UMM Bakal Buka Sejumlah Pendidikan Profesi

DALAM waktu dekat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan memiliki sejumlah Program Studi (Prodi) Pendidikan Keprofesian baru, di antaranya Pendidikan Profesi Apoteker, Fisioterapi, dan Insinyur. “Untuk Profesi Apoteker, Kami tinggal menunggu validasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT),” kata Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi saat ditemui di ruang kerjanya(22/8). Saat ini UMM baru memiliki dua Prodi Pendidikan Profesi, yakni Pendidikan Profesi Ners/Keperawatandan Profesi Akuntansi.  “Untuk menjadi seorang apoteker, dia harus memiliki sertifikat profesi. Sama halnya dengan kedokteran dan guru yang diperoleh dari pendidikan keprofesian. Tanpa itu, dia tidak bisa menjadi profesional dibidangnya,” lanjut Syamsul. Selain profesi Apoteker, UMM juga sedang mewacanakan pendirian Prodi Pendidikan Profesi Fisioterapi. Ia menyatakan pihaknya sedang menggodok segala kelengkapan dan kemungkinan-kemungkinan jika membuka Prodi Pendidikan Profesi Fisioterapi. UMM juga bakal mendirikan Program Studi Pendidikan Profesi Insinyur. Untuk bisa membuka prodi tersebut, UMM setidaknya harus memiliki enam tenaga kependidikan yang terkualifikasi sebagai Insisyur Profesional Madya yang diperoleh dari Persatuan Insinyur Indonesia (PPI). “Saat ini, UMM baru memiliki empatorang yang tersetifikasi Insinyur Profesional Madya. Saat ini UMM sedang mempersiapkan 10 orang untuk disertifikasi,” kata Syamsul. Menurut Syamsul, dari 14 prodi yang ada di jenjang pasca sarjana UMM, kesemuanya merupakan disiplin ilmu Humaniora. Sehingga dalam beberapa tahun mendatang, UMM akan melengkapi sejumlah jenjang pendidikan keprofesian di bidang keilmuan lainnya seperti agama juga teknik. Di Malang sendiri terdapat setidaknya empatperguruan tinggi yang diminta oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Direktorat Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk membuka Prodi Pendidikan Profesi, salah satunya UMM.  “Di seluruh Indonesia, hanya ada 40 yang diperkenankan oleh Kemenristek Dikti,” pungkas Syamsul. (can/han)  

Raker BKS-PTIS Lahirkan Sejumlah Keputusan Penting

DALAM rangka mendorong peningkatan mutu Akreditasi Institusi Peguruan Tinggi (AIPT),  Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS PTIS) mengadakan Silaturahim dan Rapat Kerja di Universitas Muhammdiyah Malang (UMM), Sabtu (20/8). Agenda ini menghasilkan sejumlah keputusan penting, diantaranya rencana aksi peningkatan status akreditasi Perguruan Tinggi dan akreditasi prodi serta rekomendasi dan pernyataan sikap terhadap isu-isu strategis yang sedang dihadapi Indonesia. Ketua Umum BKS-PTIS, Prof. Dr. Masrurah Mokhtar, MA menyampaikan pentingnya meningkatkan ghirah penelitian di kalangan dosen dan mahasiswa. Selain itu, ia juga mendorong agar perguruan tinggi swasta yang tergabung dalam BKS-PTIS itu untuk bisa membantu meningkatkan serta saling mendukung mutu akreditasi perguruan tinggi lainnya. Sinyal ini telah ditangkap oleh Gubernur Bengkulu Dr. H. Riduan Mukti yang juga Ketua Bidang Alumni BKS-PTIS ini. Kehadiran Gubernur dalam acara  ini sekaligus menjelaskan kesiapan provinsi Bengkulu yang akan bersinergi Perguruan Tinggi yang menjadi anggota BKS –PTIS dalam upaya memaksimalkan tri dharma perguruan tinggi. “Untuk  mewujudkan hal itu, pemerintah dan perguruan tinggi harus bekerjasama. Pun dengan pemerintah sendiri harus bisa meyesuaikan diri untuk bekerja lintas sektoral,” terangnya. Dengan demikian upaya peningkatan status perguruan tinggi dapat dipercepat dengan adanya pemberdayaan dosen dan mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) dalam berbagai kegiatan untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam penilaian akreditasi, baik akreditasi institusi maupun akreditasi prodi. Selain itu, rekomendasi yang dihasilkan antara lain, Pemerintah khususnya  Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Sekretaris Kabinet Republik Indonesia (RI), agar lebih cermat dan teliti dalam pengangkatan pejabat negara. Agar tidak bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pengurus BKS PTIS juga menyampaikan peryataan sikapnya mendukung rencana program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), khususnya untuk tingkat pendidikan dasar pada program “Full Day School”, dengan sejumlah catatan. Antara lain disiapkannya regulasi dalam bentuk peraturan/keputusan menteri. Selain itu, Pengurus BKS-PTIS juga mendorong Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) agar Lembaga Pelayanan Pendidikan Tinggi  (LP2T) segera di realisasikan sesuai dengan amanat undang-undang. Menyoroti kebijakan pemerintah tentang Tax Amnesty, pengampunan terhadap wajib pajak mesti dibarengi tranparansi dalam pengelolaan keuangan. Juga, perlu membangun basis data wajib pajak yang lebih akurat. Rapat kerja tersebut diakhiri dengan penentuan tempat pelaksanaan Konferensi Nasional BKS-PTIS, dengan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya sebagai tuan rumah. (acs/rin)

