Terima Dana PHBD, UKM FDI UMM Kembangkan Pantai Ungapan

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) terus mendorong civitas akademikanya untuk mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Setelah Kampung Warna Warni Jodipan garapan mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi UMM, kini giliran Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah (UKM FDI) yang melakukan pengabdian kepada masyarakat lewat pemanfaatan keunikan salah satu destinasi wisata di Malang Selatan yaitu Pantai Ungapan. Ketua tim pengabdian masyarakat UKM FDI, Agung Kariono menjelaskan, pengabdian masyarakat tersebut terselenggara karena bantuan dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Belmawa Ristekdikti) melalui programnya yaitu Program Hibah Bina Desa (PHBD). “Dari 300 proposal yang masuk ke Belmawa Ristekdikti hanya 120 tim yang lolos termasuk salah satunya UKM FDI ini,” jelas Agung, sapaan akrabnya. Belmawa Ristekdikti, lanjut Agung, memberikan dana kepada UKM FDI sebesar 40 juta untuk melakukan pengabdian di tempat yang sesuai dengan proposal, yaitu Pantai Ungapan.  Berdasarkan hasil survey, Pantai Ungapan merupakan satu satunya pantai yang menjadi pertemuan antara laut dan sungai. Muara tersebut biasanya dimanfaatkan oleh wisatawan untuk berenang karena arusnya yang tidak terlalu deras. Selain itu, Agung juga menjelaskan Pantai Ungapan merupakan destinasi wisata yang tidak terawat dengan baik awalnya. Sampah berserakan, dan tepi pantai terlihat sangat kotor. Akibatnya wisatawan enggan singgah ke pantai tersebut. “Akhirnya kami berfokus pada pengolahan limbah yang dapat menaikkan perekonomian masyarakat di sekitar pantai,” ungkap mahasiswa prodi Teknik Industri UMM tersebut. Lewat program “Limbahku Berkahku”, UKM FDI melakukan berbagai program untuk meningkatkan jumlah wisatawan. “Kalau tidak ada wisatawan otomatis tidak ada yang membeli ke warung-warung warga, maka dari itu kami membuat strategi untuk meningkatkan perekonomian dengan pengolahan sampah,” jelas Agung. Beberapa program yang dilakukan di antaranya pelatihan pengelohan sampah dan penerapannya. Pengelohan sampah yang dilakukan yakni menjadikan sampah yang ada di pesisir pantai menjadi pupuk tanaman. Selain itu, untuk menarik kembali pengunjung dibuatlah ikon baru untuk pantai tersebut. Tulisan “Pantai Ungapan” dengan warna merah berdiri di daerah pesisir pantai. Dengan dipasangnya ikon tersebut, wisatawan lebih tertarik lagi datang ke Pantai Ungapan karena ikon tersebut dapat terlihat dari ujung jalan. Tidak hanya pantai yang direvitalisasi, UKM FDI juga memperbaiki tempat wisata Gunung Getun yang berdekatan dengan pantai. Menaiki Gunung Getun tidak terlalu sulit, tingginya hanya 50 meter. Dari atas Gunung Getun dapat terlihat bentang pemandangan disekitar Pantai Ungapan dan Pantai Bajul Mati.  “Kami juga memasang ikon dengan tulisan ‘Gunung Getun’ di atasnya, jadi wisawatan tertarik naik dan berfoto diatas gunung,” imbuh mahasiswa asli Malang tersebut. (jal/can)

