Milad Keempat, RS UMM Resmikan Unit Hemodialisa dan Poli Psikologi

MENINGKATNYA jumlah penyintas penyakit gagal ginjal menjadi perhatian Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) untuk meningkatkan layanannya. Setelah melalui rangkaian visitasi pada bulan Mei dan terbitnya rekomendasi operasional pada bulan Juli, RS UMM meresmikan unit hemodialisa (HD) dan poli psikologi, Sabtu (9/9). Peresmian unit HD RS UMM menyusul diterbitkannya Surat Izin Praktik (SIP) unit HD RS UMM oleh Dinas Kesehatan provinsi Jawa Timur pada bulan Agustus lalu. Peresmian ini dilangsungkan bersamaan dengan tasyakuran milad keempat RS UMM di aula lantai dua gedung penunjang RS UMM. Meski begitu, menurut Direktur RS UMM, Prof Dr dr Djoni Djunaedi Sp PD KPTI, unit HD sudah memberikan pelayanan pada masyarakat sejak dua bulan lalu. Unit HD RS UMM memiliki enam mesin yang mampu melayani hingga 24 pasien dalam sehari. Satu mesin beroperasi sebanyak dua shift dan tiap shift melayani empat pasien. Djoni menyatakan, peresmian ini akan banyak bermanfaat melayani pasien yang ingin melakukan cuci darah. “Prevalensi pasien jatuh ke gagal ginjal di kota Malang mencapai 650 ribu orang. Kalau dalam sehari RS UMM bisa melayani hingga 24 pasien, maka diharapkan ini akan memenuhi kebutuhan pasien. Saat ini unit HD UMM masih membuka satu shift, karena keterbatasan jumlah perawat,” ujar Djoni. Dikatakan Djoni, RS UMM merupakan rumah sakit pertama yang mengantongi surat izin legal dari provinsi. Beberapa RS yang sudah mengoperasikan unit HD sebelumnya masih dalam pengajuan izin legal. Selama ini, imbuh Djoni, pasien yang membutuhan layanan hemodialisa berasal dari berbagai daerah, seperti Blitar, Pasuruan, maupun Sidoarjo. Hal ini, dikatakan Djoni karena di beberapa RS daerah belum memiliki layanan hemodialisa. “Selain karena RS UMM sudah mampu melakukan itu, pasien gagal ginjal juga semakin banyak. Jadi alangkah lebih baiknya kalau RS UMM mampu memberi pelayanan itu,” ungkap Djoni. Wakil Rektor II UMM Dr Nazaruddin Malik MSi dalam sambutannya mengatakan, memasuki usia empat tahun, RS UMM terus berupaya memosisikan sebagai RS terbaik. “Ini tidak hanya mengusung misi kesehatan, tapi lebih dari itu juga misi dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karenanya, harus direfleksikan dalam upaya memperbarui level, tentunya ke arah yang lebih baik,” tukas Nazar. Hal tersebut, selain melalui pengembangan jajaran sumber daya manusia, juga tak lepas dari peran seluruh stakeholders. “Kolaborasi, sinergi, dan tanggapan yang responsif harus dimiliki seluruh elemen untuk memajukan rumah sakit ini, baik dokter, pengelola, rekan kerja, dan utamanya customer,” katanya. Ke depan, Djoni berharap RS UMM akan dapat mewujudkan target memiliki poli endoskopi dan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD). “Kita juga ingin segera dapat memberi layanan untuk penyakit jantung, kemoterapi kanker, dan gawat paru. Ahlinya sudah ada, tinggal kita siapkan saja. Semoga ke depan segera terwujud,” pungkas Djoni. (ich/han)
LK Terlibat Pendirian Pusat Budaya di New Zealand

LEMBAGA Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terlibat dalam pendirian Auckland University of Technology-Indonesian Center (AUTIC) di New Zealand. Lembaga ini merupakan hasil inisiasi bersama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI dengan Auckland University of Technology (AUT). Karena itulah pada peresmian AUTIC di Auckland, New Zealand, pada akhir Agustus (30/8), sekretaris LK Dr Iis Siti Aisyah MT dan pegiat LK Arina Restian MPd turut serta bersama rombongan Kemdikbud. Selain peresmian tersebut, selama sepekan di Auckland, tim LK juga berkunjung ke sejumlah komunitas Muslim dan komunitas kultural di kota itu. Di antara komunitas yang dikunjungi yaitu Warna