BPJS Ajak Mahasiswa UMM Sadar Urgensi Asuransi Kesehatan

FAKULTAS Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mengadakan kuliah tamu sekaligus penandatanganan nota kesepahaman BPJS dengan UMM dan klinik Muhammadiyah Aisyiyah se-Malang Raya, Kamis (20/10) Digelar di Hall Dome UMM, kuliah tamu ini mengambil tema “Peran Dokter dalam Pelayanan Kesehatan Profesional di Klinik Muhammadiyah-Aisyiyah di Era JKN BPJS”. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Direktur Utama BPJS Republik Indonesia, Prof. Dr. dr. Fahmi Idris, M.Kes. sebagai pembicara. Tak kurang 400an yang terdiri dari mahasiswa strata 1 dan mahasiswa ko-ass FK hadir dalam kuliah tamu ini. Fahmi mengaku sangat mengapresiasi saat dirinya didapuk menjadi dosen tamu. “Saya rasa ini kesempatan besar untuk berbicara di depan mahasiswa Kedokteran, mengingat banyak hal yang harus saya sampaikan terkait BPJS dengan segala isunya selama ini,” ungkap Fahmi sebelum menyampaikan materi. Dalam paparannya, Fahmi menyebut bahwa BPJS mengusung konsep solidaritas sosial dengan prinsip gotong royong. Salah satu metode yang digunakan, kata Fahmi yakni dengan sistem iuran. Warga Indonesia yang tergolong mampu secara finansial akan membayar iuran, sedangkan yang kurang mampu akan ditanggung oleh negara. “Satu warga menderita gagal ginjal,” Fahmi mencontohkan, “Kalau ia harus cuci darah tiga kali dalam seminggu, 28 kali dalam sebulan, sudah berapa biaya yang harus dikeluarkan. Padahal, ia hanya membayar BPJS dua puluh lima ribu per bulan. Oleh karenanya butuh 75 orang sehat yang untuk mengawal saudara kita yang sakit ini. Inilah yang disebut dengan prinsip solidaritas berdasarkan gotong royong,” Fahmi menguraikan. Indonesia, lanjut Fahmi, merupakan negara dengan sistem asuransi kesehatan yang buruk di dunia. UMMsebegai institusi pendidikan yang menggandeng BPJS, dinilai baik oleh Fahmi karena bisa merekomendasikan mahasiswanya bergabung menjadi peserta BPJS. Salah satu cara yang dapat ditempuhyakni dengan memasukkan iuran asuransi kesehatan pada biaya pendidikan mahasiswa. Sementara itu, Dekan FK dr. Irma Suswati, M.Kes menyampaikan, tujuan diadakannya kuliah tamu ini sebagai bentuk urgensi karena FK perlu melahirkan lulusan yang mampu mengikuti program pemerintah. “Program pemerintah haruslah ditindaklanjuti dengan kompetensi dan profesionalitas lulusan FK UMM. Sehingga para calon dokter ini diharapkan mampu mengembangkan pelayanan di masyarakat, baik melalui praktek mandiri atau layanan sosial,” katanya. Diakuinya, amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah cukup banyak. Namun, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan jumlah lulusan FK dari Universitas Muhammadiyah yang ada di seluruh Indonesia. Sehingga belum bisa memenuhi seluruh klinik yang dimiliki Muhammadiyah. “Bermitra dengan BPJS, lulusan FK bisa ditempatkan di klinik-klinik tersebut,” terangnya. Turut hadir dalam kegiatan ini Direktur BPJS Malang, Direktur RS UMM, direktur RSIA Aisyiyah, perwakilan dari pemerintah Kota Malang, serta DPP Aisyiyah dan klinik-klinik Aisyiyah Muhammadiyah se-Malang Raya. (ich/can)