Bangun Iklim Wirausaha, UMM Hadirkan Pengusaha Sukses

DALAM rangka memberikan contoh nyata wirausaha pada mahasiswa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak sekedar mengembangkan infrastruktur di lingkungan kampus. Lebih dari itu,  UMM juga mengembangkan income center di berbagai bidang. Salah satu tujuannya, agar bisa membangun iklim wirausaha bagi mahasiswa sekaligus sebagai pendukung bagi  yang hendak memulai berwirausaha. Demikian disampaikan Rektor UMM Fauzan dalam kuliah tamu yang dihadiri Deputi Bidang SDM Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI, Prakoso Budi Susetyo, SE, MM. Kuliah tamu bertema “Membangun Wirausaha Muda” ini digelar di Theater Dome UMM, Kamis (23/2). Tak hanya itu, UMM juga kerap menghadirkan pengusaha-pengusaha nasional untuk memberikan semangat dan teladan pada mahasiswa dalam bidang kewirausahaan. Prakoso Budi Susetyo, dinilai sebagai salah satu pengusaha yang mampu memberikan semangat itu. Pria yang tetap bergaya muda di usianya tersebut ‘terpaksa’ memulai wirausaha karena orangtuanya meninggal saat ia masih sekolah. Ia memulai dengan membongkar mobil lalu merakitnya kembali. Sejak itulah, bidang otomotif menjadi bisnis yang ditekuninya hingga saat ini. “Sebagai mahasiswa UMM, penghasilan di bawah 10 miliar harusnya sudah biasa,” ujar Budi. Hal ini lantaran menurutnya, jumlah mahasiswa aktif UMM yang mencapai angka 30.000 merupakan lahan strategis untuk berwirausaha. Dalam kesempatan ini, Budi juga berbagi tips untuk memulai atau mengembangkan wirausaha. Budi menganalogikan, sebagai wirausahawan, tangan harus mau kotor. Artinya, tidak perlu bergaya seorang bos bila belum menjadi bos sesungguhnya. Selain itu, wirausahawan juga mesti mau memberi saran pada pelanggan dan yang paling penting ialah menyisihkan pendapatan untuk mereka yang kurang mampu. “Jangan lupa sisihkan, makin besar disisihkan, akan makin kaya,” pesannya. Rektor UMM Fauzan menambahkan, UMM memberi kesempatan pada mahasiswa untuk melakukan penelitian dan memamerkan produk usahanya. Syaratnya pun tak sulit, yakni tercatat sebagai mahasiswa di atas semester 2, memiliki riset unggulan dan rekayasa teknologi. Kemudian akan ada reviewer dari dosen sebelum dipamerkan. Fasilitas lainnya, UMM juga menghadirkan pelaku industri yang akan memberikan saran padaproduk mahasiswa itu.Program ini akan dimulai pada tahun ajaran 2017-2018 mendatang. “UMM akan beri wadah dan hak paten. Selain punya penghasilan, mahasiswa juga tak perlu garap skripsi kalau bisa membuat wirausaha seperti ini,” ujar Fauzan disambut tepuk tangan mahasiswa. Fauzan menegaskan, mimpi besarnya adalah mahasiswa UMM sudah menjadi orang hebat, baik saat menjadi mahasiswa maupun setelah lulus. “Mahasiswa bisa kaya sebelum lulus, itu salah satu mimpi besar saya,” pungkas Fauzan. (ich/jal)

Tingkatkan Kualitas SDM, FIKES UMM Gandeng TMU untuk Program Magister dan Doktoral

