Kolaborasi Mahasiswa UMM dan Singapura Tingkatkan Produksi UMKM di Desa Temas

SEBANYAK 31 mahasiswa Singapore Polytechnic (SP) dan  34 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil membuat tiga prototipe yang dapat membantu produksi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Desa Temas, Kota Batu, Jawa Timur. Produksi yang dimaksud yaitu produksi bawang goreng, jamu tradisional, dan pisang. Tiga prototipe itu dirancang kolaborasi 65 mahasiswa SP dan UMM selama sepekan, yaitu 12-19 September 2017 melalui program Learning Express (LEx). Hasilnya, prototipe berupa teknologi tepat guna itu dipamerakan di Aula Perpustakaan UMM, Selasa (19/9) yang turut dihadiri perwakilan dari Desa Temas. Semula, 65 mahasiswa itu dibagi tiga kelompok secara acak. Setelah itu mereka diharuskan meriset secara detil agar bisa menemukan inti permasalahan. Dari produksi bawang goreng, peserta berhasil memodifikasi sebuah meja untuk mengatasi bawang merah yang berjatuhan saat dipotong-potong. Dengan meja itu, pemotongan bawang merah juga menjadi lebih cepat dan higienis. Pada produksi jamu tradisional, peserta membuat prototipe alat pemeras jamu agar proses pembuatan jamu lebih cepat  dan higienis. Sementara ampas sisa perasan jamu diolah menjadi permen dan beberapa produk yang punya nilai ekonomi tinggi. Terakhir, penjual pisang, mahasiswa membuat prototipe tempat menjual pisang yang dimodifikasi secara mekanik pada terpal yang digunakan untuk menghindarkan pisang dari panas dan hujan. Selain itu, juga dibuat prototipe meja yang bisa berputar agar proses pemberian karbit lebih cepat dan mudah. Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama, Soeparto, menjelaskan program ini ke depan tidak akan berhenti disini. Hasil prototipe kegiatan LEx ini akan ditindaklanjuti lagi. “Harapannya, prototipe yang sudah diusulkan peserta akan dikembangkan di Singapore dan Jepang serta diuji oleh dosen secara ilmiah. Untuk peserta juga diharapkan menindaklanjuti kegiatan ini langsung ke desa dan tentu didampingi oleh dosen-dosen pendamping,” tambah Soeparto. Jarren Toh Jing Jie, salah satu peserta LEx asal Singapura mengaku sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Ia juga merasa mendapatkan banyak pengalaman yang tidak akan ia dapatkan di kampus. “Kegiatan ini sangat menarik. Di sini kami bisa saling bertukar ilmu dengan teman-teman peserta lain terutama dengan mahasiswa UMM. Selain pembuatan prototipe yang sudah saya pelajari di kampus, di sini saya juga banyak belajar tentang ilmu budaya, sosial dan pemasaran. Sesuatu yang akan jarang saya dapatkan sebagai anak teknik,” ujar mahasiswa jurusan Teknik Penerbangan, Singapore Polytechnic ini. Selain dari peserta, kesan positif juga didapat oleh warga Desa Temas. Saudi, salah satu warga Temas mengaku sudah menganggap para peserta Lex seperti keluarga. Meskipun hanya seminggu berbaur dengan peserta ia mengatakan sudah saling terbuka perihal permasalahan yang ada di desa. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami para pemilik UMKM. Selain dibantu dalam permasalahan-permasalahan produksi, kami juga diberikan strategi-strategi pemasaran untuk UMKM kami terutama untuk pisang, bawang goreng dan jamu tradisional. Harapannya, untuk mahasiswa dari Singapura Polytechnic dan UMM bisa mengembangkan produk-produk lokal Indonesia ke depannya,” jelas Saudi yang datang sebagai salah satu perwakilan Desa Temas. (iel/han)