Indonesia, komunitas ID-NZ dan Himpunan Umat Muslim Indonesia Auckland (Humia). Sebagai apresiasi atas kiprah sejumlah komunitas tersebut, LK telah menyiapkan buku “Diaspora Pejuang Budaya” yang disusun oleh Iis Siti Aisyiah beserta tim, untuk seri New Zealand. Terkait AUTIC, Iis Siti Aisyah berkisah, ide pendiriannya dilatari pengamatan adanya beberapa komunitas pegiat budaya Indonesia di Auckland. Hal itu lantas diapresiasi oleh Kemendikbud RI, sekaligus sebagai media promosi budaya Indonesia. Gagasan tersebut disambut cepat oleh Kemendikbud untuk direalisasikan lebih dengan melibatkan KBRI New Zealand di Wellington. “Alhamdulillah, pada 30 Agustus 2017, AUTIC dibuka secara resmi oleh Dubes RI Bapak Tantowi Yahya dan Bapak Mc. Cormack, Rektor Auckland University of Technology . Pada kesempatan itu, juga ada serah terima satu set gamelan Jawa, Tifa Papua dan lukisan kayu Papua antara wakil Kemdikbud dan AUT, “ papar Iis. Sementara pada kesempatan yang sama, LK UMM menyerahkan Buku Batik Jawa Timur yang diterbitkan LK UMM, CD Tari Bedhayan Gagrak Sumirat yang diciptakan Arina Restian, serta lima karakter Topeng Malangan, “AUTIC akan berisikan berbagai informasi tentang Indonesia, dan pelatihan-pelatihan budaya,” jelas Iis. (frid/han)
UMM Terapkan Blended Learning

MULAI semester ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bakal menerapkan blended learning atau pembelajaran campuran. Blended learning merupakan model pembelajaran yang memadukan antara tatap muka (face to face), melainkan juga kelas online (internet dan mobile learning). Koordinator program blended learning UMM Prof Dr Yus Mochamad Cholily MSi mengatakan, pelaksanaan program ini lantaran kian berkembanya sosial media, khususnya di kalangan anak muda. “Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi informasi sudah merambah ke dunia pendidikan. Oleh karena itu sangat disayangkan jika hal tersebut tidak didukung dengan model-model perkuliahan yang memanfaatkan teknologi ini,” ungkap Yus. Penggunaan blended learning, imbuh Guru Besar Ilmu Pendidikan Matematika UMM ini, kian banyak diadopsi di sekolah, perguruan tinggi, universitas, dan industri di seluruh dunia. Menurutnya, pembelajaran campuran akan mendorong proporsi kursus sekolah menengah secara online mencapai presentase 50 persen pada 2019. Selain itu, blended learning di perguruan tinggi akan menjadi salah satu metode pembelajaran baru. “Model pembelajaran meliputi program berbasis web, kolaborasi perangkat lunak, dan menejemen sistem jaringan. Selain itu, juga memuat sejumlah aktivitas termasuk belajar tatap muka, e-learning, dan aktivitas belajar mandiri. Ini memungkinkan peserta didik memadukan pengalaman belajar tatap muka dengan pembelajaran online. Teknologi informasi berpotensi meningkatkan efektivitas pembelajaran lantaran internet dapat memberikan akses sumber belajar tak terbatas,” paparnya. Penerapan blended learning ini diterangkan Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi, hanyalah salah satu upaya UMM memajukan proses pembelajaran. Berbagai upaya perlu ditingkatkan sebagai bagian dari tingginya kepercayaan pada UMM, di antaranya pengakuan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan nilai A dan perolehan sertifikasi internasional di tingkat ASEAN sebagai associate member of AUN-QA. Atas dasar itu, disebut Syamsul, UMM giat merevitalisasi Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) agar proses pembelajaran berjalan sesuai standar nasional. Selain itu, implementasi KPT merupakan prasyarat bagi perguruan tinggi yang tengah meningkatkan rekognisi internasional. Dengan begitu, imbuh Syamsul, mahasiswa UMM memiliki kualifikasi yang bagus. “Sejatinya, kami ingin memberikan dua kepastian kepada mahasiwa UMM. Kepastian pertama agar mahasiswa kami bisa lulus tepat waktu. Kepastian kedua yakni bagaimana agar lulusan kami bisa terserap di dunia kerja,” tandasnya. (can/han)