FAKULTAS Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di lingkungan fakultasnya. Salah satunya dengan bekerjasama dengan Taipei Medical University (TMU) dalam program magister dan doktoral. Dengan menggandeng TMU, FIKES UMM mengirimkan dosennya untuk belajar lebih lanjut dalam bidang studi ilmu kesehatan. Hal tersebut disampaikan saat presentasi beasiswa dari TMU, Senin (27/2) di Auditorium UMM. Dekan FIKES UMM, Yoyok Bekti Prasetyo, S. Kep, M. Kep, Sp. Kom menyatakan, presentasi beasiswa ini merupakan tindaklanjut dari kunjungan UMM ke TMU pada November 2016 lalu. TMU merespon positif, sekaligus tertarik bekerjasama dengan UMM dikarenakan sudah ada dosen UMM yang belajar di universitas swasta tertua di  Taiwan tersebut. Dengan berangkatnya dosen FIKES UMM untuk berlajar  di TMU semakin memperkuat SDM di lingkungan fakultas. Sebanyak 11 dosen nantinya akan dikirim ke TMU untuk kemudian menempuh studi magister dan doktoral. “Semua terdiri dari program studi Farmasi, Keperawatan dan Fisioterapi,” jelas Yoyok. Bukan tanpa alasan memilih TMU sebagai tempat tujuan, lanjut Yoyok, ada beberapa kelebihan dan kesamaan antara TMU dan UMM. Konsentrasi TMU sangat jelas yaitu fokus di bidang kesehatan. Entah itu kesehatan masyarakat, keperawatan, fisioterapi,  dan beberapa disiplin ilmu kesehatan lainnya. “Selain itu, TMU merupakan universitas dengan peringkat 47 se Asia dan peringkat 122 di QS World University Rangking,” ungkap Yoyok. Dalam kesempatan tersebut juga dilangsungkan proses wawancara dosen FIKES UMM yang akan melanjutkan studinya di TMU. “Proses wawancara dilangsungkan hari ini juga, dan nantinya yang lolos akan diumumkan dan langsung mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari TMU hari ini juga,” imbuhnya. Selain presentasi beasiswa  dan rekrutmen, dilangsungkan juga kuliah tamu oleh TMU yang diwakili oleh  Prof Ya-Wen Chu dari College of Public Health and Nutrition. Salah satu yang banyak diuraikan Ya-Wen Chiu adalah peralihan dari Millenium Developmental Goals (MDGs) menuju Sustainable Developmental Goals (SDGs). MDGs. Dalam hal ini, Ya-Wen Chiu membahas lebih dalam mengenai keprihatinannya perihal angka kematian pasca melahirkan yang tinggi di sejumlah negara. Menurutnya, sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh beberapa hal, seperti pendarahan, komplikasi, atau penyakit berbahaya semisal malaria dan HIV. “Latar belakang peningkatan kematian ibu, yakni memiliki banyak anak, rendahnya tingkat pendidikan, usia yang terlalu muda atau terlalu tua saat hamil dan melahirkan, atau mengalami diskriminasi gender,” jelasnya dihadapan mahasiswa FIKES dan FK UMM. (jal/can)

