Fakultas Teknik Pamerkan 19 Produk Industri Mahasiswa

SEDIKITNYA 19 produk karya mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saling unjuk gigi memamerkan keunggulan produk masing-masing dalam pameran produk LaboratoriumTeknik Industri yang digelar di pelataran Kantin Teknik Gedung Kuliah Bersama (GKB) III, Selasa (20/12). Pameran yang berangkat dari mata Kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) ini merupakan mata kuliah wajib yang diambil di semester 5 dan mengharuskan mahasiswa membuat produk industri. Seperti Alat Bantu Pengangkut Kopi buatan Febrian Roby Wijaya beserta kelima kawan kelompoknya. Febrian menjelaskan, selain dilengkapi rem sebagai penunjang keselamatan pada saat membawa beban berat pada kondisi jalan menurun. Kelebihan alat yang dibuat keloimpoknya ini juga mampu menampung berat hingga 100 kilogram. “Selain itu, alat kami juga dibuat menggunakan bahan yang ringan kuat, dan tahan karat. Juga, di desain secara ergonomis sesuai data antropometri (studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia, Red.) petani kopi,” kata Febrian saat diminta menerangkan keunggulan alatnya. Produk inovasi mahasiswa teknik industri angkatan 2014 lainnya ini berupa Meja Tas Laptop. Yakni perpaduan tas laptop dengan meja portabel yang memungkinkan pemiliknya untuk dibawa kemana-mana. Temuan menarik lainnya berupa Alat Pemilah Ukuran Lele karya Gusti Dermawan beserta ke empat teman satu kelompoknya. Ditemui di kantornya, Ir. Muhammad Lukman, MT., dosen pengampu mata kuliah P3 ini menerangkan bahwa setiap produk yang dibuat harus melewati sejumlah tahapan sampai layak disebut produk layak dipasarkan. Pertama, dijelaskan Lukman, setiap rancangan produk teknik industri juga harus berdasarkan customer need atau disesuikan kebutuah konsumen. Selain itu, rancangan produk harus memiliki dimensi kualitas. “Yang dinilai dari dimensi kualitas itu diantaranya segi performance, fitur, service ability-nya serta beberapa variabel kualitas lainnya. Ketiga, produk itu harus dikenalkan kepada masyarakat dengan kita launching seperti pameran yang sedang kita adakan ini,” paparnya. Diakui Lukman, kualitas karya mahasiswanya belum sampai tingkatan kualitas yang dibutuhkan industri. karena baru berupa prototype, Lukman mendorong mahasiswanya untuk terus mengembangkan produk yang telah dibuat. “Satu karena terbentur biaya, kedua karena terbentur pengalaman. Sehingga kami mengharapkan, produk yang dibuat angkatan 2014 ini dapat dikembangkan angkatan selanjutnya,” tandas Lukman. (can/han)
PKMA Didik Mahasiswa Jadi Wirausaha Kreatif dan Mandiri

AGAR mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siap berkompetisi menjadi wirausaha muda kreatif dan mandiri, unit Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa dan Alumni (PKMA) Biro Kemahasiswaan UMM instens melakukan seminar dan workshop entrepreneurship. Salah satunya, melalui Talkshow Wirausaha Mandiri menghadirkan sejumlah pengusaha berpengalaman. Beberapa pembicara yang dihadirkan pada kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus II UMM (19/12) ini yaitu owner D Tanjung dan De Labu, Dewi Tanjung, serta penemu mesin penetas telur penyu satu-satunya di dunia atau dikenal dengan maticgator sekaligus owner CV Ulumul Bahri, Paundra Noorbaskoro. Hadir pula Regional Business Development Jatim Bank Mandiri Iswandi, Malang Area Head Bank Mandiri Theresia Pratiwi Hastari dan Kepala Biro Kemahasiswaan UMM Abdullah Masmuh. Kegiatan hasil kerjasama PKMA Mawa UMM dan Bank Mandiri ini diikuti sekitar 300 mahasiswa yang memang memiliki ketertarikan untuk menjadi wirausaha mandiri. “Talkshow ini dilakukan UMM untuk membuka akses informasi para mahasiswa ke program Wirausaha Mandiri Bank Mandiri. Semoga dengan informasi itu dan mendengarkan langsung kisah mbak Dewi dan mas Paundra sebagai pengusaha muda yang inspiratif, mahasiswa UMM tergerak untuk memacu diri sebagai wirausaha,” jelas kepala PKMA