PSIF Hidupkan Literasi Kritis Anak Muda

KECEPATAN penyebaran informasi melalui media sosial dan media online mengharuskan kita mencerna informasi secara lebih bijak dan kritis. Sebagai kelompok pribumi digital (digital native), kaum muda diharapkan menjadi aktor utama penggerak kedua media tersebut melalui literasi kritis. Merespon hal tersebut, Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Jaringan Islam Muda Muhammadiyiah (JIMM) menggelar diskusi gerakan literasi Muhammadiyah, Sabtu (10/12)di Ruang Sidang Senat UMM. Kepala PSIF UMM Dr Pradana Boy MA menyatakan, diskusi ini merupakan upaya untuk menghidupkan tradisi intelektual, khususnya di kalangan kaum muda. Menurut Pradana, membangun tradisi intelektual itu tidaklah mudah, perlu metode yang serius. Melalui cara ini, PSIF sekaligus hendak mengenalkan pada publik bahwa UMM gencar memperkaya khazanah intelektual melalui forum-forum diskusi. “Diskusi literasi adalah tradisi yang tengah kami bangun secara masifdan konsisten. Jika sebuah gerakan kecil dikerjakan secara konsisten maka gerakan tersebut akan membawa dampak yang besar bagi masyarakat,” jelas peraih gelar doktor dari Natonal University Singapore (NUS) ini. Agar tradisi ini kian kuat, pada 2017, PSIF akan mengadakan call for paper untuk kalangan muda untuk menulis dan berbicara tentang pemikiran maupun isu-isu terkini. Pradana berharap, sebagian besar narasumber yang berbicara adalah anak muda. “Selain itu, kami juga akan menghadirkan pembicara ahli sesuai dengan tema yang diangkat. Para ahli dihadirkan bisa dari internal UMM atau pakar dari luar UMM,” ungkap Pradana. PSIF, lanjut Pradana, sengaja memperbanyak pembicara dari kalangan muda agar terjadi regenerasi bagi UMM, lebih-lebih untuk bangsa. Pradana berpandangan, di setiap seminar yang dilihat pertama kali adalah pembicaranya, jika pembicaranya tidak terkenal maka yang datang akan sedikit. “Jika yang berbicara di setiap seminar generasi tua terus, lantas kapan pemuda Indonesia akan berkembang dan memiliki keahlian lebih,” jelasnya lebih lanjut. Menurut Pradana, dengan diberikannya wadah bagi pemuda untuk pembicara, maka secara tidak langsung akan menumbuhkan potensi intelektual yang dimilikinya. Pradana juga menyatakan,pemuda harusnya menjadi arus bagi masyarakat. Yaitu menjadi penggerak bukan hanya penghibur. “Jika pemuda hanya menjadi buih, maka fungsinya hanya nampak dipermukaan dan tidak membawa kebaikan bagi masyarakat,” jelas dosen yang pernah mengenyam pendidikan master di Anustralian National University (ANU) ini. Diskusi literasi ini dibagi dua sesi. Sesi pertama bedah buku “Benturan Ideologi Muhammadiyah” oleh sang penulisSolihul Huda dan peneliti PSIF UMM Haeri Fadly. Pada sesi kedua dilanjutkan diskusi bertema “Muhammadiyah dan Literasi di Era Media Sosial” oleh direktur riset Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) UMM Nafi’Muthohirin, pendiri Reading Group for Social Transformation (RGST) Hasnan Bahctiar dan staf Humas UMM Subhan Setowara. (jal/han)

