Kedua Kalinya, Talkshow Kick Andy Meriahkan UMM Dome

UNTUK kedua kalinya, event talkshow garapan televisi swasta Metro TV, Kick Andy, menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/3) di UMM Dome. Sebelumnya, pada 2008 gelaran yang sama juga diadakan di UMM menghadirkan bintang tamu utama penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Kali ini, tema yang diangkat Kick Andy yaitu “Yang Muda, Yang Peduli” menghadirkan bintang tamu duta pariwisata Nadine Chandrawinata, pendiri café tunarungu Fingertalk Indonesia Dissa Syakina Ahdanisa, dan para personil group band Cokelat. Rektor UMM Fauzan berharap, Kick Andy tidak berhenti menebar virus kebaikan melalui inspirasi para bintang tamu yang dihadirkan. Mengamini hal tersebut, host Kick Andy, Andy Flores Noya, menyebut dukungan dan fasilitas yang diberikan UMM dalam penyelenggaraan acara ini merupakan berkah bagi Kick Andy sehingga dapat terus bersama-sama menebar virus kebaikan. “Ini kedua kalinya saya berada di UMM, terima kasih atas dukungannya yang luar biasa. I Love UMM,” kata Andy. Tema “Yang Muda, Yang Peduli” sengaja diangkat dalam talkshow kali ini karena sesuai dengan karakter UMM sebagai kampus yang melahirkan inspirasi bagi kaum muda. Salah satu yang disebut Andy yaitu keberhasilan kelompok Guys Pro UMM dalam merubah daerah kumuh menjadi kampung warna-warni Jodipan. Di akhir acara, Andy turut mengundang Nabila dkk dari Guys Pro UMM untuk tampil di atas panggung bersama inspirator Malang lainnya. Sebelumnya, pada 18 November 2016, Andy mengundang Nabila dkk untuk berbagi inspirasi di acara Kick Andy. Bintang tamu pertama pada gelaran Kick Andy kali ini, Nadine, pada kesempatan kali ini mengajak lebih dari 5000 penonton yang memadati UMM Dome untuk pada menjaga kesegaran lingkungan. Nadine bercerita tentang perjuangan yang ia lakukan melalui komunitas peduli lingkungan yang ia dirikan, yaitu Sea Soldiers, di mana ia meyakini laut adalah pusaran dari kepedulian manusia pada lingkungannya. Sementara itu pendiri café tunarungu Dissa menceritakan tentang usahanya agar para penyandang tunarungu dapat memperoleh hak dan kesempatan bekerja yang setara dengan orang pada umumnya. Setelah melanglang ke berbagai negara untuk membantu kaum tunarungu, Dissa mengisahkan, ia akhirnya kembali ke Indonesia untuk berkiprah bagi bangsanya. Dissa tak lupa mengisahkan tentang penghargaan yang secara khusus diberikan mantan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama atas kiprahnya tersebut. Suasana talkshow kian seru karena menghadirkan para personil band Cokelat yaitu vokalis Jackline Rossy Natalia, gitaris Edwin Marshal Sjarif dan bassist Ronny Febry Nugroho. Di awal talkshow, Cokelat menyanyikan lagu “Bendera” diiringi lambaian ribuan bendera mini merah putih oleh para penonton. Lagu ini menandai kecintaan dan kepedulian anak Indonesia pada bangsanya. Di sela-sela itu, vokalis band Cokelat Jackline Rossy sempat mengungkapkan kekagumannya pada UMM. Ia menilai UMM sebagai kampus yang sangat indah dan menyenangkan. “Wah sayang sekali dulu saya tidak kuliah di sini. Kalau suatu saat saya ada kesempatan untuk kuliah lagi, pasti saya pilih UMM,” kata Jackline yang disambut applause penonton. Sehari sebelumnya (23/3), UMM Dome juga dimeriahkan oleh Talkshow I’m_Possible yang menjadi rangkaian dari Metro TV on Campus 2017 di UMM. Selain Kick Andy pada 2008 dan 2017, untuk kesekian kalinya Metro TV telah menggandeng UMM menyukseskan event besarnya, beberapa di antaranya yaitu Talkshow Mata Najwa pada 2012, 2013, dan 2015, belum lagi rangkain event yang menyertainya seperti Wide Shot dan StandUp Campus Tour. (can/han)
Komisi X DPR RI Gelar Uji Publik RUU Sistem Perbukuan di UMM

