Muhadjir Effendy: UMM Perlu Ekspansi Dakwah ke Pelosok Indonesia

WAKIL Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., dalam pengajian bulanan yang diadakan di Auditorium UMM, Sabtu (15/4) mendorong UMM untuk memperluas ekspansi dakwahnya ke daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Muhadjir mengatakan, selain potensi wisata, daerah yang berada di zona 3T itu sangat mungkin untuk diberdayakan masyarakat muslimnya. Meski tidak banyak, Muhammadiyah di daerah tersebut memiliki potensi strategis untuk berkembang. Beberapa daerah yang disebut Muhadjir di antaranya Kepuluan Aru dan Wakatobi. Selain penguatan internal lewat konsolidasi, UMM juga didorong untuk melakukan ekspansi dakwah. Selain sebagai bentuk pengembangan UMM secara institusi, juga sebagai bentuk peningkatan serta perluasan peran di masyarakat. “Konsolidasi terus tanpa ekspansi akan macet. Kalau ekspansi terus tanpa konsolidasi akan kropos. Keduanya harus berjalan secara harmonis,” kata Muhadjir di hadapan civitas akademika UMM. Dengan mengutip al-Quran surat at-Taubah ayat 111, Muhadjir menegaskan, spirit Masyayikh atau pelawat yang terkandung dalam ayat tersebut juga mesti mulai digalakan oleh UMM. “Dulu, karena kondisinya darurat, maka muslimin diminta berjihad lewat jalan perang. Tapi dalam konteks kekinian, Indonesia misalnya yang tidak dalam kondisi darurat atau perang, ekspansi berupa perluasan peran di masyarakat menjadi jalan yang ditempuh. Para pendahulu Muhammadiyah seperti AR. Fachruddin juga mengembangkan sayap dakwahnya sampai ke Sulawesi Selatan, juga Syafi’i Ma’arif ke Bima,” ungkapnya. Merespon tawaran tersebut, Rektor UMM Drs. Fauzan, M.Pd. menyatakan bakal menindaklanjutinya dengan mengerahkan potensi yang dimiliki UMM untuk turut mengembangkan daerah yang berada di zona 3T tersebut. (can/han)
Konsultan Periklanan AS Kenalkan Mahasiswa UMM Dinamika Dunia Periklanan

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi (Prodi Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini kedatangan tamu spesial. Tiga praktisi dari salah satu agensi periklanan ternama dan tertua di dunia yang berkantor pusat di New York Amerika Serikat (AS) J. Walter Thompson (JWT), secara khusus datang ke UMM untuk berbagi pengalaman seputar dunia periklanan (advertising), Kamis (13/4). Ketiga pemateri tersebut yaitu Strategy Manager JWT Jakarta Maria Angelica, Associate Account Director Niken Angganawati, dan Digital Art Director Wedhatama Pertiwi. Agar iklan tidak berhenti sebatas media promosi produk, dijelaskan Maria, setidaknya sebuah iklan harus memuat tiga komponen utama, yang ia sebut sebagaipioneering solutions. Komponen pertama yaitu what is the business challenge? atau apa permasalan dan tantangan yang dihadapi klien? Sementara komponen kedua, urai Maria, yakni apa masalah yang dihadapi target audiens. Terakhir, brand motivations, yakni bahwa setiap brand itu harus memiliki fungsi atau guna untuk umat manusia. “Dari ketiga komponen itu kita akan mendapatkan ide. Eksekusinya tidak hanya berupa iklan di televisi atau media cetak, tapi harus beyond communications ideas. Misalnya kita bisa bikin bisnis model baru atau packaging baru,” imbuhnya di hadapan mahasiswa peminatan Public Relations (PR) di Aula Masjid AR Fachruddin lantai 1 UMM. Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UMM Sugeng Winarno MA menerangkan, dunia iklan adalah dunia kratif yang menyenangkan. Selain memiliki tiga peminatan, yakni jurnalistik, audio-visual dan public relations, mahasiswa juga didorong untuk mendalami periklanan. (can/han)