LK Dorong Penguatan Karakter Berbasis Budaya

SETIAP dua bulan sekali, Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rutin melakukan kajian interdisipliner membahas ragam topik dengan pendekatan budaya. Salah satu topik yang intens diangkat yaitu penguatan pendidikan karakter melalui pelatihan bagi para guru Sekolah Dasar (SD). Ketua LK Dr Daroe Iswatiningsih MSi mengatakan, berbagai kegiatan yang dilakukan LK merupakan bagian dari komitmen menyebarkan kebudayaan di berbagai segi, terutama di bidang pendidikan. “Harus disadari, pendidikan merupakan arena masuk yang strategis dalam menanamkan nilai-nilai pada manusia Indonesia,” kata Daroe. Salah satu kegiatan LK terkait hal tersebut yaitu Pelatihan untuk Guru SD se-Malang Raya untuk 100 guru SD (24/8) “Pelatihan untuk guru yang diadakan LK bukan hanya kali ini. Beberapa kali kajian multidisipliner LK juga selalu mengundang para guru. Hal ini sebagai media sharing dan pengayaan bagi para guru yang mulia,” kata Daroe. Hadir sebagai pemateri pada kegiatan tersebut kepala Dinas Pendidikan Kota Malang DraZubaidahMMyang menyampaikan materi tetang “Kebijakan Pendidikan Penguatan Karakter”, seorang dalang dan penulis buku wayang dari ISI Yogjakarta Dr Junaidi MHum, membawakan materi “Penguatan Karakter melalui Media Wayang”, serta dosen Ilmu Komunikasi UMM Dra Frida Kusumastuti MSi tentang “Media Massa sebagai Media Pembelajaran”. Pada kesempatan ini, Zubaidah memberi contoh tentang penanaman karakter siswa. Misal, perlu diperdengarkannya lagu-lagu nasional sebelum belajar. Selain itu, setiap waktu tertentu guru olahraga bisa masuk ke kelas-kelas untuk mengajak siswa senam ringan supaya tidak ngantuk. Pada sesi tanya jawab, Zubaidah menyimak dan mencatat aspirasi para peserta, khususnya guru dari Kota Malang. Sementara Junaidi tampil menarik dengan bahasa khas pedalang dan membawa contoh karakter-karakter wayang. “Wayang bisa digunakan untuk menguatkan karakter. Mengenalkan gajah, misalnya bisa dibuat wayang gajah. Selain tentu saja kita mengenalkan tokoh-tokoh wayang sebagai warisan budaya Jawa,” papar Junaidi. Pada sesi pelatihan, Junaidi menayangkan bagaimana cara mengenalkan keluarga, tentang keturunan. Dicontohkan dengan keluarga Pandawa dan Kurawa. Bahkan untuk mengenalkan wayang lebih luas, Junaidi juga mengembangkan lakon wayang berbahasa Indonesia. Pada kesempatan yang sama, Junaidi memamerkan enam buku karyanya yang berkaitan dengan wayang sebagai media pembelajaran dan pembentukan karakter, baik untuk anak-anak maupun remaja. Sementara itu pemateri terakhir Frida Kusumastuti menyampaikan bahwa media massa tidak bisa lepas dari dunia anak-anak. Media massa juga bisa digunakan sebagai media pembelajaran, baik itu dalam bentuk penugasan, pengisi waktu luang di sekolah, dan sebagai materi pengajaran di kelas. Dijelaskan Frida, fungsi guru sebagai fasilitator sangat penting jika media massa digunakan, mengingat kini juga banyak konten media massa yang tidak sehat. Frida menyontohkan Upin Ipin merupakan contoh konten media yang bagus karena mengajarkan karakter berani mengemukakan pendapat, budaya konfirmasi, kebersamaan, saling menolong sesama, kasih sayang pada yang lemah dan muda, serta menghormati yang lebih tua. “Bahkan konten yang kurang sehat pun dengan penjelasan guru bisa diambil nilai-nilai positif,” kata Frida. Acara pelatihan diakhiri dengan pelatihan praktis menggunakan wayang sebagai media pembelajaran, dan setiap peserta mendapatkan bahan peraga karakter wayang dari kertas dari LK UMM. (frid/han)
Fatin Shidqia Lubis, Kado Spesial Penutupan Pesmaba