UMM, Dr Fien Zulfikariyati MM. Dewi Tanjung, wanita kelahiran Mondoroko Singosari menjadi fenomenal saat memenangkan wirausaha muda mandiri (WMM) 2010. Kisah hidupnya menjadi cerita yang menginspirasi karena keuletan dan kreatifitasnya. Sebagai anak yatim dengan ibu yang hanya buruh cuci hingga bisa menyekolahkan Dewi sampai perguruan tinggi menjadi motivasi terkuat bagi Dewi untuk membuat ibunda bangga padanya. “Bermimpilah yang besar dan wujudkan mimpi itu dengan penuh percaya diri,” Seru Dewi kepada hadirin. Keunikan usaha Dewi tidak sekedar “menyulap” limbah dan potensi lokal di sekitarnya menjadi handicraft bertaraf internasional. Namun, dia juga tidak pelit berbagi keterampilan dan kesempatan dengan masyarakat sekitar. Kini usahanya mampu memperkerjakan 56 lebih karyawan yang sebagian besar tenaga kerja perempuan di sekitar tempat tinggalnya. “Berawal dari modal 50 ribu rupiah, kini berkat WMM saya sudah bisa ke beberapa negara untuk urusan bisnis dan bertemu dengan orang-orang hebat yang memberi saya ilmu dan inspirasi. Dalam membangun dan mengembangkan usaha, kita harus banyak memiliki jaringan. Pengalaman saya menunjukkan 5 teman yang baik disekitarmu akan membuatmu bisa bangkit dan berhasil,” paparnya membagi pengalaman dan tips. Sementara itu Paundra Noorbaskoro, pemenang WMM 2015 memulai kisahnya dengan menceritakan kondisi penyu di perairan Trenggalek dan daerah kelahirannya sendiri, Pacitan. Keprihatinannya akan nasib penyu yang terancam punah, serta didukung oleh ilmunya di bidang Perikanan dan Kelautan, alumni UB ini meciptakan Mesin Penetas Telur Penyu yang diberi nama Magicgator. “Magicgator merupakan satu-satunya mesin penetas telur penyu, di mana melalui mesin tersebut kami merancang kita bisa memilih jenis kelamin bayi penyu yang menetas nanti,” jelasnya membuat penasaran yang hadir. Rupanya memilih jenis kelamin penyu ini menjadi penting. Pemanasan global membuat suhu meningkat dan itu secara alamiah membuat telur penyu yang menetas kebanyakan berjenis kelamin betina. Padahal, untuk pembuahan penyu betina memerlukan enam penyu jantan,” jelasnya lebih lanjut. Ketidakseimbangan jumlah penyu jantan dan betina ini merupakan salah satu faktor semakin menipisnya jumlah populasi penyu. Kedua success story pemenang WMM yang hadir memiliki kesamaan dalam karakter pribadi. Mereka peduli pada lingkungan sekitar, percaya diri, kemauan berkolaborasi, dan memiliki visi untuk membangun masyarakat. Baik Dewi Tanjung maupun Paundra pada akhirnya melakukan edukasi pada masyarakat, berbaur dan mendampingi warga sehingga terbentuk komunitas yang peduli terhadap kelangsungan hidup lingkungan alam dan lingkungan sosial. “Kriteria pemenang WMM selain kami melihat kesehatan usahanya yang lebih penting lagi adalah karakter pesertanya. Sesuai semangat WMM, Muda, Inovatif, Peduli,” kata Iswandi. Lebih jauh, tentang program WMM yang sudah digelar sejak 2007, Iswandi memaparkan lima katagori usaha yang menjadi perhatian WMM 2016 meliputi Wirausaha Industri Perdangan dan jasa, Wirausaha Boga, Wirausaha Kreatif, Wirausaha Tehnologi, dan Wirausaha Sosial. “WMM tidak hanya memberi modal dalam bentuk hibah kepada para pemenang, melainkan juga memberikan bantuan pembiayaan serta membuka akses mendapatkan jaringan yang luas, memberikan pembinaan dan pendampingan, serta biaya untuk pelatihan dan promosi di event-event profesional sampai di tingkat internasional,” jelas Iswandi lebih lanjut. Mendorong jiwa kewirausahaan mahasiswa dan alumni, PKMA UMM memiliki beberapa program menarik. Selain beberapa kali mengundang pengusaha muda yang sukses, baik dari kalangan alumni UMM maupun bukan, PKMA secara rutin telah menyelenggarakan pameran usaha mahasiswa dan alumni setiap satu semester. Seperti Rabu (21/12) nanti yang akan diselenggarakan di parkiran lantai tiga Kampus III UMM. (*/han)
Satu Hari Rasakan Atmosfer Eropa Bersama UMM

