Gelar CCSD, BEM FPP Akrabkan Maba

AJANG kreativitas mahasiswa Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditutup dengan apik oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FPP selaku penyelenggara. Gelaran bertajuk Closing Ceremony Student Day (CCSD) dilaksanakan di Heliped UMM hari ini, Rabu (27/12). Mengusung konsep serba biru, sebanyak 885 mahasiswa FPP dari Prodi Ilmu Teknologi Pangan (ITP), Prodi Kehutanan, Prodi Agribisnis, Prodi Peternakan, Prodi Agroteknologi dan Prodi Perikanan kompak mengenakan dress code denim. Kordinator Acara CCSD, Jasuli menegaskan bahwa gelaran ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan Student Day dan Dekan Cup, dimana kegiatan ini mewadahi minat dan bakat mahasiswa baru UMM dalam bidang seni, olahraga dan akademik. Selain itu Jas juga berharap acara ini dapat mengakrabkan mahasiswa dari enam program studi yang ada di FPP. “Juga sebagai nostalgia masa Pesmaba dimana mahasiswa dicampur dari berbagai jurusan yang berbeda dan BEM mencoba mempersatukan kembali mahasiswa tersebut melalui acara ini,” tukas Jas yang juga pengurus BEM FPP. Tidak sekedar penutupan biasa, dalam gelaran ini juga disampaikan pengumuman juara umum lomba dan supporter terbaik. Selain itu, pemenang lomba dari bidang seni, olahraga, maupun akademik. Selanjutnya, mereka akan dibina dan dipersiapkan untuk lomba tingat universitas yakni Rektor Cup. Selain itu, acara ini juga dimeriahkan dengan stand bazar dan pameran foto mahasiswa saat kegiatan Student Day berlangsung. Melengkapi acara, ada juga tarian tradisional, penampilan band, vocal group dan solo vocal dari mahasiswa FPP. Tak hanya itu, hadir pula guest star yakni band indie asal Malang dan juga Disc Jokey (DJ) yang memeriahkan sekaligus melengkapi gelaran CCSD. (nim/sil)

HMJ Civic Hukum UMM bangun Perspektif HAM melalui Jalur Pendidikan

Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia terus bergulir bersama pro dan kontra yang terus berkembang. Membahas penegakan HAM di Indonesia tidak akan pernah lepas dari isu-isu penting yang terus menjadi bahan perdebatan, di antaranya isu kebebasan berkeyakinan, isu pernikahan beda agama, isu transgender, dan isu hukuman mati bagi para pelaku kejahatan serius. Peneliti di Locus Malang Nafi’ Muthohirin menyampaikan bahwa geliat usaha mahasiswa dalam mengenal HAM saat ini perlu diapresiasi. “Digelarnya kegiatan diskusi ini menjadi bukti bahwa geliat mahasiswa yang saat ini lebih banyak bermodel pragmatis dan hedonism ternyata juga peduli untuk menambah pengetahuan tentang HAM,” ungkap Nafi’. Diskusi Kewarganegaraan II yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Program Studi Civic Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Jumat (22/12) mengangkat tema Pelaksanaan Hukuman Mati bagi Terpidana Kejahatan Serius. Menurut Nafi’, hukuman mati merupakan isu utama yang terus menjadi sorotan di Indonesia sejak era kepemimpinan Joko Widodo. “Sejak Jokowi menetapkan hukuman mati untuk terduga kasus penyalahgunaan narkotika, akhirnya banyak menuai pro dan kontra serta menjadikan penegakkan HAM sebagai alasan utama” ujar Nafi’. Selain memaparkan tentang penegakkan HAM bagi terduga kasus narkotika, dosen Fakultas Agama Islam UMM ini menyatakan bahwa penegakkan HAM di Indonesia mundur di lapangan. Hal tersebut mengingat banyaknya tindakan-tindakan aparat negara yang terkesan tidak masuk akal dalam penegakkan hukum di Indonesia. “HAM Indonesia itu bagus dalam implementasinya karena mengadopsi perundang-undangan yang ada di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun sayangnya, implementasi lapangannya mundur karena banyak hal yang tidak masuk akal dijadikan dasar untuk menegakkan HAM itu sendiri,” jelas Nafi’. Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Multikultural UMM ini juga menambahkan bahwa, penegakkan HAM di Indonesia harus disertai dengan pengenalan HAM itu pada masyarakat pelosok nusantara meskipun pluralism di Indonesia sudah difasilitasi dengan baik. “Sekalipun hingga saat ini Indonesia merupakan negara paling baik dalam memfasilitasi pluralisme kebudayaan yang ada di Indonesia,” tandasnya. (nis/sil)