PENAMPILAN penyanyi Fatin Shidqia Lubis pada puncak acara penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2017, Sabtu (7/9) di UMM Dome, menjadi kado spesial bagi kesuksesan penyelenggaraan Pesmaba yang berlangsung selama empat hari, yaitu pada 4 hingga 7 September 2017. Pada penutupan Pesmaba, Fatin Shidqia Lubis melantunkan delapan lagu, termasuk hits “Dia Dia Dia”, “Aku Memilih Setia” dan cover lagu Bruno Mars “Grenade”. Selain bernyanyi, Fatin pun tak lupa berbagi pengalamannya menggapai mimpi. Ia berkisah, kegigihan dan dukungan orang tua adalah dua faktor yang membuatnya lebih mudah mewujudkan impiannya. Ditemui usai penampilannya, Fatin mengaku senang mendapat kesempatan tampil di UMM untuk pertamakalinya. Diakuinya, antusiasme mahasiswa membawa gairah tersendiri yang membuatnya bisa tampil maksimal. “Crowd-nya seru banget. Bikin nagih, bikin nggak mau nyelesain lagu. Pokoknya seneng banget, semoga dapet kesempatan perform di UMM lagi,” ungkapnya. Selepas acara, Fatin juga menyempatkan diri berfoto-foto di salah satu taman kampus yang ber-letter “Love UMM”. Fatin berharap mahasiswa baru UMM nyaman kuliah di kampus ini sehingga dapat meningkatkan kualitas dirinya. “Semoga betah-betah di UMM. Semoga di UMM bisa ketemu sama orang-orang yang membangun. Juga, semoga UMM bisa menjadi universitas yang bisa membuat mahasiswa-mahasiswanya menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” tukasnya. Seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, pada gelaran penutupan juga diumumkan pemenang panitia penyelenggara Pesmaba terbaik di tingkat fakultas. Fakultas Psikologi menjadi penyelenggara terbaik dengan nilai 851, disusul Fakultas Ilmu Kesehatan di peringkat kedua dengan nilai 829,50 dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan nilai 807,69 di peringkat ketiga. Diumumkan pula para pemenang lomba foto #JadiMabaUMM, lomba vlog #BanggaJadiMabaFakultasmu dan lomba foto foto live report #PesmabaUMM2017. (can/han)
Yudi Latief: UMM Miniatur Indonesia

KEPALA Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Yudi Latief, secara khusus menyebut Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai miniaturnya Indonesia. Hal tersebut lantaran dirinya takjub setelah mengetahui keterwakilan mahasiswa dari masing-masing daerah di Indonesia ada di UMM. “Belum pernah saya datang ke kampus, dan semua suku ada. Tapi di UMM, semua suku ada,” kata Yudi Latif pada penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM 2017. Sabtu (7/9) di UMM Dome. Kehadiran Yudi Latif tak lepas dari Apresiasi Ikon Prestasi Indonesia yang diberikan Presiden Joko Widodo pada UMM melalui UKP-PIP. Dalam amanatnya, Yudi menekankan, sebagai perekat keragaman suku dan agama, Pancasila merupakan titik temu, titik pijak, dan titik tuju dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. “Tanpa Pancasila, masa depan bangsa Indonesia menjadi kabur dan tidak jelas arah dan tujuannya,” kata Yudi. Selain mengajak mahasiswa baru UMM untuk menghayati Pancasila sebagai landasan kehidupan bebangsa dan bernegara, Yudi juga menekankan urgensi internalisasi nilai di tiap segi kehidupan, utamanya menghadapi dunia perkuliahan. “Jangan cuma menjadi textbook thinker, jangan cuma belajar ilmu-ilmu akademik dan keterampilan semata. Tapi berikan nilai, karena nilai itu yang memberikan kita panduan ke depan. Belajar agama sesungguh hati, belajar Pancasila agar bisa menghargai keragaman,” ungkapnya. Yudi lantas menutup orasinya dengan mengajak kepada seluruh mahasiswa baru untuk senantiasa menghayati, memahami dan mengamalkan Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. “Belajar ilmu setinggi-tingginya, dengan itu kita bisa menjadi seorang profesional yang berhati mulia, membawa bangsa ini untuk saling bersatu. Warna bisa saling bersatu, rasa bisa saling bersambung, rizki bisa saling berbagi, demi kebahagiaan