PAMERAN “Around the Europe in One Day” yang digelar International Relations Office (IRO) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (19/12) seakan benar-benar mengajak pengunjung berkeliling Eropa. Bagaimana tidak, selain disediakan informasi seputar beasiswa dan kebudayaannya, di tiap stan juga tersaji makanan khas masing-masing negara, seperti Arroz Doce atau nasi manis khas Portugal. Pengunjung juga diajak berswafoto menggunakan atribut pemain tim nasional sepak bola Portugal, lengkap dengan topeng pemain andalannya Cristiano Ronaldo. Kegiatan yang diadakan di di pelataran Perpustakaan Pusat Kampus III UMM ini,sedikitnya diikuti sejumlah negara di Eropa di antaranya dari Ukraina, Rumania, Spanyol, Portugal, Polandia dan Slovania. “Di UMM banyak orang asing yang belajar dan mengajar. Kami sudah lama belajar di sini dan sudah tahu banyak tentang Indonesia. Kami pikir orang Indonesia lebih bagus kalau tahu juga tentang negara kami,” terang Tania, mahasiswa asal Ukraina yang begitu fasih berbicara dalam bahasa Indonesia ini. Selain belajar bahasa Indonesia, Tania juga mengikuti program Learn and Teach internship di mana ia berkesempatan untuk magang mengajar ekonomi mikro di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM. Menariknya, Tania mengaku sebelumnya belum pernah bertemu dengan teman senegaranya di Ukraina. “Baru di UMM, saya bisa dipertemukan dengan teman saya yang berasal dari Ukrania Utara, Ukraina Tengah dan Ukraina Barat,” pungkasnya. (acs/han)
UMM Rebut Juara Umum Lomba Pengetahuan Tiongkok

TIGA mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih juara pertama dan ketiga pada gelaran Lomba Pengetahuan Umum Tiongkok yang diadakan Konsulat Jenderal China di Surabaya, 10 Oktober hingga 10 November lalu. Tak seperti umumnya, lomba ini diadakan dengan sistem online. Tiga mahasiswa tersebut ialah Ana Sophia Siregar dari program studi Ilmu Teknologi Pangan dan Fikri Ramadhan Siregar dari Fakultas Psikologi. Keduanya meraih juara pertama karena skor yang didapatkan sama. Sedangkan Dwi Fariyana Wiraningtyas, mahasiswa program studi Farmasi meraih juara ketiga. Ana dan Fikri berhak mengantongi sebuah komputer jinjing (laptop) dari Konjen China serta uang pembinaan sebesar 1,5 juta rupiah dari UMM. Sementara itu, Dwi pun mendapatkan sebuah komputer jinjing dari Kinjen China dan uang pembinaan dari UMM sebesar 500 ribu rupiah. Penyerahan hadiah dilakukan di Universitas Negeri Surabaya, Ahad (11/12) pekan lalu. Hadiah diserahkan langsung oleh Konjen China di Surabaya, Gu Jingqi. Kompetisi diikuti 20 universitas terpilih se-Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali dan NTT. Selain UMM, tiga universitas lain di Malang yang juga menjadi peserta lomba ialah Universitas Ma Chung, Universitas Brawijaya, dan Universitas Negeri Malang. Sistem online yang diterapkan pada lomba ini menjadikan tak ada batasan peserta yang ikut. 332 mahasiswa aktif UMM pun ditunjuk untuk mengikuti lomba melalui alamat surabaya.chineseconsulate.org/eng. Ada 50 butir pertanyaan di website tersebut. Untuk jumlah pertanyaan yang tak sedikit, waktu yang disediakan untuk menyelesaikan terbilang singkat, hanya 30 menit. Peningkatan yang dialami UMM terbilang pesat. Tahun lalu, pada kesempatan lomba yang sama, UMM hanya meraih juara harapan. Tahun ini, selain mengantongi juara pertama dan ketiga, UMM juga meraih juara untuk kategori perguruan tinggi dengan peserta lomba terbanyak. Asisten Rektor Bidang Kerja Sama, Drs Soeparto MPd menyatakan prestasi ini tak lepas dari pengaruh positif sejak didirikannya China Corner di UMM pada Mei lalu. Hal ini semakin memperkuat jalinan kerjasama antara UMM dengan Tiongkok. “Sejak diresmikannya China Corner di UMM pada bulan Mei lalu, mahasiswa jadi punya media untuk mempelajari lebih banyak tentang China,” ujarnya. Prestasi ini berdampak pada penguatan internasionalisasi UMM. China, kata Soeparto, memiliki sumber daya yang kuat. Soeparto menganalogikan China sebagai present tense dalam istilah grammar Bahasa Inggris. China kini jadi pandangan untuk masa depan, alias future, utamanya untuk ASEAN. Meski begitu, budaya China yang makin dipahami mahasiswa tetap tak menghilangkan budaya lokal dan Islam yang ditanamkan pada mahasiswa UMM. “Dengan makin kuatnya kerjasama UMM-China ini, mahasiswa akan makin banyak belajar tentang budaya China. Ini penting untuk membekali mahasiswa saat berkiprah di lingkup ASEAN nantinya,” sambung Soeparto. (ich/han)