MASIH beredarnya buku-buku yang tidak menjunjung nilai-nilai Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, belum optimalnya kepastian hukum bagi pelaku perbukuan, serta belum adanya kerangka hukum mengenai perbukuan berdampak luas terhadap keterbatasan akses masyarakat akan buku bermutu, murah, dan mencerdaskan. Dengan demikian, tata kelola perbukuan melalui Sistem Perbukuan secara terpadu mutlak diperlukan untuk dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sebagai jembatan menuju tercapainya kecerdasan bangsa. Demikian disampaikan Ketua Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Perbukuan 2017 Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Ir HAR Sutan Adil Hendra MM dalam uji publik RUU Sistem Perbukuan 2017 di Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (22/3). “Saat ini pengaturan perbukuan masih tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan sehingga dibutuhkan pengaturan perbukuan yang sistematis dan komprehensif. Pengaturan dimaksud mencakup seluruh komponen Sistem Perbukuan, yaitu penulis, penerjemah, penyadur, editor, desainer, ilustrator, pencetak, pengembang buku elektronik, penerbit, dan toko buku,” jelas Sutan. Selain komponen perbukuan tersebut, dilanjutkan Sutan, Undang-Undang ini juga mengatur bentuk, jenis, dan isi buku, hak dan kewajiban masyarakat dan pelaku perbukuan, wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, pemerolehan naskah buku, penerbitan, pencetakan, pengembangan buku elektronik, pendistribusian, penggunaan, penyediaan, dan pengawasan. Untuk menjamin pelaksanaan penegakan hukum, diatur pula sanksi administratif bagi setiap orang yang melanggar beberapa ketentuan dalam Undang-Undang ini. Kegiatan uji publik ini menghadirkan Pakar Hukum dari UMM, Dr Sidik Sunaryo MHum dan Akademisi Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Djoko Saryono MPd yang memberikan sejumlah daftar catatan terhadap pengajuan undang undang sistem perbukuan oleh Komisi X DPR RI itu. Adapun pembicara kunci pada acara ini yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudyaan Repubik Indonesia Prof Dr Muhadjir Effendy MAP. Selain itu, Kabalitbang Kemendikbud RI Ir Totok Surayitno PhD serta staf ahli Mendikbud bidang regulasi Chatharina Girsang MH juga hadir memberikan komentar atas masukan pakar hukum dan akademisi terhadap draft undang-undang Sistem Perbukuan ini. Sementara, Rektor UMM Drs Fauzan MPd menyambut baik penyelenggaraan Uji Publik RUU Sistem Perbukuan 2017 di kampus ini. UMM, kata Fauzan, siap sedia dan terbuka untuk senantiasa dilibatkan dalam segala hal yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara. (Humas UMM)
Dialog dengan Mahasiswa UMM, Mendikbud Ungkap Strategi Kembangkan Minat-Bakat Siswa

SELEPAS menjadi pembicara kunci pada kegiatan uji publik RUU Sistem Perbukuan 2017, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menyempatkan diri memberi kuliah umum pada mahasiswa di masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (22/3). Pada kuliah umum ini, Muhadjir memberi kebebasan pada mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan tentang sistem pendidikan Indonesia. Antusiasme tampak jelas pada beragam pertanyaan yang muncul. “Mengapa di Indonesia siswa mesti mempelajari banyak mata pelajaran, Pak? Sementara di negara lain, siswa diarahkan untuk fokus pada bakat dan minatnya sejak di bangku sekolah,” tanya salah satu mahasiswa. Menanggapi hal ini, Muhadjir mengakui bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih perlu dibenahi. Muhadjir menyadari pentingnya untuk memfokuskan bakat dan minat siswa. Tapi, di sisi lain, banyaknya mata pelajaran yang