Tata Kelola Perpustakaan UMM Menarik Minat Kementerian Pertanian

PERPUSTAKAAN pusat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya memberikan pelayanan dan manfaat pada civitas akademika saja, tapi juga instansi lain. Hal itu salah satunya tampak pada kunjungan 120 pengelola perpustakaan di lingkungan Kementerian Pertanian RI se-Indonesia, Rabu (12/4) di Perpustakaan Pusat UMM.. Kunjungan selanjutnya diisi dengan diskusi dan saling berbagi informasi terkait perpustakaan UMM dengan para peserta. Perwakilan perpustakaan UMM Arif Yuni Ismanto menjelaskan tentang tata kelola perpustakaan, fasilitas, sistem informasi dan juga layanan yang dijalankan di perpustakaan pusat UMM. Dalam pemaparannya, Arif menyatakan bahwa perpustakaan UMM masih terus melakukan pembenahan untuk memenuhi kebutuhan civitas akademika UMM. Fasilitas terbaru yang sedang dijalankan adalah penambahan fasilitas jurnal internasional. “Setidaknya perpustakaan UMM bekerjasama dengan empat lembaga jurnal yang menyediakan banyak jurnal internasional yang multidisipliner,” jelas kepala bagian pelayanan perpustakaan pusat UMM. Di antara empat lembaga penyedia jurnal tersebut merupakan konsorsium seluruh perpustakaan perguruan tinggi Indonesia Jawa Timur. Proquest namanya, lanjut Arif. Tiga lembaga lainnya, seperti Ebso yang berpusat di Amerika Serikat, Emerald Journal yang berpusat di Inggris dan Gale Change Learning yang juga berpusat di Amerika. Ketiganya tidak dihadirkan dalam bentuk konsorsium, namun UMM secara mandiri untuk menyediakan fasilitas bagi mahasiswa dan dosen. Namun yang menjadi kekurangan, lanjut Arif, hingga saat ini mahasiswa dan dosen masih belum memaksimalkan fasilitas tersebut untuk keperluan akademik. “Semua fasilitas tersebut sudah disediakan di perpustakaan pusat lantai satu,” imbuh Arif yang saat ini menjabat sebagai ketua koordinator Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur. Kedatangan pengelola perpustakaan di UMM merupakan salah satu langkah perpustakaan untuk mengambil pelajaran dan diterapkan di perpustakaan UMM. Kedepannya, kita akan menerapkan perpustakaan mobile yang bisa diunduh di gawai pintar seluruh mahasiswa UMM. “Semuanya dalam masa penjajakan, kedepan mahasiswa UMM lebih mudah lagi meminjam maupun mengecek buku ataupun mengakses jurnal yang ada di Perpustakaan,” ungkapnya. (jal/han)
UKM-K JF Ajak Mahasiswa UMM Menulis tentang Nilai-nilai Interdisipliner Al-Qur’an

AL-QURAN memiliki kandungan nilai-nilai yang sangat mulia dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Namun, terkadang hal itu tak banyak diketahui masyarakat. Untuk itulah, Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian (UKM-K) Jamaah Masjid AR Fachruddin (JF) UMM mengajak mahasiswa menggali nilai-nilai itu dan menulisnya untuk dilombakan dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Quran (LKTIA). Wakil ketua pelaksana LKTIA Fitra Parlindo menjelaskan, kompetisi ini diangkat agar semua mahasiswa UMM dapat mengenal dan mendalami Al-Quran lebih mendalam lagi. Dengan mengangkat tema ‘Bangkitkan Prestasi Pemuda dengan Akhlaq yang Qurani’, panitia berharap mahasiswa yang notabenenya pemuda, dapat berprestasi dengan mengacu pada Al-Quran. “Kami berharap mahasiswa bisa mengeksplorasi tentang eksistensi Al-Quran,” jelas Fitra saat ditemui Selasa (11/4). Jika dilihat lebih mendalam, pemuda bisa menghubungkan antara teori-teori yang ada di Al-Quran dengan teknologi, keterhubungan ayat-ayat Al Quran dengan kondisi sosial, bahkan dalam bidang seni, korupsi dan ekonomi Al-Quran