BEM FPP Kenalkan Arboretum pada Masyarakat

UPAYA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menggencarkan green and clean direspon positif oleh mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM ) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM menyelenggarakan aksi tanam pohon bersama di Arboretum FPP UMM (19/12). Tidak hanya mahasiswa, BEM FPP juga mengajak seluruh masyarakat untuk peduli pada lingkungan. Ketua pelaksana aksi tanam pohon itu, Asrul R Lino menyatakan, masyarakat juga bagian dari aktor dalam pelestarian lingkungan. Dengan berkolaborasi dengan masyarakat, FPP ingin menyampaikan pesan bahwa melestarikan dan menjaga lingkungan adalah tugas bersama seluruh tingkatan masyarakat. “Tidak hanya mahasiswa dan kampus saja yang bertugas menjaga lingkungan, namun masyarakat luas juga memiliki andil yang besar,” jelas Mahasiswa Program studi Kehutanan itu. Dalam aksi tersebut, panitia menyediakan 4200 bibit pohon yang akan ditanam bersama oleh peserta aksi tanam pohon. Seluruh bibit pohon yang ditanam adalah tanaman endemik Pulau Jawa. “Dari berbagai daerah di Indonesia, Pulau Jawa paling banyak memiliki tanaman endemik. Selain itu, kita juga ingin memperkenalkan ke peserta tanaman apa aja yang merupakan tanaman endemik Pulau Jawa,” ungkap Asrul. Asrul menyatakan, dengan terselenggaranya acara itu FPP ingin memperkenalkan lebih mendalam tentang arboretum. “Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa ada tempat pelestarian tanaman yang bisa digunakan oleh masyarakat luas,” jelas Asrul. Banyaknya bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini, menurut Asrul merupakan salah satu akibat masyarakat belum peduli dengan lingkungan dan juga acuh terhadap kerusakan yang terjadi di lingkungannya sendiri. “Aksi ini juga ingin menyadarkan masyarakat bahwa dengan menanam pohon, lingkungan sekitar akan terjaga dan dapat mengantisipasi datangnya musibah,” jelas mahasiswa FPP UMM itu. Acara diawali dengan senam sehat, kemudian jalan santai yang berakhir di Lapangan Desa Pendem, Kecataman Junrejo, Kota Batu. Kurang dari 1000 peserta terdiri dari mahasiswa, masyarakat dan aktifis lingkungan mendukung aksi tanam pohon ini dengan mengikuti aksi itu. Kedepan, FPP akan menyerahkan pengurusan arboretum FPP UM itu pada prodi kehutanan untuk ditindaklanjuti. Secara konsep dan pelaksanaan BEM FPP UMM yang bertanggungjawab. “Namun kedepannya perawatan arboretum itu akan dikelola oleh prodi kehutanan,” ungkap Asrul.(jal/han)
UMM Adakan Workshop Pengembangan Kerjasama Internasional

KEPALA Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Ainur Rofieq MKes menyatakan, setelah sebelumnya menjadi satu-satunya kampus swasta di Indonesia yang meraih sertifikasi sebagai associate member of ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA), saat ini UMM tengah mempersiapkan Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET). Untuk itu, kata Rofiq, UMM terus berupaya melakukan continuous improvement melalui berbagai memorandum of understanding (MoU) dan memorandum of agreement (MoA) dengan beberapa kampus di luar negeri, serta melakukan pelaporan-pelaporan terkait program yang dijalankan UMM serta raihan internasional yang berhasil dicapai. Hal itu diungkapkan Rofiq pada kegiatan Workshop Kerja Sama Internasional UMM yang digelar di Hotel UMM Inn, Sabtu (17/12). Kasubdit Kerjasama Perguruan Tinggi Kemenristek Dikti Purwanto Subroto PhD yang hadir pada kegiatan ini