hidup kita bersama, di bawah landasan nilai Pancasila,” pungkasnya. Penegasan UKP-PIP soal Pancasila sekaligus menyempurnakan nuansa kebangsaan Pesmaba UMM. Pada pembukaan Pesmaba, mahasiswa UMM sukses menampilkan empat flashmob bercorak kebangsaan, yaitu formasi lambang Burung Garuda, tulisan “UMM for Indonesia” dan “Jas Merah Kampus Putih”, serta formasi kepulauan Indonesia. Selain Yudi, turut hadir pada kegiatan ini anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI Abdul Malik Fadjar, penasehat khusus UKP-PIP Romo Benny Susetyo, serta Rektor UMM Fauzan dan jajaran pimpinan universitas maupun fakultas. Pada kesempatan ini, UMM melalui Rektor juga turut menyematkan jas almamater UMM pada Yudi Latif. (can/han)
Mahasiswa Asing Pilih UMM Karena Lingkungan Belajar dan Keunggulan Prestasi

TERLETAK di Kota Malang, Jawa Timur, yang dikenal sejuk dan nyaman untuk belajar, membuat mahasiswa asing dari berbagai negara memilih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai tujuan pilihan studi. Selain letak kota, keunggulan dan prestasi UMM yang termuat di website menjadi bahan pertimbangan utama mahasiswa asing. Hal tersebut disampaikan Dr Arif Budi Wurianto MSi, kepala unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM di sela opening ceremony atau kegiatan penyambutan terhadap 20 mahasiswa asing program beasiswa Darmasiswa RI dan 7 mahasiswa asing Kemitraan Negara Berkembang (KNB) yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (6/9). Sebanyak 27 mahasiswa tersebut adalah di antara 78 mahasiswa asing dari 16 negara yang menjadi bagian dari UMM tahun ini. Berbagai pertimbangan tersebut dipandang penting, lantaran menurut Arif, sistem penerimaan mahasiswa asing program Darmasiswa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika di tahun-tahun sebelumnya, pemerintah memberikan kuota pada masing-masing universitas, mulai 2017, mahasiswa dari berbagai negara bebas memilih universitas tujuan di Indonesia pada formulir aplikasi pendaftaran. Lebih lanjut, Arif menyampaikan, pemberlakuan sistem baru ini memberikan tantangan tersendiri bagi tiap universitas untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas untuk tetap dapat menjadi pilihan calon mahasiswa. “Berdasarkan hasil wawancara di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di negara asal mereka, alasan mereka memiliih kampus ini karena lokasi dan keunggulan prestasi UMM,” papar Arif. Tahun ini, total jumlah mahasiswa asing program Darmasiswa mencapai 670 orang yang tersebar di 63 berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sementara di UMM, mahasiswa Darmasiswa sebanyak 20 orang yang berasal dari tujuh negara, yakni Sudan, Palestina, India, Korea Selatan, Jepang, Thailand, dan Vietnam. Selain Darmasiswa, UMM juga menerima tujuh mahasiswa KNB dari Sierra Lione, Palestina, Afghanistan, Kamboja, dan Vietnam. Ketujuh mahasiswa tersebut mengambil program magister di UMM. “Jadi, ada dua program beasiswa sekaligus dari dua kementerian, yaitu beasiswa Darmasiswa RI dari Kemendikbud dan beasiswa KNB dari Kemenristek Dikti. Dua kementerian, dua beasiswa pada satu kampus yang sama, kita gabungkan dalam satu opening ceremony,” ujar Arif. Menyambut mahasiswa asing, UMM siap memberlakukan beberapa program mencakup pembelajaran bahasa, budaya, seni, dan lingkungan. Hal ini merujuk pada tujuan akhir pembelajaran Darmasiswa yang akan membentuk mahasiswa yang siap mempromosikan bahasa, budaya, dan seni Indonesia di negaranya masing-masing sebagai duta budaya. Pembelajaran bahasa akan berlangsung di kelas. Sementara untuk lebih mengenalkan mahasiswa pada lingkungan sekitar dan pariwisata, mahasiswa akan diajak berkeliling ke beberapa destinasi wisata di Kabupaten Malang dan kota Batu. Selain itu, mereka juga akan melakukan jelajah