Analogikan Semangat Korea Selatan, Rektor Minta Mahasiswa Berlari Kejar Prestasi

DENGAN mengutip salah satu falsafah hidup yang dijunjung masyarakat Korea Selatan, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan mengajak seluruh mahasiswa untuk senantiasa berprestasi dalam setiap kesempatan. Menurutnya, negara bekas jajahan Jepang itu hingga kini tetap berprinsip untuk tidak menggunakan produk penjajahnya itu. “Korea selatan lebih memilih untuk berdaulat, memilih untuk bisa berdiri sendiri. Semboyan yang dimilki Korea Selatan yakni, ‘Kalau Jepang tidur, Korea harus bangun. Kalau Jepang bangun, Korea harus berjalan. Kalau Jepang berjalan, Korea harus berlari. Demikian pula kalau Jepang berlari, maka Korea harus terbang,” tutur Fauzan saat menutup kegiatan Student Day di UMM Dome, Sabtu (10/12). Pada kegiatan ini, setelah melalui proses monitoring dan evaluasi terhadap sejumlah panitia lembaga mahasiswa selama pelaksanaan Student Day 2016 dua bulan terakhir ini, panitia universitas telah menetapkan sejumlah daftar pemenang. Fakultas Kedokteran (FK) menjadi juara pertama Panitia Penyelenggara Student Day Terbaik. Disusul di posisi ke-2 dan ke-3 secara berurutan diraih Fakultas Psikologi (FPsi) dan Fakultas Kesehatan (FIKES). Fauzan menegaskan, pelaksanaan Student Day yang dirancang UMM bertujuan mendeteksi bakat dan potensi yang mahasiswa miliki. “Hasil diagnosis itu dimaksudkan untuk dijadikan dasar pengembangan minat dan bakat yang telah saudara miliki,” kata Fauzan. Student Day juga dimaksudkan, sambung Fauzan, menggembleng mahasiswa UMM guna mempersiapkan diri menjadi seorang pemimpin, baik pemimpin formal maupun pemimpin informal. “Karena Student Day yang kita kemas merupakan rangkaian yang tidak hanya sekedar kegiatan transfer knowledge yang berorientasi pada keterampilan, namun kegiatan ini juga untuk mengantarkan saudara menjadi mahasiswa yang memiliki karakter, dan saudara pada akhirnya diharapkan juga menjadi seorang pemimpin yang berkarakter,” seru Fauzan. Meski secara seremonial pelaksanaan Student Day sudah ditutup, Fauzan berharap, prestasi-prestasi yang mahasiswa miliki tidak boleh berhenti sampai di situ. “Jadilah mahasiswa yang selalu berprestasi,” pesan Fauzan. Di waktu yang bersamaan, diumumkan pula kategori lomba Menejemen Penataan Ruang Lembaga Kemahasiswaan yang menobatkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa sebagai juara pertama. Di posisi berikutnya, yakni ke-2, diraih oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuntansi, serta di posisi ke-3 diraih oleh Senat Fakultas (Sefa) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Selain itu, diumumkan juga pemenang kategori UKM Pelaksana Kegiatan Student Day terbaik. UKM Pramuka di posisi pertama, Resimen Mahasiswa di posisi ke-2 dan posisi ke-3 diraih UKM Divisi Mahasiswa Pecinta Alam (DIMPA).  Masing-masing pemenang mendapat penghargaan berupa sertifikat dan uang pembinaan. Lantunan tembang “Dia” yang dibawakan Rektor UMM  menandai ditutupnya gelaran Student Day 2016 yang telah digelar sejak 10 Oktober lalu ini. Selain “Dia”, Rektor juga secara khusus membawakan tembang “Malam Terakhir” dengan mengajak serta mahasiswa putri untuk bernyanyi bersamanya di atas panggung. (can/han)