diberikan sejak di bangku sekolah dasar hingga menengah juga bertujuan untuk memberi kesempatan pada siswa memilih dan mengarahkan minat dan bakatnya sendiri. Tetapi, Kemendikbud juga tak begitu saja tinggal diam. Ke depan, Muhadjir akan mengkaji lagi mata pelajaran dan mengurangi mata pelajaran yang dinilai kurang efektif. Selain itu, pendidikan karakter juga akan dikuatkan pada siswa sejak dini. Salah satunya, pembelajaran di luar ruangan (outdoor). Tak hanya soal fokus bakat dan minat, mahasiswa juga mengkritisi maraknya kriminalitas yang pelakunya banyak dari remaja usia sekolah. “Kasus kriminalitas remaja disebabkan salah satunya oleh kesenjangan waktu antara sekolah dengan keluarga. Waktu di antara keduanya inilah yang sering membuat siswa lengah. Oleh karenanya, waktu berkegiatan di sekolah yang diperpanjang ini jadi salah satu strategi agar siswa memanfaatkan waktunya dengan positif,” papar Muhadjir. Selain kuliah umum oleh Mendikbud RI, wakil ketua Komisi X DPR RI Ir HAR Sutan Adil Hendra MM juga memberikan motivasi pada mahasiswa untuk menjadi insan yang cerdas. Menurutnya, masa-masa menjadi mahasiswa adalah kesempatan emas untuk mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan. “Salah satu ciri orang cerdas adalah bisa memanfaatkan momentum. Jadi mahasiswa adalah kesempatan emas, jangan sia-siakan,” pesan Sutan. (ich/han)
Pacu Karya Unggul Dosen, UMM Adakan Seleksi Dosen Berprestasi

KUALITAS dan inovasi akademik dosen sangat diperlukan untuk kemajuan universitas. Bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satu cara memacunya yaitu melalui seleksi dosen berprestasi. Berada di bawah naungan Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA) UMM, diharapkan seleksi dosen berprestasi dapat melengkapi pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi Ketua pelaksana seleksi Dr hari Windu Asrini, M.Si menjelaskan, gelaran seleksi dosen berprestasi ini merupakan salah satu cara UMM untuk memunculkan karya terbaik dosen dalam berbagai bidang. Dari sekian banyak karya unggul yang telah dihasilkan dosen, BKMA kembali menyaring yang paling bagus. “Karya unggul ini dibagi dua, penelitian dosen dan penemuan terbaru dosen,” jelas Rini. Ada beberapa penilaian yang ditentukan untuk mengukur apakah penelitian tersebut bagus atau tidak. Di antaranya adalah, penelitian tersebut diakui oleh pihak luar dan pihak stakeholder. Tidak hanya itu, dari sisi pengabdian masyarakat dan pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi dosen tersebut juga sudah diakui. Rini melanjutkan, pengabdian, penelitian dan pengajaran yang dinilai adalah yang dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. “Jika sampai ke ranah internasional, maka itu merupakan point ples bagi dosen tersebut,” ungkapnya. Sebelumnya, dilakukan penyaringan sebelum ke tahap presentasi. BKMA melihat track record dari dosen di setiap fakultas. “Data awal kami ambil dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) dan dari Kantor Hak Kekayaan Intelektual (HKI),” lanjutnya. Kemudian, yang masuk dalam criteria maka akan diundang untuk mengikuti presentasi karya yang diunggulkan. Tidak hanya menampilkan karya unggul saja, dosen berprestasi juga di tes kepribadian dan tak ketinggalan materi Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) menjadi salah satu materi tes yang diujikan. Sebanyak 20 dosen dari 10 fakultas bertanding untuk mendapatkan predikat dosen terbaik pertama, kedua dan ketiga. Selanjutnya yang terpilih menjadi dosen terbaik pertama, lanjut Rini, akan dikirim untuk bertanding di tingkat provinsi dan selanjutnya di tingkat nasional. (jal/han)
42 Laboratorium di UMM Siap Terakreditasi