UMM Gandeng Tujuh Kampus UK Gelar Pameran Pendidikan

SEBANYAK tujuh perguruan tinggi di Britania Raya (UK) hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui gelaran UK-Indonesia Collaboration Forum and Fair, Senin (18/9). Tujuh kampus tersebut yaitu De Montfort University Leicester, University of Dundee, University of Westminster, Durham University, Harper Adams University, University of Bradford, dan Swansea University. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara lembaga EdUKIndo dan UMM. Kolaborasi kedua lembaga ini juga menghadirkan delegasi Kantor Urusan Internasional dari sejumlah kampus di Indonesia untuk berdialog tentang perluasan kemitraan internasional. Dalam diskusi ini, tiap-tiap kampus saling berbagi tentang riset dan pengembangan di kampusnya. Pada kesempatan ini, kepala program studi Hubungan Internasional (HI) Gonda Yumitro SIP MA berbagi kisah tentang jaringan kerjasama di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), khususnya prodi HI. “Di UMM, juga di FISIP, kerjasama dengan berbagai universitas mancanegara sudah lama terjalin. Sejauh ini, kerjasama paling banyak dilakukan dengan kampus-kampus di Asia melalui MoU. Melalui kolaborasi seperti ini, kerjasama dengan kampus-kampus di UK diharapkan dapat terjalin,” ujar Gonda. Belum lama ini, imbuh Gonda, salah satu artikelnya juga dimuat di sebuah jurnal internasional terindeks Scopus. Hal ini menarik perhatian University of Westminster. “Kampus kami berbasis pada riset. Jadi, mahasiswa-mahasiswa yang produktif dalam hal riset akan sangat bagus,” ujar Dr Panos Hahamis dari University of Westminster. Pameran pendidikan UK bukan yang pertama kali digelar di UMM. Menurut kepala Internasional Relation Office (IRO) UMM Dr Abdul Haris MA, kegiatan ini memiliki empat tujuan. “Mengenalkan kolaborasi internasional UMM pada mahasiswa dan masyarakat umum, memberi kesempatan mahasiswa asing untuk melakukan exchange program di UMM, salah satu upaya peningkatan rekognisi internasional, serta langkah strategis menuju world class university,” terang Haris. (ich/han)

Kemah Nasional PTM se-Indonesia Garap Desa Bendosari Jadi Objek Ekowisata

PERKEMAHAN Bakti Racana Muhammadiyah Nasional (Kembaramunas) ketiga yang dihelat di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi ajang Pramuka Pandega dari 23 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia meningkatkan kepedulian kepada masyarakat. Selama sepekan, 18- 23 September 2017, para Pramuka Pandega itu akan fokus menggarap Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang dijadikan objek ekowisata. Kegiatan tersebut merupakan Program Kerja Dewan Racana Pangkalan UMM, dan hasil musyawarah Pandega PTM se-Indonesia tentang pelaksanaan Kemah Racana Muhammadiyah Nasional kedua di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 24 September 2016 silam. Tak sekedar dikemas dalam format perkemahan pada umumnya, kegiatan Kembaramunas 3 ini meliputi sejumlah kegiatan pengabdian Pramuka Pandega kepada lingkungan dan masyarakat Kabupaten Malang. Di antaranya pembekalan materi terkait bakti fisik dan nonfisik. “Peserta diberi persiapan materi tentang bagaimana pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di Desa Bendosari,” terang Ketua Pelaksana, Siti Nurahmah saat ditemui usai upacara pembukaan di Heliped UMM, Senin (18/9). Pembekalan materi tersebut, imbuh Siti, nantinya diimplementasikan lewat keterlibatan peserta dalam pembuatan dan pengembangkan fasilitas untuk menunjang keindahan, kualitas serta nilai jual Kampung Ekowisata Bendosari. Salah satunya lewat penanaman beberapa tanaman pendukung di kawasan pohon pinus untuk dijadikan Taman Hutan Pinus. Tak hanya itu, peserta juga diberi edukasi tentang pemerahan susu sapi serta pengolahan limbah kotoran sapi yang nantinya akan dikembangkan menjadi biogas. Gelaran tersebut sekaligus diadakan Seminar Nasiona bertajuk “Aktualisasi Peran Penegak Pandega dalam Pengabdian Masyarakat” yang menghadirkan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Nasional Gerakan Pramuka, Prof. Dr. Suyatno, M.Pd., Dewan Kerja Penegak Daerah Jawa Timur, Binar Bintang Putra Ananta, S.Pd, serta anggota kehormatan Pramuka UMM, Syamsul Hadi, S.Pt. (can/han)

