Raih Gelar Doktor, Mursidi Ungkap Transformasi UMM dari Market Follower Menjadi Market Leader

SUNGGUH besar kecintaan Mursidi pada almamaternya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hingga pada studi S3-nya di Universitas Brawijaya (UB) Malang, ia menulis disertasi yang mengulas kampus kebanggaannya itu, yaitu “Gaya Kepemimpinan Perguruan Tinggi Islam Swasta: Studi Fenomenologi di UMM”. Mursidi resmi dikukuhkan selepas sidang terbuka di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB, Sabtu (8/4), dengan nilai A atau sangat memuaskan, berdasarkan penilaian dari promotor, ko-promotor dan para penguji, termasuk penguji tamu yaitu Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Dr Achmad Jainuri MA. Mursidi menjadi doktor ke-601 di Program Magister Manajemen UB. Terkait disertasinya, Mursidi mengatakan, ia hendak mengungkap fenomena di balik kemajuan UMM. “Keberhasilan UMM adalah fenomena yang nampak, karena itu dengan pendekatan fenomenologi, saya hendak menggali apa yang ada di balik kesuksesan itu,” kata mantan Pembantu Rektor II UMM ini. Dari pencariannya, Mursidi menemukan bahwa gaya kepemimpinan dua mantan Rektor UMM, yaitu Malik Fadjar (MF) dan Muhadjir Effendy (ME) merupakan faktor kunci yang merubah UMM dari pengikut pasar (market follower) menjadi pemimpin pasar (market leader). “Jika dulu mengikuti apa yang sedang ngetren di pasar pendidikan, saat ini UMM justru menjadi rujukan karena berbagai inovasi yang dilakukannya,” papar dosen FEB UMM ini. Berdasarkan temuannya, Mursidi menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan UMM ditandai dengan munculnya tiga corak, yaitu pertama, kepemimpinan berfilosofi profetik dan penggerak dengan implementasi manajerial berpola paguyuban, lurus dan dinamis. Kedua, kepemimpinan berfilosofi guru dan kuntul baris dengan implementasi pola jurnalis, militer dan sepakbola. Ketiga, lahirnya gaya kepemimpinan MF dan ME dipengaruhi oleh perjalanan hidupnya sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolahnya. Terlebih, Mursidi meyakini bahwa kepemimpinan gaya aktivis merupakan irisan yang mempertemukan antara MF dan ME. Latar belakang keduanya sebagai aktivis mempengaruhi gaya mereka dalam menggerakkan organisasi. “Gaya aktivis ini dicirikan dengan adanya mimpi-mimpi besar yang dibangun melalui diskusi-diskusi, lalu diimplementasikan dengan gerakan-gerakan penuh semangat. Itulah yang membuat UMM bisa sebesar sekarang ini,” jelas Mursidi. Sementara itu, mewakili pandangan para promotor dan penguji, ko-promotor 2 Dr Siti Aisjah SE MS mengaku sejak awal sudah sangat tertarik dengan penelitian ini. “Selamat atas gelar doktornya. Ini bukan akhir perjalanan, justru ini langkah awal untuk lebih banyak berkiprah, khususnya bagi UMM,” kata dosen Program Magister Manajemen UB ini. Siti Aisjah juga merasa terhormat karena bisa satu meja dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir untuk menguji disertasi Mursidi. “Ini kehormatan bagi saya bertemu langsung dengan Pak Haedar. Kalau tidak untuk menguji Pak Mursidi, saya kira saya tidak bisa ketemu langsung dengan Pak Ketua Umum,” ujarnya. (can/han)
Mahasiswa Pemenang Kontes Robot Internasional Dibebaskan Biaya Kuliah dan Tugas Akhir