Jatim Dominasi Kejurnas Tapak Suci 2016

KONTINGEN Jawa Timur (Jatim) dikukuhkan sebagai Juara Umum pertama dalam gelaran Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Golongan Remaja VI Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Kamis (8/12). Jatim menyapu bersih 2 kategori sekaligus, yakni Tanding dan Seni.  Momen membanggakan tersebut langsung disambut gegap gempita peserta kontingen Jatim pasca diumumkan di Hall Dome Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagai juara umum, Pimpinan Wilayah (Pimwil) Tapak Suci Putera Muhammadiyah Jatim memperoleh 2625 poin dengan menggondol 14 emas, 7 perak dan 7 perunggu. Sementara di  urutan ke-II diraih kontingen Pimwil Jawa Tengah dengan perolehan 1375 poin dan membawa 7 emas, 5 perak dan 3 perunggu, serta Juara Umum III diraih kontingen Pimwil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan perolehan 1300 poin dan membawa 5 emas, 6 perak, 10 perunggu. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Tapak Suci Putera Muhammadiyah M. Afnan Zamhari menyatakan bahwa event kejuaraan ini dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan para pendekar membina anak didiknya. “Pasca ini, semoga dapat menjadi bahan evaluasi untuk menjadikan para kader lebih baik lagi kedepannya,” kata Afnan. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan,berpesan bahwa ajang kompetisi bela diri yang sedang peserta ikuti setidaknya memiliki 2 misi. Pertama, misi keorganisasian. Menurutnya, diadakannya Kejurnas ini tidak lepas dari misi Kemuhammadiyahan. “Karena saudara merupakan duta Muhammadiyah di bidang bela diri, maka saudara memiliki tanggungjawab untuk menjadikan bela diri ini tidak hanya sekedar dapat membela diri, tapi juga membela persyarikatan,” papar Fauzan. Selain misi keorganisasian, lanjut Fauzan, kompetisi bela diri ini memiliki misi Keislaman. “Saudara harus menjadi orang yang bermanfaat. Kalau sekarang ini saudara berkompetisi, sebenarnya hal itu tidak lain memberikan pendidikan kepada saudara-saudara bahwa hidup ini harus berkompetisi untuk kemudian menjadikan saudara sebagai seorang pemenang,” ujarnya. Fauzan juga berpesan untuk para pemenang agar tidak membanggakan diri dan bersikap sombong. “Setiap kompetisi pasti ada yang kalah dan menang, namun pada hakikatnya semuanya adalah pemenang,” pungkasnya. (can/han)

Mahasiswa FEB Sasar Wirausaha Kuliner dan Industri Kreatif

KULINER dan industri kreatif menjadi tren wirausaha anak muda dewasa ini, karena memiliki potensi yang amat menjanjikan. Untuk itu, melalui bazaar wirausaha, Program Studi D3 Keuangan dan Perbankan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berupaya memberi kesempatan bagi mahasiswanya untuk berkarir di bidang tersebut. Pada kegiatan yang diadakan di depan Gedung Kuliah Bersama II, Selasa (6/12) itu, produk yang ditawarkan beraneka rupa, meski didominasi kuliner. Menyajikan stan-stan kreatif mahasiswa D3 Keuangan dan Perbankan yang tengah menempuh matakuliah Kewirausahaan. Semuanya adalah mahasiswa tingkat akhir, yakni semester 5. “Ini adalah bentuk praktikum matakuliah Kewirausahaan. Mahasiswa diminta menuangkan ide kreatif wirausaha melalui bazaar ini. Tujuannya untuk membekali kemampuan mengawali dan mengembangkan wirausaha pada tahap pemula,” ungkap Yunan Syaifullah MSc, salah satu dosen yang tengah melakukan penilaian stan bazaar. Bazaar ini tak serta-merta digelar. Di minggu awal perkuliahan, mahasiswa diminta membuat proposal bisnis sebagai pengantar. Kelompok mahasiswa dengan proposal yang layak lalu maju untuk menyusun konsep bazaar. Selanjutnya, setelah Ujian Tengah Semester, barulah bazaar ini digelar. Total, 25 stan terpilih dari 3 kelas yang ada. Masing-masing stan digawangi oleh 4-5 mahasiswa. Meski merupakan bagian dalam praktikum, tapi tak semua stan yang dipamerkan kemarin merupakan stan ‘dadakan’. Di ujung utara stan, berdiri sebuah stan yang menjual beragam pakaian dan asesoris khas distro, Diamond Goblin namanya. Ternyata, stan ini adalah salah satu wirausaha yang dikembangkan mahasiswa di luar perkuliahan. Tak Cuma itu, sebuah stan yang menamakan diri Mix juga merupakan stan yang sehari-hari beroperasi dalam bentuk café kecil di daerah Sawojajar. Ini adalah inisiatif produktif dari 3 mahasiswa yang merupakan rekan sekelas. “Sudah mencoba wirausaha meski saat itu belum jadi mahasiswa. Mumpung masih muda,” ujar Gery Ardiansyah, mahasiswa semester 5 itu. Ada beberapa poin yang menjadi penilaian dosen, di antara produk kreatif, produk konsinyasi, harga, keindahan, kebersihan, kemampuan deskripsi produk, dan promosi. Yunan menilai, tema kuliner yang paling banyak disajikan mahasiswa merupakan bentuk kebutuhan dasar dan pasar masyarakat saat ini. “Harapannya, mahasiswa nanti punya bekal dan kemampuan serta bisa mengawali untuk jadi wirausahawan pemula. tak sebatas memulai, tapi juga bisa menindaklanjuti bisnis tersebut,” pungkas Yunan. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang digelar di lantai 4 GKB II, bazaar kali ini digelar di depan GKB II. Lokasi strategis yang dipilih menjadikan bazaar ini ramai dikunjungi mahasiswa maupun dosen UMM yang tengah melintas. Sehingga, rencana awal bazaar ditutup pukul 15.30, namun tengah hari ternyata sudah tutup lantaran dagangan sudah luders terjual. (ich/han)