Kenalkan Kampus Putih di Negeri Gajah Putih

NIAT baik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam melakuan internasionalisasi semakin menunjukkan keseriuansannya. Bukan hanya dosen, staf dan mahasiswa saja yang di dorong untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar diluar negeri. UMM juga akan mengakomodir dosen, karyawan atau mahasiswa yang berniat untuk berproses di UMM. Selama dua hari yang lalu, Rabu (17/8) dan Kamis (18/8) UMM membuka stand pada pameran pendidikan di Prince of Songkla University (PSU), PSU Openweek 2016.  Ribuan siswa yang berasal dari Songkla, Yala, Patani, Satun, Trang, dan Naratiwat ini  menyerbu stand UMM yang dibuka pada pukul 08.00 hingga 15.00. Rupanya bukan hanya siswa SMA saja namun juga siswa SMP tertarik dari untuk berkunjung ke stand UMM. Ini merupakan kali ketiga UMM menggelar pameran di Thailand. Kali ini, Samila Doloh, Tapanee Taweekayujan, Anwar Artaewi, Sufeenah Sidek adalah alumni UMM yang mengenalkan UMM di Negeri Gajah Putih ini. Menurut Koordinator pameran di luar negeri, Moh. Isnani, M.Pd “UMM sering mengikuti pameran di beberapa negara seperti Prancis. Jepang, Kamboja, German, USA, China, Jepang. Kali ini UMM tertarik untuk mengikuti pameran pendidikan di PSU karena pameran tersebut sering diikuti juga oleh kampus-kampus besar di dunia.” ucapnya. Isnani juga mengaku bahwa dalam pameran pendidikan tersebut, UMM melibatkan alumni sebagai sarana promosi yang paling efektif. Di sana mereka dapat berbicara dalam bahasa Thai dengan baik sehingga dapat mengenalkan UMM kepada pengunjung dengan leluasa. Pengalaman para alumni ketika mengenyam pendidikan di UMM merupakan informasi yang akurat bagi pengunjung pameran. “Kami sangat mencintai UMM, banyak kesan bahagia yang kita alami selama belajar di kampus putih itu, sehingga kami tak segan-segan untuk mempromosikan UMM di negeri kami. Semoga banyak anak Thailand yang dapat merasakan pendidikan seperti kami,” tutur Samila Doloh yang juga lulusan terbaik III prodi elektro UMM ini. (nov/rin)