UKM Fair, Ajang Mahasiswa UMM Pamer Kreativitas

SELAIN kompetensi akademik, kreativitas mahasiswa untuk mengembangkan diri melalui organisasi kemahasiswaan (ormawa) dinilai sangat penting. Dari ormawa itulah, mahasiswa dapat menggali dan melejitkan bakat yang dimilikinya. Karena itulah, bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), maraknya kegiatan mahasiswa yang diinisiasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) akan sangat produktif bagi pengembangan mahasiswa. Di sinilah pentingnya kehadiran UKM Fair yang digelar di Helipad UMM,  Sabtu (15/10). Di UKM Fair kali ini, sebanyak 26 UKM dan 3 organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah memamerkan diri melalui stan-stan yang sudah disediakan universitas. UKM Fair merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Student Day yang juga dibuka hari ini. “UKM Fair ini juga sengaja dijadikan satu dengan pembukaan Student Day agar UKM dan ortom bisa bersentuhan langsung dengan mahasiswa baru,” jelas Zen Amirudin selaku Ketua pelaksana Student Day UMM 2016. Adanya UKM Fair ini, lanjut Zen, sekaligus ingin memperkenalkan semua organisasi yang ada di kampus kepada mahasiswa baru. Ibaratnya, UKM Fair ini open house-nya ormawa. “Kita ingin mahasiswa tidak hanya beraktivitas akademik saja namun juga berorganisasi untuk mengisi waktu luangnya,” jelas Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tersebut. UKM Fair juga menjadi ajang bagi ormawa untuk menampilkan diri melalui stan yang unik dan kreatif. “Setiap UKM dan ortom harus menghias stannya masing-masing dengan seindah dan sekreatif mungkin. Nanti di akhir acara akan diumumkan UKM dan ortom yang paling kreatif dan paling bersih stannya,” papar Zen. Sejak semalam, semua UKM sudah mulai menghias stan dengan berbagai aksesoris. Beberapa UKM bahkan membuat gerbang dengan tongkat seperti di stan UKM Pramuka. Berbeda dengan UKM Pramuka, UKM Tari Sansekerta juga menyajikan tarian di stannya. UKM Melukis Lentera juga menampilkan berbagai lukisan-lukisan kreatif. Sedangkan ortom Tapak Suci menampilkan silat. (jal/han)

Gelar Produk, Dekatkan Hasil Penelitian Pada Masyarakat

UNTUK mendekatkan hasil penelitian dosen, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Gelar Produk dalam rangkaian acara Seminar Nasional dan Gelar Produk (SenasPro) 2016 yang dihelat di Hall Dome UMM, Senin-Selasa (17-18/10) lalu. Koordinator Gelar Produk Hendra Kusuma menerangkan, acara tersebut merupakan wujud pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen UMM. “Semua kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen kita tampilkan disini. Tujuannya untuk mengenalkan kepada msyarakat bahwa kita memiliki produk dari hasi penelitian dan pengabdian tersebut,” ujar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM tersebut. Selain mengenalkan, sebanayak 25 stand juga bertujuan mendekatkan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. “Banyak hasil peneltian dan pengabdian masyarakat yang dimiliki UMM, namun tidak bisa diperlihatkan karena keterbatasan tempat dan barang yang terlalu besar. Seperti pengabdian masyarakat mikrohidro itu ada sebenarnya, pembuatan jembatan juga. Tentu tidak memungkinkan dihadirkan di tempat ini,” jelas Hendra lebih lanjut. Salah satu hasil penelitian dan pengabdian masyarakat dalam bidang sosial yakni tentang pos pemberdayaan keluarga (Posdaya) di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. “Hingga saat ini, Posdaya tersebut memiliki omset hingga 2 Miliar rupiah. Kita memperbaiki kesejahteraan masyarakat disana. Entah dari sisi pendidikan, ekonomi dan semacamnya,” jelas Dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangun (IESP) tersebut. “Tak hanya di bidang sosial”, lanjut Hendra, “pengabdian kepada masyarakat juga dilakukan di bidang lainnya. Misal bidang eksakta, UMM melakukan pengabdian masyarakat dengan memanfaatkan teknologi mikrohidro sebagai pembangkit listrik di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Menariknya, danau tersebut juga dijadikan tempat pariwisata. Pengabdian dan penelitiannya bahkan berkembang hingga ke tercipta tempat pariwisata baru,” tuturnya. Di bidang ekonomi, UMM memperkenalkan galeri investasi tentang tata cara berinvestasi dan jual beli saham. Selain itu, stand tersebut juga mengajarkan bagaimana membaca dan menganalisa bursa saham. Gelar produk dibuka langsung oleh Direktur Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa, M.Sc. bersama Wakil Rektor I UMM, Prof. Syamsul Arifin, M. Si dan Kepala DPPM, Prof. Dr. Ir. Sujdono, M. Kes. (jal/can)

Pembukaan Student Day, UMM Perkuat Visi ‘Green and Clean’

