Prof. Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si.: Perlu Rekayasa Sosial Tingkatkan Komoditas Tani Indonesia

SEBAGAI negara agraris, pertanian merupakan komoditas utama Indonesia. Pembangunan di sektor pertanian memberikan kontribusi besar bagi perkembangan perekonomian nasional. Hal itu menjadi motivasi Guru Besar Fakultas Pertanian-Peternakan UMM Prof Dr Ir Jabal Tarik Ibrahim MSi menekuni bidang ini. Lahir dari keluarga petani di daerah Probolinggo, Jabal muda sudah sangat tertarik untuk mengembangkan pertanian di Indonesia. Kondisi petani dan kurangnya pengetahuan petani tentang bagaimana mengatur pertanian mereka menjadi titik fokus Jabal saat itu. Karena itulah, harapan yang telah dipupuknya sejak kecil kini diwujudkannya. Kondisi pembangunan pertanian saat ini dirasakannya masih begitu-begitu saja. Walaupun sudah ada peningkatan dalam hal pengelolaan produk pertanian, namun peningkatan pembangunan masih perlu dilakukan. “Keinginan untuk lebih meningkatkan pembangunan pertanian dan kesejahteraan petani itu selalu ada, agar berkembang lebih baik lagi dan lagi,” ujarnya. Keinginan Jabal ini mendapat sambutan dari banyak pihak, termasuk dukungan pendanaan dari Food Agriculture Organisation (FAO) di bawah koordinasi PBB. Risetnya pada 2012 ini bermula dari mandat yang diberikan Bank Indonesia Kediri untuk mengembangkan wilayah dengan komoditas unggulan cabai. Laporannya lantas dipercaya pemerintah daerah dan pihak Bank Indonesia Kediri untuk ditunjukkan pada perwakilan FAO di Indonesia. Hingga akhirnya, dia dipercaya untuk melanjutkan penelitiannya pada komoditas lain dengan bantuan dana dari FAO. Riset lanjutan yang dilakukannya tidak terbatas pada daerah Kabupaten Kediri saja, tetapi daerah lain seperti Blitar dan Tulungagung. Kajiannya pun lebih luas, yakni berkaitan dengan rantai nilai komoditas cabai. Mulai dari tahap pembibitan, budidaya, hingga panen dan pengelolaan yang baik. Tak hanya itu, manajemen rantai nilai komoditas ini juga diteliti oleh Jabal. Penelitian Jabal ini memiliki dampak luar biasa bagi petani. Pasalnya, melalui desain pertanian ini, petani mampu memperkirakan harga produknya di pasaran. Sehingga, mereka juga bisa memperkirakan waktu tanam yang lebih efektif, yaitu saat kondisi alam mendukung dan harga produknya sedang tinggi di pasaran. Secara tidak langsung, petani lebih mudah ‘balik modal’ dan kesejahteraannya ikut meningkat. Hasil riset ini kemudian juga diterapkan pemerintah daerah Kabupaten Kediri dan Blitar, bahkan FAO juga menerapkannya untuk pertanian Indonesia di sektor Jawa Barat dan Sumatra. Lantaran riset ini, perkembangan petani tidak lagi hanya mengikuti arus, namun bisa lebih berkembang. Sebab, ada rekayasa sosial yang membuat mereka lebih berkembang. Alumnus program doktoral Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Penyuluhan Pembangunan ini juga pernah melakukan riset terkait Irigasi di Sulawesi Tengah. Risetnya itu lebih mengarah pada proses pengembangan perairan, memilah daerah-daerah yang belum dan yang sudah terairi dengan baik. Untuk melakukan riset ini, dia tidak sendiri. Bekerjasama duarekannya dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM dia menerapkan teknologi pengindraan jarak jauh. Dengan drone, ia memetakan sistem perairanwilayah Sulawesi Tengah. Melakukan riset dengan terjun langsung ke lahan pertanian bukanlah perkara mudah. Minimnya akomodasi serta kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi pria kelahiran 16 Juli 1966 ini. Terlebih, ditambah ketidaksabaran petani yang ingin mengetahui hasil riset dalam waktu singkat. “Disangka sebagai perwakilan perusahaan yang akan mengganggu mereka juga pernah, tapi ya dijalani saja,” imbuhnya. Tidak hanya melalui riset dan pengabdian masyarakat, peraih dosen berprestasi FPP UMM tahun 2015 ini juga membuktikan keahliannya dengan meraih Penulisan Abstrak Seminar Terbaik dalam forum International Conference on Green Development in Tropical Regions (Andalas University dan USAID, 2015). Selain itu, Jabal juga pernah terlibat dalam Irrigation Area Survey Using Micro Unmanned Aerial Vehicle (Gumbasa Irrigation Area Case Study), USAID, 2015. (nai/han)