memaparkan, ada beberapa program yang disediakan Kemenristek Dikti untuk mendorong pengembangan kerjasama internasional bagi universitas di Indonesia. Pertama, kata Purwanto, yakni perluasan peluang kerjasama perguruang tinggi. Sub program join working group misalnya, yang saat ini telah bekerja sama dengan kampus-kampus di Jepang, Australia, Perancis, China, New Zealand, Taiwan, UK, dan USA. Kedua, UMM juga dapat mengikuti pameran pendidikan tinggi dalam pengembangan network melalui NAFSA Association of International Educators dan European Association for International Education (EAIE). Dengan mengikuti pameran ini, UMM dapat menjaring calon mahasiswa asing ke Indonesia. Dalam hal ini, Kemenristek Dikti siap memfasilitasi kerjasama internasional serta menyediakan aplikasi online perijinan mahasiswa asing untuk studi di Indonesia. Sejak beberapa tahun lalu, UMM pun telah mengikuti beberapa kali pameran Indonesia Higher Education Expo (IHEE). Kemenristek Dikti juga melakukan klasifikasi peringkat universitas di Indonesia, memberi dukungan mobilitas mahasiswa, serta menyediakan aplikasi pelaporan mahasiswa. “Pada 2017 UMM saya harapkan telah memiliki program join degree dengan minimal satu atau dua program studi dengan salah satu kampus luar negeri,” dorong Purwanto dalam pemaparannya. Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya mengatakan, perjalanan panjang telah dilakoni UMM terkait kerjasama luar negeri. Namun, upaya ini tak berhenti. Saat ini, UMM tengah menggagas kelas internasional dan memetakan skema beasiswa. Terbaru, Rabu (14/12) kemarin, UMM baru saja meluncurkan Pusat Studi ASEAN. “Pusat studi ini akan berperan menjadi pilar penyangga akademik,” terangnya. Fauzan menekankan, saat ini UMM berada pada tahap pemetaan potensi di segala bidang. Rektor berharap, ada pemikiran-pemikiran integratif dari masing-masing unit, khususnya program studi sehingga menghasilkan ide-ide untuk mem-branding UMM menjadi kampus yang marketable terkait ‘penjualan’ hasil-hasil risetnya. “DPPM bisa membentuk bidang pengembangan hasil riset untuk menindaklanjuti hal ini,” ungkap Fauzan. Identifikasi pemetaan ini, lanjut Fauzan, merupakan modal kuat untuk membangun kerjasama internasional. Ke depan, UMM mencanangkan akan menggelar festival hasil riset sekaligus mengundang para pelaku industri. (ich/han)
Kerjasama UMM dengan Guangxi Normal University Tiongkok: Dari Kursus Mandarin Gratis Hingga Beasiswa Kuliah

KERJASAMA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) salah satu universitas kenamaan Tiongkok, Guangxi Normal University (GXNU), kembali berlanjut. Hal itu terungkap dalam kedatangan Rektor GXNU Qin Weiguo ke UMM untuk penandatanganan nota kerjasama (MoU), Jumat (16/12). Selain rektor, hadir pula Director of GXNU Dai Jiayi serta Deputy Director of International Admission Office, Lin Yukun. Acara MoU dirangkai dengan presentasi beasiswa serta pagelaran buadaya Cina di Auditorium UMM. GXNU merupakan kampus yang terdiri dari 22 fakultas dengan kapasitas pengajar lebih dari 2000 orang. Seperti halnya UMM, GXNU juga memiliki tiga kampus dan mampu memadai kegiatan perkuliahan sebanyak 40 ribu mahasiswa. Rektor GXNU dalam sambutannya menekankan bahwa saat ini titik fokus kampusnya yakni perluasan kerjasama internasional. “Hingga hari ini, univesitas kami telah menjalin kerjasama dengan 40 negara yang di dalamnya terdapat 200 lembaga,” kata Qin Weiguo di hadapan 300 mahasiswa UMM dan sejumlah perwakilan dari kedua belah pihak universitas. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan menyambut hangat kedatangan rombongan GXNU ke UMM. Fauzan berharap, kerjasama tidak hanya dilakukan di bidang pendidikan, namun juga kebudayaan. Bagi Fauzan, UMM sudah tidak asing dengan nuansa Cina. Hal tersebut dibuktikan dengan dikukuhkannya UMM sebagai juara umum dalam ajang Lomba Pengetahuan Tiongkok yang diselenggarakan Konsulat Jendral Cina di Surabaya pada 10 Oktober-10 November silam. “UMM menjadi juara umum dan sekaligus sebagai universitas yang mendelegasikan peserta terbanyak. Dan yang lebih menggembirakan, UMM telah menyisihkan 232 perguruan tinggi di Indonesia,” sebut Fauzan bangga. Selain penandatanganan MoU, acara bertajuk China Scholarships and Cultural Performance ini juga menampilkan sejumlah pertunjukan dari kelompok tari dan suara yang secara khusus didatangkan langsung dari Cina. Salah satunya tembang tradisional Cina, Flying Song yang dibawakan guru Wen Zhezhao. Flying Song merupakan salah satu jenis lagu tradisional suku Miao, terkenal di daerah Tai Jiang, Jian He, dan Kai Li; daerah tenggara Provinsi Gui Zhou. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh pemuda-pemudi untuk saling berkomunikasi. Lagu ini juga sering dinyanyikan dalam acara pernikahan dan hari raya daerah setempat untuk memeriahkan suasana. Sebelumnya, antara UMM dan GXNU selama ini sudah menjalankan skema kerjasama dengan didirikannya Pusat Bahasa Mandarin atau China Corner di Perpustakaan Pusat UMM. “Menariknya, bagi peserta kursus bahasa mandarin yang dapat mencapai tingkat intermediate atau menengah, berkesempatan memperoleh beasiswa guna mempelajari bahasa Mandarin di tempat asalnya, Cina. Demikian sebaliknya, saat ini Guangxi Normal University juga mengirim dua dosennya untuk mengajarkan Bahasa Mandarin di UMM,” terang Suparto, Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM. (ich/han)
PGSD Perkenalkan Batik pada Mahasiswa Internasional

UJIAN akhir tidak melulu berhadapan dengan kertas dan menghafal banyak teori. Contohnya Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengadakan fashion show dan pameran ketrampilan bernuansa kearifan lokal sebagai ujian akhir semester (UAS) salah satu mata kuliahnya. Kegiatan ini dikemas dengan konsep Indonesian Pageants atau pagelaran Indoensia. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium UMM, Kamis (15/12) ini kemasan tugas UAS mata kuliah pendidikan seni budaya dan ketrampilan. Menurut dosen pengampu mata kuliah tersebut, Dr Arif Budi Warianto MSi, Indonesian Pageants adalah uji komperehensif mata kuliah. Dalam acara ini, mahasiswa dituntut menyelenggarakan suatu acara yang mengangkat inovasi batik dan ketrampilan tradisional. Tidak hanya memperkenalkan batik pada mahasiswa UMM saja, tapi juga pada masyarakat internasional. Justru, target utama pagelaran seni ini adalah mahasiswa asing yang sedang belajar UMM. Menurut Arif, dengan bergabungnya mahasiswa asing dalam acara ini, maka mahasiswa PGSD telah melakukan diplomasi budaya pada masyarakat internasional. “Nantinya, para mahasiswa asing ini akan menginformasikan ke negara mereka masing-masing tentang batik dan filosofinya,” ungkap Arif. Semua yang ditampilkan di sini, lanjut Arif, murni merupakan hasil kerja mahasiswa PGSD angkatan 2013. “Mulai dari konsep acara, inovasi batik yang ditampilkan tiap kelompok, semua dikerjakan oleh mereka sendiri,” jelas Arif yang juga kepala Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM ini. Dalam acara yang bertemakan “Batik Warisan Budaya Dunia” ini, Arif juga menyampaikan, Indonesian Pageants merupakan bentuk pengenalan konsep pendidikan terintegrasi dengan seni dan budaya. Ada tiga karakter yang ingin ditanamkan Arif pada mahasiswanya. Pertama, karakter kerjasama, disiplin dan rela berkorban. “Tiga karakter itu adalah karakter yang ingin dicapai, sehingga mahasiswa dapat mempraktekkan teori yang sudah mereka pelajari dalam kelas,” jelas Arif. Menurut Arif, acara ini juga memberikan pengalaman estetik yang akan selalu teringat oleh mahasiswa. Dalam teori assessment, dengan mahasiswa mempraktekkan teori yang didapat dalam kelas, maka akan melekat kuat dan akan lebih paham. Sekretaris prodi PGSD, Dyah Worowirastri Ekowati MPd mengapresiasi tinggi atas terselenggarakannya Indonesian Pageants ini. Dyah menjelaskan, batik memiliki seribu filosofi yang sangat mendalam. “Tema batik yang diangkat sangat cocok untuk pemuda. Karena batik mengandung arti kecermatan, kekuatan, keseriusan dan ketelitian,” jelas Dyah. Dalam acara itu juga dipamerkan ketrampilan dari olahan batik seperti dompet dari kain batik dan semacamnya. Juga dipamerkan karya seni anyaman, lukisan dan juga foto tentang budaya Indonesia. Tak ketinggalan tari-tari tradisional juga diperlihatkan oleh mahasiswa PGSD. (jal/han)
