RBC Institute, Rumah Belajar Pendidikan Politik Masyarakat

Semangat pendiri Rumah Baca Cerdas (RBC), Prof. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. untuk mengajak masyarakat terus belajar masih tetap bergelora. Kali ini, sebagai wujud dukungan terhadap pendidikan politik masyararakat, RBC mengembangkan sayapnya dengan membentuk RBC Institute. Diresmikannya RBC Institute pada Jumat (05/01) merupakan sebuah bukti bahwa RBC terus berkembang dan berinovasi untuk menyuguhkan sebuah product knowledge kepada masyarakat. “RBC itu sendiri salah satu cocern-nya adalah pendidikan politik untuk masyarakat,” ungkap Ketua Rumah Baca Cerdas Dr. Nazaruddin Malik M.Si. Lebih lanjut Nazaruddin menyampaikan, diresmikannya RBC Institute merupakan sebuah bentuk dukungan RBC untuk terus membangun masyarakat yang berkulitas. Dukungan ini disajikan dalam bentuk data dan informasi berikut analisis cerdas hasil penelitian, kajian, diskusi, dan kegiatan ilmiah lainnya. Tidak hanya ditujukan untuk masyarakat luas MaIang Raya, harapannya RBC Institute dapat juga memberikan manfaat bagi masyarakat Jawa Timur, nasional dan bahkan dunia internasional. “Paling tidak kami dapat mengajarkan masyarakat untuk belajar dasar politik yang terjadi di negara ini,” jelas Nazaruddin yang juga Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang ini. Selanjutnya, RBC Institute juga akan mengarahkan masyarakat untuk aktif berdiskusi cerdas yang menghasilkan sebuah kerangka kerja (blue print.red) berupa dokumen rekomendasi, usulan program dan langkah-langkah nyata untuk menyelesaikan permasalahan. Dengan demikian, perbaikan suatu program di masa yang akan datang juga dapat dilakukan. (nis/sil)
Bantu Tunanetra Kenali Uang, Mahasiswa TI UMM Ciptakan Kasentra

Berawal dari tuntutan tugas akhir untuk membuat produk yang dapat mempermudah aktivitas penyandang disabilitas, Yoga Adi Wijaya mahasiswa program studi Teknik Industri (TI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama timnya berhasil mengembangkan alat bantu sensor uang untuk penyandang tuna netra. Gagasan ini muncul dari maraknya kasus penipuan pada penyandang tuna netra yang berprofesi sebagai tukang pijat, khususnya saat melakukan transaksi keuangan. “Kami datang ke tempat pelatihan pijat tuna netra, kemudian saya mendegar keluh kesah mereka. Salah satunya soal penipuan tarif pijat,” ungkap Yoga. Berangkat dari temuan ini, Yoga dan kawan-kawan mencoba mengembangkan Kacamata Sensor Tuna Netra (Kasentra), yakni produk inovasi yang memadukan kacamata dengan sensor khusus untuk mendeteksi jumlah uang. Melalui berbagai penelitian dan pengembangan, cara kerja Kasentra hasil inovasi Yoga dan timnya ternyata lebih efisien dibandingkan dengan alat serupa yang sudah pernah tercipta. Hanya dengan mengarahkan pandangan kacamata ke arah jumlah uang, maka akan keluar suara berupa nominal uang tersebut. Selain itu, penyandang tuna netra tidak perlu menggunakan alat pendukung lain misalnya smartphone atau alat lain yang lebih mahal untuk pengoperasian Kasentra. “Alat kami memang dikembangkan dengan melihat kekurangan dan kelebihan produk yang sudah ada,” ungkap Bagus Arif, salah satu anggota tim Kasentra yang lain. Selain lebih efisien Kasentra juga memiliki nilai tambah lain, yakni ditawarkan dengan harga yang terjangkau. “Selain desain yang gampang dibawa, harga pembuatan alat ini juga murah jika nanti akan dikomersilkan,” ungkap Bagus. Tidak berhenti pada penciptaan alat sensor untuk mendeteksi uang, nantinya alat ini juga akan terus disempurnakan fungsinya. Jika saat ini hanya dapat menyensor uang, maka kedepannya Kasentra akan dilengkapi sensor membaca bagi penyandang tuna netra untuk menggantikan huruf braille. “Saat ini kami sedang membangun integrasi dengan mahasiswa dari program studi Teknik Informatika untuk mengembangkan fungsi sensor membaca yang disematkan pada kacamata,”pungkas Yoga. (nis/sil)
ESSCO, Bangun Budaya Ilmiah dan Keterampilan Public Speaking