Gus Solah Ajak Mahasiswa UMM Miliki Jiwa Humanis

PIMPINAN dan pengasuh pondok pesantren Tebuireng Jombang, KH. Salahudin Wahid hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (1/4). Ulama yang akrab disapa Gus Solah menyambangi kampus putih untuk memberi kuliah umum bertema “Humanisme Islam dalam Kehidupan Materialistik-Hedonistik” di Masjid A.R. Fachruddin UMM. Saat ini, kata Gus Solah, humanisme sering dimaknai sebagai bagian yang terpisah dari nilai-nilai spiritual transenden. Masyarakat seharusnya mempunyai harkat, martabat, dan kemampuan untuk memutuskan masa depannya. Namun, memasuki era posmodernisme, manusia malah menjadi kelompok mu’tazilah, memisahkan diri dari agama dan menentukan hidup dengan caranya sendiri. Humanisme dikenal sejak awal kehidupan Islam. Banyak ayat dalamAl-Quran yang juga menerangkan hal ini. Salah satunya yang sering diungkapkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yakni surat Al-Maun. Surat ini menyinggung bahwa manusia yang mendustakan agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Inilah bukti bahwa Islam menjunjung tinggi humanisme. “Manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Dikirimkan ke bumi untuk menjadi khalifah, menjadi wakil Tuhan Tuhan, jadi lengkapilah dengan kemampuan untuk mempergunakan akal. Inilah humanisme Islam,” ujar Gus Solah. Sementara itu, lanjut Gus Solah, masyarakat Indonesia tak pantas menganut prinsip hedonisme dan matrealisme. Hedonisme adalah paham yang menganut bahwa hidup mesti digunakan untuk kepuasan diri. Sedangkan matreliasme beranggapan bahwa hidup adalah materi, tak ada yang selain itu. Selain bertentangan dengan falsafah hidup bangsa Indonesia, hal ini tentunya bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Gus Solah juga mengungkapkan ketidaksetujuannya akan slogan yang sering terdengar “muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga. “Indonesia akan mendapat bonus demografi pada 2020 sampai 2030 nanti. Ini adalah potensi yang luar biasa, jadi harus digunakan untuk berkarya lebih. Tidak mungkin lah, mudanya foya-foya tuanya kaya raya, matinya masuk surga,” tuturnya. Namun, ada hal-hal yang mengancam bonus demografi yang makin marak di Indonesia. Oleh karenanya, Gus Solah berpesan pada para pemuda untuk menjauhi ancaman itu. “Rokok, narkoba, gizi buruk, dan hedonisme ini,” pungkasnya. Sementara itu, dalam sambutannya Rektor UMM Fauzan menegaskan kuliah umum oleh tokoh agama ini adalah sebagian dari upaya UMM untuk berkontribusi dalam memperbaiki karakter mahasiswa. (ich/han)