Mahasiswa UMM Dituntut Sadar Energi

DEKAN Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) Ir Sudarman MT menyatakan, produksi dan konsumsi energi di yang tidak berimbang di Indonesia membuat FT UMM menuntut mahasiswanya agar sadar energi dengan berkontribusi dalam mengembangkan energi baru terbarukan. “Mahasiswa UMM kami tutut peduli pada cadangan migas kita. Sejak 2007, FT UMM selalu mendorong mahasiswa mengembangkan energi baru terbarukan,” tutur Sudarman pada kegiatan Migas Goes to Campus yang diadakan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Migas ESDM) di UMM, Jumat (15/9). Sampai saat ini, UMM mengembangkan energi baru terbarukan pada air dan mikrohidro. “Sejauh ini sebatas air dan mikrohidro. Angin dan migas belum,” imbuhnya. UMM juga mengembangkan photovoltaic untuk menyokong penerangan di area UMM. Pengembangan ini, dikatakan Sudarman dapat memasok kebutuhan listrik UMM hingga 20 persen di 30 unit. Jika dirupiahkan, setara dengan penghematan 20 hingga 50 juta per bulan. “Setara 200 kwh atau 200 rumah,” terang Sudarman. Ke depan, UMM berencana akan mengembangkan energi lain, salah satunya yang terdekat ialah bahan bakar nabati dari minyak jarak yang merupakan tindak lanjut dari pengembangan yang sudah dimulai tahun 2007 silam. “Di bawah laboratorium mikrobiologi, kerja bareng FT,” papar Sudarman. Kegiatan Migas Goes to Campus ini, Sekjen Migas ESDM Susyanto SH MHum, bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan pada civitas akademika terhadap program-program kementerian ESDM di sektor migas. Juga, sebagai media untuk mendapatkan ide-ide cemerlang dari mahasiswa maupun civitas akademika akan penemuan energi baru dan terbarukan. Menurut Susyanto, di era 90-an, komoditi migas menyumbang kontribusi nomor dua setelah pajak. Sekarang, hasil ini menurun. Indonesia tak lagi bisa menggantungkan migas sebagai komoditi untuk pendapatan negara. Tahun 2021, diprediksi sektor migas masih mendominasi prosentase pendapatan negara. Sementara di tahun 2015, sektor migas hanya akan digunakan sebesar 22 persen dari penggunaan sebelumnya sebesar 24,29 persen. Fakta ini berbanding terbalik dengan posisi Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya minyak dan gas cukup besar. Saat ini, imbuh Susyanto, produksi migas sebesar 820 barrels of oil per day (BOPD). Hal ini tidak berbanding lurus dengan konsumsi migas sebesar 1,6 juta BOPD. Sementara, pertumbuhan konsumsi migas meningkat mencapai tiga persen per tahun. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan, sejauh ini Indonesia masih mengimpor hingga 780 BOPD. “Jika tidak ada penemuan potensi migas baru, maka proyeksi produksi minyak hingga 2050 akan terus menurun. Oleh karenanya, kami di kementerian ESDM berpimpi tahun 2025 harus mandiri migas dan tidak impor lagi,” ujar Susyanto. (ich/han)

UMM dan Education USA Kembali Bermitra Gelar Pameran Pendidikan

KULIAH di Amerika Serikat (AS) menjadi pilihan menarik bagi banyak mahasiswa Indonesia. Hal itu membuat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali bekerja sama dengan Education USA menggelar pameran pendidikan dan beasiswa AS, yang digelar Kamis (14/9) di UMM Dome. Sebelum pameran, acara dimulai dengan seminar tentang akses pendidikan ke AS. Pameran diikuti 15 universitas di AS dan sejumlah sejumlah lembaga pemberi beasiswa. Hadir membuka acara ini, Konsul Jenderal Amerika Serikat, Heather Variava. Menurut Heather, saat ini terdapat sembilan ribu mahasiswa di AS yang berasal dari Indonesia. Baginya, keberadaan mahasiswa Indonesia merupakan suatu kehormatan bagi AS. Para mahasiswa ini merupakan duta kebudayaan dan pendidikan bagi dua negara ini mengingat Indonesia dan AS merupakan negara yang memiliki banyak keragaman budaya. Ini merupakan kali kedua Education USA mempercayakan UMM sebagai tempat pelaksanaan kegiatan pameran. Heather mengungkapkan, sebuah kebanggaan dapat berkolaborasi dengan UMM, kampus yang memiliki banyak prestasi Internasional. Kerjasama UMM dengan AS sejak lama telah terjalin karena UMM memiliki American Corner yang menjadi pusat informasi bagi mahasiswa UMM maupun warga Malang. UMM juga beberapa kali menjadi host dan pendamping bagi program pemerintah Amerika seperti Peace Corps dan US Army. Sementara itu Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi menyatakan, kemitraan yang terus dibangun dengan AS menjadikan UMM sebagai pintu utama masyarakat luas, khususnya kota Malang untuk memperoleh informasi tentang pendidikan dan budaya Amerika. Pameran Pendidikan AS merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa UMM dan umum yang ingin melanjutkan pendidikan di sana. Mengingat saat ini, pemerintah Indonesia telah memfasilitasi banyak beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. (nis/han)