JALAN sehat menandai dibukanya Student Day 2016  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (15/10). Kegiatan ini mengusung tema ”Green and Clean: Aksi Nyata Mahasiswa UMM Menuju Indonesia Bersih dan Sehat” dan diikuti 6812 mahasiswa baru 2016. Tema tersebut merupakan tindak lanjut program “UMM Green and Clean” yang dicanangkan sejak 2013. Tahun ini, kata Rektor UMM Fauzan, program ini memberikan penekanan pada aspek ‘Green’, yaitu penghijauan. “Konteks penghijauan itu sangat luas. Tidak sekedar menanam pohon, tapi juga merawat dan melestarikan. Dampaknya, akan membuat suasana lebih segar dan menyehatkan bagi tubuh,” tuturnya. Rute jalan sehat dimulai dari helipad UMM, kemudian melewati stadion UMM dilanjutkan menyusuri jalan Tegal Gondo, melewati area persawahan dan berakhir di Gedung Student Center (SC) Kampus III UMM. Sepanjang perjalanan, mahasiswa dihimbau melakukan aksi bersih dengan memungut sampah yang ditemui. Harapannya, mahasiswa UMM dapat menjadi teladan dalam menjaga kebersihan di lingkungan sekitar kampus. Selain itu, juga dilakukan penyerahan pohon secara simbolik kepada sejumlah perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas dan dibagikan kepada masyarakat sepanjang rute jalan sehat. “Secara terjadwal nantinya, 7000 pohon bakal ditanam di sejumlah titik di sekitar lingkungan kampus III UMM,” terang Ketua Pelaksana Student Day 2016, Zen Amirudin. “Ke depan, tema ‘Green and Clean’ ini tidak hanya termanifestasikan dalam bentuk jalan sehat. Selama kegiatan Student Day berlangsung, kegiatan akan disesuaikan dengan tema besar ‘Green and Clean’ ini,” papar Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ini. Rektor menyatakan, Student Day ini dimaksudkan untuk mengindetifikasi kompetensi yang  dimiliki mahasiswa baru UMM.  Selain itu Fauzan juga beraharap Student Day dapat memberikan penguatan jati diri mahasiswa UMM. “Student Day adalah harinya mahasiswa. Mudah-mudahan di Student Day 2016 ini, mahasiswa baru dapat menemukan dan mengembangkan potensi dirinya,” kata Fauzan. Student Day 2016 akan berlangsung setiap hari Sabtu mulai 15 Oktober hingga 10 Desember 2016. Student Day merupakan agenda UMM yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade, yaitu sejak 1992. Sebagai puncak dari Student Day, diadakan Rector Cup yang meliputi kompetisi antar fakultas di bidang seni dan olahraga. (can/han)

UMM Jajaki Kerjasama dengan Universitas India

SETELAH menjalin kerjasama dengan 112 negara, kali ini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan salah satu universitas terkemu di New Delhi, India Jawaharlal Nehru University (JNU). Penandatanganan tersebut disaksikan sejumlah mahasiswa program studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Agama Islam (FAI) di Aula Teknik Gedung Kuliah Bersama (GKB) III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (18/10). “Saya berharap kerjasama ini nanti akan bisa membuahkan hasil yang positif kedepan untuk menjalin kerjasama antar dua perguruan tinggi ini,” terang Direktur Kerjasama Internasional JNU, Prof. Dr. Girish yang mewakili rektor NJU. Menanggapi hal tersebut, Rektor UMM Fauzan berharap, produk-produk unggulan baik itu produk research maupun sumber daya manusia yang dilahirkan Universitas Muhammadiyah Malang akan bisa juga menginternasional. “Kami berharap ada mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab yang nantinya juga akan jadi dosen di Jawaharlal Nehru University. UMM memiliki komitmen besar untuk mengembangkan kerjsama luar negeri, ” harap Fauzan. Untuk menguatkan hal tersebut, kata Fauzan, pada 2017 UMM mencanangkan mahasiswanya untuk tidak sekedar wajib mengikuti pelajaran bahasa inggris melalui program English for Spesific Porpose (ESP), akan tetapi mahasiswa UMM diharapkan mampu menguasai 2 bahasa lain, yakni Bahasa Arab dan Mandarin. “Ini semua dalam rangka agar pikiran-pikiran cemerlang yang saudara peroleh dapat terdistribusikan ke negara-negara lain. Yang lebih penting, untuk memberikan penguatan kompetensi mahasiswa UMM.,” tukasnya. Sementara itu, Kepala International Relations Office (IRO) UMM, Dr. Abdul Haris, M.A menyatakan kerjasama ini merupakan awal penjajagan antara kedua belah pihak.  “Yang pasti, kerjasama nanti seputar bidang akademik, penelitian dan pengabdian masyarakat. Nanti akan kita tindak lanjuti kerjasama tersebut dengan beberapa kegiatan. Misalnya dalam waktu dekat Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) akan mengirim beberapa orang untuk mengikuti pelatihan di sana. Selain itu, sesuai kesepakan, dosen bahasa Indonesia juga bakal diikutkan short course selama 4 bulan di sana,” terang Abdul Haris. Pasca penandatanganan MoU, Asisten Profesor, Centre of Arabic and African Studies School of Language, Literature and Cultural Studies (SSL & CS) Dr. MD. Qutbuddin menyajikan makalah bertema “Contemporary Trend of Arabic Teaching in India” dalam kuliah tamu prodi PBA. Selain itu, Assissant proffesor MPhil & PhD in International Relation NJU Dr. Gautam Kumar Jha juga turut menjadi pemateri dalam kegiatan Seminar Nasional dan Gelar Produk 2016 (SenasPro) yang tengah berlangsung di UMM, 17-18 Oktober.  (Humas UMM)