UMM Pertemukan Para Peneliti untuk Ciptakan Pengajaran Matematika Modern

Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup akhir tahun dengan dengan menghelat Konferensi Pendidikan Internasional yang dilaksanakan pada Sabtu (23/12). Konferensi ini ditujukan untuk membangkitkan semangat para peneliti yang memiliki konsentrasi pada bidang Matematika. Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidkan (FKIP UMM). Dr. Sudiran, M.Hum menyampaikan bahwa pada konferensi ini para peserta diajak untuk mengenal cara menyampaikan ilmu matematika bukan sebagai ilmu yang sulit dan sekedar ilmu yang berhubungan dengan hitung-menghitung. Matematika juga diharapkan dapat disampaikan sebagai ilmu yang dapat menghubungkan peserta didik dengan perkembangan era masa depan. “Dengan dihadirkannya banyak pembicara dari negara-negara lain diharapkan kegiatan yang digagas oleh Program Studi Matematika FKIP UMM ini dapat menjadi sarana bagi para peneliti ilmu matematika untuk tidak hanya sekedar mengajarkan perhitungan matematika namun juga sebagai alat untuk mengenalkan perkembangan dunia melalui matematika” ungkapnya. Mengangkat tema The Robbustness of Mathematics Education Invention kegiatan ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi para peneliti bidang matematika untuk terus memperkuat dan memperkaya penemuan. Kegiatan yang dihadiri oleh kurang lebih delapan puluh peserta dari berbagai universitas di Indonesia ini bertujuan sebagai saran bagi para peneliti bidang matematika untuk dapat mempublikasikan hasil riset mereka. Pada sesi pertama diskusi, Prof. Dr. Mohd. Salmi Md. Noorani memaparkan poin-poin penting dalam menyampaikan ilmu matematika agar tidak menimbulkan miskonsepsi yang hingga saat ini terus menjadi persoalan dalam pembelajaran matematika. “Matematika sebenarnya adalah sebuah kemahiran dalam berpikir, namun mathematics sering menjadi hal yang sangat tidak dicinta karena teradapat banyak misconceptions dalam penyampaian ilmunya,” ungkap Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Hubungan Internasional Fakultas Sains dan Teknologi Univesity Kebangsaan Malaysia. Selain Prof. Dr. Mohd. Salmi Md. Noorani, pada kegiatan ini juga hadir sebagai pembicara utama di antaranya Dr. Lilla Adulyasas dari Universitas Yala Rajabhat Thailand, Dr. M. Syaifuddin, M.Si dari Universitas Muhammadiyah Malang Indonesia, Chanakya Wijeratne, Ph.D dari Universitas Colombo Sri Lanka, dan Nhelbourne K. Mohammad, M.Ed dari Universitas Cotabato Filipina. (nis/sil)

Menteri dan Mantan Menteri Nostalgia di Reuni Akbar UMM

Sabtu (23/12) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Reuni Akbar bertajuk “Welcome Back to Campus”. Dihadiri ratusan alumni mulai angkatan 1983, acara pembukaan digelar di Theater Dome UMM kemudian dilanjutkan dengan reuni di tingkat fakultas. Dihadiri oleh rektor pada masa konsolidasi, independensi dan ekspansi UMM yakni Prof. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Pembina Harian UMM dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia serta Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, MAP. yang kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Rapublik Indonesia acara berlangsung hangat. Diawali dengan penyematan topi kepada kepada wakil peserta reuni oleh rektor dan mantan rektor UMM, para alumni serasa dikembalikan pada nostalgia saat menempuh studi di kampus putih. Memberikan sambutannya, Malik Fadjar menyampaikan bahwa sebagai manusia, para alumni tidak boleh sampai kehilangan cita-cita dan tujuan. Jika hal tersebut sampai terjadi, maka kedepannya tidak akan ada energi dan motivasi untuk melakukan hal yang bermakna. “UMM merupakan universitas yang penuh dengan cita-cita. Jadi alumni-alumni UMM adalah generasi yang lahir dan dibesarkan penuh dengan cita-cita,” tukas Malik. Sementara itu, Muhadjir Effendy mengaku kagum dengan prestasi-prestasi yang ditorehkan alumni UMM. Hingga saat ini, alumni UMM telah tersebar dan berkarya di berbagai bidang, termasuk di dunia politik. “Saya melihat banyak alumni yang sudah menjadi orang besar, apalagi di bidang politik mulai dari anggota DPR hingga Bupati,” ucap Muhadjir. Di akhir Rektor UMM, Drs. Fauzan, M.Pd. berpesan kepada para alumni agar tetap menjaga silaturahmi dan komunikasi. Fauzan juga mengingatkan, meski sudah sukses UMM harus selalu ada di hati setiap alumni. “Kita boleh saja menjadi alumni, namun kita harus harus tetap sehati,” ujar Fauzan. Dalam reuni kali ini, turut hadir juga alumni-alumni yang kiprahnya cukup dikenal di Indonesia, seperti akademisi dan pengamat politik Dr. M. Alfan Alfian, M.Si dan Mantan Menteri Pertahanan Republik Demokratik Timor Leste, Dr. Julio Tomas Pinto. (iel/sil)