Forum Perpustakaan PTMA Nasional Rumuskan Strategi Literasi

SEBANYAK 20 pengurus dan kordinator wilayah (korwil) Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (FPPTMA) mengikuti rapat kerja nasional (rakernas) di Perpustakaan Pusat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (13/9). Mereka berasal dari berbagai PTMA se-Indonesia. Rakernas ini diselenggarakan sebagai tindak lanjut dari musyawarah nasional yang digelar beberapa waktu lalu. Terkait kegiatan ini, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin menyatakan, 10 perpustakaan di lingkungan PTMA telah berhasil mendapatkan akreditasi A. “Rakernas ini penting untuk merumuskan strategi pengembangan kualitas tiap-tiap perpustakaan,” ujar Syamsul. Hal ini dikatakan Syamsul untuk menyikapi perubahan fungsi perpustakaan di era digital native serta mempersiapkan diri memberi pelayanan terbaik pada pemustaka. Fenomena saat ini, imbuh Syamsul, bukan lagi rahasia tentang banyaknya mahasiswa membuat karya tulis dengan copy-paste. “Saat ini kita dihadapkan pada apa yang disebut dengan problem literasi dan pemikiran destruktif. Untuk itu, kita tidak bisa mengelola perpustakaan secara biasa-biasa saja. Perpustakaan harus punya daya panggil,” tukas Syamsul. Sementara itu, kepala Perpustakaan UMM Prof Dr Dyah Roeswitawati MS dalam sambutannya mengungkapkan, selain untuk menjalin silaturrahim, Rakernas ini mengandung urgensi untuk menjembatani peningkatan kualitas dan kelayakan perpustakaan di masing-masing PTMA. “PTMA yang perpustakaannya sudah berakreditasi A dapat berbagi ilmunya dan saling membimbing PTMA yang perpustakaannya belum meraih akreditasi A. Berjalan untuk saling membantu demi kemajuan bersama,” kata Dyah. Perpustakaan UMM telah meraih akreditasi A sejak 2015. Ke depan, perpustakaan UMM akan menyelenggarakan pelatihan literasi informasi bagi civitas akademika. “Untuk memberi keterampilan bagaimana mencari, menemukan, dan mengevaluasi informasi dari media internet yang beretika. Jadi informasi yang didapatkan di internet tidak langsung comot, tapi kita memiliki pengetahuan bagaimana mencari informasi yang benar, dan paham tentang plagiarisme,” ujar Dyah. Hadir dalam Rakernas ini pengurus dan korwil dari berbagai daerah. Di antaranya dari Sorong Papua, Lampung, Banjarmasin, DKI Jakarta, korwil Jawa Tengah, korwil Jawa Timur, dan korwil Jawa Barat. (ich/han)

Outing Class Energi Alternatif UMM Dukung Pembelajaran Tematik

ENERGI alternatif yang dimiliki Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi daya tarik bagi banyak pihak, termasuk bagi siswa sekolah dasar (SD) untuk mengembangkan pembelajaran tematik terpadu pada kurikulum 2013. Hal itu pula yang melatari SD Muhammadiyah 9 Malang berkunjung ke UMM, Rabu (13/9). Beberapa area yang dikunjungi para siswa tersebut di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH), Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspa-IPTEK), Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian dan Peternakan, dan Panel Surya. Kegiatan ini dikemas dalam outing class berbasis edukasi energi alternatif. Menurut guru pendamping kelas SD Muhammadiyah 9, Novita Dwi Lestari, kunjungan ke UMM ditujukan untuk memberikan pengalaman pada para siswa tentang kekayaan sumber energi yang ada di sekitar mereka. “UMM memiliki banyak tempat edukasi pemanfaatan energi alternatif, itulah mengapa kami mengunjungi kampus ini,” ungkapnya. Pada setiap kunjungan ke tempat-tempat tersebut, siswa mendapatkan penjelasan tentang fungsi, manfaat, dan cara kerja energi alternatif tersebut. Antusiasme para siswa nampak dari banyak pertanyaan yang diajukan di setiap unit energi alternatif UMM. Sementara itu Kepala Laboratorium Terpadu UMM Rahmad Pulung Sudibyo mengatakan, program seperti ini akan terus diupayakan, sebagai bagian dari pengabdian UMM terhadap kalangan pendidikan. Di Laboratorium Terpadu, siswa diajak untuk mecoba menyalakan api yang berbahan bakar biogas sebagai salah satu energi alternatif milik UMM. (nis/han)