UMM Resmi Launching Pusat Studi ASEAN

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi melakukan launching pendirian Pusat Studi ASEAN (PSA), Rabu (14/12). Launching PSA ini menindaklanjuti Memorandum of Understading (MoU) yang telah ditandatangani Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi dan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Jose Tavares di Jakarta, Kamis (1/12). Penandatanganan nota kesepahaman tersebut akan melandasi kerja sama kedua belah pihak dalam melaksanakan berbagai kegiatan yang terkait dengan kerja sama ASEAN. Beberapa bentuk kerja sama akan dilakukan dalam bidang pendidikan, penelitian, pengkajian ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat. Ruang lingkup kerja sama tersebut di antaranya pendidikan, pelatihan, lokakarya, seminar, penelitian, publikasi dan penerbitan karya akademik untuk mempromosikan kerja sama ASEAN kepada para pemangku kepentingan secara luas. Dengan berdirinya PSA UMM, saat ini telah terbentuk 34 PSA yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dalam sambutannya, rektor UMM Fauzan menyatakan pembukaan yang terpenting adalah fokus yang akan dikembangkan. “Meski PSA UMM bukan yang pertama, tapi persoalan bukan pada urutan, melainkan bidang apa yang akan diangkat dan bisa memberi kontribusi nyata untuk bisa bersama-sama memajukan ASEAN,” tuturnya. Dosen program studi Hubungan Internasional (HI) Dyah Estu Kurniawati SSos MSi,yang juga sebagai pemateri seminar menyatakan, salah satu hal yang terpenting dalam kerjasama ASEAN adalah membuat jejaring. Hal ini karena penduduk Indonesia menempati 40 persen dari jumlah penduduk di ASEAN, tetapi daya saing Indonesia masih tergolong rendah. “Learning dan networking adalah hal yang penting guna menghadapi keterbukaan ekonomi, politik, keamanan, dan sosial budaya dalam kerangka Masyarakat ASEAN yang tengah berjalan. Oleh karenanya, pembentukan PSA di UMM ini menjadi salah satu langkah untuk mempersiapkan diri,” ujarnya. Ditjen Kerja Sama ASEAN, Ashariyadi menyatakan ada tiga hal yang akan menjadi pilar pengembangan di Asean, yakni pilar politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Mempersiapkan hal itu, peluncuran PSA UMM ini dinilai Ashariyadi strategis. “Kampus sekaliber UMM adalah kampus yang strategis yang langkahnya sudah mengglobal. Tidak ada keraguan untuk membuka PSA di kampus putih ini,” ungkapnya. Launching PSA ini dirangkaikan dengan seminar bertajuk “Perkembangan Kerjasama Masyarakat ASEAN: Peluang dan Tantangan Bagi Daerah” yang digelar di Theater UMM Dome. Hadir sebagai pembicara sekretaris Ditjen Kerja Sama ASEAN, Ashariyadi dan Dosen Prodi Hubungan Internasional UMM, Dyah Estu Kurniawati. Acara dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai kalangan, di antaranya instansi pemerintahan, organisasi otonom Muhammadiyah, pelaku Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), perwakilan PSA perguruan tinggi di Jawa Timur, mahasiswa, serta sivitas akademika UMM. (ich/han)
Dosen UMM Jadi Duta Perdamaian Agama Dunia