Istimewa! Wisuda Ke-83 UMM Dihadiri 2 Menteri dan Sederet Tokoh Bangsa Sekaligus

PERHELATAN wisuda ke-83 periode I tahun 2017 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terbilang istimewa. Pasalnya sejumlah tokoh bangsa hadir dalam gelaran yang mengukuhkan 947 wisudawan dari program diploma, sarjana, dan pascasarjana ini. Di antaranya Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Dr. (HC) Susi Pujiastuti untuk memberikan orasi. Selain Susi, wisuda juga dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang juga ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. H.A. Malik Fadjar, CEO CT Group Dr. (HC) Chairul Tanjung, serta Komisaris Utama Bank Mega Syariah,  Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh yang merupakan mantan Menteri Pendidikan Nasional Indonesia tahun 2009 hingga 2014. Dalam orasi ilmiahnya Susi menyampaikan, kedaulatan ekonomi kelautan adalah harga mati bagi bangsa Indonesia. Mengutip pernyataan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Susi menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi memunggungi lautan. “Air dan lautan adalah masa depan bangsa Indonesia. Berbicara masa depan itu bukan tentang bicara anak-cucu kita saja, tapi anak dan cucu dari anak-cucu kita. NKRI tidak boleh hilang dalam masa seratus tahun pun,” kata Susi di hadapan para wisudawan dan orang tua wisudawan. Indonesia yang wilayahnya 2/3 adalah air atau lautan telah mengklaim dirinya sebagai agriculture country. “Kita membangun dengan skenario land base development. Kita lupa bahwa 70 persen wilayah kita adalah air. Perbatasan yang membatasi serta melindungi kedaulan negara kita adalah 99,7 persen juga air,” ujar Susi. Karena skenario yang salah dan ide yang tidak sesuai dengan fakta geografis Indonesia, membuat Indonesia jauh tertinggal dalam pembangunan dunia kemaritiman. “Bahkan lebih parah lagi, selama beberapa dekade, ribuan kapal-kapal dari negeri tetangga sehari-harinya melaut dan mengambil ikan serta sumber daya laut Indonesia.  Kita seolah membiarkan,” tegas Susi. Hasil sensus pada 2003 sampai 2013 menunjukan bahwa angka rumah tangga nelayan Indonesia turun dari sebelumnya 1 juta 6 ratus, hanya tinggal menjadi 800 ribu saja. Sehingga jika diprosentasikan pendapatan rumah tangga nelayan hilang 50 persen. “Karena hidup sebagai nelayan, sudah tidak lagi mencukupi atau mendapatkan hasil yang bisa untuk menopang hidup. Karena ikannya makin tidak ada,” imbuh Susi. “Jadi ilegal unreported dan unregulated fishing ini telah terjadi bertahun-tahun. Tidak pernah ada industri perikanan di Indonesia timur jalan karena pabriknya hanya pabrik bangunan saja, sementara kapal ikan langsung tangkap, langsung bawa pergi saja,” ujar Susi. Dengan demikian, peran serta ilmuan-ilmuan, tokoh masyarakat termasuk para sarjana untuk melakukan visibility study, bagaimana membuat agar Indonesia sebagai central gravity itu dapat terlaksana. “Tentu kita juga perlu banyak terobosan-terobosan baru,” ungkap Susi. Sementara itu, pendiri dan pemilik CT Corp Chairul Tanjung memberi kiat sukses menghadapi segala bentuk ketidakpastian yang musti dihadapi para lulusan UMM dalam menghadapi era revolusi 4.0 atau revolusi industri ke-4.  Menurutnya, pesatnya kemajuan teknologi dan informasi bisa jadi merupakan salah satu ancaman bagi kemajuan sumber daya manusia Indonesia. “Bayangkan, sebentar lagi manusia akan digantikan oleh robot. Pekerja pabrik tidak akan dibutuhkan lagi, karena robot akan menggantikannya. Bahkan peran suami atau istri bisa digantikan oleh robot,” kata Chairul. Untuk bisa menang dalam persaingan, lanjut Chairul, yang dibutuhkan oleh para lulusan adalah inovasi, kreativitas, dan interpreneursip. Tanpa ketiganya kita tidak akan menang dalam persaingan,” ujar Chairul. Gelaran penting tersebut sekaligus dilakukan penandatanganan naskah kerjasama antara UMM dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia tentang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di Bidang Kelautan dan Perikanan. Serta, penandatangan naskah kerjasama  antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang Pengembangan Sumber Daya bidang kelautan dan perikanan melalui pendidikan dan kebudayaan.  Terkait kehadiran pendiri sekaligus pemilik CT Corp, UMM memanfaatkan momen tersebut dengan turut serta membangun sinergi bisnis antara keduanya. Susi Pudjiastuti dan Chairul Tanjung sekaligus dikukuhkan sebagai keluarga besar UMM yang ditandai dengan penyematan jas almamater UMM. (can/rina)