KEBERHASILAN dua tim robot Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih juara satu dan dua pada kontes robot internasional di Trinity College Amerika Serikat (AS), 1-2 April 2017, mendapat apresiasi khusus dari pihak universitas. Selain berupa bebas biaya kuliah hingga lulus dan insentif individu, tiap-tiap anggota tim juga dibebaskan dari tugas akhir dan sejumlah mata kuliah yang ekuivalen, seperti Robotika, Mekatronika, dan Micro Controller. Namun, masing-masing tim tetap diminta mengembangkan konsepnya dan dirancang agar bisa sampai pada industrialisasi robot. Terkait hal ini, Rektor UMM Fauzan mengatakan, pada Agustus nanti akan ada festival riset, di mana salah satu acaranya yaitu entrepreneurship summit. “Di situ, hasil riset terbaik dari mahasiswa dan dosen UMM akan ditemukan dengan para pengusaha. Pada momen ini, robot-robot yang sudah terbukti kualitasnya itu tentu akan menarik kalangan industri,” jelas Rektor jelas Rektor saat konferensi pers di Gedung Rektorat UMM, Senin (10/4).. Dua tim robot yang dimaksud yaitu tim InaMuh sebagai juara 1 dan tim Unmuh Malang juara 2 untuk kategori robot berkaki. “Di samping itu, tim InaMuh juga meraih juara poster terbaik,” terang dosen pembimbing sekaligus ketua rombongan, Ir. Alik Ansyori Alamsyah, M.T., terkait kejuaran yang bertajuk Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) itu. “Meskipun dua robot mengalami kendala saat pertandingan, namun tidak menghalangi tim untuk meraih juara. Salah satu robot mengalami kerusakan pada mesin dan pada pompa,” jelas Imam Fatoni, salah satu peserta tim. Selain Imam, peserta lainnya yaitu Ikhlal Aldhi Wijaya dan Salis Muchtar Fadhillah, ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Teknik (FT) UMM. Kerusakannya disebabkan air yang disediakan untuk memadamkan lilin bocor dan membasahi komponen yang lain. Karena itu, akhirnya harus dibongkar untuk dikeringkan dulu, kemudian dipasang kembali komponen robotnya. Beberapa komponen yang rusak langsung perbaiki langsung di tempat. Tujuan utamanya saat itu, cerita Imam, yang penting robot bisa berjalan dan memadamkan api. “Alhamdulillah, robot yang rusak tadi bisa meraih juara dua di perlombaan internasional ini,” jelas Imam.Di final, tim yang terdiri dari para mahasiswa Fakultas Teknik UMM itu harus bersaing dengan sejumlah kontestan lainnya yang telah diseleksi di negaranya masing-masing, di antaranya dari Kanada, Tiongkok, Israel, Portugal, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Ada dua hal yang menjadi keunggulan robot-robot UMM, yaitu kecepatan dan ketepatan. Hal itu lantaran robot UMM dibekali dengan sepuluh sensor, yaitu delapan sensor ultrasonik dan dua sensor infra merah sebagai sensor jarak. Sensor-sensor tersebut digunakan agar mudah mendeteksi posisi lilin dan dapat menjangkau lilin dengan cepat dan tepat. Selain itu, robot UMM juga dibekali sensor flame UVTRON-R9454 untuk mendeteksi api lilin. Sensor ini sangat baik jika dibandingkan dengan sensor flame yang lain, karena mampu menangkap cahaya ultraviolet dengan jangkauan spektrum185 nanometer (nm) sampai 260 nm, di mana jangkauan itu hanya dimiliki oleh gas api. (jal/han)
KPPU RI Ajak Mahasiswa FH Pahami Kebijakan Atasi Konglomerasi dan Monopoli

KEBIJAKAN yang tidak adil dapat berpengaruh padah rusaknya tata ekonomi bangsa dan kesenjangan sosial. Salah satunya yang disebutkan oleh komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Republik Indonesia (RI) Dr Sukarmi MH tentang munculnya konglomerasi dan monopoli usaha lantaran kedekatan sejumlah pengusaha tententu dengan elit politik. Hal tersebut disampaikan Sukarmi saat kuliah tamu Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Auditorium UMM, Senin (10/4). Ia mencontohkan pada 1999, di mana mayoritas warga Indonesia masih di bawah angka kemiskinan, karena