KOMITE Akreditasi Nasional (KAN) melakukan assessment untuk Laboratorium Sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 16-17 Maret 2017 lalu. Di antara tim assessment yang hadir yakni asesor kepala Murtiningsih, M. App.Sc. dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KPP) Jakarta, anggota asesor Renata Iskandar, M. Phil dari Purnabakti, Bogor serta tenaga ahli Dr. Wahyu Purbowasito Setyo Waskito dari BSN-KAN. Diterangkan Kepala Laboratorium Sentral UMM, Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., kedatangan tim asesor tersebut sebagai assessment awal untuk mendapatkan pengakuan dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) ISO 17025. Elfi menargetkan, pada 2017 sejumlah laboratorium dari total 42 laboratorium yang terdiri dari 25 laboratorium eksakta dan 17 laboratorium ilmu sosial yang berada di lingkungan UMM dapat terakreditasi. “Ikhtiar ini sudah kita perjuangkan mulai dari 2016 yang diawali dengan permintaan beberapa laboratorium yakni labolatorium nutrisi dan laboratorium bioteknologi,” kata Elfie yang juga merupakan dosen prodi ITP UMM ini. Berdasarkan hasil pengujian asesor, dilanjutkan Elfi, UMM dikelompokan dalam 6 lingkup pengujian dari 4 laboratorium yang ada di UMM. Di antara laboratorium yang diuji yakni laboratorium nutrisi melalui pengujian analisas proksimat atau metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Laboratorium kedua yang diuji yakni laboratorium bioteknologi yang mengusulkan dua pengujian , pengujian gula total dan protein. Ketiga, laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) yang mengusulkan pengujian total antosianin. Terakhir, laboratorium biologi mengusulkan ruang lingkup pengujian Total Plate Count (TPC) dari mikroba tertentu serta uji daya hambat antimikrobian yang diduga terdapat pada senyawa bioaktif. “Kita berharap dari 4 laboratorium ini ada yang berhasil mengibarkan bendera akreditasi KAN. Bahkan kami harap semuanya dapat lolos asesmen, sehingga pengujian kepada laboratorium yang lainnya juga bisa dilakukan,” ujar Elfi. Ke depan, jika laboratorium yang telah terekognisi KAN, laboratorium-laboratorium tersebut tidak lagi sekedar digunakan bagi kepentingan akademik seperti praktikum mahasiswa atau penelitan dosen saja. “Nantinya laboratorium-laboratorium yang telah terkognisi KAN ini akan dapat dipergunakan bagi kepentingan industri, pemerintah, masyarakat maupun UMKM,” terang Elfi. Selain melakukan asesmen terhadap sejumlah laboratorium, kedatangan asesor ke UMM juga sekaligus memberikan pengetahuan seputar standar ISO 9001 kepada seluruh kepala laboratorium di lingkungan UMM. Standar Internasional ini menetapkan beberapa persyaratan untuk Sistem Manajemen Mutu, untuk menunjukkan guna memenuhi persyaratan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. (can/han)
Dosen UMM Jadi Pengajar Bahasa dan Budaya Indonesia di Bulgaria

MENJADI pengajar bagi warga asing di Indonesia merupakan hal biasa. Tapi, apa jadinya kalau pengalaman mengajar bahasa Indonesia itu dilakukan untuk mahasiswa asing di luar negeri? Pengalaman tak biasa ini yang dirasakan Faizin, M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diundang secara khusus Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sofia, Bulgaria. Faizin diminta untuk mengajar di kelas bahasa dan budaya Indonesia di Sofia University dan KBRI Sofia untuk periode semester genap tahun ajaran 2016/2017. “Di Sofia University Bulgaria, selain mengajar bahasa saya juga mengajarkan pencak silat untuk mereka sebagai pengetahuan dan wawasan budaya Indonesia. Selain itu, di KBRI saya juga mengajar kelas Bahasa Indonesia,” kata Faizin saat dihubungi lewat lini massa WhatsApp, Senin (20/3). Menariknya, minat pelajar Bulgaria khususnya mahasiswa Sofia University “St. Kliment Ohridski” untuk mempelajari Bahasa dan Budaya Indonesia kini makin meningkat. Salah satu buktinya, kelas bahasa dan budaya Indonesia di Sofia University berstatus “elective study”. Kelas tersebut berbobot 4 SKS atau 60 jam pelajaran dan berada di bawah Fakultas Classical and Modern Philology jurusan South, East and Shouthest Asian Studies. Hingga saat ini, tercatat kelas pemula berjumlah 30 mahasiswa dan kelas menengah berjumlah 16 siswa. Lawatan Faizin ke Bulgaria merupakan program Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) lewat program Scheme for Academic Mobility and Exchange Bahasa Indonesia dan Penutur Asing (BIPA). Selama satu semester, terhitung sejak 15 Februari hingga 9 Juni 2017. “Sebenarnya saya harus sudah sampai di Bulgaria sebelum 15 Februari. Tapi karena masih banyak pekerjaan di kampus, akhirnya baru bisa berangkat 11 Maret,” tutur Faizin yang juga merupakan alumni program studi Bahasa dan Sastra Indonesia UMM ini. Kesempatan langka itu tidak diraih sembarang orang. Hanya mereka pengajar BIPA dari delapan universitas di Indonesia yang dapat memperoleh kesempatan berharga itu. “Selama proses mengajar orang Bulgaria, kita harus sering praktik bersama mereka di luar kelas. Soalnya jika hanya mengandalkan jam mengajar di dalam kelas, mereka akan lambat mengembangkan keterampilan bahasa Indonesianya. Karena di luar jam bahasa Indonesia mereka banyak menggunakan bahasa Bulgaria dan Inggris, sehingga kita sebagai pengajar harus kreatif memanfaatkan keadaan untuk mengajak mereka mengobrol dengan bahasa Indonesia agar mereka cepat terampil berbahasa Indonesia,” ungkapnya. (can/han)
UMM Dukung Pengembangan Cabang dan Ranting Muhammadiyah

DUKUNGAN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terhadap persyarikatan Muhammadiyah ditunjukkan melalui berbagai bentuk. Salah satunya, UMM mewadahi digelarnya Workshop Pembentukan Korps Muballigh Muhammadiyah dan Pelaksanaan Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) Tingkat Cabang, Sabtu hingga Senin (18-20/3) di Hotel UMM Inn. Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Drs. Jamaluddin Ahmad, Psi mengungkapkan, kegiatan ini adalah tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang digelar beberapa waktu lalu. Ada empat keputusan yang diambil saat rakornas, salah satunya yakni kesepakatan untuk menghidupkan GJDJ. “Pembentukan cabang dan ranting Muhammadiyah di berbagai kota tak lepas dari kehadiran muballigh. Oleh karenanya, pembentukan Korps Muballigh ini akan memperkuat semangat untuk membentuk, menghidupkan, dan menggerakkan ranting dan cabang di berbagai daerah di Indonesia,” terangnya. Dukungan UMM tak sebatas menyediakan wadah kegiatan Muhammadiyah. Disampaikan Jamaluddin, UMM juga berkontribusi pada agenda LPCR yang akan meluncurkan program beasiswa pelatihan berbagai keterampilan untuk pemuda pada Mei mendatang. Rektor UMM yang juga sekaligus wakil ketua LPCR menyatakan, gerakan ideologi jadi magnet tersendiri bagi masyarakat untuk melibatkan diri menjadi bagian dari Muhammadiyah. Terlebih, di era 2000-an, tanpa ideologi, Muhammadiyah tak cukup kuat untuk jadi senjata untuk pengembangan organisasi. Kegiatan ini diikuti oleh 92 peserta yang terdiri dari perwakilan 26 wilayah LPCR dan PP Aisyiyah. Selain pembentukan Korps Muballigh, LPCR juga akan melatih pembentukan model pengelolaan Korps Muballigh, GDGJ, dan program pemetaan. (ich/han)
UMM Gembleng Pustakawan Melek Literasi Informasi