Student Day UMM, Cetak Mahasiswa Bermental Pejuang

GELARAN Student Day 2017 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditutup oleh Rektor UMM Drs Fauzan M.Pd, Sabtu (23/12). Student Day menjadi wadah yang ditujukan untuk mahasiswa baru UMM mengembangkan minat dan bakat. Pada gelaran ini, mahasiswa angkatan 2017/2018 dari berbagai fakultas dapat menyalurkan kemampuannya antara lain di bidang seni, olahraga, akademik, dan kreativitas. Dalam sambutannya, Fauzan berpesan agar para mahasiswa senantiasa menjaga semangat meski gelaran Student Day telah usai. Bentuk semangat yang dimaksud ialah dengan mengimplementasikan apa yang telah diperoleh selama Student Day dalam kehidupan kemahasiswaan. “Esensi Student Day harus ada dalam dada kalian, harus ada dalam jiwa kalian,” tegas Fauzan. Lebih jauh Fauzan menyampaikan pentingnya mahasiswa memiliki mental tangguh dan mental pejuang sehingga kehadirannya di tengah masyarakat dapat memberi manfaat. “Jadilah mental-mental pejuang sehingga saudara jadi mahasiswa UMM  ini benar-benar berarti ditengah masyarakat di masa yang akan datang,”tandasnya. Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof Dr Malik Fadjar menyampaikan harapannya agar Student Day yang telah menjadi tradisi UMM selama 20 tahun ini tidak sekedar menjadi gelaran rutin. Malik berharap, kegiatan ini juga bisa menelurkan generasi yang lebih baik dibanding sebelumnya, terutama dalam rangka mengembangkan student need dan student interest yang menjadi perwujudan Tri Darma Perguruan Tinggi. “Student Day mengantarkan mahasiswa UMM dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, sekaligus mencerdaskan,” ungkap Malik. Lebih jauh, Malik menyampaikan bahwa untuk mencapai cita-cita bangsa, mahasiswa UMM diminta dapat menciptakan pergaulan yang sehat dan cerdas dengan gerakan literacy. Menurutnya, generasi yang sukses adalah generasi yang membaca. Generasi yang mengandalkan buku-buku, bukan mengandalkan internet. “Penuhilah kehidupan di kampus ini, setiap mahasiswa menjadi mahasiswa yang gemar membaca. Ini kunci untuk menjadi generasi yang sukses,”tandasnya. Berlangsung meriah acara ini juga diisi dengan penampilan tarian daerah serta persembahan musik dari mahasiswa. Salah satu peserta yang hadir, Andini mahasiswi prodi Psikologi mengaku ‘panen’ manfaat selama mengikuti Student Day. “Saya belajar membuat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang dipandu kakak-kakak tingkat. Saya juga bisa menyalurkan hobi menari dan ikut lomba tari di level Universitas,” tutur Andini. Sebagai puncak dari rangkaian Student Day yang sudah diselenggarakan sejak bulan Oktober, mahasiswa mendapatkan apresiasi atas prestasi di bidang akademik dan non akademik. Kedepannya, Student Day yang merupakan ajang kreativitas mahasiswa di tingkat fakultas ini akan berlanjut dengan ajang kreativitas mahasiswa pada tingkat universitas yang disebut dengan Rektor Cup. (nim/sil)