tidak dari mereka yang bisa memulai bisnis. “Bisnis hanya bisa dilakukan oleh masyarakat yang ekonominya di atas rata-rata,” ungkap Sukarmi. Menurut Sukarmi, para pengusaha yang dekat dengan elit kekuasaan mendapatkan kemudahan-kemudahan yang berlebih sehingga berdampak kepada kesenjangan sosial. Munculnya konglomerasi dan sekelompok kecil pengusaha kuat yang tidak didukung oleh semangat kewirausahaan sejati merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan ketahanan ekonomi menjadi sangat rapuh dan tidak mampu bersaing pada saat itu. Selain itu, kondisi masyarakat yang belum mampu berpartisipasi dalam peluang usaha, perkembangan usaha swasta juga lebih didominasi dengan kebijakan pemerintah yang kurang tepat. Para pelaku usaha yang berasal dari masyarakat menengah ke atas menjadikan hal tersebut sebagai peluang untuk mengambil banyak keuntungan. “Berkaca pada fenomena tersebut, pada tahun 1999, KPPU mengeluarkan kebijakan mengenai persaingan usaha yang sehat,” jelas Sukarmi di hadapan ratusan mahasiswa FH UMM. Kebijakan yang dikeluarkan adalah UU Nomor 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Tujuan utama diputuskannya UU tersebut, lanjut Sukarmi, tidak lain untuk menciptakan persaingan sehat. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi dan ekonomi pasar akan lebih efisien. Selain itu, Sukarmi memaparkan, dengan adanya peraturan tersebut konsumen memiliki banyak pilihan atas barang atau jasa yang tersedia di pasar. Dalam kesempatan tersebut, ketua lembaga riset perbankan Jawa Timur itu juga menyampaikan berbagai manfaat dari tercentusnya UU tersebut. Setidaknya berjalannya UU tersebut akan memenuhi kebutuhan konsumen terhadap pasar. Produk yang diperjualbelikan akan semakin beragam meliputi barang maupun jasa. “Setiap barang yang dibeli oleh konsumen akan berbanding lurus dengan harga yang dibayarkan,” imbuh Sukarmi. (jal/han)
UMM Kini Miliki Tarian Khas, Gagrak Sumirat Puspita

KINI, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) punya tarian khas, yaitu tari Gagrak Sumirat Puspita. Tarian ini pertama kali diluncurkan secara resmi pada 22 Maret 2017 lalu, di hadapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Filosofi tarian ini disarikan dari nilai-nilai UMM, Malang, dan Muhammadiyah. Koreografer tari Gagrak Sumirat Puspita, Arina Restian, M.Pd. menjelaskan, Gagrak menggambarkan ciri khas kota Malang yang tegas, Sumirat mencerminkan matahari yang bersinar yang juga merupakan lambang UMM dan Muhammadiyah, sedangkan Puspita artinya berkembang. Sementara, jumlah 12 penari melambangkan 12 pancaran sinar matahari pada lambang UMM. Tak hanya itu, semua gerak dalam tarian ini adalah hasil riset yang dalam akan perjalanan Muhammadiyah. Arina mengisahkan, Muhammadiyah lahir di Yogyakarta dan berkembang hingga ke Malang, salah satunya UMM. Di UMM inilah Muhammadiyah berkembang pesat hingga melahirkan pemimpin Indonesia yang hebat, di antaranya Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Prof Malik Fadjar dan Mendikbud RI Prof Muhadjir Effendy. “Itulah mengapa di akhir tarian, tersisa dua penari. Ini menggambarkan kedua tokoh yang lahir dari UMM tersebut. Kedua tokoh ini menunjukkan energi yang kuat untuk Indonesia,” urai Arina. Dosen program studi PGSD ini menceritakan, sebelumnya UMM telah memiliki tari ikon, yakni tari Beskalan. Tari ini juga terinspirasi dari perjalanan Muhammadiyah di Yogyakarta. Sementara, tari Gagrak Sumirat Puspita merupakan penyempurnaan dari tari Beskalan. “Saya memulai riset untuk tari