Keterampilan berani berbicara di depan umum atau yang akrab didengar dengan istilah public speaking merupakan sebuah keterampilan yang penting dewasa ini. Hal tersebut disadari oleh sekelompok mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergerak membentuk sebuah wadah pelatihan public speaking dengan nama English Student Sharing Community (ESSCO). Ketua ESSCO Moh. Kholilurrahman menjelaskan komunitas ini tidak hanya menjadi wadah untuk melatih kemampuan public speaking mahasiswa, namun juga berfungsi untuk membangun budaya diskusi ilmiah di lingkungan Pendidikan Bahasa Inggris. Misalnya, pada salah satu agenda ESSCO yakni Weekly Sharing mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dapat mempresentasikan penelitian mereka. “ESSCO tidak hanya melatih mereka berbicara tapi juga untuk membangun budaya diskusi ilmiah karena biasanya kami menentukan tema untuk melaksanakan diskusi,” ungkap Kholilurrahman. Di sisi lain, ESSCO juga memiliki agenda sharing session yang dikemas dalam agenda Coffee Break dengan menghadirkan beberapa pembicara dan mengangkat tema tertentu. Para pembicara terdiri dosen dan mahasiswa lokal maupun mahasiwa asing UMM yang memiliki prestasi di bidang akademik dan non-akademik. “Agenda Coffee Break ini untuk memberikan pengalaman atau ide-ide baru bagi mahasiswa ELED (English Language and Education Department.red),” jelas pria yang akrab disapa Mamang tersebut. Di akhir Kholilurrahman menyampaikan pihaknya berharap keberadaan ESSCO nantinya dapat menjadi salah satu jalan untuk mengenalkan Pendidikan Bahasa Inggris UMM kepada pihak luar melalui prestasi dan kegiatan ilmiah. “Kedepannya kami berharap bisa membuat acara-acara bagus yang melibatkan pihak luar”pungkasnya.(nis/sil)
Mahasiswa Ikom UMM Pamerkan 1500 Produk Karya Fotografi dan Desain Grafis

Rabu (3/1) Program Studi Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Pameran Desain Grafis dan Fotografi, Artphobic Vol. 2. Pameran yang digelar kedua kalinya ini bertempat di lantai 3,5 UMM dan mengangkat tagline “Being Creative and Being Productive”. Menampilkan karya foto dari mahasiswa Ikom angkatan 2017 dan karya desain grafis dari mahasiswa Ikom angkatan 2016, pameran ini menjadi bukti hasil produksi mahasiswa Ilmu Komunikasi yang menempuh mata kuliah Komputer Grafis dan mata kuliah Dasar Fotografi. Tidak hanya untuk memamerkan hasil karya mahasiswa, lebih dalam lagi kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat mahasiswa untuk terus menghasilkan karya. Hal ini disampaikan oleh dosen pengampu mata kuliah desain grafis, Fitri Kurniawati. Fitri menyampaikan, pada Artphobic yang ke 2 ini setiap mahasiswa diberikan 5 buah proyek yakni satu buah majalah, dua buah logo dan dua buah packaging product take away. Meski demikian, mahasiswa diberi kebebasan dalam pemilihan tema yang akan mereka desain. “Tema saya bebaskan, karena biasanya mahasiswa terlalu terpaku pada beberapa pakem desain tertentu, padahal desain itu juga merupakan seni yang bebas,” ujar Fitri. Berbeda dengan mata kuliah Komputer Grafis, mata kuliah Dasar Fotografi mengangkat tema khusus untuk pameran kali ini. Memamerkan 40 foto tematik, mata kuliah ini mengangkat tema “Life of Traditional Market”. Dosen pengampu mata kuliah Dasar Fotografi, Rahadi menyampaikan pemilihan tema tersebut bukan tanpa alasan. Ia mengaku tertarik dengan interaksi yang terjadi di pasar-pasar tradisional. Rahadi menguraikan, menurutnya orang-orang yang ada di pasar tradisional merupakan representasi dari masyarakat di sekitar lingkungan tersebut. Oleh karena itu, saat berinteraksi dengan seseorang di pasar, secara tidak langsung pengunjung seperti berinteraksi dengan masyarakat sekitar. “Dengan ini mahasiswa juga diharapkan dapat langsung berinteraksi dengan subjeknya serta memotret dengan cara yang lebih dekat,” jelas Rahadi. Salah satu peserta Artphobic Vol. 2 sekaligus ketua pelaksana pameran, Jelly Bagus Prasetyo mengaku terkesan dengan hasil karya teman-temannya. Ia berharap kedepannya karya-karya baru dari peserta pameran terus bertambah. Jika dikembangkan, Bagus yakin berkarya di bidang fotografi dan disain grafis bisa jadi pekerjaan utama. “Sangat sayang jika berhenti memotret dan mendesain setelah mata kuliah berakhir. Saya berharap kedepan saya dan teman-teman tidak berhenti memotret dan mendesain,” pungkas mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2016 tersebut. (iel/sil)
Buka Pendaftaran Jalur Prestasi, UMM Manjakan Camaba dengan Aplikasi My UMM dan PMB UMM