Rangkul Alumni, IMM Psikologi Jawab Tantangan Kerja Jaman Now

Menghadapi tantangan kerja di era milenial ini, para alumni dan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Psikologi menyiapkan alumninya untuk menjadi tenaga kerja profesional. Lebih lanjut, pembahasan ini dikemas melalui diskusi nasional yang digelar bersamaan dengan temu alumni IMM Komisariat Psikologi. Kegiatan yang bertajuk Psikologi Menjawab Tantangan Kerja Jaman Now tersebut, merupakan rangkaian kegiatan yang ditujukan bagi calon Sarjana Psikologi untuk tidak perlu menunggu menjadi alumni dari Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru mencari pekerjaan. Mahasiswa Psikologi UMM harus sudah mempunyai pekerjaan bahkan sebelum menyelesaikan studinya. Senada dengan hal tersebut, Rektor UMM Fauzan menegaskan bahwa kegiatan ini dapat menjadi salah satu bentuk dukungan IMM Psikologi untuk ikut mendorong program-program pengembangan mahasiswa yang dirancang oleh universitas. “UMM mempersiapkan program-program untuk mahasiswa yang belum lulus sudah harus kerja dan IMM hari ini sudah membantu untuk menuju kesuksesan kesana,” ungkap Rektor UMM di Aula BAU UMM, Sabtu (23/12). Sementara itu, Dekan Fakultas Psikologi Salis Yuliardi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah inisiasi yang sempurna untuk membekali mahasiswa Psikologi, utamanya alumni IMM dalam membentuk profil tenaga kerja yang professional. “Tanpa perlu untuk dijelaskan lagi kegiatan ini merupakan permulaan yang baik untuk menyiapkan tenaga profesional khususnya bagi Psikologi UMM,” jelas Salis.

Hari Ibu, LP3A UMM Sebarkan Nilai-Nilai Ibu Cerdas Zaman Now

Peringatan Hari Ibu terasa istimewa ketika tidak hanya diperingati, namun juga dapat menjadi momen berbagi. Hal ini dilakukan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan menggelar kajian bertajuk ‘Tantangan Menjadi Ibu Cerdas di Era Kekinian: Smart Mom, Smart Parents, Smart Kid’, Jumat (22/12). Menghadirkan Dr. Vina Salviana M.Si dan Nur Affifah Khurin M.Kes sebagai pemateri, 80 peserta memadati Auditorium UMM. Peserta Kajian Hari Ibu ini terdiri dari berbagai elemen, antara lain guru Taman Kanak-Kanak (TK), Pimpinan Daerah Aisiyah (PDA) dari Kota Malang, Kabupaten Malang serta Kota Batu, dosen dan Sahabat LP3A (SAPA) yang merupakan mahasiswa UMM. Kepala LP3A UMM, Dra Thathit Manon M.Hum mengungkapkan bahwa dengan membidik berbagai unsur peserta dalam kegiatan ini, ilmu yang dibagikan melalui kajian ini dapat diteruskan ke berbagai elemen baik dari segi pendidikan, ibu rumah tangga, juga mahasiswa. “Tujuannya agar peserta yang hadir dapat menjadi agent of change dengan cara menjadi ibu cerdas di era kekinian,” ungkap Thathit. Menyampaikan materinya, Dr Vina Salviana memaparkan tentang self concept. Menurut Vina, kata-kata yang diucapkan oleh ibu mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku dan karakter seorang anak. Apa yang dikatakan seorang ibu akan melekat dalam benak si anak. “Jika seorang Ibu sering berkata kasar, misalnya membodoh-bodohkan seorang anak, maka kata-kata itulah yang tertancap di benak si anak,” ujar Vina yang juga dosen Prodi Sosiologi. Mengamini Vina, Nur Affiah menambahkan bahwa pola pengasuhan dan perlakuan juga mempengaruhi tumbuh kembang serta karakter anak.  Hal tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Parenting adalah perjalanan panjang. Apa yang diajarkan orang tua terhadap anak terkait pendidikan karakter, tidak bisa instan dirasakan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk melihat hasilnya. “Oleh sebab itu apa yang dilakukan oleh orang tua saat ini, tidak terlepas dari yang diterimanya dulu,” pungkas dosen prodi Tarbiyah ini. (nim/sil)