ini sejak 2014. Cerita perjalanan Muhammadiyah dari Yogyakarta hingga ke Malang, menjadi UMM, nilai-nilai dari KHA Dahlan, dan Muhammadiyah yang berkembang sampai sekarang, semua tergambar pada gerakan di tarian ini,” ungkap Arina. Selain koreografi, kostum yang digunakan oleh ke-12 penari juga didesain sendiri oleh Arina dan tim. “Warna biru kostum melambangkam warna langit yang berarti ketenteraman,” imbuh Arina. Meski memiliki nilai yang detail akan Muhammadiyah dan UMM, para penari itu hanya melakukan latihan selama sebulan sebelum tarian diluncurkan. Kesemuanya adalah mahasiswa dari berbagai jurusan dan perwakilan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Tari Sansekerta. Sebagai tari ikon, maka tari ini akan digunakan sebagai tari sambutan UMM pada setiap tamu yang hadir di UMM. (ich/han)
UMM Tuan Rumah Pembentukan PMSM Cabang Malang

PERKEMBANGAN pengelolaan sumber daya manusia memberikan gambaran detail dan komprehensif bahwa ke depan yang dihadapi dalam menggerakan Manajemen Sumber Daya Manusia (MDSM) di Indonesia menuntut respon yang lebih baik. “Studi-studi yang dilakukan di perguruan tinggi terkait praktik MSDM biasanya dilihat dari aspek behavioral approach atau pendekatan perilakulewatpendekatan kelompok yang cenderung individual dalam menyelesaikan persoalan-persoalan SDM,” kata Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. pada gelaran Koordinasi Pembentukan Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) Indonesia Cabang Malang di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (6/4). Sehingga, dijelaskan Nazaruddin, pendekatan yang lebih sistemik dibutuhkan untuk mendesain dan me-redesain organisasi serta melakukan perubahan melalui organisasi. “Sehingga aspek behavioral juga dapat dilihat hasilnya. Perubahan sistemik berbasis behavioral inilah yang masih jarang menjadi kajian di perguruan tinggi,” ujar Nazaruddin yang juga merupakan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM ini. Perguruan tinggi juga harus memiliki hubungan yang kuat dengan praktisi, memadukan pikiran juga harus saling men-suport satu sama lain. Terutama bagaimana agar perguruan tinggi bisa menyiapkan lulusan-lulusan yang memiliki kompetensi yang memungkinkan mereka bergerak di bidang industri maupun jasa dengan baik Gaung pembentukan PSMS Cabang Malang sebenarnya telah lama terdengar. Namun demikian, dinilai Nazaruddin, selama ini kegiatan-kegiatan di wilayah Jawa Timur masih bersifat parsial dan sporadis, utamanya mereka yang berada di lingkungan yang bergerak di bidang industri manufaktur. Diakui Nazaruddin, dibanding Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang serta Bekasi, aktivitas PMSM di wilayah Jawa Timur cenderung kurang. “Mungkin karena pertautan langsung dengan para karyawan utamanya buruh, mengakibatkan mereka sangat intens melakukan koordinasi,” terang Nazarudin. Dilanjutkan Nazaruddin, kualifikasi kompetensi menjadi persoalan yang juga penting. Bahkan di perguruan tinggi, seorang sarjana harus memiliki sertifikat pendamping ijazah yang menunjukan kompetensi seorang mahasiswa. “Perguruan tinggi utamanya perguruan tinggi swasta dengan segala kompleksitasnya, dituntut untuk menjalankan pengelolaan SDM yang lebih baik, seperti kompleksitas pengelolaan insfrastruktur yang sangat luas seperti di UMM,” tukasnya. Di samping itu, rapat pembentukan kepengurusan PSMS ini juga sekaligus mensosialiasikan Implementasi Sertifikat Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. (can/han)