Pesan Din Syamsudin di UMM Jelang Tanwir Muhammadiyah

KETUA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015 Prof. Dr. Din Syamsudin, MA  menekankan pentingnya memperteguh watak gerakan Islam moderat Muhammadiyah di tengah pergulatan ideologi-ideologi dunia. Hal itu disampaikan Din saat dirinya didaulat sebagai pembicara kunci dalam gelaran Seminar Pra-Tanwir di Auditorium BAU UMM, Rabu (22/2). Belakangan, dunia tengah dihadapkan pada situasi yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai great disruption atau gangguan besar. Terutama karena adanya kerusakan-kerusakan yang bersifat akumulatif dalam kehidupan dunia. “Baik kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketidakadilan, kesenjangan, sampai kekerasan dalam segala bentuknya, termasuk juga kegoncangan cultural tsunami atau banjir budaya,” sebut Din. Demikian juga, perang ideologi yang mengajawantah pada perang budaya adalah situasi yang niscaya terjadi, termasuk dalam internal sebuah agama. Terutama terkait dengan perbedaan pemahaman tentang adanya ajaran-ajaran beragama yang melahirkan madzhab-madzhab maupun aliran-aliran yang berbeda. “Adalah karena kitab suci termasuk al Quran menurut saya memiliki watak ambivalen, yakni ayat-ayatnya dapat ditafsirkan. Ada ayat-ayat yang cenderung ditafsirkan dalam konteks yang positif, dan juga ada ayat-ayat yang cenderung dipahami secara negatif,” imbuh Din. Din berpesan, sebagai organisasi masyarakat Islam yang mendeklarasikan diri sebagai gerakan wasathiyah, Muhammadiyah diharapkan mampu memberikan solusi lewat jalan-jalan moderat atau konstitusional, bukan jalan yang ditempuh oleh gerakan ekstrimis Islam. Sementara itu, Tanwir yang merupakan lembaga musyawarah tertinggi Peryarikatan Muhammadiyah setelah Muktamar akan mengangkat tema ‘Kedaulatan dan Keadilan Sosial Menuju Indonesia Berkemajuan’. Menyinggung pelaksanaan sidang Tanwir Muhammadiyah Din berharap, warga Muhammadiyah tetap pada pengembalian pemahaman Islam moderat yang selama ini dinilai Din sudah baik.  Sementara, kolokium dalam rangka menyambut Tanwir Muhammadiyah di Ambon 24-26 Februari 2017 mendatang itu mengahadirkan sejumlah pembicara. Di antaranya, Prof. Syafiq A. Mughni dipanel dengan Prof. Dr. Masdar Hilmy yang membahas materi ‘Peneguhan Identitas Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Moderat’. Di sesi kedua, seminar sehari ini juga menghadirkan Prof. Dr.  Munir Mulkhan, Dr. Sugiarti, M.Si, Dr. Budi Suprapto, M.Si. yang membahas materi ‘Muhammadiyah dan Kedaulatan Kebudayaan di Zaman Revolusi Digital’. (Humas UMM)

Ignasius Jonan: UMM Kampus Pelopor Penerapan EBT

KONTRIBUSI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus pelopor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) diapresiasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) Ignasius Jonan. Hal itu disampaikan Jonan pada perhelatan kuliah umum dan workshop bertajuk “Capacity Building Energi Terbarukan” yang merupakan rangkaian acara Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang ESDM Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah se-Indonesia di UMM, Selasa (21/2). Dijelaskan Jonan, EBT dilaksanakan untuk menurunkan harga listrik agar dapat dijangkau masyarakat kecil. Saat ini, kata Jonan, setidaknya terdapat 2.500 desa di Indonesia yang belum teraliri listrik. Selain itu, sebanyak 350 ribu rumah juga belum bercahaya saat malam hari. “Pada 2017 ini pemerintah menargetkan 95.729 rumah di Indonesia bagian timur teraliri listrik. Sementara pada 2018 mendatang, listrik akan dialirkan ke 255.250 rumah di 15 provinsi di Indonesia,” terang Jonan. Jonan berharap, Pemuda Muhammadiyah dapat bersinergi dengan pemerintah untuk mensosialisasikan program tersebut. “Jika Pemuda Muhammadiyah ingin membantu kami mensosialisaikan program itu  ke 250 ribu desadi Indonesia, maka kami siap anggarkan dananya,” imbuh Jonan. Menjawab tantangan Jonan, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan siap membantu pemerintah mensosialisasikan program strategis Kementerian ESDM itu. “Dari workshop ini juga akan lahir gerakan pemuda sadar energi yangkami sebut dengan Mujahid Sadar Energi,” imbuh Dahnil dalam sambutannya. Sebagai bentuk tindak lanjut dari pelaksanaan workshop ini, Pemuda Muhammadiyah juga akan menjadikan beberapa desa sebagai percontohan untuk menggunakan EBT berupa PLTMH. Di sisi lain, Rektor UMM Fauzan menjelaskan, dalam bidang energi UMM telah mendapatkan pengakuan internasional di tingkat Asia berupa ASIAN Energy Award. Dengan adanya PLTMH, biogas dan pembangkit listrik tenaga matahari (solar cell), dapat turut membantu mengurangi biaya operasional perkuliahan mahasiswa UMM. (lil/can)

Di Hadapan Mahasiswa UMM, Guru Besar IPB Kenalkan Tanaman Herbal Untuk Tingkatkan Kualitas ASI