Senaspro 2016, UMKM Binaan UMM Tampilkan Produk Beromset 2M

SEMINAR Nasional dan Gelar Produk (Senaspro) 2016 yang digelar oleh Direktorat Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dibuka hari ini, Senin (17/10). Kegiatan dibuka Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Prof. Ocky Karna Radjasa MSi,. Sebanyak 151 peserta hadir memenuhi basement dome UMM. Dalam pembukannya, Ocky menyatakan apresiasinya terhadap UMM yang menggelar seminar nasional sekaligus gelar produk. “Jarang terjadi, seminar diadakan sekaligus dengan gelar produk. Oleh karenanya, saya sangat mengapresiasi kegiatan ini,” ujarnya. Ocky menilai, perlu ada perubahan paradigma pada para dosen perguruan tinggi yang biasanya fokus hasil riset hanya dalam bentuk publikasi dan punya hak paten. Oleh karenanya, Ocky mendorong agar hasil riset masuk dalam tahap komersialisasi. Ocky menyayangkan turunnya peringkat daya saing bangsa Indonesia dari peringkat 34 di tahun 2014 menjadi 37 pada 2015. Ada beberapa pilar yang menentukan sebuah bangsa kompetitif atau tidak. Salah satunya yakni market size. “Ada sekitar 240 juta penduduk Indonesia, tapi 60 persen daya saing masih dipegang oleh Amerika, China, dan Jepang,” paparnya. Dalam hal inovasi, Indonesia juga mengalami penurunan. Sehingga, perkembangan Iptek dan inovasi dinilai belum bisa mendorong daya saing bangsa. Oleh karenanya, melalui seminar nasional dan gelar produk ini, Ocky berharap akan mampu mendorong para dosen dari kampus-kampus di Indonesia untuk meningkatkan produtivitas dalam hal penelitian. Utamanya riset yang aplikatif untuk masyarakat. Kepala DPPM UMM, Prof. Dr. Sudjono, M.Kes. menyatakan, saat ini UMM bertahan pada urutan 17 dari 25 universitas yang masuk cluster mandiri dalam hal penelitian. Hasil-hasil ini ditelurkan dalam 3 judul buku yang dilaunching hari ini, yakni “Kepakaran dan Inovasi UMM”, “Membangun Negeri melalui KKN”, dan “Direktori Abstrak Penelitian dan Pengabdian Masyarakat”. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof Syamsul Arifin, M.Si. dalam sambutannya mengungkapkan, kegiatan ini merupakan bentuk perwujudan salah satu tugas utama dosen yang tertuang dalam UU No. 14 tahun 2005. Dosen, lanjut Syamsul, sebagai pendidik professional sekaligus ilmuwan. Oleh karenanya, dosen mempunyai tugas utama untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Salah satunya melalui riset, sesuai dengan fokus bidang studi masing-masing dosen. “Forum ini juga menjadi perwujudan visi UMM untuk menjadi universitas yang terkemuka dalam hal pengembangan iptek berdasarkan nilai-nilai ke–Islaman,” tambah Syamsul. Sementara itu, di Hall Dome UMM,  25 stan ditampilkan kepada seluruh masyarakat. Tak hanya mengenalkan, UMM juga mendekatkan hasil penelitian dan pengabdian ini kepada masyarakat.   Hendra Kusuma, kepala divisi UMKM DPPM UMM yang sekaligus menjadi koordinator gelar produk menjelaskan, 25 stan yang ditampilkan ini terhitung masih sebagian saja. Masih terdapat banyak hasil peneltian dan pengabdian masyarakat yang dimiliki UMM namun tidak bisa diperlihatkan karena keterbatasan tempat dan barang yang terlalu besar.   “Seperti pengabdian masyarakat Mikrohidro itu ada sebenarnya, pembuatan jembatan juga. Namun, tidak memungkinkan dihadirkan di tempat ini,” jelas Hendra lebih lanjut. Dalam gelar produk ini, salah satu hasil penelitian dan pengabdian masyarakat dalam bidang sosial tentang pos pemberdayaan keluarga (Posdaya) di beberapa wilayah di Malang dan di Kota Batu. Salah satu Posdaya yang ada terletak di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan UMM melalui tahap analisis terlebih dahulu kemudian melakukan pelatihan yang cocok untuk daerah tersebut. Hingga saat ini Koperasi Posdaya di Kecamatan Wagir memiliki omset hingga 2 Miliar rupiah.   “Kita memperbaiki kesejahteraan masyarakat di sana. Entah dari sisi pendidikan, ekonomi dan semacamnya,” jelas dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangun (IESP) tersebut.   Tidak hanya dalam bidang sosial saja yang ditekankan, UMM juga menekankan pengabdian masyarakat dalam bidang eksakta. Di bidang tersebut, UMM melakukan pengabdian masyarakat dengan memanfaatkan mikrohidro sebagai pembangkit listrik. Salah satunya di Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang yang hingga saat ini tidak hanya memanfaatkan mikrohidro saja. Menariknya, danau yang dibuat pembangkit listrik juga dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata. “Pengabdian dan penelitiannya bahkan berkembang hingga ke tercipta tempat pariwisata baru,” jelasnya.   Di bidang ekonomi, UMM memperkenalkan galeri investasi yang memperkenalkan tentang tata cara berinvestasi dan jual beli saham. Di stan galeri investasi tersebut juga diperkenalkan bagaimana membaca dan menganalisa bursa saham yang sedang berjalan. Kampus lain yang turut berpartisipasi yakni Universitas Wisnuwardhana Malang yang memperkenalkan tas, dompet, dan baju hasil rajutan asli. Tak hanya Malang, pameran ini juga diikuti perguruan tinggi dari luar Malang. Salah satunya dari Politeknik Negeri Bandung (Polban) yang memperkenalkan penelitian bernama Rumah Pintar. (Humas UMM)