DOSEN Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Pradana Boy MA baru saja mendapatkan kesempatan prestisius sebagai international fellow in interreligious dialogue oleh King Abdullah bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID) yang berpusat di Wina, Austria. KAICIID didirikan oleh empat pemerintahan yaitu Pemerintah Saudi Arabia sebagai penyandang dana utama, didukung Pemerintah Republik Austria, Kerajaan Spanyol dan Tahta Suci Vatikan. “Istilah international fellow sendiri memang agak sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara tepat. Namun, jika dilihat konteksnya, saya berperan sebagai duta perdamaian antaragama internasional,” terang Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM ini. Pradana Boy akan mengemban tugas ini selama satu tahun. Pertemuan pertama sudah berlangsung beberapa pekan lalu, yaitu pada 26 November hingga 5 Desember 2016 lalu di Wina yang melibatkan para pemimpin agama dunia. Pertemuan selanjutnya dilakukan di Bali sekitar Maret dan April 2017. Setelah pertemuan kedua di Bali, masing-masing duta akan mendapatkan tugas untuk menyelenggarakan kegiatan yang bermuara kepada dialog antaragama dan perdamaian agama dengan dukungan penuh dari KAICIID. “Pada pertemuan pertama, kami secara intensif membicarakan persoalan-persoalan penting yang sering menjadi penghalang terjadinya hubungan yang harmonis antaragama dan kebudayaan di dunia. Di sini, para pemimipin agama dunia dipersilahkan mengemukakan pandangan mereka selama ini terhadap agama lainnya,” kata Pradana. “Misalnya, peserta dari agama Hindu dan Budha dipersilahkan mengemukakan pandangannya tentang Islam. Demikian pula perwakilan Islam, diberikan kesempatan yang sama mengonfirmasi soal-soal sensitif pada peserta dari Yahudi, Nasrani, Budhisme, dan Hinduisme,” papar doktor lulusan National University of Singapore (NUS) ini. Pranada menjelaskan, suasana forum berlangsung dialogis tetapi sesekali bisa memicu ketegangan. Misalnya, lanjutnya, hampir semua peserta dari non-Islam selalu mempertanyakan tentang kesan Islam sebagai agama pembawa kekerasan. Demikian juga, ada pula yang menanyakan tentang seluk beluk hukum Islam, termasuk hukum qishash, misalnya. Isu-isu sensitif lain juga tidak lepas dari perbincangan, seperti soal konflik Palestina-Israel, atau isu tentang pembantaian ras (genocide) di Myanmar. Namun, karena tujuan utama adalah mencari jalan keluar dan mengampanyekan perdamaian, munculnya isu-isu sensitif itu tidak sampai mengganggu jalannya dialog. Dari Indonesia, selain Pradana, yang juga terpilih sebagai international fellow yaitu Alissa Qatrunnada Munawaroh atau sering dikenal dengan nama Alissa Wahid, putri pertama mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kedua tokoh Muslim ini terpilih sebagai duta internasional bersama 22 tokoh lainnya yang berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Belanda, Lebanon, Saudi Arabia, India, Nigeria, Uganda, Bangladesh, Tanzania, Rwanda, Filipina dan Myanmar. Selain mewakili agama-agama yang sudah populer di Indonesia yaitu Islam, Kristen, Hindu, Budha, ada pula perwakilan dari Yahudi dan Sikhisme. Melalui kegiatan ini, kata Pradana Boy, peluang melibatkan Muhammadiyah sangat besar. “Muhammadiyah merupakan organisasi Islam moderat yang menyerukan perdamaian dan toleransi intra dan antaragama. Jadi sangat sejalan dengan program ini,” kata Pradana. Setelah rangkaian kegiatan yang berlangsung di sejumlah negara, tim ini juga akan kembali bertemu secara formal untuk terakhir kalinya di Wina, Austria, pada akhir 2017. Meskipun secara resmi program ini berakhir, sebenarnya tugas besar para duta internasional perdamaian dan dialog antaragama ini tidak berhenti di situ. Karena, pada tahap berikutnya, mereka akan tergabung dalam jaringan International KAICIID Fellow Network yang bertugas untuk mempromosikan perdamaian antaragama melalui berbagai cara. Salah satunya adalah pertukaran kuliah. Dalam arti, seorang fellow dari agama tertentu akan diundang untuk memberikan kuliah kepada komunitas yang bukan dari agamanya untuk mengurai berbagai kesalahfahaman dan prasangka yang seringkali mewarnai hubungan antaragama. “Salah satu faktor penghalang kedamaian dan hubungan harmonis antaragama adalah prasangka dan kesalahfahaman. Hanya dengan dialog intensif, keduanya bisa diatasi dan kedamaian serta hubungan harmonis antaragama bisa dicapai,” tutup Pradana. (can/han)