Di hari kedua pada tahun 2018, Selasa (2/1), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka pendaftaran mahasiswa baru tahun akademik 2018/2019 jalur prestasi. Kriteria akademik yang harus dipenuhi oleh calon mahasiswa baru jalur prestasi adalah memiliki nilai rata-rata rapor semester 1 hingga semester 5 minimal 80. Selain prestasi akademik, Rektor UMM Fauzan menyampaikan bahwa prestasi non-akademik juga menjadi salah satu poin penting yang dapat menjadi nilai tambah bagi para pendaftar jalur ini. “Kita tidak hanya melihat prestasi akademiknya saja, namun juga prestasi non-akademik pendukung lainnya juga akan dipertimbangkan,” jelas Fauzan. Jalur prestasi yang mengawali pendaftaran calon mahasiswa baru ini, dibuka dua periode. Periode I dimulai pada 2 Januari – 23 Februari 2018 dan Periode II pada 26 Februari-20 April 2018. Untuk memudahkan para calon mahasiswa baru, pada tahun akademik 2018/2019 seluruh informasi dan proses pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui aplikasi android My UMM dan PMB UMM. Fauzan menyampaikan, kedua aplikasi tersebut menjadi sebuah inovasi yang membuktikan bahwa UMM lekat dengan kehidupan masyarakat modern. “Sebuah inovasi yang kita berikan untuk mempermudah proses pendaftaran dan perolehan informasi untuk mahasiswa baru ini tanpa mengurangi nilai-nilai ritual akademik,” urai Fauzan. Tidak hanya untuk mahasiswa lokal, UMM juga bersiap untuk menerima mahasiswa baru dari luar negeri. Berbagai kerjasama dengan pihak luar, hingga saat ini juga terus ditingkatkan. “Terus kita kembangkan berbagai bentuk kerjasama karena hingga saat ini mahasiswa asing yang mendaftar sudah banyak yang melalui jalur mandiri tanpa melalui pihak ketiga,”tambahnya. Selain Program Jalur Prestasi, pada 5 Maret – 4 Mei 2018 akan dibuka pendaftaran calon mahasiswa baru Jalur Regular Periode I. Sementara itu, Jalur Reguler Periode II akan dilaksanalan pada 21 Mei – 13 Juli 2018 dan ditutup dengan Jalur Reguler Periode III yang akan dilaksanakan pada 23 Juli – 16 Agustus 2018. (nis/sil)
Prodi Bahasa Inggris UMM Kreasikan Produk Media dan Sumber Belajar