SELAIN berdampak pada menurunnya luas lahan pertanian serta meningkatnya kebutuhan lapangan pekerjaan, membludaknya jumlah populasi masyarakat Indonesia juga berdampak pada perubahan perilaku dan gaya hidup. Termasuk, makin menurunnya asupan gizi masyarakat. Demikian disampaikan Guru Besar ahli tanaman herbal Institut Pertanian Bogor (IPB)  Prof. drh. M. Rizal M. Damanik,M.Rep.Sc Ph.D di hadapan mahasiswa prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM dalam gelaran kuliah tamu di Aula KH. Ahmad Dahlan UMM Inn, Senin (20/2). Kuliah tamu ini bertajuk “Optimalisasi Potensi Tanaman Lokal untuk Pangan Fungsional, Kesehatan dan Pelestariannya”.  “Masyarakat Indonesia tidak lagi dihadapkan pada jenis penyakit infeksi. Masyarakat Indonesia sekarang dihadapkan pada penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, obesitas dan penyakit-penyakit degeneratif lainnya yang merupakan akibat dari kekurangan asupan gizi. Tidak peduli mereka yang berada di desa maupun kota, sama saja,” kata Rizal. Dari sekian daftar permasalahan tersebut, gejala kelaparan merupakan permasalahan yang paling sulit dihindari. Disebutkan Rizal, yang paling riskan adalah gejala kelaparan yang dialami oleh ibu hamil. “Kekurangan nutrisi pada ibu hamil akan bermuara pada penyakit kronik yang diderita ibu dan janin yang dikandungnya,” ungkap Rizal. Berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan World Breasfeeding Trends Initiative tahun 2012 tentang Cakupan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif, Indonesia berada pada peringkat terendah dari 51 negera yang disurvey. Data tersebut menunjukan bahwa masyarakat Indonesia kurang mengindahkan asupan ASI ekslusif bagi anaknya. “ASI ekslusif begitu penting untuk tumbuh kembang anak. Bahkan pemberian ASI eksklusif sudah diisyaratkan dalam Al-Quran surat Lukman ayat 14,” terang Rizal. Namun demikian, perubahan perilaku ibu menyusui juga harus diimbangi dengan asupan makanannya. Berdasarkan temuannya, Rizal memperkenalkan tanaman lokal yang dapat meningkatkan kuantitas serta kualitas ASI ibu menyusui, yakni tanaman Torbangun. Torbangun mengandung gizi cukup lengkap, di antaranya zat gizi mikro dan senyawa fungsional yang dapat meningkatkan kualitas ASI ibu menyusui. Penelitiannya terhadap tanaman herbal tersebut mendapat pengakuan pemerintah dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan (PerMenKes) Nomor 6 tahun 2016. “Selain itu, penelitian terhadap tanaman yang dapat ditemukan di hampir seluruh pelosok Indonesia ini telah banyak mendapat pengakuan dunia,” ujarnya. Dari risetnya tersebut, kini Rizal mengembangkan produk berupa varian makanan yang dihasilkan dari tanaman Torbangun dalam rangka mengaplikasikan temuannya itu. Di antaranya cookiesTorbangun, Susu Torbangun, Risoles Torbangun dan beberapa varian makanan lainnya. (can/ich)