FPP Kaji Peran Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia

“Seandainya Indonesia bisa memanfaatkann lautnya sejak dulu, tidak perlu lagi menyandarkan pembangunan kepada hutang-hutang Internasional. Indonesia harus dapat menjadikan laut sebagai tulang punggung pendapatan negara untuk disebut sebagai negara Maritim.” Demikian disampaikan pendiri pusat kajian Chandra Motik Maritime Center, Dr. Chandra Motik yusuf, S.H. M.Sc dihadapan 125 mahasiswa baru angkatan 2016 Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Basement Dome UMM, Jumat (14/10). Kuliah Tamu ini bertajuk “Maritim Sebagai Kiblat Pembangunan Nasional Indonesia”. Chandra mengungkapkan, Ir. Djuanda menyadari sejak dulu bahwa masa depan Indonesia ada di laut. “Inti dari Deklarasi Djuanda adalah mewujudkan Wawasan Nusantara, laut sebagai pemersatu, bukan bukan pemisah. Konektivitas antar pulau dan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan harus terwujud,” papar Chandra yang pada 2015 lalu meraih penghargaan Menteri Perhubungan Republik Indonesia sebagai Women on Maritime 2015. Deklarasi Djuanda, kata Chandra, telah mengamanatkan bangsa ini untuk memanfaatkan laut sebagai modal pembangunan Negara Indonesia, yang kemudian disahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Sejak dulu, lanjut Chandra, posisi Indonesia sudah dikenal sebagai poros dunia. Posisi yang strategis ini telah dimanfaatkan Kerajaan Sriwijaya, Majapahit dan lainnya baik dalam perniagaan maupun dalam usaha memperluas wilayah kerajaan. “Karena letak yang strategis ini banyak negara yang ingin menguasai Indonesia, di mana pada akhirnya Belanda yang berhasil menguasai Indonesia paling lama,” terangnya. Menurutnya, untuk dapat memanfaatkan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia, diperlukan infrastruktur Kemaritiman yang dapat mewujudkan Indonesia sebagai Negara Maritim. “Dengan infrastruktur Kemaritiman yang komprehensif, integral dan holistik maka konektifitas antar pulau dapat terwujud. Setelah konektivitas antar pulau terwujud, selanjutnya konektivitas antar negara, di mana Indonesia sebagai pusat Industri pelayaran internasional,” paparnya. Namun demikian, untuk sampai bisa dijadikan poros maritim dunia, Indonesia masih harus banyak menyelesaikan problem kondisi infrastruktur dan konektivitas maritim saat ini. Diakuinya, kondisi infrastuktur dan konektivitas maritim saat ini masih jauh dari cukup untuk dapat memanfaatkan potensi laut ataupun menuju negara maritim. “Infrastruktur pelabuhan belum memadai, masa tunggu untuk sandar dan bongkar muat yang lama. Selain itu, sistem keamanan muatan barang yang lemah, terutama untuk barang muatan berbahaya. Infrastruktur pelabuhan yang belum mencukupi di pulau-pulau kecil. Juga, instrumen hukum yang belum memberikan rasa aman kepada industri pelayaran dan juga kedaulatan negara,” tukasnya. (can/han)