Eskalator UMM Juarai Kompetisi PR Tingkat Nasional

TIGA mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini kembali meraih torehan membanggakan dengan menjuarai ajang kompetisi Public Relations (PR) bergengsi tingkat nasional. Mereka menjadi juara pertama pada event Jogja Public Relations Days (JPRD) yang diselenggarakan organisasi profesi Perhumas Muda Yogyakarta pada 25 Maret lalu. Tiga mahasiswa yang tergabung dalam klub PR Eskalator UMM tersebut yaitu Hanny Dwi Rahmawati, Bertya Salama Mentari, dan Syahidah Nabilah Muslim. Ketiganya merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2015 yang mengambil konsentrasi PR. “Semula, kami sempat pesimis karena berhadapan dengan peserta lain yang notabene berasal dari perguruan tinggi ternama,” kata koordinator kelompok Hanny Dwi Rahmawati saat ditemui Sabtu (1/4). Bagaimana tidak, tim ini berhasil mengalahkan sembilan finalis lainnya yang di antaranya berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, London School of Public Relations, Universitas Islam Indonesia, Universitas Atmajaya Yogyakarta, Universitas Islam Sultan Agung, serta Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta. Selain berasal dari kampus ternama, para peserta JPRD sebagian besar memiliki pengalaman yang mumpuni dalam berbagai kompetisi PR tingkat nasional. “Mereka rata-rata berpengalaman, sedangkan bagi kami, ini merupakan debut perdana, makanya kami sempat pesimis. Namun, alhamdulillah semua pertanyaan juri bisa kami jawab dengan baik,” ujar mahasiswi asal Palu, Sulawesi Tengah ini. Adapun juri yang menilai yakni dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Client Service Director di Ogilvy Public Relations Jakarta, Rizanto Binol, serta Head of Corporate Reputation Department STIKOM The London School of Public Relations Jakarta Olivia Deliani Hutagaol. Hanny beserta kedua kawannya itu dituntut membuat strategi Public Relations sesuai tawaran tema panitia, yakni terkait Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Dari 25 kawasan yang masuk dalam daftar KSPN, Pantai Morotai, Sulawesi Tenggara dipilih sebagai objek strategi komunikasi kelompok ini. “Kemarin kita buat proposal 15 halaman dengan tempo pengerjaan selama satu bulan. Sampai sana, katanya di sana ada brief 2-nya. Ternyata brief 2 itu cuma jebakan batman, kita cuma diminta presentasi brief 1 aja,” kata Hanny saat menceritakan pengalaman lombanya. Diakui Hanny, kerjasama antar anggota dan ide berbeda jadi kunci keberhasilan mereka. “Selain berkat bimbingan kakak-kakak tingkat kami, teamwork jadi hal yang penting dilakukan. Selain itu, bagi kami, ide sederhana itu justru bagus kalau realistis,” imbuh Hanny. “Pas awarding itu kami udah nggak mau datang karena pesimis bakal bisa menang, karena mau hujan juga. Tapi sampai akhirnya dinyatakan jadi juara itu bikin speechless banget,” tambah Syahidah yang turut diwawancarai. (can/han)

