peluang yang bisa diambil. Bagi Helmi yang merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, bisnis yang relevan dengan jurusan kuliah sudah tidak terlalu menjanjikan. “Tidak ada salahnya untuk mencari pengalaman di bidang lain,” pungkas mahasiswa berkacamata ini. (nis/sil)
Kolaborasi dengan Mahasiswa dan Dosen Asal Tiga Negara, UMM Kupas Komunikasi Antar Budaya

BERKEMBANG di tengah masyarakat global menuntut banyak pihak untuk terus belajar dalam membangun komunikasi, termasuk perguruan tinggi. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam upayanya membangun konsep pendidikan kelas internasional juga tidak meninggalkan pembelajaran ini, termasuk dalam komunikasi antarbudaya. Berangkat dari hal tersebut, hadir empat pembicara pada gelaran Intercultural Communication and Practices in Indonesia, Poland, India, and Ukraine memberikan paparan tentang pentingnya komunikasi antar budaya untuk dapat membangun kegiatan ekonomi, politik, dan sosial di tengah kemajuan teknologi dunia. Kegiatan yang berlangsung di Aula BAU, Rabu (7/3) ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM. Daria Goriacheva, mahasiswa asing asal The National University of “Kyiv-Mohyla Academy” Ukraina, menjelaskan bahwa saat ini komunikasi antar budaya sudah dipengaruhi oleh banyak hal salah satunya adalah keberadaan sosial media. Ia memaparkan tentang fenomena post-truth yang menunjukkan dimana keadaan dan fakta secara objektif tidak lagi terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding dengan emosi dan keyakinan pribadi. “Post-truth seperti yang telah kita ketahui merupakan fenomena yang sering menciptakan kesalahpahaman dalam berkomunikasi ditengah masyarakat,”urainya. Lebih dari itu, Daria juga menjelaskan tentang bagaimana penggunaan metafora dalam sebuah informasi yang disampaikan, dapat mempengaruhi kualitas komunikasi tersebut. “Dalam hal ini kita harus berhati-hati dalam memanfaatkan ‘metaphore’ dalam berkomunikasi,”tambahnya. Pada kesempatan yang sama, hadir pula Maria Anna Ochwat dosen program internship asing asal WSB University in Poznan Polandia. Maria berhasil menarik perhatian dengan mengajak hadirin untuk datang ke Polandia. “Pada presentasi ini saya lebih akan mengajak anda untuk datang ke Polandia,”katanya. Maria menjelaskan bahwa ajakannya tersebut menandakan bahwa orang Polandia adalah orang yang bangga dengan negara mereka. Perilaku ini disebutnya sebagai stereotype, yakni penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotype penting untuk menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi. “Mengetahui dan memahami stereotype tiap negara bisa membantu kita untuk menghindari hal-hal konyol dan menganggu dalam berkomunikasi,” jelas Daria. Selain Daria dan Maria, pada dua sesi selanjutnya tampil Priya Rani Bhagat mahasisa asing asal Manipal University and University of Evora India dan Widya Yutanti dosen ilmu komunikasi UMM yang menjelaskan tentang bagaimana kebudayaan dan stereotype yang dimiliki oleh India dan Indonesia. (nis/sil)
Berkat Reputasi, Konjen Aussie Terpikat UMM

REPUTASI apik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dikancah internasional menjadi daya tarik Konsulat Jenderal Australia untuk bertandang. Perguruan Tinggi yang dikenal dengan kampus putih menjadi jujugan Konjen Australia, Chris Barnes hari ini, Senin (5/3). Selama menilik UMM, Chris bertandang ke #AussieBanget Corner yang berlokasi di area Perpustakaan Pusat UMM. Disana Chris tidak sekedar melihat-lihat, namun juga melakukan dialog dengan para civitas akademika UMM yang pernah mengenyam studi di Negeri Kanguru. “Study hard, dream big, reach for the star,” pesan Chris untuk mahasiswa UMM yang ingin studi di Australia. Sebagai Konjen Australia di Jawa Timur, Chris menuturkan bahwa menjalin kerjasama dengan Indonesia merupakan salah satu tujuannya. Bagi Chris kerjasama terbaik itu yakni melalui pendidikan dengan melakukan pertukaran pelajar, dosen maupun staff. “Tidak hanya orang Indonesia yang belajar di Australia, tapi juga lebih banyak lagi orang Australia yang belajar di Indonesia, terutama disini (red: UMM),” pungkas Chris. Harapan terjalin lebih banyak kerjasama pun diamini oleh Rektor UMM, Fauzan. “Kerjasama strategis yang sudah terjalin UMM dan Australia adalah program Australian Consortium For In Country Indonesian Studies (ACICIS),” ujar Fauzan. Pojok Australia atau #AussieBanget Corner UMM tidak hanya menyediakan berbagai buku dan informasi beasiswa Australia. Lebih dari itu, AussieBanget Corner juga memfasilitasi para civitas akademika dan masyarakat umum untuk mengakses perpustakaan digital nasional Australia. “UMM itu fantastik, ramah, dan profesional,” pungkas Chris memberikan gambarannya tentang UMM. (nim/war/sil)