nusantara ke beberapa destinasi wisata di Jawa Timur. Tak hanya itu, untuk lebih mengasah jiwa kepedulian mahasiswa akan lingkungan dan penduduk sekitar, UMM telah merancang community service, yakni program kunjungan mahasiswa ke sekolah-sekolah, panti asuhan, atau yayasan anak cacat dan berkebutuhan khusus. “Saat ini mereka masih tinggal di asrama. Tapi, dalam waktu dekat mereka akan mencari rumah indekos. Ini penting untuk lebih mengenalkan mahasiswa dengan masyarakat sekitar, juga sebagai aplikasi pembelajaran budaya masyarakat Indonesia pada mahasiswa,” pungkas Arif. Dalam sambutannya, Wakil Rektor II Dr Nazaruddin Malik MSi menyambut dengan penuh semangat puluhan mahasiswa asing tersebut. “Kita akan memberikan banyak wawasan baru untuk teman-teman mahasiswa. Selamat datang di Indonesia, selamat datang di UMM, semoga selalu bahagia selama belajar,” sambut Nazaruddin. (ich/han)
Mahasiswa Asing Kembangkan Tanaman Organik di Kampung Temas

SETELAH delapan hari mengikuti Design Thinking Camp (DT Camp) pada 28 Agustus hingga 4 September 2017, sebanyak 40 mahasiswa yang terdiri dari 20 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan 20 mahasiswa asing akan kembali ke aktivitasnya masing-masing. Diharapkan, kegiatan DT Camp dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa lintas negara itu halam hal design thinking dan pengelolaan tanaman organik. DT Camp merupakan gelaran hasil kerjasama International Relations Office (IRO) UMM dengan dengan Kampung Wisata Temas. Sebanyak 20 mahasiswa asing tersebut, disebut Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri Soeparto, berasal dari Istanbul Sehir University (Turki), Yangoon University (Myanmar), Tongren University (Tiongkok) dan Rajamanggala University of Technology(Thailand). “Semua universitas tersebut merupakan mitra UMM,” kata Soeparto. Pada kegiatan in, tak hanya terfokus pada pendidikan dan pelatihan saja, namun para peserta langsung diajak turun lapang. Mereke melihat bagaimana pengelolaan tanaman organik, mengamati masalah, dan dibimbing untuk membuat prototype konsep penyelesaian masalah. Pada penutupan DT Camp (4/9), hasil turun lapang itu langsung dipresentasikan pada pihak pengelola Kampung Wisata Temas. Soeparto menjelaskan, pemilihan tema pertanian ini bukan tanpa alasan. Pemilihan tema bertujuan untuk mengenalkan tren tanaman organik Indonesia pada mahasiswa khususnya mahasiswa asing. “Menurut riset, yang mencari tanaman organik kebanyakan merupakan para orang tua untuk menyembuhkan penyakit . Padahal, tanaman organik sebenarnya khasiatnya lebih dari itu”, paparnya. Soeparto ini menambahkan, selain berbasis community involvement (keterlibatan komunitas), kegiatan ini juga bertujuan untuk mengenalkan Indonesia pada dunia. Hal tersebut dapat dilihat dari setengah jumlah peserta yang merupakan mahasiswa asing yang diundang langsung oleh UMM,” lanjut Soeparto. Selain untuk tujuan tersebut, kegiatan DT Camp juga diselingi dengan pengenalan budaya, meliputi permainan dan seni tradisional seperti tarian, pembuatan topeng malangan, kuliner, hingga prosesi pernikahan adat Jawa. Salah satu mahasiswi asing asal Turki, Sumaya, mengaku sangat terkesan dengan budaya Indonesia yang diperkenalkan. “Selain mendapatkan materi design thinking secara detail, saya juga mendapatkan pengetahuan tentang budaya Indonesia. Saya suka orang Indonesia, budayanya, terlebih lagi makanannya,” kelakar mahasiswi Istanbul Sehir University jurusan Teknik Industri ini. (riel/han)
Segarnya Suasana Kampus Putih