UMM Jadi Tuan Rumah The 4th Convention European Studies

PROGRAM studi (prodi) Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang berfokus pada pembelajaran tentang fenomena-fenomena internasional meliputi hubungan antar negara dan non negara dalam sistem internasional. Kaitan dengan hal tersebut, HI UMM bekerjasama dengan Komunitas Kajian Eropa menyelenggarakan the 4th convention European Studies Kamis (18/8). Pertemuan yang dihadiri oleh 100 mahasiswa dan 20 peserta konvensi dari penjuru Indonesia ini membicarakan tentang multikulturalisme. Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M. Si, menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan multikulturalisme, Eropa merupakan negara yang awalnya damai dan minim perselisihan. Sejak adanya imigran yang datang ke Eropa maka ada perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa dan lain sebagainya. “Karena faktor migrasi pula, jumlah penduduk muslim di Eropa semakin tinggi,” jelasnya. Muhadi Sugiono, Ph. D (cand), selaku ketua Komunitas Kajian Eropa menjelaskan bahwa wilayah Eropa merupakan sebuah obyek kajian yang menarik. Eropa memiliki kerangka yang sangat besar untuk didalami dan dikaji. “Kita belajar tentang Uni Eropa bukan berarti kita harus meniru Uni Eropa. Tapi agar kita tidak menjadi sama seperti Uni Eropa dan lebih pintar dari orang Uni Eropa,” jelas dosen Universitas Gadjah Mada tersebut. Dalam kajian yang bertemakan Multicuturalism In Europe and Its Challenges, Agung Cahaya Sumirat selaku Wakil Direktur Kementrian Luar Negeri, Indonesia menjelaskan, tantangan terbesar dalam multikulturalisme adalah migrasi. Yakni ketika imigran datang namun pemerintah tidak memberikan edukasi kepada warga sekitar untuk berperilaku baik pada imigran. Menurutnya, Indonesia dan Uni Eropa memiliki kesamaan prinsip dalam hal Multikulturalisme. “Indonesia memiliki Bhineka Tunggal Ika dan Uni Eropa memiliki Unity In Diversity sebagai konsep multikulturalismenya,” ujar lulusan magister Universitas Indonesia (UI) tersebut. Sekretaris prodi HI, Syaprin Zahadi, MA menyatakan bahwa kajian tentang Eropa ini sudah empat kali diadakan dengan peserta dari berbagai universitas. Namun, baru pertama kali kajian tentang Eropa ini digelar di UMM. “Seminar dan diskusi panel hanya dilaksanakan hari ini saja. Tapi konvensinya diadakan selama tiga hari hingga 20 Agustus mendatang,” terangnya. (jal/can/rin)