Mahasiswa Komunikasi UMM Diajak Berperan Kembangkan Pariwisata Indonesia

MAHASISWA Ilmu Komunikasi dipandang memiliki penting dalam mengembangkan pariwisata Indonesia. Dalam konteks program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) misalnya, terdapat tiga konsentrasi studi yang dapat sama-sama berperan bagi pengembangan pariwisata, yaitu Public Relations (PR), Jurnalistik dan Audio Visual. Alumni Ilmu Komunikasi UMM Muhammad Natsir Arihata menjelaskan, mahasiswa konsentrasi PR bisa mengkaji relasi antara pengusaha dan pemerintah dalam kebijakan pariwisata. “Lalu yang dari audio visual (AV) dapat membingkai pariwisata melalui video yang menarik, sementara mahasiswa jurnalistik serta memberitakan tempat pariwisata agar dikenal,” kata Natsir pada kegiatan seminar pariwisata bertema “New Wave of Indonesian Tourism” yang diadakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi UMM pada Kamis (13/10) d Auditorium UMM. Seminar dilakukan dalam rangkaian ulang tahun Prodi) Ilmu Komunikasi UMM ke 30 tahun. Seminar ini dilatari perkembangan pariwisata di Indonesia sudah yang kian menampakkan geliatnya. Perkembangan pariwisata ini menjadi suatu alat untuk mempromosikan Indonesia luar negeri. Sayangnya,  kata Natsir yang juga ketua panitia kegiatan ini mengatakan, adanya pariwisata di Indonesia tidak hanya membawa dapak positif. Namun juga dampak negatif terlihat di sekitar wilayah pariwisata tersebut. Dampak negatif itu harus dicegah dan diperbaiki dengan melihat permasalahannya. Radityo Prabowo dari Zeno Indonesia selaku pemateri pada seminar yang dihadiri 100 mahasiswa tersebut menyatakan, pariwisata di Kota Malang ini sudah mulai nnampk. Untuk itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi sebaiknya bisa mempetakan kurang dan lebihnya pariwisata ini. Tidak hanya menikmati tempat pariwisata yang ada namun juga bisa merubah mindset wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang. “Bagian yang paling susah itu merubah mindset orang. Misal begini, saya ke Malang bayar tiket pesawat 900 ribu, itu sama dengan saya ke Singapura. Berarti kan lebih baik saya ke Singapura, selain ke luar negeri saya juga dapat fasilitas yang sangat nyaman disana. Itulah pekerjaan rumah kalian,” jelas Business Leader dari Zeno Indonesia tersebut. Dunia jurnalistik juga menjadi salah satu yang berperan dalam mempromosikan pariwisata Indonesia. Self journalism menjadi alat untuk mempromosikan pariwisata Indonesia juga. Hal itu disampaikan oleh Imam Suwandi, kepala desk citizen journalism Metro TV. Menurut Cak Imam, panggilan akrabnya, Self journalism ini tanpa sadar dilakukan oleh semua orang yang berkunjung ke tempat baru. Menurutnya, zaman sekarang semua orang bisa melakukan aktifitas citizen journalism hanya dengan menggunakan gawai atau telepon pintarnya. Imam menyampaikan dengan adanya self journalism itu juga membantu promosi pariwisata khususnya di Kota Malang. “Kendala saat ini yaitu mindset internasional menjadi kendala di Kota Malang ini. Kalau dilihat dibandara saja tulisan yang berbahasa inggris sangat minim. Bagaimana Kota Malang akan dikunjungi jika fasilitas di bandara saja tidak mendukung pengunjung dari luar negeri,” jelas Imam yang juga pernah menjadi produser acara berita tersebut. (jal/han)