Prodi Ilmu Pemerintahan Pertahankan Akreditasi A

KABAR menggembirakan kembali datang dari salah satu program studi (Prodi) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setelah sebelumnya Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia berhasil memperoleh Akreditasi A, baru-baru ini Prodi Ilmu Pemerintah (IP) juga mempertahankan akreditasi prodinya dengan predikat A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). “Dipertahankannya akreditasi ini didukung dengan upaya peningkatan mutu Prodi IP UMM, rencana pengembangan yang visioner, menerapkan visi, misi, sasaran, strategi, untuk selanjutnya dijadikan sebagai motivasi peningkatan mutu program studi yang kompetitif, kredibel dan berkualitas,” terang Ketua Prodi IP UMM Hevi Kurnia Hardini, MA.Gov. Ditambahkan Hevi, upaya peningkatan dan pengembangan Prodi ini tidak hanya didukung dengan kegiatan internal, namun juga kegiatan eksternal di luar kampus. Juga, didukung oleh seluruh civitas akademika di lingkungan prodi, baik itu oleh dosen maupun oleh mahasiswa. Adapun bentuk dukungan ini diwujudkan dalam pengabdian dan bimbingan teknis (Bimtek) yang dilakukan oleh dosen di berbagai lembaga pemerintahan dan kelompok masyarakat. “Sedangkan wujud kegiatan mahasiswa yang dilakukan di luar kampus adalah terwujudnya kiprah mahasiswa dalam event Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Juli silam, dan berbagai organisasi kemahasiswaan,” tukasnya. Diakuinya, quality assurance yang dimiliki Prodi IP UMM juga sangat membantu mengevaluasi kinerja. Dengan adanya evaluasi tersebut, Prodi IP UMM berusaha untuk meningkatkan kualitasnya sehingga ketika ada penilaian akreditasi atau assessment tidak dirasakan kendala yang berarti. “Quality Assurance sebenarnya mempersiapkan program studi secara internal, sehingga siap untuk maju di tahap audit eksternal atau assessment lapangan. Upaya penyusunan dokumen program studi ini bertujuan melaksanakan reakreditasi dan untuk mempertahankan akreditasi A,” ungkapnya. Ke depan, Prodi IP UMM juga bakal menggenjot perluasan kerjasama internasional yang telah dimulai sebelumnya. Selain itu, sebagai bentuk dukungan terhadap program internasionalisasi UMM, mahasiswa Prodi IP UMM juga mendorong mahasiswanya untuk mengikuti kursus bahasa asing agar mudah mengakses berbagai tawaran beasiswa maupun internship. “Selain kerjasama internasional bagi dosen dan mahasiswa, berikutnya adalah memperluas jaringan program magang riset. Karena program ini cukup memberikan poin yang sangat signifikan. Karena itu, kita punya program menempatkan mahasiswa program riset terstruktur, baik di beberapa lembaga kementerian dan pemerintah Jawa Timur, juga tentunya Malang Raya,” tukasnya. (can/han)