Muhammad Syukron Eko, Alumni UMM yang Terpilih Jadi Ketua PPI Polandia

MUHAMMAD Syukron Eko begitu lekat dengan Polandia. Sewaktu menjadi mahasiswa strata satu di Jurusan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Syukron berkesempatan studi selama dua semester di Politechnika Lubelska Polandia pada 2013-2014 melalui beasiswa pertukaran Erasmus Mundus. Dua tahun setelahnya, yaitu pada 2016 lalu, tak lama selepas meraih gelar Sarjana Komputer (S.Kom) di UMM, Syukron kembali berangkat ke Polandia untuk menempuh studi master di University of Warsaw dengan beasiswa dari pemerintah Polandia, yaitu Ignacy Łukasiewicz Scholarship. Tak heran jika pada akhirnya Syukron dipercaya oleh para mahasiswa Indonesia yang saat ini tengah kuliah di Polandia untuk menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Polandia. “Ini amanah yang tidak ringan bagi saya, namun berbekal pengalaman organisasi selama di UMM, serta dukungan teman-teman di sini, saya yakin PPI Polandia akan lebih maju,” tuturnya. Selama kuliah di UMM, Syukron memang sangat proaktif terlibat dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan maupun komunitas sosial dan internasional. Beberapa di antaranya yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), International Language Forum (ILF) UMM, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Informatika UMM. Ia juga aktif di organisasi internasional ASEAN Youth Leader Association (AYLA) serta komunitas belajar Akademos dan Rumah Inspirasi Malang. Syukron berharap, dengan terpilih sebagai ketua PPI Polandia, ia dapat lebih mengenalkan kesenian dan kebudayaan Indonesia pada masyarakat Eropa umumnya, dan warga Polandia khususnya. Setelah resmi dilantik pada 1 April 2017 ini, Syukron berencana merumuskan sejumlah gelaran budaya, bekerjasama dengan kedutaan besar Polandia, Warung Indonesia Polandia, lembaga kesenian gamelan serta berbagai instansi dan lembaga terkait. Dengan berbagai gelaran budaya, Syukron ingin berkontribusi langsung bagi kemajuan dan perkembangan PPI Polandia. Salah satu strateginya, lanjut Syukron, ialah memperkenalkan eksistensi PPI Polandia ke masyarakat luas melalui media massa. “Kami juga akan melakukan siaran pendidikan, termasuk mengadakan event sosial dan keagamaan melalui siaran langsung PPI TV Polandia,” jelas Syukron. (jal/han)

Puska-PB UMM Latih Masyarakat Terdampak Banjir Jadi Wirausaha

PRIHATIN akan kondisi kelurahan Bareng, Malang, Jawa Timur, yang kerap menjadi lokasi langganan banjir, Pusat Studi Kewilayahan, Kependudukan, dan Penanggulangan Bencana (Puska-PB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pelatihan peningkatan ekonomi masyarakat terdampak bencana, tepatnya di RW VII dan VIII. Pelatihan ini, menurut  tenaga ahli bidang ekonomi Puska-PB UMM Eka Kadharpa Utama Dewayani, dimaksudkan untuk memberikan pengarahan, bekal, maupun ilmu untuk berwirausaha agar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Lokasi yang dipilih disebutnya memang merupakan langganan banjir, dan sering sekali mereka harus menganggur ketika banjir tersebut datang. “Kebanyakan dari mereka bukan pengangguran tetapi pekerja musiman dan bahkan serabutan. Jadi kami ingin memberikan bekal wirausaha untuk mereka,” ujar tenaga ahli bidang ekonomi Puska-PB UMM Eka Kadharpa Utama Dewayani. Pelatihan yang diberikan berupa wirausaha di bidang konveksi, makanan-minuman, dan budidaya jamur. “Ketiga bidang wirausaha tersebut dipilih setelah mendapat persetujuan warga sebelumnya. Dalam pelatihan dihadirkan para pelaku bisnis tiga bidang tersebut, yang nantinya bersama dengan UMM akan membimbing masyarakat,” tambahnya. Tak hanya itu, konsep pelatihannya juga dilakukan lebih mendalam. Diawali dengan mendalami materi oleh akademisi yakni dalam hal manajemen pemasaran, operasional, akutansi pembukuan, pemasaran online, dan juga studi kelayakan bisnis. “Kami tak ingin hanya sekadar memberikan pelatihan produksi saja. Kami sepakat untuk mendampingi mulai dari produksi sampai dengan pemasaran, agar nantinya kegiatan ekonomi ini dapat benar-benar meningkatkan pendapatan masyarakat,” lanjutnya. Tak hanya itu, UMM juga akan mengadakan business visit atau berkunjung ke beberapa tempat produksi bidang-bidang tersebut. Hal tersebut demi meningkatkan produksi dan kualitas barang binaannya. “Kami nanti akan berkunjung ke Blitar dan Tulungagung, untuk belajar terkait ketiga bisnis ini,” lanjutnya. Program pelatihan wirausaha ini akan dilakukan selama lima bulan masa pendampingan, dengan 40 peserta dari warga sekitar. (yun/oci/han)

Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., Guru Besar Kaya Penelitian dan Pengabdian

DALAM berkarya, Guru Besar Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM Prof Dr Ir Indah Prihartini MPselalu berpikir tentang apa manfaatnya bagi masyarakat. Tak mengherankan jika riset yang dilakukan Indah selalu diawali keprihatinannya pada kondisi masyarakat. Salah satunya ketika ia menemukan bahwa air susu segar sapi perah mengandung 12 residu organoklorin paling berbahaya. “Ternyata, sumber residu susu berasal dari pakan hijau, konsentrat, dan air minum yang dikonsumsi sapi,” jelas peraih juara satudosen berprestrasi 2011 Kopertis Wilayah VII ini. Indah melanjutkan, pakan itu berasal dari tanaman, sementara tanaman dibudidaya dengan bahan kimia dan intensif pestisida-insektisida. Residu itu lalu tertinggal di buah, biji, dan daun, termasuk dichloro-diphenyl-trichloroethane (DDT), salah satu pestisida sintetis berbahaya yang baru bisa didegradasi 30 tahun di tanah. Melalui penelitian mendalam, Indah akhirnya menghasilkan temuan tentang mikroba atau bakteri yang bisa mendegradasi senyawa komplek organik dan anorganik, termasuk senyawa berbahaya DDT. “Tiap mikroba punya siklus hidup. Siklus inilah yang dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian, peternakan, dan perikanan, yang berkualitas dan aman dikonsumsi,” katanya. Di samping penelitian tersebut, beberapa proyek riset yang tengah dilakukan Indah di antaranya identifikasi antibakteri berbasis herbal dan implementasinya pada budidaya ikan nila dan mas, juga tentang senyawa aktif fungi sebagai biofungisida bagi proteksi tanaman. Ia pun tengah meriset pengembangan dan produksi starter untuk biogas berbasis rumput serta melakukan perakitan feed–food aditif alami berbasis potensi lokal. Selain itu, Indah aktif mengawal program pengembangan pembibitan sapi potong lokal berbasis kawasan di Brang Rea, Nusa Tenggara Barat, dan mendampingi pengembangan klaster sapi perah di Kabupaten Jember. Sebelumnya pada 2015 ia juga mengawal pengembangan teknologi pengawetan dan peningkatan kualitas pakan ruminansia di Bangkalan, Madura. Di tahun yang sama, Indah berperan aktif dalam pengembangan klaster sapi potong terpadu berbasis padi di Matang Segantar, Kalimantan Barat. (ich/can/han)