Hadirkan Dosen Arab Saudi, FAI UMM Kenalkan Maqoshid Syariah

ISTILAH maqoshid syariah mungkin saja sangat tidak familier bagi masyarakat awam. Padahal, dalam konteks hukum Islam, peran maqoshid syariah sangat krusial, karena merupakan metode untuk menggali tujuan dari penerapan hukum Islam. Tak heran, perlu kedalaman ilmu yang matang bagi seseorang yang ingin menjadi ahli di bidang maqoshid syariah. Seseorang itu dintuntut untuk banyak membaca, melakukan penelitian, muraja’ah serta mempelajari nash-nash al-Quran dan hadits-hadits tentangnya. Tak lupa juga untuk memahami hukum-hukum yang lain, sehingga orang itu menjadi ahli di bidangnya. Hal tersebut disampaikan pengajar Universitas Malik bin Abdul Aziz Jeddah Arab Saudi, Prof Dr Mazin al-Bukhori MA dalam seminar nasional program studi (prodi) Syariah Ahwal Asy-Syakhsiyyah Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertajuk ‘Maqosid Syariah: Sejarah dan Penerapannya dalam Hukum,’ Selasa (4/4), di Auditorium UMM. “Dan setelah menjadi ahli, dia baru bisa mengaplikasikan ilmunya untuk menentukan hukum-hukum sesuai dengan maqashid syariah. Sama halnya dengan seorang dokter, ada dokter umum ada dokter spesialis. Untuk penyakit jantung misalnya, tidak bisa ditangani dokter umum, melainkan harus ditangani oleh ahlinya atau dokter khusus jantung,” imbuh Mazin. Mazin mengajak kepada seluruh mahasiswa prodi Syariah FAI UMM untuk mendalami maqashid syariah . “Sungguh sangat indah mempelajari maqashid syariah karena sesuai kondisi kehidupan kita saat ini,” tuturnya. Selain itu, pengajar Universitas Malik bin Abdul Aziz lain yang turut memberi kuliah umum ini Dr. Marwan Ghulam Abdul Khodir Andijani serta dosen Syariah FAI UMM, Dr. Pradana Boy ZTF, MA sebagai panelis. Kegiatan dihadiri mahasiswa prodi Syariah, santri Ma’had Abdurahman bin Auf UMM, serta anggota Majelis Tarjih Pimpinan Daerah Muhammadiyah Malang Raya. (can/han)
Sisihkan 56 Kampus se-Indonesia, UMM FM Juara 1 Lomba Siaran Radio

UNIT Kegiatan Mahasiswa (UKM) Radio Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), UMM FM berhasil menyabet juara pertama pada kompetisi nasional siar radio bertajuk “Galaksiar 2017” di Politeknik Negeri Semarang (Polines) yang berlangsung pada 2 April lalu. Lomba ini diadakan oleh UKM Radio New PLBS FM Polines memperingati hari jadinya yang ke-28. Sebelum menjadi juara, UMM FM semula masuk dalam lima besar finalis dari total 56 tim dari berbagai kampus di Indonesia. Dua orang yang mewakili UMM FM yakni Aan Marenda dan Nata Renaldi, keduanya adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi UMM angkatan 2015. Nata mengungkapkan, ia dan Aan harus melewati proses panjang untuk akhirnya menjadi juara. “Lomba diadakan setelah workshop kepenyiaran radio di hari Sabtu. Baru selepas shalat dhuhur lomba dimulai sampai jam 10 malam. Waktu yang sangat lama, sampai bosan, lelah menunggu antrean,” kisah Nata. Untuk menuju lima besar, mereka harus membawakan sebuah program bernama ‘Sore dalam Gembira’. Program ini berdurasi tujuh menit yang dibawakan oleh dua penyiar. Tiga penyiar senior dari radio di Semarang didapuk jadi juri. Jika rata-rata tim lain siaran sambil membawa kertas berisi catatan, UMM FM hanya menuliskan poin-poin yang akan dibicarakan di kertas. Selebihnya, mereka siaran tanpa membaca catatan. “Kami menilai juri akan bosan kalau harus menyaksikan penyiar yang membaca. Kami siaran seperti ngobrol. Jadi santai dan ekspresi pun keluar dengan natural. Mungkin ini salah satu hal yang menjadi nilai tambah,” ujar Aan. Dinyatakan lolos lima besar, keesokan harinya mereka mesti mengikuti babak final. Tema siaran di babak ini ditentukan oleh panitia, yakni hangout. Bangga sebagai warga Malang sekaligus mengenalkan produk UMM, maka Nata dan Aan sepakat membahas dua tempat hangout yang tenar di kota Malang, Kampung Warna-warni Jodipan dan Wisata Gunung Banyak (Paralayang). Mereka pun akhirnya sukses memenangi ajang ini. (ich/han)