Hadirkan KASAL Laksamana Ade Supandi, FH UMM Dorong Diplomasi Maritim

DENGAN dua pertiga luas wilayahnya berupa lautan, tak heran jika Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang memiliki kekayaan potesi laut yang luar biasa. Pontensi inilah yang menurut Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL) Laksamana Ade Supandi membuat Indonesia digadang menjadi Poros Maritim Dunia (PMD). Hal ini disampaikan Ada saat bertindak sebagai keynote speaker dalam gelaran Seminar dan Call for Paper bertema “Kebijakan Hukum Kelautan dalam Rangka Penguatan Diplomasi Maritim” yang diselenggarakan Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (7/12). Hingga kini, menurut Ade, masih jadi perdebatan apakah Indonesia lebih cocok untuk disebut negara agraris atau negara maritim. Dengan mengutip Al-Quran, Ade menyebut tema laut dibahas sebanyak 33 ayat, sementara itu 11 ayat berbicara tentang darat. Sementara itu kontruksi bumi juga 2/3-nya terdiri dari lautan, sedangkan sisanya yang 1/3 merupakan daratan. “Sama halnya dengan Indonesia. Luas wilayah Indonesia 2/3-nya berupa lautan, sedangkan 1/3 merupakan daratan. Maka, Indonesia bisa jadi merupakan miniaturnya dunia,” katanya di hadapan 115 peserta seminar yang terdiri dari Dekan Fakultas Hukum se-Malang Raya, dan sejumlah mahasiswa strata 1 dan strata 2 ini. Catatan sejarah merekam bukti-bukti, lanjut Ade,  bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah menguasai lautan Nusantara, bahkan mampu mengarungi samudra luas hingga ke pesisir Madagaskar dan Afrika Selatan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia hasil Sensus tahun 2010 sejumlah 237.641.326 orang. Sementara, hanya 10% dari jumlah tersebut yang bergiat di bidang maritim.  “Sehingga,” sambung Ade, “sebagai bentuk tanggung jawab perguruan tinggi, UMM juga didorong untuk ikut andil dalam memajukan bidang kemaritiman Indonesia,” ujarnya. “Siapa yang mengendalikan laut, dia akan mengendalikan perdagangan. Dan barangsiapa mengendalikan perdagangan, maka dia mengendalikan kekayaan dunia, dan sebagai hasilnya dia akan menguasai dunia,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI), Dr. Laksanto Utomo, SH., MH. menegaskan terselenggarakannya kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Rektor UMM Drs. Fauzan, M. Pd berharap, gelaran ini nantinya dapat menghasilkan format yang benar-benar ditunjukan untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia. Acara sendiri dibagi menjadi 3 sesi. Sesi pertama berupa seminar nasional terkait Pencapaian dan Strategi Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia. Sesi ini menghadirkan Joni Junaedi (Kasubdit Dukungan Operasi Laut BAKAMLA) yang disandingkan dengan Dr. Surya Anoraga,SH., M.H (Dosen Fakultas Hukum UMM). Di sesi ke-dua, kajian diarahkan pada Format Hukum Kebijakan Hukum Kelautan Nasional yang diisi oleh Prof Hikmahanto Yuwana, SH., LL.M., Ph.D (Profesor Hukum dan Hubungan Internasional Universitas Indonesia), Tommy Hendra Purwaka, SH., LL.M, Ph.D (PakarHukum Laut Internasional), juga Dr. Iur Damos Dumoli Agusman, SH., M.A.  (Sekdir Jendral Hukum dan Perjanjian Internasional, Kementrian Luar Negeri RI). Pada sesi terakhir, kegiatan diisi oleh pemaparan 19 peserta Call For Papers yang lolos seleksi dengan tema yang telah ditetapkan sebelumnya. (Humas UMM)