Jumat (29/12), Program Studi Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pameran produk media dan sumber belajar. Pameran yang bertajuk Innovative Teaching Media ini digelar di Lantai 3,5 UMM dan diikuti oleh 18 kelompok. Media belajar yang dipamerkan pun beragam, mulai dari media ajar tradisional atau analog hingga yang berbasis IT. Dosen pengampu mata kuliah Media dan Sumber Belajar, Rahmawati Khadijah Maro mengungkapkan, pameran ini merupakan refleksi akhir dari matakuliah media dan sumber belajar. Ia menyebutkan bahwa tujuan dari pameran ini agar mahasiswa terbiasa berpikir kreatif. “Mahasiswa tidak boleh hanya pandai dalam berteori saja, namun juga harus pandai dalam mengaplikasikan ide dan gagasan mereka,” ujar Rahma. Rahma juga menambahkan, meskipun pameran ini hanya merupakan projek mata kuliah, mahasiswanya tetap maksimal dalam menggelar pameran ini. Terbukti, produk-produk yang dipamerkan oleh mahasiswa semua menarik dan inovatif. “Di sini ada 18 kelompok, dan produk dari setiap kelompok tersebut memiliki keunggulan masing-masing. Keragaman produk tersebut meliputi target media tersebut, untuk usia PAUD, sekolah hingga dewasa. Bahkan ada salah satu produk IT yang dipamerkan sudah bisa diunduh dari Playstore,” sambung Rahma. Salah satu peserta pameran, Tri Juniyanti, mengaku merasa sangat tertarik dengan projek mata kuliah ini. Ia dan kelompoknya membuat aplikasi bernama VOCAPOS (Vocabulary and Part of Speech) yang merupakan aplikasi untuk membantu memahami part of speech dalam Bahasa Inggris. “Aplikasi ini berbentuk TTS (teka-teki silang.red), kami memprogram seperti itu agar para pembelajar bisa lebih tertarik dan mudah dalam belajar vocabulary dan part of speech,” tukasnya. Dibalik itu semua, Tri tak menampik jika ada kesulitan dalam pengerjaan aplikasi VOCAPOS tersebut. Salah satunya yang mendasar ialah kesulitan untuk membuat software aplikasi itu sendiri. “Kami bukan mahasiswa jurusan IT, jadi kami kesulitan dalam membuat program aplikasinya. Namun kami tetap tertarik mengembangkan VOCAPOS lebih jauh lagi setelah semester ini berakhir,” ungkap Mahasiswi Program Studi Bahasa Inggris angkatan 2016 itu. Selain aplikasi TTS VOCAPOS, ada juga media belajar dalam bentuk TTS yang lain yakni SCRABBLE, yang dikhususkan untuk siswa kelas 6 SD belajar vocabulary dengan cara yang lebih menyenangkan dalam bentuk analog atau tradisional.(iel/sil)
Mahasiswa PGSD UMM Ciptakan 36 Tarian Tradisional

Sabtu (30/12) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Pagelaran Seni PGSD 2017. Gelaran tari yang bertajuk “Create Entrepreneur in Traditional Dance to Build World of Education” ini digelar di parkiran mobil UMM. Gelaran tari kali ini merupakan bentuk tugas akhir dari mata kuliah Seni Budaya Sekolah Dasar 1 yang ditempuh oleh mahasiswa Prodi PGSD angkatan 2016. Total, ada 36 tarian yang disuguhkan. Menariknya tarian-tarian tersebut murni hasil karya mahasiswa PGSD, mulai dari musik hingga koreografinya. Dosen pengampu mata kuliah Seni Budaya Sekolah Dasar 1, Arina Reftian, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan tujuan dari kegiatan ini adalah agar mahasiswa dapat menjaga warisan budaya Indonesia, terutama dalam bentuk seni tari. “Dari kegiatan ini diharapkan setiap lulusan PGSD UMM selain menjadi pendidik yang profesional, mereka bisa menciptakan karya seni autentik mereka sendiri,” ujar Arina. Arina juga menambahkan, menurutnya kurikulum yang ada saat ini masih kurang dalam mendorong siswa dan mahasiswa untuk mengembangkan nilai-nilai seni budaya Indonesia. Karenanya, dibutuhkan acara sejenis untuk mendorong mahasiswa lebih aktif menjaga nilai-nilai budaya. “Harapannya, dengan kegiatan ini mahasiswa lebih terdorong untuk menjaga nilai budaya Indonesia,” pungkas salah satu inisiator Rumah Budaya Indonesia, yang juga bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Kedutaan Besar RI di Selandia Baru itu. Membuat sebuah tarian dan menampilkannya secara perdana di muka umum ternyata bukanlah hal yang sederhana. Hal ini diungkapkan oleh Galih Ayuningtyas, salah satu peserta Pagelaran Seni PGSD 2017. Selain kikuk harus tampil di muka umum, ia juga mengungkapkan Tarian Burung Nuri yang ia peragakan bersama teman-teman melalui proses yang panjang dalam pembuatannya. “Kesulitannya ada di pembuatan lagunya, bagaimana menyambung nada satu dengan yang lain, tetapi lain ceritanya dengan koreografinya, karena saya sudah pernah menari,” ungkap Galih. (iel/sil)
Teknik Industri UMM Bangun Semangat Penciptaan Produk Berbasis Teknologi
Film Pendek Kine Klub UMM Sabet Ide Cerita Terbaik di UMY