UMM Tegaskan Makna Kemerdekaan

PERINGATANHari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) seyogyanya tidak sekedar dimaknai sebagai ritualtahunanbagi seluruh warga Indonesia. Lebih dari itu, peringatan hari pentingkelahiranIndonesia ini harusnya dimaknai secara mendalam sebagai momen penegasan makna kemerdekaan. Seperti yang disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),  saat bertindak sebagai inspektur upacara dalam peringatan HUT RI ke-71di Heliped UMM, Rabu(17/8). Dalam kesempatan tersebut, Fauzan menyatakanbahwaBangsa Indonesia saat ini memang sudah merdeka. Namun,Ia menilai,merdekanya Indonesiasaat ini hanyalah kemerdekaan politis yang seharusnya dapatberkembang pada kemerdekaan secara ekonomi, sosial dan bentuk-bentuk kemerdekaan lainnya. “Sudah saatnya Indonesia mengartikan kemerdekaan dalam bidang lain, seperti dalam bidang ekonomi, bidang politik dan bahkan kemerdekaan di bidang pendidikan. Kemerdekaan merupakan kata kunci yang perlu dimaknai secara mendalam oleh setiap bangsa Indonesia,” ujar Fauzan dalam pidatonya. Ranahperjuangan UMM terletak pada bidang pendidikan.Maka dari itu,menurutnya perlu adanya sumbangsih pemikiran baru dari semua pihak dalam bidang ini. “Ide-ide baru yang konstruktif dalam membangun Indonesia yang lebih baiksangatdibutuhkan lewatlembaga pendidikan UMMini. Karena kemerdekaan bukan hanya masalah pembebasan,namun juga didefinisikan sebagai harga diri sebuah bangsa,” ungkap Fauzan yang juga turut serta memeriahkan sejumlah perlombaan. “UMM dalam bidang pendidikan bertanggungjawab pada semua mahasiswa untuk memberikan mereka pengajaran,agar nantinya mahasiswa dapat merdeka dan bisa melakukan segala sesuatunya sendiri,tanpa bergantung pada yang lain,” paparnyalebih lanjut. Himbauanbahwa peringatan 17 Agustus juga harus dimaknai sebagaibentukpenghargaan yang setinggi-tingginya terhadapjasa pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raganya demi satu kata ‘merdeka’, juga salah satu hal yang digaungkan pada seluruh civitas akademika UMM. Cita-cita kemerdekaan yang diinginkan oleh proklamator bangsa ini adalah adanya kebebasan suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa adanya campur tangan asing. Dalam rangka mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya, pendidikan memiliki peran yang utama. Pendidikan yang diberikan merupakan pendidikan yang dikonsep untuk mencetak generasi yang merdeka. “Artinya UMM juga berperan dalam bidang ini untuk membentuk mahasiswa yang merdeka sehingga kedepannya dapat mengatur dirinya sendiri tanpa dipengaruhi oleh yang lain,” tegas Fauzan. Rangkaian kegiatan bertema “Semarak HUT RI ke-71” tak hanya diperingati dengan upacara. Selepas upacara, di tempat yang sama digelar aneka lomba, di antaranya balap karung, tarik tambang, balap klompen, sepeda lambat, nyunggi tempeh, karaoke, hingga balap sepeda air. Kegiatan diikuti seluruh elemen kampus, mulai dosen, karyawan, satuan pengamanan (satpam), juru parkir, serta perwakilan mahasiswa. Menurut ketua pelaksana, Jamroji,perlombaan tersebut memang sengajadirancang untuk seluruh civitas akademika dari tingkatan manapun. “Kita adakan seperti ini biar tidak ada jarak antara pimpinan dan bawahannya. Antara dosen dan mahasiswa juga. Sehingga semuanya dapat membaur menjadi satu,” jelas Dosen Ilmu Komunikasi UMM tersebut. Salah satu peserta lomba balap karung, Yunairisa mengakuperlombaan yang diadakanUMM tahunini sangat menghibur. “Perlombaan yang diadakan kampus ini lumayan buat mengisi waktu kosong,” ujar Mahasiswi Psikologi itu. Lain halnya dengan Cony, lulusan dari Peking University yang sedang belajar bahasa Indonesia di UMM, kesempatan mengikuti upacara HUT RI ini adalah pengalaman pertamanya apalagi bersama tim dari International Relations Office (IRO) ia memenangi lomba sepeda air. “Saya senang boleh mengikuti upacara dan lomba sepeda air. Kampus ini sangat terbuka bagi mahasiswa asing seperti saya dan saya yakin akan dapat belajar bahasa Indonesia di kampus ini dengan baik,” ungkapnya. Di hari yang sama,sebanyak tiga puluh satudosen UMM meraih penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Kementrian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) di Surabaya. Penyerahan tanda kehormatan yangdiperuntukkan bagidosen KoordinasiPerguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VII ini didasarkan atas dedikasinya selama berkiprah didunia pendidikansepuluhhingga tiga puluhtahun. Penyerahan penghargaan ini berdasarkan surat keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 319TK/TAHUN 2016 tanggal 15 April 2016. (jal/can/rin)