Hasil Karya Tugas Kuliah, Mahasiswa Agronomi Pamerkan Tanaman dalam Pot

PRODI Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM membuat inovasi baru dalam salah satu praktikumnya. Hasil praktikum mahasiswa agroteknologi UMM dipamerkan di depan Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM. Beberapa karya yang dipamerkan yaitu taman mini dalam pot dan taman mini dalam aquarium. Pameran tersebut merupakan realisasi mata kuliah arsitektur pertamanan. Sebanyak 63 karya mahasiswa semester 5 prodi Agroteknologi dipamerkan selama satu pekan (5-10/12). Praktikum yang dikerjakan adalah membuat dish garden dan teratorium. Dosen pengampu mata kuliah tersebut, Dr Ir Fatimah Nursandi MSi menjelaskan, dish garden adalah tanaman yang berada di dalam pot. Sedangkan, teratorium adalah tanaman yang berada di media yang transparan. Fatimah menjelaskan, pameran tersebut memiliki tujuan agar mahasiswa dapat mengerti bagaimana merawat tumbuhan dengan benar dan bagaimana mendesain tanaman dalam wadah yang ukurannya kecil. “Praktikum ini diadakan dengan tujuan agar mahasiswa mengerti bagaimana mengelola lingkungan sekaligus dapat belajar berwirausaha,” jelas dosen FPP UMM tersebut. Sebelumnya, mahasiswa prodi Agroteknologi juga diajak untuk terjun langsung ke lapangan dengan membuat taman instan. “Biasanya pada kegiatan seperti wisuda yang mengatur tamannya adalah mahasiswa agroteknologi yang sedang menempu mata kuliah ini,” jelas Fat, panggilan akrabnya. Fatimah menjelaskan, dengan memberikan penugasan dan dipamerkan maka mahasiswa tidak sembarangan dalam pembuatan tugas pertamanan tersebut. Banyak hal yang ingin dicapai dalam praktikum ini, lanjut Fatimah, diantaranya kesadaran mahasiswa tentang peluang usaha dalam bidang pertamanan sangat besar. Tidak hanya itu, Fatimah juga ingin mahasiswa mulai memperhatikan jenis-jenis tanaman disekitarnya. “Dish garden atau teratorium yang dibuat minimal dapat bertahan selama 3 bulan dan maksimal selama satu tahun,” ungkap Fatimah. Mahasiswa juga dididik berwirausaha dengan menjual karya praktikum tersebut sesuai dengan pengeluarannya. Hingga saat ini, lanjut Fatimah, sudah ada 9 tanaman yang terjual dari 63 tanaman yang di pamerkan, dan kemungkinan akan masih terus bertambah. Fat menganjurkan kepada mahasiswa untuk memberikan harga sesuai dengan biaya, tenaga dan pikiran yang telah dikeluarkan. “Tidak hanya balik modal saja yang penting, namun juga bagaimana mahasiswa bisa menghargai pemikiran dan tenaganya sendiri juga bagian penting,” jelasnya lebih lanjut. Tugas praktikum tersebut akan dilanjutkan dalam Program Keatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K). “Nantinya, produk praktikum itu akan diletakkan di setiap meja pejabat kampus seperti kantor wakil rektor atau wakil dekan untuk teratorium. Sedangkan untuk dish garden nanti akan diletakkan di tempat yang strategis seperti di depan kantor rektorat atau di depan kantor wakil rektor,” ujar Fat. (jal/han)