UMM Latih Civitas Akademika Identifikasi Dini Penyalahgunaan Narkoba

TINGGINYA angka pengguna narkoba di Indonesia menjadikan presiden menetapkan status gawat darurat. Hal itu didasari dengan makin tingginya tingkat pravelensi penggunaan narkoba di masyarakat. Sebut saja pada 2014 angkanya mencapai 4 juta pengguna dan pada tahun berikutnya, yakni 2015meningkat menjadi 5,2 juta pengguna. Tahun 2016 saja,  sekitar 6 juta pengguna terdata di BNN. Data tersebut disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Batu, AKBP Heru Cahyo Wibowo dalam pelatihan identifikasi, pengenalan narkoba dan kriminal di Auditorium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (20/2). Heru melanjutkan, siapapun dapat masuk dalam jeratan narkoba. Oleh karenanya Heru menekankan, sebagai penyelenggara pendidikan kampus dituntut untuk memahami jenis, ciri-ciri pengguna dan ciri-ciri pengedar narkoba. “Karena narkoba tidak hanya menjerat mahasiswa. Dosen, sampai guru besar juga terjerat kasus narkoba,”kata Herudi hadapanseluruhWakil Dekan III fakultas se-UMM. Lebih jauh Heru menerangkan cara mengindentifikasi jenis-jenis narkoba. “Narkoba itu banyak jenisnya. Bisa dalam bentuk daun ganja yang dikeringkan, heroin yang ditumbuk, morfin yang dibuat di industri rumahan bahkan rokok elektrik juga bisa menjadi salah satu alat penghisap narkoba,”jelas Herudalam acara yang diinisiasi Biro Kemahasiswaan UMM itu. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Satuan Reskoba Polres Kota Malang, AKP Imam Mustaji menambahkan, setidaknya ada dua hal yang dapat mengidentifikasi pemakai narkoba. Pertama, tanda paling umum yang terjadi pemakai tidak bisa fokus ketika menerima materi perkuliahan. Kedua, tidak bisa menatap mata lawan bicara ketika berkomunikasi secara langsung. “Apabila ditemukan mahasiswa yang seperti itu, maka menjadi tanggungjawab seluruh civitas akademika untukmenindak dan melaporkan kepada kami,” tegas Imam. Sementara itu, Kepala Biro Kemahasiswaan, Drs. Abdullah Masmuh, M. Si menjelaskan, acara tersebut diadakan untuk mengantisipasi mahasiswa yang menyalahgunakan narkoba. Menurut Masmuh, setiap elemen kampusperlu mengetahui sehingga tidak terjadi penyalahgunaan narkoba di kemudian hari. Selama ini, dijelaskan Abdullah, UMM telahbekerjasama dengan ketua RT dan RW sekitar kampus untuk melakukan penindakan bagi mahasiswa UMM yang menyalahgunakan narkoba. Dalam jangka panjang, pengawasan dilakukan oleh wakil dekan IIIsetiap fakultas, UKM, dan juga masyarakat sekitar kampus. (jal/can)

UMM Gazebo Forum Bangun Mahasiswa Sadar Literasi

Kesadaran mahasiswa akan literasi  hingga saat ini dinilai sangat kurang. Hal ini menjadikan mahasiswa tidak produktif bahkan asal menelan sebuah informasi tanpa mengetahui validitas sumbernya. Hal tersebut menjadi perhatian khusus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Gelaran cangkrukan multidisipliner UMM Gazebo Forum Sabtu (18/2) mengangkat tema “Bangun Literasi, Bangun Aksi Penuh Kreasi”, Sabtu (18/2) di gazebo perpustakaan pusat UMM. Tiga narasumber dihadirkan dalam diskusi ini. Adalah dosen penggerak literasi, Pradana Boy ZTF, Ph D dan dua mahasiswa aktivis literasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ade Chandra Sutrisna dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) M. Syahrir Mustofa. Pradana Boy menyatakan  bahwa membaca, menulis dan berdiskusi merupakan tiga hal yang berkesinambungan. Menurutnya, ada tiga permasalahan yang akan muncul ketika seseorang membaca buku. Pertama, adalah kebiasaan. Jika seseorang belum terbiasa membaca, maka ia harus membiasakan diri terlebih dulu. Kedua, bisa jadi seseorang tidak memahami apa yang dibacanya saat ini. Namun, seiring berjalannya waktu, pemahaman itu akan datang. Terakhir, Boy berpesan agar apa yang dibaca mengendap tanpa jadi karya. “Jangan sampai yang dibaca tidak tersalurkan dan mengendap,” tegasnya. Senada dengan Boy, Ade Chandra menilai mahasiswa tak cukup dengan membaca saja. Lebih dari itu,  mahasiswa harus menulis dan berpraktik. “Muara dari membaca dan muara dari kegiatan literasi adalah praktik nyata dari hasil bacaannya,” paparnya. Ketua Bidang Media dan Komunikasi IMM cabang Malang itu juga memberikan tips untuk gemar menulis dan membaca. “Sebaiknya menempatkan diri sendiri di lingkungan yang ‘memaksa’ untuk menulis dan membaca. Jika lingkungan sudah mendukung, maka kebiasaan itu akan terbentuk dengan sendirinya,” pesannya. Syahrir menambahkan, kegiatan membaca dan menulis merupakan satu kesatuan yang tak terpisah. Menurutnya, buku catatan dan alat tulis menjadi piranti penting untuk dibawa kemanapun. “Ide menulis bisa muncul kapan saja dan dimana saja, jadi kedua benda itu akan memudahkan kita,” terangnya. Tak hanya itu, lanjut Syahrir, mempublikasikan hasil tulisan juga dapat memotivasi diri untuk terus membaca dan menulis. “Agar tetap konsisten menulis, barengi dengan publikasi. Maka, semangat untuk membaca dan menulis terus bergelora. Apalagi kalau sudah dimuat,” tukasnya. Wakil Rektor I UMM Prof Syamsul Arifin menilai diskusi literasi ini sebagai hal krusial. “Saat ini kita menghadapi realitas paradoksial. Sumber informasi melimpah. Paradoksnya, mahasiswa jadi tidak kreatif karena memicu plagiarism. Diskusi ini penting untuk menyadarkan mahasiswa agar menulis sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan,” urai Syamsul dalam sambutannya. (jal/ich)