Film Pendek Karya Mahasiswa UMM Rajai Lomba Videografi Nasional Ekonomi Syariah

Pogram Studi (Prodi) Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) patut berbangga, dua tim delegasinya yang terlibat dalam lomba Videografi Nasional Ekonomi Islam pada acara Shariah Economic Week (SEW) V, 31 Maret-1 April 2017 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menjadi juara 1 dan 2 sekaligus. Juara satu disabet oleh tim yang terdiri dari Amilia Aprilia, Fatiqe Ridho dan Hilva Kurnia dengan film berjudul “Masih Ada Jalan”. Sementara juara dua diraih oleh tim yang terdiri dari Juliani Pradipta, Daniel Firman dan Dwi Kurniawati dengan film berjudul “Sukses”. Aprilia menceritakan, film yang dibuatnya bercerita tentang seorang ayah yang ingin mewujudkan impian anaknya untuk menjadi dokter. Melalui film tersebut, April bersama tim mencoba menyampaikan pesan tentang praktek keuangan syariah yang sejatinya dapat menguntungkan semua masyarakat, termasuk di antaranya masyarakat miskin. “Asuransi syariah itu dapat mempermudah masyarakat, karena kedua belah pihak dapat diuntungkan,” jelas April. Penyampaikan pesan melalui video dapat menjadi salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat tentang transaksi ekonomi syariah. Fenomena yang terjadi saat ini, lanjut April, tidak semua masyarakat mengetahui apa itu ekonomi syariah dan praktek-prakteknya. Sebagian besar orang masih menganggap ‘syariah’ hanya embel-embel saja. Padahal jika didalami, sistemnya juga beda dengan bank atau badan asuransi konvensional. “Besar harapan kami masyarakat dapat terbiasa dengan istilah asuransi syariah, sehingga mereka dapat terbantu secara finansial,” ungkap mahasiswa semester 4 tersebut. Pada film yang berdurasi 4 menit 57 detik itu, pesan tentang manfaat keberadaan asuransi syariah sangat ditekankan. Menurut April, pemenuhan kebutuhan pendidikan menjadi yang paling urgent. Keberadaan asuransi syariah menjadi salah satu cara untuk membantu orang yang tidak mampu khususnya dalam memenuhi kebutuhan pendidikan bagi keluarganya. Sementara itu film berjudul “Sukses” menyampaikan pesan bahwa tidak hanya muslim saja yang bisa menabung di bank syariah. Non muslim juga dapat memanfaatkan keunggulan bank syariah. Dapat film tersebut dijelaskan, bahwa semua orang bisa berkembang dengan sistem keuangan syariah tanpa melihat ras, suku maupun agama. (jal/han)
Tim Robot UMM Juarai Kontes Robot Internasional di Amerika Serikat

PERJUANGAN mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) yang mewakili Indonesia untuk tampil dalam kontes robot internasional di Trinity College Amerika Serikat, 1-2 April 2017 ini tak sia-sia. Dalam kontes bertajuk Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) itu, dua tim dari UMM memborong juara 1 dan 2 sekaligus untuk kategori robot berkaki. Dua tim tersebut yaitu tim InaMuh sebagai juara 1 dan tim Unmuh Malang juara 2. “Di samping itu, tim InaMuh juga meraih juara poster terbaik,” terang dosen pembimbing sekaligus ketua rombongan, Ir. Alik Ansyori Alamsyah, M.T. saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (3/4). Di final, tim dari