Pascasarjana UMM Kritisi Kebijakan Konservasi Alam Kota Batu

JELANG peringatan Hari Jadi Kota Batu ke-15 yang jatuh pada 17 Oktober, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (PPs UMM) bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Usaha Strategis dan Advokasi Pelestarian Alam (Pusaka) menggelar diskusi publik bertajuk “Urgensi Penguatan Konservasi Alam Kota Batu di Era Otonomi Daerah” Malang, Kamis (13/10) di Aula PPs UMM. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri, yaitu Ketua Yayasan Pusaka Malang Bambang Parianom, Pakar Lingkungan UMM Dr Abdul Kadir Raharjanto, serta Direktur/Aster Group Bidang Usaha Toko Retail Kosmetik Kota Malang sekaligus Ketua Komunitas Malang Bersatu, Agus Endra. Bambang Parianom mengatakan, sejak ditetapkan sebagai daerah otonomi pada 2001 silam, di tengah pertumbuhan pembangunan yang begitu pesat, Kota Batu ternyata menyimpan berbagai persoalan pelik menyangkut lingkungan. “Otonomi daerah, baik undang-undang yang keluar pertama yakni nomor 22 tahun 1999 termasuk undang-undang yang melahirkan Kota Batu nomor 1 tahun 2001 itu spiritnya pemanfaatan potensi alam. Bukan perlindungan wilayah dan aset ekologi. Sehingga kalau otonomi itu ekonomi yang menonjol, ada kecenderungan terjadi paradox antara otonomi daerah dan konservasi ekologi. Inilah yang saya anggap keprihatinan,” paparnya. Menurutnya, ada tiga strategi berkelanjutan dan bersifat penyelamatan yang musti ditempuh Kota Batu meski ada di era otonomi daerah. Yakni strategi struktural, kultural, dan teknis sektoral. Strategi Struktural kata Bambang, yakni pemahaman politik masyarakatnya. “Pemahaman politik menempatkan pembangun Batu yakni penyelamatan wilayah dan ekologi itu yang harus menonjol. Inilah yang akan melahirkan suatu kebijakan dan regulasi pendukung,” papar Bambang. Sementara strategi kultural menerangkan bagaimana agar seluruh lapisan masyarakat dapat ikut mendukung gerakan. Sedangkan, lanjut Bambang, strategi teknis sektoral yakni mendorong pemaksimalan kerja dinas terkait. Selaras dengan Bambang, Abdul Kadir menjelaskan, jika dilihat dari sisi ekologi, permasalahan utama pada lingkungan bukan pada lingkungannya. Tapi permasalahan utama lingkungan di mulai dari permasalahan sosial. “Apabila kebutuhan-kebutuhan sosial meningkat, maka kebutuhan ekonominya juga akan meningkat. Pada saat kebutuhan ekonomi meningkat, dan ketika tidak ada hal lain yang bisa digunakan, maka manusia akan mengekploitasi alam sehingga alamnya akan rusak,” papar dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM ini. Sementara itu, Agus Endra mengatakan, perkembangan ekonomi tidak akan berlanjut dan akan sia-sia jika kita tidak memperhatikan aspek lingkungan hidup. “Kalau kita hanya mempertimbangkan faktor ekonomi, maka lingkungannya rusak itu akan menjadi boomerang bagi kita. Mau tidak mau, ketika kita membangun kota kita, maka faktor lingkungan hidup itu harus dikedepankan juga,” jelas Agus Endra. Wakil Direktur III PPs UMM Dr Wahyudi Winarjo menerangkan, PPs UMM ingin terlibat dalam dinamika kehidupan nyata di masyarakat. “Kita tidak ingin menjadi ‘menara gading’. Kita tidak hanya bicara konsep, tetapi kita ingin mengajak komponen Universitas Muhammadiyah Malang terlibat langsung dalam persoalan-persoalan yang terjadi di tengah masyarakat,” kata Wahyudi. Menurutnya, perguruan tinggi sebagai salah satu pilar demokrasi serta masyarakat sebagai civil society selayaknya dapat bergerak bersama secara independen membangun bangsa dan negara sesuai visi Negara Kesatuan Republik Iindonesia (NKRI). Diskusi dihadiri sejumlah elemen masyarakat antara lain anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), komunitas masyarakat Kota Batu,  Non Government Organization (NGO), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta mahasiswa strata 1 dan 2 UMM. (acs/han)