MENYIKAPI perubahan fungsi perpustakaan di era digital native serta mempersiapkan diri memberi pelayanan terbaik pada pemustaka, perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Training of Trainer (ToT) bertema “Membangun Budaya Akademik Literasi Informasi dan Literasi Digital”, Kamis-Sabtu (16-18/3) di Hotel UMM Inn. Dunia yang kini berada pada era digital native menjadikan informasi begitu mudah diakses. Namun, sebaliknya survei membuktikan bahwa tingkat literasi informasi mahasiswa di Indonesia tergolong rendah. Demikian disampaikan Kepala Bagian Kerjasama Perpustakaan Universitas Pelita Harapan Dhama Gustiar, salah satu pemateri. Pada bahasan literasi informasi, perpustakaan menempati posisi strategis, baik dari sisi fisik sebagai fasilitas maupun pustakawan sebagai sumber penting pemustaka. Namun, dikatakan Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M. Si., memasuki tahun 80-an, masyarakat dunia berada pada fase ketiga, yakni fase informasi setelah melalui fase agrikultur dan industri. Ini adalah era di mana arus informasi beredar sangat cepat. Permasalahannya, perkembangan teknologi dan cepatnya arus informasi mengakibatkan masyarakat, utamanya kaum muda ingin segalanya serba cepat. “Dalam dunia akademik, hal ini bisa berimbas pada hilangnya semangat mahasiswa untuk membuat karya tulis yang orisinil. Bukan rahasia kalau mahasiswa membuat karya tulis dengan copy-paste. Padahal praktik seperti ini adalah praktik ‘terkutuk’ di bidang akademik,” urai Syamsul. Dhama menambahkan, di Indonesia, pustakawan umumnya mengantongi ijazah S1 Perpustakaan. Hal ini terbilang aneh menurutnya. Pasalnya, di berbagai negara, ilmu kepustakaan malah diraih pada program magister. Sementara, ijazah sarjana adalah ilmu tertentu selain kepustakaan. “Kalau S1 ilmu yang lain, S2 baru ilmu perpustakaan, maka pustakawan akan menjadi subject specialist, karena tak hanya ahli dalam pengelolaan perpustakaan, melainkan juga memiliki keahlian bidang ilmu tertentu. Sehingga, misalnya ada orang yang menanyakan tentang referensi biologi, pustakawan akan memiliki keahlian di bidang tersebut,” bebernya. Kegiatan ini diikuti oleh 40 pustakawan dari Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur, Muhammadiyah dan Aisyiyah. Tak hanya mempelajari masalah literasi informasi di antara berbagai jenis literasi lainnya, mereka juga digembleng mengenai analisa kebutuhan informasi, penelusuran sumber informasi, hingga penanggulangan plagiarisme. (ich/han)
Mahasiswa Akuntansi UMM Dilatih Kecakapan Ekspor Impor
BESARNYA peran ekspor impor bagi ekonomi Indonesia menginspirasi program studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan short course tentang ekspor impor bagi mahasiswa, Kamis (16/3) di Auditorium UMM. Kegiatan ini akan ditindaklanjuti dengan studi lapang pada Senin (20/3) mendatang. Dekan FEB UMM, Dr Idah Zuhroh MM menyatakan, besarnya pengaruh ekspor impor dalam perekonomian harus lebih disadari mahasiswa. Pada 2016 lalu, sebuah majalah bisnis dan finansial asal Amerika Serikat, Forbes Magazine merilis data, pengusaha Indonesia mampu menguasai aset perekonomian internasional hingga mencapai 10 Triliun Rupiah. Menurut Idah, besarnya nominal tersebut menjadikan perekonomian Indonesia meningkat tajam. “Sejatinya sejak dini perlu dipupuk menjadi wirausahawan, jadi mindset-nya sudah dibenahi dari kecil,” jelas Idah dalam sambutannya pada acara yang diselenggarakan oleh Laboratorium Akuntasi tersebut. Semakin banyak wirausahawan maka akselerasi ekonomi Indonesia juga akan semakin tinggi. Saat ini, lanjut Idah, memang sudah banyak wirausahawan muda yang berasal dari mahasiswa. Namun, belum banyak yang dapat menembus pasar internasional. Jika wirausahwan internasional sudah cukup banyak dimiliki maka perekonomian Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara maju. “Kondisi perekonomian yang stabil bukan lagi menjadi mimpi saja nantinya,” imbuh Idah. Saat ini, Jawa Timur (Jatim) sedang mengalami surplus perekonomian. Jika dilihat dalam neraca perdagangan, maka Jatim lebih unggul dari provinsi lainnya dalam perdangangan antar pulau. Namun, hal tersebut masih bekum seimbang dengan kondisi Indonesia. Idah menyebutkan, hingga saat ini jumlah pelaku eksportir di Indonesia hanya 1000 orang. “Masih membutuhkan banyak orang yang berbisnis dalam skala internasional,” ungkapnya. Di kesempatan yang sama, hadir juga Kepala Departement Pemasaran dan Pelayanan PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo), Wara Dijatmika menyatakan, pelabuhan menjadi salah satu tempat untuk masuk dan keluarnya barang dari dan ke Indonesia. Pelabuhan itu sendiri memiliki beberapa pelayanan jasa seperti jasa pandu, jasa tunda kapal, jasa tambat, jasa pelayanan air dan jasa bongkar-muat. “Kesemuanya saling berkaitan antara satu dengan yang lain karena akan membantu kapal dalam memasukkan dan mengeluarkan barang ke Indonesia,” jelasnya. (jal/han)
Peringati Hari Pekerjaan Sosial Dunia, Prodi Kesos UMM Gelar Aksi

INDONESIA merupakan salah satu negara yang masih belum familiar dengan istilah pekerja sosial. Hal tersebut berimbas pada praktek pekerjaan sosial yang tidak profesional di Indonesia. Merespon hal tersebut, program studi Kesejahteraan Sosial (Kesos), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan aksi dalam rangka peringatan Hari Pekerjaan Sosial Dunia yang jatuh pada 15 Maret. Ketua prodi Kesos UMM, Dr. Oman Sukmana M. Si menjelaskan, pekerja sosial di Indonesia masih sering disamakan dengan relawan sosial atau Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) yang belum mendapatkan pendidikan formal perihal kesejahteraan sosial. Hal tersebut menyebabkan banyak permasalahan sosial yang seharusnya ditangani oleh professional malah ditangani relawan. “Jika terus seperti itu, maka yang terjadi adalah lambatnya penanganan dalam permasalahan-permasalahan sosial di masyarakat,” jelas Oman di sela-sela kegiatan aksi di UMM (15/3). Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu dilewati untuk menjadi pekerja sosial, lanjut Oman. Di antaranya adalah pekerja sosial harus mendapatkan pendidikan formal, mengikuti organisasi keprofesian, mempelajari kode etik serta memiliki ijin dan praktek. “Semua hal itu saat ini sedang dirumuskan oleh komisi VIII DPR RI tentang praktek pekerja sosial,” jelasnya. Dengan mendukungnya pemerintah terhadap UU pekerja sosial di Indonesia, maka tanggungjawab negara dalam menjamin ketersediaan pelayanan kesejahteraan sosial bagi warga negaranya akan terjalankan dengan baik. Menurut Oman, komitmen negara dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dimulai dengan melibatkan tenaga kerja yang professional. Pekerja sosial yang professional ini merupakan pilar terdepan dalam mengimplementasikan kesejahteraan di Indonesia. Hingga saat ini, di Indonesia pendidikan formal tentang kesejahteraan sosial sudah mulai menggeliat. Setidaknya ada 33 Perguruan Tinggi (PT), 4 PT untuk program magister dan ada 3 PT yang menyelenggarakan program doktoral yang menyelenggarakan pendidikan formal untuk jenjang Strata 1 (S1), imbuh Oman. Dalam aksi tersebut juga diadakan penandatanganan spanduk oleh seluruh mahasiswa prodi Kesos. Tujuannya sebagai salah satu bentuk dukungan kepada Komisi VIII DPR RI dalam menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang praktek pekerjaan sosial di masyarakat. “Jika RUU itu sudah disahkan, maka pekerja sosial akan mendapatkan haknya sesuai dengan aturan UU,” ungkap Oman. (jal/han)