Kemenristek Dikti Sediakan 1000 Beasiswa ke Timur Tengah

BEKERJASAMA dengan Kementrian Pendidikan Saudi Arabia, Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) RI menyediakan 1000 beasiswa bagi program magister dan doktoral. Kerjasama tersebut dilakukan dalam rangka merespon perkembangan pendidikan yang semakin pesat. Staf khusus Kemenristek Dikti KH. Dr. Abdul Wahid Maktub menyatakan solusi yang inovatif dapat muncul ketika lingkungan sudah bagus dan sangat mendukung. Lingkungan yang dibentuk seharusnya bukan hanya lingkungan formal, namun dibutuhkan juga lingkungan informal. “Semua beasiswa yang disediakan bertujuan agar bisa menghadirkan inovasi-inovasi yang cepat untuk permasalahan Indonesia,” jelasAbdul Wahidsaat presentasi beasiswa Timur Tengah akhir pekan lalu (25/3) di Ruang Sidang Senat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam rancangan Kemenristek Dikti, pada 2015-2019 yang menjadi prioritas utama adalah peningkatan mutu pendidikan tinggi di setiap Perguruan Tinggi (PT). selain mutu pendidikan tinggi, relevansi, akses, daya saing dan juga tata kelola PT menjadi sasaran selanjutnya yang ingin diperbaiki Kemenristek Dikti hingga 2019 nanti. “Yang ingin meneruskan program magister dan doktoral harus rajinmengecek lamankita dan kalau bisa juga memiliki jaringan,” terangWahid. Untuk mencapai mutu pendidikan yang ditargetkan, Kemenristek Dikti membuat grand design pendidikan tinggi 2015-2025. Konsep tersebut diantaranya memuat pemberian afirmasi pada PT yang masih lemah, pembedaan orientasi kampus menjadi konsep yang juga sedang digarap Kemenristek Dikti. “Perlu ada kampus yang diarahkan ke penelitian, kampus yang diarahkan ke pengajaran dan semacamnya,” imbuhnya. Selain itu, target Kemenristek Dikti untuk peningkatan mutu adalah masuknya PT di Indonesia dalam world class university. Paling tidak, lanjut Wahid, minimal ada limaPT di Indonesia yang bisa masuk 500 PT terbaik versi QS Ranking. Inovasi dan komersialisasi di segala bidang yang dilakukan PT juga semakin lama perlu ditingkatkan. “Penelitian yang dilakukan sebagian bisa diproduksi secara komersial. Jika berkaitan dengan regulasi, maka peraturan yang menghambat pengembangan PT harus diperbaiki dan dimaksimalkan,” paparnya. Menurut Wahid, selain gerakan strukturasi, gerakan kulturasi juga dibutuhkan di lingkungan PT. Gerakan kulturasi sendiri akan terbangun jika PT selalu memperbaharui caranya dengan metode yang lebih modern. Wahid berharap, penerapan gerakan kulturasi dapat menjadikan UMM sebagai father university atau universitas pelopor yang hidupnya diabdikan untuk orang lain atau life for other. (jal/han)

Zulfikar Bagas Anoraga, dari Papua hingga Eropa

BELUM genap tiga tahun Zulfikar Bagas Anoraga kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berbagai pengalaman internasional sudah direngkuhnya. Mulai dari proyek sosial di India selama dua bulan, program kredit transfer di Tongren University Cina selama satu semester, dan terakhir beasiswa Erasmus+ di Universidad de Murcia Spanyol selama enam bulan. Saat ini, Bagas tengah berada di Spanyol, karena sejak Januari hingga Juli mendatang ia mengikuti program Erasmus+ tersebut. Perjuangannya meraih beasiswa yang disebut terakhir ini tak mudah, karena saat pendaftaran program dibuka, ia sedang menjalani program kredit transfer di Cina. “Saya dapat kabar ada pendaftaran Erasmus+. Untuk mendaftar, saya agak kesulitan karena semua berkas saya di Indonesia, tidak dibawa ke Cina. Akhirnya, saya meminta bantuan teman kontrakan untuk mengurusi persyaratan, mulai dari transkrip hingga surat aktif kuliah,” kisah Bagas. Bahkan, saat pengumuman lolos beberapa bulan setelahnya, ia juga tidak sedang berada di Malang, karena sedang berlibur di kampung halamannya, Papua. “Kelolosannya saya tahu dari teman. Maklum saja, di sana (Papua) susah sekali sinyal internet. Sempat tidak percaya saya berhasil lolos, rasanya seperti mimpi. Bahkan, orang tua saya sampai menitikkan air mata,” cerita Bagas haru. Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM ini berujar, motivasi utamanya meraih beasiswa luar negeri ialah orang tuanya. “Saya termotivasi belajar menjadi lebih baik demi orang tua saya,” ujarnya. Siapa sangka, awalnya Bagas ternyata bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Namun, keputusannya melanjutkan pendidikan selepas SMA membulatkan tekadnya untuk belajar sungguh-sungguh. Kini, Bagas bermimpi menjadi dosen. Di mata Bagas, meraih beasiswa luar negeri bukan hal sukar bila dibarengi niat yang kuat. “Asalkan kita ulet dan mau bersusah-payah berjuang. Yang paling penting ialah mencari informasi selengkap-lengkapnya, sehingga lebih mudah mempersiapkan persyaratan yang dibutuhkan,” pungkasnya. (ich/han)