Mahasiswa UMM Pacu Produkfitas Masyarakat Lewat PKM-M

BERAWAL dari kegelisahan sekelompok mahasiswa program studi (prodi) Kesejahteran Sosial (Kesos)Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengansemakin banyaknya sampah yang ada di Kota Batu,Jawa Timur,tiga orang mahasiswa;Iin Sulis Setyowati, Mochamad Zainul, dan Khasbullah Afif menggagas sebuah program pengabdian masyarakat melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PMK-M) lewat pemanfaatan sampah tersebut. Karya yang berjudul “Pemberdayaan Masyarakat Desa Mojorejo Kota Batu melalui Handycraft Berbahan Dasar Sampah Plastik Rumah Tangga Guna Meningkatkan Kesejahteraan”berhasil masuk dalam daftar peserta yang lolos seleksidan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (Ditlitabmas). Karya tulis terbutmenghantarkan ketiganyalolosbabak final Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke 29 di Institut Pertanian Bogor (IPB), 8-11 Agustuslalu dan berhasil menyisihkan ribuan proposal mahasiswa dari seluruh Indonesia. Menumpuknya sampah yang ada sertarendahnya angka produktifitas masyarakat Desa Mojerejo Kota Batu menjadi latar belakangutama munculnya ide untuk melakukan pengabdian masyarakat ini.  “Sampah yang terdapatdi Desa Mojorejo sebenarnya bisa diolah dan menjadi sumber penghasilantambahan bagi warga desa,” kata Iin, selaku ketua tim. Sampah plastik, lanjut Iin, merupakan ancaman serius karenamenyebabkan pencemaran terhadap lingkungan terutama jikadibuang sembarangan. Menurut data yang mereka himpun, Kota Batu setidaknya menghasilkan sampah plastik hingga  mencapai 80 ton/hari. Padahal,menurut kelompoknya,sampah plastik jika terampil dimanfaatkan,akanmenjadi peluang ekonomi yang menjanjikan. Selain itu, penduduk Desa Mojorejo terdiri dari 4.393 jiwa dimana jumlah ibu rumah tangganya mencapai733 jiwa. Dua puluh lima persendiantaranya tidak memiliki pekerjaan. “Padahal,  jumlah sampah yang dihasilkan di desa ini mencapai 150 kg/hari.Hal inilah yang melatarbelakangi kami membuatkarya tulis pengabdian masyarakat tersebut,” paparnya. Lebih lanjut Iin menjelaskan, tujuan yang ingin dicapai pengabdian masyarakat ini yaknimengubah barang yang tidak terpakaimenjadi sesuatu yang memilikinilaijual.Selain itu,kegiatan tersebut jugabermanfaat gunameningakatkan kreativitasserta produktivitasibu rumah tangga yang ada disekitarnya. “Saat ini sudah ada kerjasama antara pihak desa dengan ibu-ibu PKK(Pembinaan Kesejahteraan keluarga, red.)untuk penjualannya. Jadi,ibu-ibu rumah tangga di Desa Mojorejo sudah mulai produktif dengan mendaur ulang sampah itu,” papar Iin. “Hingga saat ini ibu-ibu rumah tangga di Desa Mojorejo sudah memproduksi hasil daur ulang berupa produk dari daur ulang sampah plastik antara lain tas rajut dari kresek bekas, tas dari bungkus kopi dan leher botol gelas minuman, kardus bekas, serta masih banyak produk lain dari daur ulang yang lainnya. Produk program ini memiliki nilai jual tinggi dikarenakan motif-motif yang dibuat sangat menarik,” lanjut Iin. Hingga pada akhirnya, kerja keras ketiganya menorehkan prestasi gemilang dengan menjadiJuara 3 kategori Poster terbaik. Setiap poster biasanya memuatalurpenelitian,mulai dari latar belakang hingga solusi yang diberikan.Mochamad Zainul,sang aktor dari pembuatan poster inimenyatakan bahwa postertimnyadibuat berbedadari poster pada umumnya. “Ketika semua poster dipajang pada sesi pameran, kami merasa poster kami paling beda dengan yang lainnya. Meski poster yang kami buat tidak pada umumnya,tapi orang sudah bisa langsung menangkap maksudnya,” tukas Zainul. (jal/can)