DPPM Dorong Dosen Perbanyak Menulis Buku Ajar

PENTINGNYA publikasi hasil penelitian dalam bentuk buku ajar mendorong Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (DPPM UMM) mengadakan Workshop Penulisan Buku Ajar Berkualitas bagi dosen UMM, Selasa (6/12).   Workshop ini menghadirkan Guru Besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM), Prof Dr Imam Suyitno MPd yang disandingkan dengan dosen program studi (Prodi) Bahasa Indonesia Dr Hari Windu MSi. Kegiatan diikuti 64 dosen yang sebelumnya telah mengajukan proposal pengajuan pembuatan buku ajar melalui program Intensif Program Penulisan Buku Ajar di Perguruan Tinggi (IPBA PT). IPBA PT sendiri merupakan kegiatan mempublikasian hasil penelitian civitas akademika UMM melalui kegiatan penulisan buku ajar yang ber-ISBN sebagai referensi perkuliahan di PT dan pengayaan wawasan masyarakat secara umum. Sebagaidosen, kata Imam, alangkah disayangkan jika bahan ajarnya yang dipergunakanbertahun-tahun tidak dibuat menjadi buku ajar.“Kalau kita ngajar bertahun-tahun tidak membuat buku kok eman-eman,” ujar Imam. Selain itu menurut Imam, dalam penulisan buku ajar, isinya setidaknya harus melingkupi tiga bagian. Yakni halaman pendahuluan, halaman nas (batang tubuh), dan halaman penyudah. Baginya, buku ajar yang bagus adalah bukuyang selesai ditulis. “Saya siap menjadi konsultan dalam penulisan buku ajar Bapak dan Ibu sekalian,” tegasnya. Sementara itu, Hari Windu menyoroti aspek kebahasaan dan laras penulisan. “Meski sudah berstatus dosen,banyak yangmasihmenganggap soal kebahasaan bukan hal yang penting,” serunya. Sehingga untuk memulai pembuatan buku ajar, Hari Windu mengajak seluruh peserta yang hadir untuk kembali mempelajari kaidah berbahasa yang baik dan benar. Salah satu yang patut diperhatikan antara lain perihal keterpahaman dan keterbacaan kalimat. “Keterpahaman dan keterbacaan kalimat bisa dinilai dari seberapa panjang kata yang kita digunakan, akan mempengaruhi pemahaman pembaca. Selain tentu juga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) seperti ejaan, tata bunyi, tata bahasa yakni pembentukan kalimat, juga penyusunan alinea dan paragraf,” pungkasnya. (can/han)