SUASANA kampus putih Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bersih dan segar menjadi daya tarik utama mahasiswa baru ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini. Tak heran, UMM memiliki ruang terbuka hijau (RTH) yang sangat luas, yang di antaranya tampak jelas pada banyaknya taman di berbagai area kampus. Wakil Rektor II UMM Dr Nazaruddin Malik MSi mengatakan, pembangunan taman di lingkungan kampus dimaksudkan agar mahasiswa dan seluruh civitas akademika nyaman berada di kampus. “Suasana nyaman ini penting karena dapat membuat pikiran mahasiswa lebih segar, semangat belajar lebih tinggi, dan lebih mudah terinspirasi,” ujarnya. Suasana ini juga disebut Nazaruddin merupakan bagian dari upaya UMM menjadi kampus eduwisata. Upaya tersebut turutdidukung topografi UMM yang unik dan menarik, beserta pemandangan pegunungan Panderman dan gunung Arjuno yang mengitari kampus. “Di tengah kampus juga ada danau yang sangat indah, dan di berbagai titik terdapat gazebo-gazebo yang menjadi tempat favorit mahasiswa belajar bersama, atau sekedar melepas lelah,” jelasnya. Secara spesifikKepala Biro Administrasi Umum (BAU) UMM Dr Ir Sunarto MT memaparkan, program pengelolaan taman di UMM ini sekaligus merupakan tindak lanjut dari anjuran pemerintah tentang bangunan perguruan tinggi. Pemerintah menekankan, luas tanah untuk bangunan maksimal 60 persen sementara 40 persen sisanya harus menjadi RTH meliputi taman dan jalan. “Menariknya, UMM justru melampaui itu. Dari 16 hektar tanah di lingkungan kampus, UMM hanya menggunakan 40 persen sebagai bangunan, sedangkan 60 persen sisanya diprioritaskan menjadi RTH”, jelas Sunarto. Bahkan, ke depan, seluruh taman di UMM akan memiliki tema yang berbeda-beda. Seperti di area tengah, yaitu sekitar Helipad UMM dan depan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 memiliki tema taman warna-warni ditambah tulisan “Love UMM”. “Love UMM sudah menjadi ciri khas kampus ini beberapa tahun terakhir, sehingga kita aplikasikan konsep itu di taman-taman,” pungkas Sunarto. Keberadaan taman-taman itu direspon positif banyak kalangan, termasuk mahasiswa baru, salah satunya mahasiswi asal Nganjuk Rifatul Khoiriyah. Rifatul mengaku senang melihat lingkungan kampus yang menurutnya akan sangat mendukung studinya. “Di sini lingkungannya sejuk dan rimbun, jadi banyak pilihan untuk belajar selain di dalam kelas,” tuturnya. (riel/han)
Sanghyun Kim, Kenali UMM Karena Prestasi Internasional

PRESTASI internasional yang diraih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah membuka jalan bagi Sanghyun Kim untuk menjadi mahasiswa baru di kampus ini. Mahasiswa asal Busan, Korea Selatan ini mengenal UMM salah satunya melalui prestasi Paduan Suara Mahasiswa Gita Surya UMM saat menjuarai Choral Busan Festival and Competition empat tahun lalu di Korea Selatan. “Iya, saya pernah tahu kelompok paduan suara UMM pernah juara lomba di Busan. Ini bagus sekali, bisa memenangkan kompetisi itu. Padahal sulit sekali,” kata Kim sambil mengacung-acungkan jempolnya. Selain karena prestasi itu, Kim mengaku juga mendapatkan rekomendasi dari kakak seniornya di Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan. Saat itu kakak seniornya di BUFS pernah mendapatkan beasiswa Darmasiswa RI di salah satu kampus di Malang. “Saya direkomendasikan oleh kakak senior saya untuk belajar di UMM. Dulu dia juga belajar di Malang, tapi bukan di UMM. Tapi saya disarankan untuk belajar di UMM. Katanya UMM bagus,” ujar mahasiswa yang sebelumnya mengambil program studi Indonesia-Malaysia di BUFS ini. Ketika pertama kali datang ke kampus ini, Kim mengaku langsung menyukai UMM, karena keramahan orang-orangnya dan kesejukan udaranya. “Banyak orang baik di sini. Saya belum keliling semua kampus, tapi saya suka danaunya, sejuk. Bagus sekali kampusnya,” kesan Kim. Menariknya, Kim bertekad tak mau berbicara dalam bahasa Inggris maupun bahasa Korea selama di Indonesia. Ia akan berusaha berbicara bahasa Indonesia. “Ya, saya harus bicara bahasa Indonesia,” tekadnya sambil tersenyum lebar. (ich/han)