UMM Tingkatkan Mutu Akademik lewat Penyusunan Profil KKMA dan TKKA

BADAN Kendali Mutu Akademik (BKMA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  Senin (15/8) mengadakan Workshop Profil Komisi Kendali Mutu Akademik (KKMA) dan Tim Koordinasi Kegiatan Akademik (TKKA) di Ruang Sidang Senat Kampus III UMM. Workshop tersebut bakal menghasilkan sejumlah perumusan antara lain melingkupi kebijakan mutu, struktur organisasi, visi-misi dan tujuan, tugas pokok dan fungsi, serta program dan kegiatan. Profil KKMA dan TKKA nantinya dijadikan pedoman untuk berjalannya evaluasi di setiap tingkatan fakultas maupun program studi.Workshop dihadiri Dekan, Wakil Dekan I masing-masing fakultas juga kepala program studi yang terdapat di UMM. Penjelasan mengenai penyusunan profil KKMA dan TKKA ini disampaikan langsung oleh kepala BKMA, Prof. Dr. Ir Noor Harini, M.S. yang menyatakan bahwa diperlukan adanya penyusunan ulang profil guna menunjang mutu akademik yang berujung pada akreditasi program studi serta institusi. Diakuinya, profil KKMA dan TKKA saat ini sudah tidak sesuai dengan kondisi obyektif di lapangan. “Memang sudah dilakukan penyusunan profil ini pada tahun 2012 dulu. Perbaharuan ini dilakukan kembali sehingga bisa sesuai dengan kondisi objektif saat ini,” terangnya. Noor menyebut, pada  pasal 52 ayat 2 Undang-Undang (UU) No 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, dijelaskan bahwa penjaminan mutu dilakukan melalui penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian dan peningkatan standar pendidikan tinggi. Di sisi lain, Galih Wasis Wicaksono, M.Cs. selaku Kepala Divisi Kendali Mutu Sarana dan Prasarana Akademik menyatakan bahwa perlu juga adanya kesadaran dari mahasiswa untuk mau turut serta dalam penjaminan mutu akademik ini. “Mahasiswa juga harus mau ikut serta, bukan kemudian acuh terhadap sistem penjamin mutu akademik ini. Keikutsertaan mahasiswa dalam penilaian ini juga membantu universitas dalam mengevaluasi dosen,” jelas dosen Fakultas Teknik (FT) UMM ini. (jal/can/rin)

UMM Borong Gelar Kompetisi Al Quran Tingkat Nasional

SEBANYAK dua belas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyabet sejumlah gelar strategis dalam ajang Festival Al Quran Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah Tingkat Nasional yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) 9-11 Agustus lalu. Dalam lomba yang diikuti lima puluhan universitas tersebut, UMM berhasil mengantongi delapan gelar juara pada tujuh cabang lomba berbeda. Festival ini bertema ”Al Quran sebagai Media Penguatan Kualitas Diri dalam Ilmu Pengetahuan dan Sains untuk Menghadapi Daya Saing Global”. Daftar pemenangnya antara lain dari Fakulas Agama Islam (FAI) Dewi Nur Diana sebagai Juara 1 Tahfidz 15 Juz, Bayu Dwi Arianto sebagai Juara 2 Fahmil Quran, Syaikul Islam sebagai Juara 2 Fahmil Quran, Weca Septia Aulia sebagai Juara 2 Fahmil Quran, Ainul Yaqin sebagai Juara Harapan 2 Tartil Quran, Nanang Qosim sebagai Juara 3 Kaligrafi; dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Farah Laila Romadona sebagai Juara 2 Tahfidz 1 Juz; dari Fakultas Teknik (FT) Ramadhan Dato sebagai Juara 3 Tilawatil Quran; dari Fakultas Hukum (FH) Ghulam Imaduddin sebagai Juara 3 Syahril Quran, M. Abdul Wahid sebagai Juara 3 Syahril Quran, serta; dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendikan (FKIP) Mila Insani sebagai Juara Harapan 2 Tartil Quran. Salah satu pembimbing lomba, Ahmad Fathoni, yang saat itu turut mendampingi mahasiswanya menjelaskan, meski waktu yang dipersiapkan terlampau sempit, Ia mengaku cukup puas dengan capaian mahasiswanya. “Waktu untuk persiapan lomba ini kurang lebih hanya satu minggu. Apalagi harus mendatangkan mahasiswa yang asalnya dari luar Jawa karena sedang liburan semester genap,” jelas Fathoni yang merupakan Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) FAI tersebut. Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor III yang membidangi Kemahasiswaan, Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si.M.Hum, mewacanakan pembentukan wadah khusus yang bergerak di bidang Al Quran sebagai bentuk kaderisasi.  Dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke depannya, UMM optimis akan dapat memborong lebih banyak gelar lagi. Ditemui pada kesempatan berbeda, Sidik mengatakan, selain mewacanakan dibentuknya UKM khusus al Quran, UMM juga mewacanakan pengadaan beasiswa khusus Penghafal al Quran atau Tahfidz. ”Semoga dengan beasiswa ini, kedepannya mahasiswa UMM semakin terpacu untuk terus berprestasi di ajang kompetisi al Quran lainnya,” kata Sidik. (jal/can/rin)