Keluarga Besar UMM Rayakan Milad Muhammadiyah

MERAYAKAN peringatan milad Muhammadiyah ke-107 Hijriyah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar resepsi peringatan milad yang diikuti seluruh keluarga besar berserta unit bisnis yang dimuliki UMM. Resepsi digelar di UMM Dome, Jumat (2/12). Turut hadir dalam perayaan ini Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr H Abdul Mu’ti MEd, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Dr H Saad Ibrahim MA, Bupati Kabupaten Malang Rendra Kresna, Rektor UMM Fauzan, dan seluruh organisasi otonom Muhammadiyah di Malang Raya. Abdul Mu’ti dalam pidatonya menyatakan, lulusan Muhammadiyah sudah ada yang menjadi bupati, bahkan menteri. Mu’ti berharap, UMM akan mampu melebarkan kiprah dan memerankan peran di kancah internasional. Sebagai kampus yang dibanggakan Mu’ti, ia mengaku kerap menceritakan UMM di forum-forum internasional. “Sudah saatnya UMM berpikir untuk Malang Raya, Jawa Timur, Indonesia, bahkan dunia. Sebagai the largest Moslem modernist movement in the world, harapan dunia pada Muhammadiyah pada umumnya dan UMM pada khususnya, sangat besar,” pungkas Mu’ti. Rektor UMM Fauzan menjelaskan, milad Muhammadiyah di UMM ini merupakan salah satu bentuk UMM untuk terus meneguhkan niatnya dalam membangun persyarikatan untuk bangsa. “Silaturahim ini diadakan juga sebagai wadah untuk menyambung keakraban antara civitas akademika UMM, masyarakat dan warga Muhammadiyah di Malang Raya,” jelas Fauzan. Saad Ibrahim menyatakan, di usianya yang ke 107 tahun itu, Muhammadiyah tak boleh melupakan bagian-bagian terkecil yang telah membesarkan namanya. Menurutnya, bukan hanya bermilad saja yang perlu dilakukan. Namun, sekolah-sekolah di pelosok yang belum tersejahterakan juga perlu untuk diperhatikan oleh Muhammadiyah ke depan. “Saya lihat UMM tidak meninggalkan hal yang kecil-kecil tersebut. Kebermanfaatan UMM bagi masyarakat terus ada,” jelas Saad saat menyampaikan sambutannya. Sementara itu dengan adanya jargon Muhammadiyah gerakanku, mengacu pada potongan lirik Mars Muhammadiyah tersebut, menurut Bupati Rendra tepat jika Muhammadiyah menamai diri sebagai sebuah gerakan dan bukan hanya organisasi. Pasalnya, tanpa menunggu perintah, Muhammadiyah sudah bergerak di semua sisi kehidupan masyarakat secara masif. “Muhammadiyah hadir dan bergerak di semua sisi kehidupan, menjadikan masyarakat mandiri. Tak hanya taat pada asaz dan aturan, tapi juga membentuk masyarakat madani membentuk negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ungkapnya. Rendra menambahkan, UMM menjadi bagian tak terpisahkan dari gerakan masif itu. UMM telah membentuk pemimpin-pemimpin bangsa di berbagai bidang. Rendra menjadi salah satunya. Pria berkacamata ini adalah alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM. (ich/jal/han)

Kemenlu RI dan UMM Bentuk Pusat Studi ASEAN

BEKERJA sama dengan Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN (KSA) Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia (RI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan segera mendirikan Pusat Studi ASEAN (PSA) di UMM. Memorandum of Understading (MoU) kedua pihak telah ditandatangani Kamis (1/12) di Gedung Kementrian Luar Negeri, Jakarta, oleh Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin M Si dan Dirjen KSA ASEAN Kemenlu RI, I Gusti Agung Wesaka Puja. “Selepas pembentukan pusat studi, beberapa kerjasama di bidang pendidikan, penelitian, pengkajian ilmiah, dan pengabdian masyarakat juga akan dikembangkan,” terang Syamsul.  Ruang lingkup kerjasama di antaranya publikasi dan penerbitan karya akademik, seperti jurnal, majalah, dan buku mengenai hubungan dan kerja sama regional ASEAN. Penandatanganan MoU dilakukan dengan 11 universitas lainnya. Saat ini, telah terbentuk 22 PSA yang tersebar di berbagai daerah di tanah air. Sesuai kesepakatan, lanjut Syamsul, langkah awal dari MoU ini yaitu kuliah umum masyarakat ASEAN di UMM pada 14 Desember 2016 mendatang. Menurut Syamsul, pendirian PSA di UMM merupakan salah satu usaha kampus ini untuk menyebarluaskan pemahaman tentang pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang telah dimulai akhir tahun lalu. PSA UMM juga diharapkan menjadi wadah edukasi, sosialisasi, dan advokasi publik, khususnya terkait MEA. Untuk pengelola, PSA akan dijalankan di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM. “Pada level teknis, FISIP utamanya prodi Hubungan Internasional (HI) yang akan menindaklanjuti program-program berikutnya,” jelas Syamsul. (jal/han)