KPK Ajak Mahasiswa UMM Lawan Korupsi

POSISI Indonesia sebagai 20 besar negara terkorup mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanamkan mental anti-korupsi. Bekerja sama dengan Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), KPK mengadakan kuliah tamu untuk menggembleng mental anti-korupsi pada mahasiswa baru UMM, Kamis (13/10), Berlangsung di UMM Dome, kegiatan ini mengangkat tema “Menyiapkan Generasi Hukum yang Bersih dan Antikorupsi” menghadirkan Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) KPK, Sujanarko. Dalam paparannya, Sujanarko mengungkapkan, palayan publik pemberi suap terbanyak yaitu kepolisian. Ia menjelaskan, dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara, polisi Indonesia paling banyak melakukan suap, yakni mencapai 75 persen. Sedangkan jaksa, hakim, serta penyidik sebesar 66 persen, sementara instansi pendidikan sebesar 21 persen. Sedangkan, jabatan yang paling banyak melakukan korupsi tertinggi dipegang oleh swasta sebesar 142 kasus, pejabat eselon 1, 2, dan 3 sebanyak 129 kasus, dan anggota DPR/DPRD 119 kasus. “KPK sempat terheran, karena malah swasta-lah yang paling banyak kasusnya. Jelas, uang yang dimiliki swasta berkali-kali lipat dibandingkan APBN. Misalnya, APBN sebesar 600 Triliun, uang yang dimiliki swasta bisa 1500 Triliun. Uang inilah yang digunakan untuk ‘mempermainkan’ para pejabat negara. Padahal, KPK tidak berwenang menindak swasta. Ini masalahnya,” urai Sujanarko. Sujanarko menekankan, apapun profesi yang dipilih setelah lulus, haruslah berpegang teguh pada tiga poin penting, yakni ber-antikorupsi, ber-spesialisasi, dan ber-integritas. Ber-antikorupsi artinya harus bertekad untuk tidak melakukan korupsi dalam bentuk apapun, ber-spesialisasi dimaksudkan agar apapun profesinya, haruslah menjalankan pekerjaan sesuai jobdesk yang sesuai dengan bidang profesionalnya. “Seorang lawyer,” contoh Sujanarko, “Tugasnya adalah membela klien. Kalau untuk urusan melakukan lobi, lalu lawyer ini ikut main golf dengan kliennya untuk mempermulus urusannya, ini namanya melakukan hal yang tidak berkepentingan dengan kaidah profesinya. Inilah yang disebut tidak ber-Spesialisasi,” paparnya. Yang ketiga, ber-integritas. Integritas bermakna menjalankan sesuatu yang baik dan benar tanpa  diawasi. Hal ini, menurut Sujanarko, perlu dilatih dan perlu model yang nyata. Langkah awal untuk membentuk pribadi berintegritas ini bisa dimulai dengan membuat resolusi pribadi yang dijalankan dengan penuh komitmen. Pada acara ini, antusiasme 400 mahasiswa yang menjadi peserta tampak dari banyaknya pertanyaan bernada kritis pada Sujanarko. Salah satu yang dianggap menarik olehnya adalah pertanyaan tentang hal apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk membantu KPK. “Orang-orang terbaik dari Fakultas Hukum di Indonesia ini yang nantinya akan jadi generasi penerus kami di KPK. Saat ini KPK memiliki program Indonesia Memanggil. Lewat program ini, KPK akan berkeliling ke kampus-kampus untuk mencari mahasiswa akhir siap lulus yang berintegritas dan berkomitmen tinggi untuk bergabung dengan KPK,” jawabnya. Dekan FH UMM Dr Sulardi SH MSi membenarkan adanya program Indonesia Memanggil KPK. Sampai saat ini, UMM sering mengajukan alumninya untuk mengikuti seleksi menjadi bagian dari KPK. Sulardi menegaskan, tantangan lulusan FH untuk masuk ke dunia hukum sebagai penegak hukum terbilang susah. Pasalnya, para koruptor kini mempunyai gate keeper, yakni pihak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan koruptor seperti hubungan darah  atau bisnis, bahkan tidak berada pada lokasi yang berdekatan, tapi pihak itulah yang ‘bertugas’ untuk menyimpan uang-uang jarahan para koruptor. “Lewat kuliah umum ini kami tanamkan jiwa bersih dan antikorupsi, apalagi pesertanya mahasiswa baru. Nantinya, ketika mereka berkiprah di dunia kerja, mereka akan menjadi profesional yang berintegritas seperti yang dikatakan Pak Sujanarko,” ujar Sulardi mengakhiri. (ich/han)