UMM Ajak Orang Tua Maba Kawal Potensi Baik Anaknya

PASCA diumumkannya hasil seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) gelombang II Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) Juli lalu, pada Ahad (14/8), UMM mengundang seluruh orang tua mahasiswa baru (maba) maupun walinya untuk silaturahim dan berdialog secara terbuka seputar proses perkuliahan.  “Dengan diadakannya dialog ini, UMM dapat mengoptimalkan fungsi kontrol dan distribusi informasi yang baik antara kampus, mahasiswa dan orang tua maupun wali mahasiswa. Kita bertanggungjawab mengawal pontensi baik anak kita masing-masing,” kata Rektor UMM, Fauzan, di hadapan lebih dari tiga ribuan orang tua dan wali maba. Acara yang berlangsung di Hall UMM Dome ini hadiri seluruh pejabat struktural UMM. Selain rekto, hadir pula Wakil Rektor  (Warek) I, Syamsul Arifin, Warek II Nazarudin Malik dan Warek III Sidik Sunaryo, serta jajaran dekanat dan kepala biro. Dalam pertemuan tersebut, para orang tua/ wali maba memperoleh informasi mengenai seluruh aturan perkuliahan, program kegiatan, hingga terkait unit bisnis yang dimiliki UMM.  Rektor menerangkan, dari sekitar sepuluh ribu lebih calon maba yang mendaftar pada gelombang II, UMM hanya menerima 3112 orang maba saja.  “Mereka adalah mahasiswa pilihan yang memiliki potensi yang baik, sehingga perlu kita antar bersama untuk menjadi orang yang sukses nantinya,”. tuturnya. Fauzan menegaskan UMM telah menyediakan banyak fasilitas bagi mahasiswanya, mulai dari perpustakaan yang lengkap, akses internet yang cepat, serta banyak unit bisnis yang dapat menopang anggaran yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan pembelajaran selama berkuliah di UMM. Sehingga biaya yang dibebankan pada mahasiswa dapat diringankan. Lebih lanjut, Fauzan berharap, melalui pertemuan ini segala bentuk perhatian dan tanggung jawab para orang tua dapat menjadikan anak-anak mereka dapat menjalankan proses pendidikan dengan baik.  “Insya Allah dari mulai mendaftar hingga nanti diwisuda anak-anak ibu dan bapak bisa menjaga amanah dengan baik serta menjadi kebanggaan orang tua, bangsa dan negara,” harapnya. Setelahnya, para wali mahasiswa diarahkankan untuk langsung berdialog secara terbuka kepada para pejabat yang bersangkutan jika suatu saat menemukan permasalahan selama proses perkuliahan. “Jika ada pertanyaan langsung ditanyakan saja kepada yang bersangkutan, jangan melibatkan orang kedua, saya khawatir informasinya tidak akurat,” kata Rektor.  UMM juga memberikan sejumlah beasiswa kepada sepuluh mahasiswa yang mendapat perolehan nilai tertinggi saat mengikuti tes PMB gelombang II, Juli lalu. Sepuluh mahasiswa yang diambil dari setiap fakultas yang terdapat di UMM ini antara lain: Firda Adhadrianty dari Fakultas Agama Islam (FAI); Safira Salsabila dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB); Hany Krisna Priratna dari Fakultas Hukum (FH); Aurora Onyx Aldila dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES); Aditya Pratama dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP); Chitra Regina Apris dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP); Riana Siti Khoirunnisa Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP); Dyah Perwita Andamari dari Fakultas Kedokteran (FK); Ergy Amar Rifqi dari Fakultas Psikologi (FPsi); serta Dewanti Maya Putri dari Fakultas Teknik (FT). Ke sepuluh mahasiswa tersebut didampingi orang tuanya menerima penghargaan secara simbolik dari UMM dan Bank Jatim berupa tabungan pendidikan masing-masing senilai satu juta rupiah. Menurut salah satu orang tua maba penerima beasiswa dari Fakultas Kedokteran, Samsul Hadi mengaku dirinya sangat bersyukur karena anaknya dapat diterima di UMM serta mendapatkan predikat sebagai calon mahasiswa dengan nilai terbaik di Fakultas Kedokteran. “Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik untuk proses kedepannya,” ungkap Ayahanda dari Dyah Perwita Andamari, maba asal Bondowoso. (nov/can)