UMM Pecahkan Rekor Penonton Terbanyak Talkshow I’m_Possible

TAK heran jika host Talkshow I’m_Possible garapan televisi swasta Metro TV, Merry Riana, berkali-kali meluapkan kegembiraannya atas gelaran I’m_Possible di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/3). Bagaimana tidak, event yang diadakan di hall UMM Dome ini diikuti 3.750 penonton, yang merupakan jumlah penonton terbanyak dibanding tour-tour I’m_Possible sebelumnya. Selain Merry Riana dan duet host-nya yaitu komedian Setiawan Tiada Tara, talkshow I’m_Possible kali ini menghadirkan bintang tamu para punggawa klub sepakbola asal Malang, Arema, yaitu kiper Kurnia Sandi, kapten Ahmad Al-Farizi dan coach Aji Santoso. Para punggawa Arema tersebut bercerita tentang penjalanan dan lika-liku perjuangan Arema mulai dari klub gurem hingga klub penuh prestasi seperti sekarang ini. Dari talkshow ini, Merry Riana menuturkan, masing-masing peran dari para punggawa Arema tersebut bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita dalam meraih mimpi. Posisi kapten memuat pelajaran agar kita mampu menjadi kapten atau pemimpin bagi diri kita sendiri, posisi kiper adalah tentang menjaga integritas agar jangan sampai kebobolan, dan peran coach menandai bahwa bila kita sudah mencapai mimpi, jangan lupa untuk berbagi ilmu pada yang lain. Tak lupa, Merry juga sempat memberi pesan spesial bagi civitas akademika, ia meminta agar mahasiswa UMM berhenti taking notes dan segera beranjak pada taking action. “Stop taking notes and start taking action, karena gak ada gunanya dicatet-catet kalau gak dipraktekkan. Nyatet boleh, tapi yang lebih penting lagi harus take action karena itulah kunci sukses Merry Riana. Kalau saya bisa, mahasiswa UMM juga pasti bisa. I Love UMM,” ucapnya. Sebelum dimulainya talkshow, Rektor UMM Fauzan sempat memotivasi para mahasiswa agar menjadi mahasiswa maximize, dan jangan menjadi mahasiswa minimize. “Mahasiswa minimize itu yang suka datang telat dan suka cari-cari alasan atas kegagalannya, sementara mahasiswa maximize itu mahasiswa yang disiplin dan selalu mencari cara agar sukses,” papar Fauzan. Selain itu, event kali ini juga menampilkan sejumlah talenta mahasiswa UMM, di antaranya penampilan UKM Paduan Suara UMM Gita Surya dan StandUp Comedian yang juga mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMM Vito Ditapradja. Sehari setelahnya (24/3), UMM Dome dimeriahkankan oleh talkshow Kick Andy yang merupakan rangkaian dari Metro TV on Campus 2017 di UMM. Talkshow Kick Andy mengangkat tema “Yang Muda, Yang Peduli” menghadirkan bintang tamu duta pariwisata Nadine Chandrawinata, pendiri café tunarungu Fingertalk Indonesia Dissa Syakina Ahdanisa, dan para personil group band Cokelat. Selain Kick Andy pada 2008 dan Metro TV on Campus pada 2017 ini, untuk kesekian kalinya Metro TV telah menggandeng UMM menyukseskan event besarnya, beberapa di antaranya yaitu Talkshow Mata Najwa pada 2012, 2013, dan 2015, belum lagi rangkain event yang menyertainya seperti Wide Shot dan StandUp Campus Tour. (ich/han)