Tidak ada hari tanpa prestasi. Hal itu selalu didengungkan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Drs. Fauzan, M.Pd. Kata-kata rektor tersebut seperti sudah mendarah daging pada semua civitas akademika UMM. Saat ini gilaran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Studi Sinematografi Kine Klub UMM. Melalui filmya yang berjudul Menthul, UKM ini meraih penghargaan film dengan ide cerita terbaik pada gelaran Festival Film Gadget dalam Communication Awards Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Alissa Nailun Kamila, produser film Menthul, menyatakan, dirinya tak menampik bahwa ada kesulitan dalam produksi film ini. Selain tema film yang ditentukan yakni “perundungan” kesulitan lain terletak pada pemilihan alat yang digunakan karena harus menggunakan media gadget sebagai alat rekamnya. “Kami kesulitan menemukan gadget yang spesifikasi kameranya mencukupi untuk menjadi alat perekam yang diinginkan,” ujar Alissa. Sementara itu, Miftah Al Kautsar, sutradara film Menthul, menyebutkan bahwa film ini menceritakan tentang seorang anak yang masa kecilnya sering mengalami perundungan. Saat ia dewasa, ia ingin berubah menjadi seseorang yang sudah distandarkan oleh teman-temannya. Namun setelah berubah, teman-temannya menjadi sadar atas perbuatannya dan meminta kepada anak tersebut untuk menjadi diri sendiri. “Dalam film ini ada dua bentuk perundungan yang digambarkan, yakni dalam bentuk verbal dan fisik,”jelas mahasiswa teknik mesin UMM angkatan 2015 ini Ia juga menambahkan, bahwa ia ingin nantinya film ini memiliki ruang pemutaran sendiri dan film ini dapat dikonsumsi oleh khalayak umum. “Saya juga berharap, film ini nantinya akan dapat merubah mindset orang-orang pelaku perundungan untuk berhenti melakukan hal yang bersifat traumatis tersebut,” tambahnya. Hal yang sama disampaikan oleh pembina Kine Klub UMM, Rahadi. Ia menyebutkan, selain bisa dikonsumsi masyarakat, film ini juga masih mempunyai taji jika ingin diikutkan lomba kembali. “Dalam film ini, teman-teman Kine sangat lihai mengkonstruksi realitas yang ada dimasyarakat sehingga menjadi ide cerita yang menarik. Dan memang kekuatan film ini terletak pada ide ceritanya,” pungkas Rahadi. Selain film Menthul, film Kripik Apel dari Kine Klub UMM juga mendapatkan penghargaan 5 besar film terbaik dalam lomba Cinema Communication Artcademic Festival 2017 di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. (iel/sil)
Tingkatkan Produktivitas Mahasiswa, Prodi Bahasa Indonesia Adakan Gelar Karya Bartera

Pelataran lantai 3,5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ramai dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswi yang hadir pada Gelar Karya Bahtera (Bahasa dan Sastra Indonesia) hari ini, Jumat (29/12). Gelar Karya Bahtera ini merupakan acara dari program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dalam rangka mengapresiasi karya-karya mahasiswa semester lima. Pada kesempatan ini, mahasiswa mata kuliah Fotografi, Menulis Sastra dan Membaca Sastra serta mata kuliah Linguistik Umum memamerkan hasil karya berupa foto, poster, antologi puisi, antologi cerita pendek (cerpen), buku ajar serta video. Ditemui disela-sela acara, Arif Setiawan MPd selaku dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mengungkapkan pentingnya mahasiswa memiliki kemampuan foto. “Kita mencoba mengungkapkan atau memberi makna dari sebuah foto. Ini juga sesuai dengan kurikulum bahwa luaran Bahasa Indonesia diharap mempunyai kemampuan fotografi dan dokumentasi,” ungkap Arif. Lebih lanjut Arif menyebut gelaran ini dapat mengasah kemampuan lain mahasiswa. Misalnya pada mata kuliah Menulis Sastra mahasiswa mampu menghasilkan produk berupa cerpen dan puisi. “Karena dewasa ini kan banyak orang yang tidak gemar menulis, jadi setidaknya dengan mata kuliah ini mahasiswa UMM khususnya prodi Bahasa Indonesia ditingkatkan kembali gairahnya untuk menulis,” tandas Arif. Sedangkan mata kuliah Membaca Sastra, disebut Arif merupakan bentuk apresiasi kepada para pengarang sastra berupa arrangsement musik, sehingga menghasilkan musikalisasi puisi. Terhitung, sebanyak 54 hasil jepretan foto terpilih karya mahasiswa dipamerkan. Beberapa jenis foto itu diantaranya merupakan foto human interest yang memotret kegiatan jual beli di pasar, Selain itu, ada pula foto jenis landscape berupa pemandangan alam. Sementara itu, untuk antologi puisi dan cerpen terdapat 6 karya yang ditampilkan. Melengkapi acara, even kali ini turut diramaikan oleh pertunjukan empat musikalisasi puisi dari para mahasiswa. (nim/sil)