Kolaborasi UMM dan Balai Bahasa Jatim, Tertibkan Penggunaan Bahasa Indonesia

DALAM rangka menertibkan pengunaan Bahasa Indonesia, program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin kerjasama kemitraan Bidang Bahasa dan Kesastraan dengan Balai Bahasa Jawa Timur di Auditorium Biro Administrasi Umum (BAU), Sabtu (13/8). Penandatanganan kerjasama kemitraan dihadiri langsung Ketua Balai Bahasa Jawa Timur, Dr. Amir Mahmud, M.Pd. Acara tersebut sekaligus melantik kepengurusan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Malang periode 2016-2020. Dalam pemaparan makalahnya, wakil ketua HISKI, Dr. Sugiarti M.Si mengungkapkan bahwa bahasa memiliki peran utama dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Bahasa juga merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. “Oleh karenanya, pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasannya dan perasaannya, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut,” kata dosen prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMM ini. “Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra Indonesia,” terang Sugiarti yang mengisi materi Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Sekolah. Disisi lain, Ketua Balai Bahasa Jawa timur, Drs. Amir Mahmud, M.Pd. yang juga bertindak sebagi pemakah, mengkritik tentang penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat. Ia mencontohkan, banyak kesalah kaprahan orang Indonesia dalam penulisan bahasa melalui media luar ruang dan ruang publik seperti papan nama, iklan, dan media lainnya yang tidak sesuai kaidah bahasa Indonesia. ”Seharusnya, bahasa Indonesia dituliskan di atas dengan huruf yang lebih besar daripada bahasa daerah dan asing, bahasa daerah dan bahasa asing ditaruh di bawahnya dengan huruf yang lebih kecil dan dimiringkan,” jelas Amir. Padahal, Ia menyebut, telah jelas dalam undang-undang nomor 24 tahun 2009 pasal 38 menerangkan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum. “Siapapun orang Indonesia, paling tidak harus menertibkan penggunaan bahasa Indonesia mulai dari dirinya sendiri,” tegas Amir. Sedangkan, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dra. Tuti Kusniarti, M.Si, M.Pd. yang sekaligus merangkap sebagai bendahara HISKI Komisariat Malang ini berharap, jalan yang sudah diberikan Balai Bahasa Jawa Timur dapat tertularkan kepada mahasiswa. “Mahasiswa juga akan saya libatkan dalam setiap kegiatan, baik penelitian, pengabdian, penulisan dan pembuatan jurnal ilmiah. Mereka juga akan belajar bagaimana berbicara yang baik ketika presentasi  dan menulis yang baik sesuai dengan kaidah bahasa dan satra Indonesia,” pungkasnya. (can/rin)