UMM Wakili Indonesia di Kontes Robot Internasional di Amerika Serikat

ETELAH sebelumnya menjadi 10 besar dalam lomba mobil listrik pada kompetisi International Shell Eco Marathon Asia 2017, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mewakili Indonesia untuk tampil dalam kontes robot internasional di Trinity College Amerika Serikat. Dalam kontes bertajuk Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) tersebut sebanyak tiga tim dari UMM akan mewakili Indonesia untuk berkompetisi di kategori robot pemadam kebakaran. Tiga tim yang akan bertanding yaitu Tim Dome_Mu, Tim Unmuh Malang dan Tim InaMuh. Diutusnya UMM mewakili Indonesia dalam ajang internasional tersebut merupakan kelanjutan dari perlombaan Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI). Pada KRPAI Berkaki 2016 UMM berhasil meraih juara satu sekaligus penghargaan desain dan artistik terbaik. “Sebanyak lima mahasiswa dan dosen pembimbing akan berangkat ke Amerika pada 29 Maret 2017 nanti,” jelas Ketua Rombongan, Ir. Alik Ansyori Alamsyah, M.T. Selain Alik Ansyori, empat orang lainnya yang ikut rombongan yaitu Ir. Muhammad Irfan, M.T. sebagai pembimbing, serta Ikhlal Aldhi Wijaya, Imam Fatoni dan Salis Muchtar Fadhilah sebagai perwakilan dari setiap tim. Robot UMM memiliki beberapa keunggulan dilihat dari beberapa aspek. Dari segi desain, kata Alik, robot UMM memiliki dimensi yang sangat kecil jika dibandingkan robot lain. Alik menjelaskan, dengan dimensi yang kecil, robot UMM akan dengan mudah menghindari halangan yang berada dalam arena. “Setiap tahunnya robot UMM selalu mendapatkan penghargaan desain terbaik karena dimensi yang kecil itu,” ujar Alik lebih lanjut. Pada kompetisi TCFFHRC nanti, misi yang harus dilakukan adalah mencari dan memadamkan api lilin di arena lapangan. Robot yang paling cepat memadamkan lilin akan dinyatakan sebagai pemenang. “Dengan kecepatan robot yang sudah teruji pada KRI 2016, di perlombaan internasional ini robot UMM optimis akan menjadi yang tercepat lagi,” ujar Alik. Dalam hal ketepatan, robot yang akan dilombakan selama satu minggu (1-7 April2017) tersebut dinekali dengan delapan sensor ultrasonik dan dua sensor infra merah sebagai sensor jarak. 10 sensor ini dibekali agar mudah mendeteksi posisi lilin dan dapat menjangkau lilin dengan cepat. Selain itu, robot UMM juga dibekali sensor flame UVTRON-R9454 untuk mendeteksi apililin. Sensor ini sangat baik jika dibandingkan dengan sensor flame yang lain, karena sensor ini hanya menangkap cahaya UV dengan jangkauan spectrum 185 Nanometer (nm) sampai 260 nm, dimana jangkauan itu hanya dimiliki oleh gas api. “Artinya robot UMM nantinya tidak akan salah dalam mendeteksi api lilin yang ada,” ungkap Alik saat pelepasan tim bersama Rektor UMM. Rektor UMM Fauzan mengatakan, semua mahasiswa yang bertanding ke tingkatan apapun akan diapresiasi oleh UMM. Semuanya diberikan beasiswa berupa bebas tanggungan biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Selain itu, semua karya yang telah dibuat oleh dosen dan mahasiswa ini nantinya akan dipamerkan dalam festival inovasi dan karya. “Agustus nanti akan digelar festival itu untuk memacu semangat yang lain agar terus menciptakan inovasi dan karya,” jelas Fauzan. (jal/han)