Lagi, Mahasiswa UMM dan Singapura Kolaborasi Ciptakan Teknologi Baru

MULAI Selasa (12/9) hingga dua pekan ke depan, sebanyak 34 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan 31 mahasiswa Singapore Polytechnic (SP) akan melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Kota Batu, Jawa Timur, melalui skema program bernama Learning Express (LEx). Program yang didanai Tamasek Foundation ini dikelola langsung oleh International Relations Office (IRO) UMM. Saat ini, menurut koordinator LEx UMM Karina Sari, program ini telah memasuki tahun ketujuh. LEx diadakan dua kali setahun, yakni setiap bulan Maret dan September, di mana setiap batch mengusung proyek yang berbeda. Pada batch kali ini, tiga proyek yang menjadi fokus LEx yakni kampung pisang, produksi bawang goreng, dan produksi jamu tradisional. Kolaborasi 65 mahasiswa ini bertugas menciptakan teknologi baru dalam tiga proyek tersebut. “Terkait teknologi apa yang akan mereka ciptakan, semua itu berdasarkan hasil analisis problem yang mereka temukan di lapangan. Dari analisis nanti akan dibuat solusi untuk menyelesaikan permasalahan itu,” ujar Karina. Sebelum menciptakan teknologi baru, sejumlah peserta LEx UMM telah mengikuti pelatihan design thinking di Singapore. Selanjutnya, tiga proyek yang berlangsung dua minggu ke depan akan menjadi media aplikasi pelatihan design thinking yang didapatkan mahasiswa UMM di Singapore tersebut. Output-nya, kata Karina, bekerja sama dengan Laboratorium Teknik UMM mahasiswa akan menciptakan alat untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan pekerjaannya. “Tujuannya, teman-teman baik dari UMM maupun SP akan aware dengan permasalahan yang ada di masyarakat. Karena sebagai mahasiswa, yang sulit itu justru kembali ke masyarakat. LEx hadir sebagai media belajar agar nantinya ketika lulus, siap terjun menyelesaikan problem-problem ada di masyarakat,” ujar Karina. Karina mencontohkan pada proyek LEx sebelumnya, kolaborasi mahasiswa UMM-SP menghasilkan alat berupa prototype dryer atau mesin pengering. Dryer ini sangat bermanfaat untuk mempercepat proses produksi miniatur truk di desa Temas, Batu. “Jadi memang fokus program ini untuk menghasilkan alat yang berguna bagi masyarakat, ingin melakukan program inovasi sosail yang cepat dan tepat kebermanfaatannya,” tutur Karina. Salah satu peserta LEx UMM, Miarti Amanah Riesky mengaku tertarik mendaftar LEx lantaran ingin menjadi mahasiswa yang lebih terbuka dengan dunia luar, baik masyarakat lokal maupun asing. “Ingin belajar memahami cara berpikir orang lain dan problem solving karena program ini mengajarkan kita berpikir cepat dalam menyelesaikan masalah,” harap mahasiswa Hubungan Internasional UMM ini. Tak hanya itu, sebagai bonus keikutsertaan ini, peserta LEx juga akan mendapatkan sertifikat yang diakui secara internasional. Nantinya, sertifikat ini dikatakan Karina akan dapat bermanfaat dalam berbagai hal. “Misalnya akan mendaftar beasiswa, sertifikat ini akan berpengaruh,” ujar Karina. (ich/han)

Amcor UMM Gelar Kompetisi Sains Pelajar, Tiga Terbaik ke Amerika

MEWADAHI kreativitas dan inovasi pelajar Indonesia, American Corner (AmCor) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kompetisi sains pelajar tingkat nasional, yaitu Youth Eco-Tech National Competition 2017. Kompetisi yang berlangung dua hari ini (7-8/9) diadakan bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika di Indonesia. Diikuti 54 tim dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari berbegai daerah di Indonesia, ajang ini menghasilkan 11 tim finalis. Hasilnya, tiga tim terbaik diberikan kado spesial, yaitu diberangkatkan ke Amerika Serikat untuk mengikuti Science Tour selama lima hari. Tiga tim yang beruntung tersebut yaitu Juara 1 diraih SMKN 2 Koba Bangka Belitung dengan inovasi Magicbox Holtikultura, juara 2 oleh SMKN 8 Malang dengan karya Automatic Plant Treatment System, dan juara 3 diraih SMKN 5 Surabaya dengan karya Budidaya Aquaponik dari Air Limbah. Kompetisi sains ini, disebut staf AmCor UMM Heru Wibowo, sangat menarik karena mengusung konsep ramah lingkungan. Sebelas finalis terpilih tidak hanya memamerkan hasil karya mereka saja, namun juga mempresentasikan di hadapan Cultural Attache US Embassy Jakarta, Karen Schinnerer. Selepas kompetisi, diadakan workshop tentang strategi penemuan teknologi ramah lingkungan oleh dosen program studi Biologi UMM Dr Ir Aniek Iriany MP. (nim/han)