Gelar Pameran Foto, Alumni Erasmus Motivasi Mahasiswa UMM Kuliah di Eropa

KAMIS hingga Sabtu (21-23/12), Kantor Hubungan Luar Negeri Universitas Muhammadiyah Malang (KHLN-UMM) bersama alumni Erasmus UMM menggelar Pameran Foto UMM yang bertajuk “Erasmus Jaman Now, From Europe to  UMM” di Taman Gazebo Perpustakaan Pusat UMM. Foto-foto yang dipamerkan adalah foto karya 23 alumni Erasmus Mundus dan Erasmus+. Total ada 160 foto yang diambil di 10 negara Eropa sejak tahun 2009. Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM, Soeparto, memaparkan tujuan digelarnya pameran foto ini adalah untuk mempromosikan program Erasmus+. Selain itu, acara ini juga digelar untuk memotivasi dan memberi dukungan kepada mahasiswa UMM yang belum mendapatkan kesempatan beasiswa Erasmus+. “Melalui kegiatan ini kita tumbuhkan kemauan mahasiswa. Setelah ada kemauan pasti ada jalan untuk mencapainya. Seperti kata pepatah, There is will, there is way,” ujar Parto. Ia juga menambahkan bahwa sejauh ini prestasi UMM dalam Erasmus+ sangat membanggakan. Selain pada tahun ini mendapatkan tujuh kerjasama konsorsium di Eramus+, jumlah alumni Erasmus+ di UMM merupakan yang terbanyak ketiga di Indonesia yakni mencapai 85 orang alumni. Secara rinci mereka terdiri dari 10 karyawan, 19 dosen serta 56 mahasiswa. Jumlah ini mengantarkan UMM menempati peringkat ketiga di Indonesia dibawah UGM dan UI serta nomor satu di wilayah Jawa Timur.  “Di seluruh konsorsium yang bekerjasama dengan UMM, UMM selalu menjadi satu-satunya universitas swasta dan universitas termuda,” tambahnya. Menambahkan Soeparto, Kepala KHLN, Abdul Haris, mengatakan bahwa pengalaman di luar negeri sangat penting untuk memberikan pandangan dan pemikiran yang lebih luas bagi mahasiswa. Salah satunya mahasiswa juga dapat  mengaplikasikan hal-hal positif yang diperoleh di Eropa.  “Untuk internasionalisasi, UMM mempunyai tagline Designing a Local University with International Touch, dan tagline ini hampir bisa menggambarkan UMM saat ini,” pungkas Haris. (iel/sil)

BIPA UMM Siapkan 20 Mahasiswa Asing Jadi Duta Budaya Indonesia

Rabu (20/12), Unit Pelaksana Teknis Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (UPT-BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan Dipomasi Budaya & Pariwisata Indonesia. Kegiatan ini merupakan bentuk ujian yang terintegrasi bagi mahasiswa asing yang sedang belajar bahasa dan budaya Indonesia di BIPA UMM. Dihadiri 20 mahasiswa asing penerima beasiswa Darmasiswa  dan beasiswa Konferensi Negara Berkembang (KNB) dari Korea Selatan, Jepang, Kamboja, Vietnam, Thailand, India, Sudan, Palestina dan Jerman acara digelar meriah. Kepala UPT BIPA, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si., menuturkan dirinya cukup terkesan dengan perkembangan para mahasiswa asing yang mengikuti program BIPA tersebut. Pasalnya, hanya dalam waktu tiga bulan para mahasiswa tersebut sudah cukup lancar berbahasa Indonesia. “Selain diharapkan bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, yang lebih penting adalah mahasiswa asing BIPA diharapkan juga memahami budaya dan pariwisata di Indonesia,” ujarnya. Hal ini dikarenakan setelah selesai menempuh studi di BIPA UMM, mahasiswa asing tersebut akan dijadikan Culture Ambassador (Duta Budaya) bagi Indonesia di negara mereka masing-masing. “Hal ini sangat strategis bagi Indonesia, karena lulusan mahasiswa BIPA di UMM nanti juga bisa membantu Kedutaan Besar Indonesia untuk mempromosikan kebudayaan, pariwisata bahkan hingga mengajar bahasa Indonesia di negara asal mereka,” sambung Arif. Salah satu mahasiswa BIPA UMM, Jasmine, menuturkan bahwa ia sangat tertarik dengan kegiatan ini. Ia mengaku bisa belajar banyak budaya Indonesia dan berbagai macam pariwisata di Indonesia. “Di sini saya bisa menguji keterampilan  berbicara Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu juga banyak kebudayaan yang saya pelajari selama sehari, mulai dari pakaian tradisional, kebudayaan, hingga makanan tradisionalnya,” pungkas mahasiswi asal Vietnam itu. (iel/sil)