UMM harus bersaing dengan sejumlah kontestan lainnya yang telah diseleksi di negaranya masing-masing, di antaranya dari Kanada, Tiongkok, Israel, Portugal, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Ada dua hal yang menjadi keunggulan robot-robot UMM, yaitu kecepatan dan ketepatan. Hal itu lantaran robot UMM dibekali dengan sepuluh sensor, yaitu delapan sensor ultrasonik dan dua sensor infra merah sebagai sensor jarak. Sensor-sensor tersebut digunakan agar mudah mendeteksi posisi lilin dan dapat menjangkau lilin dengan cepat dan tepat. Selain itu, robot UMM juga dibekali sensor flame UVTRON-R9454 untuk mendeteksi api lilin. Sensor ini sangat baik jika dibandingkan dengan sensor flame yang lain, karena mampu menangkap cahaya ultraviolet dengan jangkauan spektrum185 nanometer (nm) sampai 260 nm, di mana jangkauan itu hanya dimiliki oleh gas api. Merespon hal ini, Rektor UMM Fauzan mengatakan, semua mahasiswa yang bertanding ke tingkat apapun akan diapresiasi oleh UMM. Semuanya diberikan beasiswa berupa bebas tanggungan biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Selain itu, semua karya yang telah dibuat oleh mahasiswa ini nantinya akan dipamerkan dalam festival inovasi dan karya. “Agustus nanti akan digelar festival itu untuk memacu semangat yang lain agar terus menciptakan inovasi dan karya,” jelas Fauzan. (can/han)
DPPM Targetkan Lebih dari 60% Proposal Riset dan Pengabdian Masyarakat Lolos Pendanaan Dikti

KEMENTERIAN Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) meluncurkan panduan usulan penelitian dan pengabdian masyarakat edisi XI di tahun 2017. Merespon hal tersebut, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar sosialisasi panduan pelaksanaan penelitian dan pengabdian masyarakat edisi XI ke semua dosen tetap, Sabtu (1/4) di Auditorium UMM. Kepala DPPM, Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes menyatakan, beberapa peraturan yang ditambahkan adalah proposal yang diunggah merupakan rancangan penelitian dan pengabdian masyarakat yang Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 106 tahun 2016. Peraturan tersebut, lanjut Sujono, mengatur tentang Standar Biaya Keluaran (SBK). Semua pengeluaran yang dirancang oleh dosen diharapkan dapat meningkatkan pencapaian target luaran yang telah ditetapkan. Perubahan lainnya yang diakomodir panduan edisi XI ini adalah pengelompokan skema penelitian dan rancangan pengaturan untuk luaran tambahan. Pembiayaan luaran dipisahkan dengan biaya penelitian itu sendiri. “Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” ujar Sujono saat ditemui kemarin. Buku panduan edisi XI juga menjelaskan tentang uraian setiap skema program penelitian dan pengabdian masyarakat. Secara rinci dijelaskan tentang tata cara pengajuan, seleksi proposal, monitoring dan evaluasi pelaksaan serta tata cara penulisan hasil kegiatan. Tidak hanya itu, lebih baru, panduan edisi XI juga menjelaskan tentang Tingkat Kesiapterapan Tekhnologi (TKT). TKT mulai digunakan oleh Kemenristek Dikti untuk memetakan kegiatan riset yang dikaitkan dengan tingkat kesiapan tekhnologinya. “TKT digunakan untuk mendukung program hilirisasi dan komersialisasi hasil riset,” ungkap Sujono. Sampai sejauh ini, belum banyak hasil penelitian dosen yang bisa dikomersialisasikan. DPPM mendorong seluruh dosen untuk mengajukan proposal penelitian eksternal. “Sejauh ini, penelitian eksternal baru mencapai 60%, kita terus mendorong agar cluster mandiri yang sudah didapatkan UMM dapat terus dipertahankan,” imbuhnya. (jal/han)