juga sudah mengatur. Kita ingin, lanjut Fitra, mahasiswa tidak hanya menjadikan Al-Quran hanya sebagai bacaan belaka, tapi menjadikan Al-Quran sebagai dasar dalam menjalani kehidupan. Dengan diikuti 8 tim dari 10 fakultas yang ada, UKMK JF UMM berusaha menghadirkan kembali Al-Quran dalam keseharian manusia terutama pemuda. LKTIA ini merupakan salah satu rangkaian perlombaan Rektor Cup yang diadakan oleh setiap UKM dalam rangka memacu kreatifitas dan memunculkan actor-aktor baru dalam berbagai bidang. Setelah penyetoran berkas karya, UKMK JF UMM menggelar presentasi ide dari setiap tim yang mengirimkan karyanya. Dengan mengangkat judul Animasi Qashas (ANIMAQ) inovasi media pembelajaran menggunakan animasi cerita dan metode sosiodrama untuk membentuk karakter siswa tingkat sekolah dasar, Fakultas Pertanian dan Peternakan(FPP) keluar sebagai juara 1. Disusul Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan juara ke tiga diraih oleh Fakultas Psikologi. Salah satu anggota tim Juara 1 LKTIA itu, Atidati An’umillah mengatakan, Al-Quran memang telah menyediakan solusi atas setiap permasalahan kehidupan saat ini. Ide mahasiswa yang berasal dari FPP ini adalah membuat animasi dalam rangka memberikan edukasi kepada anak seusia sekolah dasar. “Anak kecil lebih senang belajar melalui gambar, maka dengan belajar makna Al-Quran melalui animasi dapat dengan mudah paham dan pasti lebih tertarik,” ujarnya. (jal/han)
Kisah Ridlo Setyono, Staf UMM yang Kenalkan Muhammadiyah di Polandia

BADAN seakan ditusuk jarum es, telapak tangan serasa kram, lutut berdenyut dan mulut rasanya ngilu menahan dinginnya cuaca di bumi Eropa. Demikian kisah Ridlo Setyono mengilustrasikan suasana musim semi di Lublin, kota terbesar ke-9 di Polandia, saat mengikuti beasiswa pertukaran Erasmus+ atas sponsor Uni Eropa. Memang, bagi warga negara tropis seperti Indonesia, merasakan musim semi di Eropa adalah pengalaman mengasyikkan sekaligus menantang. “Kegiatan selama di Polandia berpusat di Lublin University of Technology (LUT). Selain saya yang dari Indonesia, peserta lainnya berasal dari Perancis, Spanyol, Rusia, Serbia, Libanon, Maroko, Tunisia, Aljazair, Kosovo, Kamboja, dan Honduras,” tutur Kepala Urusan Perlengkapan dan Inventaris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Ridlo menceritakan, di awal kedatangan, peserta disambut dengan welcoming remark dari International Exchange Education LUT yang diwakili oleh Małgorzata Wilczyńska. Ridlo sebagai wakil UMM tak hanya memanfaatkan momen itu untuk mengenalkan dirinya dan kampusnya saja, tapi juga persyarikatan Muhammadiyah, tentunya dengan bahasa Inggris. “ini adalah saat tepat bagi saya untuk mengenalkan kampus dan juga Muhammadiyah. Setelah perkenalan pribadi dan kampus, saya tambahkan dengan mengatakan kalau UMM adalah salah satu dari kampus besar yang dimiliki organisasi Islam terbesar di Indonesia. Muhammadiyah adalah pioner pendidikan di Indonesia sejak 1913 M. Saat ini, Muhammadiyah telah memiliki ribuan sekolah dan perguruan tinggi yang menyebar di seluruh Indonesia, bahkan telah dibuka kampus Muhammadiyah di luar negeri seperti di Malaysia,” papar Ridlo. Oleh karena itu, lanjut Ridlo, untuk urusan pendidikan, pemerintah Indonesia mempercayakan kepada Muhammadiyah, terbukti Menteri Pendidikan sekarang berasal dari jajaran pimpinan Muhammadiyah. “Peserta terlihat terkesima, mereka menyimak sembari penasaran dengan penjelasan saya mengenai Muhammadiyah. Terlihat peserta dengan khidmat mengikuti apa yang saya sampaikan,” jelas sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang ini. Disaat Ridlo menjelaskan mengenai Muhammadiyah, salah satu peserta dari Maroko, Hanae, mengacungkan tangan sambil berkata “I am also from Muhammadiyah. That’s one of the names of city in Maroko”, kata Hanae. Hadirin semula tampak penasaran dengan apa yang disampaikan. Ternyata di Maroko, nama muhammadiyah sudah terkenal karena di sana ada kota yang bernama Mohammedia. Menutup presentasi singkat itu, Ridlo menyampaian bahwa UMM dan Muhammadiyah membuka pintu kepada semua delegasi kampus bila berkeinginan untuk research, studi banding, sharing dan diskusi mengenai UMM dan Muhammadiyah. “Semoga ini menjadi salah satu media untuk mengenalkan Muhammadiyah di belahan negara lain yang belum paham tentang organisasi ini,” ujarnya. Peserta tampak antusias dan penasaran dengan apa yang diceritakan Ridlo lantara ia merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia. “Mereka yang berasala dari Timur Tengah sangat appreciate dan mengagumi dengan mengatakan ‘Indonesia is a good country’. Jadi di mata mereka, kita bangsa Indonesia masih dipandang baik dan sukses pemerintahannya,” tutup Ridlo. (rid/han)
KDRT Meningkat, LP3A Dalami Akar Kekerasan Perempuan dan Anak

ANGKA Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) di Indonesia terus meningkat. Tahun 2016 lalu, sebanyak 259.150 kasus KDRT terlaporkan ke pengadilan agama. Menurut Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan 2007-2014 Dr Neng Dara Affiah MSi, sejak 2010, jumlah KDRT memang terus mengalami peningkatan hingga saat ini. Kekerasan pada perempuan ini banyak jenisnya. Menurut Neng Dara, data menunjukkan kekerasan yang paling menonjol adalah KDRT Ranah Personal (RP), yaitu hingga mencapai 75 persen atau sekitar 10.205 kasus. “Semua kasus tersebut adalah yang terlaporkan, masih banyak yang tidak terlaporkan,” jelasnya pada Seminar Nasional yang digelar Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah malang (UMM), Selasa (11/4) di Auditorium UMM. Neng Dara menjelaskan, 70 persen kasus kekerasan seksual dilakukan oleh orang yang dikenal dekat dengan korban. Pelaku kekerasan seksual tidak hanya melakukannya sendiri, kecenderungan dalam tiga tahun terakhir, perkosaan dilakukan secara berkelompok yang diakhiri dengan pembunuhan. “Pelakunya semakin banyak berasal dari usia anak dan akan menjadikan anak yang berumur di bawahnya sebagai korban,” ungkapnya. Narasumber kedua, yaitu dosen Fakultas Psikologi UMM Selain Neng Dara, Dr, Muhammad Salis Yuniardi, M. Psi menjelaskan, korban kekerasan perempuan dan anak biasanya berasal dari keluarga yang tidak mengajarkan masalah kepribadian kepada anak. Menurut Salis, keluarga merupakan akar dari segala permasalahan yang terjadi pada anak. Mulai dari awal, ayah dan ibu harus bekerjasama untuk membangun keluarga yang kokoh dengan membangun pribadi yang tangguh. “Berikan kesempatan pada anak untuk mengambangkan bakat dan minat. Banyak dari orang tua yang menekan anaknya supaya sesuai dengan keinginan orang tua. Jika anak tidak menghendaki hal tersebut, maka anak akan mencari tempat yang mendukung bakat dan minatnya,” jelas Salis. Kasus kekerasan pada anak dan perempuan hingga saat ini belum masuk dalam kasus delik pidana, tetapi masih dalam kategori kasus delik aduan. Salis memaparkan, jika delik pidana, maka tanpa ada laporan kekerasan polisi atau pihak berwajib boleh melakukan tindakan. Namun, karena kasus kekerasa pada perempuan dan anak masuk kategori delik aduan, jadi perlu ada yang melaporkan terlebih dahulu baru bisa diproses secara hukum. “Hal tersebut menambah panjang penyebab turunnya angka kekerasan pada perempuan dan anak,” ujarnya. (jal/han)