UMM Siap Lombakan Mobil Hemat Energi dalam Ajang Internasional

TIMSinghasari SuperMileage Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru saja meluncurkan mobil hemat energi bernama Barqun Speed, Jumat (17/2). Mobil garapan kolaborasi mahasiswa teknik elektro dan teknik mesin Fakultas Teknik (FT) UMM ini dibuat untuk diadu dalam ajang Shell Eco Marathon Asia yang diselenggarakan di  Changi-Singapura 15-19 Maret 2017 mendatang. UMM akan diwakili oleh 6 orang mahasiswa. Mereka adalah Abdul Qowi selaku manajer tim,serta anggota timYudho Terial Panji, Intan Maharani, Ali Mahfud, Fikri Akbar dan Afriansyah.Mereka akan berhadapan denganlebih dari 100 timdari Asia dan 34 timdari Indonesia. “Barqun Speedmerupakan mobil listrik prototype yang di desain secara aerodinamis, bergaya, memiliki bodi yang ringan dan juga sistem transmisi yang sangat sistematis,” ungkap Iis Siti Asiyah, Ph.D. saat diminta menjelaskan keunggulan mobil garapan mahasiswa bimbingannya itu. “Berdasarkan hasil percobaan sejauh ini, listrik yang digunakan 320 meter/kWh dan akan terus diperbaiki,” terangIis. Selain itu, lanjut Iis, semua bahan yang digunakan merupakan yang sangat ringan. Diantaranya adalah aluminium dengan bodi yang terbuat dari kaca serat (fiberglass).“Dari segi sistem transmisi juga sudah diperhitungkan sedetail mungkin,” jelas dosen program studi (prodi) Tehnik Mesin, Fakultas Tehnik (FT) UMM. Butuh persiapan yang cukup lamauntuk tim ini mempersiapkan segalanya. Tahapan yang dilalui di antaranyamulai dari tahap pendaftaran dan seleksi administrasi via online, sampai akhirnya dinyatakan lolos untuk bertanding ke Singapura. “Kurang lebih 4 bulan kami mempersiapkan semuanya dari nol sampai tercipta mobil listrik hemat energi ini,” imbuhIis. Sementara itu, Manager timAbdul Qowi menyatakan dirinya dan tim optimis akan bisa masuk 3 besar di kelas listrik proto. Sebelumnya pada 2014, UMM meraih juara 4 dalam ajang mobil nasional yang di gelar di Kenjeran, Surabaya. “Dengan semua persiapan yang sudah dilakukan, kami optimis bisa masuk hingga 3 besar pada kelas listrik proto,” harap Qowi.(jal/can)