Ini Tanggapan Rektor UMM Terkait Aksi 212

RENCANA aksi 2 Desember (212) mendapat respon dariRektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan. Saat ditemui di kantornya, Rabu (30/11), Fauzan meminta masyarakat berpikir jernih agar tak menilai berlebihan aksi 212 itu. “Ada yang bilang 212 itu politik makar untuk menjatuhkan pemerintah. Sebaliknya, ada juga yang menyepelekannya, 212 dianggap demonstrasi biasa yang sama sekali tak ada pengaruhnya bagi stabilitas bangsa. Saya berharap kita tidak berada di dua titik ekstrem ini,” kata Rektor. Fauzan tak heran jika aksi 212 melahirkan tanda tanya, yaitu soal apakah aksi ini memiliki muatan lain yang sengaja disembunyikan. “Terlebih, aksi 212 terjadi setelah pihak kepolisian bergerak cepat menggelar kasus Ahok. Logikanya, jika tuntutan utama aksi 411 agar Ahok dipidanakan sudah terpenuhi, tak heran jika aksi lanjutan membuat orang menafsirkan macam-macam,” jelas Fauzan. Karenanya, Fauzan mengapresiasi langkah Presiden Jokowiyang bersilaturahim dengan tokoh-tokoh organisasi Islam,terutama Muhammadiyah dan NU pasca-411. “Apalagi, sebelumnya terjadi ketegangan akibat pernyataan Jokowi soal adanya aktor politik di balik aksi 411,” papar Rektor Fauzan juga mengapresiasi mediasi Polda Metro Jaya dengan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI terkait aksi 212. “Ini bagus untuk mencairkan ketegangan akibat pernyataan Kapolri Tito Karnavian soal kemungkinan terjadinya makar pada aksi 212.” Bagi Fauzan, silaturrahim dan mediasi menunjukkan bahwa soal menjaga perdamaian, pemerintah dan massa aksi memiliki visi yang sama. “Namun, itu tak berarti bahwa secara politik, mereka berada di haluan yang sama. Mediasi yangdilakukan hanya bisa mengurangi ketegangan, tapi tak bisamenyamakan kepentingan politik,” terang Fauzan. Lebih lanjut, Fauzan menilai, aksi 212 merupakan sebuah anomali. Bukan karena aksi itu sendiri, melainkan rentetan fenomena yang mengiringinya, yaitu aksi 14 Oktober dan 4 November. Jika diperhatikan, kata Fauzan, rentang masing-masing demonstrasi berjarak tak sampai satu bulan, dengan jumlah massa yang demikian besar. “Terlebih, jika membandingkan rentetan aksi ini dengan berbagai demonstrasi berskala besar yang pernah terjadi di Indonesia, di antaranya Reformasi 1998, Malari 1974 dan Tritura 1966. Ketiga demonstrasi bersejarah tersebut turut dipicu faktor ekonomi, sesuatu yang tidak terjadi pada aksi 411 dan 212,” paparnya. Anomali lainnya, lanjut Fauzan, adalah aktor gerakan yang saat ini tidak melibatkan mahasiswa. “Sekalipun sejumlah eksponen gerakan mahasiswa mengikuti aksi 411 dan 212, mereka bukanlah aktor melainkan hanya menjadi partisipan dan simpatisan saja,” seru Fauzan. Tuntutan aksi 411 dan 212 juga dinilai Fauzan sangat khas. Tak ada tendensi politik yang terbuka, karena demostrasi itudicitrakan sebagai aksi bela Islam melawan penista agama.Berbeda dengan Reformasi 1998, Malari 1974 dan Tritura 1966, yang secara terbuka menyerukan perlawanan politik. Sekalipun begitu, Fauzan tetap menilai, rangkaian aksi massaberskala besar dua bulan terakhir ini merupakan bukti bahwa telah terjadi krisis kepemimpinan bangsa. Menurutnya, rakyat lebih mudah diarahkan oleh para pemimpin opini (opinion leaders) ketimbang pemimpin formal, yaitu penguasa. “Aksi bela Islam perlu menjadi refleksi bagi pemerintah, bukan saja soal isi tuntutan yang disampaikan, tapi lebih-lebih soal sejauh mana kepercayaan rakyat pada pemimpinnya. Bagi umat Islam, pemimpin itu tak hanya dilihat dari sisi kemampuan manajerial dan pengambilan kebijakannya saja, tapi juga perilaku dan tutur katanya sebagai teladan masyarakat,” ungkap Fauzan. Ketiadaan pemimpin idaman membuat masyarakat mudah kecewa. “Tugas pemerintah adalah mengelola kekecewaan itu, dan merubahnya menjadi harapan. Kekecewaan itu tak boleh diabaikan, jika tak ingin menjadi amunisi yang akan melahirkan kekecewaan lebih besar,” pungkasnya. (can/han)