DPPM Dampingi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LPPM IISIP Biak Papua
DIREKTORAT Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi bekerjasama dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Yapis Biak, Papua. Penandatanganan nota kesepahaman antara UMM dan LPPM IISIP Yapis Biak dilakukan di kantor DPPM UMM, Senin (10/4). Direktur DPPM UMM, Prof. Dr. Sujono, M.Kes menyatakan kerjasama yang akan dilakukan berupa pendampingan jurnal, penelitian maupun proposal pengabdian masyarakat. Nantinya, UMM akan menjadi mitra bestari bagi IISIP Yapis Biak. “Mitra bestari adalah kegiatan di mana dosen UMM akan mengkoreksi penelitian, jurnal, artikel maupun pengabdian masyarakat yang dihasilkan oleh LPPM IISIP Yapis Biak,” jelas Sujono. Pendampingan yang dilakukan UMM merupakan suatu keuntungan. Pasalnya, menurut Sujono, proposal yang diunggah ke Dikti akan mendapatkan nilai tambah jika sebelumnya dibaca dan dikoreksi oleh universitas lain. Sujono menambahkan, batas akhir pengunggahan proposal penelitian maupun pengabdian masyarakat di Dikti bulan April 2017. Itu berarti, semua kesepakatan akan langsung dijalankan mulai bulan ini. “Karena UMM sudah masuk dalam cluster mandiri dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat, maka pendampingan yang diberikan ini adalah bentuk dukungan UMM untuk mengembangkan penelitian di kampus lain,” jelasnya. Tidak hanya bekerjasama dalam bidang penelitian tersebut, UMM juga memberikan kesempatan bagi IISIP Yapis Biak untuk menjajaki kemungkinan kerjasama dalam bidang pendidikan. Di antaranya dengan memberikan kesempatan bagi lulusan IISIP menjalani program magister dan doktoral di UMM. “Mereka bisa menyelesaikan program magister dan doktoral di program pascasarjana magister sosiologi dan program doktoral ilmu sosial dan ilmu politik,” ungkap Sujono. (jal/han)
Kunjungi UMM, Rektor IMAMU Arab Saudi Ajak Jaga Toleransi dan Perdamaian

MENINDAKLANJUTI kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Indonesia beberapa waktu silam, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin memperkuat komitmen kemanusiaan lewat penguatan kerjasama dengan sejumlah universitas dan lembaga di Arab Saudi, salah satunya dengan Al-Imam Muhammad Ibn Saud Islamic University (IMAMU), Riyadh, Arab Saudi. Hal tersebut diwujudkan melalui lawatan anggota Lembaga Tinggi Ulama Kerajaan Arab Saudi sekaligus Rektor IMAMU Prof. Dr. Sulaiman bin Abdullah Aba Al Khail beserta rombongan. Selain mengadakan dialog terbatas dengan jajaran rektorat UMM, momen ini juga dimanfaatkan dengan diadakannya seminar ilmiah bertema “Nilai Toleransi dan Perdamaian dalam Islam serta Perannya dalam Menguatkan Hubungan Kemanusiaan” yang berlangsung di Auditorium UMM, Selasa (11/4). Disampaikan Sulaiman, diadakannya kegiatan ini sebagai upaya membendung segala bentuk konspirasi serta upaya penyudutan yang kerap dialamatkan kepada Islam. Hal tersebut, kata Sulaiman, dapat diwujudkan dengan mencetak kader-kader yang dibentuk agar berkomitmen penuh pada jalan kebenaran. “Kerjasama antara Arab Saudi dan Indonesia seperti layaknya dua kelopak mata di satu kepala. Mudah-mudahan Pak Rektor akan banyak melihat hal-hal yang menggembirakan setelah bekerjasama dengan universitas kami,” ungkap Sulaiman usai memberikan kuliah tamu di hadapan civitas akademika UMM. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Fauzan menyampikan, poin penting kerjasama yang telah dibangun antara UMM dan IMAMU yakni memberikan penegasan bahwa Islam adalah agama cinta damai dan mengedepankan toleransi. “Arab Saudi dan Indonesia adalah saudara kandung secara ideologis, yakni sama-sama menjadikan Islam sebagai ideologi. Sambutan baik masyarakat Indonesia atas kedatangan Raja Salman sebenarnya menggambarkan kerinduan dua orang saudara yang telah lama tidak bertemu,” kata Fauzan. Selain Rektor, IMAMU juga mendatangkan dua pengajarnya, antara lain Dr Khalid As Syitsri dan Dr Jamil Al Khalaf yang juga merupakan Ketua Lembaga Al-Faqih di Sekolah Tinggi Kehakiman Arab Saudi. Kabar baik juga datang pasca gelaran dialog ini. Pihak IMAMU melalui rektor Sulaiman menjanjikan bakal menyumbangkan sejumlah buku-buku keislaman untuk menambah perbendaharaan buku di perpustakaan UMM. (can/han)
MAFI Fest 2017, Antusiasme Sineas Pelajar-Mahasiswa Meningkat Dua Kali Lipat

FESTIVAL film garapan mahasiswa pertama di Indonesia, Malang Film Festival (MAFI Fest) kembali hadir. Di usia yang ke-13 ini diharapkan MAFI Fest dapat terus menjadi referensi bagi pegiat film di Indonesia sekaligus tolak ukur perkembangan sinema khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia. Dibanding tahun lalu, jumlah film yang masuk meningkat hingga 53 persen, dari 278 film pendek di tahun lalu hingga 426 pada MAFI Fest 2017 ini. “Hal tersebut menunjukkan bahwa minat pelajar dan mahasiswa dalam dunia sinematografi kian meningkat setiap tahunnya,” kata Direktur MAFI Fest Fania Yuning Sari. Tahun ini, kegiatan yang akan dilaksanakan pada 11-14 April di Theater UMM Dome ini mengusung tema “Harmoni”. Fania mengungkap, tema ini berkaca dari penyelenggara dan karya film maker peserta kompetisi yang memang terdiri dari beragam ras, agama, dan suku. Spiritnya, diharapkan keberagaman ini dapat disatukan hingga menciptakan sebuah keindahan, dan keindahan itulah yang akan ditampilkan selama festival ini berlangsung. Dari sisi karya, film-film yang masuk pada MAFI Fest juga memiliki keberagaman, baik dari segi genre, warna, dan cerita film. MAFI Fest akan dimulai setelah jauh sebelumnya yaitu sejak November 2016 hingga Februari 2017, pihak panitia telah melakukan sosialisasi dan penerimaan karya film untuk festival yang digagas oleh unit kegiatan mahasiswa (UKM) Kine Klub UMM ini. Dari segi kategori, tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, terdapat empat kategori yang dikompetisikan yakni Fiksi Pendek Pelajar, Fiksi Pendek Mahasiswa, Dokumenter Pendek Pelajar, dan Dokumenter Pendek Mahasiswa. BW Purbanegara, Novi Hanabi, dan Panji Wibowo didapuk sebagai juri kategori film fiksi. Kemudian Akbar Yumni, Caroline Monteiro, dan Nashiru Setiawan merupakan juri kategori film dokumenter. “Eksistensi para juri itu di dunia sinematografi sudah tidak diragukan lagi. Juri-juri inilah yang akan memilih siapa saja jawara di MAFI Fest 2017,” jelas Fania. Fania menambahkan, ada nuansa baru dalam MAFI Fest kali ini, yaitu penamaan program-program festival yang sepenuhnya berbahasa Indonesia. “Tujuannya agar ada pemerataan, itu kenapa kami memilih menggunakan bahasa Indonesia pada penamaan keseluruhan program. Tema harmoni yang kami pilih pun Indonesia banget”, paparnya. Sementara, salah satu juri MAFI Fest ke-13 Novi Hanabi di hadapan para wartawan saat konferensi pers menilai, MAFI merupakan ajang festival film yang cukup konsisten diselenggarakan tiap tahunnya. “Perkembangan baik festival maupun film-film pilihan yang ada di MAFI Fest tahun ini cukup menarik dan bisa menjadi alternatif tontonan. Saya menjamin referensi film-film yang dipilih teman-teman MAFI menarik,” kata Novi yang saat ini tengah sibuk sebagai publisis film Indonesia. Program-program MAFI Fest ini terbagi dua, yakni program kompetisi dan program non-kompetisi. Pada program kompetisi akan diputarkan film-film yang telah lolos tahap administratif dan tahap kurasi, sementara program non-kompetisi merupakan program lain yang disuguhkan penyelenggara yang tidak bersifat kompetitif. Program non-kompetisi sendiri terbagi menjadi beberapa program, yakni Malang Sinau Dokumenter, Ruang Apresiasi, Sinema Arek Malang, Penayangan Khusus, Program Kuratorial, Diskusi Umum, Forum Festival, dan Temu Komunitas. Pada program Ruang Apresiasi akan diputarkan secara perdana film dokumenter yang telah diproduksi siswa SMA/SMK pada program Malang Sinau Dokumenter dan juga akan ada pemutaran perdana film “Tilaran”, film Produksi Bersama Ke-14 Kine Klub UMM. Sedangkan program diskusi umum akan mengangkat isu-isu yang sangat dekat dengan para sineas di Indonesia saat ini. Isu yang akan dibahas pada program ini adalah “Sinema, Roda dan Gerakan” dan “Digital Platform dan Film Masa Kini”. Pada program Penayangan Khusus akan diputarkan film panjang berjudul “Nokas” karya Manuel Laberto, sebuah film dokumenter yang mengangkat isu adat perkawinan dari wilayah Timur Indonesia, di mana isu seperti ini masih jarang menjadi sorotan publik. Pada program Forum Festival, Malang Film Festival berkolaborasi dengan Denpasar Film Festival dan Festival Film di Surabaya atau Festival Kecil (Festcil). (wdy/can/han)
Bangsa Carut Marut, Ini Pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

KETUA Umum Pimpinan Pusat (Ketum PP) Muhammadiyah Dr. H. Haedar Nashir, M.Si menyampaikan keprihatinannya bahwa bangsa ini, menurut istilah Haedar, telah kehilangan perspektif kenegarawanannya. Sehingga dalam perjalanannya, bangsa ini terus menerus mengalami kontradiksi yang tak berkesudahan. Hal tersebut disinggung Haedar di hadapan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada gelaran bertajuk ‘Pengajian Umum Pasca Tanwir 2017’ di Auditorium UMM, Sabtu (8/4). Carut-marut kehidupan berbangsa dan bernegara yang tengah terjadi belakangan ini, dinilai Haedar, disebabkan oleh materi dan kekuasaan yang telah jauh mendominasi alam pikiran para pemangku jabatan. Mereka, kata Haedar, tak lagi menjalankan prinsip nilai-nilai luhur kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga demikian, untuk menghadang segala keburukan tadi, Haedar berpesan kepada seluruh hadirin untuk senantiasa merawat idealismenya. Disamping itu, Haedar juga mengajak kepada seluruh civitas akademika untuk terus mempertajam serta memperkuat nilai-nilai keislaman agar memiliki wawasan keislaman yang luas. Tak kalah penting, Haedar juga menekankan pentingnya membangun integritas dan jati diri yang utuh. “Tantangan generasi baru yang hidup dalam mobilitas yang tinggi menuntut setiap orang untuk mampu bertahan menghadapi berbagai macam godaan. Sehingga, membangun integritas dan jati diri itu bisa dimulai dari menjaga keutuhan di rumah tangga masing-masing,” terangnya. Haidar juga mendorong para hadirin untuk meraih kesuksesan setinggi mungkin agar cita-cita menjadi orang yang berkemajuan dapat diwujudkan. Namun demikian, ia mewanti-wanti untuk tetap menjaga nilai-nilai dasar tentang kebajikan, kebenaran, moralitas dan akhlak. Terakhir, Haedar berpesan kepada seluruh civitas akademika untuk tetap berkontribusi agar UMM semakin besar dan tetap memiliki peran strategis bagi kebermanfaatan umat dan bangsa. (can/han)